Bab 1
Pada tahun kelima hubungannya dengan Candice, Terry menunda pernikahan mereka. Namun, di sebuah kelab, Candice menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Terry melamar wanita lain.
Seseorang bertanya padanya, "Kamu sudah sama Candice lima tahun, tapi tiba-tiba menikah sama Vivian. Apa kamu nggak takut dia marah?"
Terry menjawab dengan santai, "Vivian lagi sakit, ini adalah permintaan terakhirnya! Candice sangat mencintaiku, dia nggak akan meninggalkanku!"
Seluruh dunia tahu bahwa Candice mencintai Terry hingga dia merasa tak bisa hidup tanpa Terry. Namun kali ini, Terry salah besar.
Pada hari pernikahannya dengan Vivian, dia berkata kepada teman-temannya, "Awasi Candice, jangan sampai dia tahu aku menikah sama orang lain!"
Temannya yang terkejut, bertanya, "Candice juga menikah hari ini, kamu nggak tahu?"
Pada saat itu, Terry benar-benar hancur!
"Ayah, bukannya Ayah pernah bilang bahwa aku punya tunangan yang sudah dijodohkan sejak kecil? Bilang sama dia, aku akan menikah pada tanggal satu bulan depan dan masih kurang seorang pengantin pria. Tanyakan sama dia, dia mau dating nggak?" tanya Candice dengan suara tenang.
Telepon di seberang hening sejenak. "Bukannya kamu mau nikah sama Terry dan lagi sibuk nyiapin pernikahan? Dia nyakitin kamu ya?"
"Ayah, tolong tanyakan saja!" seru Candice.
"Baiklah, asalkan kamu sudah mikirin matang-matang. Ayah cuma berharap kamu bahagia," jawab ayahnya dengan nada lembut.
Candice mengusap sudut matanya yang memerah dan menjawab pelan, "Aku pasti akan bahagia!"
Candice memang pernah mencintai Terry dengan sepenuh hati. Dia yakin bahwa pria itu adalah pasangan hidupnya yang ditakdirkan. Hari pernikahan mereka sudah ditetapkan dan dia menantikan saat menjadi seorang pengantin dengan penuh sukacita. Namun, semua harapan itu hancur berkeping-keping hanya dalam beberapa jam.
Satu jam yang lalu, Candice sedang mengenakan gaun pengantinnya. Sosoknya yang anggun terlihat semakin memukau dalam balutan gaun putih itu.
"Bu Candice, gaun ini dipesan khusus sama Pak Terry untuk Anda. Indah sekali, kalian pasti akan sangat bahagia bersama," puji pegawai toko dengan tulus.
Namun, Candice tidak bisa tersenyum sedikit pun. Dia memandang sekeliling dan menemukan calon pengantin prianya, Terry, berdiri di sudut ruangan dekat jendela. Dia sedang menelepon seseorang dengan senyum penuh kasih di wajahnya.
Pandangan Candice terhalang oleh pegawai toko yang menyerahkan telepon kepadanya. "Bu Candice, ada telepon untuk Anda," katanya.
Itu adalah panggilan dari perusahaan wedding organizer yang dia pilih.
"Bu Candice .... Pak Terry tadi bilang sama kami bahwa ada kesalahan pada nama pengantin wanita. Dia minta untuk ganti nama pengantin wanita jadi Vivian. Apakah Anda mengetahui hal ini?"
Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam hati Candice. Air matanya hampir tumpah. Meskipun dia telah mencurigai pengkhianatan Terry, dia tidak pernah membayangkan bahwa Terry bisa begitu tak tahu malu.
Sebulan yang lalu, ketika mantan pacar Terry, Vivian, yang telah pergi ke luar negeri selama lima tahun, kembali ke negara ini, Candice sudah memiliki firasat buruk.
Kemarin, Candice mengikuti Terry ke sebuah kelab untuk mengantarkan dasi yang dia tinggalkan. Namun, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Terry berlutut melamar Vivian.
Seseorang bertanya, "Terry, bukannya sebentar lagi kamu mau nikah sama Candice? Lalu bagaimana dengan Vivian? Gimana kamu mau menjelaskannya nanti?"
Terry menjawab dengan santai, "Vivian lagi sakit, ini adalah permintaan terakhirnya. Sedangkan Candice ... selama kalian semua bisa merahasiakannya, dia nggak akan tahu. Kalaupun dia tahu, dia mencintaiku begitu dalam, dia pasti akan memahamiku dan nggak akan meninggalkanku."
