Bab 1
. Menikah malam itu juga
Saat ini, Mia terlihat sedang gelisah. Dia dituntut agar segera menikah oleh ibunya karena sang adik akan menikah dan tidak ingin melangkahinya.
“Pokoknya ibu tidak mau tahu, cepat kamu cari pria yang mau menikahimu. Siapapun itu terserah. Dinda akan segera menikah. Calon suaminya bukan sembarang orang. Dinda tidak mau melangkahimu. Jadi jangan membuatnya malu.”
Kedua mata bulat itu mengerjap beberapa kali. Perlahan Mia mendongak, jari-jemarinya saling bertautan dan meremas satu sama lain. Dia menatap Rita, wanita ini adalah orang yang telah melahirkannya tetapi kurang mengasihinya.
“Tapi Bu,” suara Mia tercekat di tenggorokan, terpotong oleh suara ibunya yang kembali berkata, “Tidak ada tapi-tapian. Cari sendiri, atau ibu yang akan mencarikan calon suami untuk kamu.”
Permintaan ibu membuat Mia kebingungan, dia sama sekali tidak punya pacar, bahkan kenalan seorang pria pun tidak ada. Selama ini ruang geraknya dibatasi, dia hanya tinggal di dalam rumah membantu ibunya membuat kue dan membereskan pekerjaan rumah. Sesekali dia akan keluar hanya untuk mengantar pesanan.
Jika adik dan kakaknya bersekolah tinggi dan bebas bergaul di luar rumah, tapi dia tidak. Mia hanya sebatas sekolah menengah pertama, setelah itu dia hanya diperbolehkan di rumah saja.
Bagaimana dia akan mendapatkan calon suami?
Mia hidup di keluarga kandung yang tidak harmonis. Ibunya memang tidak suka padanya, meskipun bisa dibilang jika alasan Rita tidak masuk akal. Hanya karena dia lahir sepuluh bulan setelah kakaknya. Itu membuat Rita merasa kehadirannya telah merusak kebahagiaannya dan putri pertamanya.
Semua pekerjaan rumah, Mia yang harus menyelesaikan. Dia juga harus membantu ibunya membuat kue lalu mengantarnya kepada toko langganan dan rumah makan tanpa uang upah. Balasannya yang diterima Mia hanya sepiring nasi dan sepotong sosis. Jika dia berani protes, maka, besok sepotong sosis itu akan berganti dengan sesendok kecap saja.
Mia tidak akan berani mencari kesalahan sedikitpun demi bisa bertahan hidup di dalam rumah ini.
Wibowo sesekali akan menyelinap ke kamarnya. Pria separuh baya itu dengan lembut akan menyenggol bahunya sekitar tengah malam. Lalu menempelkan jarinya tepat pada bibirnya.
"Sttttt." Kemudian dengan hati-hati Wibowo akan mengeluarkan sepotong roti panggang atau satu apel merah yang cukup besar dari balik kaosnya.
"Makanlah disini saja. Jangan keluar kamar."
Sang ayah juga akan sesekali mencegatnya saat dia pulang dari pasar.
"Buat jajan kamu ya. Jangan sampai ibu tahu." Ayahnya akan memberi satu lembar uang jajan untuk dirinya.
Mia sering menangis sendirian. Beratnya hidup yang harus tetap dijalani. Tetapi dia masih merasa bersyukur saat menatap punggung yang mulai tidak kekar lagi itu melangkah menjauh.
Ada sang ayah yang menyayanginya dalam diam. Jika tidak, mungkin Mia tidak akan tumbuh sebaik ini.
“Mia, apa kamu masih belum mendapatkan calon suami?” Siang ini Rita bertanya padanya saat mereka sedang menata kue pesanan.
Mia tidak berani menatap ibunya, karena sejauh ini dia belum berhasil mendapatkan pria yang mau menikahinya. Dengan ragu-ragu dia menggeleng.
Rita menarik nafas berat, memberi tanda jika dia telah kecewa.
“Kamu ini benar-benar tidak berguna. Seharusnya kamu berusaha lebih keras lagi! Kurang dari dua bulan lagi Dinda akan menikah, dia akan marah kalau kamu belum juga menikah.”
Mia tidak bisa menjawab apapun. Baginya mencari calon suami memang sangat sulit. Apalagi dia bukanlah gadis yang cantik dan berpendidikan. Dia juga tidak pandai dalam berbaur di luar rumah.
“Sepertinya ibu harus turun tangan sendiri. Jika menunggu Mia, kapan? Ibu kan tahu, kalau Mia itu kurang pergaulan, bagaimana dia bisa mendapatkan suami?” Suara Silvia yang baru masuk ke dalam dapur terdengar lebih seperti ejekan.
Rita menoleh, mengangguk kepada anak pertamanya itu. “Kamu benar, Silvia.”
Kemudian Rita berkata lagi pada Mia, “Baiklah, ibu yang akan mencarikan calon suami untuk kamu. Kamu tidak perlu repot-repot lagi. Sana, antar pesanan ini. Orangnya sudah menunggu.” Rita menyodorkan beberapa kotak kue pada Mia.
Mia hanya mengangguk, menerima empat kotak kue lalu pergi ke tempat yang dimaksud ibunya untuk mengantar pesanan.
Mungkin karena pikiran Mia sedang kacau, dia tidak fokus pada jalan. Saat dia akan masuk restoran tujuannya, dia menabrak seorang pria yang juga akan masuk ke sana.
Kotak di tangannya terjatuh. “Maaf, Tuan. Maaf. Aku tidak sengaja.” Mia berjongkok, ingin mengambil kotak itu. Tapi pria itu sudah duluan mengambil kontak roti dan mengulurkan padanya.
“Lain kali hati-hati. Jika tidak, Roti kamu bisa rusak.”
“Iya, terima kasih.” Mia menerima kotak roti dari tangan pria itu. Tapi dia menunduk, tidak berani melihat wajah pria baik yang tidak marah dengan kecerobohannya itu. Dia hanya sempat melihat dua pasang sepatu mengkilap berwarna hitam saja.
Mia cepat-cepat berjalan masuk untuk mengantar pesanan pada pemilik Restoran. Pria itu juga masuk, dan memilih bangku untuk duduk.
Pria itu terus melihat ke arah Mia, sampai Mia merasa takut dan ingin cepat-cepat keluar dari restoran itu.
Dari luar, seorang pemuda berlari terburu-buru untukmu menghampiri pria tadi.
“Tuan, Nona Cesil menelpon, dia akan datang lebih terlambat. Katanya jalanan macet.”
Pria itu mendengus, “Aku paling malas dengan orang yang punya banyak alasan. Katakan padanya untuk tidak perlu datang.”
Pemuda itu melotot, “Tapi Tuan, Tuan besar sudah sangat,”
Pria itu segera memotong ucapannya, “Aku ada pekerjaan penting untukmu. Selidik wanita itu.”
“Apa?” Pemuda itu mengikuti tatapan tuannya. Dia baru menyadari jika tatapan Tuannya tertuju pada seorang wanita yang sudah melangkah keluar dari Restoran.
Tuan Gara ingin menyelidiki seorang wanita? Sungguh ini berita menyenangkan!
“Baik. Akan segera aku lakukan.”
***
Pada Minggu kedua setelah Mia menabrak pria di restoran itu, datang seorang pria berpakaian lusuh dengan mengendarai motor butut ke rumah .Pria itu menemui kedua orang tuanya.
Rupanya, pria itu datang untuk melamar Mia. Mendengar itu Rita langsung berwajah ceria dan segera berkata pada suaminya.
“Kita terima saja, Pak. Lagian Mia memang harus cepat menikah. Kasihan Dinda, dia malu kalau sampai melangkahi kakaknya.”
