Bab 4
. Semakin penasaran.
Mia sudah kembali lagi ke kamar tanpa membawa makanan apapun. Dia melihat suaminya telah selesai mandi dan sedang memilih ganti.
Dada pria itu terlihat bidang dengan kulit yang mulus dan bahu yang kekar. Otot dan perutnya juga terbentuk seperti sengaja dirawat dengan olahraga gym yang teratur.
Mia sering merasa aneh, kenapa suaminya yang katanya hanya seorang kuli serabutan bisa memiliki tubuh yang indah dan kulit semulus itu?
Dia menatap kulitnya dan membandingkan. Benar-benar kalah.
Gara menyadari jika Mia sedang memperhatikannya. Dia tersenyum kecil dan mendekati, “Belum puas? Kenapa tidak memegangnya saja? Ini milikmu.” Gara mengambil tangan Mia dan menaruh di perutnya.
"Eh!” Mia tersipu malu, segera menarik tangannya.
Gara tertawa kecil melihat wajah memerah istrinya lalu kembali pada pakaian yang sudah ditemukan.
Kaos putih yang telah pudar warnanya, dengan celana pendek hitam yang juga telah pudar. Cuci kering pakai, mungkin itu yang membuat pakaian Gara tampak pudar.
Mia juga merasa aneh, suaminya ini hanya punya beberapa pakaian saja. Dia sudah sering menyuruh Gara membeli pakaian, tapi Gara selalu menolak dengan alasan, “Uangnya untuk keperluan kamu saja.”
Meskipun hanya berpakaian apa adanya seperti itu, menurutnya, pria itu tetap terlihat tampan. Atau mungkin karena dia sudah mulai menyukai pria ini?
"Mana makanannya?” Gara bertanya saat menyadari Mia tidak membawa apapun ke kamar.
Mia tidak menjawab, dia hanya memasang wajah murung dan duduk ditepi tempat tidur.
Gara tersenyum, sudah bisa mengerti apa yang terjadi. “Apa kubilang tadi?”
Mia mendengus kesal, lalu menatap suaminya dengan perasaan sedih. “Kamu masih kuat kan, sampai besok pagi?”
Gara tertegun, mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala istrinya. “Tentu saja, tapi bagaimana istriku ini? Kamu pasti belum makan, kan?”
Mia membalas dengan senyuman, “Aku kuat kok sampai besok, jangan khawatir.”
Gara merasa sedih, kemudian mengambil ponselnya dan mengulik sebentar.
“Aku memesan makanan, tunggu sebentar ya?”
Mia terkejut saat Gara mengulurkan uang padanya. “Eh, tidak usah. Untuk kamu berangkat kerja besok. Kalau tidak ada uang lagi bagaimana?”
“Masih ada, jangan khawatir.”
Dengan ragu-ragu Mia menerima uang itu.
Tanpa sengaja dia melihat ponsel yang sedang dipegang oleh suaminya.
Tunggu sebentar, ada yang mengganjal dalam pikirannya. “Gara, itu ponsel kamu?”
Gara mengangkat tangannya, memperhatikan ponsel miliknya.
“Iya, kenapa?”
Mia bukan perempuan yang terlalu bodoh, dia tahu jika ponsel itu adalah ponsel mewah pengeluaran terbaru.
“Ponselmu, kenapa sangat bagus? Kamu membelinya sendiri atau,’
Gara langsung sadar jika istrinya mulai mencurigainya, “Oh, ini pemberian bos. Apa kamu mau? Aku bisa meminta bos untuk membelikan kamu juga. Bos ku sangat baik.”
“Eh, tidak perlu. Tidak usah. Aku ke depan dulu ya?” Mia langsung membalikan badannya untuk keluar dari kamar.
Dia berjalan ke depan untuk menunggu pesanan makanan. Tapi dia masih memikirkan ponsel milik suaminya tadi.
Dia pernah melihat ponsel jenis itu di internal. Harganya saja bisa puluhan juta. Mustahil sekali jika bos Gara memberikan ponsel semahal itu dengan begitu mudah.
Dari mana ponsel itu? Atau jangan-jangan suaminya telah mencuri milik orang lain?
Mia mulai banyak pikiran.
Tidak lama menunggu, makanan pesanan datang. Mia melotot saat melihat bandrol makanan itu.
Kenapa sangat mahal? Makanan apa memangnya?
Setelah membayar, Mia cepat kembali ke kamar, dia takut ada yang melihat. Pasti hanya akan mendapatkan ocehan panjang lebar jika ibu atau kakaknya melihat dia membeli makanan online.
Untung tidak ada yang melihat.
Tapi Mia masih memikirkan harga makanan yang sudah dibawanya. Ini sangat pemborosan. Menurutnya, harga makanan ini bisa untuk membeli keperluan dapur selama beberapa hari.
Tiba di kamar, dia langsung bertanya pada Gara, “Memang, kamu pesan makanan apa? Kenapa begitu mahal?”
“Sesekali tidak masalah memanjakan lidah. Makanlah, jangan memikirkan harganya.” Gara tahu jika istrinya tidak pernah makan makanan enak di rumah ini. Malam ini dia sengaja memesan makanan enak.
Mia hanya mengangguk, membenarkan ucapan suaminya lalu duduk dan membuka bungkus makanan.
“Wah!” Dia terbelalak saat melihat Pizza dan Barbeque dalam kotak makanan. Seumur hidup, memegang makanan ini pun tidak pernah.
Mia tersenyum senang dan menikmatinya. Dia melupakan harga makanan ini.
“Ini benar-benar sangat enak. Jika ibu tau, pasti akan sangat marah.” Mia berkata sambil mengunyah.
Gara tertawa kecil, “Tidak ada yang melihat kan?”
Mia menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, jangan dipikirkan. Makanlah dengan baik.” Gara menatap Mia yang sangat menikmati makanan itu. Ada rasa sedih dalam hatinya. Istrinya ini mungkin sudah cukup lama menderita. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawanya keluar dan memberinya semua kebahagiaan.
"Kamu tidak mau?" Mia mendongak, menatap Gara yang memperhatikannya.
“Aku sudah makan dikerjaan. Makan saja, jika tidak habis bisa disimpan untuk besok pagi.”
Mia mengangguk, melanjutkan makannya.
Ponsel Gara berdering, pria itu berdiri mengangkat panggilan dan menjauh. Mia memperhatikan Gara. Sepertinya ada hal cukup serius yang dibicarakan oleh suaminya itu dengan si penelpon.
Mia kembali penuh pertanyaan. Setiap dirumah, ponsel Gara sering berbunyi dan dia akan mengangkat panggilan secara diam-diam.
Apa yang disembunyikan oleh suaminya?
Selama ini Mia memang tidak pernah bertanya mengenai latar belakang kehidupan Gara. Dia hanya mengetahui jika Gara hidup sebatang kara dan tidak memiliki pekerjaan yang jelas.
Mia tidak pernah memikirkan hal itu sebelum ini. Baginya, mendapatkan seorang suami saja sudah cukup.
Meskipun pada awal pernikahan, Mia sempat menangis semalaman memikirkan nasibnya yang malang. Menikah dengan Pria yang sama sekali belum dikenal. Padahal dia masih ingin mencari pekerjaan yang baik diluar sana. Kemudian menabung banyak uang untuk masa depannya. Lalu jatuh cinta pada seorang pria, berpacaran kemudian menikah dengan penuh cinta.
Nyatanya semua mimpinya harus terkubur karena desakan ibu yang terus memaksakan kehendaknya demi anak emasnya.
Meskipun ayahnya sempat mengatakan sesuatu yang baik, jika dia tidak akan salah dalam memilih suami. Gara adalah pria yang baik dan punya masa depan yang baik.
Saat itu, ibu membantah dengan keji, “Apanya yang baik? Pria itu hanya bekerja serabutan yang tidak jelas! Hanya akan menjadi beban keluarga! Sudah miskin, juga sebatang kara! Benar-benar tidak berguna.”
“Jika ibu punya pendapat seperti ini, kenapa masih memaksaku untuk menikah dengannya?” Mia menjawab.
“Karena kamu sudah tidak ada waktu lagi untuk memilih. Dinda akan segera menikah, jadi kamu harus duluan menikah. Jangan sampai membuat malu adikmu.”
Lagi-lagi, ibunya hanya memikirkan Dinda.
Mia hanya bisa menurut. Sampai dia menikah dengan Gara dan mulai saling menerima.
Pria ini sangat penyabar, begitu lembut dan memberi perhatian banyak pada dirinya. Mia semakin nyaman dan mulai menyukainya. Setiap hari dia akan merasa kesepian jika Gara pergi bekerja. Menjelang sore dia akan menunggu Gara pulang dengan gelisah.
Sampai saat ini Gara masih sangat tertutup sekali tentang latar belakang hidupnya, tapi Mia tidak ingin banyak bertanya. Dia khawatir membuat Gara tidak nyaman. Perlakuan ibu dan saudara-saudaranya pada Gara saja sudah membuat Mia sedih. Untung saja Gara masih tetap bertahan disisinya. Meskipun setiap hari hanya dihina dan direndahkan oleh keluarganya.
Tapi, semakin hari kenapa dia sangat penasaran dengan pria ini?
Dia melihat Gara sudah selesai dengan si penelpon. Gara kembali mendekatinya dan duduk di depannya.
Mia mendongak, menatap baik-baik Gara. Dia berdehem kecil. “Gara, aku ingin bertanya.”
Bab 5
. Pekerjaan di luar kota.
“Kamu kerja apa sih sebenarnya?” tanya Mia.
Gara tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, lalu dia menjawab dengan tenang. “Kalau aku tidak punya pekerjaan tetap, apa kamu khawatir akan hidup menderita denganku?”
“Eh, bukan. Aku cuma penasaran. Tapi tidak masalah. Semua orang punya rezeki masing-masing. Kenapa harus khawatir?”
Gara melihat Mia lebih dekat, dia membelai wajah Mia polos itu dengan begitu lembut.
“Itu benar. Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku janji padamu.”
Mia tersenyum, dia semakin merasa bahagia mendengarnya. Lalu mereka berangkat tidur.
Pagi ini, Mia bangun lebih terlambat dari biasanya. Tadi dia merasa sakit kepala dan Gara menyuruhnya untuk tidak bangun. Gara menggantikan pekerjaannya untuk membereskan rumah.
Saat Mia turun, dia melihat Gara sedang bersama ayahnya. Ada sebuah amplop di tangan ayahnya. Entah amplop apa itu, tapi sepertinya mereka baru saja berbicara serius.
Mendengar suara langkah kakinya mendekat, Gara menoleh dan segera menghampirinya.
“Mia, hari ini aku ada pekerjaan diluar kota. Bisa jadi aku akan menginap. Tapi aku usahakan cepat beres agar bisa pulang. Tidak apa-apa, kan?”
Pekerjaan diluar kota? Memang bekerja kuli bisa sampai ke luar kota? Mendadak Mia memikirkan hal itu.
Tapi Mia tidak enak untuk bertanya, dia mengangguk saja. “Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu sarapan dulu ya?”
“Aku buru-buru dan sedang ditunggu. Jangan khawatir, aku bisa sarapan di jalan saja.”
Gara mencium kening Mia dan berkata lembut, “Aku menyayangimu. Jaga diri baik-baik dirumah. Tunggu aku pulang ya?”
Mia tersipu malu. Selama menikah, baru kali ini Gara berkata demikian padanya. Mia hanya mengangguk.
“Oh iya. Aku menaruh uang dibawah bantalku. Berikan sebagian pada ibu untuk belanja dapur, sisanya untuk keperluan kamu.”
“Eh iya, terima kasih”
Gara mengangguk dan melangkah keluar, Mia mengantar sampai ke depan.
Seperti biasanya , Gara akan menggunakan motor butut miliknya yang ia parkir di samping mobil mewah milik Farhan.
Saat ini kebetulan Farhan juga keluar untuk bekerja di antar oleh istrinya.
Melihat Gara mengambil motor, Silvia berkata dengan nada cukup keras. “Heh, awas motor butut kamu mengenai mobil suamiku! Kalau sampai lecet, kamu tidak akan bisa mengganti rugi!”
Gara tidak menjawab, segera mendorong motornya ke belakang, dengan sabar menunggu Farhan mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu.
Setelah mobil kakak ipar Mia itu pergi, Gara menghidupkan motornya, dia menoleh dulu pada Mia yang menunggu untuk melambaikan tangan.
Silvia kembali berkata lagi dengan suara keras. "Cepat pergi! Suara Motor butut kamu itu bisa merusak pendengaranku. Belum lagi asapnya, bisa membuat paru-paru sakit!”
Suara motor Gara memang sangat berisik. Belum lagi asap knalpotnya yang keluar sangat banyak dan hitam. Mungkin karena sudah lama tidak diganti oli.
“Sudah, cepat berangkat. Hati-hati dijalan.” Mia berkata pada Gara , dia benar-benar tidak enak dengan ucapan kasar kakaknya.
Setelah melihat suaminya pergi, dia kembali ke dalam.
“Mia, kamu bantu ibu bikin kue untuk acara Dinda. Biar tidak terlalu banyak pengeluaran.” Rita berkata pada Mia.
Acara pernikahan Dinda memang akan digelar Minggu besok, jadi hari ini mereka sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Aku mau mencuci baju suamiku dulu, Bu. Suruh kak Silvia dulu yang bantu, sepertinya dia sedang menganggur." Mia menjawab Karena melihat Silvia sedang duduk saja sampai bermain ponsel.
Mendengar Mia berkata seperti itu, Silvia marah. “Aku bukan menganggur, sedang memilih dekorasi untuk pelaminan Dinda. Kamu saja yang membantu ibu. Mencuci baju nanti sore saja, kan?”
“Nggak bisa. Baju suamiku cuma sedikit. Kalau dicuci nanti sore, dia tidak akan punya ganti.”
“Ya ampun, Mia! Kenapa suamimu bisa semiskin itu sih? Bukannya bisa menyenangkan kamu, malah merepotkan saja. Benar-benar deh nasib kamu itu, sangat tidak beruntung mendapatkan suami.” Sindir Silvia.
Mia tidak ingin memperdulikan sindiran kakaknya, dia memilih cepat pergi sana untuk mencuci pakaian Gara.
Setelah selesai, Mia merasa lapar. Tapi baru saja dia membuka tudung saji, ibu menepis tangannya dengan kasar.
“Kamu mau apa?”
“Sarapan, Bu. Aku sudah lapar.”
“Tidak bisa! Kamu belum bekerja, tidak ada makanan untuk kamu.”
"Bu, aku sedang tidak enak badan. Tapi tadi pagi sebelum berangkat, suamiku sudah menyapu dan mengepel lantai untuk menggantikan pekerjaanku.”
“Itu Gara! Pokoknya, kamu bantu ibu dulu baru makan! Kalau kamu nggak mau, jangan makan masakan ini!"
Hati Mia merasa sangat sakit mendengar perkataan ibunya.
Ibunya memang seperti itu dari dulu, tidak pernah sedikitpun lembut atau memberi perhatian padanya.
Dia berpikir setelah menikah, ibunya akan berubah. Apalagi Gara sudah memberi patungan biaya hidup di rumah ini, juga untuk pengobatan rutin ayahnya.
Kadang Mia berpikir kalau dia bukan anak yang dilahirkan wanita ini. Dia dibedakan. Ibu sangat menyayangi Kakak dan adiknya tapi tidak menyayanginya.
Mia terdiam.
"Kenapa? Nggak punya uang, kan? Makanya, kalau mau kenyang jangan membantah!" Seru Ibu.
"Jelas dia tidak punya uang, Bu .Suaminya saja pekerjaannya tidak jelas! Mana bisa memberinya uang untuk makan?” Sindir Silvia.
Mia merasa dadanya begitu sesak. Dia hampir menangis. Kemudian memilih pergi ke kamar meninggalkan mereka yang terus menghinanya.
Mia menangis di kamar. Kenapa ibunya sangat tidak menyukainya. Sebenarnya, apa salahnya?
Apa karena suaminya miskin? Tidak seperti suami Silvia yang bekerja di kantoran? Bukan seperti Calon suami Dinda yang seorang Pengusaha?
Kadang kala, Mia ingin mengajak Gara untuk keluar dari rumah ini. Tapi dia takut Gara tidak memiliki uang untuk menyewa rumah kontrakan.
Mia termenung, mengusap perutnya yang terasa perih.
Dia teringat sesuatu, lalu segera membuka bantal yang biasa untuk tidur suaminya.
Ada sebuah amplop coklat disana. Mia mengambil dan membukanya.
Mia terkejut saat menghitungnya jumlah uang di dalamnya.
Ini banyak sekali?
Mia sampai berkali-kali menghitungnya. Ada Lima juta.
Dia belum pernah memegang uang sebanyak ini selama hidupnya.
Mia langsung banyak pikiran. Dia cepat mencari ponselnya.
“Aduh, mana ponsel?” Dia kebingungan. Lalu menepuk keningnya sendiri. Ponsel ada disamping dia duduk, tapi dia sudah mencari kemana-mana.
Awalnya dia ingin menghubungi suaminya, tapi dia melihat ada pesan chat dari Gara.
"Uang itu untuk kamu belanja, Mia. Jangan ditabung.”
Mia tersenyum membaca pesan itu. Kebiasaan Gara memang selalu begitu. Setiap memberinya uang mengingatkan untuk jangan menabungnya.
Gara selalu mengatakannya jika uang itu khusus untuk dirinya, masalah menabung itu sudah menjadi urusannya. Mia tidak boleh khawatir.
Mia masih memegang erat uang itu, dia teringat perkataan ibunya yang meminta semua orang dalam rumah ini patungan untuk pesta Dinda. Jika dia tidak bisa memberi uang patungan, Mia khawatir ibu akan semakin menghina suaminya.
Dia langsung membalas pesan suaminya.
“Ibu kan meminta kita untuk patungan, uang ini aku berikan ibu saja ya?”
Tidak lama kemudian ada balasan dari Gara. “Tadi, aku sudah memberi uang patungan pada Ayah. Uang itu untuk kamu saja, untuk beli makanan atau jajan. Baju untuk pesta dan perhiasan nanti kita beli setelah aku pulang. Uangnya sudah ada padaku. Jangan khawatir.”
Hah! Apa? Mia terkejut lagi.
“Gara sudah memberi uang patungan? Uang ini untuk aku? Terus, Gara nanti mau membeli baju pesta dan perhiasan?”
Yang benar saja?
Pikiran Mia langsung linglung. Dari mana suaminya mempunyai uang sebanyak itu?
Apa dia habis gajian?
“Oh! Mungkin saja seperti itu.”
Tapi, ada yang tidak masuk akal.
Mia mencoba menghitung perkiraan uang yang dimiliki suaminya saat ini. Lima juta di tangannya, lima juta di tangan ayahnya. Lalu yang saat ini ada ditangan Gara?
Apa mungkin gaji suaminya lebih dari perkiraannya?
Mia merasa pusing karena kebanyakan menebak, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Notifikasi pesan dari Gara kembali masuk. Beberapa foto baju pesta dan perhiasan emas berlian dikirim oleh Gara.
“Mia, kamu pilih yang mana?”
Apa? Suaminya mau membeli baju pesta dan perhiasan semahal itu?
Mia segara mengetik balasan, “Kamu mau beli itu? Itu sangat mahal harganya.”
Bab 6
. Sedang di kantor Bos?
Sambil menunggu balasan dari Gara, Mia turun menemui ibunya. Dia meletakan uang satu juta di atas meja.
“Ini untuk ibu belanja keperluan dapur.” Hanya berkata seperti itu saja lalu dia membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Kedua mata Rita melebar melihat uang, kemudian dengan cepat mengambilnya. “Coba kamu pengertian seperti ini setiap hari, tidak harus kena marah dulu baru keluar uangnya.”
Silvia melihat, dia mendekat dan berkomentar, “Tumben Mia punya uang.”
“Mungkin saja suaminya baru dapat gajian. Biarkan saja, yang penting mereka bisa membantu kebutuhan dapur. Bukan hanya makan dan minum gratis, bisanya.”
Mia masih mendengar ucapan mereka, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu suaminya juga sudah memberi uang patungan, tapi itu sepertinya tidak dihitung oleh ibunya.
Padahal Silvia hanya akan memberi uang patungan belanja satu bulan sekali setelah suaminya gajian, sementara Dinda selama ini malah tidak pernah memberi uang patungan.
Tapi menurut ibunya itu hal wajar, Dinda masih single. Tidak ada yang membantunya mencari uang.
Jika dipikir-pikir, apa bedanya dengan dirinya dulu sebelum menikah? Mia harus tetap memberi uang patungan, padahal dia hanya bekerja membantu ibu mengantar kue pesanan. Uang bonus dari pelanggan yang ia kumpulkan akan diminta juga oleh ibu dengan alasan untuk uang patungan.
Rita tidak pernah memberinya upah, dia tidak bisa membeli baju baru atau sekedar skincare seperti kakak dan adiknya.
Hari ini Mia benar-benar tidak ingin bertemu ibu dan kakaknya, dia sangat malas. Hanya berdiam diri dikamar dan tidak ingin keluar meskipun merasa lapar. Untung saja makanan semalam masih ada sisa. Mia memakannya saja.
Sambil melirik ponselnya, menunggu balasan dari Gara.
“Kemana Gara? Kok lama balas pesan?”
Baru saja bergumam, ponselnya bergetar. Balasan dari Gara muncul.
“Jadi pilih yang mana?”
Mia segera membalas, “Kamu sudah membelinya atau belum?”
“Belum. Kamu pilih dulu yang mana, baru nanti aku beli sebelum pulang.”
“Kalau begitu tidak perlu. Mereka sudah memesan baju couple untuk keluarga besar. Kita jangan beli sendiri, takutnya tidak sama dengan mereka. Nanti Dinda malah marah.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu kamu pilih perhiasannya saja.”
Mia merasa tidak sabar untuk mengetik pesan, dia ingin menelpon saja. Kemudian menekan tombol panggilan video.
Beberapa saat memanggil, Gara tidak mengangkat panggilannya. Malah mengirim pesan lagi.
"Jangan Vc dulu, aku sedang di kantor Bos."
Di kantor bos?
Mia membalas, "Sebentar saja."
Entah kenapa Mia jadi sangat penasaran dengan kantor Bos yang dikatakan Gara. Gara kan sedang keluar Kota? Kok jadi di kantor Bos? Sejak kapan seorang kuli bisa masuk kantor Bos?
Mia semakin penasaran, lalu kembali melakukan panggilan Video meskipun Gara lagi-lagi merijeknya.
Mia terus mengulangi, sampai akhirnya Gara mengangkatnya juga.
“Sudah dibilang, jangan vc dulu. Masih ada tamu disini, tidak enak.” Suara Gara terdengar, tapi sepertinya Gara mengarahkan kamera ke belakang.
Mia dapat melihat dengan jelas, disana ada seorang wanita cantik dan dua pria tampan yang mengenakan setelan jas kantoran.
Tapi, Mia lebih tertarik dengan tempat itu. Seperti ruangan yang cukup besar dan rapi.
“Kamu tidak percaya kalau masih ada tamu?” Sekarang wajah Gara terlihat karena dia sudah mengembalikan kamera depannya.
Mia tercengang. Baru tadi pagi dia berpisah dengan suaminya, tapi seperti ada yang lain pada Gara. Apa ya?
Mia memperhatikan Gara.
Gara terlihat menoleh pada orang-orang di depannya.
“Rapat sepertinya sudah cukup, kalian boleh pergi.”
“Baik, kalau begitu kami permisi. Terima kasih atas waktunya, Tuan.”
Gara sekarang kembali pada Mia, “Istriku tersayang, ada apa? Apa sudah kangen?” Gara menggoda Mia.
"Gara, memang mereka siapa? Kenapa memanggilmu, Tuan?" Mia langsung bertanya karena sempat mendengar mereka tadi memanggil Gara.
"Eh, itu. Em, mereka tamu perusahaan. Disini memang begitu, memanggil tuan sudah hal biasa.”
"Tamu perusahaan? Kok bisa kamu yang nemuin?" Mia semakin penasaran.
"Karena aku di suruh bos. Jadi aku tidak bisa membantah."
Mia bisa mendengar suara Gara kali ini sedikit gugup.
Dia juga merasa aneh. Gara hanya seorang kuli, mana mungkin sampai disuruh menemui tamu perusahaan? Apalagi melihat pakaian mereka tadi, sepertinya bukan orang sembarangan.
Belum sempat dia bertanya hal itu, dia sudah kembali terkejut saat menyadari baju yang sedang dipakai suaminya sekarang.
Kemeja berwarna putih, yang lengannya digulung sampai ke siku. Terlihat ada dasi yang melilit di lehernya.
“Gara, itu baju kamu?”
"Oh, iya. Ini tadi disuruh bos untuk ganti baju ini.” Gara cepat menjawab.
“Mia, sudah dulu ya? Pekerjaanku belum beres. Aku harus segera menyelesaikan biar tidak perlu menginap. Aku sudah sangat merindukan kamu. Sepertinya tidak kuat kalau sampai menginap.”
"Iya.. tapi,"
"Urusan baju, terserah kamu saja. Kalau sudah pesan ya sudah. Nanti kita tinggal beli perhiasannya saja. I love You, Mia."
"Gara,”
Gara sudah mematikan panggilan sebelum Mia sempat berbicara lagi.
Mia terbengong.
Bukankah seorang bos punya seorang sekretaris? Atau minimal seorang Asisten?
Kenapa harus suaminya yang disuruh?