Bab 3
Calon Pewaris
"Ardika, jangan-jangan ... kamu sudah pulih?"
Melihat tatapan Ardika yang jernih, Luna menutup mulutnya dengan tangan dan tampak tidak percaya.
"Ya, aku sudah pulih, sayang."
Ardika menatap ke arah Luna, dia yang begitu tegas dalam medan perang, ternyata bisa merasa sedih juga.
Seketika, air mata mengenang di mata Luna. Rasa bahagia membuatnya ikut menangis.
Ardika langsung memeluk Luna. Beberapa tahun ini, Luna sudah menderita.
"Huh! Memangnya kenapa kalau sudah pulih?"
Wulan berkata dengan sinis, "Dia tetap saja seorang pecundang."
Sambil berkata, Wulan kembali duduk di kursinya. Sambil menunjuk kursi lipat di pojokan, dia pun berkata, "Duduk sana! Berkontribusi 20 triliun? Jangan membuatku tertawa."
Ketika Ardika yang mengernyit ingin berkata, Luna segera menghentikannya dan menariknya untuk duduk.
Mereka berempat duduk di kursi lipat yang ada di pojokan. Melihat makanan yang mahal dan enak di meja lain, di atas meja mereka hanya ada empat mangkuk mi.
Melihat suasana yang begitu hidup dan ramai, Tuan Besar Basagita merasa bangga.
"Semuanya tenang dulu, aku ingin mengumumkan sesuatu."
Setelah mendengarnya, semua orang segera meletakkan alat makan.
Sambil mengangguk puas, Tuan Besar Basagita lalu berkata, "Semalam, seharusnya kalian sudah mendengar kabar bahwa Grup Angkasa Sura datang ke kota ini."
"Grup Angkasa Sura merupakan perusahaan permodalan kelas dunia yang sangat besar. Kali ini, kedatangan mereka di Kota Banyuli akan memberikan perubahan kekuatan para keluarga besar di kota ini. Ini juga kesempatan bagi Keluarga Basagita."
"Meskipun Keluarga Basagita termasuk keluarga kelas dua yang tampak hebat, kita tetap saja mudah dilewati oleh keluarga lain."
"Jadi, Grup Angkasa Sura merupakan pihak yang perlu kita gandeng."
"Walaupun mendapatkan sedikit investasi saja, Keluarga Basagita juga bisa naik kelas dan hidup dengan kemewahan."
Tuan Besar Basagita makin bersemangat, dia lalu melanjutkan dengan wajah merah, "Aku umumkan bahwa siapa pun anggota Keluarga Basagita yang bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, akan diberi saham perusahaan 10 persen, serta ...."
"Jabatan manajer umum grup kita!"
Duar!
Pengumuman yang sangat penting ini menggemparkan semua orang.
"Saham perusahaan 10 persen merupakan uang yang sangat banyak. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa berfoya-foya."
"Terutama jabatan manajer umum yang berada di atas semua orang."
"Tapi, sepertinya sangat sulit. Aku dengar bahwa banyak keluarga yang berbaris di depan kantor Grup Angkasa Sura ...."
Ketika semua orang sedang berdiskusi, Wulan tiba-tiba berdiri.
"Kakek, tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan investasi itu. Aku sudah meminta bantuan Tuan Muda David untuk menyerahkan proposal, sepertinya kita akan segera mendapat kabar."
Ucapan itu mengejutkan semua orang.
Punya kenalan yang hebat memang berbeda.
Tuan Muda David yang disebut oleh Wulan adalah pacarnya. David Buana, Tuan Muda Pertama dari Keluarga Buana yang merupakan keluarga kelas atas di Kota Banyuli.
Dengan bantuan David, bukankah mendapatkan investasi adalah hal yang mudah?
"Bagus, bagus, bagus! Kamu memang cucu paling hebat. Tiga hari lagi kamu akan ulang tahun, kakek pasti akan merayakannya dengan meriah,"
Tuan Besar Basagita berkata dengan gembira, "Kalau Wulan bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, kamu akan menjadi pewaris keluarga."