“Tapi semua keputusan tergantung pada Mia sendiri. Apa dia bersedia atau tidak. Kita tidak bisa memaksa.”
Rita berdiri, menarik tangan Mia untuk ke belakang. “Ikut ibu sebentar.”
Rita membawa Mia ke kamar, kemudian dia berkata, “Kamu nikah saja sama pria itu. Daripada nanti ibu terima lamaran pak Anton. Memang kamu mau menjadi istri ketiga pak Anton, enggak kan?”
“Kalau pria itu sepertinya jauh lebih baik, meskipun miskin tapi dia masih single.”
Hati Mia langsung berdenyut. Ada rasa perih yang teramat sangat dirasakannya. Sepertinya keberadaannya di rumah ini sangat tidak senangi, sampai dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk menentukan hidupnya sendiri.
Mia terdiam karena memang dia tidak punya jawaban. Walaupun dia menolak, ibunya pasti akan menikahkan dia dengan pak Anton yang sudah memiliki dua istri. Dia akan menjadi istri ketiga, itu pasti akan lebih buruk.
“Sudah sana kamu ke depan. Bilang saja kalau kamu bersedia.” Rita mendorong punggung Mia.
Mia berjalan perlahan lalu duduk di samping ayahnya, dihadapan pria yang ingin melamar Mia.
"Aku Gara, dan ingin menikah denganmu, Mia."
Mia menatap pria yang melamarnya di hadapannya, lalu menunduk, dia smaa sekali tidak mengucapkan jawaban. Kedua tangannya memilin ujung baju untuk mengusir rasa gemetaran yang tiba-tiba menyerang kedua lututnya.
Wibowo menatapnya penuh kecemasan, dia tahu jika putrinya ini kurang setuju. Lalu terdengar Wibowo berkata. “Mia, kalau kamu keberatan jangan memaksakan diri Menikah itu bukan untuk coba-coba, harus dengan niat dari hatimu sendiri.”
Rita buru-buru menyela ucapan suaminya, “Mia sudah setuju. Tadi dia bilang begitu.”
Kemudian Rita menoleh pada calon pria yang duduk di hadapan mereka itu dan berkata, “Kalau kamu memang serius ingin menikah dengan putriku, nikah saja malam ini. Tidak perlu sibuk menyiapkan apapun. Kami yang akan menyiapkan segala sesuatunya.”
Pria itu terlihat mengerutkan keningnya penuh tanda tanya. Meskipun dia ingin menikah tapi jika malam ini dia sama sekali belum ada persiapan. Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan buru-buru seperti ini?
Rita mengatakan akan menikahkan Mia dengan pria lain jika dia tidak mau menikahi putrinya malam ini.
Gara sudah berada disini, dia harus berhasil menikahi gadis ini demi permintaan terakhir kakeknya, jadi dia pun menuruti permintaan wanita ini.
Tanpa persiapan apapun, pada akhirnya mereka menikah malam ini juga.
Bab 2
. Dianggap seperti pembantu
Setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, Wibowo meminta Gara tinggal disini dulu untuk sementara waktu.
“Ajak suami kamu ke kamar dulu, mungkin dia ingin istirahat.” kata Wibowo pada Mia.
Mia mengangguk patuh, dia pun mengajak pria yang sudah menjadi suaminya itu ke kamar.
“Mari.” Lalu Mia melangkah dahulu diikuti oleh Gara.
Mia membuka pintu kamar, mengajak Gara untuk masuk kedalam.
Kamarnya ini memang sangat sempit. Hanya berisi dipan kecil dengan kasur yang sudah mengeras. Ada lemari kayu usang yang beberapa bagiannya sudah dimakan rayap.
Mia melihat Gara masih berdiri disana. Temperamental Pria itu terlihat sangat baik, begitu tenang. Sementara Mia justru sangat canggung dan merasa gugup.
Dia juga melihat bahwa penampilan Gara sangat sederhana, tapi wajahnya sangat tampan dan kulitnya juga putih.
Mia jadi berpikir jika nasibnya tidak akan terlalu buruk menikah dengan pria ini daripada dia harus menjadi istri ketiga Pak Anton.
“Begini kamarku. Tapi aku tidak yakin kamu akan betah.”
Pria itu mengulas senyuman tipis, “Tidak masalah bagaimanapun keadaannya, aku pasti akan betah karena tinggal bersama Istriku.”
Mia mengerutkan keningnya. Didengar dari nada bicaranya, sepertinya pria ini sama sekali tidak menganggap dirinya asing. “Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Mia bertanya seperti itu.
Gara mengangguk kecil, “Tentu saja kita pernah bertemu. Aku tidak mungkin sembarangan melamar seorang wanita yang belum aku ketahui sebelumnya. Jadi aku sudah pernah melihatmu sebelum ini. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu di dalam keluargamu ini.”
Mia menautkan kedua alisnya. “Dimana kita pernah bertemu?” Dia mencoba mengingat-ngingat, mungkin saja ada yang terlupa selama ini.
Gara lagi-lagi tersenyum kecil. “Pasti kamu tidak mengingatnya. Pada saat itu aku melihatmu, tapi kamu tidak melihatku.”
Mia memang tidak bisa mengingat suatu momen. Kemudian dia beranggapan jika mungkin kabar tentang ibunya yang sedang mencarikan jodoh untuk dirinya sudah menyebar kemana-mana dan sampai pria ini mendengarnya lalu datang untuk melamarnya.
“Baiklah, tidak masalah apakah kita pernah bertemu atau tidak sebelum ini. Sekarang, sebaiknya kamu mandi dulu.’
“Aku sudah mandi di tempat kerja. Aku ingin istirahat saja. Boleh kan, jika aku tidur disini?” Gara menepuk kasur keras yang sudah didudukinya.
Mia tentu tidak bisa merasa keberatan. Pria ini sudah menjadi suaminya. Dia mengangguk kecil, “Istirahat saja. Aku ingin mandi dulu.”
Baru saja dia membalikkan badan untuk ke kamar mandi, Gara memanggilnya.
“Mia.”
“Ada apa?” Mia menoleh, menatap kedua mata pekat pria itu.
“Apa kamu tidak suka dengan pernikahan kita? Kalau kamu tidak suka, bilang saja. Aku tahu kamu hanya terpaksa karena tuntutan keluarga kamu, kan?” Pertanyaan Gara ini lebih seperti sebuah pilihan untuk dirinya. Tapi untuk apa dia harus memilih jika sekarang? Sedangkan pernikahan mereka telah sah tercatat di departemen agama.
Mia tertegun beberapa saat. Meskipun dia memang lumayan tidak menyukai pernikahan ini, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia sudah resmi menjadi istri pria yang sedang duduk di tempat tidurnya itu.
“Meskipun aku tidak suka, tapi kurasa ini lebih baik. Siapa tahu setelah menikah, mereka tidak akan membenciku lagi.”
Gara menautkan kedua alisnya, tatapannya kali ini penuh rasa penasaran.“Kenapa mereka membencimu?”
Sesaat Mia terdiam, rasanya tidak pantas jika dia tiba-tiba bercerai tentang kesedihannya? Mereka baru saja menikah. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
“Lupakan saja. Baiklah, aku mandi dulu. Kamu tidur saja.” Mia melangkah ke kamar mandi.
Gara menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu. Banyak hal yang pasti terjadi dalam hidup wanita yang sudah dinikahinya itu.
Baiklah, dia akan melihatnya sendiri nanti.
Gara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kasur ini lumayan keras dan tidak nyaman untuk dirinya.
Saat Mia keluar dari kamar mandi, dia melihat Gara sudah terlelap. Dia menatap pria itu sedikit lebih dekat sekarang.
Semakin dilihat, pria itu terlihat semakin tampan. Rambutnya sedikit panjang dan diikat dengan karet ke belakang.
Mia mencoba mengingat, apakah benar pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. Tapi sepertinya memang belum pernah.
Malam sudah larut, Mia bingung mau tidur dimana.
Lantai kamarnya ini sangat sempit jika harus tidur dibawah, tidak ada sofa yang tersedia juga.
Dengan hati-hati dan ragu, dia naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan diri di samping Gara.
Gara menggeliat, dia membuka matanya perlahan. Awalnya dia linglung sebentar, tapi segera sadar jika saat ini dia sedang berada dikamar Mia. Dia bangun, melirik jam dinding. Ini masih sekitar pukul 4 pagi.
Gara merasa tubuhnya ngilu-ngilu. Punggungnya juga sedikit sakit. Mungkin karena tempat tidur yang ditidurinya semalam sangat keras. Tubuhnya belum terbiasa.
Dia menoleh ke samping, dia tidak lagi melihat Mia disampingnya. Tengah malam tadi dia sempat terbangun, dia melihat Mia tidur meringkuk di sebelahnya.
Gara menoleh ke kamar mandi. Pintunya sedikit terbuka menandakan tidak orang di dalamnya.
Padahal ini masih sangat pagi, lalu kemana dia pergi?
Lalu Gara turun dari tempat tidur, dia membasuh muka terlebih dahulu kemudian melangkah keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Begitu Gara turun, dia melihat istrinya sedang membungkuk di ruang tamu. Ada kain pel di tangan kirinya. Gara tertegun melihat itu kemudian menghampiri.
“Kenapa harus pagi-pagi sekali kamu sudah mengepel lantai?”
Mia terkejut dan menoleh. Dia melihat pria itu sudah berdiri di dekatnya.
“Kamu sudah bangun? Ini masih sangat pagi, kembalilah tidur. Kalau aku, memang harus begini. Sebelum mereka bangun, semua pekerjaan rumah harus sudah beres.”
Gara menatap punggung Mia yang melangkah ke arah dapur. Dia mengabaikan perintah Mia tadi dan mengikuti istrinya itu.
Dari tempat dia berdiri sekarang, Gara bisa melihat bagaimana kesibukan gadis itu. Dimulai dari membereskan meja makan yang berantakan, menumpuk cucian piring dan mencuci semuanya.
Setelah semua pekerjaan itu beres, Mia masih harus memasak sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Lalu pergi ke belakang untuk mencuci baju seluruh penghuni rumah ini.
Sementara orang-orang di dalam rumah ini masih terbuai mimpi dalam selimutnya masing-masing.
Bukan sehari dua hari ini saja Gara melihat kegiatan istrinya di rumah ini, begitu juga perlakuan mereka pada Mia. Bisa dibilang Mia diperlakukan lebih seperti pembantu oleh keluarganya sendiri.
Dada Gara terasa sesak rasanya, dia merasa tidak tega. Pada suatu hari ketika dia melihat Mia dengan setumpuk pekerjaan dia berinisiatif untuk membantu.
“Biar aku bantu ya?” Dia mengambil sapu dari tangan istrinya.
Mia menoleh, “Eh, pergilah mandi dan berkemas. Nanti kamu bisa kesiangan. Bukankah kamu harus berangkat bekerja?”
“Tidak apa-apa. Aku akan berangkat setelah semua pekerjaanmu beres.”
Mia menjadi terharu, selama ini selain ayahnya, tidak ada yang peduli lagi padanya. Ayahnya sekarang sudah mulai sakit-sakitan dan hanya bisa berdiam di dalam kamar, tidak bisa lagi membela atau melindungi dirinya lagi.
Pria ini, semakin hari semakin menunjukkan perhatian padanya.
“Terima kasih.” Mia mengucapkan kata itu dibalas senyuman Gara yang bisa menenangkan hatinya.
“Tidak masalah, karena kamu istriku. Sudah kewajibanku untuk membantumu.”
Mendengar ucapan Gara, angan Mia seakan melambung, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Gara. Meskipun pertemuan mereka sangat singkat dan menikah secara mendadak sekali.
Satu bulan setelah pernikahan, mereka sama-sama merasa cocok, lalu berjanji untuk saling menerima satu sama lain.
Hanya saja, ada yang membuat Mia tetap bersedih. Pernikahannya ini tidak juga membawa dampak baik bagi dirinya di depan keluarganya. Mereka tetap membencinya. Apalagi asal usul Gara yang tidak jelas, itu semakin membuat Rita kesal pada Mia dan suaminya.
“Gara, kamu angkat semua barang belanjaan ini ke dapur, setelah itu kamu bereskan meja makan. Bawa semua cucian piring ke tempatnya.” Ini Perintah Rita saat Gara baru pulang dari kerja.
Gara mengiyakan perintah Bu Rita.
Mia melihat suaminya disuruh lagi oleh ibunya. Ibunya tidak segan menunjuk ini itu dan lainnya. Padahal suaminya itu baru saja mau duduk.
Sejak pulang dari kerja tadi suaminya belum sempat istirahat. Kopi yang dibuatnya sampai sudah dingin karena belum sempat disentuh oleh suaminya.
Rita terus menyuruh Gara. Bukan hanya ibunya saja, tapi Silvia sang kakak dan Farhan suami Silvia juga ikut menyuruh Gara.
Perasaan Mia mulai tidak enak. Rasanya dia tidak rela suaminya disuruh-suruh bahkan dianggap seperti pembantu dirumah orang tuanya sendiri.
Bukankah Gara juga adalah menantu laki-laki di rumah ini sama seperti Farhan? Seharusnya mereka bisa sedikit menghargainya. Tapi mereka malah memandang rendah suaminya.
Apa karena suaminya bukan orang kantoran seperti suami Silvia dan calon suami Dinda?
Tetapi tidak seharusnya mereka semena-mena memperlakukan suaminya seperti itu.
Bab 3
. Terus dihina
Kali ini Mia tidak dapat menahan diri lagi, dia bangun dan menghampiri Gara.
"Gara, ayo duduk. Diminum dulu kopinya.” Mia menarik tangan Gara dan membawanya duduk.
"Iya.” Gara menjawab dengan kelembutan, kemudian meminum kopi buatan istrinya.
Mia tersenyum padanya, lalu menyugar rambut Gara yang sangat berantakan.
"Setelah ini, kamu ke kamar saja. Mandi dan beristirahat. Sebentar lagi aku menyusul."
"Iya. Kalau begitu aku naik duluan ya?"
Tapi baru saja Gara bangun dari duduknya untuk naik ke kamar, Rita terdengar sudah memanggilnya lagi.
Gara berlari kecil menghampiri dengan patuh, “Iya, Bu. Ada apa?”
“Kamu cuci piring dulu. Lihat itu, sudah menumpuk.” Rita menunjuk tumpukan piring dan baskom yang lumayan banyak.
Mendengar itu, Mia benar-benar merasa kesal, dia langsung menghampiri dan berkata pada ibunya, "Bu, Gara itu dari pulang kerja belum beristirahat. Jangan disuruh lagi, biar dia beristirahat dulu. Aku saja nanti yang akan mencuci piring."
Rita melotot dan membalas dengan ketus, "Memangnya kenapa kalau Gara cuci piring? Apa ada yang salah?"
"Mencuci piring itu pekerjaan perempuan. Bisa kita saja nanti yang mengerjakan setelah selesai kue!"
"Itu bisa kemalaman. Kamu kerjakan kue itu sampai selesai. Pagi-pagi harus sudah siap diantar. Itu adalah kue pesanan terakhir karena Minggu depan kita sudah akan sibuk dengan urusan pesta untuk Dinda. Biarkan saja suamimu yang mencuci piring!" Rita berkata dengan nada tinggi sambil melirik Gara dengan cukup sinis.
"Sudah, tidak apa-apa, Mia. Aku bisa kalau hanya mencuci piring." Kata Gara, dia sudah mau melangkah ke dapur lagi.
Mia menahan tangannya suaminya.
“Sudah sana kamu ke atas saja. Mandi dan istirahat!"
Rita melotot kembali dan marah, "Suami kamu ini kerjanya juga paling cuma kuli bangunan atau serabutan. Cuci piring seharusnya tidak apa-apa. Lagian, kalian cuma numpang gratis disini. Jadi, anggap saja itu sebagai imbalannya!"
Mata Mia terbelalak, dia sama sekali tidak percaya jika ibunya bisa sampai berkata demikian didepan Gara tanpa memperdulikan perasaannya.
"Ibu! Jadi selama ini Ibu menganggap kami menumpang disini? Lalu Kak Farhan dan Kak Silvia bagaimana? Aku juga anak ibu!" Protes Mia.
"Tentu saja berbeda. Kakak ipar kamu itu bekerja kantoran! Dia paling banyak memberi uang patungan untuk biaya sehari-hari dirumah ini. Lihat suami kamu! Apa yang bisa dia berikan pada kita, hah? Cuma numpang makan, minum dan tidur gratis disini!"
Rita kembali menoleh pada Mia yang masih berdiri disitu, “Kupikir setelah kamu menikah akan mengurangi beban keluarga ini, tapi nyatanya malah menambah beban saja. Biarkan saja dia bekerja di dapur, untuk mengurangi kesibukan kamu juga.” Rita berkata lagi dengan nada rendah tapi penuh dengan sindiran.
Dada Mia penuh sesak rasanya.
Dia tidak terima ibunya terus-terusan menghina suaminya. Ini bukan sekali dua kali, tapi terjadi hampir setiap hari semenjak satu bulan yang lalu Gara menikahinya dan tinggal disini bersama mereka.
Kali ini Mia benar-benar ingin melawan ibunya, dia sudah melangkah maju. Tapi Gara menahan tangannya.
"Sudahlah, Mia. Jangan bertengkar dengan Ibu."
Mia hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian menarik tangan Gara agar mengikutinya ke kamar.
"Heh! Orang tua sedang bicara malah pergi! Dasar istri dan suami sama saja! Sama-sama tidak tahu diri!" Rita berteriak memaki mereka. Mia masih mendengar dan hampir memutar tubuhnya kembali, tapi Gara menahannya lagi dan menarik tubuhnya agar lebih cepat sampai di kamar.
Setelah melangkah masuk, Mia membanting pintu untuk meluapkan emosi.
Gara tahu istrinya sedang marah, tapi dia merasa terharu telah dibela oleh istrinya. Hatinya menjadi hangat. Dia mendekat dan berkata dengan lembut, “Mia, tidak boleh seperti itu.”
"Tapi ibu itu sudah keterlaluan! Tidak seharusnya dia begitu padamu!”
“Tetap tidak baik membicarakan ibunya sendiri seperti itu. Bagaimanapun juga, memang aku yang salah. Mungkin karena aku belum memberi uang patungan dirumah ini.”
"Tapi bukan berarti kamu harus dihina! Aku tidak rela. Kamu juga menantu di rumah ini. Dulu, ibu yang memaksa supaya aku menikah denganmu, tapi untuk apa kalau hanya untuk dihina. Aku ini anak kandungnya juga, kenapa harus dibeda-bedakan?"
"Sudah, sudah. Tidak usah dipikirkan lagi. Aku baik-baik saja. Yang penting kita bisa menyenangkan hati ibu. Itu akan mendapat pahala."
Mia tertegun, dia merasa heran. Hati suaminya ini terbuat dari apa? Kenapa bisa begitu sabar?
Padahal dia saja merasa sangat sakit dengan perlakuan ibu padanya. Jika hanya berlaku untuknya mungkin dia masih bisa menahan diri karena itu sudah biasa. Dari kecil hingga dia sebesar ini. Cacian dan hinaan sudah menjadi makanannya setiap hari.
Tapi ini suaminya, anggota baru dirumah ini. Mia merasa tidak enak hati pada Gara.
Memang diakui oleh Mia, dia sangat bersyukur bisa dinikahi oleh Gara. Bukan hanya tampan baginya tapi Gara sangat baik, lembut dan penyabar.
“Terima kasih ya, kamu sudah mau mengerti keadaan disini.” Mia memeluk suaminya.
“Iya. Percayalah, semua akan baik pada waktunya.” Gara membalas pelukan. Mia merasa nyaman, menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya.
Ada yang aneh. Bukankah suaminya hanya kerja sebagai seorang serabutan? Paling tidak, harusnya ada bau keringat atau matahari yang menempel di bajunya.
Mia menajamkan penciuman untuk kali ini.
Benar, tidak ada sama sekali. Hanya ada aroma parfum maskulin yang biasa dipakai Gara sebelum berangkat bekerja.
Mia tertegun beberapa saat, kemudian melepaskan pelukannya.
“Gara, setiap pulang dari kerja kenapa baju kamu selalu masih wangi? Apa saat bekerja, kamu berganti dengan baju lain?” Seperti itu tebakan Mia.
“Oh, i,iya. Aku ganti baju.” Gara menjawab dengan sedikit gugup.
“Terus, baju kotornya dimana? Apa kamu tinggal di tempat kerja?”
Gara mengerutkan alisnya, “Itu, iya. Aku mencucinya sekalian disana. Biar tidak membawa pulang baju kotor, kasihan istriku kalau harus mencuci baju kerjaku. Itu sangat kotor.”
“Oh,” Mia hanya mendengus. Kalau begitu memang masuk akal.
"Lain kali jangan terlalu menurut kalau mereka menyuruhmu seperti tadi. Tidak apa-apa melawan sedikit. Karena kamu juga menantu laki-laki di keluarga ini, seharusnya juga dihargai."
Gara hanya mengulas senyum saja kemudian mengambil handuk.
"Aku mandi dulu ya."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengambil makanan. Kita makan di kamar saja."
Gara cepat mencegah. Dia seperti sudah bisa menebak jika ibunya Mia akan marah lagi.
"Jangan, Mia. Nanti Ibu marah lagi. Kita bisa makan di dapur saja nanti."
“Karena itu sudah biasa, jadi tidak masalah bagiku.” Mia tetap keluar dari kamar menuju meja makan.
Benar apa yang dikatakan Gara, begitu melihat Mia mendekati meja makan, Ibu langsung menegur.
“Mau apa kamu?”
Mia menoleh, dengan memegang piring kosong di tangannya.
“Ambil makan untuk Gara, Bu. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa tidak makan disini saja? Makan di kamar itu tidak baik! Suruh saja dia makan disini. Kalau kalian keberatan, tidak perlu ada makan malam untuk kalian malam ini!”
Di ujung sana, Silvia berbicara dengan nada mengejek, "Suami miskin seperti itu saja kamu perhatikan secara berlebihan seperti itu, bagaimana kalau kamu punya suami seperti Mas Farhan atau seperti calon suaminya Dinda? Duh, bisa-bisa kamu tidak izinkan dia keluar dari kamar seharian.”
Tadinya Mia tidak ingin menghiraukan ocehan mereka, tapi lama kelamaan dia tidak tahan saat ibu dan kakaknya terus menghina suaminya.
Mia menaruh piring kosong yang belum diisi nasi itu kembali pada tempatnya.
"Kalau tidak boleh makan ya sudah! Tidak perlu menghina kami!” Mia kembali ke kamar tanpa membawa makanan.