Bab 7
Ingin Bertemu Orang Penting
"Bukankah bosnya Kak Herkules itu Tuan John?"
Tina tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, "Ardika, apakah kamu tahu siapa Tuan John? Dia adalah orang penting yang sangat berkuasa. Seorang bos preman yang bahkan harus dihormati oleh Ayahku. Beraninya kamu bilang Tuan John datang meminta maaf? Kamu ingin mati, ya?"
"Tina, kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ikut ke atas," jawab Ardika dengan santai. Namun, Tina malah memelototinya.
Setelah sadar kembali dari keterkejutan, Tony pun berkata sambil tersenyum, "Aku rasa dia melihat mobil Tuan John di depan pintu, jadi sengaja berkata seperti itu. Untung saja nggak ada orang luar di sini. Kalau sampai Tuan John mendengar ucapannya, kita semua akan mati."
Semua orang langsung terkejut.
"Aku benar-benar nggak tahan lagi!" bentak Desi dengan kesal sambil menepuk meja. "Tiap hari hanya bisa bersikap bodoh seperti itu, memalukan saja! Cepat pergi, kalau nggak, aku akan menghajarmu."
"Ardika, kamu pergi dulu .... Aku akan pulang setelah makan."
Luna juga merasa sangat malu, dia buru-buru mendorong Ardika keluar.
Ardika berkata dengan tak berdaya, "Baiklah. Sayang, kamu jangan minum terlalu banyak. Aku akan datang menjemputmu nanti."
Setelah Ardika pergi, suasana ruangan menjadi lebih tenang.
Setelah minum beberapa gelas air, Desi pun berhasil menahan amarah dalam hati.
Tony sama sekali tidak peduli. Kalau Ardika bersikap makin gila, kemungkinan dia mendapatkan Luna akan makin tinggi. Dia tentu saja berharap Ardika bisa bersikap bodoh setiap hari.
...
"Tuan John, hari ini siapa yang Anda undang?"
"Selain menjamunya di Hall Raja, Anda bahkan mengajak kami untuk datang menemani. Bukankah ini terlalu meriah?"
Lantai sembilan, di depan lift Hall Raja berdiri beberapa pria dan wanita paruh baya yang sedang bertanya kepada John.
Kalau ada yang melihat mereka, pasti langsung kenal.
Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi, Irwan Citora. Pemimpin Bank Banyuli, Calvin Rewind. Direktur Utama Grup Permata Buana, Bella Dewanto ....
Beberapa orang tersebut adalah orang-orang penting yang bisa menggemparkan Kota Banyuli.
Tuan John berkata dengan nada dingin, "Identitasnya sangat rahasia. Mengundang kalian datang untuk menghidupkan suasana dan juga kehormatan bagi kalian. Aku mengajak kalian karena hubungan kita yang baik."
"Pokoknya, ingat ucapanku, jangan sampai menyinggungnya."
Identitasnya sangat rahasia?
Beberapa bos besar yang sudah berpengalaman dengan berbagai situasi, mulai merasa tegang.
"Bagaimana kita menyapanya?"
"Menyapanya?"
Setelah berpikir sejenak, Tuan John pun berkata, "Panggil saja Tuan Ardika."
"Ting!"
Pintu lift terbuka dan wajah Ardika pun terlihat.
Irwan dan yang lain terkejut. Mereka tidak menyangka orang penting ini masih sangat muda.
"Tuan Ardika sudah datang!"
Tuan John segera maju ke depan, kemudian mengulurkan tangan untuk menahan pintu lift dan membiarkan Ardika berjalan keluar.
"Halo Tuan Ardika!"
Beberapa orang penting tersebut langsung menenangkan diri, kemudian maju ke depan untuk menyapa Ardika.
Kemudian, mereka juga memberikan kartu nama kepada Ardika.
Setelah sampai di meja makan, Pemimpin Bank Banyuli, Calvin, segera memberikan sebuah kotak hadiah kecil mewah yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Tuan Ardika, ini adalah hadiah kecil yang kami siapkan untuk Anda."
"Di dalam kotak ada sebuah kartu hitam Bank Banyuli. Mulai sekarang, Anda adalah tamu VIP dari bank kami."
"Kalian terlalu sungkan."
Ardika pun menyimpannya, lalu melambaikan tangan sambil berkata, "Karena kita datang makan, jadi santai saja. Kalian nggak perlu terlalu sopan."
Mereka pun mulai makan dan minum, kemudian mengobrol dengan santai.
Setelah selesai, Ardika pun berdiri dan berkata, "Hari ini sampai di sini saja. Aku harus turun ke bawah untuk menjemput istriku."
Setelah mengantar Ardika pergi, John segera memberi perintah kepada anak buahnya, "Coba periksa Nona Luna ada di ruangan mana, lalu bayar tagihan mereka."
Perjamuan makan di Hall Rembulan masih berlanjut.
Tony sempat keluar beberapa saat. Ketika kembali, dia membawa beberapa anak muda.
Pemuda yang berada di depan tampak tampan dan bersemangat.
"Aku perkenalkan dulu, orang ini adalah Axel Citora, anaknya Irwan Citora yang merupakan Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi."
Tony memperkenalkan anak muda tersebut dengan sopan.
Seketika, semua orang di dalam ruangan pun berdiri untuk menunjukkan rasa hormat.
"Tony, kamu bahkan kenal dengan anak hebat seperti Tuan Muda Axel."
Desi tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Meskipun belum selesai makan, panggilan Desi terhadap Tony sudah menjadi lebih akrab.
Tony pun tersenyum dan berkata, "Tuan Muda Axel ingin berkenalan dengan Tina. Mendengar Tina sedang makan dengan kita, dia pun sengaja datang untuk bersulang."
Tina pun tertegun sejenak. Dia menyadari dari awal masuk, Axel terus menatap dirinya.
Tina sudah sering melihat tatapan seperti itu. Dia pun mengulurkan tangannya sambil berkata, "Kalau Tuan Muda Axel ingin berkenalan denganku, telepon saja. Nggak usah datang langsung."
"Aku sering mendengar bahwa Nona Tina adalah wanita yang terkenal cantik di Kota Banyuli, jadi aku ingin bertemu."
Setelah mendengarnya, wajah Tina pun merona.
Tatapan Axel makin bersemangat, tapi dia tahu tidak boleh buru-buru. Jadi, Axel pun melambaikan tangannya dan berkata, "Baiklah, sebenarnya aku datang bersama ayahku. Hari ini, Tuan John membuat perjamuan di Hall Raja untuk menjamu satu orang penting, dia menyuruh ayahku datang menemaninya. Aku datang untuk melihatnya."
"Tapi, ternyata Tuan John bilang kalau anak muda nggak berhak naik."
Meskipun menunjukkan ekspresi tak berdaya, tatapan Axel menunjukkan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.
Dia memang tidak bertemu orang penting tersebut, tapi ayah mereka sudah sempat bertemu dengannya. Di seluruh Kota Banyuli, hanya beberapa orang yang berhak bertemu dengannya.
Semua orang pun tertegun.
Desi dan yang lain teringat ucapan Ardika sebelumnya. Apakah Ardika adalah orang penting tersebut?
Setelah beberapa saat, mereka pun diam-diam menggelengkan kepala. Seorang idiot yang baru pulih tidak mungkin menjadi orang penting.
Tina juga bertanya dengan kaget, "Orang penting yang bisa dijamu oleh Tuan John di Hall Raja pasti sangat hebat."
Axel berkata dengan bangga, "Identitas orang itu bahkan nggak diketahui oleh Ayahku. Dia hanya tahu bahwa orang penting itu memiliki hubungan dengan Komandan Draco yang baru datang."