Di tengah sorakan teman-temannya, Terry dan Vivian saling berciuman dengan penuh kasih. Di luar ruangan, Candice menyaksikan pemandangan itu dengan hati hancur dan bergegas pergi.
"Hallo, Bu Candice, apakah Anda masih di sana? Nama pengantin wanita ini, apa perlu kami ubah?" tanya suara di telepon.
Dulu, Candice mencintai Terry seperti hidupnya bergantung pada Terry. Kehilangan Terry adalah hal yang tak pernah dia bayangkan. Namun, semua itu adalah masa lalu.
"Ubah saja. Sekalian pesan ruangan di aula sebelah. Uang akan segera saya transfer. Semua detailnya salin saja," jawab Candice dengan nada tegas.
"Baik. Lalu nama pengantin pria, apa perlu kami ganti juga?"
Candice tersenyum tipis. "Ya, ganti. Nanti saya beri tahu nama barunya."
Ada jeda di ujung telepon. "Tanggal pernikahan tetap sesuai jadwal?"
Candice menghela napas panjang sebelum menjawab, "Tetap sesuai jadwal."
Setelah menutup telepon, Terry datang menghampirinya dan memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut.
"Candice, kamu cantik sekali hari ini," katanya dengan suara lembut.
"Benarkah?" Candice menatap pantulan dirinya di cermin. Dia memang tampak luar biasa cantik dalam gaun pengantin itu. Namun di dalam hatinya, hanya ada kekecewaan.
Bagaimana mungkin pria yang telah lama dia cintai, tunangannya yang akan segera menikahinya, tega meninggalkannya demi wanita lain?
"Benar, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini," kata Terry dengan penuh keyakinan.
Namun, nada bicaranya berubah gugup saat dia menambahkan, "Ada satu hal yang ingin aku diskusikan denganmu. Aku ada urusan pada tanggal satu bulan depan. Apa kita bisa menunda pernikahan kita?"
"Urusan?" Candice tertawa dingin dalam hati. Urusan yang dia maksud adalah menikahi wanita lain! Lebih buruknya lagi, dia ingin menggunakan tempat pernikahan yang telah Candice pilih dan memanfaatkan tanggal yang telah Candice tetapkan, sambil berusaha merahasiakan semuanya dari dirinya.
"Baik, kita tunda saja," jawab Candice dengan datar.
Jawaban itu membuat Terry terkejut. Ada rasa gelisah yang tak bisa dia jelaskan.
"Candice, aku mencintaimu. Aku pasti akan menikahimu. Tunggu aku. Aku bersumpah, aku akan mencintaimu seumur hidup."
Setelah berkata demikian, dia terburu-buru pergi dengan alasan urusan pekerjaan. Candice hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, merasa bahwa semua sumpahnya hanyalah lelucon belaka.
Candice tahu, di mata Terry, dia adalah wanita yang mencintainya tanpa syarat. Bahkan jika dia tahu Terry akan menikahi orang lain, Candice tidak akan pergi.
Namun, kali ini, Terry salah besar. Candice tidak hanya akan meninggalkannya, tapi dia juga akan menikah pada hari yang sama dengan Terry.
Bab 2
Setelah kembali ke rumah, Candice mulai membereskan barang-barangnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya, Terry tiba-tiba pulang.
"Candice, begitu urusan kantor selesai, aku langsung pulang. Kamu kangen aku nggak?" katanya dengan senyum, sambil mengeluarkan seikat mawar merah besar dan menyerahkannya pada Candice.
"Aku sengaja membelikan ini untukmu. Maaf ya tadi di toko gaun pengantin aku nggak bisa menemanimu sampai selesai. Bunga ini untuk minta maaf sama kesayanganku."
Candice melihat mawar yang mulai layu karena kekurangan air. Dia tertawa karena terlalu marah.
Bukankah ini bunga yang baru saja dia gunakan untuk melamar Vivian? Sekarang, dia memberikannya begitu saja pada Candice. Apakah di mata Terry, Candice hanya pantas mendapatkan sisa-sisa alat lamaran yang sudah tak berguna lagi?
"Apa yang kamu tertawakan?" Terry merasa cemas melihat Candice tersenyum seperti itu.
"Nggak apa-apa," jawab Candice sambil mengambil bunga itu. Dari sudut matanya, dia melihat noda lipstik merah yang jelas menempel di kerah kemejanya. Dia mengangkat tangan, menunjuk noda itu. "Bajumu kotor."
Terry menunduk, menyadari noda lipstik yang ditinggalkan Vivian saat menciumnya tadi. Jantungnya berdegup kencang. Dia berusaha memberi alasan.
