Bab 1
Mandi
"Sayang, ini terakhir kali aku memandikanmu ...."
"Kita sudah menikah tiga tahun, tapi kita masih belum pernah bercinta ...."
"Sebelum bercerai, aku ingin memberikan malam pertamaku kepadamu ...."
Ardika Mahasura duduk di dalam bak mandi, Luna Basagita yang bertubuh seksi sedang duduk di belakangnya. Kedua tangannya yang putih mulus itu sedang menggosok tubuh Ardika.
Ketika air membasahi tubuh mereka, aroma yang harum pun memenuhi udara.
Luna mengoleskan sabun mandi ke tubuh yang kekar itu, ketika kedua tangannya melewati otot perut Ardika, wajah Luna langsung merona.
Namun, ketika melihat wajah Ardika, rasa sedih membuat air mata Luna ikut terjatuh.
Saat ini, Ardika sedang memiringkan kepalanya. Wajah yang tampan itu terlihat bengong, air liur juga menetes dari sudut mulutnya. Dia benar-benar seorang idiot.
"Sayang, apa yang terjadi selama tiga tahun ini? Kenapa kamu menjadi seperti ini?" ucap Luna sambil terisak.
Tiga tahun lalu, Ardika tiba-tiba menghilang di malam pertama mereka.
Dalam satu malam, kabar tentang pengantin pria yang melarikan diri pun tersebar. Hal itu membuat Keluarga Basagita menjadi bahan tertawaan di seluruh Kota Banyuli.
Tuan Besar Basagita menyuruh Luna untuk bercerai, tetapi Luna bersikeras untuk menunggu Ardika. Dia percaya Ardika yang pergi tanpa pamit itu punya alasan sendiri. Luna juga percaya bahwa Ardika akan kembali.
Disertai amarah yang besar, Tuan Besar Basagita pun mengambil semua sumber daya Luna, kemudian mengusir Luna sekeluarga dari posisi inti Grup Agung Makmur.
Di suatu hari tiga bulan lalu, Ardika yang sudah menjadi idiot dibuang oleh seseorang di depan pintu rumah Luna. Pada saat itu, Ardika tidak ingat apa pun lagi dan tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa meneteskan air liur dengan ekspresi bodoh.
Luna yang tak berdaya pun membawa Ardika ke rumah sakit. Dia terus menemani Ardika setiap hari, sambil berharap Ardika bisa sembuh.
Ketika hal itu tersebar, harga diri Keluarga Basagita makin terpuruk. Tuan Besar Basagita menggunakan segala cara untuk memaksa Luna bercerai. Hal itu membuat Luna tak berdaya.
"Ardika, aku benar-benar ... nggak sanggup lagi."
"Kami sudah diusir dari rumah milik Keluarga Basagita, sekarang hanya bisa tinggal di rumah kontrakan ...."
"Modal perusahaan juga sudah ditarik, kondisi keuangan perusahaan makin buruk ...."
"Kalau aku nggak bercerai denganmu, Kakek akan memutuskan semua pemasukan keluarga kami ...."
"Sampai saat itu, aku bahkan nggak sanggup membayar biaya pengobatanmu lagi ...."
"Tapi, sebelum bercerai, aku ingin memberikan malam pertamaku kepadamu."
Dengan wajah merona, Luna menyandarkan kepalanya di bahu Ardika. Jemarinya mengikuti otot perut Ardika, lalu perlahan turun ke bawah ....
Saat ini, ponsel Luna tiba-tiba berdering.
"Luna, di mana kamu?" Suara ibunya Luna terdengar dari ujung telepon.
"Bu, aku ... aku sedang sibuk di luar," ucap Luna yang berbohong.
"Masih berani menipuku! Aku sudah mendengar suara air! Kamu pasti sedang memandikan si idiot itu, 'kan?" teriak ibunya yang kesal dengan keras. "Anakku, kenapa kamu masih nggak mau melepaskannya? Ada begitu banyak anak orang kaya yang mengejarmu, memangnya nggak ada yang kamu suka?"
"Tony Susanto, Tuan Muda dari Keluarga Susanto. Dia adalah pewaris takhta keluarga kelas atas di Kota Banyuli. Dia juga tinggi dan tampan, kenapa kamu menolaknya?"
"Bu ... cukup," jawab Luna dengan nada tak berdaya sambil mengernyit.
"Dikasih tahu malah melawan, benar-benar kurang ajar kamu!" ucap ibunya dengan kesal. "Cepat pulang sekarang juga! Kalau aku nggak melihatmu dalam setengah jam, aku akan mematahkan kakimu. Besok ulang tahun kakekmu yang ke-70. Cepat siapkan hadiah, kalau kakekmu senang, mungkin saja kita nggak perlu hidup menderita lagi."
Setelah itu, telepon pun dimatikan.
Mata Luna tampak merah. Ulang tahun kakeknya memang hal yang membahagiakan, tapi dari mana mereka punya uang untuk membeli hadiah?
"Ardika, aku pergi dulu ...." Luna tidak bisa berlama-lama karena sudah didesak oleh ibunya, dia khawatir ibunya akan datang membuat masalah di rumah sakit.
Ketika Luna pergi, Ardika yang memiringkan kepala tiba-tiba bergetar. Kedua matanya terbelalak, napasnya makin terengah-engah dan keringat dingin terus bercucuran.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Duar!
Detik selanjutnya, rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya. Semua ingatan memasuki benaknya seperti air banjir.
...
"Ardika, keluarga kita memerlukan seorang keturunan langsung untuk pergi ke medan perang. Tapi, nyawa adikmu terlalu berharga, sedangkan nyawa pecundang sepertimu nggak ada artinya, jadi kamu paling cocok bertaruh nyawa di medan perang."
"Pergilah ke medan perang, mungkin saja kamu bisa bertahan hidup. Kalau kamu berani menolak, kamu dan keluarga istrimu akan terbunuh."
...
"Dewa Perang, setelah tiga tahun perang berdarah, musuh akhirnya mundur, kita menang!"
"Dewa Perang hebat! Dewa Perang hebat!"
...
"Kakakku yang baik, terima kasih sudah menggantikanku untuk menjadi prajurit di medan perang selama tiga tahun. Tapi, harusnya kamu mati di medan perang saja, kenapa harus kembali?"
"Jadinya aku harus meracunimu. Jangan salahkan aku! Kalau kamu cacat, aku baru bisa menjadi pewaris nomor satu di Keluarga Mahasura."
"Tenang saja, aku nggak akan membunuhmu. Aku malah akan mengembalikanmu ke istrimu, biar kamu bisa hidup seperti seekor anjing ... hahaha ...."
...
Awalnya, Ardika Mahasura adalah Tuan Muda Pertama dari Keluarga Mahasura yang merupakan keluarga kelas atas di Provinsi Denpapan. Delapan belas tahun yang lalu, konflik internal keluarga membuat Ardika diusir dari keluarga dan terdampar di Kota Banyuli.
Ardika bekerja keras selama bertahun-tahun di Kota Banyuli. Namun, di hari pernikahan, Keluarga Mahasura justru mendatanginya dan memaksa dia pergi ke medan perang.
Selama tiga tahun, Ardika membuat prestasi selangkah demi selangkah, lalu berhasil menjadi seorang Dewa Perang.
Sayangnya, air susu dibalas air tuba. Ketika pulang, Ardika tidak menyangka akan diracuni oleh adik sepupunya. Walaupun Ardika berhasil mempertahankan nyawanya dengan tubuh yang kuat, hal itu juga membuat kerusakan di otaknya dan membuat dia menjadi idiot.
Sampai hari ini, Ardika berhasil sadar karena rangsangan dari Luna.
Sekarang, Ardika mengepalkan kedua tangannya, kukunya sudah menusuk ke dalam daging. Luka yang menganga pun meneteskan darah merah.
