Bab 2
“Wah, besar sekali semangkanya, Jose mau minum susu!”
Alih-alih berhenti, Jose justru menambah tenaganya, bertindak semaunya sendiri, seolah ingin meletuskan balon dengan tangannya.
Aku memang wanita yang cukup sensitif. Setelah digoda seperti itu olehnya, dalam sekejap wajahku langsung memerah dan tubuhku pun lemas tak berdaya.
Dan Jose menempel padaku, terasa jelas hawa panas di perut bagian bawahku, membuat jantungku berdetak kencang dan membakar hasrat dalam tubuhku.
Aku sedikit terbawa suasana. Entah kenapa tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan ternyata malah menggenggam dengan kuat….
Aku benar-benar merasakan betapa kuat dan perkasa dirinya. Andai bisa menghabiskan malam yang gila bersama Jose, rasanya tak berani membayangkan betapa mendebarkannya hal itu.
Napasku mulai tak teratur, mengikuti irama dari Jose, jari-jariku pun ikut bergerak.
Jose menarik napas dalam-dalam, ekspresinya terlihat begitu nikmat dan menggoda, “Apa yang ibu lakukan? Jose rasanya enak sekali….”
Aku menatap Jose dengan sedikit terkejut dan bertanya, “Linda nggak pernah melakukan ini padamu?”
Jose menggaruk kepalanya, lalu berkata dengan nada kesal, “Nggak, nggak pernah… waktu aku lagi tidur, dia menyuruhku memegangnya. Dia bilang di sarangnya ada madu manis dan menyuruhku mencicipinya. Tapi dia bohong, rasanya nggak manis sama sekali. Aku sudah nggak mau lagi, dia malah memarahiku….”
Usai bicara, Jose menunjukkan ekspresi yang sangat sedih dan tertekan.
Sepertinya, selama ini Linda selalu menyuruh Jose melayaninya, tapi tak pernah berinisiatif melayani Jose. Jadi, begitu aku memuaskannya, Jose langsung bersemangat.
Wajahnya tampak terpukau, lalu bergumam, “Semangka ibu besar sekali, lebih besar dari punya Linda. Lembut sekali, seperti permen kapas.”
Mendengar itu, aku merasa sedikit bangga dalam hati.
Aku menatap Jose dan bertanya, “Kamu mau coba makan?”
Jose mengangguk dan menjawab, “Iya, mau.”
“Kalau begitu, janji sama ibu, apa yang kita lakukan ini jadi rahasia kita berdua saja. Jangan bilang ke Linda dan jangan cerita ke siapa pun. Kalau kamu janji, baru ibu kasih kamu makan, mau nggak?” Aku mengedipkan mata sambil membujuk Jose dengan lembut.
Jose mengangguk bingung dan aku pun menarik baju tidur ke atas. Tiba-tiba, sepasang payudara montok, putih dan lembut bergoyang di depan Jose, menciptakan gelombang dahsyat.
Saat Jose membenamkan wajahnya, aku tak kuat menahan diri dan mengangkat leherku yang indah, lalu mengeluarkan erangan penuh hasrat.
Aku merasa seluruh diriku hampir larut dalam lautan hasrat.
Betapa aku berharap Jose bisa terus memberiku lebih banyak kebahagiaan.
Begitu teringat bahwa Jose adalah menantuku dan aku malah melakukan hal seperti ini dengannya, rasa bersalah dan kenikmatan di dalam hatiku justru semakin kuat.
Kalau sampai putriku tahu, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapinya nanti.
Namun semakin merasa bersalah, hatiku justru semakin berdebar. Ada sensasi yang aneh dan tak bisa dijelaskan.
Jose tampak seperti bayi kecil, terlihat sangat menikmati, suara kecapan ludahnya terdengar, membuatku sulit menahan diri.
Rangsangan seperti aliran listrik menyebar ke seluruh tubuhku. Area sensitif dan lembut itu sudah lembab. Aku ingin menggantungkan seluruh badanku pada Jose dan menjepit erat pinggang Jose dengan kakiku yang putih.
Bab 3
Meskipun Jose mengalami gangguan pada kecerdasannya, bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang pria. Naluri alaminya sebagai laki-laki masih ada.
Setelah digoda seorang wanita, secara alami tubuhnya akan memberikan respon. Banyak hal bahkan tak perlu kuajarkan, justru Jose yang lebih berinisiatif.
Tepat saat aku dibuat tak berdaya oleh keahliannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Linda dari luar, “Jose, kamu belum selesai juga? Kok lama sekali?”
Aku langsung terkejut dan tubuhku reflek gemetaran.
Aku buru-buru mendorong Jose dengan lembut. Dia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan polos dan bingung.
Melihat ekspresinya yang tampak enggan berpisah, aku tersenyum sambil mengusap kepalanya dan berbisik pelan, “Jose, Linda memanggilmu. Cepat sana kembali. Tapi, ingat apa yang ibu bilang barusan, ini rahasia kita berdua. Jangan sampai Linda tahu, kalau nggak, lain kali ibu nggak akan kasih makan lagi.”
Jose mengangguk pelan dengan wajah penuh kekecewaan.
Setelah dia keluar, suasana di luar perlahan menjadi tenang, barulah aku menghela napas lega.
Malam semakin larut, meski sudah berbaring di ranjang, aku tetap tak bisa tertidur.
Sosok Jose yang gagah terus muncul dalam pikiranku. Sambil memikirkannya, aku merasa ada sesuatu yang keluar. Saat mengulurkan tangan dan menyentuhnya, tiba-tiba aku merasa malu.
Bagaimanapun juga, dia itu menantuku. Jadi, tetap ada perasaan bersalah yang begitu kuat di dalam hati.
Dulu, aku hanya pernah mendengar orang lain bercerita hal-hal semacam ini, tak pernah terpikir bahwa suatu hari aku sendiri akan menjadi tokoh utama dalam cerita seperti itu.
Namun anehnya, semakin dipikirkan, aku malah semakin tak sabar. Berharap kejadian berikutnya bisa datang lebih cepat.
Aku benar-benar merasa tersiksa. Jadi, aku pun membuka nakas di samping ranjang, mengeluarkan mainan yang kubeli dan menyelipkannya ke dalam celah sempit itu.
Seketika, tubuhku bergetar pelan tanpa bisa dikendalikan….
Keesokan harinya adalah akhir pekan. Pagi-pagi sekali, aku sudah pergi berbelanja dan membeli cukup banyak bahan makanan, karena hari ini sahabat baik putriku, Dolin akan datang berkunjung ke rumah.
Dolin lebih tua 13 tahun dari Linda, usianya sudah 38 tahun. Tapi karena wajahnya cantik dan tubuhnya terawat dengan baik, dia masih terlihat sangat muda.
Selain itu, dia juga orang yang sopan dan perhatian, mulutnya manis pula. Aku cukup berkesan baik padanya.
Setelah berbincang sebentar dengan Dolin, aku pun masuk ke dapur untuk mulai masak. Sementara, Linda menemani Dolin duduk di sofa dan berbincang.
Saat aku sedang mencuci sayur sambil bersenandung kecil, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Belum sempat menoleh, aku sudah bisa merasakan ada tubuh pria yang penuh kekuatan maskulin berdiri di belakangku.
Kemudian, sepasang tangan hangat dan besar tiba-tiba menyentuh bagian dadaku dari arah kerah baju.
Kain braku yang tipis tak mampu meredam sentuhan hangat itu, hanya dengan satu gerakan, seluruh tubuhku terasa lemas dan gemetar.
Itu Jose!
Tiba-tiba, kepalanya muncul di sebelah kananku, memperhatikan gerak-gerikku, lalu dengan polosnya bertanya, “Ibu lagi apain?”
Saat dia berbicara, aku dapat merasakan dengan jelas benda panas yang menekan bokongku yang montok dan ukurannya terus berubah, menjadi semakin berlebihan.
Aku mengenakan kemeja putih dan rok bermotif bunga hari ini. Rok tipis ini seolah tak mampu menghalangi kekuatan luar biasa Jose.
Aku merasakan sensasi kesemutan di kulit kepala dan seluruh tubuhku menjadi panas. Tanpa sadar, aku pun mengangkat bokongku yang montok sedikit lebih tinggi untuk merasakan lebih banyak gesekan.
Aku sedikit terengah, lalu menjawab Jose, “Ibu lagi masak untuk kamu dan Linda. Jose, kamu main dulu sama Linda. Kita lanjut nanti malam, ya?”
Dulu, Jose tidak pernah menyerangku tiba-tiba seperti ini. Mungkin karena kejadian tadi malam, baginya seolah telah membuka kotak pandora. Dia jadi tahu bahwa dirinya bisa melakukan hal-hal itu padaku, seperti yang dirinya lakukan pada Linda.
Ucapanku sama sekali tak berhasil, justru membuat Jose semakin bersemangat.
Tak hanya tak berhenti, Jose mengusap bokongku dengan tangannya beberapa kali dan tiba-tiba mengangkat rokku, lalu meraih bagian tersensitifku….