Bab 1
Aku sedang hamil tiga bulan ketika suamiku, Jasper, memintaku terjun ke dalam air untuk mencari kalung peninggalan cinta pertamanya.
Dengan mata yang bengkak karena menangis, aku memohon kepada Jasper sambil menggelengkan kepala. Namun, temannya yang tidak tahan melihat sikapku, akhirnya berbicara.
"Cuma terjun ke dalam air, apa susahnya? Di antara kita semua, cuma kamu yang bisa berenang. Jadi kenapa bukan kamu saja yang melakukannya?"
"Jessy, itu peninggalan ibunya Viola. Bukankah benda itu sangat penting?"
Aku berjuang untuk meraih ujung pakaian Jasper dan memohon belas kasihan terakhir darinya.
Namun, sebelum aku didorong ke dalam laut, aku hanya bisa menggantungkan harapan pada segelintir rasa tidak tega yang mungkin ada di matanya.
Akhirnya, dia membuka mulutnya, "Jessy, kamu pandai berenang. Nggak akan terjadi apa-apa."
Saat itu aku baru menyadari, bahkan dalam keadaan seperti ini, aku tidak lebih dari bayangan samar di hidupnya.
"Splash ...." Sebuah suara percikan yang besar terdengar ketika aku didorong dari kapal pesiar ke dalam laut. Di dalam air, segalanya mendadak menjadi sunyi.
Pikiranku dipenuhi wajah mereka yang berdiri di atas kapal saat aku didorong. Semua ini hanya karena mereka sedang berlibur dan kalung yang diberikan Jasper kepada Viola jatuh ke laut.
Suamiku, Jasper, langsung mengusulkan agar aku, satu-satunya yang bisa berenang, turun untuk mencarinya.
Rasa asin memenuhi mulutku, membuatku tak bisa membedakan mana air laut dan mana air mata.
Perutku mulai terasa sakit dan mencengkeram dengan kuat.
Aku menggelengkan kepala dan berusaha untuk tetap sadar. Demi anakku, aku harus bertahan hidup. "Jasper, angkat aku ke atas!" Aku berteriak sekuat tenaga ke arah kapal, tapi suaraku hampir tidak terdengar.
Salah satu pria di samping Jasper berteriak padaku, "Kalung itu adalah peninggalan ibunya Viola, Jessy. Tolong temukan dulu sebelum naik!"
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi terdengar jelas di telingaku. Aku menatap Jasper yang berdiri di sana dengan kepala tertunduk. Jasper, apakah itu juga yang kamu pikirkan?
Mencari kalung di lautan seperti ini jelas sama saja dengan membiarkanku mati.
Tak disangka, Jasper datang dengan sebuah tongkat bambu. Bukannya menarikku keluar, dia malah mendorongku lebih jauh ke dalam laut. Jaraknya tidak jauh, aku bisa melihat jelas gerakan bibirnya yang tidak terucap.
"Patuhlah ...."
"Gluk ...."
"Gluk ...."
Aku mengambang sendirian dengan tak berdaya di laut dan berjuang untuk tetap bertahan hidup. Aku meraih erat-erat rumput laut yang melayang di sekitar, sementara air laut bercampur air mata memenuhi lidahku dengan rasa pahit.
Ada tarikan kuat dari dasar laut yang terus menyeretku ke bawah. Dengan sisa tekad untuk bertahan hidup, aku berusaha keras untuk naik ke permukaan.
Untungnya, aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri. Aku terdampar di pantai dan tubuhku terkulai lemas. Namun, di bawahku, pasir pantai sudah berubah merah karena darah. Tenda-tenda yang sebelumnya berdiri di sekitar pantai sudah lenyap entah ke mana.
Aku hanya bisa menundukkan kepala dengan lemah. Betapa konyolnya diriku, masih berharap bahwa Jasper akan menyesal melihat keadaanku yang mengenaskan.
Nyatanya, dia bahkan sudah pergi. Tidak ada siapa pun di sana. Perlahan-lahan, kesadaran mulai meninggalkanku dan aku pingsan.
Ketika membuka mata lagi, aku sudah berada di kamar rumah sakit yang kosong. Tidak ada siapa pun di sana selain aku sendiri.
