Logo
Kontrak Cinta - Love Contract
Kontrak Cinta - Love Contract

Kontrak Cinta - Love Contract

89 Bab
Tamat
Demi melunasi hutang dan pengobatan bapak, Mahesa terjebak dalam Kontrak Cinta - Love Contract dengan seorang wanita kaya. Dalam billionaire romance novels ini, ia harus menjalani pernikahan sandiwara demi uang di tengah peliknya modern novel yang penuh pilihan sulit diprediksi.
Bab 1 dari Kontrak Cinta - Love Contract

Mahesa tertunduk menatap secarik kertas tagihan yang ada di tangannya saat ini. Berapa pun lamanya dia menatap, jumlah digit di bagian ‘total’ itu tidak akan berubah menjadi nol, ataupun berstempel lunas. Tidak ada larangan bagi pria menangis, karena saat ini Mahesa sudah kehabisan cara untuk mencari uang. Bahkan sejak bulan lalu, dia sudah cuti kuliah demi menjaga bapak di rumah sakit. Padahal tinggal dua semester lagi dia akan lulus. Gaji paruh waktunya yang semula akan digunakan untuk membayar kuliahnya, terpaksa dialihkan untuk berobat bapak.

Bapak masuk rumah sakit bukan tanpa sebab. Beliau menjadi korban tabrak lari sebulan lalu. Minimnya informasi dan saksi mata di tempat kejadian, membuat penabrak yang tidak bertanggung jawab itu sulit untuk dilacak.

Sudahlah, berapa kalipun Mahesa menyumpahi si penabrak, toh tetap tidak ada yang berubah dengan kondisinya sekarang. Jika sampai besok malam tagihan ini belum lunas, pihak rumah sakit terpaksa menghentikan pengobatan bapak. Darimana Mahesa bisa mendapatkan uang sebanyak 20 juta dalam waktu semalam?

Mahesa merogoh saku celannya, ponselnya berdering.

“Ya, Ga? Beneran?!” seru Mahesa tak percaya. “Ok, gue ke sana sekarang.”

Sebuah telepon dari Raga, kawan lamanya saat SMP yang memilih cuti kuliah, karena kondisi keuangan keluarganya. Mahesa melangkah mendekati ranjang bapak untuk pamit pergi sebentar. Setelah itu, Mahesa dengan motornya meluncur ke tempat kerja Raga.

Setengah jam perjalanan, Mahesa sampai di tempat kerja Raga—kelab malam. Berbekal nama Raga, satpam yang menyeleksi tamu kelab langsung mempersilakan Mahesa masuk. Hingar bingar musik EDM dan lampu membuat Mahesa mengerjap beberapa kali. Ini adalah kali kedua dia pergi ke kelab malam seperti ini. Pengalaman pertamanya tidak mengenakan, sehingga membuat Mahesa lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada menerima ajakan kawan-kawannya untuk berpesta tiap malam.

Mahesa mengedarkan pandangannya, lalu menemukan sosok Raga sedang berdiri di balik meja bar melayani pelanggan yang memesan minuman.

“Ga!” sapa Mahesa dengan terpaksa setengah berteriak.

“Oi, udah nyampe lo?”

Mahesa mengangguk, lalu duduk di kursi di depan meja bar.

“Bentar ya, gue kelarin satu pesanan ini dulu.”

Mahesa kembali mengangguk, sembari tatapannya tidak lepas dari Raga yang lincah meramu minuman untuk pelanggan. Setelah menyajikan segelas cocktail, Raga kembali menghampiri Mahesa.

“Gimana kabar bapak?”

“Mendingan. Lusa operasi tulang kaki, biar bisa jalan normal lagi.”

Raga mengangguk. Kini dia mengerti kenapa sahabatnya ini sangat membutuhkan pekerjaan.

“Bos bilang lo bisa mulai malam ini kalau mau. Tapi lo yakin mau kerja ginian? Maksud gue, sayang kan sarjana lo?”

“Gue belum sarjana, Ga. Udah enggak apa-apa. Yang penting gue ada kerjaan.”

