Bab 6
Restoran Gatotkaca
"Ck." Saking marahnya, Tina pun tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihatnya. Nggak perlu yang terlalu jauh, apakah kamu tahu hari ini Tuan Muda Tony mengajak mereka makan di mana?"
"Lantai tiga Restoran Gatotkaca! Tempat yang selamanya nggak mungkin dimasuki oleh pecundang sepertimu."
Ketika mendengarnya, kedua mata Desi tampak berbinar. Dia lalu berkata, "Lantai tiga Restoran Gatotkaca? Tempat itu hanya bisa dipesan oleh anggota emas."
Di Kota Banyuli, Restoran Gatotkaca termasuk restoran kelas atas. Orang yang menghabiskan puluhan miliar baru bisa mendapatkan kartu anggota emas. Di Keluarga Basagita, hanya Tuan Besar Basagita seorang yang memiliki kartu anggota emas.
Adapun lantai tiga ke atas, biaya yang perlu dihabiskan oleh anggota bahkan lebih mengejutkan.
Tina menoleh ke arah Ardika, lalu tersenyum sambil berkata, "Ardika, itulah perbedaan antara kamu dan Tuan Muda Tony. Aku nggak tahu kenapa kamu masih percaya diri untuk berada di sisi Luna."
"Tina, nggak usah pedulikan pecundang ini. Luna sudah turun, ayo kita berangkat. Jangan sampai Tuan Muda Tony menunggu terlalu lama."
Desi bahkan tidak melihat Ardika sama sekali.
Mobil Land Rover pun pergi menjauh. Pada saat ini, ponsel Ardika tiba-tiba berbunyi.
"Bos, John mengadakan jamuan permintaan maaf di Hall Raja lantai sembilan Restoran Gatotkaca, apakah Anda ingin ikut ...."
"Suruh dia kirim mobil untuk menjemputku."
...
Pintu masuk Restoran Gatotkaca.
Ketika mobil Land Rover berhenti, Tony yang sudah menunggu di depan pintu segera mendekat.
Tony mengenakan jas putih yang mewah dan memegang satu buket mawar merah. Dia membuka pintu mobil untuk Luna, lalu berkata sambil tersenyum, "Luna, hari ini kamu cantik sekali."
Luna pun berusaha tersenyum.
Tina menyenggol pinggang Luna sambil mengeluh, "Tuan Muda Tony sedang berbicara denganmu, kamu bisu, ya?"
"Bukan ..." ucap Luna dengan nada rendah sambil memiringkan tubuhnya. "Aku hanya khawatir Ardika nggak bisa makan malam ...."
"Kamu masih saja mengkhawatirkan si idiot itu, benar-benar nggak belajar dari pengalaman," keluh Tina dengan kesal.
Wah!
Entah siapa yang tiba-tiba bersorak.
Tidak jauh dari sana, sebuah mobil Lincoln berwarna putih melaju kemari.
Empat angka delapan di plat kendaraan juga sangat menarik perhatian.
Ketika Tony mengalihkan pandangannya ke sana, dia pun berseru kaget, "Bukankah itu mobil Tuan John? Dia juga datang makan ke Restoran Gatotkaca, ya?"
John? Bos preman yang berkuasa di seluruh Kota Banyuli.
Desi dan suaminya juga ikut menoleh ke arah tersebut.
Pada saat ini, pintu mobil Lincoln pun terbuka. Seorang anak muda turun dari mobil, kemudian mengikuti pelayan berjalan ke arah lift.
Luna menatap punggung anak muda itu dengan bengong sambil bergumam, "Orang itu, rasanya mirip dengan Ardika?"
"Ardika?"
Tina tertegun sejenak, lalu berkata dengan nada bercanda, "Luna, kamu pasti salah lihat. Pecundang seperti Ardika nggak mungkin bisa naik mobil Lincoln ke Restoran Gatotkaca."
Setelah mendengarnya, Luna pun mengangguk.
Seharusnya dia salah lihat.
Mereka mengikuti Tony datang ke Hall Rembulan di lantai tiga.
"Wah, bahkan lantai tiga juga semewah ini."
"Aku penasaran seberapa mewah lantai atas, apalagi Hall Raja yang legendaris di lantai sembilan itu. Mungkin saja istana raja juga kalah."
Perhatian Desi teralihkan oleh desain interior yang begitu mewah. Dari waktu ke waktu, dia terus menyentuh berbagai barang.
Tony sangat puas dengan reaksi Desi dan lainnya. Dia lalu berkata, "Paman, Bibi, ayo pesan makanan dulu."
"Betul, betul, betul. Ayo pesan makanan."
Setelah duduk, mereka menatap menu yang mahal itu dengan ragu.
Ini bukan makanan lagi, melainkan emas.
Tony justru tampak tenang. Selesai memesan makanan, dia juga menambahkan dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik.
Tina termasuk orang yang mengerti tentang anggur, dia pun berkata, "Tuan Muda Tony, hari ini kamu sudah menghabiskan banyak uang. Harga dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik paling nggak sekitar 60 sampai 80 juta."
Tony berkata sambil tersenyum, "Puluhan juta saja, nggak masalah. Hari ini aku mengajak Paman dan Bibi makan, jadi aku harus menunjukkan ketulusan hatiku."
Seketika, Desi dan suaminya dibuat kagum oleh sikap Tony. Tuan Muda Tony memang berbeda, dia berbeda jauh dengan pecundang Ardika itu.
Di luar ruangan, Ardika sedang berjalan di lorong.
Saat melewati belokan, seorang pramusaji yang membawa dua botol anggur tersandung dan hampir terjatuh. Untungnya, Ardika muncul dan memapahnya tepat waktu.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa ...." Pramusaji wanita tersebut tampat ketakutan. Kalau dua botol anggur itu sampai terjatuh, dia harus ganti rugi dengan gaji selama satu tahun.
"Kakimu sedikit keseleo, bagaimana kalau aku yang bantu antar saja?"
Pramusaji wanita itu mencoba menggerakkan pergelangan kakinya, ternyata memang terasa sedikit sakit. Dia pun mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Tuan ...."
Di dalam ruangan, selain Luna yang tampak tidak fokus, mereka yang lain mengobrol dengan gembira.
Setelah melirik Luna, Desi pun mendekat dan berbisik, "Kenapa kamu diam saja? Nanti saat anggurnya datang, kamu harus bersulang dengan Tuan Muda Tony, mengerti?"
"Bu ... aku nggak mau minum alkohol," ucap Luna dengan tak berdaya.
"Tetap saja harus minum!"
Pada saat ini, pintu ruangan pun terbuka.
"Halo, anggur kalian sudah datang."
"Ardika?" seru Tina dengan kaget. Dia kebetulan duduk di seberang pintu masuk
Semua orang ikut menoleh ke belakang dengan kaget.
"Dasar belatung! Beraninya kamu mengikuti kami kemari? Siapa yang membiarkanmu masuk?" ucap Desi dengan marah.
Selesai berbicara, dia langsung menoleh ke arah Tony. Desi khawatir kedatangan Ardika akan membuat Tony marah.
Tina juga berkata dengan sinis, "Ardika, nyalimu besar juga. Kamu nggak bisa masuk ke Restoran Gatotkaca tanpa kartu anggota. Jangan-jangan kamu menyelinap masuk dengan menyamar sebagai pramusaji, ya?"
Ardika menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ada yang mengundangku."
Luna menatap Ardika dengan bingung.
Tina lalu berkata dengan kesal, "Siapa yang akan mengundang seorang pecundang untuk makan di Restoran Gatotkaca? Ardika, jangan-jangan kamu belum sembuh, ya?"
Tony memperhatikan menantu idiot yang terkenal di Kota Banyuli ini dari atas ke bawah, dia sepertinya tidak menganggap Ardika sama sekali.
Tony pun melambaikan tangannya dan berkata, "Cukup, kami nggak peduli bagaimana kamu bisa masuk. Letakkan dua botol anggur di tanganmu itu, lalu keluar dari sini."
"Anggur semahal itu dipegang oleh seorang idiot, bagaimana kami bisa meminumnya nanti?"
"Betul!"
Desi langsung merebut dua botol anggur itu, lalu berkata dengan masam, "Cepat keluar!"
Walaupun tidak diterima di sini, Ardika tetap menoleh ke arah Luna dan berkata, "Sayang, bosnya Kak Herkules mempersiapkan jamuan di Hall Raja lantai sembilan untuk permintaan maaf. Kamu mau ikut ke atas?"
Ucapan itu membuat suasana ruangan menjadi hening.
Bab 7
Ingin Bertemu Orang Penting
"Bukankah bosnya Kak Herkules itu Tuan John?"
Tina tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, "Ardika, apakah kamu tahu siapa Tuan John? Dia adalah orang penting yang sangat berkuasa. Seorang bos preman yang bahkan harus dihormati oleh Ayahku. Beraninya kamu bilang Tuan John datang meminta maaf? Kamu ingin mati, ya?"
"Tina, kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ikut ke atas," jawab Ardika dengan santai. Namun, Tina malah memelototinya.
Setelah sadar kembali dari keterkejutan, Tony pun berkata sambil tersenyum, "Aku rasa dia melihat mobil Tuan John di depan pintu, jadi sengaja berkata seperti itu. Untung saja nggak ada orang luar di sini. Kalau sampai Tuan John mendengar ucapannya, kita semua akan mati."
Semua orang langsung terkejut.
"Aku benar-benar nggak tahan lagi!" bentak Desi dengan kesal sambil menepuk meja. "Tiap hari hanya bisa bersikap bodoh seperti itu, memalukan saja! Cepat pergi, kalau nggak, aku akan menghajarmu."
"Ardika, kamu pergi dulu .... Aku akan pulang setelah makan."
Luna juga merasa sangat malu, dia buru-buru mendorong Ardika keluar.
Ardika berkata dengan tak berdaya, "Baiklah. Sayang, kamu jangan minum terlalu banyak. Aku akan datang menjemputmu nanti."
Setelah Ardika pergi, suasana ruangan menjadi lebih tenang.
Setelah minum beberapa gelas air, Desi pun berhasil menahan amarah dalam hati.
Tony sama sekali tidak peduli. Kalau Ardika bersikap makin gila, kemungkinan dia mendapatkan Luna akan makin tinggi. Dia tentu saja berharap Ardika bisa bersikap bodoh setiap hari.
...
"Tuan John, hari ini siapa yang Anda undang?"
"Selain menjamunya di Hall Raja, Anda bahkan mengajak kami untuk datang menemani. Bukankah ini terlalu meriah?"
Lantai sembilan, di depan lift Hall Raja berdiri beberapa pria dan wanita paruh baya yang sedang bertanya kepada John.
Kalau ada yang melihat mereka, pasti langsung kenal.
Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi, Irwan Citora. Pemimpin Bank Banyuli, Calvin Rewind. Direktur Utama Grup Permata Buana, Bella Dewanto ....
Beberapa orang tersebut adalah orang-orang penting yang bisa menggemparkan Kota Banyuli.
Tuan John berkata dengan nada dingin, "Identitasnya sangat rahasia. Mengundang kalian datang untuk menghidupkan suasana dan juga kehormatan bagi kalian. Aku mengajak kalian karena hubungan kita yang baik."
"Pokoknya, ingat ucapanku, jangan sampai menyinggungnya."
Identitasnya sangat rahasia?
Beberapa bos besar yang sudah berpengalaman dengan berbagai situasi, mulai merasa tegang.
"Bagaimana kita menyapanya?"
"Menyapanya?"
Setelah berpikir sejenak, Tuan John pun berkata, "Panggil saja Tuan Ardika."
"Ting!"
Pintu lift terbuka dan wajah Ardika pun terlihat.
Irwan dan yang lain terkejut. Mereka tidak menyangka orang penting ini masih sangat muda.
"Tuan Ardika sudah datang!"
Tuan John segera maju ke depan, kemudian mengulurkan tangan untuk menahan pintu lift dan membiarkan Ardika berjalan keluar.
"Halo Tuan Ardika!"
Beberapa orang penting tersebut langsung menenangkan diri, kemudian maju ke depan untuk menyapa Ardika.
Kemudian, mereka juga memberikan kartu nama kepada Ardika.
Setelah sampai di meja makan, Pemimpin Bank Banyuli, Calvin, segera memberikan sebuah kotak hadiah kecil mewah yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Tuan Ardika, ini adalah hadiah kecil yang kami siapkan untuk Anda."
"Di dalam kotak ada sebuah kartu hitam Bank Banyuli. Mulai sekarang, Anda adalah tamu VIP dari bank kami."
"Kalian terlalu sungkan."
Ardika pun menyimpannya, lalu melambaikan tangan sambil berkata, "Karena kita datang makan, jadi santai saja. Kalian nggak perlu terlalu sopan."
Mereka pun mulai makan dan minum, kemudian mengobrol dengan santai.
Setelah selesai, Ardika pun berdiri dan berkata, "Hari ini sampai di sini saja. Aku harus turun ke bawah untuk menjemput istriku."
Setelah mengantar Ardika pergi, John segera memberi perintah kepada anak buahnya, "Coba periksa Nona Luna ada di ruangan mana, lalu bayar tagihan mereka."
Perjamuan makan di Hall Rembulan masih berlanjut.
Tony sempat keluar beberapa saat. Ketika kembali, dia membawa beberapa anak muda.
Pemuda yang berada di depan tampak tampan dan bersemangat.
"Aku perkenalkan dulu, orang ini adalah Axel Citora, anaknya Irwan Citora yang merupakan Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi."
Tony memperkenalkan anak muda tersebut dengan sopan.
Seketika, semua orang di dalam ruangan pun berdiri untuk menunjukkan rasa hormat.
"Tony, kamu bahkan kenal dengan anak hebat seperti Tuan Muda Axel."
Desi tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Meskipun belum selesai makan, panggilan Desi terhadap Tony sudah menjadi lebih akrab.
Tony pun tersenyum dan berkata, "Tuan Muda Axel ingin berkenalan dengan Tina. Mendengar Tina sedang makan dengan kita, dia pun sengaja datang untuk bersulang."
Tina pun tertegun sejenak. Dia menyadari dari awal masuk, Axel terus menatap dirinya.
Tina sudah sering melihat tatapan seperti itu. Dia pun mengulurkan tangannya sambil berkata, "Kalau Tuan Muda Axel ingin berkenalan denganku, telepon saja. Nggak usah datang langsung."
"Aku sering mendengar bahwa Nona Tina adalah wanita yang terkenal cantik di Kota Banyuli, jadi aku ingin bertemu."
Setelah mendengarnya, wajah Tina pun merona.
Tatapan Axel makin bersemangat, tapi dia tahu tidak boleh buru-buru. Jadi, Axel pun melambaikan tangannya dan berkata, "Baiklah, sebenarnya aku datang bersama ayahku. Hari ini, Tuan John membuat perjamuan di Hall Raja untuk menjamu satu orang penting, dia menyuruh ayahku datang menemaninya. Aku datang untuk melihatnya."
"Tapi, ternyata Tuan John bilang kalau anak muda nggak berhak naik."
Meskipun menunjukkan ekspresi tak berdaya, tatapan Axel menunjukkan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.
Dia memang tidak bertemu orang penting tersebut, tapi ayah mereka sudah sempat bertemu dengannya. Di seluruh Kota Banyuli, hanya beberapa orang yang berhak bertemu dengannya.
Semua orang pun tertegun.
Desi dan yang lain teringat ucapan Ardika sebelumnya. Apakah Ardika adalah orang penting tersebut?
Setelah beberapa saat, mereka pun diam-diam menggelengkan kepala. Seorang idiot yang baru pulih tidak mungkin menjadi orang penting.
Tina juga bertanya dengan kaget, "Orang penting yang bisa dijamu oleh Tuan John di Hall Raja pasti sangat hebat."
Axel berkata dengan bangga, "Identitas orang itu bahkan nggak diketahui oleh Ayahku. Dia hanya tahu bahwa orang penting itu memiliki hubungan dengan Komandan Draco yang baru datang."
Ketika mendengarnya, semua orang di Hall Rembulan menarik napas dalam-dalam.
Belakangan ini, ada dua hal besar yang terjadi di Kota Banyuli. Hal pertama yaitu kedatangan Grup Angkasa Sura di Kota Banyuli. Lalu, hal kedua adalah Komandan baru departemen perang Kota Banyuli yang bernama Draco Sutopo datang menjabat.
Orang penting itu ternyata memiliki hubungan dengan Draco, benar-benar hebat.
Melihat Tina mendengar dengan saksama, Axel berkata sambil tersenyum, "Setelah perjamuan di Hall Raja selesai, aku akan membawa kalian untuk bertemu dengannya pas beliau turun."
"Baik, baik!"
Semua orang menjadi penuh semangat.
Bab 8
Memukul Tuan Muda Axel
Tina tampak berseri-seri, dia juga ingin melihat orang penting tersebut.
"Luna, ayo kita tunggu di depan pintu lift," ajak Tina sambil menarik baju Luna.
"Nggak usah, aku akan pulang bersama Ardika ...."
Setelah minum satu gelas anggur, wajah Luna yang sedikit mabuk tampak kemerahan.
Tina pun menasihatinya dengan kesal, "Aduh, kenapa kamu terus memikirkan Ardika si idiot itu? Kali ini adalah kesempatan yang sangat langka. Kalau kita bisa meninggalkan kesan baik untuk orang penting itu, utang keluarga kalian nggak perlu dikhawatirkan lagi, 'kan?"
"Hmm ... baiklah."
Tak lama kemudian, Axel mengangkat panggilan telepon.
Semua orang langsung menahan napas.
Apakah orang penting tersebut akan turun?
Setelah beberapa saat, Axel pun meletakkan ponselnya dengan ekspresi tak berdaya. Dia lalu berkata, "Ayahku baru saja meneleponku, dia bilang perjamuannya sudah selesai dan orang penting tersebut sudah pergi lebih awal."
"Aduh, kita kurang beruntung, nggak bisa bertemu orang penting itu ...."
Semua orang merasa menyesal.
"Sayang, kamu sudah selesai makan?"
Saat ini, Ardika tiba-tiba berjalan masuk.
"Ardika, kamu masih berani datang? Pergi sana!"
Melihat kedatangan Ardika, Tina yang masih tenggelam dalam penyesalan pun marah dan menamparnya.
"Plak!"
Ardika langsung menggenggam pergelangan tangannya dan berkata, "Tina, aku tahu kamu galak. Untungnya kamu adalah sahabatnya Luna, jangan ulangi lagi."
"Dasar pecundang! Beraninya kamu berbicara seperti itu denganku?" bentak Tina dengan kesal.
Axel langsung memukul meja dan berdiri. Dia lalu berkata, "Dasar bocah! Lepaskan tanganmu. Kamu seharusnya merasa terhormat karena dipukul oleh Nona Tina."
"Siapa kamu?" tanya Ardika dengan nada dingin.
"Dia adalah anaknya Direktur Irwan. Cepat turunkan tanganmu!"
"Anaknya Irwan?" Setelah meliriknya, Ardika lalu berkata dengan sinis, "Ayahmu bahkan nggak berani berbicara seperti itu denganku."
"Cari mati!"
Setelah tertegun sejenak, Axel langsung marah. Dia berjalan ke arah Ardika dengan cepat, kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Ardika.
"Plak!"
Ardika melepaskan Tina, kemudian menampar Axel dengan keras.
"Ah ...."
Axel langsung terpental, darah pun muncrat dari hidung dan mulutnya.
Wajahnya bengkak!
"Shh!"
Semua orang yang berada di Hall Rembulan terkejut.
Beraninya Ardika memukul anaknya Irwan?
Tony langsung berdiri dan berteriak dengan kesal, "Ardika, kamu cari mati! Kamu nggak hanya mencelakakan dirimu, tapi juga mencelakakan Luna dan keluarganya."
Wajah Luna dan keluarganya langsung pucat.
Di dalam Hall Rembulan, hanya Ardika yang tampak santai.
"Sayang, nggak usah takut. Anak orang kaya yang sombong memang pantas dipukul. Nggak apa-apa."
Semua orang mengira Ardika sedang membual.
"Tuan Muda Axel, kamu nggak apa-apa?"
Tony dan Tina segera membantu Axel untuk berdiri.
"Minggir!"
Axel mendorong mereka dengan kesal. Kali ini, dia benar-benar marah.
Sejak kecil sampai dewasa, semua orang selalu bersikap hormat kepadanya. Bahkan ayahnya juga tidak pernah menamparnya.
"Nak, kamu berani juga! Hari ini, kamu nggak akan bisa keluar dari tempat ini dengan baik."
Sambil memelototi Ardika, Axel mengeluarkan ponsel untuk menelepon Irwan.
"Ayah, seseorang memukulku di Restoran Gatotkaca. Tolong bawa orang kemari, aku ingin membunuh pecundang ini."
"Apa! Aku akan segera membawa orang ke sana."
Semua orang bisa mendengar amarah dari suara Irwan di ujung telepon.
"Ardika, kamu benar-benar bajingan! Belatung sialan!"
Desi berteriak dengan penuh amarah. Orang itu adalah direktur pemerintahan, orang yang tidak bisa disinggung oleh Keluarga Basagita.
"Tuan Muda Axel, Ardika nggak sengaja, mohon maafkan dia."
Wajah Luna sangat pucat. Tanpa sadar, dia ingin berlutut, tetapi dihentikan oleh Ardika. Ardika lalu berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Orang yang harusnya khawatir adalah dia."
Gila! Sudah gila!
Sampai saat ini, Ardika masih berani berkata sombong.
Desi tiba-tiba merasa pusing dan jatuh lemas di kursi.
"Siapa yang berani memukul anakku?"
Tak lama kemudian, Irwan sudah muncul di Hall Rembulan dengan wajah kesal. Di belakangnya juga ikut sekelompok pria kekar.
"Ayah, bocah itu! Dia adalah menantu idiot dari keluarga kelas dua."
Axel menunjuk Ardika sambil berkata, "Aku hanya memarahinya, tapi dia bahkan bilang kalau Ayah juga nggak pantas berbicara dengannya."
Semua orang menatap Ardika dengan tatapan putus asa, karena ekspresi Irwan terlihat sangat marah.
"Bagus, bagus, bagus! Sudah lama tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepadaku."
Sambil memaksakan senyuman, Irwan pun mengalihkan pandangannya ke arah Ardika.
Kemudian, dia pun tercengang di tempat.
"Tuan, Tuan, Tuan ...."
Bulu kuduk Irwan langsung berdiri, dia juga tidak bisa berbicara dengan benar.
"Plak!"
Tiba-tiba, Irwan menoleh ke belakang dan menampar anaknya hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar anak sialan! Siapa yang ingin kamu bunuh? Kamu sudah hebat, ya?"
"Beraninya kamu membuat masalah di Restoran Gatotkaca? Kamu ingin mati, ya? Sini, biar aku hajar sampai mati saja."
Irwan langsung menghajar Axel dengan keras, dia tidak memberi pengampunan meskipun Axel adalah anaknya. Axel hanya bisa menjerit kesakitan.
Semua orang langsung tertegun.
Apa yang terjadi? Bukankah Ardika yang seharusnya dipukul?
"Berdiri! Minta maaf!"
Irwan menarik rambut Axel dan memaksanya berdiri.
Dia menekan kepala Axel dan memaksanya minta maaf kepada Ardika.
Ardika juga malas berdebat, dia hanya melambaikan tangannya dengan santai. Irwan akhirnya bisa merasa lebih tenang, dia segera menarik anaknya untuk pergi dari sana.
Setelah beberapa saat, Hall Rembulan masih saja hening.
Semua orang menatap Ardika dengan bengong.
Setelah itu, Tony pun tersenyum dan berkata, "Orang yang menjadi direktur memang berbeda. Tata kramanya sangat ketat."
Oh ya?
Semua orang masih bingung, mereka merasa masalah ini sangat aneh.
Luna dan keluarganya juga merasa terselamatkan.
"Ardika, kali ini kamu beruntung. Tapi, jangan mengira dirimu hebat."
Tony menatap Ardika dengan tatapan merendahkan, "Kalau hari ini aku nggak membantu Luna menagih utangnya, apakah kamu tahu bagaimana kehidupan Luna dan keluarganya nanti?"
"Kamu bilang kamu yang menagih utangnya?"
Tatapan Ardika menjadi dingin.
"Kalau nggak, memangnya pecundang sepertimu bisa?"
Desi menarik Tony dan berkata, "Tony, jangan pedulikan dia. Ayo kita bayar dan pergi dari sini. Melihatnya saja membuatku kehilangan nafsu makan."
Tony menekan bel untuk memanggil pramusaji.
"Tuan Muda Tony, Tuan John sudah bayar."
Setelah tertegun sejenak, Tony pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ardika, apakah kamu masih berani meragukan bahwa aku yang membantu Luna menagih utang?"
"Kak Herkules adalah anak buahnya Tuan John. Tuan John pasti tahu hubunganku dengan Kak Herkules baik, jadi dia membayar tagihannya."
Tony benar-benar sangat bangga.
Desi juga tersenyum lebar dan berkata, "Tuan John bahkan membayar tagihannya, Tony benar-benar hebat. Kalau Luna bisa menikah denganmu, dia nggak akan dirundung orang lain lagi."
Luna langsung mengenyit.
Melihat sahabat baiknya diam saja, Tina pun berkata, "Tuan Muda Tony, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna, bukankah kamu harus menyiapkan sesuatu."
"Tentu saja harus ...."
Ketika Tony baru berbicara, Ardika langsung memotongnya, "Tina, istriku ulang tahun, aku pasti akan merayakannya dengan meriah, orang lain nggak usah ikut campur."
"Tapi, karena kamu adalah sahabatnya Luna, kamu boleh datang. Tony, kamu juga boleh datang melihatnya."