Logo
Kisah Cinta di Batukarut
Kisah Cinta di Batukarut

Kisah Cinta di Batukarut

67 Bab
Tamat
Dalam Kisah Cinta di Batukarut, Lihar mengelola bisnis pasir di tengah dendam mantan manajer dan teror gaib misterius. Sambil memimpin adventure penuh risiko ini, ia menghadapi konflik romance rumit antara Yeti dan Erom. Baca modern novel ini untuk mengungkap misteri di balik rentetan musibah.
Bab 1 dari Kisah Cinta di Batukarut

PAGI ini angin berhembus dingin sekali, yang kebetulan aku sudah bangun dan pergi ke musola terdekat. Hawa dingin yang menggigit tubuh ini tidak kuhiraukan lagi, yang jelas aku khusyu sholat berjamaah. Kuikuti imam yang paruh baya, pengganti dari bapaknya yang sudah tiada. Aku jadi ingat tahun-tahun yang lalu saat aku masih sekolah di SMA, Musola tua ini tempat kami kumpul bersama teman-teman di kampung ini. Kami semua mengenal, Ustad Tarmuji yang memiliki musola tersebut. Musola tua yang tetap kokoh berdiri sampai saat ini, sampai beliau beranak banyak.

Begitulah bersama teman-teman sekampung, waktu itu kami rajin mengaji dan sholat di musola tua ini. Daya tarik selain itu adalah kepada anak-anak perempuan sang ustad, yang memang memiliki putri yang cantik-cantik. Namun kini teman-teman yang biasa sholat di sini tidak kujumpai lagi. Dan aku menyadari betapa aku sudah lama tidak sholat Subuh di sini. Bukannya malas, tapi hari-hariku memang sudah tidak di Sawangan lagi. Selama ini hari-hariku berada di rantau orang, terakhir kali aku berada di Malaysia.

Pada hari ini memang sengaja aku sholat Subuh di musolah tua ini, karena besok akan meninggalkan Sawangan kembali. Kemarin temanku yang bernama Aang menemuiku.

"Lih, udah nggak kerja lagi ya?" Tanya Aang berbasa-basi. Kujawab iya. Lalu dia melanjutkan, "Mau kerja nggak?"

"Oh, tentu aja mau..." Aku menjawabnya agak cuek.

"Ini serius, Lih." Kata Aang ketika melihat aku bersikap masa bodoh. "Atau lo udah ada kerjaan?" Aku menatap Aang sebentar, kemudian kembali dengan kesibukanku menggambar. "Ya... gitu deh, kalau nggak menggambar, ya siaran di radio Cobra." Kataku seadanya. Tapi memang begitulah, sepulang dari rantau aku memang menghabiskan waktu dengan menggambar atau melukis. Kadang-kadang siaran di radio Cobra milik pak Haji Taif. Kebetulan tekhnisi radio tersebut adalah adikku, Geri.

"Lih, ini kerja di wilayah Sukabumi..." Mendengar perkataan itu, aku berhenti menggambar. "Apa? Sukabumi?" Aku tertarik. "Kerja apa, Ang?"

"Begini ceritanya, Pak Yatna punya tanah di wilayah Sukabumi. Jadi dia tuh mau usaha mengelola tanah teras untuk batako. Nanti Pak Yatna akan menyiapkan dua mobil berikut sopirnya."

"Terus, di sana gua kerja ngapain? Kenek?" Potongku.

"Tentu aja bukan, pokoknya lo dijadiin mandor, atau wakil manager...pokoknya dijamin asyik deh Lih..." Kata Aang pasti.

"Oke, gua setuju, kapan mulai kerja?"

"Besok!"

Maka dari itu pagi ini aku sudah siap rapi. Aku pamit pada Emak dan Bapak, juga adik-adikku. Seperti biasa Emak selalu menyediakan sarapan dan makanan yang harus dibawa. Sekitar jam 7.00 pagi aku sudah berada di dalam mobil Pak Yatna. Ternyata ia tidak sendiri, istri dan anak-anaknya diajaknya pula.

"Lih, daerah tempat kerja kamu di sana itu sejuk sekali. Nama daerahnya kalau gak salah, Batukarut." Aku menganggukkan kepala, sementara istri dan dua anak Pak Yatna tertawa. Mungkin mereka heran dengan nama Batukarut. "Oya, satu lagi kamu harus jujur, karena dengan kejujuran orang akan percaya sama kamu." Kata Pak Yatna dengan nasehat.