"Keluarga Mahasura! Adik sepupu! Kalian hebat!"
"Sudah saatnya kita menghitung utang selama bertahun-tahun ini!"
"Sayangnya, identitas diriku sebagai Dewa Perang dirahasiakan, sehingga kalian tidak tahu. Kalau tidak, kalian pasti akan membunuhku."
Setelah beberapa saat, Ardika akhirnya menenangkan diri. Hatinya pun mulai dipenuhi oleh rasa sedih dan perasaan bersalah.
Luna Basagita.
Kalau bukan karena dirinya, Luna bahkan tidak perlu hidup menderita.
Namun, Luna tidak pernah membencinya, bahkan tidak meninggalkan Ardika.
Istri yang begitu baik membuat Ardika sangat bersyukur.
Huh ....
Setelah mengembuskan napas panjang, kesadaran Ardika mulai jernih kembali.
"Karena aku sudah pulih, istriku, kamu tidak perlu hidup menderita lagi."
"Aku bersumpah, aku pasti akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia."
Sambil berpikir, Ardika mengeluarkan sebuah ponsel dari laci, kemudian menelepon sebuah nomor rahasia yang ada di ingatannya.
"Halo."
Telepon tersambung dengan cepat, sebuah suara yang dalam terdengar dari ujung telepon.
"Draco, ini aku."
Suara Ardika bercampur dengan sedikit perasaan rindu.
Draco Sutopo, dia merupakan salah satu dari delapan jenderal besar di bawah kepemimpinan Ardika dan juga merupakan bawahan yang paling dipercayai.
Bab 2
Kue Seharga Seratus Ribu
Suara keras terdengar dari ujung telepon, seolah-olah ada meja dan kursi yang terbalik.
Draco pun menjawab dengan nada gemetar, "Bos, ini benar-benar kamu? Ke mana saja kamu?"
"Selama ini, bos nggak ada kabar sama sekali. Teman-teman juga sangat panik."
"Tapi, identitasmu sangat rahasia. Tanpa perintah, kami nggak berani pergi mencarimu."
Sambil menghela napas, Ardika lalu menjawab, "Aku bertemu beberapa orang licik. Nggak masalah, sekarang aku sudah pulih."
"Ada orang yang ingin mencelakakanmu? Siapa? Bos, berikan perintah! Aku akan bawa teman-teman untuk meratakan mereka," bentak Draco.
"Nggak perlu," jawab Ardika dengan ekspresi dingin. Terkait masalah Keluarga Mahasura, dia tidak ingin menggunakan bantuan dari luar. Semua ini harus diselesaikan oleh Ardika sendiri.
"Ada satu hal yang perlu kamu lakukan."
"Malam ini, segera bawa Grup Angkasa Sura ke Kota Banyuli."
"Selain itu, umumkan bahwa kita akan berinvestasi 20 triliun di Kota Banyuli."
Selama tiga tahun bergabung dengan militer, Ardika tidak hanya memimpin bawahan untuk berperang. Dia juga membangun sebuah kerajaan bisnis di luar negeri yang bernama Grup Angkasa Sura!
Dia akan menggunakan Grup Angkasa Sura untuk membantu Luna.
"Siap!" jawab Draco tanpa ragu. "Bos, aku akan segera datang ke Kota Banyuli. Ketika kamu menghilang, ada orang-orang yang mulai bergerak di luar sana maupun di dalam. Aku harus melaporkan beberapa hal kepadamu langsung."
"Baik."
...
Grup Angkasa Sura masuk ke Kota Banyuli dengan kehebohan besar.
Malam itu, seperti ledakan bom yang besar, kabar tersebut langsung tersebar di seluruh Kota Banyuli.
Semua orang tahu bahwa hal itu akan mengubah situasi kekuatan keluarga besar di Kota Banyuli.
Grup Angkasa Sura merupakan perusahaan pemodal kelas atas yang memiliki modal investasi dalam jumlah besar. Mereka berfokus pada bisnis investasi.
Kalau salah satu keluarga di Kota Banyuli berhasil bekerja sama dengan Grup Angkasa Sura, kekuatan keluarga tersebut pasti akan meroket dan menduduki puncak Kota Banyuli.
Keesokan harinya, Ardika meninggalkan rumah sakit dan pergi ke kediaman Keluarga Basagita.
Vila Keluarga Basagita.
Hari ini Tuan Besar Basagita berulang tahun yang ke-70, suasana seluruh vila Keluarga Basagita tampak sangat bahagia dan juga meriah.
"Wulan Basagita, memberikan hadiah satu vas seharga 1,2 miliar."
"Wisnu Basagita, memberikan hadiah satu patung emas seharga 800 juta."
Melihat satu per satu orang yang datang memberi hadiah, Tuan Besar Basagita yang duduk di kursi utama menunjukkan ekspresi gembira.
Suasana di dalam vila begitu bahagia, tetapi pada saat ini ....
"Luna Basagita, memberikan hadiah kue buatan sendiri seharga ... seratus ribu."
Semua orang tertegun secara serentak, mereka pun menatap Luna yang membawa kue dengan ekspresi aneh.
"Memalukan! Kamu membawa hadiah seperti itu untukku?"
Ekspresi Tuan Besar Basagita sangat masam.
"Kakek, aku ...."
Luna menundukkan kepalanya, ketika ingin menjelaskan, kakak sepupu yang bernama Wulan pun memotongnya dengan ekspresi sinis, "Luna, hari ini ulang tahun Kakek yang ke-70. Hadiah yang kami berikan bernilai ratusan juta sampai miliaran. Kenapa kamu malah membawa kue busuk seperti itu? Kenapa ada cucu pelit sepertimu?"
Hubungan Wulan selalu tidak baik dengan Luna, dia juga iri karena Luna lebih cantik darinya.
Luna merasa sangat sedih. Dia menundukkan kepalanya sambil menjelaskan, "Kakak, aku juga nggak ingin memberikan satu kue saja. Tapi sekarang, keluarga kami terlilit utang, perusahaan juga hampir bangkrut. Jadi ...."
"Kenapa? Berlagak miskin lagi? Memangnya miskin itu bisa dijadikan alasan?"
Plak!
Sambil mendengkus dingin, Wulan mengangkat tangan kanannya dan menjatuhkan kue tersebut ke lantai.
"Anjing saja nggak mau makan kue busuk seperti itu. Aku nggak tahu kenapa kamu berani memberikan hadiah seperti itu kepada Kakek."
Melihat kue yang jatuh berantakan tersebut, mata Luna mulai memerah.
Luna menghabiskan waktu sepanjang malam untuk membuat kue tersebut, itu adalah niat yang tulus. Siapa sangka, keluarganya malah tidak menghargainya.
Saat ini, kakaknya Wulan yang bernama Wisnu berjalan mendekat sambil menatap Luna dengan jijik.
"Luna, jangan-jangan kamu hanya ingin memberikan hadiah murah, lalu datang makan enak, ya?"
"Bagaimanapun, Kakek menyiapkan banyak makanan enak dan mahal di ulang tahun kali ini. Kalian sekeluarga pasti nggak pernah melihatnya, 'kan?"
Seketika, semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Benar kata Wisnu. Sepertinya kalian sekeluarga datang untuk makan gratis."
"Tapi, kalian tentu saja nggak berhak makan makanan enak dan mahal ini."
"Suruh bagian dapur masak mi untuk mereka saja."
"Jangan meninggikan mereka. Mereka hanya perlu makan makanan sisa semalam saja. Bagi mereka, makanan sisaan semalam sudah termasuk makanan enak."
Tuan Besar Basagita juga ikut tertawa. Dia lalu berkata dengan ekspresi lebih tenang, "Masak mi saja buat mereka, lagi pula masakan sisa itu buat anjing."
"Kakek memang baik hati. Luna, cepat ucapkan terima kasih sama Kakek," ucap Wulan dengan tatapan sinis.
Luna menggigit bibirnya dengan mata merah, dia juga tidak menjawab.
"Sudah, bentar lagi kita akan mulai makan. Wulan, cepat atur orang-orang untuk duduk."
Tuan Besar Basagita tidak peduli dengan reaksi Luna, melainkan memberikan perintah sambil melambaikan tangannya.
Setelah mendapat perintah dari Tuan Besar Basagita, Wulan segera berdiri dan berkata, "Bagi keluarga yang berkontribusi 20 miliar ke atas, duduk di meja utama."
"Keluarga yang berkontribusi 10 miliar ke atas, duduk di baris pertama."
"Keluarga yang berkontribusi 2 miliar ...."
...
Tak lama kemudian, semua orang sudah duduk.
Hanya Luna sekeluarga yang berdiri dengan ekspresi canggung.
Luna lalu bertanya dengan wajah merah, "Wulan, kami duduk di mana?"
Wulan menjawab dengan sinis, "Duduk di mana? Bukannya ada kursi dan meja lipat di pojokan? Kalian duduk saja di sana. Aku akan menyajikan tiga mangkuk mi untuk kalian nanti."
Tindakannya benar-benar sangat merendahkan. Sambil menahan air mata, Luna berkata, "Kita adalah keluarga, kenapa kamu sengaja memperlakukan kami seperti itu?"
Wulan menjawab dengan ekspresi sinis, "Kenapa? Nggak terima? Semua kursi di sini hanya untuk orang-orang yang berkontribusi. Makin besar kontribusi yang diberikan, tempat duduknya makin bagus. Begitu juga sebaliknya."
Pada saat ini, terdengar suara dari depan pintu, "Kalau begitu, orang yang berkontribusi 20 triliun duduk di mana?"
Berkontribusi 20 triliun?
Siapa yang punya nyali untuk berkata seperti itu?
Semua orang melihat ke sumber suara, lalu menyadari kehadiran Ardika di depan pintu.
Seketika, semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Aku kira siapa, ternyata Ardika si idiot!"
"Memangnya dia tahu 20 triliun itu berapa angka nolnya? Sepertinya dia bahkan nggak bisa berhitung dengan benar."
Sambil menepuk pegangan kursi, Tuan Besar Basagita berkata, "Kalau kamu bisa berkontribusi 20 triliun, aku bahkan berani memberikan kursi ini kepadamu."
"Sayangnya, seorang idiot sepertimu bahkan nggak bisa mengeluarkan satu perak pun."
Ucapan itu membuat semua orang kembali tertawa.
Wulan pun ikut mengoceh dengan ekspresi jijik, "Luna, beraninya kamu membawa si idiot itu ke kediaman Keluarga Basagita? Memangnya kamu nggak malu, ya?"
Luna sekeluarga benar-benar ingin mencari tempat untuk bersembunyi.
"Dasar idiot, kenapa kamu datang ke sini? Cepat pergi!" Ibu mertuanya yang bernama Desi Liwanto mengangkat tangan untuk menampar Ardika, tetapi Ardika berhasil menghindarinya.
Semua orang tertegun, lalu menatap Ardika dengan ekspresi aneh.
Biasanya si idiot ini selalu dipukul, apa yang terjadi hari ini?
Apakah dia sudah sembuh?
Bab 3
Calon Pewaris
"Ardika, jangan-jangan ... kamu sudah pulih?"
Melihat tatapan Ardika yang jernih, Luna menutup mulutnya dengan tangan dan tampak tidak percaya.
"Ya, aku sudah pulih, sayang."
Ardika menatap ke arah Luna, dia yang begitu tegas dalam medan perang, ternyata bisa merasa sedih juga.
Seketika, air mata mengenang di mata Luna. Rasa bahagia membuatnya ikut menangis.
Ardika langsung memeluk Luna. Beberapa tahun ini, Luna sudah menderita.