Raga mengangguk, tapi juga menatap nelangsa sahabatnya. “Soal gaji di muka itu …”

Mahesa terdiam mendengarkan kalimat Raga, ini adalah kabar yang paling dinantikannya.

“Bos bisa sih kasih lo, tapi cuma setengah.”

Mahesa tersenyum. Tidak apa, setidaknya dia bisa membawa gajinya yang dibayar di muka ke rumah sakit.

“Enggak apa-apa. Setengahnya nanti gue cari ke yang lain. Santai aja.”

Raga tersenyum. “Nih, apron lo. Terserah lo mau beresin meja atau nyuci gelas dulu.”

Mahesa menerima apronnya, lalu mengenakannya sembari berujar, “Gue beresin meja dulu aja.”

Mahesa mulai mengumpulkan gelas, piring kotor, dan membuang puntung rokok dari meja kelab. Lalu membawa piring kotor ke dapur, sedangkan untuk gelas wine ataupun cocktail dicuci di bak cuci bar.

“Baru ya?”

“Main sama kita, yuk!”

“Dih, ganteng tapi kok bisu.”

Mahesa tidak meladeni mereka para wanita yang sengaja menggodanya sejak detik pertama dia datang ke meja ini. Dirinya tetap fokus membersihkan meja, tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh wanita-wanita dengan pakaian seksi di sekelilingnya.

“Digodain ya?” tanya Raga saat Mahesa sudah selesai mencuci gelas di bak cuci. “Ntar juga lo biasa kok.”

Mahesa tahu resiko seperti ini akan terjadi padanya saat dia memutuskan menerima pekerjaan di kelab malam. Digoda—kalau tidak mau disebut pelecehan verbal—oleh banyak pelanggan bar, terutama wanita. Tidak salah memang jika para wanita itu melihat Mahesa dan akhirnya merasa gemas sendiri. Mahesa tidak jelek, tapi juga tidak tampan, ya manislah—itu yang dulu yang sering diucapkan oleh teman-teman wanita di kampusnya. Tubuhnya yang tinggi dengan massa otot ideal sangat menunjang penampilannya.

“Biasalah, kayak anak-anak di kampus.”

“Mereka itu langganan di sini.”

Mahesa menoleh kembali ke arah kumpulan wanita yang memilih duduk di meja paling pojok dekat dengan ruang VIP.

“Sering ngadain pesta di sini.”

“Orang kaya?”

Raga mengangguk. “Bos pernah bilang kalau mereka itu sekumpulan, hem … apa ya istilahnya. Ah, intinya mereka itu cewek-cewek yang prinsip hidupnya you only live once. Kebanyakan juga masih single, kalaupun ada yang bawa cowok, palingan cuma dijadiin ONS atau enggak gigolo yang disewa mereka buat bachelorette party, atau buat ngejamu klien-klien mereka yang udah tante-tante.”

“Kok enggak nyewa private room aja?”

Raga mengedikkan bahunya tak tahu.

“Lo cocok tuh, jadi gigolo mereka.”

“Ogah!”

***

Arloji Mahesa sudah menunjuk ke angka tiga, suasana kelab sudah sepi. Hanya menyisakan beberapa tamu yang masih asyik mengobrol dan seorang wanita yang sedari satu jam lalu duduk dengan kepala menunduk di meja bar. Mabuk.

“Mbak?” panggil Mahesa yang kegiatan mengelap meja barnya sedikit terganggu. Dia perlu agar wanita itu bergerak dari duduknya, atau lebih baik pulang sekalian.

“Apa panggil-panggil?!” seru wanita mabuk itu sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Mahesa.

“Maaf, Mbak. Saya mau bersihin meja, dan Mbak ngalangin saya.”

“Kamu jahat! Kenapa kamu pergi? Aku tuh nungguin kamu balik!” teriak wanita itu, lalu sedetik kemudian dia tergugu. “Papa sama mama nanyain kamu terus,” isaknya di tengah tangis.

