Bab 6
Mungkin penelantaran yang berkepanjangan akhirnya membuat Rainie merasa terancam, sehingga dia melepas topengnya dan memperlihatkan sifat aslinya.
Keesokan paginya, saat Shanon bangun, dia melihat rentetan pesan provokatif Rainie yang dikirim semalam.
[Shanon, aku tahu kau melihatnya. Gimana rasanya lihat suamimu berciuman dengan cewek lain dan anakmu bahkan bantu menutupinya?]
[Andy sangat suka saat aku menangis. Dia bilang melihat air mataku memberinya kepuasan tersendiri, terutama saat ... di ranjang.]
[Setiap kali aku nangis, dia akan makin bergairah. Dia bahkan nggak mau berhenti saat aku sudah serak, bahkan bilang betapa dia ingin 24 jam bersamaku. Andy nggak pernah begitu denganmu, kan?]
[Bahkan anakmu lebih suka bersamaku. Dia bilang dia merasa sangat rileks dan nyaman bersamaku. Suatu kali, saat dia pikir aku tertidur, dia bahkan panggil aku mama.]
[Kau sungguh gagal sebagai istri Andy.]
Melihat semua pesan provokatif ini, Shanon menahan luapan emosinya dan menyimpan semua pesan tersebut.
Hanya sisa tiga hari sebelum kepergiannya, dia bertekad untuk meninggalkan pesan-pesan ini sebagai hadiah perpisahan terakhirnya untuk Andy.
Pagi itu, dia minta untuk pulang. Pihak rumah sakit segera memberitahu Andy.
Tak lama kemudian, Andy meneleponnya, suaranya terdengar menyesal.
“Shanon, aku masih sibuk di kantor. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu. Aku akan menjaga anak kita, istirahatlah dengan tenang di rumah.”
Dia tahu mereka sedang menemani Rainie, maka dia hanya mengiyakan dengan acuh tak acuh.
Tiga hari sebelum meninggalkan dunia tersebut, Shanon pulang ke rumah dan memerintahkan pembantu untuk mengumpulkan dan membuang semua barangnya.
Pembantu bertanya dengan bingung, “Nyonya, apakah Anda akan menggantinya dengan yang baru?”
Dia mengangguk.
“Ya.”
Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa tidak hanya barang-barang yang akan diganti, tetapi nyonya rumah ini pun akan diganti.
Dua hari sebelum meninggalkan dunia, Shanon membuka ruangan rahasia yang hanya dapat diakses olehnya, Andy, dan Shane.
Dinding ruangan itu dipenuhi dengan foto-foto mereka selama sepuluh tahun terakhir, beserta potret keluarga tahunan sejak kelahiran Shane.
Selama sepuluh tahun itu, sosok-sosok dalam foto-foto tersebut telah tumbuh dari muda menjadi dewasa, dari dua orang menjadi tiga orang saat ini.
Tapi sekarang, akan berkurang satu orang.
Shanon mengambil sebuah gunting, dan berada di ruang rahasia itu dari pagi hingga malam, menggunting setiap foto dirinya, hanya mengisakan foto Andy dan Shane.
Dia kemudian mengambil akta nikah yang Andy simpan dengan khidmat di brankas lima tahun yang lalu. Saat membukanya, dia terkejut menemukan janji pernikahan yang ditulis Andy untuk upacara pernikahan mereka terselip di dalamnya.
[Shanon, bagiku, kau adalah duniaku.]
[Berkat dirimu, duniaku menjadi terang kembali.]
[Aku akan mencintai dan menghargaimu selamanya. Aku percaya kita akan menua bersama, mencintai satu sama lain sepanjang hidup kita.]
Dia membaca setiap kata, baris demi baris, halaman yang padat itu mengungkapkan kasih sayang mendalam Andy yang berusia 22 tahun untuk Shanon.
Pada akhirnya, Shanon tertawa diam, matanya sedikit berkaca-kaca.
Akhirnya, dia mengembalikan janji pernikahan itu ke dalam akta nikah, bersama potongan foto dirinya, menumpuknya di tengah taman sebelum membakarnya.
Dia berdiri di sana, menyaksikan sendiri foto dan akta nikah terbakar menjadi abu.
Sehari sebelum meninggalkan dunia, Shanon mencetak semua foto dan pesan yang dikirim Rainie beberapa hari ini.
Di antaranya ada satu foto Andy, bertelanjang dada, memeluk Rainie yang lehernya dipenuhi bekas ciuman. Foto lain menunjukkan Shane berbaring mesra dalam pelukan Rainie, mendengarkan cerita sebelum tidurnya. Foto lain lagi menunjukkan Rainie, Andy, dan Shane bersama di taman hiburan, semua mengenakan bando kartun.
Shanon mengira akan merasa sedih, namun kini dia hanya merasakan ketenangan yang mendalam saat melihat foto-foto tersebut.
Shanon memasukkan semua foto yang dicetak bersamaan dengan cincin nikah yang dilepaskannya ke dalam berkas tas.
Hari kepergiannya bertepatan dengan ulang tahun pernikahan ketujuhnya dengan Andy. Setelah beberapa hari absen, Andy dan Shane kembali pagi itu. Andy bahkan membawa kue berbentuk hati.
“Shanon, salahku karena terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini. Hari ini hari jadi pernikahan kita, aku dan Shane akan menemanimu seharian."
Shane juga mengangkat kepalannya dan bersumpah.
"Mama, aku bersaksi bahwa Papa memang lembur di perusahaan setiap hari, aku selalu ingat kewajibanku untuk membantumu menjaganya dengan baik."
Shanon menatap kedua orang yang membuat janji khidmat itu dan bertanya dengan lembut.
"Lelahkah?"
Berputar di antara dirinya dan Rainie, dan berpura-pura menjadi suami dan anak yang baik di hadapannya, apakah mereka benar-benar tidak lelah?
Bab 7
Andy dan Shane menjawab serempak.
"Nggak lelah!"
Shane memegang tangannya, menatapnya dengan mata berbinar.
"Aku nggak akan lelah dengan apa pun yang berhubungan dengan Mama."
Andy mencubit wajahnya dengan penuh kasih sayang.
"Shanon, sesibuk apa pun pekerjaanku, semua rasa lelahku lenyap begitu melihatmu."
"Lagipula, hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Kita merayakannya bersama setiap tahun. Sesibuk apa pun di kantor, aku pasti akan balik."
Shanon hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.
Andy meletakkan kue dan mulai sibuk di dapur.
Dia telah meliburkan semua pembantu dan berencana untuk memasak sendiri beberapa hidangan favorit Shanon untuk merayakan hari jadi mereka.
Tak mau kalah, Shane membawa bangku kecil dan mulai memotong serta memeras buah.
Setelah sibuk seharian, semua hidangan akhirnya disajikan pada siang hari. Andy menyalakan lilin berangka 7 dan menggenggam tangannya, pandangannya penuh cinta. "Shanon, seandainya kau nggak di sisiku saat itu ..."
Shane bertepuk tangan gembira.
"Wah, Papa dan Mama sangat romantis!"
Namun, sebuah deringan tiba-tiba memecah suasana hangat itu.
Shanon menarik kembali tangannya dan menyerahkan ponsel yang menampilkan nama Rainie di layar.
Andy tersenyum dan berkata dia tidak akan menjawab panggilan siapa pun hari ini.
Namun Shanon bersikeras. Setelah melihat nama di layar, Andy ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat telepon.
"Shanon, asistenku yang menelepon. Aku takut ada urusan mendesak di kantor, kujawab dulu."
Dia kemudian berjalan menjauh dan menjawab telepon.
Ketika balik, ekspresi permintaan maaf yang familiar muncul lagi di wajahnya.
"Shanon, maaf. Ada keadaan darurat di kantor yang perlu kuurus."
Shane tidak tahu apa yang dibicarakan di telepon, tetapi ketika dia melihat Rainie yang menelepon, dia segera melompat dari kursinya dan berlari ke sisi Andy.
"Mama, aku juga mau ikut pergi. Aku bisa membantu Mama awasi Papa biar dia lebih cepet membereskan kerjaan dan balik."
Melihat keduanya yang dipenuhi ketidaksabaran, Shanon hanya mengangguk.
"Pergilah."
Andy menghela napas lega dan menggendong Shane. Mereka masing-masing mencium pipi kiri dan kanan Shanon.
"Tunggu kami di rumah."
"Mama, sampai jumpa nanti."
Setelah itu, mereka bergegas pergi, tanpa menyadari kebisuan Shanon.
Mereka tidak menyangka ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertiga bertemu.
Ketika Shanon melihat mobil Andy menghilang sepenuhnya dari jendela, dia membuang lilin yang sudah lama padam beserta kue ke tempat sampah. Kemudian dia kembali ke kamar tidurnya, mengambil berkas yang telah disiapkan, dan pergi.
Bab 8
Sepuluh tahun yang lalu, dia dan Andy pertama kali bertemu di sebuah pusat rehabilitasi swasta di pinggiran kota.
Pusat rehabilitasi itu kini terbengkalai, hanya ditumbuhi tanaman menjalar yang menutupi dindingnya.
Shanon menyusuri rute yang dia ingat , kenangan tentang Andy membanjirinya bagai air pasang.
Saat pertama kali bertemu, Andy mencuekkannya lalu perlahan Andy terbiasa dengan kehadirannya, hingga akhirnya, di tengah hujan lebat, Andy memeluknya dengan erat, tidak mau melepaskannya.
Shanon berhenti sejenak di bawah pohon beringin besar di taman belakang.
Pohon beringin itu, yang rimbun dan berdaun lebat sepuluh tahun yang lalu, masih tampak segar sekarang.
Tangan Shanon menelusuri dua nama yang terukir di batang pohon, begitu samar hingga hampir tidak terlihat, dan dia seakan melihat kembali cowok dengan ekspresi paranoid, namun tatapannya dipenuhi cinta dan kegugupan itu.
Dia berkata, “Shanon, aku hanya akan mencintaimu dalam hidup ini.”
Dia berkata, “Shanon, aku nggak pernah membiarkanmu meninggalkanku. Kita akan bersama selamanya.”
Lalu, dia mengukir nama mereka goresan demi goresan dengan khidmat. Namun kemudian, hatinya terbelah dua, separuh diberikan padanya dan separuhnya lagi kepada wanita lain.
Dan keabadian ini hanya bertahan sepuluh tahun.
Andy yang berusia sembilan belas tahun tidak akan tahu bahwa di usia dua puluh sembilan tahun, dia akan kehilangan Shanon selamanya.
Shanon menggunakan batu untuk menggali lubang di tanah, meletakkan tas berkas di dalamnya, dan dengan hati-hati menimbunnya lagi dengan tanah.
Lalu dia menelepon Andy untuk terakhir kalinya.
Andy menjawab seketika, suaranya selembut biasanya.
"Shanon, ada apa? Ada masalah kah?"
Dia menatap pohon beringin besar di hadapannya dan berbicara dengan lembut.
"Apakah kau masih ingat pohon beringin di pusat rehabilitasi?"
Andy menjawab sambil tersenyum.
"Tentu saja aku ingat aku pernah menyatakan cintaku padamu di bawah pohon beringin itu. Waktu berlalu begitu cepat! Sepuluh tahun berlalu dalam sekejap mata."
Shanon pun tersenyum.
"Bagus. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu dan Shane dan menguburnya di bawah pohon beringin. Jangan lupa datang dan mengambilnya."
"Begitu mendengar, Shane sudah senang sekarang, aku juga. Kami akan ambil setelah kelarkan kerjaan. Lalu kita bertiga bersama-sama melihatnya di rumah."
Shanon tidak menjawab dan menutup telepon.
Tidak akan ada lagi mereka bertiga.
Shanon tahu bahwa Andy dan Shane tidak akan pulang malam ini.
Dan dia pun tidak akan kembali.
Mulai sekarang, Shanon sudah bukan anggota keluarga Lukman.
Suara mekanis yang telah lama hilang menggema di telinganya.
"Nona, proses pelepasan program sudah selesai. Apakah yakin akan pergi?"
"Yakin."
Begitu kata-kata itu terucap, cahaya putih menyilaukan muncul di hadapan Shanon, membentuk sebuah lorong.
Angin kencang bertiup, meniupkan daun-daun pohon beringin hingga terbang di udara.
Dia melangkah masuk tanpa ragu.
Andy, Shane, mulai sekarang, kita tidak akan pernah bertemu lagi!