Bab 7
Candice tidak bisa menahan diri, dia melayangkan tamparan keras ke wajah Terry. Terry terkejut dengan tamparan itu, tetapi hati yang awalnya gelisah malah menjadi tenang.
"Kalau kamu kesal, pukul saja aku beberapa kali lagi. Aku nggak apa-apa, asalkan kamu nggak marah."
Betapa "tulusnya" kata-kata itu, tetapi juga betapa menjijikannya. Candice langsung melayangkan tamparan kedua ke wajahnya. Itu karena dia sendiri yang memintanya.
"Terry, kamu masih ingat apa yang pernah aku bilang? Apa pun bisa aku maafkan, tapi kalau kamu mengkhianati aku, aku pasti akan menikah sama pria lain."
Wajah Terry seketika berubah pucat.
"Candice, apa yang kamu bicarakan? Orang yang aku pilih untuk menghabiskan hidupku sampai tua cuma kamu. Aku akan selalu mencintaimu, dan itu nggak akan pernah berubah!"
Paling mencintainya, tetapi malah bercumbu dengan wanita lain sampai harus dirawat di rumah sakit.
Paling mencintainya, tetapi menunda pernikahan untuk memenuhi keinginan wanita lain dan menjadikannya penerima barang bekas.
Candice menatap Terry, seolah-olah ingin melihat ke dalam hatinya, mencari tahu apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Pada akhirnya, dia hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa.
"Aku mengerti."
Terry mencoba memeluknya sekali lagi, tetapi Candice mendorongnya. Baru saat itu Terry melihat koper di sampingnya. Hati yang baru saja tenang langsung kembali gelisah.
Dia meraih lengan Candice dan bertanya, "Koper siapa ini? Kamu mau ke mana?"
"Ibuku bilang, karena aku sebentar lagi menikah, aku harus pulang sebentar."
"Gitu, ua?"
Terry menghela napas lega. "Aku mengerti, beberapa daerah memang punya kebiasaan seperti itu. Sebelum menikah, pengantin pria dan wanita nggak boleh bertemu. Walaupun pernikahan kita ditunda, kalau kamu ingin pulang, tinggal lebih lama juga nggak apa-apa."
"Ya."
Candice tersenyum tipis dan tidak berkata apa pun lagi. Dia mengambil kopernya untuk pergi.
Terry memegang kopernya. Merasa tidak rela berpisah, dia menawarkan untuk mengantar Candice. "Aku antar kamu pulang, ya."
Candice menatapnya dengan senyum sinis. "Nggak usah. Bukankah orang bilang, pria sebaiknya bersenang-senang sebelum menikah? Terry, kamu juga butuh, 'kan?"
Dulu, dia benar-benar percaya pada Terry. Namun sekarang, dia hanya bisa membayangkan bahwa setelah dia pergi, Terry mungkin langsung membawa Vivian ke rumah ini.
"Aku orang seperti itu?" Terry kembali berjanji, "Candice, aku nggak akan melakukan apa pun yang mengecewakanmu. Setelah kamu pergi, aku akan menjaga diriku sampai hari kita menikah."
Dia masih berbohong! Bahkan ketika Candice sudah mau pergi, dia tetap berusaha menipunya!
Candice merasa lelah. Hatinya telah sepenuhnya kecewa pada Terry. Dia perlahan menundukkan kepala, menarik napas panjang, seperti seseorang yang telah menyerah pada segala harapan.
"Baiklah, jaga dirimu. Aku pergi."
Candice mendorong Terry menjauh, tidak menoleh lagi, dan meninggalkan rumah itu tanpa rasa ragu. Setelah akhirnya tiba di rumah orang tuanya, mereka sangat senang dan langsung bertanya banyak hal.
"Kamu akhirnya pulang juga. Pihak Keluarga Jaufar sudah setuju untuk menikahkan kalian pada tanggal satu bulan depan. Tapi bukankah sebelumnya kamu bilang tanggal itu mau menikah sama Terry? Kenapa tiba-tiba calon pengantinnya berubah?"
"Iya, Nak, menikah itu bukan main-main. Kalau kamu benar-benar suka siapa pun, menikahlah dengannya. Kami nggak keberatan."
Candice merasa sangat lelah, dia tidak ingin menjelaskan apa pun.
"Ayah, Ibu, aku sangat lelah. Aku ingin ke kamar dan tidur." Dia menyeret tubuh yang lelah menaiki tangga. Kedua orang tua itu memahami suasana hatinya yang buruk dan tidak bertanya lebih jauh.
"Baiklah, kamu istirahat dulu. Sebelum pernikahan, Ayah akan mencari waktu supaya kamu bisa bertemu dulu sama anak Keluarga Jaufar itu, ya?"
"Nggak perlu, kita ketemu waktu nikah saja."
Lagi pula, keputusan sudah dibuat. Bertemu atau tidak sekarang sudah tidak penting lagi.
Bab 8
Setelah kembali ke kamarnya, Candice berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Air matanya tiba-tiba mengalir deras dari matanya.
Lima tahun berlalu, dia tidak pernah membayangkan suatu hari akan berpisah dengan Terry, apalagi menikah dengan pria lain. Dalam hitungan hari, semuanya berubah drastis.
Ponselnya yang ada di samping berbunyi beberapa kali. Dia mengambilnya dan menerima beberapa pesan.
[ Candice, tebak aku di mana? ]
Pesan itu dari Vivian, disertai dengan beberapa foto.
Itu adalah rumahnya dan Terry! Ada juga foto Vivian dan Terry yang sedang bermesraan di atas ranjang, tepat di ranjang pernikahan mereka.
[ Setelah kamu pergi, Terry langsung membawaku masuk ke rumah kalian dengan penuh semangat dan memerintahkan semua pelayan untuk jangan kasih tahu kamu! ]
[ Ranjang pernikahan kalian benar-benar nyaman. Aku dengar sprei dan selimut ini kamu yang pilih sendiri, ya? Motif burung pasangannya benar-benar mirip seperti aku dan Terry!]
Kata-kata provokatif dan foto-foto dari Vivian tidak lagi membuat Candice tersulut emosi. Dia hanya melihatnya dengan tenang, lalu mematikan ponselnya.
Tidak apa-apa. Bagaimanapun, dia tidak akan pernah kembali ke sana lagi. Beberapa hari berikutnya, orang tuanya sibuk mengatur persiapan pernikahan untuknya. Candice juga sangat sibuk. Dia diajak ke sana kemari untuk mencoba gaun setiap hari dan membeli berbagai barang.
Semua hal tentang Terry hampir selalu dia dengar dari Vivian. Vivian terus mengirimkan foto dan pesan, melaporkan semua yang terjadi antara dia dan Terry.
Candice hanya menganggapnya sebagai bahan hiburan, lalu menyimpan foto-foto itu satu per satu dan mengambil tangkapan layar dari setiap pesan.
Sementara itu, Terry juga terus berusaha menghubunginya. Dia sering meneleponnya, tetapi Candice tidak pernah menjawab.
Terry juga mengirimkan banyak hadiah lewat jasa pengiriman. Namun, Candice bahkan tidak melihatnya dan langsung membuang semuanya.
Akhirnya, menjelang hari pernikahan, Terry mulai merasa ada yang aneh. Di pesta malam bujangnya, dia mengeluh kepada teman-temannya.
"Belakangan ini Candice nggak mau menghiraukanku dan nggak jawab teleponku. Jangan-jangan dia tahu sesuatu?"
"Mana mungkin? Kami menyembunyikan semuanya dengan sangat baik. Dia nggak mungkin tahu. Tenang saja, besok menikahlah sama Vivian."
"Iya, temani Vivian baik-baik. Lagi pula, waktunya dia tinggal sudah nggak lama, 'kan? Setelah satu bulan ini terlewati, Candice pasti akan kembali padamu dengan patuh."
Terry masih merasa sedikit khawatir, tetapi hari pernikahannya dengan Vivian sudah tiba, dan dia tidak bisa memikirkan hal lain.
Pagi berikutnya, Candice duduk di depan cermin di kamarnya, sementara ibunya menyisir rambutnya dengan mata sembap.
"Anakku, hari ini kamu akan menikah."
"Bu, menikah itu hal yang baik, kenapa harus menangis?"
"Bagaimana ibu nggak menangis? Ibu nggak rela melepaskanmu."
Sambil terisak, ibunya berkata, "Tapi untungnya, Keluarga Jaufar adalah keluarga yang kita kenal baik. Gian itu anak baik. Ibu sudah beberapa kali ketemu sama dia."
"Dia baru saja kembali dari ibu kota. Kabarnya, dia adalah seorang perwira militer, tampan pula, dan latar belakangnya nggak kalah dari Terry."
Sambil berbicara, ibunya bersiap mengambil ponsel untuk menunjukkan foto Gian. Namun, Candice menghentikannya. "Sudahlah, Bu. Sebentar lagi aku juga akan bertemu orangnya langsung, kenapa harus lihat fotonya?"
Candice melirik jam di dinding. Pukul tujuh pagi. Sudah waktunya dia berangkat ke hotel. Terry seharusnya juga sudah dalam perjalanan sekarang.
Saat itu pula, Candice merasa inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu semua orang bahwa dia akan menikah. Dia mengambil ponselnya dan memposting di media sosial.
[ Hari ini aku menikah, doakan aku ya. ]
Tak butuh waktu lama, komentar mulai berdatangan.
[ Selamat selamat! Akhirnya cinta lima tahun kalian berbuah manis. ]
[ Akhirnya menikah sama Terry, aku iri banget sama kalian! ]
[ Semoga bahagia selalu sama Terry ya, selamanya! ]
Candice membaca komentar-komentar itu dengan senyum getir di bibirnya.
Lihatlah, semua orang mengira dia akan menikah dengan Terry, padahal Terry akan menikahi kekasih lamanya, Vivian. Sementara itu, dia sendiri akan menikah dengan pria yang hampir tidak dia kenal.
Di sisi lain, sejak pagi, Terry merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Seperti ada firasat buruk yang mengganggunya. Teman-temannya mencoba menenangkannya, mengatakan semuanya baik-baik saja dan Terry hanya terlalu banyak berpikir.
Akhirnya, Terry melanjutkan perjalanan dengan mobil pengantin untuk menjemput Vivian dan menuju hotel yang semula dipesan untuk pernikahan dengan Candice.
Begitu tiba di hotel, beberapa teman lama yang sudah lama tidak dia temui menghampirinya sambil tertawa.
"Selamat, selamat, Terry. Akhirnya menikah juga!"
"Iya, mana Candice? Kok belum kelihatan?"
"Candice?" Terry dengan canggung menjawab, "Hari ini, yang aku nikahi bukan dia."
"Ah, jangan bercanda!" Teman itu tampak bingung.
"Nggak mungkin. Tadi pagi, Candice memposting di media sosial kalau dia akan menikah hari ini. Kalau bukan sama kamu, lalu sama siapa?"
Teman lain menimpali, "Nggak masuk akal. Bukankah tanggal hotel ini sesuai sama tanggal pernikahanmu? Jadi, bagaimana bisa dia menikah sama orang lain?"
Bab 9
Terry terpaku. "Kamu bilang apa? Dia memposting di media sosial, bilang hari ini dia akan menikah?" Dia langsung merampas ponsel temannya. Begitu melihat postingan Candice, pikirannya langsung kosong.
Tidak mungkin! Dia akan menikah? Sama siapa?
Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Dari dalam mobil, keluar seorang wanita dengan gaun pengantin. Orang itu tak lain adalah Candice.
Melihat Candice, ekspresi Terry seketika berubah. Dia berdiri di tempat dengan gugup dan bertanya, "Candice, kenapa kamu di sini?"
Candice turun dari mobil, menatap pria di depannya dengan senyum sinis di bibirnya. "Aku juga mau tanya, kenapa kamu ada di sini?"
Tatapannya menyapu Vivian yang berdiri di samping Terry. Vivian mengenakan gaun pengantin milik Candice, membawa buket bunga yang seharusnya miliknya, dan berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milik Candice.
Melihat Candice, wajah Vivian langsung berubah. Dia sama sekali tidak menyangka Candice akan datang dengan mengenakan gaun pengantin untuk "mengacaukan" pernikahannya.
"Aku ...."
Terry tidak tahu harus berkata apa.
"Candice! Kamu pasti sudah tahu hari ini aku akan menikah sama Terry, jadi kamu mengenakan gaun pengantin untuk datang ke sini. Apa kamu ingin merebut Terry dariku?"
Air mata Vivian langsung mengalir. "Aku mohon, jangan hancurkan pernikahanku, ya? Aku nggak akan hidup lama. Aku akan segera mati. Setelah aku mati, Terry akan sepenuhnya jadi milikmu. Tapi sekarang, tolong, jangan rebut dia dariku!"
Vivian menangis tersedu-sedu. Namun, melihat Candice yang tetap tenang dan tidak terpengaruh, Vivian langsung berlutut di tanah.
Kerumunan yang berkumpul di sekitar mereka mulai berkomentar. Melihat adegan ini, banyak yang mengira Candice adalah orang ketiga. Namun, Candice hanya merasa adegan ini sangat lucu.
"Candice, aku benar-benar mencintai Terry, tapi aku mengidap kanker. Keinginanku yang terakhir adalah menikah sama Terry sebelum aku meninggal. Aku mohon, tolong biarkan aku menikah dengannya."
Terry akhirnya tidak tahan lagi dan membantu Vivian berdiri. "Vivian, jangan begini. Candice itu wanita yang baik hati, dia pasti akan merelakan ini untukmu."
Terry menatap Candice, lalu berjalan mendekatinya dan meraih tangannya.
"Maafkan aku, Candice. Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Kondisi Vivian semakin parah dan aku nggak bisa mengabaikan keinginannya yang terakhir. Kamu tenang saja, pulang dulu. Setelah aku menyelesaikan pernikahan ini dengannya, aku akan kembali padamu."
Candice melepaskan tangannya dengan dingin. Ekspresinya tetap datar saat berkata, "Terry, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku di sini hari ini untukmu?"
"Candice, jangan bertingkah seperti ini. Aku tahu hari ini adalah salahku. Setelah aku pulang, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau!"
"Benar, Candice." Salah satu teman Terry muncul entah dari mana dan ikut berbicara, "Situasinya sudah seperti ini. Kamu relakan saja Terry untuk menikah sama Vivian."
Semua teman Terry mulai bergantian bicara, mencoba menenangkan Candice.
"Terry tetap mencintaimu. Dia melakukan ini hanya karena rasa tanggung jawab. Candice, kamu orang yang baik hati. Pulanglah, ya."
Candice memandang sekumpulan pria di depannya, lalu tertawa dingin. Mereka sungguh luar biasa murah hati. Begitu murah hati hingga meminta dia menerima bahwa pacarnya menikah dengan wanita lain dan memintanya untuk tersenyum sambil mundur.
Sayangnya, Candice tidak akan melakukan itu.
"Aku ulangi lagi, aku datang ke sini hari ini bukan untukmu."
Setelah berkata demikian, Candice mengangkat kakinya dan berjalan menuju aula pernikahan. Namun, Vivian langsung menghalangi jalannya dan mulai menangis histeris.
"Candice, kamu benar-benar nggak mau membiarkanku menikah, ya? Kamu ingin melihatku mati, 'kan?"
Usai bicara, Vivian memegang gaun pengantinnya dan berlari ke arah tiang di sisi aula dengan nekat.