Seorang yang sedang mabuk, memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Seperti sekarang, Mahesa hanya memilih mengelap sisi meja lainnya dan membiarkan wanita itu menangis hingga lega. Mungkin dia memang perlu mengeluarkan sesak di dadanya, entah apapun itu masalahnya. Namun, orang mabuk juga bisa nekat melakukan banyak hal, bahkan yang membahayakan hidupnya. Oleh karena itu, sesekali Mahesa masih menoleh untuk memastikan bahwa wanita tadi tidak melakukan hal bodoh.

Setelah selesai mengelap meja dan hendak kembali menghampiri wanita mabuk tadi, Mahesa tidak menemukannya di tempat semula. Mahesa panik. Dia tahu, dirinya dan wanita itu adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal, tapi Mahesa merasa memiliki tanggung jawab pada pelanggannya. Dirinya bergegas berlari keluar mencari wanita itu, tapi nihil. Mahesa kembali lagi ke dalam, dan menemukan wanita itu terduduk di salah satu bilik toilet dengan napas terengah.

“Mbak baik-baik aja?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Sebuah senyum sinis tercipta di wajahnya. “Baik-baik aja? Setelah apa! Yang! Kamu! Lakuin! Kamu pikir aku akan baik-baik aja?” geramnya sambil memukul tubuh Mahesa dengan tas.

Mahesa berusaha menghindar, tapi wanita itu tetap bisa menjangkaunya—meski dengan tubuh sempoyongan. Entah pukulan yang ke berapa, Mahesa akhirnya menangkap tangan si Pemabuk, lalu menyatukan kedua tangannya di balik punggung wanita itu.

“Lepasin!” rontanya.

Mahesa bisa mencium bau menyengat dari mulut wanita ini, karena wajah mereka begitu dekat. Berapa gelas alkohol yang diminum sampai bisa semabuk ini? Wanita itu terus meronta, membuat Mahesa terpaksa menyeretnya keluar toilet.

“Ga, kasihan nih mbaknya mabok.”

Raga tertegun saat mendapati Mahesa datang dari arah toilet bersama seorang wanita. Dia pikir Mahesa sudah lebih dulu pulang.

“Kasih duduk di depan aja. Ada sekuriti yang jagain, biasanya ntar subuh atau pagi gitu ada yang jemput orang-orang mabuk kayak gini. Ya, paling apes mereka nyadar terus pulang pake taksi.”

“Tapi ini cewek, Ga.”

“Banyak kok cewek yang kayak gitu. Udah biarin aja di depan sana. Gue balik dulu, ya,” pamit Raga, lalu berlalu meninggalkan Mahesa yang menatap bingung wanita dalam pelukannya.

Mahesa menuruti apa kata Raga. Dia yakin Raga lebih tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini, karena pasti dia sudah sering menemukan orang-orang teler sampai pagi.

“Tolong jagain ya, Pak,” pesan Mahesa pada sekuriti, lalu memastikan bahwa wanita mabuk ini sudah tenang, barulah Mahesa menuju parkiran motor.

Dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit, Mahesa tidak henti-hentinya memikirkan wanita mabuk yang dia tinggalkan di sana. Ada rasa bersalah dan tidak tega menggelayutinya. Akhirnya Mahesa memutar motornya kembali menuju kelab.

Wanita itu masih di sana, tak sadarkan diri. Mahesa melepaskan jaketnya, lalu menyelimutkannya ke tubuh wanita mabuk. Mahesa menghela napas, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.

“Ntar juga ada yang jemput, Mas.”

“Kasihan, Pak. Dia langganan di sini atau bukan ya?”

Pak Satpam yang sedari tadi asyik mengisi TTS melongok sejenak memperhatikan wajah wanita di depan Mahesa. Kemudian menggeleng sebagai jawaban.

“Baru lihat malahan.”

Mahesa kembali menghela napas. Masih memandangi wajah lelap di hadapannya, hingga tatapannya bertemu dengan tas hitam milik si wanita. Mahesa tahu, membongkar tas milik orang adalah perbuatan salah. Namun bisa jadi ada kartu identitas di sana, sehingga Mahesa bisa mengantarkan wanita ini pulang.

“Pak, tolong Bapak jadi saksi saya buka tas mbaknya ini ya. Saya cuma mau lihat KTP-nya aja.”

Pak Satpam kembali menoleh, lalu mengangguk.

Mahesa membuka tas hitam itu, lalu mengambil dompet warna cokelat dan membukanya. Mengambil KTP dan sekilas membacanya. Alamatnya lumayan jauh dari sini, naik motor mungkin butuh satu jam. Mahesa kembali melihat ke dalam tas, ditemukannya sebuah kartu akses salah satu unit apartemen yang tidak jauh dari kelab. Mungkin sekitar 15 menit perjalanan. Tapi Mahesa tidak mungkin membonceng wanita mabuk ini, apalagi keadaan masih gelap.

“Pak, bisa tolong panggilin taksi?”

“Taksi jam segini susah, Mas. Nunggunya lama.”

Mahesa terdiam sejenak. Ya sudah, tidak ada pilihan lain. Memang dia sendiri yang harus membonceng wanita ini. Mahesa memakaikan jaketnya untuk si wanita, lalu menggendongnya, menuju motor. Diikuti oleh Satpam yang membawa seutas tali—entah dia dapat darimana—lalu mengikat tubuh Mahesa dan wanita itu.

Mahesa kembali melaju menuju apartemen si wanita. Entah itu apartemen miliknya atau tidak, tapi setidaknya di dalam apartemen lebih baik daripada di teras kelab dan kedinginan. Setelah sampai, dibantu seorang satpam Mahesa melepaskan ikatannya.

“Lho, Mbak Indira kenapa, Mas?”

“Bapak kenal sama dia?”

Satpam apartemen mengangguk, “Dia tinggal di sini. Lagian siapa yang enggak kenal sama—”

“Maaf, Pak. Bisa kasih tahu unitnya nomer berapa? Biar saya antar.”

“Lantai paling atas, Mas,” jawab Satpam apartemen seraya menahan pintu lift.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pintu lift menutup, Mahesa menekan tombol lift dengan sikunya. Mahesa tidak tahu lantai berapa yang paling atas, karena setelah angka 20, tidak ada lagi angka. Hanya ada petunjuk penthouse. Mahesa takjub dengan wanita dalam gendongannya ini. Dia terlihat masih muda, cantik, dan sukses. Terbukti dia tinggal di penthouse.

Dua menit kemudian Mahesa sudah sampai di lantai teratas. Saat keluar dari lift, Mahesa hanya mendapati satu pintu yang terletak di sisi kirinya. Mahesa melangkah menuju pintu itu, lalu menggesek kartu akses ke panel kunci. Muncul di layar pilihan untuk membuka pintu, dengan sidik jari atau dengan pin. Tentu saja Mahesa memilih pilihan sidik jari, karena mana mungkin dia tahu pin kunci pintunya.

Bunyi bip terdengar begitu sidik jari jempol Indira selesai diidentifikasi oleh panel. Mahesa mendorong pintu di depannya. Takjub! Penthouse ini sangat luas, tapi kosong. Mungkin lebih cocok disebut minimalis. Ruang tamu dengan sofa minimalis dan dinding kaca menyambut Mahesa. Membuatnya terpesona dengan keeleganannya, terlebih pemandangan kerlip lampu kota dan bintang di kejauhan, menambah kekagumannya.

Erangan pelan Indira menarik kembali Mahesa dari lamunannya. Buru-buru Mahesa menuju sofa dan membaringkan Indira di sana.

“Jangan pergi,” racau Indira.

Mahesa menunduk untuk lebih jelas mendengar racauan Indira, tapi ternyata wanita itu sudah kembali lelap. Detik berikutnya, dengan hati-hati Mahesa membuka jaketnya yang dipakai oleh Indira. Sepelan mungkin agar Indira tidak terbangun dan meracau lagi. Namun saat Mahesa hendak berhasil melepas keseluruhan jaketnya, Indira mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Bahkan tanpa sadar memeluk sebelah tangan Mahesa. Dan pelukan Indira semakin erat setiap kali Mahesa mencoba melepaskan diri.

Baiklah, mungkin Mahesa harus menunggu sesaat sebelum melepaskan diri. Mungkin setengah jam lagi Indira akan mengubah posisi tidurnya. Mahesa akhirnya duduk di lantai, di samping sofa Indira. Membiarkan lengannya dipeluk erat Indira, sedangkan Mahesa menyandarkan kepalanya di sofa dengan tatapan yang masih menikmati kerlip bintang dan lampu di luar sana. Hingga tanpa terasa, Mahesa turut lelap, mengistirahatkan tubuhnya yang selama sebulan ini meringkuk di kursi di sebelah ranjang rawat bapak.

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta di Tengah Bahaya
Cinta di Tengah Bahaya
Membaca novel romantis miliarder Cinta di Tengah Bahaya di webnovel. Saat hamil, seorang istri mendapati kemiskinan suaminya, Arif, hanyalah sandiwara usai melihatnya dihormati mafia. Menghadapi pengujian cinta yang manipulatif, ia harus memilih antara bertahan atau pergi demi harga dirinya.
Diawali Dengan Penceraian
Diawali Dengan Penceraian
Setelah 15 tahun hidup miskin dan diceraikan Clarisa, Gerald Wilton mengungkap identitas aslinya. Diawali Dengan Penceraian, kisah billionaire ini membawa Gerald bangkit dari status menantu sampah menuju puncak kekuasaan. Baca novel selengkapnya dalam modern romance novel penuh intrik ini.
Dimanjakan oleh Taipan yang Menyendiri
Dimanjakan oleh Taipan yang Menyendiri
Dalam novel modern Dimanjakan oleh Taipan yang Menyendiri, Corinna terjebak tipu muslihat keluarga hingga menyelamatkan Andres, pewaris kaya di Kota Driyver. Hubungan timbal balik ini menjadi romance novel yang tak terduga saat sang billionaire berubah demi melindungi Corinna dari ancaman.
Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
Ditinggalkan Brendan di hari pernikahan, aku memilih membatalkan hubungan dan menikahi paman konglomeratnya, Edrence. Dalam billionaire romance novel ini, Brendan menyesal saat menyadari aku bukan lagi miliknya. Baca kisah Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar di web novel modern ini.
PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA
PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA
Dalam PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA, CEO Louisa Alexander terjebak skandal panas dengan sepupunya, Devian Salvatore. Kini mereka dipaksa menikah oleh sang ayah. Simak kisah billionaire romance novels ini dalam balutan modern novel yang penuh konflik keluarga dan pilihan sulit.
Sandiwara Pernikahan
Sandiwara Pernikahan
Dalam Sandiwara Pernikahan, Elvano harus membuktikan kelayakannya di hadapan keluarga konglomerat Nadine. Demi merebut kembali Hotel Chandra, ia bertekad menguasai kekayaan dalam billionaire romance novels ini. Baca kisah modern novel penuh ambisi dan harga diri hanya di webnovel.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Balas Dendam: Basmi Kejahatan!
Balas Dendam: Basmi Kejahatan!
Lima tahun setelah dikhianati istrinya hingga orang tuanya tewas dan kakaknya diculik, Feri kembali ke Kota Hanggara sebagai ahli bela diri yang menyusup ke Geng Losin demi mewujudkan sumpahnya membasmi mafia. Berkat aksinya menumpas pembunuh bayaran dengan tangan kosong, ia meroket menjadi Ketua Balai dan mulai menjalankan misi balas dendam dengan cara menumpas kejahatan secara kejam tanpa ampun. Kini, seiring tumbangnya para musuh masa lalu dan mulai terungkapnya sosok dalang utama di balik tragedi keluarganya, Feri bersiap menyapu bersih seluruh kekuatan dunia bawah demi memberikan ketenangan bagi arwah orang tuanya.
