Bab 1

"Sistem, aku ingin pulang."

Sistem langsung menjawab, "Baik, Nona, proses pelepasan program sudah aktif. Dalam setengah bulan, kamu bisa meninggalkan tempat ini."

Sistem yang biasanya mekanis itu terdiam beberapa detik, lalu bertanya dengan sedikit kebingungan.

"Nona, di sini ada suami yang menyayangimu dan putra yang selalu membelamu. Bukankah ini rumahmu? Mereka adalah keluargamu."

Mendengar kata keluarga, tatapan Shanon perlahan tertuju pada televisi.

Saat itu, televisi sedang menyiarkan siaran langsung tentang CEO PT. Lukman, Andy Lukman, dan putranya, Shane Lukman, yang turun dari pesawat.

Andy menggendong putranya, Shane, dan berjalan maju dengan langkah lebar.

Seorang reporter berlari kecil untuk mengejar dan bertanya.

"Pak Andy, kudengar Anda baru kelar rapat di Prancis kemarin dan langsung terbang kembali semalaman. Mengapa begitu terburu-buru? Apakah ada hal penting yang terjadi?"

Andy, pebisnis yang jarang tersenyum, kini memberikan senyum yang sangat lembut ke arah kamera.

"Hari ini adalah ulang tahun istriku. Tentu saja aku dan putraku harus kembali untuk merayakannya bersamanya."

"Bagiku, hal yang berkaitan dengan istriku adalah yang terpenting."

Shane juga mengangkat tas yang digenggamnya.

"Mama, aku dan Papa sudah menyiapkan hadiah untukmu. Kami akan segera kembali."

Reporter ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Andy mengindikasikan dia sedang terburu-buru dan tidak menjawab lagi, hanya meninggalkan bayangan punggungnya yang bergegas pergi di depan kamera.

Reporter itu menunjukkan rasa cemburu.

"Perasaan Pak Andy terhadap istrinya tidak pernah berubah. Sepuluh tahun berlalu, cintanya masih begitu mendalam. Pak Andy benar-benar suami idaman."

"Bahkan Tuan Muda Shane juga meniru Pak Andy dengan sangat baik. Dengan suami dan putra seperti ini, aku rasa Nyonya Shanon pasti sangat bahagia."

Shanon mematikan televisi dan menunjukkan senyum pahit.

Bahagia?

Sebulan yang lalu, dia akan menjawab dengan yakin bahwa dia bahagia.

Tapi sekarang, dia tidak bisa mengucapkannya sama sekali.

Tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya bukan berasal dari dunia ini.

Sepuluh tahun yang lalu, dia datang ke dunia ini, dan tugasnya adalah menyelamatkan Andy yang menyaksikan kematian kedua orang tuanya di usia muda.

Pertama kali bertemu dengan Andy, dia masih seorang remaja murung yang menutup diri dan menolak untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Shanon menghabiskan waktu tiga tahun untuk membimbingnya sedikit demi sedikit keluar dari bayang-bayang dan berkembang menjadi CEO PT. Lukman seperti sekarang ini.

Ketika Andy sepenuhnya menguasai PT. Lukman, tugasnya juga selesai.

Namun, ketika sistem bertanya apakah dia ingin pergi, dia ragu.

Di benaknya terus muncul bayangan Andy yang memeluknya erat, memintanya untuk jangan pergi.

Dia tidak berani membayangkan, Andy sudah kehilangan kedua orang tuanya sekali. Apa jadinya jika gadis yang begitu dicintainya juga pergi meninggalkannya?

Jadi, dia memilih untuk tinggal di dunia ini dan menikah dengannya.

Saat upacara pernikahan, Shanon dengan sungguh- sungguh memberitahu Andy, jika suatu hari dia mengkhianatinya, dia akan menghilang dari dunia ini.

Saat itu, Andy menggenggam tangannya dan berjanji, hari itu tidak akan pernah terjadi, cintanya padanya akan abadi.

Setelah menikah, seperti janji pernikahannya, cintanya memang tidak memudar.

Di hari-hari spesial, Andy akan membatalkan semua pekerjaannya untuk berada di sisinya.

Ketika ada wanita yang mendekatinya saat dia keluar untuk bersosialisasi, dia akan mengusir tanpa basa-basi.

Saat melahirkan, Shanon mengalami persalinan sulit dan berada di ruang operasi selama sehari semalam. Andy berlutut di luar ruang operasi selama sehari semalam berdoa kepada Tuhan agar dia selamat.

Setelah keluar dari ruang operasi, dia bahkan tidak peduli dengan kakinya yang sudah mati rasa dan berjalan terhuyung-huyung ke arah tempat tidur, memegang erat tangannya sambil berlinang air mata.