Ketika mendengarnya, semua orang di Hall Rembulan menarik napas dalam-dalam.
Belakangan ini, ada dua hal besar yang terjadi di Kota Banyuli. Hal pertama yaitu kedatangan Grup Angkasa Sura di Kota Banyuli. Lalu, hal kedua adalah Komandan baru departemen perang Kota Banyuli yang bernama Draco Sutopo datang menjabat.
Orang penting itu ternyata memiliki hubungan dengan Draco, benar-benar hebat.
Melihat Tina mendengar dengan saksama, Axel berkata sambil tersenyum, "Setelah perjamuan di Hall Raja selesai, aku akan membawa kalian untuk bertemu dengannya pas beliau turun."
"Baik, baik!"
Semua orang menjadi penuh semangat.
Bab 8
Memukul Tuan Muda Axel
Tina tampak berseri-seri, dia juga ingin melihat orang penting tersebut.
"Luna, ayo kita tunggu di depan pintu lift," ajak Tina sambil menarik baju Luna.
"Nggak usah, aku akan pulang bersama Ardika ...."
Setelah minum satu gelas anggur, wajah Luna yang sedikit mabuk tampak kemerahan.
Tina pun menasihatinya dengan kesal, "Aduh, kenapa kamu terus memikirkan Ardika si idiot itu? Kali ini adalah kesempatan yang sangat langka. Kalau kita bisa meninggalkan kesan baik untuk orang penting itu, utang keluarga kalian nggak perlu dikhawatirkan lagi, 'kan?"
"Hmm ... baiklah."
Tak lama kemudian, Axel mengangkat panggilan telepon.
Semua orang langsung menahan napas.
Apakah orang penting tersebut akan turun?
Setelah beberapa saat, Axel pun meletakkan ponselnya dengan ekspresi tak berdaya. Dia lalu berkata, "Ayahku baru saja meneleponku, dia bilang perjamuannya sudah selesai dan orang penting tersebut sudah pergi lebih awal."
"Aduh, kita kurang beruntung, nggak bisa bertemu orang penting itu ...."
Semua orang merasa menyesal.
"Sayang, kamu sudah selesai makan?"
Saat ini, Ardika tiba-tiba berjalan masuk.
"Ardika, kamu masih berani datang? Pergi sana!"
Melihat kedatangan Ardika, Tina yang masih tenggelam dalam penyesalan pun marah dan menamparnya.
"Plak!"
Ardika langsung menggenggam pergelangan tangannya dan berkata, "Tina, aku tahu kamu galak. Untungnya kamu adalah sahabatnya Luna, jangan ulangi lagi."
"Dasar pecundang! Beraninya kamu berbicara seperti itu denganku?" bentak Tina dengan kesal.
Axel langsung memukul meja dan berdiri. Dia lalu berkata, "Dasar bocah! Lepaskan tanganmu. Kamu seharusnya merasa terhormat karena dipukul oleh Nona Tina."
"Siapa kamu?" tanya Ardika dengan nada dingin.
"Dia adalah anaknya Direktur Irwan. Cepat turunkan tanganmu!"
"Anaknya Irwan?" Setelah meliriknya, Ardika lalu berkata dengan sinis, "Ayahmu bahkan nggak berani berbicara seperti itu denganku."
"Cari mati!"
Setelah tertegun sejenak, Axel langsung marah. Dia berjalan ke arah Ardika dengan cepat, kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Ardika.
"Plak!"
Ardika melepaskan Tina, kemudian menampar Axel dengan keras.
"Ah ...."
Axel langsung terpental, darah pun muncrat dari hidung dan mulutnya.
Wajahnya bengkak!
"Shh!"
Semua orang yang berada di Hall Rembulan terkejut.
Beraninya Ardika memukul anaknya Irwan?
Tony langsung berdiri dan berteriak dengan kesal, "Ardika, kamu cari mati! Kamu nggak hanya mencelakakan dirimu, tapi juga mencelakakan Luna dan keluarganya."
Wajah Luna dan keluarganya langsung pucat.
Di dalam Hall Rembulan, hanya Ardika yang tampak santai.
"Sayang, nggak usah takut. Anak orang kaya yang sombong memang pantas dipukul. Nggak apa-apa."
Semua orang mengira Ardika sedang membual.
"Tuan Muda Axel, kamu nggak apa-apa?"
Tony dan Tina segera membantu Axel untuk berdiri.
"Minggir!"
Axel mendorong mereka dengan kesal. Kali ini, dia benar-benar marah.
Sejak kecil sampai dewasa, semua orang selalu bersikap hormat kepadanya. Bahkan ayahnya juga tidak pernah menamparnya.
"Nak, kamu berani juga! Hari ini, kamu nggak akan bisa keluar dari tempat ini dengan baik."
Sambil memelototi Ardika, Axel mengeluarkan ponsel untuk menelepon Irwan.
"Ayah, seseorang memukulku di Restoran Gatotkaca. Tolong bawa orang kemari, aku ingin membunuh pecundang ini."
"Apa! Aku akan segera membawa orang ke sana."
Semua orang bisa mendengar amarah dari suara Irwan di ujung telepon.
"Ardika, kamu benar-benar bajingan! Belatung sialan!"
Desi berteriak dengan penuh amarah. Orang itu adalah direktur pemerintahan, orang yang tidak bisa disinggung oleh Keluarga Basagita.
"Tuan Muda Axel, Ardika nggak sengaja, mohon maafkan dia."
Wajah Luna sangat pucat. Tanpa sadar, dia ingin berlutut, tetapi dihentikan oleh Ardika. Ardika lalu berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Orang yang harusnya khawatir adalah dia."
Gila! Sudah gila!
Sampai saat ini, Ardika masih berani berkata sombong.
Desi tiba-tiba merasa pusing dan jatuh lemas di kursi.
"Siapa yang berani memukul anakku?"
Tak lama kemudian, Irwan sudah muncul di Hall Rembulan dengan wajah kesal. Di belakangnya juga ikut sekelompok pria kekar.
"Ayah, bocah itu! Dia adalah menantu idiot dari keluarga kelas dua."
Axel menunjuk Ardika sambil berkata, "Aku hanya memarahinya, tapi dia bahkan bilang kalau Ayah juga nggak pantas berbicara dengannya."
Semua orang menatap Ardika dengan tatapan putus asa, karena ekspresi Irwan terlihat sangat marah.
"Bagus, bagus, bagus! Sudah lama tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepadaku."
Sambil memaksakan senyuman, Irwan pun mengalihkan pandangannya ke arah Ardika.
Kemudian, dia pun tercengang di tempat.
"Tuan, Tuan, Tuan ...."
Bulu kuduk Irwan langsung berdiri, dia juga tidak bisa berbicara dengan benar.
"Plak!"
Tiba-tiba, Irwan menoleh ke belakang dan menampar anaknya hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar anak sialan! Siapa yang ingin kamu bunuh? Kamu sudah hebat, ya?"
"Beraninya kamu membuat masalah di Restoran Gatotkaca? Kamu ingin mati, ya? Sini, biar aku hajar sampai mati saja."
Irwan langsung menghajar Axel dengan keras, dia tidak memberi pengampunan meskipun Axel adalah anaknya. Axel hanya bisa menjerit kesakitan.
Semua orang langsung tertegun.
Apa yang terjadi? Bukankah Ardika yang seharusnya dipukul?
"Berdiri! Minta maaf!"
Irwan menarik rambut Axel dan memaksanya berdiri.
Dia menekan kepala Axel dan memaksanya minta maaf kepada Ardika.
Ardika juga malas berdebat, dia hanya melambaikan tangannya dengan santai. Irwan akhirnya bisa merasa lebih tenang, dia segera menarik anaknya untuk pergi dari sana.
Setelah beberapa saat, Hall Rembulan masih saja hening.
Semua orang menatap Ardika dengan bengong.
Setelah itu, Tony pun tersenyum dan berkata, "Orang yang menjadi direktur memang berbeda. Tata kramanya sangat ketat."
Oh ya?
Semua orang masih bingung, mereka merasa masalah ini sangat aneh.
Luna dan keluarganya juga merasa terselamatkan.
"Ardika, kali ini kamu beruntung. Tapi, jangan mengira dirimu hebat."
Tony menatap Ardika dengan tatapan merendahkan, "Kalau hari ini aku nggak membantu Luna menagih utangnya, apakah kamu tahu bagaimana kehidupan Luna dan keluarganya nanti?"
"Kamu bilang kamu yang menagih utangnya?"
Tatapan Ardika menjadi dingin.
"Kalau nggak, memangnya pecundang sepertimu bisa?"
Desi menarik Tony dan berkata, "Tony, jangan pedulikan dia. Ayo kita bayar dan pergi dari sini. Melihatnya saja membuatku kehilangan nafsu makan."
Tony menekan bel untuk memanggil pramusaji.
"Tuan Muda Tony, Tuan John sudah bayar."
Setelah tertegun sejenak, Tony pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ardika, apakah kamu masih berani meragukan bahwa aku yang membantu Luna menagih utang?"
"Kak Herkules adalah anak buahnya Tuan John. Tuan John pasti tahu hubunganku dengan Kak Herkules baik, jadi dia membayar tagihannya."
Tony benar-benar sangat bangga.
Desi juga tersenyum lebar dan berkata, "Tuan John bahkan membayar tagihannya, Tony benar-benar hebat. Kalau Luna bisa menikah denganmu, dia nggak akan dirundung orang lain lagi."
Luna langsung mengenyit.
Melihat sahabat baiknya diam saja, Tina pun berkata, "Tuan Muda Tony, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna, bukankah kamu harus menyiapkan sesuatu."
"Tentu saja harus ...."
Ketika Tony baru berbicara, Ardika langsung memotongnya, "Tina, istriku ulang tahun, aku pasti akan merayakannya dengan meriah, orang lain nggak usah ikut campur."
"Tapi, karena kamu adalah sahabatnya Luna, kamu boleh datang. Tony, kamu juga boleh datang melihatnya."
Bab 9
Keluarga Basagita yang Tidak Tahu Malu
Tina juga mendengkus dingin.
Tony yang menyipitkan matanya tiba-tiba mengangguk, lalu berkata dengan nada bercanda, "Ardika, boleh juga. Kamu yang rayakan saja, biar aku bisa melihatnya."
Tony malas berdebat dengan seorang pecundang.
Lagi pula dengan keuangannya, selama Tony mau, dia bisa membuat Luna hidup mewah setiap hari.
Kali ini, dia akan membiarkan Ardika mengacaukannya.
Tanpa kekurangan yang ditunjukkan oleh si pecundang, kehebatan Tony tentu saja tidak terlihat, 'kan?
Desi langsung mengabaikan Ardika, dia lalu bertanya, "Tony, apakah kamu bisa mengundang Kak Herkules ke pesta ulang tahun Luna? Kami harus berterima kasih kepadanya karena sudah membayar utang."
Senyuman di wajah Tony langsung menghilang.
Hari ini, dia sempat menelepon Herkules. Setelah memarahinya, Herkules langsung menutup telepon dengan kesal. Siapa sangka ternyata Herkules malah membayar utangnya, hal itu sudah cukup mengejutkan Tony.
Mengundang Herkules ke ulang tahun Luna?
Tony tidak percaya dia punya kehormatan sebesar itu.
Namun, ketika melihat Ardika yang tersenyum tipis, dia pun memberanikan diri dan berkata, "Bibi, tenang saja. Aku akan menelepon Kak Herkules, dia pasti akan menyetujuinya."
Selesai bicara, dia pun mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomornya dengan perasaan tegang.
"Halo, Kak Herkules. Tiga hari lagi, Nona Luna ulang tahun, apakah Anda bisa datang?"
"Hahaha .... Nona Luna mengundangku ke pesta ulang tahunnya? Aku pasti akan datang."
"Terima kasih Kak Herkules!"
Tony merasa sangat senang.
Ketika berjalan keluar dari Restoran Gatotkaca, Desi sudah memeluk lengan Tony. Dia sudah mengakui Tony sebagai menantunya.
Ardika yang berada di belakang mendapat telepon dari Herkules.
"Tuan Ardika, Tony menelepon saya untuk mengundang saya ke pesta ulang tahun Nona Luna, saya sudah menyetujuinya. Tapi, saya merasa ada yang aneh, kenapa dia yang undang?"
"Jadi, saya menelepon untuk bertanya tentang maksud Tuan Ardika ...."
Ardika tersenyum dan menjawab, "Kamu datang saja. Dia bilang kalau kamu membayar utang karena menghormatinya."
"Apa! Memangnya siapa Tony!" bentak Herkules dengan kesal. "Tuan Ardika, Anda tenang saja. Di pesta ulang tahun Nona Luna nanti, saya akan memberinya pelajaran."
"Luna, kamu nggak suka dengan Tuan Muda Tony, ya? Aku kasih tahu, dia sudah berkorban banyak untukmu ...."
Tina yang duduk di mobil Land Rover sedang memasang sabuk pengaman, tapi tiba-tiba pintu mobil terbuka.
Ketika dia menoleh ke arah pintu, kedua matanya memancarkan amarah yang besar. Dia pun berkata, "Ardika, siapa yang suruh kamu masuk ke mobilku? Turun sana. Kalau nggak sanggup beli mobil, jalan kaki saja."
"Tina, antar dia saja," ucap Luna yang duduk di samping mobil pengemudi.
"Pfft! Mengesalkan! Aku harus cuci mobil lagi nanti ...."
Tina menjalankan mobilnya dengan kesal.
Demi menghalangi mereka untuk bicara, Tina sengaja menyalakan radio dan mengeraskan suaranya.
"Para pendengar yang setia, saatnya waktu berbagi."
"Belakangan ini, kalian pasti sudah mendengar bahwa ratu perhiasaan Kota Banyuli, Bella Dewanto, mengeluarkan 60 miliar untuk membeli kalung bernama Hati Peri, 'kan?"
"Besok, Kalung Hati Peri akan dipamerkan di toko perhiasaan milik Grup Permata Buana dengan kuota yang terbatas."
Kedua mata dua orang wanita yang duduk di dalam mobil ikut berbinar.
Mereka sudah melihat foto Kalung Hati Peri di berita.
Tidak ada wanita yang bisa menahan godaan dari Hati Peri.
"Ardika, kamu bilang ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Luna, kamu sudah menyiapkan hadiah ulang tahun?"
Tina berkata dengan ekspresi menyindir, "Jangan sampai kamu memberikan hadiah satu kantong makanan ringan. Memalukan saja!"
"Menurutku, hadiah Hati Peri nggak buruk, betul Luna?"
Luna tertegun sejenak, dia lalu berkata, "Tina, apa yang kamu katakan? Tony saja nggak sanggup membelinya, Ardika mana punya uang ...."
Ardika pun berpikir dalam hati, 'Hati Peri, ya? Sepertinya cocok dijadikan hadiah ulang tahun.'
Dia mengeluarkan tiga kartu nama dari sakunya, kemudian melihat kartu nama Bella, lalu mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Aku akan membeli Hati Peri ...."
...
Malam hari, Vila Keluarga Basagita.
Hari ini, Wulan yang ditampar tidak bisa makan dan tidur. Jadi, dia pun datang ke vila untuk mengadu.
Dengan wajah yang bengkak, dia pun menjelaskan semua yang terjadi di kompleks penjualan mobil dengan tambahan bumbu-bumbu lain. Setelah mendengarnya, Tuan Besar Basagita pun mengenyit.
Ketika melihat ekspresi kakeknya, Wulan pun berkata dengan ekspresi yang lebih sedih, "Kakek, Ardika si idiot itu sengaja menyebut nama Tuan John dan membuat Kak Herkules marah. Karena itu, aku malah ditampar oleh Kak Herkules. Bukan itu saja, Kak Herkules juga bilang nggak akan melepaskan Keluarga Basagita ...."
Setelah mendengarnya, Wisnu yang pucat ikut berkata, "Mereka memang pantas dihajar, tapi kenapa harus menyeret Keluarga Basagita? Tuan John yang berada di belakang Kak Herkules adalah bos preman yang sebenarnya. Kalau sampai keluarga kita menjadi target, Keluarga Basagita pasti akan hancur ...."
Banyak anggota Keluarga Basagita yang ketakutan ketika mendengar nama Tuan John.
Tuan Besar Basagita juga mulai ketakutan, apakah Keluarga Basagita akan terkena bencana?
Saat ini, dua sosok berjalan masuk ke dalam vila.
Melihat Luna dan Ardika berjalan masuk, banyak orang yang mulai memarahi mereka.
"Dasar pecundang! Beraninya kalian kembali setelah membuat masalah besar?"
"Dasar pecundang! Kalau bukan kalian, Kak Herkules dan Tuan John tidak akan marah dengan Keluarga Basagita."
"Eh? Kenapa kalian baik-baik saja?"
Wulan saja sudah ditampar, kenapa mereka baik-baik saja?
Banyak yang merasa bingung. Tidak seharusnya seperti itu, bukankah mereka seharusnya dihajar sampai lumpuh?
Tuan Besar Basagita tidak memedulikan hal itu, dia langsung memukul meja dan berkata, "Luna! Apakah kamu masih menghormati kakekmu ini?"
"Aku menyuruhmu pergi menagih utang, tapi kamu malah membawa Ardika untuk bertengkar dengan Kak Herkules. Selain membuat Wulan ditampar, Keluarga Basagita juga akan terkena bencana besar. Kamu senang sekarang?"
Keluarga Basagita akan terkena bencana?
Ketika masuk ke dalam vila, Luna sudah mendengar ucapan itu. Dia tampak sedikit bingung. Sebaliknya, Ardika melirik Wulan, lalu tersenyum dingin karena sudah tahu.
Ardika lalu berkata, "Kakek, Wulan memang pantas ditampar. Tapi, Kakek tenang saja, Keluarga Basagita tetap baik-baik saja."
Wulan yang kesal langsung membentak, "Dasar idiot! Beraninya kamu bicara seperti itu? Awalnya, Kak Herkules menganggapku sebagai tamu VIP. Kalau bukan karena kamu yang membuatnya marah, aku nggak mungkin ditampar! Kak Herkules juga nggak mungkin marah dengan Keluarga Basagita."
Napas Tuan Besar Basagita juga mulai terengah-engah. Dia menunjuk Ardika dan berkata, "Keluarga Basagita akan dihancurkan oleh idiot seperti kamu. Lihat saja tampangmu itu, kamu masih bersikap santai. Siapa yang memberimu keberanian untuk berkata seperti itu?"
"Karena kami sudah mendapatkan utangnya. Kalau Kak Herkules benar-benar marah, mana mungkin dia membayar utangnya?" Sambil berkata, Ardika menoleh ke arah Luna dan melanjutkan, "Sayang, tunjukkan buktinya kepada Kakek."