Setibanya di sana, kami diterima oleh keluarga petani Pak Ading. Untuk sementara waktu, aku boleh tinggal di rumahnya. Di samping itu Pak Ading punya anak yang sebaya denganku namanya Herman, atau Belu, nama panggilannya. Kemudian aku juga diperkenalkan oleh Pak Ajat, pimpinan yang mengelola perusahaan Pak Yatna. Dan dengannya kami meninjau lokasi yang bakal jadi lahan perusahaan tersebut.

“Lih, inilah lokasi penggalian teras, cukup bagus buat batako.” Kata Pak Ajat sambil menunjuk sana-sini. Aku hanya manggut-manggut saja. “Hm... bagaimana kas anggarannya, apakah kamu sudah membawa catatannya?” Tanya Pak Ajat.

“Belum... tapi sebentar lagi Pak Yatna akan ke sini, kas anggarannya masih di tangan dia.”

“Lho, seharusnya kamu sudah memegangnya, karena posisimu itu bagian pemegang kas anggaran tersebut.” Pak Ajat menepuk bahuku. “Coba kamu tanyakan sama Pak Yatna.” Aku mengiyakan, lalu berlari menuju rumah Pak Ading.

“Bagaimana lokasinya, Lih? Bagus?” Tanya Pak Yatna ketika aku menemuinya di rumah Pak Ading. Saat itu istri Pak Yatna sedang bercengkerama dengan istri Pak Ading.

“Bagus, Pak.” Sahutku, “Hm... Pak Ajat menanyakan buku...”

“Ooh... Iya, memangnya Pak Ajat masih di lokasi ya?” Kata Pak Yatna sambil membuka tasnya, dan mengeluarkan buku besar.

“Pak... sebaiknya kita ke lokasi aja.” Terdengar suara Ibu Yatna, Anak-anaknya tampak kegirangan, karena mereka sudah bosan di rumah Pak Ading terus-menerus.

“Benar Pak, sebaiknya kita ke lokasi aja.” Kata Pak Ading membenarkan.

Dengan bergegas kami berjalan menuju lokasi, aku berjalan di sisi Pak Yatna, yang masih memegang buku besar tersebut. Pak Ading di belakang mengikutinya bersama dengan istri dan anak-anak.

“Lihar, buku ini nanti kamu aja yang pegang, juga uang kas anggaran dan rinciannya harus kamu yang menguasainya, sementara Pak Ajat hanya sebagai pengawas saja.” Kata Pak Yatna sambil memilih jalan yang enak, karena jalan yang dilaluinya itu agak rusak, berbatu-batu dan tidak beraspal. Namun jalan tersebut nantinya bakal dilalui mobil yang mengangkut teras-terasnya.

“Pak Ajat itu pengawas,ya Pak?”

“Iya, tapi gak mutlak, artinya dia itu hanya sebatas mengetahui medan lokasi.” Ia berhenti sebentar, “Nanti pada waktunya harus kamu kuasai semua.”

“Maksudnya?” Aku masih belum mengerti.

“Mengenai pembayaran tukang-tukang dan para pekerja yang lain, nanti kamu yang harus mengaturnya, mengenai itu nanti tehnisnya aku beri tahu. Dan mengenai Pak Ajat...” Pak Yatna menghentikan perkataannya, karena lokasi yang dituju sudah terlihat. Tampak Pak Ajat melambaikan tangan dari gubuk kecil, yang terdapat di depan lokasi, posisinya ada di pojok. Pak Yatna membalas lambaian tangan sambil tersenyum. Kemudian berkata kepada Pak Ading, “Pak Ading, tolong deh para pekerja dibilangin, nanti sehabis zhuhur segera berkumpul di sini.” Pak Ading mengangguk, lalu permisi. Cangkul yang tengah dipegangnya ditinggalkan di dekat gubuk, kemudian berlalu dari tempat itu. Kulihat Ibu Yatna dan anak-anak asyik melihat-lihat lokasi di sana-sini, suara anak-anaknya terdengar ribut sekali. Kami bertiga kembali terlibat pembicaraan. Pak Yatna memberi pengarahan kepada aku dan Pak Ajat. “Jadi buku ini tetap dipegang Lihar, sementara Pak Ajat cukup mengawasi saja, mengenai pembayaran buat pekerja nanti akan kuatur.”

“Oh, iya..iya, Pak, aku setuju sekali.” Kata Pak Ajat tersenyum, namun aku melihat ada senyum yang sinis menusuk mataku, ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.

“Bagus, nanti keuangan tetap dipegang Lihar, agar ia tidak keliru dalam mencatat pemasukan dan pengeluarannya.” Pak Yatna berhenti sebentar memperhatikan Pak Ajat yang tersenyum dan manggut-manggut. “Bagaimana Pak Ajat, apa ada usulan lain?”

“Oh, nggak.... aku sudah paham kok...” Katanya tertawa, “Tenang Lih, selama ada aku, semua akan lancar.”

“Iya, Pak Ajat..” Kataku sambil tersenyum. Tiba-tiba datang Deni, salah satu anaknya Pak Yatna menghampiriku. “Bang Liar... Ibu menyuruh Abang untuk melihat tanah yang belah sono.”

“Oh... nanti Deni... Lihar lagi ngomong sama Bapak dulu.” Kata Pak Yatna, yang kemudian menyuruh anaknya kembali kepada ibunya. Dengan kecewa Deni kembali kepada ibunya. “Ibu, entar katanya, Bapak masih ngajak ngomong ama Bang Liar.”

“Ooh... ya udah nggak apa-apa... Kita tunggu aja dulu.” Sahut ibunya.

Seperempat jam kemudian aku sudah menemani Ibu Yatna dan anak-anaknya meninjau lokasi kedua, yang letaknya lebih jauh. Posisinya di pinggir tebing yang menuju balong, yang di bawahnya terdapat beberapa mata air. Ada beberapa bagian di pojok ada bekas tanah yang sudah digali, dengan nampak tanah teras yang bagus.

“Wah, tempatnya enak ya, Lih...” Kata Ibu Yatna takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Sebuah dataran yang mengarah ke balong. Di mana pemandangan di bawahnya tampak indah, dengan sekat-sekat kolam ikan yang dibuat petani.

“Iya, bener, Bu.. tapi lokasinya cukup jauh dari jalan. Sedangkan teras-teras yang sudah digali harus berada di tepi jalan agar mudah diangkut mobil dan dibawa ke pabrik.” Aku menjawab dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

“Iya ya?” Bu Yatna seperti berfikir. “Nanti jadinya gimana ya?” Bu Yatna tampak agak bingung. Aku langsung tertawa, “Gampang, Bu... nanti kan ada tukang pikul.”

“Oh.. iya.. ya..” Bu Yatna turut tertawa. “Lho, Deni sama Amer ke mana?”

“Tuh, turun ke balong, main di sekitar mata air.” Aku menunjuk ke bawah. Di sana tampak Deni dan Amer sedang tertawa-tawa bermain air.

Beberapa jam kemudian kami sudah berada kembali di rumah Pak Ading. Kali ini persiapan makan siang sudah dihidangkan. Kami duduk-duduk di atas bale bambu. Pak Ajat, Pak Ading, dan keluarganya mengambil posisi di bangku panjang, yang terdapat di seberang bale bambu tersebut. Ada pula bangku yang terbuat dari rotan, dan bangku biasa, dengan meja kecil yang cukup untuk meletakkan gelas-gelas atau piring-piring di sana. Sambil berkelakar kecil kami makan. “Sing seueur daharna..” Begitu ucapan istri Pak Ading, berharap agar kami makan yang banyak. “Mangga..” Sahut Pak Ajat.

Selesai makan kami ngobrol sebentar, kemudian sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara azan. Rupanya sudah waktu Zhuhur. Dengan petunjuk Pak Ading, aku pergi ke musola. Aku berjalan ke sana, diikuti Deni. Lokasinya di seberang jalan desa yang sudah diaspal, lalu turun ke balong. Dengan jarak 50 meter aku menuruni jenjang tangga tanah sampai ke mata air yang melimpah. Balong itu ternyata pusat utama dari balong yang curam menuju ke bawah dengan posisi landai ke arah timur. Maka di ujung sana aku dapat melihat empang-empang yang bertembok, dengan aliran air di sisinya. Pada sisi aliran air terdapat jalan setapak yang sudah dirapikan, dengan tembok atau semen yang sudah dibuat oleh dinas irigasi. Setiap melintas seratus meter terdapat pagar tembok berbentuk persegi, gunanya untuk orang mandi atau mencuci. Sementara di tempat aku berdiri dekat mata air, orang sana bilang, kepala mata air, terdapat bangunan bersekat tanpa atap. Bentuk bangunan tersebut memanjang terbagi tiga sekat, dengan keran-keran alami yang terpasang pada sisinya, sehingga air dapat memancar terus-menerus, Dan orang-orang dapat mandi dan berwudhu di sana. Pada sisi sebelah lain terdapat tempat terbuka untuk para ibu mencuci pakaian dan mencuci piring. Sungguh suatu tempat yang sudah ditata dengan rapi.

Aku segera berwudhu dengan air yang melimpah dengan sebasah-basahnya. Deni mengikutinya berwudhu di sebelahku.

“Hiiyy.. airnya banyak banget.. dan diiingiin banget,,”

“Huss... wudhu dulu baru ngomong.” Tegurku menyuruh diam.

Selesai berwudhu aku menuju musola yang terdapat di sisi tanah yang agak tinggi. Pada bagian sisi musola sebelah kiri, terdapat tebing yang berisi aneka tanaman hutan. Tapi sudah terlihat bersih, karena sering disapu atau tanaman-tanaman tersebut ada yang merawatnya. Dengan jalan memanjat sedikit kami menyeberangi parit berair bening, lalu sampailah kami di musola. Ternyata ukuran bangunan itu kecil, di dalamnya cuma muat untuk dua shaf, dengan posisi imam di tempat yang menjorok. Musola itu dibuat memang khusus buat orang-orang sholat, yang mandi di mata air tersebut. Misalnya waktu Subuh atau waktu Ashar, pada sore harinya. Sedangkan kalau musola yang besar dan luas terdapat di atas balong sebelah utara. Cukup jauh jika harus berjalan dari mata air tersebut, kebanyakan yang mandi memang menyempatkan sholat di musolah yang kecil ini.

Di dalam musola ada seseorang setengah tua yang sudah selesai sholat. Orang tua itu bersalaman dengan aku. “Sholat, Jang?”

“Iya, Pak...” Sahutku dengan ramah.

“Mangga...” Orang tua tersebut permisi. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Kemudian kami sholat Zhuhur, aku imam, dan Deni ma’mum. Selesai sholat kulihat Pak Yatna sudah berdiri di belakang. Rupanya dia belum mengerjakan sholat.

“Lih, jangan pulang dulu... tunggu Bapak.” Katanya berpesan.

“Iya.. Pak.” Aku mengangguk.

Sementara Pak Yatna mengerjakan kewajibannya, aku dan Deni duduk di depan musola menikmati pemandangan mata air, dengan selokan yang sudah ditangani irigasi, memanjang, menurun sampai ke hilir. Kulihat pula ada beberapa orang datang ke mata air, perempuan dan juga laki-laki. Kalau yang laki-laki kebanyakan berwudhu untuk sholat Zhuhur, kalau yang perempuan, ada yang mengambil air buat dibawa pulang, dan ada pula yang mencuci di sana.

Pak Yatna selesai sholat memberikan amplop berisi uang kepadaku. “Peganglah, Lih.. ada beberapa bagian, untuk uang saku kamu di sini. Dan yang penting, uang ini untuk persiapan gaji kuli.”

“Pak Ajat bagaimana, Pak?” Tanyaku.

“Untuk Pak Ajat sudah kukasih langsung, Jadi jika dia minta jangan kamu berikan...” Kata Pak Yatna serius, “Oh, ya.. Pak Yunus, tadi sudah datang. Ayo kita segera kembali”

“Pak Yunus datang? Siap Pak.”

Kami bertiga meninggalkan tempat itu. Dan kami bertemu dengan Pak Yunus. “Gua gak nyangka, ternyata yang tugas di sini, lo, Lihar. gua pikir siapa..?” Kata Pak Yunus tertawa ketika melihatku. Logat Sawangannya terdengar dengan jelas. Pak Yunus memang tetanggaku di Sawangan, tetapi rumahnya masih jauh dari rumahku. Rumahnya di luar Kopral Daman, tepatnya di Lebak atau gang Enggram.

“He he he.. aku juga nggak nyangka kalo Pak Yunus yang jadi supir di sini...” Sahutku bergurau. Pak Yunus tertawa senang, karena ketemu teman yang udah kenal di sini.

Mobil Datsun sudah diparkir di dekat arena galian teras. Kulihat sudah ada tiga orang pekerja, menemani Pak Ading. Kemudian mereka datang menghampiriku, bersalaman sambil menyebut namanya, “Ubed...” Kata seorang yang kurus dan agak hitam, Kemudian Dadun, yang rambutnya gondrong keriting, tampangnya lugu, logat sundanya pun kental. Yang ketiga Pardi, seorang yang putih bersih, yang tampangnya kurang cocok untuk jadi seorang kuli gali. Cocoknya Pardi itu jadi orang menak, orang gedean seperti majikan.

Kemudian Pak Yatna pamit, “Lih, semuanya udah Bapak percayakan ama kamu, Ingat ya pesan-pesan Bapak tadi. Sementara ini kamu tinggal di rumah Pak Ading aja. Bapak sudah membayarnya untuk kamu tinggal di sini.”

“Terima kasih, Pak.” Kataku.

Pak Yatna dan keluarganya pamit dan berlalu dengan mobil pribadinya. Dan setelah itu, Pak Ajat mengajakku ke gubuk penggalian. “Ada apa, Pak Ajat?” Tanyaku.

“Mana? Aku lihat buku kas anggarannya.” Sambil meminta, buku itu direnggutnya. Mulutnya tersenyum, tetapi matanya nanar. Belum sempat aku bicara, buku besar itu sudah berada di tangannya. “Lah, saldonya belum dimasukkan, Lih..”

“Emang belum, Pak? Kas anggarannya nanti malam aku susun...”

“Oh ya... Kira-kira berapa kas anggaran perdana untuk modal nanti?” Buku besar itu dikembalikan lagi padaku. Aku melihatnya, sepertinya ia gusar, namun disembunyikan lewat senyum sinisnya.

“Pak Ajat, aku belum tau pasti, kas anggaran yang diberikan masih tertutup. Aku harus memerinci dahulu, berapa besarnya pemasukan dan pengeluarannya nanti. Belum lagi tenaga beberapa pekerja harus kita perhitungkan pula. Baru setelah itu aku susun semuanya.” Kataku dengan lugas.

“Ha ha ha..” Ia tertawa ngakak, “Ditepuk-tepuknya bahuku...”Pinter kamu Lih..hmm..” Ia menatapku sebentar. “Ada 20..000 perak nggak, aku pake dulu..”

“Hmm... gimana ya?” Aku berfikir.

“Lih..kamu harus tahu, Bapak Yatna bisa usaha di sini itu kan karena ada aku. Masa pinjam aja nggak boleh? Besok aku kembalikan.” Tangannya meraih pundakku seperti hendak mencengkeram pundakku, tetapi ternyata tidak ia lakukan, yang terjadi ia mengusap-usap bahuku. Aku bangkit, maksudnya menepis. “Baiklah, Pak... tapi ini uang presentasi untuk gaji kuli nanti.” Aku mengeluarkan uang dari dompet pribadiku, uang dalam amplop tidak kuperlihatkan. Ia menerimanya dengan tersenyum, “Terima kasih, Lih... Pokoknya jangan kuatir, urusan kuli nanti beres.” Pak Ajat permisi, ia pulang meninggalkan aku yang termangu sendiri. Ternyata sulit memegang amanat Pak Yatna, untuk tidak memberi uang sesenpun kepada Pak Ajat. Kulihat Pak Ading dan tiga anak buahnya sibuk. Pak Yunus masih tampak berdiri di dekat mobilnya. Aku melambaikan tangan kepadanya, dan dia menghampiriku. Sementara langit semakin cerah, bertolak belakang dengan hatiku saat itu. Kehidupan di sini baru dimulai, namun titik persoalan yang rumit sudah kualami. Ya, masalah uang memang riskan sekali, Mudah-mudahan nanti malam aku dapat menyusunnya dengan baik.

Untuk menghilangkan beban yang menghantui fikiranku, kuajak Pak Yunus ngobrol santai dalam gubuk. Sambil bercerita apa saja saat berada di Sawangan. Dan ketika cerita beralih tentang pembahasan pekerjaan di sini. Kami berharap agar perusahaan baru ini dapat berjalan dengan lancar dan tertib. Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin.

****

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
Dalam Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini, Shiloh Jung memulai adventure ke luar negeri demi memulihkan diri. Ia bertemu Edward Leung dan sepakat menyamar tanpa identitas asli. Saat bertemu kembali, Edward mendadak asing. Simak misteri cinta mereka di romance novel ini sekarang.
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
Dalam Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu, Alana berjuang bertahan hidup di Gunung Lawu usai diserang. Diselamatkan Kapten Arga, mantan Kopassus, ia kini menghadapi dilema antara trauma dan balas dendam. Simak romance novel penuh aksi ini di platform online novel dengan intrik yang mendalam.
Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan
Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan
Dalam Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan, Jack Harper terjebak di pulau misterius penuh bahaya. Pakar survival ini harus menghadapi pengkhianatan Mei Ling di tengah reruntuhan kuno. Baca adventure story dan action novel seru ini untuk mengungkap rahasia kelam di balik misi bertahan hidup.
Cinta Disisa Serpihan Hati
Cinta Disisa Serpihan Hati
Dalam Cinta Disisa Serpihan Hati, Dania terjebak pernikahan dadakan dengan Ilham, pewaris hotel yang diburu keluarga tirinya. Keduanya kini menjalani adventure berbahaya demi bertahan hidup. Baca romance novel ini di platform online novel untuk mengikuti perjuangan mereka melawan pengkhianatan.
Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
Ditinggalkan di altar karena dianggap gadis desa, Chelsea bangkit mengungkap identitasnya sebagai pewaris triliunan rupiah dalam romance novel ini. Di tengah intrik dunia billionaire, ia harus melawan musuh yang iri sementara Nicholas mendukungnya. Baca webnovel seru ini sekarang.
SETETES DARAH SUCI
SETETES DARAH SUCI
Dalam novel SETETES DARAH SUCI, seorang gadis lahir dengan darah yang menjanjikan keabadian. Di tengah dunia fantasy ini, ia menjadi incaran berbagai klan yang haus kekuasaan. Simak kisah survival dalam vampire romance books ini dan baca fiction fantasy novels selengkapnya di sini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Tak Sengaja Mengandung Anak Sang Alpha
Tak Sengaja Mengandung Anak Sang Alpha
Ada seorang wanita yang takut pada manusia serigala, ditambah sekarang dia dalam kondisi hamil. Hanya saja dia dipaksa menikah dengan pria miliader, jadi wanita itu harus menyembunyikan identitasnya untuk bertahan hidup.
CEO, Nyonya Punya Anak Rahasia!
CEO, Nyonya Punya Anak Rahasia!
Enam tahun yang lalu, ia bercerai dengan suaminya yang menjabat sebagai CEO tanpa mengetahui bahwa ia hamil. Sekarang, dia tinggal sendirian dengan anaknya. Ketika mereka bertemu lagi saat kencan buta, bisakah mereka menjernihkan kesalahpahaman dan mendamaikan hubungan mereka yang rusak?
Cukup Sekali Ucapkan Selamat Tinggal
Cukup Sekali Ucapkan Selamat Tinggal
Yessy sangat mencintai Husen selama bertahun-tahun, bekerja sebagai asistennya dengan sepenuh hati. Karena Husen mabuk, Yessy hamil, dan keduanya menikah secara diam-diam. Yessy mengira dia menikah dengan kebahagiaan, tetapi ini adalah awal dari mimpi buruk. Husen hanya memikirkan cinta pertamanya, bahkan berulang kali menyakiti istri dan anaknya demi cinta pertamanya. Istri dan anak itu akhirnya sadar, menjauhi Husen dan tidak pernah memaafkannya.
Ditakdirkan Menjadi Penguasa
Ditakdirkan Menjadi Penguasa
Konon, jika bisa mendapatkan bantuan dari sang Nilraja, maka dalam waktu singkat seseorang bisa mencapai kejayaan! Suatu hari, Sam yang merupakan pengantar makanan, terburu-buru untuk mengantarkan pesanan selanjutnya. Tanpa sengaja, dia masuk ke ruang rapat Grup Surya. Hanya dengan beberapa perkataan singkat, dia langsung memicu suatu perang bisnis yang mengakibatkan krisis... ""Pada 30 tahun lalu, Tante Zoe memberi tahu aku. Jika ada orang yang meremehkanku, aku akan menghajar wajahnya dan menginjak bahunya, lalu memberi tahu orang itu, bahwa aku adalah Sam, sang penguasa yang luar biasa!
Ayahku Pejuangku
Ayahku Pejuangku
Diburui karena tuduhan menerima uang suap, mengatur pertandingan tinju secara curang, dan dituduh sebagai pengkhianat negara, Beni nekat melakukan segalanya untuk membalas dendam!
Sang Jenderal Perempuan Kembali
Sang Jenderal Perempuan Kembali
Mia, Jenderal Perang wanita dari Negara Abadi, takdirnya direbut oleh roh pendatang selama tiga tahun. Ia berubah menjadi pecinta buta yang ditinggalkan oleh semua orang. Setelah sadar, ia membereskan kekacauan yang ditinggalkan, menghukum semua pengkhianat, dan berjuang mati-matian merebut kembali cinta suaminya. Akhirnya, mereka berdua bersatu kembali. Mia pun menggenggam senjatanya sekali lagi, membela negara dan menghancurkan musuh.