"Shanon, ini semua salahku, aku seharusnya nggak bilang ingin punya anak, kita nggak akan punya anak lagi, aku nggak tega membiarkanmu mengambil risiko."

Untuk menunjukkan tekadnya, dia langsung melakukan vasektomi pada hari itu.

Saat menamai putranya, dia tidak ragu memilih nama Shane, dia mengatakan bahwa ini mewakili perasaannya padanya.

Putranya, Shane, juga merawat ibunya ini seperti seorang pria kecil karena pengaruhnya.

Di usia muda, Shane sudah bisa memotong buah dan menyuapkannya ke mulutnya dengan tusuk gigi. Ketika Shanon tidak sengaja menggores jarinya, Shane langsung meniup lukanya dengan penuh perhatian, lalu dengan cepat mencari plester untuk membungkus lukanya.

Orang lain pernah bercanda, di keluarga Lukman, Shane tidak terlihat seperti anak kecil yang perlu dirawat, justru Shanon yang perlu dirawat.

Shane mendengar itu dan dengan bangga membusungkan dadanya.

"Mama adalah orang yang paling kucintai, tentu saja aku harus merawatnya."

Andy tersenyum dan mengelus kepala putranya, juga dengan wajah penuh kebanggaan.

"Istriku nggak perlu lakukan apa pun, cukup kami saja."

Shanon pernah dengan yakin percaya bahwa dia akan bahagia selamanya.

Sayangnya, janji itu seperti hilang tertiup angin.

Pasangan ayah dan anak yang dulu sangat mencintainya ini, sekarang telah membangun keluarga lain dengan asisten Andy.

Mereka berdua berkali-kali pergi "berkumpul" di belakangnya.

Suaminya yang telah menikah dengannya selama lima tahun akan merangkul pinggang Rainie dan memanggilnya sayang dengan mesra.

Putranya yang dia kandung selama sepuluh bulan akan meringkuk di pelukan Rainie dan memanggilnya Kak Rainie dengan manis.

Bahkan kemarin, mereka bukan pergi ke Prancis untuk rapat, melainkan menemani Rainie bermain ski di Swiss.

Kata-kata yang diucapkannya di pernikahan kini menjadi kenyataan.

Saat mengetahui hal itu, dia sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia ini, meninggalkan pasangan ayah dan anak pembohong ini!

Shanon melihat kue di depannya yang perlahan meleleh dan bergumam, "Mereka bukan lagi keluargaku."

"Aku ingin meninggalkan mereka."

"Siapa yang ingin pergi?"

Begitu kata-kata itu diucapkan, terdengar dua suara berkata bersamaan.

Bab 2

Shanon mendongak dan langsung melihat Andy dan Shane berdiri di pintu. Shane turun dari pelukan Andy, melompat dengan langkah kecil ke pelukannya. “Mama, siapa yang mau pergi?”

Shanon berkata pelan. “Seorang temanku. Pernikahannya hancur, dia berencana meninggalkan suami dan anaknya.”

Shane mendongak dan mencium pipinya dengan kuat. “Teman Mama sangat kasihan. Untung aku dan Papa akan selalu mencintai Mama.”

Andy menaruh jaketnya dan melangkah mendekat, memeluk mereka berdua, nada suaranya seperti biasa penuh kelembutan. “Shane benar, Shanon, kita sekeluarga akan selalu bersama.”

Shanon tidak menjawab, bulu matanya yang panjang menutupi kepahitan di tatapannya. Selamanya kah?

Mereka tidak akan lagi punya selamanya.

Melihat kue di meja, Shane buru-buru menyerahkan tasnya.

“Mama, ini hadiah yang Papa dan aku pilih untukmu!”

Andy mengeluarkan kotak kado dari tas dan membukanya, sebuah kalung zamrud. Dengan nada penuh maaf, Andy berkata, “Shanon, pekerjaan di Prancis terlalu sibuk. Aku dan Shane pulang agak terlambat, jangan marah sama kami ya.”

Sambil berbicara, dia mengambil kalung itu hendak menundukkan kepala untuk memakaikannya di leher Shanon. Saat mendekat, Shanon mencium aroma melati yang kuat. Padahal dia tidak pernah memakai parfum.

Perutnya mendadak mual, tanpa bisa menahan, Shanon mendorong ayah dan anak itu lalu bergegas ke kamar mandi untuk muntah. Andy selalu sangat memperhatikan kesehatannya. Biasanya jika ia batuk sedikit saja, Andy sudah sangat kawatir. Melihat keadaan ini Andy semakin panik dan segera menelepon dokter. Shanon menahannya, matanya yang memerah karena muntah menatapnya tanpa berkedip.

