Logo
Mahkota Sang Dewi
Mahkota Sang Dewi

Mahkota Sang Dewi

94 Bab
Tamat
Dalam Mahkota Sang Dewi, Husein memegang teguh janji suci untuk melindungi Mutia, meski sang istri ingin segera mengakhiri pernikahan mereka karena hati yang terpaut pria lain. Baca kisah romance novel ini di webnovel untuk melihat perjuangan kesetiaan dalam drama modern yang penuh pilihan sulit.
Bab 1 dari Mahkota Sang Dewi

"Gratatatata!" seru seorang gadis yang tengah berjoget di depan layar ponsel.

Dia menyibak rambut ke samping, menunjukkan bentuk lehernya ke publik. Meski dengan pakaian tertutup, gadis itu masih punya rasa malu untuk tidak meniru orang-orang yang memamerkan tali bra-nya.

"Jelek nggak pa-pa, yang penting banyak duitnya!" katanya tanpa merisaukan suara azan yang sudah berkumandang sejak tadi.

Mungkin setelah ini umi atau kakaknya akan mengetuk pintu untuk mengingatkannya salat dan dia hanya membalas nanti. kata nanti itu bisa jadi berakhir lupa atau terlaksana ketika jam salatnya sudah hampir habis.

“Biasa, namanya juga anak muda,” kata Mutia.

"Tiaaa!" seru Umar dari luar, mengetuk pintu kamar Mutia.

"Nantiii." Padahal Umar belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Mutia sudah bisa menebak bahwa Umar akan memintanya salat.

"Nanti apa? Abang belum selesai ngomong," ucapnya.

"Salat, 'kan? Bentar lagi, Bang!"

"Astaghfirullahaladzim, Mutia! Kamu belum salat? Ini udah hampir Isya! Kamu ngapain aja, sih?! Waktu Magrib itu cuma sebentar!" Suara Umar semakin meninggi ketika mengetahui adik bungsunya ternyata belum menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.

Mutia tidak merasa gelisah sedikit pun. Dia malah sibuk menggulir hasil video-videonya dan kebingungan harus memposting yang mana. Mendengar tak ada jawaban dari dalam kamar, Umar menurunkan kenop pintu dan berniat masuk. Namun, ternyata pintu kamar dikunci, membuat hati Umar semakin diliputi emosi.

"Mutia, kamu dengerin Abang, nggak?!" sentaknya.

Mutia menggaruk rambut yang terasa sedikit gatal, kemudian memencet tombol berwarna pink untuk memposting videonya.

"Denger, kok. Bentar lagi, tunggu upload ini bentar."

"Mutia, habis ini udah Isya!"

"Tauuu. Ribet banget, sih, Bang?!" Mutia jadi ikutan kesal kalau disuruh-suruh.

"Kalo sampai belum bergerak juga, Abang dobrak pintu kamar kamu. Biar nggak punya pintu sekalian!"

Mutia menghela napas lelah. Dia bangkit dari kasur dan berjalan menuju meja belajar, meletakkan ponselnya di atas sana. Tidak lupa menancapkan charger agar ketika dia selesai salat nanti, ponselnya bisa digunakan sesuka hati. Setelah memastikan terhubung, Mutia pun membuka pintu kamarnya.

"Udah, 'kan? Ini mau salat. Nggak usah ribet!" katanya ketus.

"Bukan masalah ribet atau enggaknya, Tia. Salat itu kewajiban. Kalau kamu tinggal, dosanya besar. Kamu mau narik semua keluarga kamu ke neraka?" kata Umar, mengikuti langkah Mutia dari belakang.

"Masih muda ngapain mikir yang jauh-jauh, sih? Nikmatin aja, lah, masa mudanya. Gini, nih, Islam terlalu banyak peraturan. Capek!"

Emosi Umar kembali terpancing. "Apa kamu bil—"

Brak

Pintu toilet ditutup dengan tidak sopan. Mutia bersandar pada pintu, lalu menatap ke arah cermin yang terpasang di atas wastafel. Gadis belia itu lelah dengan sikap sang kakak yang selalu merusak suasana hatinya.

***

"Pokoknya, gue berharap diterima di universitas yang gue mau biar bisa merantau, keluar dari rumah! Mental gue bener-bener nggak aman kalo masih tinggal sama keluarga gue," ucap Mutia di sela-sela kegiatannya menghabiskan bakso.

"Lo yakin? Merantau nggak gampang, loh. Lo bakal dipaksa mandiri dan ngurus diri sendiri," ucap Erika.

Dia sendiri masih tak habis pikir, padahal lebih enak hidup dengan orang tua daripada sendirian. Mungkin karena didikan keluarga Mutia cukup keras, sehingga sahabatnya itu ingin sekali minggat dari rumah.

"Bodo amat, gue udah siap sama semua risiko dari merantau. Gua udah mempertimbangkan semuanya, gua yakin bisa!" Mutia meninju udara yang ada di depannya, mengepalkan rasa semangat membara.

"Nggak usah sok-sokan, nanti nangeees!" Willy datang dengan hobinya, memancing keributan. Pemuda itu menyeruput es teh milik Mutia tanpa ragu dan menghabiskannya.

"Eh, es gue, Asem! Minta, sih, nggak pa-pa, tapi, ya, jangan diabisin!" Mutia memukul lengan Willy beberapa kali sampai merasa puas.

"Lo kemarin pake hotspot gue buat main Tiktok lebih sadis mana?" Mendengar itu, Mutia cengengesan dan beralih mengelus lengan Willy yang tadi dipukuli.

"Lo nggak ada kumpul?" tanya Erika pada Willy yang duduk tepat di depannya.

Mutia, Erika, dan Willy memang sudah lama bersahabat. Mereka saling kenal sejak duduk di bangku SMP hingga saat ini berada di kelas 12 SMA. Namun, sayangnya, Mutia dan Erika berada di jurusan yang berbeda dengan Willy. Mereka anak IPS, sedangkan Willy anak IPA.

Berbeda dengan Erika yang hobi rebahan, Mutia dan Willy itu termasuk anak yang aktif berorganisasi sehingga keduanya sama-sama mengikuti organisasi tertinggi di sekolah. Bedanya, Mutia mengikuti organisasi MPK, sedangkan Willy mengikuti OSIS.

"Ada paling. Nggak tau gue. Anak-anak sukanya mendadak kalo ngasih kabar." Willy menyangga dagunya, melirik malas ke arah adik kelas yang sengaja caper di sekitarnya. "Habis ini keknya lo yang bakal sibuk, Mut," kata Willy.

Mutia menelan pentolnya sambil mengangguk. Pandangannya fokus pada layar ponsel yang menampilkan beberapa perempuan berjoget dengan trend baru. "Yes, empat acara besar dalam satu bulan. Mantap, 'kan?"

"Yang jadi ketua pelaksana di acara apa?" tanya Willy.

Erika hanya diam menyimak. Kalau sudah urusan organisasi, dia hanya bisa diam mendengarkan karena tidak mengerti apa-apa.

"Acara sidang pleno," jawabnya.

Willy pun manggut-manggut. "Acara serah terima jabatan, lo jadi apa?"

"Sekretaris." Mutia menghela napas panjang.

Selama ini, menjadi sekretaris adalah posisi terberat yang selalu ingin dia hindari. Pasalnya, terlalu banyak yang harus diurus walaupun tugas sekretaris adalah pra-acara. Tetap saja Mutia merasa malas untuk mengerjakan.

"Semangatlah, bentar lagi lengser!" kata Willy terkekeh melihat ekspresi Mutia yang tampak tertekan.

"Jangan ketawa lo. Liat fans lo pada jerit-jerit kesurupan." Ucapan Erika membuat mood Willy memburuk.

Dia memang merasa risih didekati oleh perempuan, apalagi yang sangat menunjukkan ketertarikan. Di mata Willy, mereka sangat genit.

"Simut!" Mutia, Erika, dan Willy menoleh.

Ketiganya memusatkan pandangan pada dua laki-laki yang berjalan ke arah mereka. Sosok yang dipanggil Simut itu tersenyum ke arah pacarnya. Memang, panggilan akrab Mutia adalah Simut karena kata orang-orang, tubuhnya begitu kecil dan imut sehingga dipanggil simut.

"Udah selesai?" tanya Mutia kepada Yusuf yang baru saja berdiri di sebelah mejanya. Pria itu adalah duta sekolah, tentu saja karena ketampanannya yang sangat menonjol.

"Udah. Pulang sekarang, yuk, takut keburu hujan." Yusuf memberikan jaketnya pada Mutia agar dikenakan.

Mutia menerimanya dan mendekap jaket itu. Diliriknya Wisnu—sahabat Yusuf sekaligus pacar Erika—yang sedang mencubit gemas pipi Erika. Gadis itu memang memiliki pipi yang gembul, jadinya orang-orang sering gemas ingin mencubit dan memainkannya seperti marshmellow.

"Rik, Nu, Wil, kita duluan, ya!" kata Mutia.

"Duluan, Bro," ucap Yusuf.

"Hati-hati, Cantik!" balas Erika.

"Yoi," jawab Wisnu dan Willy hampir barengan.

Di perjalanan menuju parkiran, Yusuf bertanya, "Simut, besok mau nonton, nggak? Aku ada tiket buat dua orang."

Mutia melirik Yusuf sekilas. "Nonton film?"

"Iya, film horor."

Mutia berpikir sejenak, mengingat-ingat apakah dirinya punya rencana besok.

"Boleh, tapi jemput di depan pos ronda, ya. Takut ketahuan Abang." Gadis itu membuat kesepakatan.

"Iya."

***

"Bunda, udah bangun? Minum dulu, Bun, biar tenggorokannya seger," ucap seorang pria berpakaian koko dan sarung yang melekat. Kopiah hitam juga masih bertengger di kepalanya, memancarkan aura segar untuk dipandang.

Wanita paruh baya berusia kepala empat itu berusaha membuka sempurna matanya. Dia melihat anak sulungnya, kebanggaannya, kesayangannya itu tengah membantunya bangkit dari tidur. Dengan memberikan sandaran bantal di belakang punggung, Rara menarik napas panjang. Dia menerima segelas air mineral dari sang anak.

"Husein," panggilnya.

Nadanya begitu lemah, membuat Husein tak kuasa menahan air mata yang hendak keluar. Baginya, bunda adalah perempuan paling kuat yang tidak pernah menangis atau mengeluh di depannya. Wanita kesayangannya yang begitu hebat, kini sedang menahan rasa sakit atas penyakit yang diderita.

"Iya, Bunda. Bunda butuh apa? Husein akan siapkan, apa pun." Husein dengan sigap menggenggam tangan Rara, seakan tidak pernah ingin melepasnya, kapan pun.

"Husein, anak Bunda yang paling ganteng," panggilnya lagi, kini diiringi belaian lembut di pipinya.

Husein terkekeh. "Anak Bunda yang cowok, kan, memang cuma satu."

"Sein, umur Bunda ...." Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Husein sudah memotongnya.

"Nggak. Jangan ngomong gitu. Bunda bakal panjang umur, Husein akan selalu jaga Bunda. Jadi, jangan bahas soal itu, ya?"

Rara menggeleng dengan senyuman lembut. "Husein, kalau Bunda minta sesuatu, Husein mau nurutin?"

Sontak Husein mengangguk berulang kali. "Pasti! Pasti, Bunda! Apa pun, bakal Husein usahain."

"Pernikahan."

Raut wajah Husein spontan berubah. Dia menegang di tempat. Selama ini, sejak gagalnya pertunangannya waktu itu, bundanya tidak pernah membahas lagi soal pernikahan. Husein pikir, wanita berjasa dalam hidupnya itu tidak lagi berharap dan lebih memilih menunggu yang terbaik. Namun, ternyata selama ini, diam-diam bundanya masih berharap ada seorang wanita untuk segera membantu menyempurnakan agama.

"Sebelum nyawa Bunda nggak ada, untuk terakhir kalinya, Bunda ingin ditemani seorang menantu dari kamu. Bunda ingin melihat kamu bahagia sudah menemukan tulang rusukmu."

Sekadar berusaha menenangkan, Husein memajukan kursinya dan mengelus tangan Rara. "Iya, Bunda. Doakan yang terbaik, ya? Husein juga berharap ada—"

"Ada." Rara tahu bahwa Husein akan beralasan sedang menunggu seseorang untuk datang. Padahal selama ini yang dilakukan anaknya hanya fokus dengan pekerjaan. Seolah-olah dirinya sudah trauma dengan perempuan.

"Ada? Bunda sudah mengenal seorang perempuan?" Husein terkejut dengan jawaban Rara yang mengatakan ada perempuan untuknya.

“Tapi, siapa? Selama ini Bunda hanya berada di rumah sakit, sudah lebih dari sepuluh tahun.” Pikirannya riuh.

"Bunda kenal seorang perempuan. Anaknya cantik, baik, periang, lucu. Cocok sama kamu yang jail dan overprotektif."

Husein dua kali terkejut kala mendengar deskripsi tentang gadis itu. "Husein kenal?" tanyanya.

Bunda menggeleng. "Mungkin kenal, mungkin tidak. Dia tetangga kita dulu sebelum pindah, tapi Bunda juga tidak tau sekarang dia tinggal di mana. Apa kamu mau mencoba mencari tahu?"

"Bunda yakin?"

Rara mengangguk mantap. "Kalau kamu mau."

"Siapa namanya, Bun?" tanya Husein dengan hati yang diselimuti ketegangan.

"Kalau tidak salah ... namanya Mutia Azzahra Wiranata."

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain
DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain
Dalam romance novel DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain, seorang suami harus menghadapi konsekuensi setelah mencampakkan istrinya yang setia. Penyesalan datang terlambat saat Diana pergi mencari kebahagiaan baru. Baca kisah modern novel ini untuk melihat perjuangan menebus kesalahan.
Diantara Larangan dan Perasaan
Diantara Larangan dan Perasaan
Dalam novel romantis Diantara Larangan dan Perasaan, rahasia besar terungkap saat sang paman menemukan diari keponakannya di hari ulang tahun ke-22. Mengetahui cinta terlarang itu, sang paman mengirimnya ke luar negeri dan menikahi cinta pertamanya. Baca novel online ini sekarang.
Fanboy Romantis
Fanboy Romantis
Dalam Fanboy Romantis, Kiky menghadapi sisi gelap artis pujaan Fayrin yang arogan di balik layar. Meski penuh konflik, kebenciannya berubah menjadi misi untuk mendapatkan cinta sejatinya. Simak kisah modern novel ini sebagai pilihan utama bagi pembaca romance stories dan web novel.
Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
Dalam Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya, Ella harus menjaga perasaan pada sahabatnya, William. Sebagai anak tunggal kaya raya, William fokus pada warisan perusahaan dan Camelia, memicu konflik di billionaire romance ini. Baca kisah mereka di web novel yang penuh dilema modern ini.
Hati Yang Tersakiti
Hati Yang Tersakiti
Dalam novel romantis Hati Yang Tersakiti, Linda mengira ia menemukan cinta sejati bersama Fendi, seorang miliarder mafia. Namun, rahasia gelap terungkap saat ia hamil: Fendi menikahinya demi menyelamatkan kakaknya. Baca novel online gratis ini untuk mengikuti kisah pelarian Linda.
Kehilangan Kendali Atas Kegilaanku
Kehilangan Kendali Atas Kegilaanku
Dalam novel modern Kehilangan Kendali Atas Kegilaanku, aksi nekat di taman malam hari memicu ketegangan intim yang tak terduga. Menyadari dirinya diawasi pria asing, sang protagonis justru terhanyut dalam sensasi menantang. Baca cerita romantis ini di platform novel web.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Cinta yang Dikhianati
Cinta yang Dikhianati
Marlee, yang termotivasi oleh keinginan egois, menyebabkan Jerred mengalami kecelakaan mobil hingga kakinya terluka. Saat berbicara dengan dokter, Jerred tak sengaja mendengar kebenaran yang mengejutkan. Di saat itu juga, dia menelepon ibunya, memutuskan untuk kembali ke keluarganya. Pada hari pernikahan palsu Marlee dan Nathan, Jerred memilih pergi untuk selamanya.
Para Dewa
Para Dewa
"Protagonis pria bekerja keras tiap hari untuk memberikan kehidupan yang baik untuk istrinya. Tepat dihari perayaan pernikahan mereka, protagonis pria baru mengetahui jika istrinya telah berselingkuh. Mereka akhirnya bercerai dan protagonis pria mengungkapkan identitas aslinya dan bersumpah akan merebut kembali kemuliaannya."
Dewa Terkutukku
Dewa Terkutukku
Saul menyelamatkan Lexi, putri kedua keluarga Holt, dari percobaan pembunuhan yang direncanakan kerabatnya sendiri. Dia mengaku sebagai dewa yang terjebak dalam keluarga Holt selama lima puluh tahun oleh sebuah kontrak kuno. Begitu liontinnya hancur, nyawanya pun terikat dengan Lexi, dan tubuhnya akan dilalap api jika dia berjarak lebih dari tiga meter darinya. Di balik jerat intrik perusahaan dan konspirasi kelam, sang putri konglomerat yang angkuh dan penjaga berkata pedas itu justru kian dekat. Tewasnya nenek Lexi dalam kondisi misterius kemudian memicu pembacaan wasiat yang mewajibkannya menikah. Menghadapi situasi itu, Saul pun dengan berani melamarnya. Tak disangka, terungkaplah fakta bahwa mereka ternyata telah menjadi suami istri dua ribu tahun silam. Suatu hari, mereka disandera oleh Wilbur, dalang di balik semua konspirasi ini, yang ingin membalas dendam. Dalam keadaan terdesak itu, kontrak justru terpatahkan oleh sebuah ciuman cinta sejati. Demi menyelamatkan nyawa Lexi, Saul mengorbankan seluruh kekuatan sihirnya hingga meninggal. Dua puluh dua tahun berselang, di makam Saul, Lexi akhirnya disatukan kembali dengan reinkarnasinya, mengubur perpisahan seribu tahun mereka.
Buka Matamu, Suamiku Miliarder
Buka Matamu, Suamiku Miliarder
Hailey terhimpit masalah keuangan dan putus asa mencari cara untuk membayar tagihan medis ibunya yang sangat besar. Keluarganya setuju untuk membantu, dengan syarat dia harus menikahi Samuel Trent, seorang miliarder yang sedang koma setelah kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya. Namun, tak lama kemudian, Samuel Trent yang terkenal itu akan terbangun dari komanya dan menemukan bahwa dia bertunangan dengan seorang asing yang sama sekali tidak dikenalnya
Akulah Si Putri Kecil yang Manis Sebenarnya
Akulah Si Putri Kecil yang Manis Sebenarnya
Di kehidupan sebelumnya, Yohana Widodo meninggal karena sakit, membawa banyak penyesalan. Hidup kembali, ia ingin lepas dari kehidupan lamanya yang terlalu patuh, dan terutama—memperbaiki hubungannya dengan sang ayah, Jeremy Widodo. Dia mengikuti audisi film dan sukses berkat akting emosionalnya, menjadi bintang baru yang disukai banyak orang. Namun kakaknya, Lucia Widodo, juga mengincar peran yang sama. Dalam persaingan terbuka, Yohana Widodo menang dan jadi pemeran utama. Semakin dekat dengan manajer Cindy, sang ayah mulai merasa tersisih. Sampai suatu hari, Yohana Widodo menyadari—ayahnya sebenarnya sangat menyayanginya, hanya tak tahu cara menunjukkan. Dia pun tahu bahwa ibunya yang telah tiada adalah cinta sejati ayahnya, dan Cindy adalah sahabat ibunya. Di kehidupan baru ini, Yohana Widodo tumbuh bahagia, dikelilingi oleh kasih sayang.
Resep Takdir yang Berubah
Resep Takdir yang Berubah
Mimpi seumur hidup Lydia adalah menjadi seorang koki pastri dan membuat hidup lebih manis dengan hidangan penutupnya. Namun, hidupnya sendiri penuh dengan kepahitan dan penderitaan. Segalanya berubah ketika miliarder Scott muncul, dan dengan sebuah kebohongan kecil yang tak berbahaya, ia mengubah takdir Lydia. Lydia sama sekali tidak tahu bahwa semua ini dimulai dari kebaikannya lima tahun yang lalu.