Logo
MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT
MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

53 Bab
Tamat
Dalam MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT, Elmi terjebak pernikahan penuh kebohongan dan beban finansial. Saat Damar berselingkuh, Elmi harus memilih antara janji setia atau kebahagiaan sejati. Baca romance novel ini sebagai salah satu fiction books terbaik di platform web novel kami.
Bab 1 dari MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

"Buka lebih lebar!" Damar memerintah sambil menggeser kasar, melebarkan kaki putih Elmi yang jenjang. Pusakanya menegang, sudah siap menerjang.

Sementara Elmi, istrinya, terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang kaku. Bola mata Elmi menyipit, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara desah napas Damar terdengar berat di telinganya. Tangan Damar mencengkeram bahunya, terlalu kuat, dan ia menggigit bibir untuk menahan erangan yang hampir keluar.

"Ehmm. Damar, tolong ... Pelan-pelan," suaranya lirih bergetar, hampir tidak terdengar.

Namun, Damar tidak mendengar atau lebih tepatnya tidak peduli. Gerakannya tetap kasar, seakan tidak menyadari bahwa tiap sentuhannya membuat tubuh Elmi semakin meringkuk. Air mata Elmi mulai menggenang di sudut matanya, menyesakkan dada yang sudah penuh dengan rasa sakit dan perih. Tidak ada kelembutan, tidak ada rasa kasih sayang. Semua terasa seperti hukuman yang tak berkesudahan.

Elmi berusaha menutup mata, berharap bisa melarikan diri dari kenyataan ini, tapi rasa sakit itu nyata, terus menghantamnya berulang kali tanpa ampun. "Damar, pelan sedikit ... kumohon..."  bisiknya lagi, tapi suaminya hanya merespons dengan geraman tidak sabar.

Dia tahu, dalam hati kecilnya, bahwa Damar tak akan berhenti sampai ia puas. Dan Elmi hanya bisa pasrah, menahan segala perasaan yang ingin ia muntahkan keluar. Rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Elmi ingin berteriak, menangis, atau mungkin melawan, tapi tubuhnya lemas, dan suaminya jauh lebih kuat.

Ketika semuanya akhirnya berakhir, Damar menarik diri tanpa sepatah kata pun. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk, dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Elmi yang masih tergeletak kaku. Elmi menarik selimut, menutupi tubuhnya yang gemetar. Dia menggigit bibirnya lebih keras, berharap rasa sakit di bibirnya bisa menumpulkan perih di hatinya. 

Sambil menahan isak, Elmi bergumam pada dirinya sendiri, "apa memang rasanya sesakit  ini?" Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban, seperti harapan yang sudah lama hilang entah ke mana.

**

Walaupun hari ini Elmi libur, bukan berarti dia bisa bersantai dan bangun siang sesuka hatinya.

Elmi meletakkan piring terakhir di atas meja, mengusap keringat yang mulai membasahi dahinya. Matahari baru saja terbit, tapi dapur sudah ramai dengan aroma masakan. Dia telah bangun sejak subuh, memastikan semua siap sebelum Damar dan ibu mertuanya turun dari kamar.

"Selamat pagi, Bu." Elmi menyapa dengan senyum tipis saat Ibu Damar memasuki ruang makan.

Ibu mertuanya itu hanya mengangguk singkat tanpa membalas senyuman Elmi. Wanita paruh baya itu duduk di kursi sambil mencebik pelan, lalu menatap piring-piring yang tersaji di depannya dengan pandangan kritis. "Masak apa?"

"Elmi bikin nasi goreng ayam, Bu. Saya tambahkan sayuran seperti yang Ibu minta kemarin. Dan ada omelet keju untuk Damar," jawab Elmi hati-hati. Tangannya mengeratkan pegangannya pada serbet di pangkuannya.

Ibu mertuanya mengernyit. "Kamu pikir ini enak? Nasi gorengnya terlalu berminyak. Sayurannya pasti layu karena dimasak terlalu lama. Dan omelet keju ini-" Wanita itu mengambil potongan kecil dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulut, "- ck! Ya ampun, ini terlalu asin."

Elmi merasakan dadanya mencelos. Dia sudah bangun sejak pukul empat pagi, mencoba segala cara untuk membuat sarapan yang terbaik. Tapi, lagi-lagi, semua usahanya seolah tak ada artinya di mata ibu mertuanya.

"Maaf, Bu, saya akan coba lebih baik lagi besok," ucap Elmi pelan. Kata-katanya terselip rasa kecewa yang dalam.

"Nggak usah repot-repot kalau hasilnya cuma seperti ini. Kamu sebaiknya belajar dari pembantu rumah tangga kami yang dulu. Dia bahkan lebih tahu selera keluarga ini dibanding kamu," kata Ibu Damar tanpa basa-basi. Dia mendorong piring nasi goreng menjauh seolah makanan itu beracun.

Elmi menunduk, menahan air mata yang menggenang di sudut matanya. Bukan hanya rasa sakit karena lelahnya yang tak dihargai, tapi juga kata-kata ibu mertuanya yang menusuk hati. "Baik, Bu," sahutnya lemah. 

Saat itu, Damar turun dari lantai atas. Pandangannya terarah ke meja makan, lalu ke wajah Elmi yang pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia duduk dan langsung menyendok omelet ke piringnya.

"Damar, omelet ini terlalu asin, bukan?" tanya ibunya, menatap putranya dengan harapan pembenaran.

Damar hanya mengangkat bahu. "Biasa saja, Bu. Lagi pula aku suka asin. Elmi, tolong buatkan kopi," katanya tanpa ekspresi, seolah situasi itu tidak ada artinya.

Elmi mengangguk, buru-buru melangkah ke dapur untuk menyembunyikan kesedihan yang mulai tak tertahankan. 

Saat ia sedang merebus air untuk membuat kopi, ia masih bisa mendengar ibu mertuanya masih mengomel tentang betapa tidak becusnya Elmi sebagai seorang istri. Kata-kata itu seolah meresap ke dalam setiap pori-porinya, membuatnya merasa semakin kecil dan tak berarti. Tangannya gemetar saat ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, mencampurnya dengan kopi dan gula. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.

"Elmi!" panggil  Damar lagi, mengejutkannya. "Nanti bawakan kopinya ke ruang tengah." Ucap Damar lebih seperti perintah ketimbang permintaan tolong.

Ibu mertuanya menghela napas, lalu melirik Elmi. "Kamu benar-benar harus belajar lebih keras, Elmi. Menjadi istri yang baik itu bukan sekadar bisa memasak. Kamu bahkan gagal dalam hal yang paling sederhana ini."

Elmi hanya bisa diam, mengangguk lemah. Tubuhnya terasa berat, seolah beban yang tak terlihat menindihnya semakin dalam. Setelah ibu mertuanya juga meninggalkan meja, Elmi tetap berdiri di sana, memandangi piring-piring kotor bekas sarapan. Usahanya lagi-lagi tak ada artinya.

Elmi memandangi rumah mereka yang luas dengan perasaan campur aduk. Ini adalah rumah yang dibeli dari uang warisan orang tuanya, hasil jerih payah keluarganya selama bertahun-tahun. 

Namun, semua itu disembunyikan dari Ibu Damar. Sejak rumah orang tua Damar disita oleh bank, ibu mertuanya itu ikut tinggal dengan Damar dan Elmi. Sebenarnya Elmi tidak keberatan, masalah utamanya adalah Damar berdusta bahwa rumah ini hasil kerja keras Damar, dan Elmi hanya bisa diam, menelan ketidaknyamanan yang semakin hari semakin menyakitkan.

"El! Kopi! Mana kopi!" Suara Damar membuyarkan lamunan Elmi.

"Iya, ini, sebentar lagi," jawab Elmi, mencoba tetap tenang. Dia tahu Damar sedang dalam suasana hati yang buruk. Hari-hari seperti ini semakin sering terjadi, terutama sejak Damar kehilangan pekerjaannya  dua tahun lalu. Sejak saat itu, Damar hanya bergantung pada tabungan serta uang gaji hasil kerja keras yang masih Elmi miliki.

Dengan cepat, Elmi meletakkan cangkir di depan Damar. "Maaf, ini kopinya."Saat dia menyerahkan kopi itu, Damar mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih.

Damar menyesap kopi itu tanpa berkata apa-apa lagi. Elmi berdiri di sampingnya, merasa seperti seorang pelayan yang menunggu instruksi lebih lanjut. Ibu Damar masih menatapnya dengan sorot merendahkan, seolah kehadiran Elmi saja sudah merupakan kesalahan besar.

"Ibu mau ke kamar dulu," Ibu mertua Elmi itu bicara datar lalu berbalik cepat menuju ke arah kamarnya yang ada di ujung rumah.

Elmi diam mematung menatap suaminya yang duduk manis di sofa, menghidupkan televisi tanpa benar-benar menonton. Tatapannya kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauan Elmi. 

"Damar," Elmi memulai dengan hati-hati, "aku ingin kita bicara."

Damar mendesah, lalu mematikan suara televisi. "Mau bicara apa lagi?"

"Kapan kamu akan memberitahu Ibu tentang kondisimu yang sebenarnya?" Elmi memberanikan diri menatap suaminya. "Ibumu masih berpikir kalau rumah ini hasil kerja kerasmu. Padahal semua ini dari uang orang tuaku. Bahkan sampai sekarang kita masih menggunakan uang tabungan dan uang gajiku untuk keperluan sehari-hari."

Damar meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. "Kamu mau mulai berdebat lagi? Aku sudah bilang, aku akan cari pekerjaan baru. Ini kan nggak selamanya, hanya sementara."

Elmi menggeleng pelan, merasakan kepahitan yang menyelip di hatinya. "Tapi ... Sudah hampir tiga tahun, Damar. Kita tidak bisa terus begini. Aku juga yang harus menanggung semua ini, bukan hanya masalah keuangan, tapi juga semua kebohongan yang kamu ciptakan."

Damar berdiri, ekspresinya marah. "Kamu pikir aku tidak berusaha? Aku sudah mencoba segalanya! Ini bukan salahku kalau cari kerja masih sulit setelah pandemi! Ck! Kamu ini perhitungan sekali sama suami sendiri!"

"Tapi bukan berarti kamu harus terus berbohong, apalagi pada keluargamu sendiri." Elmi berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku tidak ingin kita hidup dengan kebohongan, Damar."

Damar tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam suaranya. "Oh, jadi kamu ingin bilang sama Ibuku kalau aku ini pengangguran yang hanya mengandalkan uang istrinya? Kamu pikir itu akan membuat semuanya lebih baik?" Damar melotot.

Elmi terdiam. Dia tahu ini bukan saat yang tepat, tapi kebohongan ini semakin memberatkan hati dan pikirannya. "Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain, dan pada keluargamu. Ini bukan hanya soal uang, tapi soal bagaimana kita bisa saling mendukung sebagai pasangan."

Damar menatap Elmi dengan dingin. "Kamu tahu apa? Mungkin kamu benar. Mungkin aku ini tidak berguna. Tapi jangan pikir aku akan membiarkan kamu menghina harga diriku di depan Ibuku.

"Damar, aku nggak pernah bermaksud begitu..."

"Sudah cukup, Elmi!" Damar memotongnya. "Aku mau keluar sebentar. Pusing dengar yang ngomel!"

Sebelum Elmi bisa mengatakan apa-apa lagi, Damar sudah meraih jaketnya dan pergi, membanting pintu dengan keras. Elmi berdiri kaku di ruang tengah yang hening, matanya terpejam menahan air mata yang ingin tumpah. Rasa muak ini semakin menghancurkan mereka, perlahan tapi pasti. Elmi hanya bisa berharap, suatu saat nanti, Damar akan menyadari bahwa kebohongan bukanlah jalan keluar.

Dia menghela napas panjang, kemudian berbalik menuju dapur. Piring-piring yang belum dicuci menantinya, seperti tumpukan masalah yang belum terselesaikan. Dengan tangan gemetar, dia mulai membersihkan, mencoba menghilangkan beban di hatinya dengan setiap gesekan spons dan air sabun. Tapi tetap saja, rasa sesak itu tidak hilang.

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Akhirnya KAU Mencintaiku
Akhirnya KAU Mencintaiku
Dalam Akhirnya KAU Mencintaiku, Rea menyerah setelah dua tahun berjuang dalam pernikahan paksa. Saat Rea menuntut cerai, Jeno baru menyadari betapa berharganya wanita itu. Ikuti kisah romance novel ini di webnovel, sebuah modern novel tentang penyesalan dan kesempatan kedua.
Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
Pasca diceraikan suami pelit, wanita miskin ini dipaksa menikahi duda kaya dalam Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu. Ia harus berjuang di tengah pernikahan tanpa cinta untuk meraih martabat. Baca kisah billionaire romance novels ini dan temukan takdirnya dalam web novel terbaru.
Belaian Cinta
Belaian Cinta
Dalam romance modern Belaian Cinta, Ratih berjuang sendirian saat suaminya bekerja jauh. Tanpa kehadiran Prima, Ratih terjerat hubungan terlarang dengan tiga pria hingga hamil. Temukan konsekuensi pengkhianatan ini di web novel yang penuh drama dan pilihan sulit bagi masa depan rumah tangganya.
Don Juan
Don Juan
Dalam novel Don Juan, pengusaha sukses asal Italia ini menganggap wanita hanya sekadar persinggahan sementara. Namun, tantangan besar muncul saat ia bertemu gadis yang menjungkirbalikkan dunianya. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti kisah modern novel yang penuh gairah.
Genius Liar
Genius Liar
Dalam Genius Liar, Indira Gianina harus membongkar perselingkuhan suaminya, Raefal. Sebagai romance novel dengan elemen mystery story, ia berjuang mempertahankan kehormatan demi sang anak. Baca webnovel modern novel ini untuk melihat taktik Indira menghadapi kebohongan suami yang manipulatif.
Obsesi dan Cinta
Obsesi dan Cinta
Dalam novel romance modern Obsesi dan Cinta, Lifah Putri Sanjaya, putri konglomerat yang bertunangan dengan Bara Wicaksono, harus menghadapi masa lalunya. Pertemuan tak terduga dengan Anggara Prampayoga di tempat kerja menguji kesetiaannya. Baca billionaire romance novels ini sekarang.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Ibu, Sampai Jumpa
Ibu, Sampai Jumpa
Bella lahir dikeluarga yang sederhana, tapi orang tuanya hanya sayang pada adiknya, bahkan terus menyalahkan Bella karena dia tidak sengaja menjatuhkan air dan membuat ibunya lahir prematur. Sedangkan adiknya yang pandai jago akting terus menerus memfitnah Bella yang melakukan kejahatan, bahkan teganya mencelakai kakaknya sampai mati.
Digantikan, Lalu Menikah Mendadak (Sulih Suara)
Digantikan, Lalu Menikah Mendadak (Sulih Suara)
Jena Nantara, sejak kecil kehilangan orang tuanya, dibesarkan oleh tiga kakaknya. Pada ulang tahunnya yang ke-18, ia seharusnya bertunangan dengan salah satu dari mereka, namun Syana Nantara, putri kandung keluarga yang lama hilang, tiba-tiba kembali. Jena dijauhi oleh ketiga kakaknya. Hancur hati, ia menikah dengan Herald Hayora, pewaris Grup Hayora. Setelah menyesal, ketiga kakaknya berusaha membawa Jena pulang, tapi Jena sudah bersama Herald dan tak menoleh lagi.
Ikatan Sunyi: Jatuh Cinta pada Petani Duda
Ikatan Sunyi: Jatuh Cinta pada Petani Duda
Natalie dijodohkan oleh nenek dan keluarganya dengan Rhett, seorang petani duda yang membesarkan putrinya yang bisu, Ellie. Kehadirannya ditolak, dan Ellie sering ditindas oleh orang-orang di sekitar mereka. Perlahan, Natalie membangun ikatan dengan Ellie. Saat gadis kecil itu berbicara untuk pertama kalinya demi menyelamatkannya, segalanya berubah. Kini, Natalie bertekad melindungi cinta dan keluarga yang telah ia bangun, apa pun risikonya.
Apakah Dia Gadis Baik?
Apakah Dia Gadis Baik?
Orang bilang dia gadis baik, tapi dia minta one night stand dan meninggalkannya
Ketika Hati Memilih Pergi (Sulih Suara)
Ketika Hati Memilih Pergi (Sulih Suara)
Asya dan Dhevan telah menikah secara diam-diam selama empat tahun. Di siang hari, dia adalah bawahan Dhevan yang paling cakap, dan di malam hari, dia adalah istrinya yang sangat dicintai. Dia selalu berpikir bahwa hubungan mereka tidak akan berubah, tetapi di bawah bimbingan ibu mertuanya, Asya secara bertahap menyadari bahwa Dhevan perlahan-lahan melewati batas dengan Kezia yang muda dan ceria. Asya memutuskan untuk bercerai, dan mulai menata kembali masa depannya...
Reinkarnasi di Usia 50 Tahun
Reinkarnasi di Usia 50 Tahun
Zidan Meren, seorang sopir truk yang setia, menemukan bahwa istrinya berselingkuh dengan sahabatnya, Marcel Wongso, dan anak-anaknya juga menganggap Marcel sebagai ayah. Setelah terlahir kembali, dia mengandalkan penelitian mobil untuk memenangkan investasi dari wanita kaya dan cantik, dengan cepat menjadi kaya dan menikahi wanita itu untuk membalas dendam pada Marcel. Anak-anaknya merasakan cinta ayah dari buku harian Zidan yang mereka baca. Mereka pun sangat menyesal, tetapi hubungan keluarga sulit untuk dipulihkan.