CEO Cepat Menikah: Istri Satu, Dua Anak
CEO Cepat Menikah: Istri Satu, Dua Anak
Nama saya Shiori Yamaji. Saya kehilangan ibu saya di usia muda, dan setelah ayah saya menikah lagi, dia jatuh koma karena penyakit. Lima tahun yang lalu, saya dijebak oleh ibu tiri dan putrinya yang ingin menguasai teknik bordir keluarga Yamaji. Saya dipaksa untuk bertemu dengan seorang pria yang tidak saya kenal dalam satu malam. Hamil dan sendirian, saya diusir dari keluarga. Tidak mampu membiayai kelahiran anak kembar, saya menjual satu-satunya petunjuk yang saya punya—cincin yang dia tinggalkan. Sekarang, lima tahun kemudian, saya membesarkan anak kembar saya seorang diri, berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya menjadi dekat dengan seorang petugas kebersihan yang baik hati, Nona Jingū, dan setuju untuk menikahi putranya, seorang pekerja konstruksi, melalui perjodohan. Namun, ada seorang pria yang telah mencari wanita yang dia temui malam itu lima tahun lalu. Akankah jalan kami bertemu lagi? Dan kehidupan macam apa yang akan dibawa oleh pernikahan saya?
[Versi Dub] Kekayaan Kripto yang Mengubah Takdir
[Versi Dub] Kekayaan Kripto yang Mengubah Takdir
Perusahaan menolak seorang pria, tiba-tiba dia mendapatkan 3,990 miliar. Dia mengambil alih konglomerat 14 triliun yang meninggalkannya!
Mantan Suami Ingin Saya Kembali
Mantan Suami Ingin Saya Kembali
Tiga tahun setelah menikah, dia melakukan semua yang seharusnya dilakukan seorang istri, tetapi dia tidak bisa membuat suaminya peduli. Karena putus asa, dia memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka...
Bagaimana Aku Merindukanmu
Bagaimana Aku Merindukanmu
Mina, yang dibesarkan di pedesaan, menemukan bahwa orang tua kandungnya masih hidup dan dibawa kembali ke kota. Pada malam kepergiannya, dia menyelamatkan Hank tetapi malah diserang olehnya. Sedikit yang dia tahu, pria itu adalah CEO dari sebuah perusahaan yang kuat dan berpengaruh di kota. Ketika Hank bangun dan mencarinya, Mina telah dipenjara secara tidak adil oleh orang tuanya untuk dijadikan kambing hitam karena kejahatan saudara tirinya. Hidupnya terbalik, bergeser dari awal yang penuh harapan menjadi keputusasaan total.
Kehidupan Kedua Bella
Kehidupan Kedua Bella
Sejak remaja, Bella Sakto mencintai Xander Alfario. Dia memberikan seluruh warisan ibunya pada Xander dengan sukarela. Xander menggunakan warisan ini untuk membangun Grup Alfario dan membuat keluarga Alfario menjadi keluarga terkaya di Kota Yuanda. Namun, sejak Bella menikah dengan Xander, Bella sakit-sakitan selama tiga tahun dan kondisinya bertambah parah. Suatu hari, dia kembali dari rumah sakit dan melihat Xander sedang berhubungan dengan adik tirinya, Sherly Sonata. Ibu Xander berada di rumah dan membiarkan mereka berselingkuh. Xander hanya mengincar uang Bella dan tidak mencintainya, Xander bahkan sudah membelikan sejumlah besar asuransi untuknya. Setelah Bella meninggal, dia akan mendapatkan sejumlah besar kompensasi. Bella sedih dan kecewa, dia merasa hidupnya sangat menyedihkan. Tak disangka, sebelum dia meninggal karena penyakitnya, Xander membawanya ke balkon dan langsung mendorongnya ke bawah. Saat terjatuh, Bella diam-diam bersumpah kalau dia dapat terlahir kembali, dia akan membalas dendam dan menghancurkan hidup mereka.