Bab 2

Lengan Viola juga terkena bara panas dari panggangan yang terjatuh. Saat dia berusaha membantuku, lengannya tidak sengaja tersentuh bara tersebut.

"Jessy, aku tahu kamu nggak suka aku, tapi kamu nggak perlu sengaja melempar bara ini ke lenganku."

Setelah kata-katanya terucap, semua mata langsung tertuju padaku. Tatapan mereka penuh dengan tuduhan.

"Jessy, kamu kejam sekali. Kami tahu kamu nggak pernah suka Viola, tapi kamu nggak seharusnya melakukan hal seperti ini!"

Aku memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali untuk menatap Viola. Dia tampak tidak stabil dan bersandar pada Jasper dengan air mata yang berlinang.

Orang-orang di sekitarnya jelas termakan oleh aktingnya dan makian kepada diriku semakin keras, "Wanita jahat, kenapa kamu nggak tenggelam saja waktu di laut tadi?"

Aku berkata dengan suara tenang, "Viola, jangan coba-coba memfitnahku ...."

Belum sempat aku selesai membela diri, Jasper sudah memotong dengan suara tegas, "Cukup!"

Dia menatap lengan Viola yang memerah karena luka bakar, alisnya berkerut dalam-dalam. "Kamu yang meletakkan bara itu di lengan Viola. Kenapa sekarang malah memutarbalikkan fakta?"

Aku membuka mulut, tapi hanya tertawa kecil penuh ironi. "Jadi, apa pun yang dia katakan, itu pasti benar? Aku bilang aku nggak pernah melakukan itu. Apa kamu bakal percaya sama aku?"

Aku menatap mata Jasper dengan tajam, tapi dia membalasnya dengan dingin, "Kalau kamu salah, seharusnya kamu minta maaf!" katanya dengan nada penuh penekanan. "Cepat minta maaf sama Viola!"

Tatapan Jasper tidak lagi terlihat adanya cinta. Rasa sakit dari luka bakar di kakiku terasa semakin menyiksa, tetapi hatiku terasa lebih dingin.

Waktu berlalu, dan orang-orang di sekitarku mulai kehilangan kesabaran. Tatapan mereka seperti menuntutku.

Aku menunduk melihat luka di kakiku. Aku hanya ingin segera pergi untuk mengobati lukaku. Akhirnya, aku tertawa sinis dan berkata, "Baiklah, aku minta maaf."

Dengan langkah tertatih-tatih, aku mendekati Viola dan Jasper sambil menahan rasa sakit di kakiku yang parah. Aku menatap tajam ke mata Jasper dan berkata dengan suara dingin, "Sudah puas?"

Ruangan itu langsung sunyi, tidak ada yang berani berkata apa pun. Aku berbalik dan mulai berjalan ke arah mobil, air mataku mengalir deras tanpa bisa kutahan.

Melihatku yang begitu tenang dan kehilangan semangat, Jasper tiba-tiba merasa panik. Dia mengikuti langkahku menuju mobil.

Ketika dia mencoba meraih tanganku, aku langsung menepisnya dengan tegas. "Aku sudah lompat ke laut, sudah minta maaf. Sekarang, apa aku pergi mengurus luka di kakiku yang terbakar ini?"

Awalnya aku tidak ingin menunjukkan rasa tertekanku, tetapi kata-kata yang akhirnya keluar dipenuhi dengan kesedihan. Aku mengerutkan alis menatap Jasper. Sampai sejauh mana kamu ingin menghancurkanku demi Viola?

Jasper tampak ragu. Bulu matanya bergetar ringan, bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun, begitu melihat keadaanku yang menyedihkan, dia menghentikan niatnya. Tenggorokannya bergerak, lalu dia berkata dengan suara rendah, "Jessy, aku nggak bermaksud menyuruhmu melakukan apa pun."

Pandangan penuh kewaspadaanku tertuju padanya. Dia menelan ludah dengan gelisah, lalu berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di atas perutku.

Udara malam yang dingin sedikit menghangat oleh sentuhan telapak tangannya. Nada bicaranya melunak, "Kamu tahu bagaimana sifat Viola. Mengalah sedikit padanya nggak ada salahnya, 'kan?"

