Bab 2
. Dianggap seperti pembantu
Setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, Wibowo meminta Gara tinggal disini dulu untuk sementara waktu.
“Ajak suami kamu ke kamar dulu, mungkin dia ingin istirahat.” kata Wibowo pada Mia.
Mia mengangguk patuh, dia pun mengajak pria yang sudah menjadi suaminya itu ke kamar.
“Mari.” Lalu Mia melangkah dahulu diikuti oleh Gara.
Mia membuka pintu kamar, mengajak Gara untuk masuk kedalam.
Kamarnya ini memang sangat sempit. Hanya berisi dipan kecil dengan kasur yang sudah mengeras. Ada lemari kayu usang yang beberapa bagiannya sudah dimakan rayap.
Mia melihat Gara masih berdiri disana. Temperamental Pria itu terlihat sangat baik, begitu tenang. Sementara Mia justru sangat canggung dan merasa gugup.
Dia juga melihat bahwa penampilan Gara sangat sederhana, tapi wajahnya sangat tampan dan kulitnya juga putih.
Mia jadi berpikir jika nasibnya tidak akan terlalu buruk menikah dengan pria ini daripada dia harus menjadi istri ketiga Pak Anton.
“Begini kamarku. Tapi aku tidak yakin kamu akan betah.”
Pria itu mengulas senyuman tipis, “Tidak masalah bagaimanapun keadaannya, aku pasti akan betah karena tinggal bersama Istriku.”
Mia mengerutkan keningnya. Didengar dari nada bicaranya, sepertinya pria ini sama sekali tidak menganggap dirinya asing. “Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Mia bertanya seperti itu.
Gara mengangguk kecil, “Tentu saja kita pernah bertemu. Aku tidak mungkin sembarangan melamar seorang wanita yang belum aku ketahui sebelumnya. Jadi aku sudah pernah melihatmu sebelum ini. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu di dalam keluargamu ini.”
Mia menautkan kedua alisnya. “Dimana kita pernah bertemu?” Dia mencoba mengingat-ngingat, mungkin saja ada yang terlupa selama ini.
Gara lagi-lagi tersenyum kecil. “Pasti kamu tidak mengingatnya. Pada saat itu aku melihatmu, tapi kamu tidak melihatku.”
Mia memang tidak bisa mengingat suatu momen. Kemudian dia beranggapan jika mungkin kabar tentang ibunya yang sedang mencarikan jodoh untuk dirinya sudah menyebar kemana-mana dan sampai pria ini mendengarnya lalu datang untuk melamarnya.
“Baiklah, tidak masalah apakah kita pernah bertemu atau tidak sebelum ini. Sekarang, sebaiknya kamu mandi dulu.’
“Aku sudah mandi di tempat kerja. Aku ingin istirahat saja. Boleh kan, jika aku tidur disini?” Gara menepuk kasur keras yang sudah didudukinya.
Mia tentu tidak bisa merasa keberatan. Pria ini sudah menjadi suaminya. Dia mengangguk kecil, “Istirahat saja. Aku ingin mandi dulu.”
Baru saja dia membalikkan badan untuk ke kamar mandi, Gara memanggilnya.
“Mia.”
“Ada apa?” Mia menoleh, menatap kedua mata pekat pria itu.
“Apa kamu tidak suka dengan pernikahan kita? Kalau kamu tidak suka, bilang saja. Aku tahu kamu hanya terpaksa karena tuntutan keluarga kamu, kan?” Pertanyaan Gara ini lebih seperti sebuah pilihan untuk dirinya. Tapi untuk apa dia harus memilih jika sekarang? Sedangkan pernikahan mereka telah sah tercatat di departemen agama.
Mia tertegun beberapa saat. Meskipun dia memang lumayan tidak menyukai pernikahan ini, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia sudah resmi menjadi istri pria yang sedang duduk di tempat tidurnya itu.
“Meskipun aku tidak suka, tapi kurasa ini lebih baik. Siapa tahu setelah menikah, mereka tidak akan membenciku lagi.”
Gara menautkan kedua alisnya, tatapannya kali ini penuh rasa penasaran.“Kenapa mereka membencimu?”
Sesaat Mia terdiam, rasanya tidak pantas jika dia tiba-tiba bercerai tentang kesedihannya? Mereka baru saja menikah. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
“Lupakan saja. Baiklah, aku mandi dulu. Kamu tidur saja.” Mia melangkah ke kamar mandi.
Gara menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu. Banyak hal yang pasti terjadi dalam hidup wanita yang sudah dinikahinya itu.
Baiklah, dia akan melihatnya sendiri nanti.
Gara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kasur ini lumayan keras dan tidak nyaman untuk dirinya.
Saat Mia keluar dari kamar mandi, dia melihat Gara sudah terlelap. Dia menatap pria itu sedikit lebih dekat sekarang.
Semakin dilihat, pria itu terlihat semakin tampan. Rambutnya sedikit panjang dan diikat dengan karet ke belakang.
Mia mencoba mengingat, apakah benar pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. Tapi sepertinya memang belum pernah.
Malam sudah larut, Mia bingung mau tidur dimana.
Lantai kamarnya ini sangat sempit jika harus tidur dibawah, tidak ada sofa yang tersedia juga.
Dengan hati-hati dan ragu, dia naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan diri di samping Gara.
Gara menggeliat, dia membuka matanya perlahan. Awalnya dia linglung sebentar, tapi segera sadar jika saat ini dia sedang berada dikamar Mia. Dia bangun, melirik jam dinding. Ini masih sekitar pukul 4 pagi.
Gara merasa tubuhnya ngilu-ngilu. Punggungnya juga sedikit sakit. Mungkin karena tempat tidur yang ditidurinya semalam sangat keras. Tubuhnya belum terbiasa.
Dia menoleh ke samping, dia tidak lagi melihat Mia disampingnya. Tengah malam tadi dia sempat terbangun, dia melihat Mia tidur meringkuk di sebelahnya.
Gara menoleh ke kamar mandi. Pintunya sedikit terbuka menandakan tidak orang di dalamnya.
Padahal ini masih sangat pagi, lalu kemana dia pergi?
Lalu Gara turun dari tempat tidur, dia membasuh muka terlebih dahulu kemudian melangkah keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Begitu Gara turun, dia melihat istrinya sedang membungkuk di ruang tamu. Ada kain pel di tangan kirinya. Gara tertegun melihat itu kemudian menghampiri.
“Kenapa harus pagi-pagi sekali kamu sudah mengepel lantai?”
Mia terkejut dan menoleh. Dia melihat pria itu sudah berdiri di dekatnya.
“Kamu sudah bangun? Ini masih sangat pagi, kembalilah tidur. Kalau aku, memang harus begini. Sebelum mereka bangun, semua pekerjaan rumah harus sudah beres.”
Gara menatap punggung Mia yang melangkah ke arah dapur. Dia mengabaikan perintah Mia tadi dan mengikuti istrinya itu.
Dari tempat dia berdiri sekarang, Gara bisa melihat bagaimana kesibukan gadis itu. Dimulai dari membereskan meja makan yang berantakan, menumpuk cucian piring dan mencuci semuanya.
Setelah semua pekerjaan itu beres, Mia masih harus memasak sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Lalu pergi ke belakang untuk mencuci baju seluruh penghuni rumah ini.
Sementara orang-orang di dalam rumah ini masih terbuai mimpi dalam selimutnya masing-masing.
Bukan sehari dua hari ini saja Gara melihat kegiatan istrinya di rumah ini, begitu juga perlakuan mereka pada Mia. Bisa dibilang Mia diperlakukan lebih seperti pembantu oleh keluarganya sendiri.
Dada Gara terasa sesak rasanya, dia merasa tidak tega. Pada suatu hari ketika dia melihat Mia dengan setumpuk pekerjaan dia berinisiatif untuk membantu.
“Biar aku bantu ya?” Dia mengambil sapu dari tangan istrinya.
Mia menoleh, “Eh, pergilah mandi dan berkemas. Nanti kamu bisa kesiangan. Bukankah kamu harus berangkat bekerja?”
“Tidak apa-apa. Aku akan berangkat setelah semua pekerjaanmu beres.”
Mia menjadi terharu, selama ini selain ayahnya, tidak ada yang peduli lagi padanya. Ayahnya sekarang sudah mulai sakit-sakitan dan hanya bisa berdiam di dalam kamar, tidak bisa lagi membela atau melindungi dirinya lagi.
Pria ini, semakin hari semakin menunjukkan perhatian padanya.
“Terima kasih.” Mia mengucapkan kata itu dibalas senyuman Gara yang bisa menenangkan hatinya.
“Tidak masalah, karena kamu istriku. Sudah kewajibanku untuk membantumu.”
Mendengar ucapan Gara, angan Mia seakan melambung, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Gara. Meskipun pertemuan mereka sangat singkat dan menikah secara mendadak sekali.
Satu bulan setelah pernikahan, mereka sama-sama merasa cocok, lalu berjanji untuk saling menerima satu sama lain.
Hanya saja, ada yang membuat Mia tetap bersedih. Pernikahannya ini tidak juga membawa dampak baik bagi dirinya di depan keluarganya. Mereka tetap membencinya. Apalagi asal usul Gara yang tidak jelas, itu semakin membuat Rita kesal pada Mia dan suaminya.
“Gara, kamu angkat semua barang belanjaan ini ke dapur, setelah itu kamu bereskan meja makan. Bawa semua cucian piring ke tempatnya.” Ini Perintah Rita saat Gara baru pulang dari kerja.
Gara mengiyakan perintah Bu Rita.
Mia melihat suaminya disuruh lagi oleh ibunya. Ibunya tidak segan menunjuk ini itu dan lainnya. Padahal suaminya itu baru saja mau duduk.
Sejak pulang dari kerja tadi suaminya belum sempat istirahat. Kopi yang dibuatnya sampai sudah dingin karena belum sempat disentuh oleh suaminya.
Rita terus menyuruh Gara. Bukan hanya ibunya saja, tapi Silvia sang kakak dan Farhan suami Silvia juga ikut menyuruh Gara.
Perasaan Mia mulai tidak enak. Rasanya dia tidak rela suaminya disuruh-suruh bahkan dianggap seperti pembantu dirumah orang tuanya sendiri.
Bukankah Gara juga adalah menantu laki-laki di rumah ini sama seperti Farhan? Seharusnya mereka bisa sedikit menghargainya. Tapi mereka malah memandang rendah suaminya.
Apa karena suaminya bukan orang kantoran seperti suami Silvia dan calon suami Dinda?
Tetapi tidak seharusnya mereka semena-mena memperlakukan suaminya seperti itu.
Bab 3
. Terus dihina
Kali ini Mia tidak dapat menahan diri lagi, dia bangun dan menghampiri Gara.
"Gara, ayo duduk. Diminum dulu kopinya.” Mia menarik tangan Gara dan membawanya duduk.
"Iya.” Gara menjawab dengan kelembutan, kemudian meminum kopi buatan istrinya.
Mia tersenyum padanya, lalu menyugar rambut Gara yang sangat berantakan.
"Setelah ini, kamu ke kamar saja. Mandi dan beristirahat. Sebentar lagi aku menyusul."
"Iya. Kalau begitu aku naik duluan ya?"
Tapi baru saja Gara bangun dari duduknya untuk naik ke kamar, Rita terdengar sudah memanggilnya lagi.
Gara berlari kecil menghampiri dengan patuh, “Iya, Bu. Ada apa?”
“Kamu cuci piring dulu. Lihat itu, sudah menumpuk.” Rita menunjuk tumpukan piring dan baskom yang lumayan banyak.
Mendengar itu, Mia benar-benar merasa kesal, dia langsung menghampiri dan berkata pada ibunya, "Bu, Gara itu dari pulang kerja belum beristirahat. Jangan disuruh lagi, biar dia beristirahat dulu. Aku saja nanti yang akan mencuci piring."
Rita melotot dan membalas dengan ketus, "Memangnya kenapa kalau Gara cuci piring? Apa ada yang salah?"
"Mencuci piring itu pekerjaan perempuan. Bisa kita saja nanti yang mengerjakan setelah selesai kue!"
"Itu bisa kemalaman. Kamu kerjakan kue itu sampai selesai. Pagi-pagi harus sudah siap diantar. Itu adalah kue pesanan terakhir karena Minggu depan kita sudah akan sibuk dengan urusan pesta untuk Dinda. Biarkan saja suamimu yang mencuci piring!" Rita berkata dengan nada tinggi sambil melirik Gara dengan cukup sinis.
"Sudah, tidak apa-apa, Mia. Aku bisa kalau hanya mencuci piring." Kata Gara, dia sudah mau melangkah ke dapur lagi.
Mia menahan tangannya suaminya.
“Sudah sana kamu ke atas saja. Mandi dan istirahat!"
Rita melotot kembali dan marah, "Suami kamu ini kerjanya juga paling cuma kuli bangunan atau serabutan. Cuci piring seharusnya tidak apa-apa. Lagian, kalian cuma numpang gratis disini. Jadi, anggap saja itu sebagai imbalannya!"
Mata Mia terbelalak, dia sama sekali tidak percaya jika ibunya bisa sampai berkata demikian didepan Gara tanpa memperdulikan perasaannya.
"Ibu! Jadi selama ini Ibu menganggap kami menumpang disini? Lalu Kak Farhan dan Kak Silvia bagaimana? Aku juga anak ibu!" Protes Mia.
"Tentu saja berbeda. Kakak ipar kamu itu bekerja kantoran! Dia paling banyak memberi uang patungan untuk biaya sehari-hari dirumah ini. Lihat suami kamu! Apa yang bisa dia berikan pada kita, hah? Cuma numpang makan, minum dan tidur gratis disini!"
Rita kembali menoleh pada Mia yang masih berdiri disitu, “Kupikir setelah kamu menikah akan mengurangi beban keluarga ini, tapi nyatanya malah menambah beban saja. Biarkan saja dia bekerja di dapur, untuk mengurangi kesibukan kamu juga.” Rita berkata lagi dengan nada rendah tapi penuh dengan sindiran.
Dada Mia penuh sesak rasanya.
Dia tidak terima ibunya terus-terusan menghina suaminya. Ini bukan sekali dua kali, tapi terjadi hampir setiap hari semenjak satu bulan yang lalu Gara menikahinya dan tinggal disini bersama mereka.
Kali ini Mia benar-benar ingin melawan ibunya, dia sudah melangkah maju. Tapi Gara menahan tangannya.
"Sudahlah, Mia. Jangan bertengkar dengan Ibu."
Mia hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian menarik tangan Gara agar mengikutinya ke kamar.
"Heh! Orang tua sedang bicara malah pergi! Dasar istri dan suami sama saja! Sama-sama tidak tahu diri!" Rita berteriak memaki mereka. Mia masih mendengar dan hampir memutar tubuhnya kembali, tapi Gara menahannya lagi dan menarik tubuhnya agar lebih cepat sampai di kamar.
Setelah melangkah masuk, Mia membanting pintu untuk meluapkan emosi.
Gara tahu istrinya sedang marah, tapi dia merasa terharu telah dibela oleh istrinya. Hatinya menjadi hangat. Dia mendekat dan berkata dengan lembut, “Mia, tidak boleh seperti itu.”
"Tapi ibu itu sudah keterlaluan! Tidak seharusnya dia begitu padamu!”
“Tetap tidak baik membicarakan ibunya sendiri seperti itu. Bagaimanapun juga, memang aku yang salah. Mungkin karena aku belum memberi uang patungan dirumah ini.”
"Tapi bukan berarti kamu harus dihina! Aku tidak rela. Kamu juga menantu di rumah ini. Dulu, ibu yang memaksa supaya aku menikah denganmu, tapi untuk apa kalau hanya untuk dihina. Aku ini anak kandungnya juga, kenapa harus dibeda-bedakan?"
"Sudah, sudah. Tidak usah dipikirkan lagi. Aku baik-baik saja. Yang penting kita bisa menyenangkan hati ibu. Itu akan mendapat pahala."
Mia tertegun, dia merasa heran. Hati suaminya ini terbuat dari apa? Kenapa bisa begitu sabar?
Padahal dia saja merasa sangat sakit dengan perlakuan ibu padanya. Jika hanya berlaku untuknya mungkin dia masih bisa menahan diri karena itu sudah biasa. Dari kecil hingga dia sebesar ini. Cacian dan hinaan sudah menjadi makanannya setiap hari.
Tapi ini suaminya, anggota baru dirumah ini. Mia merasa tidak enak hati pada Gara.
Memang diakui oleh Mia, dia sangat bersyukur bisa dinikahi oleh Gara. Bukan hanya tampan baginya tapi Gara sangat baik, lembut dan penyabar.
“Terima kasih ya, kamu sudah mau mengerti keadaan disini.” Mia memeluk suaminya.
“Iya. Percayalah, semua akan baik pada waktunya.” Gara membalas pelukan. Mia merasa nyaman, menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya.
Ada yang aneh. Bukankah suaminya hanya kerja sebagai seorang serabutan? Paling tidak, harusnya ada bau keringat atau matahari yang menempel di bajunya.
Mia menajamkan penciuman untuk kali ini.
Benar, tidak ada sama sekali. Hanya ada aroma parfum maskulin yang biasa dipakai Gara sebelum berangkat bekerja.
Mia tertegun beberapa saat, kemudian melepaskan pelukannya.
“Gara, setiap pulang dari kerja kenapa baju kamu selalu masih wangi? Apa saat bekerja, kamu berganti dengan baju lain?” Seperti itu tebakan Mia.
“Oh, i,iya. Aku ganti baju.” Gara menjawab dengan sedikit gugup.
“Terus, baju kotornya dimana? Apa kamu tinggal di tempat kerja?”
Gara mengerutkan alisnya, “Itu, iya. Aku mencucinya sekalian disana. Biar tidak membawa pulang baju kotor, kasihan istriku kalau harus mencuci baju kerjaku. Itu sangat kotor.”
“Oh,” Mia hanya mendengus. Kalau begitu memang masuk akal.
"Lain kali jangan terlalu menurut kalau mereka menyuruhmu seperti tadi. Tidak apa-apa melawan sedikit. Karena kamu juga menantu laki-laki di keluarga ini, seharusnya juga dihargai."
Gara hanya mengulas senyum saja kemudian mengambil handuk.
"Aku mandi dulu ya."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengambil makanan. Kita makan di kamar saja."
Gara cepat mencegah. Dia seperti sudah bisa menebak jika ibunya Mia akan marah lagi.
"Jangan, Mia. Nanti Ibu marah lagi. Kita bisa makan di dapur saja nanti."
“Karena itu sudah biasa, jadi tidak masalah bagiku.” Mia tetap keluar dari kamar menuju meja makan.
Benar apa yang dikatakan Gara, begitu melihat Mia mendekati meja makan, Ibu langsung menegur.
“Mau apa kamu?”
Mia menoleh, dengan memegang piring kosong di tangannya.
“Ambil makan untuk Gara, Bu. Kasihan dia belum makan.”
“Kenapa tidak makan disini saja? Makan di kamar itu tidak baik! Suruh saja dia makan disini. Kalau kalian keberatan, tidak perlu ada makan malam untuk kalian malam ini!”
Di ujung sana, Silvia berbicara dengan nada mengejek, "Suami miskin seperti itu saja kamu perhatikan secara berlebihan seperti itu, bagaimana kalau kamu punya suami seperti Mas Farhan atau seperti calon suaminya Dinda? Duh, bisa-bisa kamu tidak izinkan dia keluar dari kamar seharian.”
Tadinya Mia tidak ingin menghiraukan ocehan mereka, tapi lama kelamaan dia tidak tahan saat ibu dan kakaknya terus menghina suaminya.
Mia menaruh piring kosong yang belum diisi nasi itu kembali pada tempatnya.
"Kalau tidak boleh makan ya sudah! Tidak perlu menghina kami!” Mia kembali ke kamar tanpa membawa makanan.
Bab 4
. Semakin penasaran.
Mia sudah kembali lagi ke kamar tanpa membawa makanan apapun. Dia melihat suaminya telah selesai mandi dan sedang memilih ganti.
Dada pria itu terlihat bidang dengan kulit yang mulus dan bahu yang kekar. Otot dan perutnya juga terbentuk seperti sengaja dirawat dengan olahraga gym yang teratur.
Mia sering merasa aneh, kenapa suaminya yang katanya hanya seorang kuli serabutan bisa memiliki tubuh yang indah dan kulit semulus itu?
Dia menatap kulitnya dan membandingkan. Benar-benar kalah.
Gara menyadari jika Mia sedang memperhatikannya. Dia tersenyum kecil dan mendekati, “Belum puas? Kenapa tidak memegangnya saja? Ini milikmu.” Gara mengambil tangan Mia dan menaruh di perutnya.
"Eh!” Mia tersipu malu, segera menarik tangannya.
Gara tertawa kecil melihat wajah memerah istrinya lalu kembali pada pakaian yang sudah ditemukan.
Kaos putih yang telah pudar warnanya, dengan celana pendek hitam yang juga telah pudar. Cuci kering pakai, mungkin itu yang membuat pakaian Gara tampak pudar.
Mia juga merasa aneh, suaminya ini hanya punya beberapa pakaian saja. Dia sudah sering menyuruh Gara membeli pakaian, tapi Gara selalu menolak dengan alasan, “Uangnya untuk keperluan kamu saja.”
Meskipun hanya berpakaian apa adanya seperti itu, menurutnya, pria itu tetap terlihat tampan. Atau mungkin karena dia sudah mulai menyukai pria ini?
"Mana makanannya?” Gara bertanya saat menyadari Mia tidak membawa apapun ke kamar.
Mia tidak menjawab, dia hanya memasang wajah murung dan duduk ditepi tempat tidur.
Gara tersenyum, sudah bisa mengerti apa yang terjadi. “Apa kubilang tadi?”
Mia mendengus kesal, lalu menatap suaminya dengan perasaan sedih. “Kamu masih kuat kan, sampai besok pagi?”
Gara tertegun, mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala istrinya. “Tentu saja, tapi bagaimana istriku ini? Kamu pasti belum makan, kan?”
Mia membalas dengan senyuman, “Aku kuat kok sampai besok, jangan khawatir.”
Gara merasa sedih, kemudian mengambil ponselnya dan mengulik sebentar.
“Aku memesan makanan, tunggu sebentar ya?”
Mia terkejut saat Gara mengulurkan uang padanya. “Eh, tidak usah. Untuk kamu berangkat kerja besok. Kalau tidak ada uang lagi bagaimana?”
“Masih ada, jangan khawatir.”
Dengan ragu-ragu Mia menerima uang itu.
Tanpa sengaja dia melihat ponsel yang sedang dipegang oleh suaminya.
Tunggu sebentar, ada yang mengganjal dalam pikirannya. “Gara, itu ponsel kamu?”
Gara mengangkat tangannya, memperhatikan ponsel miliknya.
“Iya, kenapa?”
Mia bukan perempuan yang terlalu bodoh, dia tahu jika ponsel itu adalah ponsel mewah pengeluaran terbaru.
“Ponselmu, kenapa sangat bagus? Kamu membelinya sendiri atau,’
Gara langsung sadar jika istrinya mulai mencurigainya, “Oh, ini pemberian bos. Apa kamu mau? Aku bisa meminta bos untuk membelikan kamu juga. Bos ku sangat baik.”
“Eh, tidak perlu. Tidak usah. Aku ke depan dulu ya?” Mia langsung membalikan badannya untuk keluar dari kamar.
Dia berjalan ke depan untuk menunggu pesanan makanan. Tapi dia masih memikirkan ponsel milik suaminya tadi.
Dia pernah melihat ponsel jenis itu di internal. Harganya saja bisa puluhan juta. Mustahil sekali jika bos Gara memberikan ponsel semahal itu dengan begitu mudah.
Dari mana ponsel itu? Atau jangan-jangan suaminya telah mencuri milik orang lain?
Mia mulai banyak pikiran.
Tidak lama menunggu, makanan pesanan datang. Mia melotot saat melihat bandrol makanan itu.
Kenapa sangat mahal? Makanan apa memangnya?
Setelah membayar, Mia cepat kembali ke kamar, dia takut ada yang melihat. Pasti hanya akan mendapatkan ocehan panjang lebar jika ibu atau kakaknya melihat dia membeli makanan online.
Untung tidak ada yang melihat.
Tapi Mia masih memikirkan harga makanan yang sudah dibawanya. Ini sangat pemborosan. Menurutnya, harga makanan ini bisa untuk membeli keperluan dapur selama beberapa hari.
Tiba di kamar, dia langsung bertanya pada Gara, “Memang, kamu pesan makanan apa? Kenapa begitu mahal?”
“Sesekali tidak masalah memanjakan lidah. Makanlah, jangan memikirkan harganya.” Gara tahu jika istrinya tidak pernah makan makanan enak di rumah ini. Malam ini dia sengaja memesan makanan enak.
Mia hanya mengangguk, membenarkan ucapan suaminya lalu duduk dan membuka bungkus makanan.
“Wah!” Dia terbelalak saat melihat Pizza dan Barbeque dalam kotak makanan. Seumur hidup, memegang makanan ini pun tidak pernah.
Mia tersenyum senang dan menikmatinya. Dia melupakan harga makanan ini.
“Ini benar-benar sangat enak. Jika ibu tau, pasti akan sangat marah.” Mia berkata sambil mengunyah.
Gara tertawa kecil, “Tidak ada yang melihat kan?”
Mia menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, jangan dipikirkan. Makanlah dengan baik.” Gara menatap Mia yang sangat menikmati makanan itu. Ada rasa sedih dalam hatinya. Istrinya ini mungkin sudah cukup lama menderita. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawanya keluar dan memberinya semua kebahagiaan.
"Kamu tidak mau?" Mia mendongak, menatap Gara yang memperhatikannya.
“Aku sudah makan dikerjaan. Makan saja, jika tidak habis bisa disimpan untuk besok pagi.”
Mia mengangguk, melanjutkan makannya.
Ponsel Gara berdering, pria itu berdiri mengangkat panggilan dan menjauh. Mia memperhatikan Gara. Sepertinya ada hal cukup serius yang dibicarakan oleh suaminya itu dengan si penelpon.
Mia kembali penuh pertanyaan. Setiap dirumah, ponsel Gara sering berbunyi dan dia akan mengangkat panggilan secara diam-diam.
Apa yang disembunyikan oleh suaminya?
Selama ini Mia memang tidak pernah bertanya mengenai latar belakang kehidupan Gara. Dia hanya mengetahui jika Gara hidup sebatang kara dan tidak memiliki pekerjaan yang jelas.
Mia tidak pernah memikirkan hal itu sebelum ini. Baginya, mendapatkan seorang suami saja sudah cukup.
Meskipun pada awal pernikahan, Mia sempat menangis semalaman memikirkan nasibnya yang malang. Menikah dengan Pria yang sama sekali belum dikenal. Padahal dia masih ingin mencari pekerjaan yang baik diluar sana. Kemudian menabung banyak uang untuk masa depannya. Lalu jatuh cinta pada seorang pria, berpacaran kemudian menikah dengan penuh cinta.
Nyatanya semua mimpinya harus terkubur karena desakan ibu yang terus memaksakan kehendaknya demi anak emasnya.
Meskipun ayahnya sempat mengatakan sesuatu yang baik, jika dia tidak akan salah dalam memilih suami. Gara adalah pria yang baik dan punya masa depan yang baik.
Saat itu, ibu membantah dengan keji, “Apanya yang baik? Pria itu hanya bekerja serabutan yang tidak jelas! Hanya akan menjadi beban keluarga! Sudah miskin, juga sebatang kara! Benar-benar tidak berguna.”
“Jika ibu punya pendapat seperti ini, kenapa masih memaksaku untuk menikah dengannya?” Mia menjawab.
“Karena kamu sudah tidak ada waktu lagi untuk memilih. Dinda akan segera menikah, jadi kamu harus duluan menikah. Jangan sampai membuat malu adikmu.”
Lagi-lagi, ibunya hanya memikirkan Dinda.
Mia hanya bisa menurut. Sampai dia menikah dengan Gara dan mulai saling menerima.
Pria ini sangat penyabar, begitu lembut dan memberi perhatian banyak pada dirinya. Mia semakin nyaman dan mulai menyukainya. Setiap hari dia akan merasa kesepian jika Gara pergi bekerja. Menjelang sore dia akan menunggu Gara pulang dengan gelisah.
Sampai saat ini Gara masih sangat tertutup sekali tentang latar belakang hidupnya, tapi Mia tidak ingin banyak bertanya. Dia khawatir membuat Gara tidak nyaman. Perlakuan ibu dan saudara-saudaranya pada Gara saja sudah membuat Mia sedih. Untung saja Gara masih tetap bertahan disisinya. Meskipun setiap hari hanya dihina dan direndahkan oleh keluarganya.
Tapi, semakin hari kenapa dia sangat penasaran dengan pria ini?
Dia melihat Gara sudah selesai dengan si penelpon. Gara kembali mendekatinya dan duduk di depannya.
Mia mendongak, menatap baik-baik Gara. Dia berdehem kecil. “Gara, aku ingin bertanya.”