"Huh! Memangnya kenapa kalau sudah pulih?"
Wulan berkata dengan sinis, "Dia tetap saja seorang pecundang."
Sambil berkata, Wulan kembali duduk di kursinya. Sambil menunjuk kursi lipat di pojokan, dia pun berkata, "Duduk sana! Berkontribusi 20 triliun? Jangan membuatku tertawa."
Ketika Ardika yang mengernyit ingin berkata, Luna segera menghentikannya dan menariknya untuk duduk.
Mereka berempat duduk di kursi lipat yang ada di pojokan. Melihat makanan yang mahal dan enak di meja lain, di atas meja mereka hanya ada empat mangkuk mi.
Melihat suasana yang begitu hidup dan ramai, Tuan Besar Basagita merasa bangga.
"Semuanya tenang dulu, aku ingin mengumumkan sesuatu."
Setelah mendengarnya, semua orang segera meletakkan alat makan.
Sambil mengangguk puas, Tuan Besar Basagita lalu berkata, "Semalam, seharusnya kalian sudah mendengar kabar bahwa Grup Angkasa Sura datang ke kota ini."
"Grup Angkasa Sura merupakan perusahaan permodalan kelas dunia yang sangat besar. Kali ini, kedatangan mereka di Kota Banyuli akan memberikan perubahan kekuatan para keluarga besar di kota ini. Ini juga kesempatan bagi Keluarga Basagita."
"Meskipun Keluarga Basagita termasuk keluarga kelas dua yang tampak hebat, kita tetap saja mudah dilewati oleh keluarga lain."
"Jadi, Grup Angkasa Sura merupakan pihak yang perlu kita gandeng."
"Walaupun mendapatkan sedikit investasi saja, Keluarga Basagita juga bisa naik kelas dan hidup dengan kemewahan."
Tuan Besar Basagita makin bersemangat, dia lalu melanjutkan dengan wajah merah, "Aku umumkan bahwa siapa pun anggota Keluarga Basagita yang bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, akan diberi saham perusahaan 10 persen, serta ...."
"Jabatan manajer umum grup kita!"
Duar!
Pengumuman yang sangat penting ini menggemparkan semua orang.
"Saham perusahaan 10 persen merupakan uang yang sangat banyak. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa berfoya-foya."
"Terutama jabatan manajer umum yang berada di atas semua orang."
"Tapi, sepertinya sangat sulit. Aku dengar bahwa banyak keluarga yang berbaris di depan kantor Grup Angkasa Sura ...."
Ketika semua orang sedang berdiskusi, Wulan tiba-tiba berdiri.
"Kakek, tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan investasi itu. Aku sudah meminta bantuan Tuan Muda David untuk menyerahkan proposal, sepertinya kita akan segera mendapat kabar."
Ucapan itu mengejutkan semua orang.
Punya kenalan yang hebat memang berbeda.
Tuan Muda David yang disebut oleh Wulan adalah pacarnya. David Buana, Tuan Muda Pertama dari Keluarga Buana yang merupakan keluarga kelas atas di Kota Banyuli.
Dengan bantuan David, bukankah mendapatkan investasi adalah hal yang mudah?
"Bagus, bagus, bagus! Kamu memang cucu paling hebat. Tiga hari lagi kamu akan ulang tahun, kakek pasti akan merayakannya dengan meriah,"
Tuan Besar Basagita berkata dengan gembira, "Kalau Wulan bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, kamu akan menjadi pewaris keluarga."
Ucapan itu membuat ekspresi Luna sekeluarga berubah.
Sebagai sesama anggota Keluarga Basagita, Luna yang merupakan keluarga dari istri kedua sangat sensitif terhadap posisi pewaris.
Sebagai keluarga dari istri pertama, Wulan sekeluarga selalu bersikap buruk terhadap Luna dan keluarganya. Kalau Tuan Besar meninggal dan Wulan menjadi kepala keluarga, kehidupan Luna dan keluarganya akan makin menderita.
Melihat ekspresi ayah dan ibu mertua yang pucat, Ardika pun berkata, "Kakek, kalau Luna bisa mendapatkan investasi, dia juga bisa menjadi pewaris keluarga, ya?"
Suasana menjadi hening.
Pfft!
Wisnu yang berada tidak jauh tidak bisa menahan tawanya, dia pun berkata, "Ardika, penyakitmu kambuh lagi? Apa yang bisa diandalkan Luna untuk mendapatkan investasi? Mengandalkan idiot sepertimu?"
"Makan saja mi di depanmu! Mungkin setelah ini, kalian sekeluarga harus kelaparan."
Wulan mengangkat kepalanya, lalu berkata dengan nada merendahkan, "Kamu baru saja pulih, jadi mungkin nggak tahu. Luna memiliki utang yang besar, dia sudah coba meminjam uang ke mana-mana. Hanya saja nggak tahu apakah dia sempat menjual dirinya atau nggak."
"Oh ya, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna. Melihat tampang kalian yang miskin itu, sebaiknya kalian pungut saja kue di lantai untuk dimakan tiga hari lagi."
Semua orang tertawa terbahak-bahak, tatapan mereka terhadap Luna dan Ardika dipenuhi oleh ekspresi hina.
Penghinaan seperti itu membuat Luna menangis. Dia berkata sambil tersedak, "Wulan, di mana hati nuranimu? Padahal kamu yang merebut perusahaanku, lalu ditukar dengan perusahaan yang penuh utang itu. Semua utangku saat ini karena kamu ...."
Wulan segera memotongnya, "Luna, jangan asal omong! Aku akan menamparmu. Kamu sendiri yang nggak berguna, tapi masih berani menyalahkanku?"
Perseteruan mereka membuat suasana di dalam vila menegang.
"Cukup, cukup."
Tuan Besar Basagita melambaikan tangannya untuk merelai. Dia pun berkata kepada Ardika, "Ardika, kalau Luna bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, aku akan membayar semua utang perusahaan Luna, kemudian mengembalikan semua bonus selama beberapa tahun ini."
Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya tampak senang.
Sejak Ardika menghilang di malam pertama pernikahan, Tuan Besar Basagita terus menahan bonus mereka. Kalau dijumlahkan, totalnya mencapai miliaran.
Kalau bisa mendapatkannya, kehidupan mereka pasti akan berubah.
Lalu, sebelum ekspresi bahagia di wajah mereka menghilang, Tuan Besar Basagita segera menambahkan, "Tapi ada satu syarat, Luna harus menagih utang ke Kak Herkules."
Desi dan suaminya langsung tertegun.
Banyak orang yang ikut terkejut.
Herkules merupakan bos preman di Kota Banyuli. Sebelumnya, anggota Keluarga Basagita yang pergi menagih utang dihajar sampai setengah mati.
Persyaratan Tuan Besar sama saja mempersulit Luna.
Desi yang panik pun berkata, "Nggak bisa, Ayah! Menagih utang ke Kak Herkules sama saja bertaruh nyawa."
"Bagaimana kalau sampai Luna kenapa-napa ketika menagih utang?"
Wulan yang melihatnya segera berkata, "Bibi, nggak usah pergi juga nggak masalah. Hanya saja, kalian sekeluarga nggak akan bisa bangkit lagi."
Setelah mendengarnya, ekspresi Luna sekeluarga menjadi pucat.
Seketika, Luna mulai ragu.
Pada saat ini, Ardika menggenggam erat tangan Luna, lalu berbisik di telinganya, "Sayang, setujui saja."
Apa?
Luna mengira dia salah dengar.
Sambil mengernyit, Luna berkata dengan nada rendah, "Ardika, apa yang kamu katakan? Orang itu adalah Kak Herkules, kita nggak mungkin bisa menagih utangnya."
Ardika justru berkata dengan percaya diri, "Sayang, percayalah padaku. Setujui saja. Aku akan membantumu menagih utangnya."