Bab 1
“Jose, jangan… nggak boleh. Rasanya geli sekali di bagian itu….”
Mulutku terus menolak, tapi tubuhku malah bereaksi jujur. Pinggul montokku bergerak genit, seolah menolak tapi sekaligus menggoda, mengikuti godaan menantu bodohku itu….
Suara tawa putriku dan sahabatnya sesekali terdengar dari ruang tamu. Diam-diam melakukan hal yang begitu menggoda dengan Jose di depan mereka membuatku merasa luar biasa terangsang.
“Sayang, kamu hebat sekali. Aku nggak tahan lagi, pelan-pelan… pelan-pelan… ah… aku sudah hampir remuk….”
Aku diam-diam berdiri di depan pintu, mendengarkan suara panas putri dan menantuku yang sedang berhubungan. Tubuhku langsung terasa panas dan tak nyaman.
Karena tak dapat menahan diri, aku pun merapatkan kedua kakiku dan tanganku bergerak ke bagian payudaraku yang montok….
Namaku Susan, berusia empat puluh dua tahun.
Sejak suamiku meninggal, aku pun tak menikah lagi. Kesepian secara fisik dan batin membuatku merasakan sepi yang menusuk setiap malam. Di lubuk hati, aku sangat merindukan sosok pria kekar yang bisa mengisi kekosonganku.
Hingga suatu hari, aku melihat menantuku, Jose yang baru selesai mandi dan berlari keluar tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Tubuhnya yang kekar dan gagah membuat jantungku berdebar tak karuan.
Sejak saat itu, aku mulai memikirkannya terus.
Jose bisa menjadi bodoh seperti sekarang karena kecelakaan mobil dua tahun lalu, yang membuat kecerdasannya menurun drastis. Kata dokter, saat ini tingkat kecerdasannya setara dengan anak berusia lima tahun.
Meskipun sudah bodoh, tapi Jose tetap tampan. Penampilannya bahkan mirip dengan seorang aktor terkenal.
Yang paling penting adalah kemampuannya yang luar biasa, dia selalu bisa membuat putriku kelelahan sampai tak berdaya.
Mendengar aktivitas mereka yang begitu panas di dalam kamar, aku tak dapat menahan diri untuk membayangkan diriku yang sedang ditindih oleh Jose. Dia memegang pahaku dan bekerja keras seperti seekor singa, memberiku kenikmatan dan kepuasan luar biasa.
Aku pun mendengarkan suara-suara dari dalam kamar dan diam-diam memuaskan diri sendiri dengan tanganku.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka selesai juga dan aku pun mencapai puncak kenikmatan sendiri.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka. Aku terkejut, sepertinya Jose yang keluar.
Tanpa pikir panjang, karena panik dan gugup, aku langsung bersembunyi di kamar mandi sebelah.
Kebetulan kamar mandinya dipisah antara area basah dan kering. Ada mesin cuci juga di dalamnya. Jadi, aku bisa sembunyi di belakang mesin cuci.
Tak disangka, baru saja aku bersembunyi, Jose langsung masuk dan menyalakan lampu.
Aku terkejut bukan main, Jose sedang telanjang bulat.
Tubuhnya tinggi, otot-ototnya tampak jelas dan kekar, dipadu dengan wajah tampannya, membuat hatiku yang sudah lama terisolasi tiba-tiba berdebar kencang tak terkendali.
Yang lebih membuatku tak bisa mengalihkan pandangan adalah sesuatu yang mencolok di bawah pinggang Jose.
Meskipun sudah selesai beraktivitas, ukurannya masih terlihat luar biasa hingga membuatku terkejut.
Tanpa sadar, aku terpaku menatapnya, sampai-sampai kepalaku tak sengaja menyenggol mesin cuci.
Jose yang tadinya hendak mandi, tampaknya mendengar suara itu dan langsung berjalan ke arahku.
Aku buru-buru menundukkan kepala, tapi tetap saja tidak berhasil menghindar darinya.
Tak lama kemudian, terdengar suara polos Jose, “Oh, ibu lagi main petak umpet, ya?!”
Aku pun mengangkat kepala dengan canggung dan melihat Jose menatapku dengan senyuman konyol penuh rasa ingin tahu.
Yang jadi masalah, benda di bawah pinggangnya itu hanya berjarak beberapa cm dariku.
Astaga….
Jantungku berdegup kencang, tubuhku langsung merinding dan pipiku memerah tanpa bisa dikendalikan.
Begitu besar! Aku benar-benar tergoda ingin lepas kendali bersamanya.
Namun, dia itu menantuku. Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu!
Aku segera mengalihkan pikiran itu dari kepala, lalu pura-pura tenang sambil berdiri dan tersenyum, berkata, “Iya, aku lagi main petak umpet. Jose, sudah malam, kok kamu belum tidur?”
“Selina menyuruh Jose mandi, tapi Jose mau pipis dulu….”
Usai bicara, dia tak lagi menatapku. Lalu, memegang alat vitalnya dan mengarahkan ke kloset dan mulai buang air kecil.
Semburannya begitu kuat seperti semprotan air bertekanan tinggi. Sebagian mengenai ke dudukan toilet dan cipratannya sampai ke tubuhku.
“Astaga! Jose, aku sampai kecipratan!” protesku sambil menatapnya dengan kesal.
Dasar bodoh, mana ada orang yang buang air kecil di depan ibu mertua?
“Maafkan Jose, biar Jose bersihkan.”
Sambil berkata begitu, tangannya mulai meraba tubuhku, menyentuh ke sana ke mari. Tanpa sengaja, telapak tangannya yang besar dan hangat menyentuh bagian dadaku yang montok.
Seluruh tubuhku terasa geli, membuatku tak tahan mengeluarkan desahan pelan.
“Ah… jangan, jangan sentuh bagian itu….”
Bab 2
“Wah, besar sekali semangkanya, Jose mau minum susu!”
Alih-alih berhenti, Jose justru menambah tenaganya, bertindak semaunya sendiri, seolah ingin meletuskan balon dengan tangannya.
Aku memang wanita yang cukup sensitif. Setelah digoda seperti itu olehnya, dalam sekejap wajahku langsung memerah dan tubuhku pun lemas tak berdaya.
Dan Jose menempel padaku, terasa jelas hawa panas di perut bagian bawahku, membuat jantungku berdetak kencang dan membakar hasrat dalam tubuhku.
Aku sedikit terbawa suasana. Entah kenapa tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan ternyata malah menggenggam dengan kuat….
Aku benar-benar merasakan betapa kuat dan perkasa dirinya. Andai bisa menghabiskan malam yang gila bersama Jose, rasanya tak berani membayangkan betapa mendebarkannya hal itu.
Napasku mulai tak teratur, mengikuti irama dari Jose, jari-jariku pun ikut bergerak.
Jose menarik napas dalam-dalam, ekspresinya terlihat begitu nikmat dan menggoda, “Apa yang ibu lakukan? Jose rasanya enak sekali….”
Aku menatap Jose dengan sedikit terkejut dan bertanya, “Linda nggak pernah melakukan ini padamu?”
Jose menggaruk kepalanya, lalu berkata dengan nada kesal, “Nggak, nggak pernah… waktu aku lagi tidur, dia menyuruhku memegangnya. Dia bilang di sarangnya ada madu manis dan menyuruhku mencicipinya. Tapi dia bohong, rasanya nggak manis sama sekali. Aku sudah nggak mau lagi, dia malah memarahiku….”
Usai bicara, Jose menunjukkan ekspresi yang sangat sedih dan tertekan.
Sepertinya, selama ini Linda selalu menyuruh Jose melayaninya, tapi tak pernah berinisiatif melayani Jose. Jadi, begitu aku memuaskannya, Jose langsung bersemangat.
Wajahnya tampak terpukau, lalu bergumam, “Semangka ibu besar sekali, lebih besar dari punya Linda. Lembut sekali, seperti permen kapas.”
Mendengar itu, aku merasa sedikit bangga dalam hati.
Aku menatap Jose dan bertanya, “Kamu mau coba makan?”
Jose mengangguk dan menjawab, “Iya, mau.”
“Kalau begitu, janji sama ibu, apa yang kita lakukan ini jadi rahasia kita berdua saja. Jangan bilang ke Linda dan jangan cerita ke siapa pun. Kalau kamu janji, baru ibu kasih kamu makan, mau nggak?” Aku mengedipkan mata sambil membujuk Jose dengan lembut.
Jose mengangguk bingung dan aku pun menarik baju tidur ke atas. Tiba-tiba, sepasang payudara montok, putih dan lembut bergoyang di depan Jose, menciptakan gelombang dahsyat.
Saat Jose membenamkan wajahnya, aku tak kuat menahan diri dan mengangkat leherku yang indah, lalu mengeluarkan erangan penuh hasrat.
Aku merasa seluruh diriku hampir larut dalam lautan hasrat.
Betapa aku berharap Jose bisa terus memberiku lebih banyak kebahagiaan.
Begitu teringat bahwa Jose adalah menantuku dan aku malah melakukan hal seperti ini dengannya, rasa bersalah dan kenikmatan di dalam hatiku justru semakin kuat.
Kalau sampai putriku tahu, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapinya nanti.
Namun semakin merasa bersalah, hatiku justru semakin berdebar. Ada sensasi yang aneh dan tak bisa dijelaskan.
Jose tampak seperti bayi kecil, terlihat sangat menikmati, suara kecapan ludahnya terdengar, membuatku sulit menahan diri.
Rangsangan seperti aliran listrik menyebar ke seluruh tubuhku. Area sensitif dan lembut itu sudah lembab. Aku ingin menggantungkan seluruh badanku pada Jose dan menjepit erat pinggang Jose dengan kakiku yang putih.
Bab 3
Meskipun Jose mengalami gangguan pada kecerdasannya, bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang pria. Naluri alaminya sebagai laki-laki masih ada.
Setelah digoda seorang wanita, secara alami tubuhnya akan memberikan respon. Banyak hal bahkan tak perlu kuajarkan, justru Jose yang lebih berinisiatif.
Tepat saat aku dibuat tak berdaya oleh keahliannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Linda dari luar, “Jose, kamu belum selesai juga? Kok lama sekali?”
Aku langsung terkejut dan tubuhku reflek gemetaran.
Aku buru-buru mendorong Jose dengan lembut. Dia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan polos dan bingung.
Melihat ekspresinya yang tampak enggan berpisah, aku tersenyum sambil mengusap kepalanya dan berbisik pelan, “Jose, Linda memanggilmu. Cepat sana kembali. Tapi, ingat apa yang ibu bilang barusan, ini rahasia kita berdua. Jangan sampai Linda tahu, kalau nggak, lain kali ibu nggak akan kasih makan lagi.”
Jose mengangguk pelan dengan wajah penuh kekecewaan.
Setelah dia keluar, suasana di luar perlahan menjadi tenang, barulah aku menghela napas lega.
Malam semakin larut, meski sudah berbaring di ranjang, aku tetap tak bisa tertidur.
Sosok Jose yang gagah terus muncul dalam pikiranku. Sambil memikirkannya, aku merasa ada sesuatu yang keluar. Saat mengulurkan tangan dan menyentuhnya, tiba-tiba aku merasa malu.
Bagaimanapun juga, dia itu menantuku. Jadi, tetap ada perasaan bersalah yang begitu kuat di dalam hati.
Dulu, aku hanya pernah mendengar orang lain bercerita hal-hal semacam ini, tak pernah terpikir bahwa suatu hari aku sendiri akan menjadi tokoh utama dalam cerita seperti itu.
Namun anehnya, semakin dipikirkan, aku malah semakin tak sabar. Berharap kejadian berikutnya bisa datang lebih cepat.
Aku benar-benar merasa tersiksa. Jadi, aku pun membuka nakas di samping ranjang, mengeluarkan mainan yang kubeli dan menyelipkannya ke dalam celah sempit itu.
Seketika, tubuhku bergetar pelan tanpa bisa dikendalikan….
Keesokan harinya adalah akhir pekan. Pagi-pagi sekali, aku sudah pergi berbelanja dan membeli cukup banyak bahan makanan, karena hari ini sahabat baik putriku, Dolin akan datang berkunjung ke rumah.
Dolin lebih tua 13 tahun dari Linda, usianya sudah 38 tahun. Tapi karena wajahnya cantik dan tubuhnya terawat dengan baik, dia masih terlihat sangat muda.
Selain itu, dia juga orang yang sopan dan perhatian, mulutnya manis pula. Aku cukup berkesan baik padanya.
Setelah berbincang sebentar dengan Dolin, aku pun masuk ke dapur untuk mulai masak. Sementara, Linda menemani Dolin duduk di sofa dan berbincang.
Saat aku sedang mencuci sayur sambil bersenandung kecil, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Belum sempat menoleh, aku sudah bisa merasakan ada tubuh pria yang penuh kekuatan maskulin berdiri di belakangku.
Kemudian, sepasang tangan hangat dan besar tiba-tiba menyentuh bagian dadaku dari arah kerah baju.
Kain braku yang tipis tak mampu meredam sentuhan hangat itu, hanya dengan satu gerakan, seluruh tubuhku terasa lemas dan gemetar.
Itu Jose!
Tiba-tiba, kepalanya muncul di sebelah kananku, memperhatikan gerak-gerikku, lalu dengan polosnya bertanya, “Ibu lagi apain?”
Saat dia berbicara, aku dapat merasakan dengan jelas benda panas yang menekan bokongku yang montok dan ukurannya terus berubah, menjadi semakin berlebihan.
Aku mengenakan kemeja putih dan rok bermotif bunga hari ini. Rok tipis ini seolah tak mampu menghalangi kekuatan luar biasa Jose.
Aku merasakan sensasi kesemutan di kulit kepala dan seluruh tubuhku menjadi panas. Tanpa sadar, aku pun mengangkat bokongku yang montok sedikit lebih tinggi untuk merasakan lebih banyak gesekan.
Aku sedikit terengah, lalu menjawab Jose, “Ibu lagi masak untuk kamu dan Linda. Jose, kamu main dulu sama Linda. Kita lanjut nanti malam, ya?”
Dulu, Jose tidak pernah menyerangku tiba-tiba seperti ini. Mungkin karena kejadian tadi malam, baginya seolah telah membuka kotak pandora. Dia jadi tahu bahwa dirinya bisa melakukan hal-hal itu padaku, seperti yang dirinya lakukan pada Linda.
Ucapanku sama sekali tak berhasil, justru membuat Jose semakin bersemangat.
Tak hanya tak berhenti, Jose mengusap bokongku dengan tangannya beberapa kali dan tiba-tiba mengangkat rokku, lalu meraih bagian tersensitifku….