Ucapan itu membuat ekspresi Luna sekeluarga berubah.
Sebagai sesama anggota Keluarga Basagita, Luna yang merupakan keluarga dari istri kedua sangat sensitif terhadap posisi pewaris.
Sebagai keluarga dari istri pertama, Wulan sekeluarga selalu bersikap buruk terhadap Luna dan keluarganya. Kalau Tuan Besar meninggal dan Wulan menjadi kepala keluarga, kehidupan Luna dan keluarganya akan makin menderita.
Melihat ekspresi ayah dan ibu mertua yang pucat, Ardika pun berkata, "Kakek, kalau Luna bisa mendapatkan investasi, dia juga bisa menjadi pewaris keluarga, ya?"
Suasana menjadi hening.
Pfft!
Wisnu yang berada tidak jauh tidak bisa menahan tawanya, dia pun berkata, "Ardika, penyakitmu kambuh lagi? Apa yang bisa diandalkan Luna untuk mendapatkan investasi? Mengandalkan idiot sepertimu?"
"Makan saja mi di depanmu! Mungkin setelah ini, kalian sekeluarga harus kelaparan."
Wulan mengangkat kepalanya, lalu berkata dengan nada merendahkan, "Kamu baru saja pulih, jadi mungkin nggak tahu. Luna memiliki utang yang besar, dia sudah coba meminjam uang ke mana-mana. Hanya saja nggak tahu apakah dia sempat menjual dirinya atau nggak."
"Oh ya, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna. Melihat tampang kalian yang miskin itu, sebaiknya kalian pungut saja kue di lantai untuk dimakan tiga hari lagi."
Semua orang tertawa terbahak-bahak, tatapan mereka terhadap Luna dan Ardika dipenuhi oleh ekspresi hina.
Penghinaan seperti itu membuat Luna menangis. Dia berkata sambil tersedak, "Wulan, di mana hati nuranimu? Padahal kamu yang merebut perusahaanku, lalu ditukar dengan perusahaan yang penuh utang itu. Semua utangku saat ini karena kamu ...."
Wulan segera memotongnya, "Luna, jangan asal omong! Aku akan menamparmu. Kamu sendiri yang nggak berguna, tapi masih berani menyalahkanku?"
Perseteruan mereka membuat suasana di dalam vila menegang.
"Cukup, cukup."
Tuan Besar Basagita melambaikan tangannya untuk merelai. Dia pun berkata kepada Ardika, "Ardika, kalau Luna bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, aku akan membayar semua utang perusahaan Luna, kemudian mengembalikan semua bonus selama beberapa tahun ini."
Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya tampak senang.
Sejak Ardika menghilang di malam pertama pernikahan, Tuan Besar Basagita terus menahan bonus mereka. Kalau dijumlahkan, totalnya mencapai miliaran.
Kalau bisa mendapatkannya, kehidupan mereka pasti akan berubah.
Lalu, sebelum ekspresi bahagia di wajah mereka menghilang, Tuan Besar Basagita segera menambahkan, "Tapi ada satu syarat, Luna harus menagih utang ke Kak Herkules."
Desi dan suaminya langsung tertegun.
Banyak orang yang ikut terkejut.
Herkules merupakan bos preman di Kota Banyuli. Sebelumnya, anggota Keluarga Basagita yang pergi menagih utang dihajar sampai setengah mati.
Persyaratan Tuan Besar sama saja mempersulit Luna.
Desi yang panik pun berkata, "Nggak bisa, Ayah! Menagih utang ke Kak Herkules sama saja bertaruh nyawa."
"Bagaimana kalau sampai Luna kenapa-napa ketika menagih utang?"
Wulan yang melihatnya segera berkata, "Bibi, nggak usah pergi juga nggak masalah. Hanya saja, kalian sekeluarga nggak akan bisa bangkit lagi."
Setelah mendengarnya, ekspresi Luna sekeluarga menjadi pucat.
Seketika, Luna mulai ragu.
Pada saat ini, Ardika menggenggam erat tangan Luna, lalu berbisik di telinganya, "Sayang, setujui saja."
Apa?
Luna mengira dia salah dengar.
Sambil mengernyit, Luna berkata dengan nada rendah, "Ardika, apa yang kamu katakan? Orang itu adalah Kak Herkules, kita nggak mungkin bisa menagih utangnya."
Ardika justru berkata dengan percaya diri, "Sayang, percayalah padaku. Setujui saja. Aku akan membantumu menagih utangnya."
Bab 4
Herkules
Melihat Ardika yang percaya diri, Luna pun merasa ragu. Setelah memikirkan kondisi keluarganya sekarang, dia pun menggertakkan gigi, lalu berdiri dan berkata, "Kakek, aku akan pergi menagih utang."
"Kamu! Kamu sudah gila, ya? Kalau sampai wajahmu rusak karena dipukul Kak Herkules, Tuan Muda Tony pasti akan meninggalkanmu."
Desi langsung panik.
Semua orang terkejut, bahkan Tuan Besar Basagita juga tidak menyangka Luna akan menyetujuinya.
Wisnu dan yang lain hanya mendengkus dingin.
Wisnu tiba-tiba mengeluarkan sepuluh ribu dari sakunya, lalu dilemparkan ke kaki Luna sambil berkata, "Melihat keberanianmu itu, aku kasih sepuluh ribu untuk naik transportasi umum."
Wulan juga menyilangkan tangannya di dada, lalu mengangkat alisnya sambil berkata, "Kamu sendiri yang mau pergi, ya? Kalau dihajar sampai lumpuh, jangan bilang Keluarga Basagita yang memaksamu."
Ardika melirik beberapa orang itu dengan tatapan dingin. Dia tidak ingin memedulikan orang-orang tidak penting ini.
Ardika langsung berdiri, kemudian menarik Luna dan berjalan keluar dari vila.
Pada saat ini, Desi dan suaminya benar-benar panik. Desi berkata, "Sekarang, kita hanya bisa meminta bantuan Tuan Muda Tony, dia selalu menyukai Luna ...."
...
Kawasan penjualan mobil.
Sambil membawa dua kantong buah yang baru dibeli, Luna terus mengingatkan Ardika, "Nanti, kamu jangan banyak bicara, jangan sampai Kak Herkules marah, mengerti?"
Setelah mendengarnya, Ardika pun mengangguk. Luna pun merasa lebih tenang.
Ketika mereka ingin mengetuk pintu ruangan kantor Herkules, dari belakang terdengar suara klakson yang keras.
Mereka melihat sebuah mobil Porsche merah muda berhenti di samping. Ketika kaca mobil diturunkan, wajah Wulan yang kejam itu pun terlihat.
"Oi, kalian ternyata berani datang menagih utang, ya? Aku kira kalian hanya membual."
"Wulan, kenapa kamu datang?" tanya Luna dengan kesal sambil mengernyit.
"Tentu saja datang beli mobil. Memangnya aku sama seperti kalian yang bodoh ini, datang menagih utang dan dihajar?"
Wulan yang memakai kacamata hitam berkata dengan nada sombong, "Setelah kalian pergi, kakek langsung membagikan bonus kepada semua orang. Keluarga kami mendapatkan 4 miliar tahun ini. Dengan uang itu, aku tentu saja harus membeli mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Nggak seperti kamu, setiap ulang tahun bahkan nggak sanggup makan enak."
Setelah mendengarnya, Luna sedikit gemetar. Dia juga mengepalkan tangannya.
Ardika pun tersenyum sinis dan berkata, "Wulan, 4 miliar saja, apa yang perlu dibanggakan? Grup Angkasa Sura paling benci orang sepertimu yang berlagak sombong karena sedikit uang. Kamu nggak perlu memikirkan masalah investasi lagi."
"Kamu!"
Wulan yang kesal pun mendengkus dingin, lalu berkata, "Dasar idiot! Sekarang kamu jadi jago omong, semoga nanti kamu tetap berani ketika sedang menagih utang."
Selesai bicara, Wulan yang kesal pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam ruangan.
Luna dan Ardika juga ikut masuk.
Begitu masuk, mereka melihat ruangan yang luas. Di dalamnya, seorang pria berkalung emas sedang menggendong seorang sales cantik sambil meraba tubuhnya. Bekas luka di wajah pria itu terlihat menakutkan.
Melihat ada yang masuk, Herkules langsung berkata dengan wajah masam, "Sialan dari mana ini? Cepat keluar! Jangan ganggu kesenanganku."
Setiap orang memiliki reputasi sendiri.
Ucapan Herkules membuat Wulan berkeringat dingin, dia pun berkata dengan gagap, "Kak ... Kak Hercules, saya Wulan. Tuan Muda David merekomendasikan saya untuk datang beli mobil."
Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangkat alisnya dan tersenyum. Dia lalu berkata, "Ternyata Nona Wulan, silakan duduk."
Sebelumnya, David memang sempat meneleponnya. Keluarga Buana merupakan keluarga kelas atas, jadi Herkules juga harus menghormati ucapannya.
Herkules akan melayani langsung setiap pembeli mobil mewah, itu juga merupakan salah satu cara dia berteman dengan para keluarga kaya.
"Siapa dua orang itu?" tanya Herkules yang bingung ketika menyadari dua orang di depan pintu.
Melihat perubahan sikap Herkules yang drastis, Wulan merasa senang. Seolah-olah ingin mencari pujian, Wulan pun berkata, "Kak Herkules, Anda masih ingat utang Keluarga Basagita, 'kan? Dua orang pecundang itu datang untuk menagih utang."
"Tapi, Anda tenang saja. Hal ini nggak ada hubungannya dengan saya, saya hanya datang untuk membeli mobil."
"Ternyata begitu."
Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangguk. Sambil bersandar ke belakang, Herkules menatap Luna dan Ardika dengan matanya yang menyeramkan itu. Dia lalu berkata, "Ternyata ada orang yang berani menagih utang di kompleks penjualan mobil ini, sepertinya sudah bosan hidup."
Merasakan sapuan dingin dari tatapan Herkules, Luna tanpa sadar mundur ke belakang. Dia lalu berkata, "Kak Herkules, Anda adalah orang yang pengertian, kami benar-benar membutuhkan uang sekarang ...."
"Kalau nggak, kami nggak bisa hidup lagi."
"Huh! Terus apa hubungannya denganku?"
Setelah mendengkus dingin, Herkules pun berkata dengan sinis, "Di kompleks penjualan mobil ini, siapa pun yang datang, kalau aku nggak mau bayar, memangnya kamu bisa apa?"
Luna tersenyum getir, tatapannya dipenuhi oleh kekecewaan.
Saat ini, Ardika pun berkata dengan suara yang dalam, "Sejak kapan seorang Herkules berkuasa di kompleks penjualan mobil ini?"
Nama lengkap pria itu adalah Herkules Dienga. Dia sempat terkejut setelah mendengar ucapan Ardika.
Sambil mendengkus dingin, dia pun berkata dengan kesal, "Nak, kamu tahu apa yang kamu katakan?"
Wulan juga segera memarahi Ardika, "Dasar idiot! Kompleks penjualan mobil ini tentu saja dikuasai oleh Herkules! Cepat berlutut dan minta maaf kepada Kak Herkules."
Wajah Luna sudah pucat. Dia menarik lengan baju Ardika dengan panik dan menyuruhnya untuk diam.
Lalu, Ardika malah tidak takut dan melanjutkan, "Memangnya aku salah? Kompleks penjualan mobil ini adalah bisnis milik John Dienga, 'kan? Kamu hanyalah seekor anjing penjaga."
Dalam perjalanan kemari, informasi tentang Herkules sudah dikirim ke ponselnya Ardika. Herkules hanyalah anak buah John, John sendiri pernah menjadi prajurit di bawah Draco.
Setelah mendengarnya, urat nadi di kening Herkules tampak menonjol, tapi dia tetap berusaha menahan amarah di hatinya. Herkules lalu mengernyit sambil bertanya, "Kamu kenal dengan Tuan John?"
"Nggak kenal," jawab Ardika dengan nada datar. John masih tidak pantas berkenalan dengan Ardika.
"Nggak kenal?" Ekspresi kejam terbesit di wajah Herkules, dia pun berteriak, "Nak, kamu mempermainkanku, ya?"
Pada saat ini, Wulan mengingatkan dengan niat jahat, "Kak Herkules, mana mungkin dia kenal dengan Tuan John. Namanya Ardika Mahasura, dia hanyalah seorang menantu pecundang di Keluarga Basagita."
Menantu pecundang?
Herkules tertegun sejenak sambil membelalakkan kedua matanya.
Detik selanjutnya, Herkules yang seolah-olah menerima penghinaan besar langsung marah.
Suara bunyi tulang pun terdengar ketika Herkules mengepalkan tangannya. Dia menatap Ardika dengan tatapan yang menyeramkan.
"Bagus! Bagus! Bagus!"
Sambil menggertakkan gigi, Herkules berkata, "Sudah lama tidak ada berani mempermainkanku!"
Melihat Herkules marah, Wulan diam-diam menutup mulut sambil tersenyum. Dia berpikir dalam hati, 'Dasar idiot! Mati saja kamu!'
"Kak Herkules, Kak Herkules, sabar dulu ...."
Luna yang panik juga tidak berdaya, dia pun mencoba membujuk, "Ardika hanya salah omong, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."
Sayangnya, Herkules tidak mau mendengarnya. Setelah dia melambaikan tangannya, belasan preman segera masuk ke dalam ruangan.
Satu per satu tampak besar dengan ekspresi garang.
Luna yang ketakutan hampir tidak bisa berdiri, untung saja Ardika berhasil memapahnya.
"Herkules, kamu sudah membuat istriku takut."
Aura membunuh muncul di antara alis Ardika.
Lalu, Herkules sama sekali tidak menyadarinya. Dia masih berkata dengan kesal, "Memangnya kenapa kalau ketakutan? Berani mempermainkan diriku, hari ini kalian jangan harap bisa pergi dari sini."
Herkules menatap Ardika dengan ekspresi garang, belasan preman juga sedang menunggu perintah dari Herkules.
Pada saat ini, ponsel Herkules tiba-tiba berdering.
Setelah melihatnya, ekspresi Herkules langsung berubah. Dia segera berjalan menjauh, lalu mengangkat teleponnya seperti seekor anjing yang penurut.
"Tuan John, kenapa Anda menelepon saya?"
"Apakah ada sepasang pria dan wanita yang datang menagih utang kepadamu? Salah satunya bernama Ardika?"
Bab 5
Ketakutan
Bernama Ardika?
Sambil melirik Ardika, Herkules menjawab dengan bingung, "Ada seseorang yang bernama Ardika Mahasura, saya sedang bersiap untuk menghajarnya."
Dari ujung telepon tiba-tiba terdengar suara keras.
Herkules buru-buru bertanya, "Tuan John, Anda kenapa?"
Detik selanjutnya, teriakan penuh amarah memasuki telinga Herkules.
"Kenapa denganku? Bajingan kamu! Kamu ingin aku mati, ya?"
"Aku kasih tahu! Kamu harus menuruti semua permintaannya, kamu harus melayaninya seperti seorang bos, mengerti?"
Herkules tertegun. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah melihat John kehilangan kontrol diri seperti sekarang.
Herkules lalu bertanya, "Tuan John, sepertinya Anda salah. Dia hanyalah seorang menantu pecundang dari Keluarga Basagita."
"Herkules, kamu ingin mati, ya? Di matanya, kamu dan aku hanyalah rumput liar yang tak berguna. Dia bisa membunuh kita dengan mudah."
"Tuan John ... ini ...."
Setelah mendengarnya, Herkules mulai berkeringat dingin.
"Aku ingatkan terakhir kali, dia adalah sosok yang bahkan nggak berani aku tatap secara langsung. Jaga dirimu!"
Setelah itu, telepon pun dimatikan.
Herkules langsung bengong. Setelah sadar kembali, dia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kedua kakinya juga tanpa sadar ikut gemetar.
Melihat Herkules yang terdiam dan tidak bereaksi, Wulan segera maju dan bertanya, "Kak Herkules, Anda kenapa? Cepat berikan perintah untuk membereskan dua orang pecundang itu."
"Membereskan mereka? Sialan kamu!"
Terdengar teriakan penuh amarah.
Plak!
Herkules tiba-tiba menampar Wulan.
Tamparan yang tiba-tiba itu membuat semua orang bengong.
Wulan yang ditampar pun mundur beberapa langkah, wajah yang cantik itu langsung bengkak.
Sambil menutupi wajahnya, Wulan pun berkata dengan tak berdaya, "Kak Herkules ... saya datang membeli mobil, seharusnya Anda memukul mereka."
"Wanita jalang sepertimu memang pantas ditampar! Kalau bukan karena menghormati Keluarga Buana, hari ini aku pasti akan menamparmu sampai mati. Cepat pergi dari sini!"
Wulan yang menutupi wajahnya tidak berani bersuara, dia juga tidak berani marah. Dia hanya bisa menatap Luna dan Ardika dengan kesal, kemudian berlari keluar.
Ketika melewati Ardika, dia tidak lupa mengingatkan, "Dasar idiot! Tunggu saja kamu!"
Menurut Wulan, dia ditampar karena ulah Ardika.
Luna tanpa sadar menarik lengan Ardika sambil mundur, dia lalu berbisik, "Ardika, ayo kita pergi ...."
Sebelum Ardika sempat bereaksi, Herkules sudah berjalan ke arah mereka dengan cepat.
Luna makin ketakutan.
Siapa sangka, Herkules malah membungkukkan diri sampai 90 derajat. Dia lalu berkata dengan nada gemetar, "Tuan Ardika, Nona Luna, saya sudah berbuat salah. Mohon maaf, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."
Eh?
Luna langsung bengong. Kenapa Herkules seolah-oleh berubah menjadi orang lain setelah menerima telepon?
"Utang Keluarga Basagita sudah bisa dibayar, 'kan?" Ardika sama sekali tidak merasa aneh dengan sikap Herkules, hal itu membuktikan bahwa Draco sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Herkules terus mengangguk sambil menjawab, "Bisa, bisa, bisa .... Aku akan segera mengurusnya ...."
Setelah mereka keluar dari kompleks penjualan mobil, Luna memegang sebuah kertas cek dengan ekspresi kebingungan.
Dari waktu ke waktu, dia terus melirik ke arah Ardika. Apakah semua ini berkata Ardika?
Pada saat yang sama, di salah satu vila Kota Banyuli.
John yang merupakan seorang bos preman besar sedang berlutut di lantai dengan ekspresi ketakutan. Di hadapannya, duduk seorang pria jangkung berseragam militer.
Draco berkata dengan tenang, "John, kamu nggak bodoh. Kalau terjadi sesuatu dengan bosku, kamu pasti sudah masuk penjara."
"Terima kasih atas pengampunan Komandan."
Setelah berhasil bertahan hidup, tekanan yang dirasakan John pun berkurang. Dia menundukkan kepala dan memohon, "Saya nggak tahu beliau datang ke Kota Banyuli, bahkan bawahan saya hampir saja melawannya. Apakah saya bisa menjamu beliau sebagai permohonan maaf?"
"Aku akan menanyakannya."
"Terima kasih, Komandan!"
...
Kompleks Anggrek merupakan kompleks tua berusia puluhan tahun di Kota Banyuli, Luna sekeluarga tinggal di tempat ini.
Setelah Luna dan Ardika pulang, hari sudah malam.
Melihat kemunculan Luna dan Ardika, Desi dan suaminya yang sudah menunggu di depan pintu masuk kompleks segera mendekati mereka. Desi lalu berkata, "Luna, kamu nggak apa-apa, 'kan? Kak Herkules nggak memukulmu, 'kan?"
"Bu, aku baik-baik saja. Untung saja ada Ardika, aku berhasil menagih utangnya," ucap Luna sambil melirik ke arah Ardika.
"Apaan Ardika? Memangnya kamu percaya pecundang seperti dia punya kemampuan seperti itu?"
Desi menatap Ardika dengan hina, lalu lanjut menjelaskan, "Kalau bukan karena kami meminta bantuan kepada Tuan Muda Tony, mana mungkin kamu bisa mendapatkan uangnya?"
Mereka berhasil karena bantuan Tony?
Setelah mendengarnya, Luna pun tertegun.
Ardika juga menyipitkan matanya dengan tenang.
Ini bukan pertama kali dia mendengar nama Tony.
"Luna, kali ini kamu harus berterima kasih kepada Tuan Muda Tony. Awalnya, aku hanya mencoba meminta bantuannya, siapa sangka dia langsung menyetujuinya."
"Tuan Muda Tony mengajak kita makan malam. Kali ini, kamu nggak boleh menolaknya."
Luna segera menolak dan berkata, "Bu, aku boleh nggak usah pergi? Hari ini Ardika baru pulih, bukankah kita harus merayakannya?"
Desi memelototinya dan berkata, "Si idiot ini pulih, kenapa harus dirayakan? Tuan Muda Tony sudah membantu kita, hari ini kamu harus ikut dengan kami."
Ayahnya yang bernama Jacky Basagita juga mengangguk dan berkata, "Benar kata ibumu. Hari ini kamu harus pergi."
Luna melihat ke arah Ardika dengan ekspresi kesulitan sambil berkata, "Kalau kita pergi makan, bagaimana dengan Ardika?"
"Buat apa kamu urusi dia?" Sambil berbicara, Desi terus mendorong Luna untuk naik ke atas. "Cepat ganti baju dan dandan yang cantik, ya?"
Luna terus menoleh ke belakang sambil berjalan maju. Ardika juga mengernyit.
"Ardika, kenapa dengan tampangmu itu? Cepat pergi sana! Kamu nggak diterima di rumah kami," ucap Jacky dengan kesal setelah melihatnya.
Pada saat ini, sebuah mobil Land Rover berhenti di bawah rumah Luna.
Seorang wanita yang menawan turun dari mobil.
Dia adalah Tina Dienga, sahabat baik Luna.
"Paman, Bibi, mana Luna? Tuan Muda Tony memintaku untuk datang menjemput kalian."
Tina tiba-tiba melihat Ardika, lalu berkata dengan kaget, "Ardika? Kenapa si idiot ini kabur dari rumah sakit?"
Desi segera menarik Tina dan menjelaskannya.
Tina baru mengerti dan menatap Ardika dengan hina.
Tiga tahun yang lalu, Ardika pergi tanpa pamit dari acara pernikahannya. Hal itu membuat sahabat baiknya menjadi bahan tertawaan. Setelah itu, dia menjadi seorang idiot dan membuat Luna sekeluarga ikut menderita. Jadi, Tina sangat merendahkan suaminya Luna yang idiot ini.
"Ardika, kalau kamu sudah pulih, kenapa masih berada di sisi Luna? Kalau kamu seorang pria, cepat menjauh darinya. Jangan menghalangi Luna untuk mengejar kebahagiannya."
"Tuan Muda Tony adalah anak dari Grup Susanto Raya. Ayahnya, Budi Susanto, merupakan Ketua Asosiasi Bahan Bangunan yang menguasai seluruh bisnis konstruksi di Kota Banyuli. Dia bisa memberikan kemewahan kepada Luna."
"Bagaimana denganmu? Selain memberikan penderitaan dan penghinaan kepada Luna, kamu bisa apa lagi?"
Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya juga ikut mengangguk setuju.
Ardika lalu berkata, "Tina, hal yang bisa aku berikan kepada Luna bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh orang awam seperti kalian."