"Lihat kakimu sekarang, semua ini hanya karena kamu lagi marah. Kamu bahkan hampir melupakan anak kita di dalam kandungan."

Aku memejamkan mata dan air mataku berderai tanpa henti. Rasa sedihku terlihat jelas dan tak bisa lagi kusembunyikan. Dengan suara serak, aku bertanya, "Apa anak kita masih ada di hatimu?"

Dia terdiam dan tampak bingung, lalu mencoba menjawab dengan nada menenangkan, "Tentu saja ...."

Namun, sebelum dia selesai berbicara, seorang pria dari kelompok itu berlari mendekat dengan tergesa-gesa. "Jasper, gawat! Viola sedang berjalan ke arah laut!"

Kami langsung melihat ke arah laut mengikuti arah pandangan pria itu. Viola terlihat berjalan perlahan menuju air, bibirnya bergetar, menggumamkan sesuatu.

"Jessy pasti marah padaku karena hari itu dia masuk ke laut. Kalau aku juga masuk ke laut, Jessy pasti nggak akan marah lagi." Dia meneteskan air mata, wajahnya penuh kesedihan. "Dengan begitu, Jasper nggak akan berada dalam posisi sulit lagi."

Ekspresi Jasper langsung berubah. Dia berdiri dengan cepat tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatir dan paniknya. "Dia sudah gila ya?! Dia nggak bisa berenang!" katanya keras.

Jasper segera berjalan ke arah kursi pengemudi mobilku. Aku yang berdiri di samping, langsung meraih ujung celananya dengan marah. "Kamu gila, Jasper!" teriakku.

"Mobil itu adalah hadiah pernikahan dari ayahku! Kalau kamu bawa ke laut, mobil itu akan rusak!"

Jasper tertawa dingin dan sinis. "Jessy, kamu yang gila. Di hadapan nyawa seseorang, kamu masih memikirkan mobilmu!"

Aku semakin marah, suaraku bergetar karena emosi. "Kenapa, Jasper?! Kenapa?! Hanya karena dia bertingkah manja, aku harus kehilangan mobilku? Hanya karena dia cinta pertamamu, aku harus menanggung akibat atas semua tindakannya?!"

Entah kata-kataku yang mana yang membuat Jasper marah besar, tetapi ekspresinya langsung berubah dingin. Dia mendorongku dengan keras, membuatku terhuyung ke belakang, lalu masuk ke mobil dan pergi meninggalkanku.

Luka di betisku terus mengeluarkan darah, beberapa bagian bahkan sudah dipenuhi lepuhan. Perutku mulai terasa sakit lagi dan penglihatanku perlahan menjadi kabur.

Akhirnya, aku tidak mampu lagi menahan diri dan jatuh pingsan.

Bab 3

Aku masih ingat saat awal kami bersama. Pernah suatu kali, saat pertemuan dengan teman-temannya, aku tidak sengaja terjatuh ke sungai.

Meski Jasper tidak bisa berenang, dia tetap nekat mengambil pelampung dan melompat ke sungai untuk menyelamatkanku. Dia memelukku erat dan kami bersama-sama berjuang menuju tepian.

Saat itu, aku merasa kami seperti keluar dari kegelapan bersama. Sejak saat itu, aku yakin dialah orang yang tepat untukku. Kemudian, kami saling mencintai dan menikah.

Mereka selalu berkata, jangan pernah menjalin hubungan dengan seseorang dari teman dekat. Dulu aku tidak percaya dan berpikir bahwa Jasper benar-benar mencintaiku. Namun, setelah Viola muncul kembali, aku akhirnya tersadar.

Viola adalah cinta pertama Jasper. Semua pemahamannya tentang cinta berasal darinya. Aku yang terbutakan oleh cinta, belajar berenang agar Jasper tidak khawatir, bahkan mengiriminya foto setelah berhasil menyelam.

Saat dia memujiku, aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari kemampuan ini akan menjadi senjata yang digunakan untuk melukaiku.

Dalam mimpiku, aku kembali menghadapi ketidakberdayaan saat didorong ke laut .... Namun, suara dokter menarikku kembali ke kenyataan. "Sudah sadar, nggak perlu lagi infus glukosa," katanya lembut.

Aku membuka mata dan melihat dokter berdiri di sampingku. Dia tersenyum kecil, lalu berkata,

"Bu Theresia, tubuhmu sudah nggak bisa menahan tekanan lagi. Harap jaga emosimu." Setelah berkata demikian, dia memberikan segelas air padaku.

Pikiranku masih buram, tapi perlahan aku sadar akan situasi ini .... "Terima kasih," jawabku pelan.

Bahkan dokter di kota asing ini saja menunjukkan kebaikan padaku. Namun, suamiku sendiri malah ....

Drrtt … drrt ….

Ponselku bergetar, menarik perhatianku sepenuhnya. Nama Jasper muncul di layar.

Aku mengangkat panggilan itu. "Kenapa lama sekali menjawab?" adalah kalimat pertama yang keluar dengan penuh teguran.

"Aku di rumah sakit," jawabku pelan. Dia terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar serak. "Ada masalah dengan anak kita?"

Saat dia menyebut anak, hidungku mulai terasa perih karena menahan isak tangis yang ingin pecah. Keheningan meliputi kami selama dua detik.

Akhirnya aku menarik napas dan menjawab, "Aku terluka."

Namun sebelum aku selesai berbicara, dia sudah memotong dengan suara penuh tuduhan, "Cuma luka bakar kecil, perlu sampai ke rumah sakit? Apa nggak terlalu berlebihan?"

"Kita sudah menikah, uangmu adalah uangku. Apa kamu nggak tahu cara berhemat sedikit? Gunakan saja salep luka bakar, selesai masalahnya."

Aku memejamkan mata, tapi tidak bisa menghentikan gelombang kesedihan yang melanda.

Viola yang hanya memiliki luka kecil di lengannya, layak mendapatkan perhatian dan perawatan di rumah sakit. Sementara aku, dengan luka bakar besar di betisku hingga muncul lepuhan, dianggap sebagai pemborosan.

Kenapa aku tidak menyadari wajah aslinya yang menjijikkan ini sebelumnya?

"Baik," jawabku dingin.

Jasper terdengar tidak puas. "Kami akan segera pulang. Pastikan kamu kembali lebih dulu dan siapkan makan malam untuk kami."

"Kenapa harus begitu?" Aku tidak lagi membiarkannya memperlakukanku seperti dulu.

Jasper tampaknya tidak menyangka ak, yang biasanya menurut, berani melawannya kali ini. Dia langsung marah.

"Jessy, jangan lupa kamu masih mengandung anakku! Kalau kamu mau keras kepala seperti ini, pikirkan baik-baik bagaimana kamu dan anakmu akan bertahan tanpaku!"

Kata-katanya membuat amarahnya mereda. Dalam pikirannya, aku tidak mungkin meninggalkannya karena aku mengandung anaknya.

"Tut ... Tut ... Tut ...." Nada sambungan telepon yang terputus terasa menusuk telingaku.

Tubuhku bergetar karena emosi yang meluap. Aku mengingat kembali kata-kata dokter tadi, bahwa aku tidak boleh membiarkan emosi mendominasi.

Aku memejamkan mata dan air mata mengalir jatuh membasahi pipiku. Aku memendam semua perasaan kesepian selama bertahun-tahun ini.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk lebih dulu naik mobil pulang ke rumah sebelum mereka. Di perjalanan, tanpa sadar aku membuka ponsel dan melihat postingan Viola di media sosial.

Dua puluh tahun bersamanya ....

Dalam postingan itu, beberapa orang menangkap adanya keintiman yang aneh antara Viola dan Jasper. Banyak komentar di bawahnya yang memberikan ucapan selamat atas hubungan mereka. Termasuk orang-orang yang baru saja ikut liburan bersama kami, semuanya mendukung mereka, seolah melupakan fakta bahwa Jasper sudah menikah.

Aku juga meninggalkan komentar di bawahnya, hanya dua kata.

Terkunci.

Setibanya di rumah yang telah kutinggali bersama Jasper selama bertahun-tahun, aku langsung mulai mengemasi barang-barangku. Butuh waktu sekitar dua jam bagiku untuk menyelesaikan semuanya. Hanya satu koper yang kubawa.

Aku melepaskan cincin dari jariku dan meletakkannya di atas meja. Di sana juga terdapat satu surat perceraian dan laporan keguguran dari rumah sakit.

Aku mengelilingi ruangan, melihat sekeliling rumah ini untuk terakhir kalinya. Dapur penuh dengan peralatan masak yang kubeli sendiri. Kamar tidur dilengkapi jendela duduk dan lemari yang kurancang sendiri.

Jasper pernah berkata, hal yang paling dia rindukan dariku adalah keahlianku memasak. Teman-temannya juga sering memanfaatkan statusku sebagai "kakak ipar" dan memintaku memasak karena katanya masakanku sangat enak. Saat itu, aku menikmati kebahagiaan dari perasaan dibutuhkan oleh Jasper.

Namun sekarang, aku akhirnya melihat semuanya dengan jelas. Itu bukan kebutuhan, hanya karena aku mudah dimanfaatkan.

Aku menutup pintu rumah itu, membuka ponselku, dan menghubungi ayahku. "Ayah, aku memutuskan untuk bercerai."

Orang tuaku memang tidak setuju dengan hubungan kami sejak awal. Pesan balasan dari ayah datang segera.

Kembalilah, kebetulan kami baru membuka restoran kecil. Kami membutuhkanmu di sini.

Saldo rekening bankku tidak bisa diandalkan setelah perceraian ini. Satu-satunya cara adalah bekerja keras lagi untuk mendapatkan penghasilan sendiri.

Setelah memblokir semua kontak Jasper, aku pulang ke rumah orang tuaku.

Bab 4

Jasper tidak tahu bahwa Jessy sudah lama meninggalkan rumah.

Di tengah percakapan santai dengan teman-temannya, salah satu dari mereka berkata, "Sudah lama sekali kita nggak mencicipi masakan Jessy."

Jasper mengangguk pelan. Ya, selama bertahun-tahun, Jessy selalu menjadi kebanggaannya di dapur, bahkan setelah memenangkan penghargaan sebagai koki terbaik. Dengan paras cantik dan keahliannya, orang-orang sering bercanda menyebutnya sebagai "dewi dapur".

Mendengar hal itu, Jasper tak sadar menundukkan kepala dan tersenyum kecil, membayangkan sosok Jessy yang sibuk memasak di dapur.

Dia berpikir, 'Baiklah, mungkin aku harus memberikan penjelasan kepadanya tentang mobil itu. Lagi pula, mobil itu sudah aku kirim untuk diperbaiki.' Dia yakin, Jessy akan menerima permintaannya seperti biasa dan mencari cara untuk memperbaiki suasana.

Namun, ketika mereka tiba di rumah, semuanya terasa tidak biasa. Teman-temannya duduk di sofa sambil menunggu Jessy keluar dari dapur seperti biasanya. Namun, tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

Salah satu dari mereka mulai merasa ada yang tidak beres. "Jasper, ini nggak seperti biasanya. Lihat itu, ada apa di atas meja?"

Senyuman tipis di wajah Jasper perlahan menghilang, tergantikan oleh ekspresi tegang. Firasat buruk mulai menggerogoti pikirannya. Kali ini, Jessy tampaknya benar-benar marah.

Matanya tertuju pada benda yang diambil oleh salah satu temannya dari meja. Ekspresi marah dan bingung muncul saat melihatnya … surat perceraian!

Viola mencoba berbicara, "Kenapa Jessy marah sampai begini? Padahal aku sudah mencoba masuk ke laut untuk memperbaikinya. Kalau dia masih marah, aku bisa ...."

"Diam!" bentak Jasper dengan nada dingin, memotong ucapan Viola. Bibirnya terkatup rapat dan tekanan di sekelilingnya terasa semakin berat.

'Jessy pasti sudah gila! Hanya untuk mendapatkan perhatianku, dia menggunakan surat perceraian untuk bermain-main denganku. Apakah dia lupa dia sedang mengandung anakku?' pikir Jasper dengan amarah yang memuncak.

Namun, saat Jasper mendekati meja, amarahnya perlahan berubah menjadi kebingungan dan ketakutan. Selain surat perceraian, di meja itu juga ada cincin pernikahan ....

Langkahnya terasa berat dan seluruh ruangan menjadi hening. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

Jasper mengambil surat lain yang tersisa di meja. Saat dia membaca isi surat itu, tangannya yang memegang surat perceraian perlahan terkulai dan kertas itu jatuh ke lantai. Suara kertas yang jatuh itu terasa begitu berat, memantulkan gejolak besar di hati Jasper.

Jasper membaca tulisan di surat itu: Surat keterangan keguguran.

Bruk.

Jasper langsung terduduk lemas di lantai, sementara suasana di ruangan menjadi begitu sunyi hingga terasa mencekam.

Viola yang awalnya ragu, akhirnya mendekat dengan hati-hati. "Jasper ...," panggilnya pelan.

Namun, kali ini Jasper tidak memuji Viola atas kelembutannya seperti biasanya. Sebaliknya, dia hanya melirik Viola dengan tatapan dingin.

"Di sini tertulis bahwa keguguran disebabkan oleh pasien yang masuk ke laut ...." Suara Jasper terdengar dingin dan mengancam, membuat Viola refleks melangkah mundur.

Rasa takut mulai menyelinap ke dalam hatinya, tapi dia mencoba menenangkan diri dan berkata dengan lembut, "Jasper, aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan untuk membuat Jessy nggak marah. Kalau perlu, aku bisa ikut denganmu untuk meminta maaf sama dia."

Jasper hanya terdiam dan duduk lemas di lantai dengan kepala tertunduk. Pikirannya dipenuhi dengan ingatan tentang komentar Jessy di media sosial beberapa waktu lalu: "Terkunci".

Dulu dia berpikir bahwa Jessy hanya sedang bersikap manja. Setelah beberapa hari, semuanya akan kembali seperti biasa. Mobil akan diperbaiki dan Jessy pasti akan kembali ke pelukannya seperti sebelumnya.

Namun, saat melihat bukti keguguran itu, tubuhnya tak bisa berhenti gemetar.

Setelah waktu yang cukup lama, Jasper akhirnya berbicara dengan suara serak, "Kalian pergi saja."

Orang-orang di sekitarnya saling berpandangan dan merasa bingung dengan situasi ini. Viola yang merasa tidak nyaman dengan suasana itu, akhirnya menyuruh mereka semua keluar sebelum kembali duduk di sisi Jasper.

"Jasper ...," panggil Viola lagi dengan nada manja seperti biasanya.

Biasanya, Jasper tidak bisa marah pada Viola saat dia berbicara dengan nada seperti itu. Namun, kali ini Jasper menggenggam erat bukti kehamilan itu dengan tangan yang gemetar dan suaranya penuh tekanan, "Kamu juga pergi."

Viola terkejut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia menggigit bibir dengan tidak rela, tetapi akhirnya pergi setelah menatap bukti itu dengan kesal.

Jasper duduk di lantai untuk waktu yang lama, pikirannya dipenuhi dengan bayangan Jessy. Dia teringat bagaimana Jessy akan selalu menariknya ke sofa dan memperingatkannya untuk tidak duduk di lantai agar tidak masuk angin.

Tatapannya jatuh pada cincin yang diletakkan di atas surat perceraian. Cincin itu adalah hasil rancangan mereka berdua setelah mencari banyak desainer. Jessy bahkan belajar membuat perhiasan di toko emas. Dia menghabiskan waktu tiga bulan untuk membuat cincin itu menjadi sempurna sebagai simbol pernikahan mereka.

Jasper mengepalkan tangannya erat. Apakah Jessy benar-benar memutuskan untuk meninggalkan semuanya?

Namun, dia segera melihat sekeliling rumah dan berbicara pada dirinya sendiri dengan keyakinan,

"Nggak apa-apa. Hubunganku dengan Jessy sudah terjalin selama bertahun-tahun. Dia nggak mungkin menyerah begitu saja."

Malam itu, Jasper duduk di dapur, mengingat bayangan Jessy yang sibuk memasak. Ketika berbaring di tempat tidur, dia memperhatikan meja samping yang biasanya berisi segelas susu hangat, kini telah kosong.

Semua hal kecil itu membuatnya akhirnya memutuskan bahwa dia akan pergi ke rumah orang tua Jessy untuk mencarinya besok.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B25429" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B25429
Salin

Menjadi Bayang Cinta Pertamanya

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya