Bab 3
. Terus dihina
Kali ini Mia tidak dapat menahan diri lagi, dia bangun dan menghampiri Gara.
"Gara, ayo duduk. Diminum dulu kopinya.” Mia menarik tangan Gara dan membawanya duduk.
"Iya.” Gara menjawab dengan kelembutan, kemudian meminum kopi buatan istrinya.
Mia tersenyum padanya, lalu menyugar rambut Gara yang sangat berantakan.
"Setelah ini, kamu ke kamar saja. Mandi dan beristirahat. Sebentar lagi aku menyusul."
"Iya. Kalau begitu aku naik duluan ya?"
Tapi baru saja Gara bangun dari duduknya untuk naik ke kamar, Rita terdengar sudah memanggilnya lagi.
Gara berlari kecil menghampiri dengan patuh, “Iya, Bu. Ada apa?”
“Kamu cuci piring dulu. Lihat itu, sudah menumpuk.” Rita menunjuk tumpukan piring dan baskom yang lumayan banyak.
Mendengar itu, Mia benar-benar merasa kesal, dia langsung menghampiri dan berkata pada ibunya, "Bu, Gara itu dari pulang kerja belum beristirahat. Jangan disuruh lagi, biar dia beristirahat dulu. Aku saja nanti yang akan mencuci piring."
Rita melotot dan membalas dengan ketus, "Memangnya kenapa kalau Gara cuci piring? Apa ada yang salah?"
"Mencuci piring itu pekerjaan perempuan. Bisa kita saja nanti yang mengerjakan setelah selesai kue!"
"Itu bisa kemalaman. Kamu kerjakan kue itu sampai selesai. Pagi-pagi harus sudah siap diantar. Itu adalah kue pesanan terakhir karena Minggu depan kita sudah akan sibuk dengan urusan pesta untuk Dinda. Biarkan saja suamimu yang mencuci piring!" Rita berkata dengan nada tinggi sambil melirik Gara dengan cukup sinis.
"Sudah, tidak apa-apa, Mia. Aku bisa kalau hanya mencuci piring." Kata Gara, dia sudah mau melangkah ke dapur lagi.
Mia menahan tangannya suaminya.
“Sudah sana kamu ke atas saja. Mandi dan istirahat!"
Rita melotot kembali dan marah, "Suami kamu ini kerjanya juga paling cuma kuli bangunan atau serabutan. Cuci piring seharusnya tidak apa-apa. Lagian, kalian cuma numpang gratis disini. Jadi, anggap saja itu sebagai imbalannya!"
Mata Mia terbelalak, dia sama sekali tidak percaya jika ibunya bisa sampai berkata demikian didepan Gara tanpa memperdulikan perasaannya.
"Ibu! Jadi selama ini Ibu menganggap kami menumpang disini? Lalu Kak Farhan dan Kak Silvia bagaimana? Aku juga anak ibu!" Protes Mia.
"Tentu saja berbeda. Kakak ipar kamu itu bekerja kantoran! Dia paling banyak memberi uang patungan untuk biaya sehari-hari dirumah ini. Lihat suami kamu! Apa yang bisa dia berikan pada kita, hah? Cuma numpang makan, minum dan tidur gratis disini!"
Rita kembali menoleh pada Mia yang masih berdiri disitu, “Kupikir setelah kamu menikah akan mengurangi beban keluarga ini, tapi nyatanya malah menambah beban saja. Biarkan saja dia bekerja di dapur, untuk mengurangi kesibukan kamu juga.” Rita berkata lagi dengan nada rendah tapi penuh dengan sindiran.
Dada Mia penuh sesak rasanya.
Dia tidak terima ibunya terus-terusan menghina suaminya. Ini bukan sekali dua kali, tapi terjadi hampir setiap hari semenjak satu bulan yang lalu Gara menikahinya dan tinggal disini bersama mereka.
Kali ini Mia benar-benar ingin melawan ibunya, dia sudah melangkah maju. Tapi Gara menahan tangannya.
"Sudahlah, Mia. Jangan bertengkar dengan Ibu."
Mia hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian menarik tangan Gara agar mengikutinya ke kamar.
"Heh! Orang tua sedang bicara malah pergi! Dasar istri dan suami sama saja! Sama-sama tidak tahu diri!" Rita berteriak memaki mereka. Mia masih mendengar dan hampir memutar tubuhnya kembali, tapi Gara menahannya lagi dan menarik tubuhnya agar lebih cepat sampai di kamar.
Setelah melangkah masuk, Mia membanting pintu untuk meluapkan emosi.
Gara tahu istrinya sedang marah, tapi dia merasa terharu telah dibela oleh istrinya. Hatinya menjadi hangat. Dia mendekat dan berkata dengan lembut, “Mia, tidak boleh seperti itu.”
"Tapi ibu itu sudah keterlaluan! Tidak seharusnya dia begitu padamu!”
“Tetap tidak baik membicarakan ibunya sendiri seperti itu. Bagaimanapun juga, memang aku yang salah. Mungkin karena aku belum memberi uang patungan dirumah ini.”
"Tapi bukan berarti kamu harus dihina! Aku tidak rela. Kamu juga menantu di rumah ini. Dulu, ibu yang memaksa supaya aku menikah denganmu, tapi untuk apa kalau hanya untuk dihina. Aku ini anak kandungnya juga, kenapa harus dibeda-bedakan?"
"Sudah, sudah. Tidak usah dipikirkan lagi. Aku baik-baik saja. Yang penting kita bisa menyenangkan hati ibu. Itu akan mendapat pahala."
Mia tertegun, dia merasa heran. Hati suaminya ini terbuat dari apa? Kenapa bisa begitu sabar?
Padahal dia saja merasa sangat sakit dengan perlakuan ibu padanya. Jika hanya berlaku untuknya mungkin dia masih bisa menahan diri karena itu sudah biasa. Dari kecil hingga dia sebesar ini. Cacian dan hinaan sudah menjadi makanannya setiap hari.
Tapi ini suaminya, anggota baru dirumah ini. Mia merasa tidak enak hati pada Gara.
Memang diakui oleh Mia, dia sangat bersyukur bisa dinikahi oleh Gara. Bukan hanya tampan baginya tapi Gara sangat baik, lembut dan penyabar.
“Terima kasih ya, kamu sudah mau mengerti keadaan disini.” Mia memeluk suaminya.
“Iya. Percayalah, semua akan baik pada waktunya.” Gara membalas pelukan. Mia merasa nyaman, menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya.
Ada yang aneh. Bukankah suaminya hanya kerja sebagai seorang serabutan? Paling tidak, harusnya ada bau keringat atau matahari yang menempel di bajunya.
Mia menajamkan penciuman untuk kali ini.
Benar, tidak ada sama sekali. Hanya ada aroma parfum maskulin yang biasa dipakai Gara sebelum berangkat bekerja.
Mia tertegun beberapa saat, kemudian melepaskan pelukannya.
“Gara, setiap pulang dari kerja kenapa baju kamu selalu masih wangi? Apa saat bekerja, kamu berganti dengan baju lain?” Seperti itu tebakan Mia.
“Oh, i,iya. Aku ganti baju.” Gara menjawab dengan sedikit gugup.
“Terus, baju kotornya dimana? Apa kamu tinggal di tempat kerja?”
Gara mengerutkan alisnya, “Itu, iya. Aku mencucinya sekalian disana. Biar tidak membawa pulang baju kotor, kasihan istriku kalau harus mencuci baju kerjaku. Itu sangat kotor.”
“Oh,” Mia hanya mendengus. Kalau begitu memang masuk akal.
"Lain kali jangan terlalu menurut kalau mereka menyuruhmu seperti tadi. Tidak apa-apa melawan sedikit. Karena kamu juga menantu laki-laki di keluarga ini, seharusnya juga dihargai."
Gara hanya mengulas senyum saja kemudian mengambil handuk.
"Aku mandi dulu ya."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengambil makanan. Kita makan di kamar saja."
Gara cepat mencegah. Dia seperti sudah bisa menebak jika ibunya Mia akan marah lagi.
"Jangan, Mia. Nanti Ibu marah lagi. Kita bisa makan di dapur saja nanti."
“Karena itu sudah biasa, jadi tidak masalah bagiku.” Mia tetap keluar dari kamar menuju meja makan.
Benar apa yang dikatakan Gara, begitu melihat Mia mendekati meja makan, Ibu langsung menegur.
“Mau apa kamu?”
Mia menoleh, dengan memegang piring kosong di tangannya.
“Ambil makan untuk Gara, Bu. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa tidak makan disini saja? Makan di kamar itu tidak baik! Suruh saja dia makan disini. Kalau kalian keberatan, tidak perlu ada makan malam untuk kalian malam ini!”
Di ujung sana, Silvia berbicara dengan nada mengejek, "Suami miskin seperti itu saja kamu perhatikan secara berlebihan seperti itu, bagaimana kalau kamu punya suami seperti Mas Farhan atau seperti calon suaminya Dinda? Duh, bisa-bisa kamu tidak izinkan dia keluar dari kamar seharian.”
Tadinya Mia tidak ingin menghiraukan ocehan mereka, tapi lama kelamaan dia tidak tahan saat ibu dan kakaknya terus menghina suaminya.
Mia menaruh piring kosong yang belum diisi nasi itu kembali pada tempatnya.
"Kalau tidak boleh makan ya sudah! Tidak perlu menghina kami!” Mia kembali ke kamar tanpa membawa makanan.
Bab 4
. Semakin penasaran.
Mia sudah kembali lagi ke kamar tanpa membawa makanan apapun. Dia melihat suaminya telah selesai mandi dan sedang memilih ganti.
Dada pria itu terlihat bidang dengan kulit yang mulus dan bahu yang kekar. Otot dan perutnya juga terbentuk seperti sengaja dirawat dengan olahraga gym yang teratur.
Mia sering merasa aneh, kenapa suaminya yang katanya hanya seorang kuli serabutan bisa memiliki tubuh yang indah dan kulit semulus itu?
Dia menatap kulitnya dan membandingkan. Benar-benar kalah.
Gara menyadari jika Mia sedang memperhatikannya. Dia tersenyum kecil dan mendekati, “Belum puas? Kenapa tidak memegangnya saja? Ini milikmu.” Gara mengambil tangan Mia dan menaruh di perutnya.
"Eh!” Mia tersipu malu, segera menarik tangannya.
Gara tertawa kecil melihat wajah memerah istrinya lalu kembali pada pakaian yang sudah ditemukan.
Kaos putih yang telah pudar warnanya, dengan celana pendek hitam yang juga telah pudar. Cuci kering pakai, mungkin itu yang membuat pakaian Gara tampak pudar.
Mia juga merasa aneh, suaminya ini hanya punya beberapa pakaian saja. Dia sudah sering menyuruh Gara membeli pakaian, tapi Gara selalu menolak dengan alasan, “Uangnya untuk keperluan kamu saja.”
Meskipun hanya berpakaian apa adanya seperti itu, menurutnya, pria itu tetap terlihat tampan. Atau mungkin karena dia sudah mulai menyukai pria ini?
"Mana makanannya?” Gara bertanya saat menyadari Mia tidak membawa apapun ke kamar.
Mia tidak menjawab, dia hanya memasang wajah murung dan duduk ditepi tempat tidur.
Gara tersenyum, sudah bisa mengerti apa yang terjadi. “Apa kubilang tadi?”
Mia mendengus kesal, lalu menatap suaminya dengan perasaan sedih. “Kamu masih kuat kan, sampai besok pagi?”
Gara tertegun, mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala istrinya. “Tentu saja, tapi bagaimana istriku ini? Kamu pasti belum makan, kan?”
Mia membalas dengan senyuman, “Aku kuat kok sampai besok, jangan khawatir.”
Gara merasa sedih, kemudian mengambil ponselnya dan mengulik sebentar.
“Aku memesan makanan, tunggu sebentar ya?”
Mia terkejut saat Gara mengulurkan uang padanya. “Eh, tidak usah. Untuk kamu berangkat kerja besok. Kalau tidak ada uang lagi bagaimana?”
“Masih ada, jangan khawatir.”
Dengan ragu-ragu Mia menerima uang itu.
Tanpa sengaja dia melihat ponsel yang sedang dipegang oleh suaminya.
Tunggu sebentar, ada yang mengganjal dalam pikirannya. “Gara, itu ponsel kamu?”
Gara mengangkat tangannya, memperhatikan ponsel miliknya.
“Iya, kenapa?”
Mia bukan perempuan yang terlalu bodoh, dia tahu jika ponsel itu adalah ponsel mewah pengeluaran terbaru.
“Ponselmu, kenapa sangat bagus? Kamu membelinya sendiri atau,’
Gara langsung sadar jika istrinya mulai mencurigainya, “Oh, ini pemberian bos. Apa kamu mau? Aku bisa meminta bos untuk membelikan kamu juga. Bos ku sangat baik.”
“Eh, tidak perlu. Tidak usah. Aku ke depan dulu ya?” Mia langsung membalikan badannya untuk keluar dari kamar.
Dia berjalan ke depan untuk menunggu pesanan makanan. Tapi dia masih memikirkan ponsel milik suaminya tadi.
Dia pernah melihat ponsel jenis itu di internal. Harganya saja bisa puluhan juta. Mustahil sekali jika bos Gara memberikan ponsel semahal itu dengan begitu mudah.
Dari mana ponsel itu? Atau jangan-jangan suaminya telah mencuri milik orang lain?
Mia mulai banyak pikiran.
Tidak lama menunggu, makanan pesanan datang. Mia melotot saat melihat bandrol makanan itu.
Kenapa sangat mahal? Makanan apa memangnya?
Setelah membayar, Mia cepat kembali ke kamar, dia takut ada yang melihat. Pasti hanya akan mendapatkan ocehan panjang lebar jika ibu atau kakaknya melihat dia membeli makanan online.
Untung tidak ada yang melihat.
Tapi Mia masih memikirkan harga makanan yang sudah dibawanya. Ini sangat pemborosan. Menurutnya, harga makanan ini bisa untuk membeli keperluan dapur selama beberapa hari.
Tiba di kamar, dia langsung bertanya pada Gara, “Memang, kamu pesan makanan apa? Kenapa begitu mahal?”
“Sesekali tidak masalah memanjakan lidah. Makanlah, jangan memikirkan harganya.” Gara tahu jika istrinya tidak pernah makan makanan enak di rumah ini. Malam ini dia sengaja memesan makanan enak.
Mia hanya mengangguk, membenarkan ucapan suaminya lalu duduk dan membuka bungkus makanan.
“Wah!” Dia terbelalak saat melihat Pizza dan Barbeque dalam kotak makanan. Seumur hidup, memegang makanan ini pun tidak pernah.
Mia tersenyum senang dan menikmatinya. Dia melupakan harga makanan ini.
“Ini benar-benar sangat enak. Jika ibu tau, pasti akan sangat marah.” Mia berkata sambil mengunyah.
Gara tertawa kecil, “Tidak ada yang melihat kan?”
Mia menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, jangan dipikirkan. Makanlah dengan baik.” Gara menatap Mia yang sangat menikmati makanan itu. Ada rasa sedih dalam hatinya. Istrinya ini mungkin sudah cukup lama menderita. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawanya keluar dan memberinya semua kebahagiaan.
"Kamu tidak mau?" Mia mendongak, menatap Gara yang memperhatikannya.
“Aku sudah makan dikerjaan. Makan saja, jika tidak habis bisa disimpan untuk besok pagi.”
Mia mengangguk, melanjutkan makannya.
Ponsel Gara berdering, pria itu berdiri mengangkat panggilan dan menjauh. Mia memperhatikan Gara. Sepertinya ada hal cukup serius yang dibicarakan oleh suaminya itu dengan si penelpon.
Mia kembali penuh pertanyaan. Setiap dirumah, ponsel Gara sering berbunyi dan dia akan mengangkat panggilan secara diam-diam.
Apa yang disembunyikan oleh suaminya?
Selama ini Mia memang tidak pernah bertanya mengenai latar belakang kehidupan Gara. Dia hanya mengetahui jika Gara hidup sebatang kara dan tidak memiliki pekerjaan yang jelas.
Mia tidak pernah memikirkan hal itu sebelum ini. Baginya, mendapatkan seorang suami saja sudah cukup.
Meskipun pada awal pernikahan, Mia sempat menangis semalaman memikirkan nasibnya yang malang. Menikah dengan Pria yang sama sekali belum dikenal. Padahal dia masih ingin mencari pekerjaan yang baik diluar sana. Kemudian menabung banyak uang untuk masa depannya. Lalu jatuh cinta pada seorang pria, berpacaran kemudian menikah dengan penuh cinta.
Nyatanya semua mimpinya harus terkubur karena desakan ibu yang terus memaksakan kehendaknya demi anak emasnya.
Meskipun ayahnya sempat mengatakan sesuatu yang baik, jika dia tidak akan salah dalam memilih suami. Gara adalah pria yang baik dan punya masa depan yang baik.
Saat itu, ibu membantah dengan keji, “Apanya yang baik? Pria itu hanya bekerja serabutan yang tidak jelas! Hanya akan menjadi beban keluarga! Sudah miskin, juga sebatang kara! Benar-benar tidak berguna.”
“Jika ibu punya pendapat seperti ini, kenapa masih memaksaku untuk menikah dengannya?” Mia menjawab.
“Karena kamu sudah tidak ada waktu lagi untuk memilih. Dinda akan segera menikah, jadi kamu harus duluan menikah. Jangan sampai membuat malu adikmu.”
Lagi-lagi, ibunya hanya memikirkan Dinda.
Mia hanya bisa menurut. Sampai dia menikah dengan Gara dan mulai saling menerima.
Pria ini sangat penyabar, begitu lembut dan memberi perhatian banyak pada dirinya. Mia semakin nyaman dan mulai menyukainya. Setiap hari dia akan merasa kesepian jika Gara pergi bekerja. Menjelang sore dia akan menunggu Gara pulang dengan gelisah.
Sampai saat ini Gara masih sangat tertutup sekali tentang latar belakang hidupnya, tapi Mia tidak ingin banyak bertanya. Dia khawatir membuat Gara tidak nyaman. Perlakuan ibu dan saudara-saudaranya pada Gara saja sudah membuat Mia sedih. Untung saja Gara masih tetap bertahan disisinya. Meskipun setiap hari hanya dihina dan direndahkan oleh keluarganya.
Tapi, semakin hari kenapa dia sangat penasaran dengan pria ini?
Dia melihat Gara sudah selesai dengan si penelpon. Gara kembali mendekatinya dan duduk di depannya.
Mia mendongak, menatap baik-baik Gara. Dia berdehem kecil. “Gara, aku ingin bertanya.”
Bab 5
. Pekerjaan di luar kota.
“Kamu kerja apa sih sebenarnya?” tanya Mia.
Gara tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, lalu dia menjawab dengan tenang. “Kalau aku tidak punya pekerjaan tetap, apa kamu khawatir akan hidup menderita denganku?”
“Eh, bukan. Aku cuma penasaran. Tapi tidak masalah. Semua orang punya rezeki masing-masing. Kenapa harus khawatir?”
Gara melihat Mia lebih dekat, dia membelai wajah Mia polos itu dengan begitu lembut.
“Itu benar. Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku janji padamu.”
Mia tersenyum, dia semakin merasa bahagia mendengarnya. Lalu mereka berangkat tidur.
Pagi ini, Mia bangun lebih terlambat dari biasanya. Tadi dia merasa sakit kepala dan Gara menyuruhnya untuk tidak bangun. Gara menggantikan pekerjaannya untuk membereskan rumah.
Saat Mia turun, dia melihat Gara sedang bersama ayahnya. Ada sebuah amplop di tangan ayahnya. Entah amplop apa itu, tapi sepertinya mereka baru saja berbicara serius.
Mendengar suara langkah kakinya mendekat, Gara menoleh dan segera menghampirinya.
“Mia, hari ini aku ada pekerjaan diluar kota. Bisa jadi aku akan menginap. Tapi aku usahakan cepat beres agar bisa pulang. Tidak apa-apa, kan?”
Pekerjaan diluar kota? Memang bekerja kuli bisa sampai ke luar kota? Mendadak Mia memikirkan hal itu.
Tapi Mia tidak enak untuk bertanya, dia mengangguk saja. “Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu sarapan dulu ya?”
“Aku buru-buru dan sedang ditunggu. Jangan khawatir, aku bisa sarapan di jalan saja.”
Gara mencium kening Mia dan berkata lembut, “Aku menyayangimu. Jaga diri baik-baik dirumah. Tunggu aku pulang ya?”
Mia tersipu malu. Selama menikah, baru kali ini Gara berkata demikian padanya. Mia hanya mengangguk.
“Oh iya. Aku menaruh uang dibawah bantalku. Berikan sebagian pada ibu untuk belanja dapur, sisanya untuk keperluan kamu.”
“Eh iya, terima kasih”
Gara mengangguk dan melangkah keluar, Mia mengantar sampai ke depan.
Seperti biasanya , Gara akan menggunakan motor butut miliknya yang ia parkir di samping mobil mewah milik Farhan.
Saat ini kebetulan Farhan juga keluar untuk bekerja di antar oleh istrinya.
Melihat Gara mengambil motor, Silvia berkata dengan nada cukup keras. “Heh, awas motor butut kamu mengenai mobil suamiku! Kalau sampai lecet, kamu tidak akan bisa mengganti rugi!”
Gara tidak menjawab, segera mendorong motornya ke belakang, dengan sabar menunggu Farhan mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu.
Setelah mobil kakak ipar Mia itu pergi, Gara menghidupkan motornya, dia menoleh dulu pada Mia yang menunggu untuk melambaikan tangan.
Silvia kembali berkata lagi dengan suara keras. "Cepat pergi! Suara Motor butut kamu itu bisa merusak pendengaranku. Belum lagi asapnya, bisa membuat paru-paru sakit!”
Suara motor Gara memang sangat berisik. Belum lagi asap knalpotnya yang keluar sangat banyak dan hitam. Mungkin karena sudah lama tidak diganti oli.
“Sudah, cepat berangkat. Hati-hati dijalan.” Mia berkata pada Gara , dia benar-benar tidak enak dengan ucapan kasar kakaknya.
Setelah melihat suaminya pergi, dia kembali ke dalam.
“Mia, kamu bantu ibu bikin kue untuk acara Dinda. Biar tidak terlalu banyak pengeluaran.” Rita berkata pada Mia.
Acara pernikahan Dinda memang akan digelar Minggu besok, jadi hari ini mereka sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Aku mau mencuci baju suamiku dulu, Bu. Suruh kak Silvia dulu yang bantu, sepertinya dia sedang menganggur." Mia menjawab Karena melihat Silvia sedang duduk saja sampai bermain ponsel.
Mendengar Mia berkata seperti itu, Silvia marah. “Aku bukan menganggur, sedang memilih dekorasi untuk pelaminan Dinda. Kamu saja yang membantu ibu. Mencuci baju nanti sore saja, kan?”
“Nggak bisa. Baju suamiku cuma sedikit. Kalau dicuci nanti sore, dia tidak akan punya ganti.”
“Ya ampun, Mia! Kenapa suamimu bisa semiskin itu sih? Bukannya bisa menyenangkan kamu, malah merepotkan saja. Benar-benar deh nasib kamu itu, sangat tidak beruntung mendapatkan suami.” Sindir Silvia.
Mia tidak ingin memperdulikan sindiran kakaknya, dia memilih cepat pergi sana untuk mencuci pakaian Gara.
Setelah selesai, Mia merasa lapar. Tapi baru saja dia membuka tudung saji, ibu menepis tangannya dengan kasar.
“Kamu mau apa?”
“Sarapan, Bu. Aku sudah lapar.”
“Tidak bisa! Kamu belum bekerja, tidak ada makanan untuk kamu.”
"Bu, aku sedang tidak enak badan. Tapi tadi pagi sebelum berangkat, suamiku sudah menyapu dan mengepel lantai untuk menggantikan pekerjaanku.”
“Itu Gara! Pokoknya, kamu bantu ibu dulu baru makan! Kalau kamu nggak mau, jangan makan masakan ini!"
Hati Mia merasa sangat sakit mendengar perkataan ibunya.
Ibunya memang seperti itu dari dulu, tidak pernah sedikitpun lembut atau memberi perhatian padanya.
Dia berpikir setelah menikah, ibunya akan berubah. Apalagi Gara sudah memberi patungan biaya hidup di rumah ini, juga untuk pengobatan rutin ayahnya.
Kadang Mia berpikir kalau dia bukan anak yang dilahirkan wanita ini. Dia dibedakan. Ibu sangat menyayangi Kakak dan adiknya tapi tidak menyayanginya.
Mia terdiam.
"Kenapa? Nggak punya uang, kan? Makanya, kalau mau kenyang jangan membantah!" Seru Ibu.
"Jelas dia tidak punya uang, Bu .Suaminya saja pekerjaannya tidak jelas! Mana bisa memberinya uang untuk makan?” Sindir Silvia.
Mia merasa dadanya begitu sesak. Dia hampir menangis. Kemudian memilih pergi ke kamar meninggalkan mereka yang terus menghinanya.
Mia menangis di kamar. Kenapa ibunya sangat tidak menyukainya. Sebenarnya, apa salahnya?
Apa karena suaminya miskin? Tidak seperti suami Silvia yang bekerja di kantoran? Bukan seperti Calon suami Dinda yang seorang Pengusaha?
Kadang kala, Mia ingin mengajak Gara untuk keluar dari rumah ini. Tapi dia takut Gara tidak memiliki uang untuk menyewa rumah kontrakan.
Mia termenung, mengusap perutnya yang terasa perih.
Dia teringat sesuatu, lalu segera membuka bantal yang biasa untuk tidur suaminya.
Ada sebuah amplop coklat disana. Mia mengambil dan membukanya.
Mia terkejut saat menghitungnya jumlah uang di dalamnya.
Ini banyak sekali?
Mia sampai berkali-kali menghitungnya. Ada Lima juta.
Dia belum pernah memegang uang sebanyak ini selama hidupnya.
Mia langsung banyak pikiran. Dia cepat mencari ponselnya.
“Aduh, mana ponsel?” Dia kebingungan. Lalu menepuk keningnya sendiri. Ponsel ada disamping dia duduk, tapi dia sudah mencari kemana-mana.
Awalnya dia ingin menghubungi suaminya, tapi dia melihat ada pesan chat dari Gara.
"Uang itu untuk kamu belanja, Mia. Jangan ditabung.”
Mia tersenyum membaca pesan itu. Kebiasaan Gara memang selalu begitu. Setiap memberinya uang mengingatkan untuk jangan menabungnya.
Gara selalu mengatakannya jika uang itu khusus untuk dirinya, masalah menabung itu sudah menjadi urusannya. Mia tidak boleh khawatir.
Mia masih memegang erat uang itu, dia teringat perkataan ibunya yang meminta semua orang dalam rumah ini patungan untuk pesta Dinda. Jika dia tidak bisa memberi uang patungan, Mia khawatir ibu akan semakin menghina suaminya.
Dia langsung membalas pesan suaminya.
“Ibu kan meminta kita untuk patungan, uang ini aku berikan ibu saja ya?”
Tidak lama kemudian ada balasan dari Gara. “Tadi, aku sudah memberi uang patungan pada Ayah. Uang itu untuk kamu saja, untuk beli makanan atau jajan. Baju untuk pesta dan perhiasan nanti kita beli setelah aku pulang. Uangnya sudah ada padaku. Jangan khawatir.”
Hah! Apa? Mia terkejut lagi.
“Gara sudah memberi uang patungan? Uang ini untuk aku? Terus, Gara nanti mau membeli baju pesta dan perhiasan?”
Yang benar saja?
Pikiran Mia langsung linglung. Dari mana suaminya mempunyai uang sebanyak itu?
Apa dia habis gajian?
“Oh! Mungkin saja seperti itu.”
Tapi, ada yang tidak masuk akal.
Mia mencoba menghitung perkiraan uang yang dimiliki suaminya saat ini. Lima juta di tangannya, lima juta di tangan ayahnya. Lalu yang saat ini ada ditangan Gara?
Apa mungkin gaji suaminya lebih dari perkiraannya?
Mia merasa pusing karena kebanyakan menebak, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Notifikasi pesan dari Gara kembali masuk. Beberapa foto baju pesta dan perhiasan emas berlian dikirim oleh Gara.
“Mia, kamu pilih yang mana?”
Apa? Suaminya mau membeli baju pesta dan perhiasan semahal itu?
Mia segara mengetik balasan, “Kamu mau beli itu? Itu sangat mahal harganya.”