Dokter masuk ke kamar dan memperbaiki kecepatan infusku. Dia berkata dengan nada penuh rasa kasihan, "Baru saja keguguran, kamu harus benar-benar jaga diri. Kenapa kamu berenang tanpa memikirkan kondisi anakmu?"
Aku memejamkan mata, menelan pahit getir yang tak berujung. Aku menjawab dengan suara pelan, menyembunyikan semua kepedihan yang menggerogoti hatiku.
Bahkan seorang dokter yang merupakan orang asing saja menunjukkan perhatian pada kesehatanku. Namun, orang yang telah hidup bersamaku selama lima tahun, suamiku sendiri, adalah alasan mengapa aku berada dalam kondisi ini.
Karena kami sedang berada di kota tujuan wisata, aku dipulangkan dari rumah sakit setelah hanya tiga hari dirawat. Kali ini, aku bersikeras untuk kembali ke hotel dan mengemasi barang-barangku. Aku memutuskan akan pulang sendiri dan merawat tubuhku di rumah.
Ketika tiba di hotel, aku langsung bertemu dengan Viola. Dia tampak terkejut melihatku. "Jessy?"
Aku menunduk, menatapnya dengan mata yang penuh tekad dan kemarahan. Jasper memang tidak bertindak benar, tapi Viola juga tidak lepas dari tanggung jawab atas kematian anakku.
"Kenapa kamu kembali?" tanyanya, sementara sekelompok orang di pantai sedang memanggang barbeku dengan santai.
Aku berjalan mendekati Jasper dengan wajah dingin. "Katakan padaku password kamar hotel. Aku tadi mencoba masuk tapi nggak bisa."
Aku ingin mengemasi barang-barangku dan meninggalkan tempat menyedihkan ini. Aku mau pulang untuk memulihkan diri. Sisanya, aku akan urus dengan Jasper nanti.
Namun, sebelum Jasper bisa menjawab, Viola memotong pembicaraan. "Jessy, kamar hotelmu sudah lama kami kembalikan."
Setelah berbicara, dia menatap sekeliling dengan ekspresi seolah tak bersalah, seakan ingin menunjukkan bahwa itu bukan kesalahannya. Dengan suara kecil, dia menambahkan, "Kami pikir kamu sudah pulang. Siapa sangka kamu akan kembali? Lagian, meskipun Kak Jasper punya banyak uang ...."
Air matanya hampir jatuh. "Nggak seharusnya kita menyia-nyiakannya, 'kan?"
Apa?!
Aku menarik napas panjang untuk menahan kemarahanku. Aku berjalan mendekati Viola bersiap untuk bicara, tetapi tiba-tiba sebuah frisbee melayang ke arah kami.
"Hati-hati!" Jasper yang biasanya begitu dingin, berlari panik ke arah Viola.
Dengan cepat, dia melindungi Viola di pelukannya. Dalam proses itu, kakinya menendang panggangan barbeku hingga panggangan itu terbalik dan bara panasnya jatuh tepat mengenai kakiku.
Rasa sakit langsung menjalar di kakiku. Kulit di betis bawahku berubah merah terang dalam sekejap.
"Ahh ...."
Bab 2
Lengan Viola juga terkena bara panas dari panggangan yang terjatuh. Saat dia berusaha membantuku, lengannya tidak sengaja tersentuh bara tersebut.
"Jessy, aku tahu kamu nggak suka aku, tapi kamu nggak perlu sengaja melempar bara ini ke lenganku."
Setelah kata-katanya terucap, semua mata langsung tertuju padaku. Tatapan mereka penuh dengan tuduhan.
"Jessy, kamu kejam sekali. Kami tahu kamu nggak pernah suka Viola, tapi kamu nggak seharusnya melakukan hal seperti ini!"
Aku memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali untuk menatap Viola. Dia tampak tidak stabil dan bersandar pada Jasper dengan air mata yang berlinang.
Orang-orang di sekitarnya jelas termakan oleh aktingnya dan makian kepada diriku semakin keras, "Wanita jahat, kenapa kamu nggak tenggelam saja waktu di laut tadi?"
Aku berkata dengan suara tenang, "Viola, jangan coba-coba memfitnahku ...."
Belum sempat aku selesai membela diri, Jasper sudah memotong dengan suara tegas, "Cukup!"
Dia menatap lengan Viola yang memerah karena luka bakar, alisnya berkerut dalam-dalam. "Kamu yang meletakkan bara itu di lengan Viola. Kenapa sekarang malah memutarbalikkan fakta?"
Aku membuka mulut, tapi hanya tertawa kecil penuh ironi. "Jadi, apa pun yang dia katakan, itu pasti benar? Aku bilang aku nggak pernah melakukan itu. Apa kamu bakal percaya sama aku?"
Aku menatap mata Jasper dengan tajam, tapi dia membalasnya dengan dingin, "Kalau kamu salah, seharusnya kamu minta maaf!" katanya dengan nada penuh penekanan. "Cepat minta maaf sama Viola!"
Tatapan Jasper tidak lagi terlihat adanya cinta. Rasa sakit dari luka bakar di kakiku terasa semakin menyiksa, tetapi hatiku terasa lebih dingin.
Waktu berlalu, dan orang-orang di sekitarku mulai kehilangan kesabaran. Tatapan mereka seperti menuntutku.
Aku menunduk melihat luka di kakiku. Aku hanya ingin segera pergi untuk mengobati lukaku. Akhirnya, aku tertawa sinis dan berkata, "Baiklah, aku minta maaf."
Dengan langkah tertatih-tatih, aku mendekati Viola dan Jasper sambil menahan rasa sakit di kakiku yang parah. Aku menatap tajam ke mata Jasper dan berkata dengan suara dingin, "Sudah puas?"
Ruangan itu langsung sunyi, tidak ada yang berani berkata apa pun. Aku berbalik dan mulai berjalan ke arah mobil, air mataku mengalir deras tanpa bisa kutahan.
Melihatku yang begitu tenang dan kehilangan semangat, Jasper tiba-tiba merasa panik. Dia mengikuti langkahku menuju mobil.
Ketika dia mencoba meraih tanganku, aku langsung menepisnya dengan tegas. "Aku sudah lompat ke laut, sudah minta maaf. Sekarang, apa aku pergi mengurus luka di kakiku yang terbakar ini?"
Awalnya aku tidak ingin menunjukkan rasa tertekanku, tetapi kata-kata yang akhirnya keluar dipenuhi dengan kesedihan. Aku mengerutkan alis menatap Jasper. Sampai sejauh mana kamu ingin menghancurkanku demi Viola?
Jasper tampak ragu. Bulu matanya bergetar ringan, bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun, begitu melihat keadaanku yang menyedihkan, dia menghentikan niatnya. Tenggorokannya bergerak, lalu dia berkata dengan suara rendah, "Jessy, aku nggak bermaksud menyuruhmu melakukan apa pun."
Pandangan penuh kewaspadaanku tertuju padanya. Dia menelan ludah dengan gelisah, lalu berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di atas perutku.
Udara malam yang dingin sedikit menghangat oleh sentuhan telapak tangannya. Nada bicaranya melunak, "Kamu tahu bagaimana sifat Viola. Mengalah sedikit padanya nggak ada salahnya, 'kan?"
"Lihat kakimu sekarang, semua ini hanya karena kamu lagi marah. Kamu bahkan hampir melupakan anak kita di dalam kandungan."
Aku memejamkan mata dan air mataku berderai tanpa henti. Rasa sedihku terlihat jelas dan tak bisa lagi kusembunyikan. Dengan suara serak, aku bertanya, "Apa anak kita masih ada di hatimu?"
Dia terdiam dan tampak bingung, lalu mencoba menjawab dengan nada menenangkan, "Tentu saja ...."
Namun, sebelum dia selesai berbicara, seorang pria dari kelompok itu berlari mendekat dengan tergesa-gesa. "Jasper, gawat! Viola sedang berjalan ke arah laut!"
Kami langsung melihat ke arah laut mengikuti arah pandangan pria itu. Viola terlihat berjalan perlahan menuju air, bibirnya bergetar, menggumamkan sesuatu.
"Jessy pasti marah padaku karena hari itu dia masuk ke laut. Kalau aku juga masuk ke laut, Jessy pasti nggak akan marah lagi." Dia meneteskan air mata, wajahnya penuh kesedihan. "Dengan begitu, Jasper nggak akan berada dalam posisi sulit lagi."
Ekspresi Jasper langsung berubah. Dia berdiri dengan cepat tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatir dan paniknya. "Dia sudah gila ya?! Dia nggak bisa berenang!" katanya keras.
Jasper segera berjalan ke arah kursi pengemudi mobilku. Aku yang berdiri di samping, langsung meraih ujung celananya dengan marah. "Kamu gila, Jasper!" teriakku.
"Mobil itu adalah hadiah pernikahan dari ayahku! Kalau kamu bawa ke laut, mobil itu akan rusak!"
Jasper tertawa dingin dan sinis. "Jessy, kamu yang gila. Di hadapan nyawa seseorang, kamu masih memikirkan mobilmu!"
Aku semakin marah, suaraku bergetar karena emosi. "Kenapa, Jasper?! Kenapa?! Hanya karena dia bertingkah manja, aku harus kehilangan mobilku? Hanya karena dia cinta pertamamu, aku harus menanggung akibat atas semua tindakannya?!"
Entah kata-kataku yang mana yang membuat Jasper marah besar, tetapi ekspresinya langsung berubah dingin. Dia mendorongku dengan keras, membuatku terhuyung ke belakang, lalu masuk ke mobil dan pergi meninggalkanku.
Luka di betisku terus mengeluarkan darah, beberapa bagian bahkan sudah dipenuhi lepuhan. Perutku mulai terasa sakit lagi dan penglihatanku perlahan menjadi kabur.
Akhirnya, aku tidak mampu lagi menahan diri dan jatuh pingsan.
Bab 3
Aku masih ingat saat awal kami bersama. Pernah suatu kali, saat pertemuan dengan teman-temannya, aku tidak sengaja terjatuh ke sungai.
Meski Jasper tidak bisa berenang, dia tetap nekat mengambil pelampung dan melompat ke sungai untuk menyelamatkanku. Dia memelukku erat dan kami bersama-sama berjuang menuju tepian.
Saat itu, aku merasa kami seperti keluar dari kegelapan bersama. Sejak saat itu, aku yakin dialah orang yang tepat untukku. Kemudian, kami saling mencintai dan menikah.
Mereka selalu berkata, jangan pernah menjalin hubungan dengan seseorang dari teman dekat. Dulu aku tidak percaya dan berpikir bahwa Jasper benar-benar mencintaiku. Namun, setelah Viola muncul kembali, aku akhirnya tersadar.
Viola adalah cinta pertama Jasper. Semua pemahamannya tentang cinta berasal darinya. Aku yang terbutakan oleh cinta, belajar berenang agar Jasper tidak khawatir, bahkan mengiriminya foto setelah berhasil menyelam.
Saat dia memujiku, aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari kemampuan ini akan menjadi senjata yang digunakan untuk melukaiku.
Dalam mimpiku, aku kembali menghadapi ketidakberdayaan saat didorong ke laut .... Namun, suara dokter menarikku kembali ke kenyataan. "Sudah sadar, nggak perlu lagi infus glukosa," katanya lembut.
Aku membuka mata dan melihat dokter berdiri di sampingku. Dia tersenyum kecil, lalu berkata,
"Bu Theresia, tubuhmu sudah nggak bisa menahan tekanan lagi. Harap jaga emosimu." Setelah berkata demikian, dia memberikan segelas air padaku.
Pikiranku masih buram, tapi perlahan aku sadar akan situasi ini .... "Terima kasih," jawabku pelan.
Bahkan dokter di kota asing ini saja menunjukkan kebaikan padaku. Namun, suamiku sendiri malah ....
Drrtt … drrt ….
Ponselku bergetar, menarik perhatianku sepenuhnya. Nama Jasper muncul di layar.
Aku mengangkat panggilan itu. "Kenapa lama sekali menjawab?" adalah kalimat pertama yang keluar dengan penuh teguran.
"Aku di rumah sakit," jawabku pelan. Dia terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar serak. "Ada masalah dengan anak kita?"
Saat dia menyebut anak, hidungku mulai terasa perih karena menahan isak tangis yang ingin pecah. Keheningan meliputi kami selama dua detik.
Akhirnya aku menarik napas dan menjawab, "Aku terluka."
Namun sebelum aku selesai berbicara, dia sudah memotong dengan suara penuh tuduhan, "Cuma luka bakar kecil, perlu sampai ke rumah sakit? Apa nggak terlalu berlebihan?"
"Kita sudah menikah, uangmu adalah uangku. Apa kamu nggak tahu cara berhemat sedikit? Gunakan saja salep luka bakar, selesai masalahnya."
Aku memejamkan mata, tapi tidak bisa menghentikan gelombang kesedihan yang melanda.
Viola yang hanya memiliki luka kecil di lengannya, layak mendapatkan perhatian dan perawatan di rumah sakit. Sementara aku, dengan luka bakar besar di betisku hingga muncul lepuhan, dianggap sebagai pemborosan.
Kenapa aku tidak menyadari wajah aslinya yang menjijikkan ini sebelumnya?
"Baik," jawabku dingin.
Jasper terdengar tidak puas. "Kami akan segera pulang. Pastikan kamu kembali lebih dulu dan siapkan makan malam untuk kami."
"Kenapa harus begitu?" Aku tidak lagi membiarkannya memperlakukanku seperti dulu.
Jasper tampaknya tidak menyangka ak, yang biasanya menurut, berani melawannya kali ini. Dia langsung marah.
"Jessy, jangan lupa kamu masih mengandung anakku! Kalau kamu mau keras kepala seperti ini, pikirkan baik-baik bagaimana kamu dan anakmu akan bertahan tanpaku!"
Kata-katanya membuat amarahnya mereda. Dalam pikirannya, aku tidak mungkin meninggalkannya karena aku mengandung anaknya.
"Tut ... Tut ... Tut ...." Nada sambungan telepon yang terputus terasa menusuk telingaku.
Tubuhku bergetar karena emosi yang meluap. Aku mengingat kembali kata-kata dokter tadi, bahwa aku tidak boleh membiarkan emosi mendominasi.
Aku memejamkan mata dan air mata mengalir jatuh membasahi pipiku. Aku memendam semua perasaan kesepian selama bertahun-tahun ini.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk lebih dulu naik mobil pulang ke rumah sebelum mereka. Di perjalanan, tanpa sadar aku membuka ponsel dan melihat postingan Viola di media sosial.
Dua puluh tahun bersamanya ....
Dalam postingan itu, beberapa orang menangkap adanya keintiman yang aneh antara Viola dan Jasper. Banyak komentar di bawahnya yang memberikan ucapan selamat atas hubungan mereka. Termasuk orang-orang yang baru saja ikut liburan bersama kami, semuanya mendukung mereka, seolah melupakan fakta bahwa Jasper sudah menikah.
Aku juga meninggalkan komentar di bawahnya, hanya dua kata.
Terkunci.
Setibanya di rumah yang telah kutinggali bersama Jasper selama bertahun-tahun, aku langsung mulai mengemasi barang-barangku. Butuh waktu sekitar dua jam bagiku untuk menyelesaikan semuanya. Hanya satu koper yang kubawa.
Aku melepaskan cincin dari jariku dan meletakkannya di atas meja. Di sana juga terdapat satu surat perceraian dan laporan keguguran dari rumah sakit.
Aku mengelilingi ruangan, melihat sekeliling rumah ini untuk terakhir kalinya. Dapur penuh dengan peralatan masak yang kubeli sendiri. Kamar tidur dilengkapi jendela duduk dan lemari yang kurancang sendiri.
Jasper pernah berkata, hal yang paling dia rindukan dariku adalah keahlianku memasak. Teman-temannya juga sering memanfaatkan statusku sebagai "kakak ipar" dan memintaku memasak karena katanya masakanku sangat enak. Saat itu, aku menikmati kebahagiaan dari perasaan dibutuhkan oleh Jasper.
Namun sekarang, aku akhirnya melihat semuanya dengan jelas. Itu bukan kebutuhan, hanya karena aku mudah dimanfaatkan.
Aku menutup pintu rumah itu, membuka ponselku, dan menghubungi ayahku. "Ayah, aku memutuskan untuk bercerai."
Orang tuaku memang tidak setuju dengan hubungan kami sejak awal. Pesan balasan dari ayah datang segera.
Kembalilah, kebetulan kami baru membuka restoran kecil. Kami membutuhkanmu di sini.
Saldo rekening bankku tidak bisa diandalkan setelah perceraian ini. Satu-satunya cara adalah bekerja keras lagi untuk mendapatkan penghasilan sendiri.
Setelah memblokir semua kontak Jasper, aku pulang ke rumah orang tuaku.