“Aku nggak apa-apa, cuma terpikir tentang suami dan anak temanku itu, merasa perilaku mereka menjijikkan.”

“Andy, kalau kau nggak mencintaiku lagi, aku akan ...”

“Nggak mungkin!”

Andy langsung menyela sebelum dia selesai bicara, melangkah maju dan memeluknya erat seolah ingin menyatu dengannya dan tidak pernah berpisah.

“Shanon, bukankah kau tahu perasaanku? Sepanjang hidup ini aku hanya akan mencintai satu wanita. Aku nggak akan membiarkanmu meninggalkanku!”

Shane juga mengepalkan tangannya, wajahnya serius. “Mama, tenang saja, aku dan Papa pasti nggak akan menyakiti Mama.”

“Aku juga akan bantu awasi Papa. Kalau dia berani nggak setia pada Mama, aku pasti langsung bilang pada Mama! Aku selalu di pihak Mama.”

Kata-kata ini membuat Andy tersenyum. “Dasar bocah, apakah di hatimu aku seperti itu?” Shane menatapnya sinis. “Hmph, bagaimanapun aku paling cinta Mama, aku akan melindungi Mama.”

Mendengar mereka berdebat, ekspresi Shanon tetap tanpa senyum. Dia merasa seolah ada pisau tajam yang mengoyak hatinya berkeping-keping. Andy bilang mencintainya, tapi di luar ada wanita lain. Shane bilang akan menjaganya, tapi dia menutupi perbuatan Andy dari Shanon. Dia tidak lagi bisa membedakan apakah kata-kata mereka kebohongan atau sungguhan. Keesokan paginya, seperti biasa Andy sendiri membuatkan sarapan untuknya, dan menatapnya dengan penuh sayang saat menyajikannya di hadapan Shanon.

“Shanon, habis sarapan kita sekeluarga ke tempat ski, bagaimana?” “Kemarin aku dan Shane pulang terlambat, hari ini kami akan menemanimu, merayakan ulang tahunmu.” Shane juga memberinya segelas jus segar, merangkul pinggangnya dan membujuk dengan manja. “Ayo, ayo Mama, main ski itu seru sekali.”

Shanon tidak berminat dengan ski, tetapi baru saja selesai sarapan, ayah dan anak itu sudah menyiapkan semua perlengkapan dan menyeretnya masuk ke mobil. Sesampainya di area ski, barulah dia tahu alasan ayah dan anak itu kukuh mengajaknya datang ke sini. Begitu turun dari mobil, dia melihat Rainie berdiri di pintu masuk area ski menoleh ke sana-sini. Begitu Andy dan Shane keluar dari mobil, mata Rainie berbinar. Dia segera berlari mendekat, melepas syal di lehernya dengan luwes dan mengikatkannya pada leher Shane, lalu menyerahkan sebuah termos kepada Andy, tatapannya berkilau. Shanon menatap serangkaian gerakan luwesnya itu dengan diam. Meski masih kecil, Shane biasanya tidak suka orang asing menyentuhnya.

Dan sejak enam tahun lalu saat ada orang yang menaruh obat dalam minuman Andy, dia tidak pernah menerima minuman dari wanita selain Shanon.

Andy sedikit berdeham, nadanya terdengar canggung.

“Shanon, ini asistenku, Rainie. Jadwal ke area ski ini diatur olehnya, lebih praktis kalau dia ikut, jadi kuajak dia.”

Shane juga ikut nimbrung, “Iya, iya, Mama, kita hanya perlu main saja, enak kan.”

Apakah untuk alasan praktis, atau karena ingin terus-menerus bersama Rainie? Dia sudah tidak punya energi lagi untuk menyelidiki niat mereka yang sebenarnya.

Saat itu Rainie seolah baru melihatnya, dengan malu-malu mengulurkan tangan. “Halo, Ibu. Aku nggak akan mengganggu kalian.”

Shanon melihat sekilas pergelangan tangan Rainie yang berhias hijau zamrud. “Apa yang kau pakai di pergelangan tanganmu?”

Mendengar itu, Rainie memperlihatkan pergelangan tangan putihnya, di sana terpasang sebuah gelang giok hijau, wajahnya menjawab dengan penuh bahagia, “Ini hadiah dari keluargaku.”

Bab 3

Dalam lima tahun terakhir, Andy sudah memberinya banyak perhiasan. Shanon bisa langsung membedakan bahwa gelang ini seharusnya satu set dengan kalung yang dihadiahka padannya tadi malam.