"Oh, mungkin nggak sengaja tersenggol sesuatu," katanya dengan gugup.
Candice tidak mempermasalahkan, hanya berkata pelan, "Lepas saja bajunya, aku cuci."
"Di rumah ada pembantu. Aku nggak tega kalau kamu harus turun tangan sendiri," jawab Terry, mencoba menghindar.
"Pembantu sering kali terlalu kasar. Aku saja yang cuci," kata Candice dengan nada tenang.
Terry merasa lega, mengira bahwa masalahnya selesai. Dia bahkan cepat-cepat mencium Candice sambil berkata, "Candice, kamu memang yang terbaik."
Candice menerima kemeja itu, memandang noda lipstik di sana, lalu tersenyum tipis. Terbaik? Atau hanya mudah ditipu?
Mungkin karena mencucinya terlalu kuat, kemeja itu robek di tangannya.
Terry tidak peduli. Dia justru memeluknya dan berkata lembut, "Nggak masalah. Kalau robek, buang saja. Kamu tinggal belikan aku yang baru."
Dia mengganti pakaiannya, tetapi aroma parfum wanita di tubuhnya tetap tidak hilang.
Candice menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Ada beberapa hal yang justru lebih baik kalau sudah lama, bukan?"
"Itu benar," jawab Terry sambil mengangguk. "Kemeja itu memang sangat nyaman dipakai. Sayang sekali rusak gara-gara dicuci terlalu keras. Kalau nggak, aku bisa memakainya beberapa kali lagi. Kamu tahu, aku ini orang yang sangat setia, 'kan?"
Dia memang seseorang yang sangat "setia," sehingga orang yang disukainya lima tahun lalu, meskipun telah menghilang selama lima tahun, tetap dia cintai saat kembali.
Lalu, bagaimana dengan Candice? Lima tahun kebersamaannya dengan Terry, apa artinya semua itu?
Sejak kecil, banyak pria yang mendekati Candice. Setelah lulus kuliah, dia melamar pekerjaan di perusahaan Terry.
Candice langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, karena harga dirinya yang tinggi, dia tidak mau mengambil langkah lebih dulu.
Entah bagaimana, Terry juga mulai menyukainya dan mengejarnya dengan penuh semangat. Awalnya, Candice berpura-pura acuh tak acuh dan tidak langsung menerima Terry. Hingga suatu ketika, kantor mereka kebakaran.
Saat alarm kebakaran berbunyi, semua orang panik berlari keluar gedung. Candice yang ketakutan, tidak mampu bergerak sedikit pun.
Terry-lah yang berbalik arah dan membawanya keluar dari bahaya. Pada momen itu, Candice memutuskan bahwa dia ingin bersama Terry selamanya.
Lima tahun berlalu. Lima tahun penuh kenangan yang selalu diingatnya, terutama hari mereka resmi bersama. Pada hari itu, Terry bersumpah kepada langit, "Candice, aku berjanji, aku hanya akan mencintaimu seorang seumur hidupku."
Melihat Terry berbicara dengan penuh keyakinan, Candice menangis dan berkata, "Terry, ingatlah apa yang kamu katakan hari ini. Kalau suatu hari nanti kamu mengkhianatiku, aku akan menikah dengan pria lain dan membuatmu menyesal selamanya!"
Sumpah itu masih terngiang di telinganya, tetapi hati Terry sudah lama berubah. Tidak, mungkin dari awal, hatinya memang tidak pernah sepenuhnya untuk Candice.
Rasa pedih memenuhi dada Candice. Dengan tangan yang gemetar, dia mencengkeram kemeja yang telah dia cuci tadi. Air matanya akhirnya mengalir tanpa bisa dia tahan.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Melihat Candice menangis, Terry tampak panik. Dia segera mengeluarkan tisu untuk menghapus air matanya.
"Aku nggak apa-apa," jawab Candice pelan.
Dia yang lebih dulu mengkhianati Candice. Maka, Candice akan menepati janjinya: menikahi pria lain!
Bab 3
Candice dengan susah payah menenangkan dirinya. Namun, ketika Terry seperti biasanya mencoba mencium sudut bibirnya, dia langsung menolak dan mendorongnya menjauh.
Terry terlihat canggung. Dia berdeham pelan untuk menutupi rasa malunya, lalu merenggangkan pelukan mereka dan mengulurkan tangan, meminta sesuatu darinya.
"Ngomong-ngomong, mana hadiah yang kamu bilang untukku?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Candice tersenyum kecil, meminta Terry menunggu sebentar. Dia naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya, lalu mengambil kotak undangan pernikahan yang pernah mereka pilih bersama.
Dengan tenang, Candice mengambil pena dan mengganti nama pengantin pada undangan itu. Di bagian mempelai pria, dia menuliskan nama Gian, sementara di bagian mempelai wanita tetap tertulis namanya.
Setelah selesai, dia memasukkan undangan itu kembali ke dalam kotaknya, menutupnya rapat, dan membawanya ke lantai bawah. Dia menyerahkan kotak itu kepada Terry.
"Apa ini?" Terry bertanya dengan penasaran dan mencoba membuka kotaknya. Namun, Candice buru-buru menghentikannya.
"Tunggu sampai tanggal satu bulan depan untuk membukanya," jawabnya dengan senyum samar.
Mendengar tanggal tersebut, tangan Terry sedikit bergetar. Bukankah itu hari di mana dia berencana menikahi Vivian?
"Kenapa harus tanggal itu?" tanyanya sambil mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Karena tanggal satu bulan depan adalah hari baik yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita," jawab Candice dengan senyum yang begitu menenangkan. Dia menempelkan lakban di kotak itu dan berkata, "Karena pernikahan kita ditunda, aku ingin memberimu hadiah istimewa. Nanti kamu akan mendapatkan kejutan."
Terry mengangguk dengan senang hati. "Baik, aku sangat suka kejutan," katanya sambil tersenyum lebar. Dia pun mencubit hidung Candice dengan manja dan memeluknya erat.
"Candice, hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia."
Bahagia?
Kilauan di mata Candice perlahan memudar. Namun, Terry sama sekali tidak menyadarinya.
Apa yang membuatnya bahagia? Mungkin karena berhasil melamar wanita lain tanpa sepengetahuan Candice. Dia pikir Candice benar-benar tidak tahu apa-apa.
Malam itu, Terry pergi mandi. Candice duduk di sofa, menggulirkan layar ponselnya. Tanpa sengaja, dia melihat unggahan salah satu teman Terry di media sosial.
Unggahan itu adalah video saat Terry berlutut melamar Vivian, lengkap dengan keterangan.
[ Cinta yang dulu diidamkan akhirnya menjadi kenyataan. Malam ini, ayo rayakan bersama di tempat biasa! ]
Candice terdiam sejenak. Ketika dia hendak membuka video itu, muncul sebuah komentar di bawahnya.
[ Berani banget kamu nge-post ini. Kamu udah blok Candice belum? ]
Orang itu menjawab.
[ Memangnya aku sebodoh itu? Tentu saja sudah aku blok dari dia. ]
Candice membaca komentar tersebut, sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman penuh ejekan.
Dia teringat ketika baru saja menjalin hubungan dengan Terry, dia dibawa untuk bertemu dengan teman-teman dekatnya. Ketika melihat Candice, mereka semua menyapanya dengan akrab, memanggilnya "kakak ipar".
Mereka bahkan berkata, "Kakak Ipar, kalau Terry berani memperlakukanmu nggak baik, kasih tahu kami saja, kami pasti akan memberinya pelajaran!"
"Betul, Kak, tenang saja. Kami akan mengawasinya. Dia nggak akan berani macam-macam di luar. Kalau sampai dia punya wanita lain, kami pasti orang pertama yang akan memberitahumu."
Tapi sekarang? Semua orang itu justru bekerja sama membantu Terry menyembunyikan kenyataan bahwa dia akan menikahi wanita lain!
Hanya butuh beberapa detik, unggahan tersebut langsung dihapus. Tak lama kemudian, Terry keluar dari kamar mandi.
"Candice, kamu ...." Dia terlihat gugup. Rambutnya masih basah, bahkan belum sempat dikeringkan, dan dia tampak tergesa-gesa keluar dari kamar mandi.
"Ada apa?" Candice menatapnya tanpa ekspresi, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Melihat bahwa dia tidak bereaksi apa pun, Terry menghela napas lega.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma mau bilang, aku sudah selesai mandi."
"Mm," jawab Candice dengan singkat. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar.
Namun, baru beberapa langkah keluar, dia mendengar Terry sedang berbicara di telepon dengan temannya.
"Kamu gila ya? Cepat hapus unggahan itu di media sosial! Kalau sampai Candice melihatnya, gimana? Aku sudah bilang, masalah ini nggak boleh dia tahu. Kalian mau mati, ya?"
"Tenang saja, sudah aku hapus. Kakak Ipar pasti nggak sempat lihat. Ngomong-ngomong, nggak datang ke acara perayaanmu sendiri itu gimana ceritanya? Vivian sudah datang, lho."