Logo
Lentera Rindu
Lentera Rindu

Lentera Rindu

84 Bab
Tamat
Dalam romance novel Lentera Rindu, Rima harus menghadapi penolakan suaminya, Bary, yang jauh lebih muda. Di tengah konflik pernikahan usia dini, ia berjuang mencari jawaban atas rahasia batin pasangannya. Baca kisah modern novel ini untuk mengungkap makna kesetiaan dan rindu yang abadi.
Bab 1 dari Lentera Rindu

"Kamu mau tidur dengan saya?" tanya Rima.

"Kenapa Kakak bicara begitu?" jawab Bary balas bertanya.

"Kenapa? Bukankah siang tadi di depan Penghulu, kamu sudah berikrar menjadikan saya sebagai istri kamu?" tegas Rima.

Meskipun Rima cukup lugas dalam menyampaikan argumennya, tetapi pada saat yang bersamaan, Bary masih bisa menangkap dengan jelas ada lara dalam gaung suara Rima.

"Iya, Kakak memang betul," ucap Bary juga pada akhirnya. "Tapi sampai kapan pun, Kakak tetaplah kakakku. Kakak yang saya hormati, yang akan saya cintai dengan sepenuh jiwa."

"Apakah kamu tidak mencintai saya?"

Kembali Rima melaungkan sendunya. Bary semakin mudah membaca, barusan Rima hanya coba berkamuflase tentang rasanya.

"Sangat, Kak, sangat," timpal Bary, remaja pria lima belas tahun ini dengan penuh keyakinan. "Sumpah demi Allah, saya sangat mencintai Kakak. Apakah Kakak mulai meragukan saya?"

"Lalu, kenapa kamu tidak mau tidur dengan saya?" Rima masih bersikeras, tetapi nada bicaranya semakin landai.

"Karena Kakak adalah kakakku. Mana mungkin saya berani kurang ajar sama Kakak? Saya ini adik kamu, Kak! Kenapa Kakak memaksa saya untuk melakukan itu? Apakah Kakak sudah tidak menginginkan saya untuk menemani hidup Kakak lagi? Kenapa, Kak? Apa salah saya ... ?" lirih Bary.

Bary sudah berusaha keras, tetapi pada akhirnya ia mulai kesulitan meredam rasa perih. Matanya mulai berkaca-kaca.

Mendapati itu, sedetik kemudian, Rima yang tengah hamil dengan usia kandungan jelang enam bulanan ini, sigap menabrakkan tubuhnya ke tubuh Bary, lalu memeluk Bary dengan begitu eratnya.

"Maafkan Kakak, Dek!" desis Rima dengan tidak kalah lirihnya.

Sampai di sini, bak dam jebol, Rima yang sejak tadi juga memperjuangkan tangisnya agar tidak sampai tumpah, pada akhirnya tak terbendungkan lagi.

"Karena Kakak, kamu juga ikut terlunta-lunta seperti ini," tambah Rima di antara derai isak tangisnya.

"Tidak, Kak, tidak!" balas Bary cepat. "Kakak tidak boleh bicara seperti itu. Ini mungkin sudah takdir kita. Saya ikhlas, Kak, sangat ikhlas. Kakak tidak perlu meragukan saya. Bisa hidup bersama Kakak saja, itu sudah lebih dari segalanya bagi saya. Percaya sama saya, Kak!"

Rima tak mampu lagi berkata-kata. Rima tahu, keikhlasan Bary tak mungkin dapat ia pungkiri. Akan tetapi, karena keikhlasan itu jugalah Rima semakin sukar menyembunyikan perih pada lahir dan batinnya.

Tiga bulanan hidup bersama di 'pembuangan' ini, Rima semakin letih berpura-pura tegar di hadapan Bary, adik angkatnya yang hanya dilabeli 'anak pungut' oleh Bu Lija, ibu Rima.

Sedangkan Bary, semakin ke sini, dia semakin hapal dengan sikap Rima, wanita yang menjadi korban dari kebejatan orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi Rima sendiri.

Bary rela pasang badan, dan mengorbankan banyak hal, hanya demi mengembalikan senyum yang terenggut dari wajah Rima. Padahal, Bary tidak punya hubungan apa pun dengan Rima kecuali sebatas kakak angkat tersebut.

Empat bulan kemudian.

"Mana bidannya?" Rima menyambut Bary dengan mimik resah.

"Dia tidak mau datang, Kak!" sahut Bary dengan nada yang sangat terukur.

"Ya Tuhan ...," lirih Rima. "Kenapa, Dek?" tambah Rima.

"Mama Yohana minta kita bayar uang muka, lima ratus. Uang kita tidak cukup," terang Bary.

"Mama Yohana bilang begitu?" tanya Rima lagi.

"Iya, Kak," sahut Bary.

"Ya, Allah ...," gumam Rima pelan seolah-olah menggumam untuk dirinya sendiri.

Bary terdiam. Bary yang baru saja kembali dari rumah Mama Yohana, meminta Bidan Kampung tersebut untuk membantu persalinan Rima, tetapi ditolak mentah-mentah dikarenakan Bary tidak punya cukup uang untuk membayar uang muka persalinan, kian terpuruk saat mendapati mimik perih di wajah Rima.

Ingin rasanya Bary saja yang menangis menggantikan Rima. Rima yang malang ini, semenjak dia dibuang oleh ibu kandungnya sendiri, ia sudah terlalu letih menangis. 

"Tolong, Dek! Cepat cepat! Uh ... uh!" Rima membuyarkan lamunan Bary sesaat barusan.

"Iya, iya, Kak," sahut Bary dengan begitu paniknya. "Bantu apa, Kak?" tambahnya sembari menghampiri Rima.

"Cepat ambilkan sarung!" seru Rima dengan nada yang memburu.

"Iya, iya!" sahut Bary dan langsung meraih sarung yang tersusun rapi di atas tikar. "Mau diapakan sarungnya, Kak?" tanya Bary kemudian.

"Cepat lipat tiga baru taruh di bawah paha kakak!" Nada Rima semakin melaju.

Secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Rima. Sesaat kemudian, Bary sudah melipat kain sarungnya menjadi tiga bagian sebagaimana yang diinginkan oleh Rima. Akan tetapi, untuk menaruh kain sarung tersebut di bawah paha Rima, yang tengah rebahan terlentang dengan kedua lutut ditegakkan, Bary sungkan, Bary tidak berani.

Apalagi, Rima tengah dalam kondisi hendak bersalin, yang mana, otomatis dia tidak mengenakan pakaian dalam.

Bary sangat menghormati Rima. Meskipun dalam keadaan darurat seperti saat ini, tetap saja Bary merasa risih jika harus menatap bagian-bagian privat di tubuh Rima.

"Sudah?" tanya Rima.

"I-iya, Kak, sudah," sahut Bary sambil menyodorkan kain tersebut kepada Rima, tanpa menolehinya.

Rima menyambutnya, tetapi jika hanya satu helai kain sarung, Rima merasa belum cukup. "Masih ada sarung kita, 'kan? Tambah satu lagi!" seru Rima.

Rima semakin panik, begitupula dengan Bary. Bersamaan dengan itu, tanpa menunggu diperintah dua kali, secepat itu juga Bary melakukan seperti apa yang Rima minta. Kini Bary sudah memegang kain sarung yang lain.

"Taruh di mana ini?" tanya Bary.

"Pegang, pegang!" seru Rima. "Pegang! Taruh di bawah 'anu' kakak. Sambut bayinya pakai itu!"

"Ta-tapi, Kak?" Kondisinya semakin darurat, tetapi Bary belum bisa melakukan begitu saja apa yang diperintahkan oleh Rima.

"Tidak apa-apa, Dek, tidak apa-apa! Tolong bantu, kakak! Aduh, Ma ... tolo-ng!" lirih Rima dengan napas yang kian memburu.

Rima menyebut 'Ma', Ma yang mana? Bary merasa Rima tidak punya Ma lagi. Ma-nya sudah membuang Rima. Sedih, Bary benar-benar pilu.

Bary risih, Bary sungkan, Bary cemas. Akan tetapi, Bary harus melakukannya. Meskipun Bary tidak tahu kenapa Rima memintanya untuk melakukan hal tersebut, tetapi ia lakukan saja seperti apa yang Rima perintahkan. 

Lalu, dengan kain sarung di genggaman, ragu-ragu Bary menengadahkan tangan di 'jalan keluar', di bawah pangkal paha Rima.

"Kak ... !" desis Bary. Bary sudah melihat adanya separuh kehidupan baru yang tersembul dari sesuatu Rima.

"Uh ... ! Uh ... !" Deru napas Rima. Ia tengah mengejan sekuat tenaga.

Pada saat yang bersamaan, Rima yang kesulitan bernapas, Bary yang ketakutan. Rima yang bertarung melawan hidup atau mati, separuh nyawa Bary yang serasa telah lebih dulu melayang.

"Sudah keliatan? Uh ... ! Uh ... !" Kembali terdengar napas memburu dari Rima.

"Apa, Kak?" jawab Bary balas bertanya.

"Bayinya!" imbuh Rima.

"O, iya iya! Kepalanya sudah keliatan!" Jawab Bary.

Samar-samar, memang Bary sudah melihat kepala bayi Rima sejak beberapa saat barusan tadi. Itulah kenapa Bary sampai keringat dingin.

"Pasang tangan! Sambut kalau dia keluar! Jangan sampai dia jatuh ke lantai! Uh ... ! Uh ... !" Kali ini napas Rima lebih berat, dan lebih panjang. 

Sesaat kemudian.

"Uh ... ! Ah ... !"

Bayi Rima pada akhirnya terlahir ke dunia. Tangkas pula sepasang tangan Bary yang beralaskan kain sarung terlipat menyambut bayi tersebut. 

"Ngek ... !"

Ada jeda sekian saat lamanya barulah bayi berjenis kelamin laki-laki ini mengeluarkan suara tangisan pertamanya.

"Cepat, cepat!" Kembali nada bicara Rima menderu.

"Iya, iya, kenapa?" Bary pun kembali pada kepanikan semula.

"Kasi tengkurap!" seru Rima.

"Apa, Kak?" Bary tidak mengerti.

"Kasi tiarap dia supaya ari-arinya tidak kembali dalam perutnya," ucap Rima lagi.

"O ...." Bary membolakan bibirnya.

Lalu, meskipun bimbang, tetapi Bary tidak berani membantah. Hati-hati ia telungkupkan bayi tersebut di atas lipatan kain sarung yang yang lain. Bary menaruhnya di samping Rima.

"Lepas! Biar kakak yang tekan!" seru Rima. "Tolong ambilkan pisau biar kakak yang potong!"

"Ya, Tuhan? Jangan, Kak, jangan! Kasian, salah dia, apa? Biarkan saja dia tetap hidup! Ada saya yang nanti bantuin Kakak!"

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
Dalam Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati, Aryan, seorang CEO billionaire, terpaksa menikahi Alana demi tanggung jawab. Terjebak dalam modern novel ini, mereka menghadapi konflik status dan rahasia keluarga. Akankah pernikahan paksa ini menjadi romance novel yang berakhir bahagia?
Dokter Tampan dan Pasien
Dokter Tampan dan Pasien
Dalam Dokter Tampan dan Pasien, Han Jang Woo menghadapi dilema saat Kim Ae Jin selalu menghindar dari pemeriksaan. Romance novel ini mengungkap rahasia kelam masa lalu mereka yang tersembunyi. Simak kisah modern novel penuh misteri ini melalui layanan read novels online sekarang.
Hamil dengan Mantan Bosku
Hamil dengan Mantan Bosku
Dalam novel Hamil dengan Mantan Bosku, Cynthia memilih pergi saat Juan hendak menikahi wanita lain. Kini ia kembali sebagai sosok baru di tengah pengejaran sang mantan. Simak kisah billionaire romance novels ini dalam web novel penuh intrik tentang takdir dan kesempatan kedua.
Istriku Bukan Selingkuhanku
Istriku Bukan Selingkuhanku
Dalam Istriku Bukan Selingkuhanku, Bram harus menutupi pernikahan sepuluh tahunnya dari sang ibu. Sebagai atasan di perusahaan, sang billionaire ini memalsukan perjalanan dinas demi menjaga rahasia rumah tangganya. Simak romance novel dewasa ini dalam koleksi read novels online kami.
Love for Haphephobia
Love for Haphephobia
Dalam Love for Haphephobia, Lintang terjebak drama rumit saat mencoba menggagalkan pernikahan ibunya. Demi membuktikan cintanya pada Bintang di depan mantan kekasihnya, ia harus menghadapi trauma fisik dalam romance novel ini. Sebuah modern novel penuh pilihan sulit dan pembuktian diri.
MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA
MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA
Dalam romance novel MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA, Sawitri harus menghadapi pengkhianatan Burhan dan tekanan ibu mertua yang mendukung perselingkuhan demi materi. Baca modern novel ini untuk melihat perjuangan Sawitri melawan ketidakadilan dalam rumah tangganya di platform online novel ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Ayah! Kau Memanjakan Anak yang Salah
Ayah! Kau Memanjakan Anak yang Salah
"Dasar penipu jahat, tunggu saja dan lihat bagaimana ibu dan ayahku mengusirmu dan anakmu!" Enam tahun lalu, setelah pertemuan satu malam dengan orang asing, dia memiliki seorang putri dan membesarkannya sendirian. Sekarang, dia berhasil menemukannya, tetapi saudara perempuannya yang pencemburu telah mengakui identitasnya, menggunakan setiap kesempatan untuk mempersulit hidup dia dan putrinya. Meskipun dia tidak tahu siapa dia sebenarnya, dia mendapati dirinya turun tangan untuk melindunginya berkali-kalin dan jatuh cinta padanya.
Janda Beranak Menikah dengan Keluarga Kaya
Janda Beranak Menikah dengan Keluarga Kaya
Setelah Shinta cerai, dia menikahi Braga, CEO Grup Hadian. Braga menyadari Togi mungkin anaknya, penyelidikan mengungkap Shinta ditipu mantan suaminya, Erfan, yang menyamar jadi ayah anak itu, tapi kebenaran terungkap dan dia dihukum. Shinta, anaknya, dan Braga bersatu kembali dengan bahagia.
Mau Cari Uang, Malah Bermasalah
Mau Cari Uang, Malah Bermasalah
Sejak kecil Gea tahu masalah tak bisa diatasi dengan uang saja, tapi tanpa uang juga susah. Gea mengandalkan kemampuan dan pengetahuannya untuk meraih peluang demi peluang. Di kampus maupun sosial, ia selalu menangkap kesempatan kecil itu. Namun murid baru membuat hidup kampusnya yang tenang jadi ramai. Lama-lama Gea sadar: rekan yang ia kira saling menguntungkan sedang memainkan permainan perawatan baru—dan yang “dirawat” adalah dia.
Pada Hari Pernikahan
Pada Hari Pernikahan
Seorang pekerja kantoran biasa didekati oleh prajurit tampan, tapi apa status pria itu benar atau tidak, tak ada yang tahu. Hanya saja dia segera menyadari bahwa berpura-pura menjadi seorang komandan memiliki risiko tinggi, bahkan bisa mengancam nyawa.
Terlahir Kembali Sebagai Istri Kesayangan Sang CEO
Terlahir Kembali Sebagai Istri Kesayangan Sang CEO
Dia dijebak oleh tunangan dan sahabatnya, ditinggalkan dalam keadaan hancur dan akhirnya dibunuh. Setelah lahir kembali, dia menjadi istri seorang miliarder. Ingin membalas dendam, dia berdiri di sisinya, selalu siap membantu.
Terlahir Kembali, Aku Menjauhi Kakakku
Terlahir Kembali, Aku Menjauhi Kakakku
Clara adalah anak kandung keluarganya, tapi orang tua serta kakak-kakaknya selalu cuma sayang pada adik angkatnya, Emily. Setelah disiksa bertahun-tahun, Clara akhirnya dibunuh Emily pada usia 24 tahun. Sekarang dia diberi kesempatan kembali ke umur 19 tahun lagi. Kali ini dia bersumpah tidak akan jadi korban pembulian lagi!