Shanon mencibir tipis, "Nona Rainie, sepertinya keluargamu sangat menyayangimu." Andy dan Shane memecah satu set perhiasaan itu menjadi dua bagian, separuh untuknya, separuh untuk Rainie. Seperti hati mereka, yang juga bisa dibelah menjadi dua. Rainie tersenyum dengan bahagia. "Iya, mereka selalu bilang paling sayang padaku, memperlakukan aku seperti anak kecil yang dimanja."

Mungkin khawatir dia curiga, sepanjang jalan Andy dan Shane terus memperhatikan keadaannya. Saat dia sedikit batuk, Andy langsung melepas jaketnya untuk menyampirkan di bahunya dengan penuh iba, lalu menuangkan air hangat dari termos dan menyuguhkan sampai ke bibirnya dengan penuh perhatian. Shane juga melepaskan syal dan memakaikan pada lehernya seperti orang dewasa dan menasihati agar dia tetap hangat. Tapi Shanon tidak mau mengotori dirinya dengan barang-barang yang beraroma parfum itu. Dia hanya bilang ingin kembali ke hotel untuk istirahat lalu langsung pergi. Andy dan Shane saling bertukar pandang, serentak memutuskan untuk ikut menemaninya pulang ke hotel. Hingga sore hari, ponsel Andy berdering. Dengan cepat dia mematikan nada dering, lalu menoleh ke arah tempat tidur, untungnya Shanon tidak bergeming, barulah dia lega. Nama Rainie terus muncul di layar, dan Shane menarik lengan Andy, berkata dengan suara kecil. "Papa, aku ingin ketemu Kak Rainie."

Andy buru-buru memberi isyarat untuk tenang, keduanya saling berpandangan, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Begitu pintu tertutup, Shanon membuka mata, mengenakan pakaiannya dan mengikuti mereka. Andy dan Shane berjalan cepat, sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar Rainie.

Begitu pintu dibuka, Rainie langsung melompat ke pelukan Andy, suaranya penuh kesedihan.

"Andy, akhirnya kalian datang. Hari ini aku sendirian di hotel, aku sangat takut."

"Aku nggak minta kalian selalu ada 24 jam di sisiku, cukup luangkan dua jam setiap hari untukku saja."

Sambil bicara, Rainie menatap Andy dengan mata basah. Andy paling tidak tahan melihat air matanya, melihat itu hatinya langsung luluh, lalu buru-buru memeluknya dengan penuh rasa sayang sambil menghibur.

"Dua jam mana cukup, malam ini aku dan Shane akan menemanimu sepanjang malam." Shane juga ikut menjelaskan. "Kak Rainie, begitu Mama tertidur kami langsung datang, kami juga ingin bersama Kakak."

Rainie terlihat tersentuh, tetapi tiba-tiba ekspresinya meredup seperti teringat sesuatu. "Sebenarnya hari ini aku juga kedinginan, tapi di mata kalian cuma ada Nyonya Shanon, bahkan syal dan termos yang kubuat khusus untuk kalian..."

Shane khawatir Rainie sedih, cepat-cepat meraih tangannya. "Kak Rainie jangan sedih, itu salahku dan salah Papa. Aku akan menghangatkanmu, tanganku lebih hangat daripada syal."

Andy juga mengusap ujung hidungnya dengan manja. "Masa sih cemburu karena hal sepele begitu saja? Tahu kau belum puas main ski di Swiss, aku sengaja pilih tempat ini, nggak cukup kah?"

Mendengar itu Rainie menengadah, dan mencium di sudut bibirnya. "Terima kasih, Pak Andy." Tatapan Andy seketika mendalam, dia menahan kepala Rainie, bibir mereka bersentuhan dan berciuman dengan penuh gairah. Shane menutup matanya dan berlari menuju kamar.

"Wah, aku nggak mau jadi pengganggu."

Beberapa lama kemudian Andy baru melepaskan, muka Rainie merah padam, dan memukul ringan dada Andy.

"Shane barusan juga di sini loh."

Andy meraih tangannya, menaruhnya di bibir lalu mencium.

"Nggak apa, dia juga sudah terbiasa."

Lalu merangkul pinggang Rainie, menggandeng Shane masuk kamar dan menutup pintu.

Di balik pilar, Shanon sudah menangis sampai air mata membasahi wajah. Walau sudah tahu pengkhianatan mereka sejak lama, melihat sendiri membuatnya merasakan sakit yang menembus tulang. Setiap kata berubah menjadi pedang tajam yang menusuk jantungnya hingga remuk. Yang katanya merayakan ulang tahunnya itu hanya untuk menutupi ketidakpuasan Rainie yang belum puas bermain.

Shanon berlutut menekan dadanya, ucapan Andy dan Shane semalam masih bergema di telinganya. Tidak akan membiarkannya pergi? Tapi Andy, Shane, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kalian.

Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya