Bab 4

Herkules

Melihat Ardika yang percaya diri, Luna pun merasa ragu. Setelah memikirkan kondisi keluarganya sekarang, dia pun menggertakkan gigi, lalu berdiri dan berkata, "Kakek, aku akan pergi menagih utang."

"Kamu! Kamu sudah gila, ya? Kalau sampai wajahmu rusak karena dipukul Kak Herkules, Tuan Muda Tony pasti akan meninggalkanmu."

Desi langsung panik.

Semua orang terkejut, bahkan Tuan Besar Basagita juga tidak menyangka Luna akan menyetujuinya.

Wisnu dan yang lain hanya mendengkus dingin.

Wisnu tiba-tiba mengeluarkan sepuluh ribu dari sakunya, lalu dilemparkan ke kaki Luna sambil berkata, "Melihat keberanianmu itu, aku kasih sepuluh ribu untuk naik transportasi umum."

Wulan juga menyilangkan tangannya di dada, lalu mengangkat alisnya sambil berkata, "Kamu sendiri yang mau pergi, ya? Kalau dihajar sampai lumpuh, jangan bilang Keluarga Basagita yang memaksamu."

Ardika melirik beberapa orang itu dengan tatapan dingin. Dia tidak ingin memedulikan orang-orang tidak penting ini.

Ardika langsung berdiri, kemudian menarik Luna dan berjalan keluar dari vila.

Pada saat ini, Desi dan suaminya benar-benar panik. Desi berkata, "Sekarang, kita hanya bisa meminta bantuan Tuan Muda Tony, dia selalu menyukai Luna ...."

...

Kawasan penjualan mobil.

Sambil membawa dua kantong buah yang baru dibeli, Luna terus mengingatkan Ardika, "Nanti, kamu jangan banyak bicara, jangan sampai Kak Herkules marah, mengerti?"

Setelah mendengarnya, Ardika pun mengangguk. Luna pun merasa lebih tenang.

Ketika mereka ingin mengetuk pintu ruangan kantor Herkules, dari belakang terdengar suara klakson yang keras.

Mereka melihat sebuah mobil Porsche merah muda berhenti di samping. Ketika kaca mobil diturunkan, wajah Wulan yang kejam itu pun terlihat.

"Oi, kalian ternyata berani datang menagih utang, ya? Aku kira kalian hanya membual."

"Wulan, kenapa kamu datang?" tanya Luna dengan kesal sambil mengernyit.

"Tentu saja datang beli mobil. Memangnya aku sama seperti kalian yang bodoh ini, datang menagih utang dan dihajar?"

Wulan yang memakai kacamata hitam berkata dengan nada sombong, "Setelah kalian pergi, kakek langsung membagikan bonus kepada semua orang. Keluarga kami mendapatkan 4 miliar tahun ini. Dengan uang itu, aku tentu saja harus membeli mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Nggak seperti kamu, setiap ulang tahun bahkan nggak sanggup makan enak."

Setelah mendengarnya, Luna sedikit gemetar. Dia juga mengepalkan tangannya.

Ardika pun tersenyum sinis dan berkata, "Wulan, 4 miliar saja, apa yang perlu dibanggakan? Grup Angkasa Sura paling benci orang sepertimu yang berlagak sombong karena sedikit uang. Kamu nggak perlu memikirkan masalah investasi lagi."

"Kamu!"

Wulan yang kesal pun mendengkus dingin, lalu berkata, "Dasar idiot! Sekarang kamu jadi jago omong, semoga nanti kamu tetap berani ketika sedang menagih utang."

Selesai bicara, Wulan yang kesal pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam ruangan.

Luna dan Ardika juga ikut masuk.

Begitu masuk, mereka melihat ruangan yang luas. Di dalamnya, seorang pria berkalung emas sedang menggendong seorang sales cantik sambil meraba tubuhnya. Bekas luka di wajah pria itu terlihat menakutkan.

Melihat ada yang masuk, Herkules langsung berkata dengan wajah masam, "Sialan dari mana ini? Cepat keluar! Jangan ganggu kesenanganku."

Setiap orang memiliki reputasi sendiri.

Ucapan Herkules membuat Wulan berkeringat dingin, dia pun berkata dengan gagap, "Kak ... Kak Hercules, saya Wulan. Tuan Muda David merekomendasikan saya untuk datang beli mobil."

Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangkat alisnya dan tersenyum. Dia lalu berkata, "Ternyata Nona Wulan, silakan duduk."

Sebelumnya, David memang sempat meneleponnya. Keluarga Buana merupakan keluarga kelas atas, jadi Herkules juga harus menghormati ucapannya.

Herkules akan melayani langsung setiap pembeli mobil mewah, itu juga merupakan salah satu cara dia berteman dengan para keluarga kaya.

"Siapa dua orang itu?" tanya Herkules yang bingung ketika menyadari dua orang di depan pintu.

Melihat perubahan sikap Herkules yang drastis, Wulan merasa senang. Seolah-olah ingin mencari pujian, Wulan pun berkata, "Kak Herkules, Anda masih ingat utang Keluarga Basagita, 'kan? Dua orang pecundang itu datang untuk menagih utang."

"Tapi, Anda tenang saja. Hal ini nggak ada hubungannya dengan saya, saya hanya datang untuk membeli mobil."

"Ternyata begitu."

Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangguk. Sambil bersandar ke belakang, Herkules menatap Luna dan Ardika dengan matanya yang menyeramkan itu. Dia lalu berkata, "Ternyata ada orang yang berani menagih utang di kompleks penjualan mobil ini, sepertinya sudah bosan hidup."

Merasakan sapuan dingin dari tatapan Herkules, Luna tanpa sadar mundur ke belakang. Dia lalu berkata, "Kak Herkules, Anda adalah orang yang pengertian, kami benar-benar membutuhkan uang sekarang ...."

"Kalau nggak, kami nggak bisa hidup lagi."

"Huh! Terus apa hubungannya denganku?"

Setelah mendengkus dingin, Herkules pun berkata dengan sinis, "Di kompleks penjualan mobil ini, siapa pun yang datang, kalau aku nggak mau bayar, memangnya kamu bisa apa?"

Luna tersenyum getir, tatapannya dipenuhi oleh kekecewaan.

Saat ini, Ardika pun berkata dengan suara yang dalam, "Sejak kapan seorang Herkules berkuasa di kompleks penjualan mobil ini?"

Nama lengkap pria itu adalah Herkules Dienga. Dia sempat terkejut setelah mendengar ucapan Ardika.

Sambil mendengkus dingin, dia pun berkata dengan kesal, "Nak, kamu tahu apa yang kamu katakan?"

Wulan juga segera memarahi Ardika, "Dasar idiot! Kompleks penjualan mobil ini tentu saja dikuasai oleh Herkules! Cepat berlutut dan minta maaf kepada Kak Herkules."

Wajah Luna sudah pucat. Dia menarik lengan baju Ardika dengan panik dan menyuruhnya untuk diam.

Lalu, Ardika malah tidak takut dan melanjutkan, "Memangnya aku salah? Kompleks penjualan mobil ini adalah bisnis milik John Dienga, 'kan? Kamu hanyalah seekor anjing penjaga."

Dalam perjalanan kemari, informasi tentang Herkules sudah dikirim ke ponselnya Ardika. Herkules hanyalah anak buah John, John sendiri pernah menjadi prajurit di bawah Draco.

Setelah mendengarnya, urat nadi di kening Herkules tampak menonjol, tapi dia tetap berusaha menahan amarah di hatinya. Herkules lalu mengernyit sambil bertanya, "Kamu kenal dengan Tuan John?"

"Nggak kenal," jawab Ardika dengan nada datar. John masih tidak pantas berkenalan dengan Ardika.

"Nggak kenal?" Ekspresi kejam terbesit di wajah Herkules, dia pun berteriak, "Nak, kamu mempermainkanku, ya?"

Pada saat ini, Wulan mengingatkan dengan niat jahat, "Kak Herkules, mana mungkin dia kenal dengan Tuan John. Namanya Ardika Mahasura, dia hanyalah seorang menantu pecundang di Keluarga Basagita."

Menantu pecundang?

Herkules tertegun sejenak sambil membelalakkan kedua matanya.

Detik selanjutnya, Herkules yang seolah-olah menerima penghinaan besar langsung marah.

Suara bunyi tulang pun terdengar ketika Herkules mengepalkan tangannya. Dia menatap Ardika dengan tatapan yang menyeramkan.

"Bagus! Bagus! Bagus!"

Sambil menggertakkan gigi, Herkules berkata, "Sudah lama tidak ada berani mempermainkanku!"

Melihat Herkules marah, Wulan diam-diam menutup mulut sambil tersenyum. Dia berpikir dalam hati, 'Dasar idiot! Mati saja kamu!'

"Kak Herkules, Kak Herkules, sabar dulu ...."

Luna yang panik juga tidak berdaya, dia pun mencoba membujuk, "Ardika hanya salah omong, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."

Sayangnya, Herkules tidak mau mendengarnya. Setelah dia melambaikan tangannya, belasan preman segera masuk ke dalam ruangan.

Satu per satu tampak besar dengan ekspresi garang.

Luna yang ketakutan hampir tidak bisa berdiri, untung saja Ardika berhasil memapahnya.

"Herkules, kamu sudah membuat istriku takut."

Aura membunuh muncul di antara alis Ardika.

Lalu, Herkules sama sekali tidak menyadarinya. Dia masih berkata dengan kesal, "Memangnya kenapa kalau ketakutan? Berani mempermainkan diriku, hari ini kalian jangan harap bisa pergi dari sini."

Herkules menatap Ardika dengan ekspresi garang, belasan preman juga sedang menunggu perintah dari Herkules.

Pada saat ini, ponsel Herkules tiba-tiba berdering.

Setelah melihatnya, ekspresi Herkules langsung berubah. Dia segera berjalan menjauh, lalu mengangkat teleponnya seperti seekor anjing yang penurut.

"Tuan John, kenapa Anda menelepon saya?"

"Apakah ada sepasang pria dan wanita yang datang menagih utang kepadamu? Salah satunya bernama Ardika?"

Bab 5

Ketakutan

Bernama Ardika?

Sambil melirik Ardika, Herkules menjawab dengan bingung, "Ada seseorang yang bernama Ardika Mahasura, saya sedang bersiap untuk menghajarnya."

Dari ujung telepon tiba-tiba terdengar suara keras.

Herkules buru-buru bertanya, "Tuan John, Anda kenapa?"

Detik selanjutnya, teriakan penuh amarah memasuki telinga Herkules.

"Kenapa denganku? Bajingan kamu! Kamu ingin aku mati, ya?"

"Aku kasih tahu! Kamu harus menuruti semua permintaannya, kamu harus melayaninya seperti seorang bos, mengerti?"

Herkules tertegun. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah melihat John kehilangan kontrol diri seperti sekarang.

Herkules lalu bertanya, "Tuan John, sepertinya Anda salah. Dia hanyalah seorang menantu pecundang dari Keluarga Basagita."

"Herkules, kamu ingin mati, ya? Di matanya, kamu dan aku hanyalah rumput liar yang tak berguna. Dia bisa membunuh kita dengan mudah."

"Tuan John ... ini ...."

Setelah mendengarnya, Herkules mulai berkeringat dingin.

"Aku ingatkan terakhir kali, dia adalah sosok yang bahkan nggak berani aku tatap secara langsung. Jaga dirimu!"

Setelah itu, telepon pun dimatikan.

Herkules langsung bengong. Setelah sadar kembali, dia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kedua kakinya juga tanpa sadar ikut gemetar.

Melihat Herkules yang terdiam dan tidak bereaksi, Wulan segera maju dan bertanya, "Kak Herkules, Anda kenapa? Cepat berikan perintah untuk membereskan dua orang pecundang itu."

"Membereskan mereka? Sialan kamu!"

Terdengar teriakan penuh amarah.

Plak!

Herkules tiba-tiba menampar Wulan.

Tamparan yang tiba-tiba itu membuat semua orang bengong.

Wulan yang ditampar pun mundur beberapa langkah, wajah yang cantik itu langsung bengkak.

Sambil menutupi wajahnya, Wulan pun berkata dengan tak berdaya, "Kak Herkules ... saya datang membeli mobil, seharusnya Anda memukul mereka."

"Wanita jalang sepertimu memang pantas ditampar! Kalau bukan karena menghormati Keluarga Buana, hari ini aku pasti akan menamparmu sampai mati. Cepat pergi dari sini!"

Wulan yang menutupi wajahnya tidak berani bersuara, dia juga tidak berani marah. Dia hanya bisa menatap Luna dan Ardika dengan kesal, kemudian berlari keluar.

Ketika melewati Ardika, dia tidak lupa mengingatkan, "Dasar idiot! Tunggu saja kamu!"

Menurut Wulan, dia ditampar karena ulah Ardika.

Luna tanpa sadar menarik lengan Ardika sambil mundur, dia lalu berbisik, "Ardika, ayo kita pergi ...."

Sebelum Ardika sempat bereaksi, Herkules sudah berjalan ke arah mereka dengan cepat.

Luna makin ketakutan.

Siapa sangka, Herkules malah membungkukkan diri sampai 90 derajat. Dia lalu berkata dengan nada gemetar, "Tuan Ardika, Nona Luna, saya sudah berbuat salah. Mohon maaf, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."

Eh?

Luna langsung bengong. Kenapa Herkules seolah-oleh berubah menjadi orang lain setelah menerima telepon?

"Utang Keluarga Basagita sudah bisa dibayar, 'kan?" Ardika sama sekali tidak merasa aneh dengan sikap Herkules, hal itu membuktikan bahwa Draco sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Herkules terus mengangguk sambil menjawab, "Bisa, bisa, bisa .... Aku akan segera mengurusnya ...."

Setelah mereka keluar dari kompleks penjualan mobil, Luna memegang sebuah kertas cek dengan ekspresi kebingungan.

Dari waktu ke waktu, dia terus melirik ke arah Ardika. Apakah semua ini berkata Ardika?

Pada saat yang sama, di salah satu vila Kota Banyuli.

John yang merupakan seorang bos preman besar sedang berlutut di lantai dengan ekspresi ketakutan. Di hadapannya, duduk seorang pria jangkung berseragam militer.

Draco berkata dengan tenang, "John, kamu nggak bodoh. Kalau terjadi sesuatu dengan bosku, kamu pasti sudah masuk penjara."

"Terima kasih atas pengampunan Komandan."

Setelah berhasil bertahan hidup, tekanan yang dirasakan John pun berkurang. Dia menundukkan kepala dan memohon, "Saya nggak tahu beliau datang ke Kota Banyuli, bahkan bawahan saya hampir saja melawannya. Apakah saya bisa menjamu beliau sebagai permohonan maaf?"

"Aku akan menanyakannya."

"Terima kasih, Komandan!"

...

Kompleks Anggrek merupakan kompleks tua berusia puluhan tahun di Kota Banyuli, Luna sekeluarga tinggal di tempat ini.

Setelah Luna dan Ardika pulang, hari sudah malam.

Melihat kemunculan Luna dan Ardika, Desi dan suaminya yang sudah menunggu di depan pintu masuk kompleks segera mendekati mereka. Desi lalu berkata, "Luna, kamu nggak apa-apa, 'kan? Kak Herkules nggak memukulmu, 'kan?"

"Bu, aku baik-baik saja. Untung saja ada Ardika, aku berhasil menagih utangnya," ucap Luna sambil melirik ke arah Ardika.

"Apaan Ardika? Memangnya kamu percaya pecundang seperti dia punya kemampuan seperti itu?"

Desi menatap Ardika dengan hina, lalu lanjut menjelaskan, "Kalau bukan karena kami meminta bantuan kepada Tuan Muda Tony, mana mungkin kamu bisa mendapatkan uangnya?"

Mereka berhasil karena bantuan Tony?

Setelah mendengarnya, Luna pun tertegun.

Ardika juga menyipitkan matanya dengan tenang.

Ini bukan pertama kali dia mendengar nama Tony.

"Luna, kali ini kamu harus berterima kasih kepada Tuan Muda Tony. Awalnya, aku hanya mencoba meminta bantuannya, siapa sangka dia langsung menyetujuinya."

"Tuan Muda Tony mengajak kita makan malam. Kali ini, kamu nggak boleh menolaknya."

Luna segera menolak dan berkata, "Bu, aku boleh nggak usah pergi? Hari ini Ardika baru pulih, bukankah kita harus merayakannya?"

Desi memelototinya dan berkata, "Si idiot ini pulih, kenapa harus dirayakan? Tuan Muda Tony sudah membantu kita, hari ini kamu harus ikut dengan kami."

Ayahnya yang bernama Jacky Basagita juga mengangguk dan berkata, "Benar kata ibumu. Hari ini kamu harus pergi."

Luna melihat ke arah Ardika dengan ekspresi kesulitan sambil berkata, "Kalau kita pergi makan, bagaimana dengan Ardika?"

"Buat apa kamu urusi dia?" Sambil berbicara, Desi terus mendorong Luna untuk naik ke atas. "Cepat ganti baju dan dandan yang cantik, ya?"

Luna terus menoleh ke belakang sambil berjalan maju. Ardika juga mengernyit.

"Ardika, kenapa dengan tampangmu itu? Cepat pergi sana! Kamu nggak diterima di rumah kami," ucap Jacky dengan kesal setelah melihatnya.

Pada saat ini, sebuah mobil Land Rover berhenti di bawah rumah Luna.

Seorang wanita yang menawan turun dari mobil.

Dia adalah Tina Dienga, sahabat baik Luna.

"Paman, Bibi, mana Luna? Tuan Muda Tony memintaku untuk datang menjemput kalian."

Tina tiba-tiba melihat Ardika, lalu berkata dengan kaget, "Ardika? Kenapa si idiot ini kabur dari rumah sakit?"

Desi segera menarik Tina dan menjelaskannya.

Tina baru mengerti dan menatap Ardika dengan hina.

Tiga tahun yang lalu, Ardika pergi tanpa pamit dari acara pernikahannya. Hal itu membuat sahabat baiknya menjadi bahan tertawaan. Setelah itu, dia menjadi seorang idiot dan membuat Luna sekeluarga ikut menderita. Jadi, Tina sangat merendahkan suaminya Luna yang idiot ini.

"Ardika, kalau kamu sudah pulih, kenapa masih berada di sisi Luna? Kalau kamu seorang pria, cepat menjauh darinya. Jangan menghalangi Luna untuk mengejar kebahagiannya."

"Tuan Muda Tony adalah anak dari Grup Susanto Raya. Ayahnya, Budi Susanto, merupakan Ketua Asosiasi Bahan Bangunan yang menguasai seluruh bisnis konstruksi di Kota Banyuli. Dia bisa memberikan kemewahan kepada Luna."

"Bagaimana denganmu? Selain memberikan penderitaan dan penghinaan kepada Luna, kamu bisa apa lagi?"

Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya juga ikut mengangguk setuju.

Ardika lalu berkata, "Tina, hal yang bisa aku berikan kepada Luna bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh orang awam seperti kalian."

Bab 6

Restoran Gatotkaca

"Ck." Saking marahnya, Tina pun tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihatnya. Nggak perlu yang terlalu jauh, apakah kamu tahu hari ini Tuan Muda Tony mengajak mereka makan di mana?"

"Lantai tiga Restoran Gatotkaca! Tempat yang selamanya nggak mungkin dimasuki oleh pecundang sepertimu."

Ketika mendengarnya, kedua mata Desi tampak berbinar. Dia lalu berkata, "Lantai tiga Restoran Gatotkaca? Tempat itu hanya bisa dipesan oleh anggota emas."

Di Kota Banyuli, Restoran Gatotkaca termasuk restoran kelas atas. Orang yang menghabiskan puluhan miliar baru bisa mendapatkan kartu anggota emas. Di Keluarga Basagita, hanya Tuan Besar Basagita seorang yang memiliki kartu anggota emas.

Adapun lantai tiga ke atas, biaya yang perlu dihabiskan oleh anggota bahkan lebih mengejutkan.

Tina menoleh ke arah Ardika, lalu tersenyum sambil berkata, "Ardika, itulah perbedaan antara kamu dan Tuan Muda Tony. Aku nggak tahu kenapa kamu masih percaya diri untuk berada di sisi Luna."

"Tina, nggak usah pedulikan pecundang ini. Luna sudah turun, ayo kita berangkat. Jangan sampai Tuan Muda Tony menunggu terlalu lama."

Desi bahkan tidak melihat Ardika sama sekali.

Mobil Land Rover pun pergi menjauh. Pada saat ini, ponsel Ardika tiba-tiba berbunyi.

"Bos, John mengadakan jamuan permintaan maaf di Hall Raja lantai sembilan Restoran Gatotkaca, apakah Anda ingin ikut ...."

"Suruh dia kirim mobil untuk menjemputku."

...

Pintu masuk Restoran Gatotkaca.

Ketika mobil Land Rover berhenti, Tony yang sudah menunggu di depan pintu segera mendekat.

Tony mengenakan jas putih yang mewah dan memegang satu buket mawar merah. Dia membuka pintu mobil untuk Luna, lalu berkata sambil tersenyum, "Luna, hari ini kamu cantik sekali."

Luna pun berusaha tersenyum.

Tina menyenggol pinggang Luna sambil mengeluh, "Tuan Muda Tony sedang berbicara denganmu, kamu bisu, ya?"

"Bukan ..." ucap Luna dengan nada rendah sambil memiringkan tubuhnya. "Aku hanya khawatir Ardika nggak bisa makan malam ...."

"Kamu masih saja mengkhawatirkan si idiot itu, benar-benar nggak belajar dari pengalaman," keluh Tina dengan kesal.

Wah!

Entah siapa yang tiba-tiba bersorak.

Tidak jauh dari sana, sebuah mobil Lincoln berwarna putih melaju kemari.

Empat angka delapan di plat kendaraan juga sangat menarik perhatian.

Ketika Tony mengalihkan pandangannya ke sana, dia pun berseru kaget, "Bukankah itu mobil Tuan John? Dia juga datang makan ke Restoran Gatotkaca, ya?"

John? Bos preman yang berkuasa di seluruh Kota Banyuli.

Desi dan suaminya juga ikut menoleh ke arah tersebut.

Pada saat ini, pintu mobil Lincoln pun terbuka. Seorang anak muda turun dari mobil, kemudian mengikuti pelayan berjalan ke arah lift.

Luna menatap punggung anak muda itu dengan bengong sambil bergumam, "Orang itu, rasanya mirip dengan Ardika?"

"Ardika?"

Tina tertegun sejenak, lalu berkata dengan nada bercanda, "Luna, kamu pasti salah lihat. Pecundang seperti Ardika nggak mungkin bisa naik mobil Lincoln ke Restoran Gatotkaca."

Setelah mendengarnya, Luna pun mengangguk.

Seharusnya dia salah lihat.

Mereka mengikuti Tony datang ke Hall Rembulan di lantai tiga.

"Wah, bahkan lantai tiga juga semewah ini."

"Aku penasaran seberapa mewah lantai atas, apalagi Hall Raja yang legendaris di lantai sembilan itu. Mungkin saja istana raja juga kalah."

Perhatian Desi teralihkan oleh desain interior yang begitu mewah. Dari waktu ke waktu, dia terus menyentuh berbagai barang.

Tony sangat puas dengan reaksi Desi dan lainnya. Dia lalu berkata, "Paman, Bibi, ayo pesan makanan dulu."

"Betul, betul, betul. Ayo pesan makanan."

Setelah duduk, mereka menatap menu yang mahal itu dengan ragu.

Ini bukan makanan lagi, melainkan emas.

Tony justru tampak tenang. Selesai memesan makanan, dia juga menambahkan dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik.

Tina termasuk orang yang mengerti tentang anggur, dia pun berkata, "Tuan Muda Tony, hari ini kamu sudah menghabiskan banyak uang. Harga dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik paling nggak sekitar 60 sampai 80 juta."

Tony berkata sambil tersenyum, "Puluhan juta saja, nggak masalah. Hari ini aku mengajak Paman dan Bibi makan, jadi aku harus menunjukkan ketulusan hatiku."

Seketika, Desi dan suaminya dibuat kagum oleh sikap Tony. Tuan Muda Tony memang berbeda, dia berbeda jauh dengan pecundang Ardika itu.

Di luar ruangan, Ardika sedang berjalan di lorong.

Saat melewati belokan, seorang pramusaji yang membawa dua botol anggur tersandung dan hampir terjatuh. Untungnya, Ardika muncul dan memapahnya tepat waktu.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa ...." Pramusaji wanita tersebut tampat ketakutan. Kalau dua botol anggur itu sampai terjatuh, dia harus ganti rugi dengan gaji selama satu tahun.

"Kakimu sedikit keseleo, bagaimana kalau aku yang bantu antar saja?"

Pramusaji wanita itu mencoba menggerakkan pergelangan kakinya, ternyata memang terasa sedikit sakit. Dia pun mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Tuan ...."

Di dalam ruangan, selain Luna yang tampak tidak fokus, mereka yang lain mengobrol dengan gembira.

Setelah melirik Luna, Desi pun mendekat dan berbisik, "Kenapa kamu diam saja? Nanti saat anggurnya datang, kamu harus bersulang dengan Tuan Muda Tony, mengerti?"

"Bu ... aku nggak mau minum alkohol," ucap Luna dengan tak berdaya.

"Tetap saja harus minum!"

Pada saat ini, pintu ruangan pun terbuka.

"Halo, anggur kalian sudah datang."

"Ardika?" seru Tina dengan kaget. Dia kebetulan duduk di seberang pintu masuk

Semua orang ikut menoleh ke belakang dengan kaget.

"Dasar belatung! Beraninya kamu mengikuti kami kemari? Siapa yang membiarkanmu masuk?" ucap Desi dengan marah.

Selesai berbicara, dia langsung menoleh ke arah Tony. Desi khawatir kedatangan Ardika akan membuat Tony marah.

Tina juga berkata dengan sinis, "Ardika, nyalimu besar juga. Kamu nggak bisa masuk ke Restoran Gatotkaca tanpa kartu anggota. Jangan-jangan kamu menyelinap masuk dengan menyamar sebagai pramusaji, ya?"

Ardika menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ada yang mengundangku."

Luna menatap Ardika dengan bingung.

Tina lalu berkata dengan kesal, "Siapa yang akan mengundang seorang pecundang untuk makan di Restoran Gatotkaca? Ardika, jangan-jangan kamu belum sembuh, ya?"

Tony memperhatikan menantu idiot yang terkenal di Kota Banyuli ini dari atas ke bawah, dia sepertinya tidak menganggap Ardika sama sekali.

Tony pun melambaikan tangannya dan berkata, "Cukup, kami nggak peduli bagaimana kamu bisa masuk. Letakkan dua botol anggur di tanganmu itu, lalu keluar dari sini."

"Anggur semahal itu dipegang oleh seorang idiot, bagaimana kami bisa meminumnya nanti?"

"Betul!"

Desi langsung merebut dua botol anggur itu, lalu berkata dengan masam, "Cepat keluar!"

Walaupun tidak diterima di sini, Ardika tetap menoleh ke arah Luna dan berkata, "Sayang, bosnya Kak Herkules mempersiapkan jamuan di Hall Raja lantai sembilan untuk permintaan maaf. Kamu mau ikut ke atas?"

Ucapan itu membuat suasana ruangan menjadi hening.

Menantu Pahlawan Negara

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya