Bab 4

Bukan Pernikahan Impian

Kanaya duduk termangu di sebuah kamar dalam balutan kebaya putih sederhana.

Beberapa hari yang lalu, Dokter Indra memberitahukannya jika kliennya setuju menikahinya secara agama. Dan hari ini, pernikahan itu akan diselenggarakan di sebuah rumah di jalan Sunset Summit.

Rumah satu lantai itu terletak di sebuah kawasan elit. Di kawasan seperti ini, orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak saling berinteraksi. Mereka sangat individual dan tidak pernah bertegur sapa satu sama lainnya.

Tidak ada tetangga yang tahu apa yang sedang terjadi di rumah itu. Dan mereka tidak usil mencari tahu. Menjaga privasi adalah hal yang lumrah.

Dokter Indra baru saja datang mengatakan jika kliennya akan datang menemuinya. Dan jantung Kanaya berdebar kencang ingin tahu siapa orang yang 'menyewa' rahimnya dan 'membeli' sel telurnya. Orang yang akan menikahinya dan menjadi ayah biologis anaknya kelak.

Siapa mereka? Apa ia pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?

Kanaya berdiri saat pintu kamarnya terbuka dan masuklah sepasang suami istri. Namun, ia begitu terkejut tatkala melihat dua orang yang berjalan menghampirinya itu.

Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mengenal kedua orang itu? Mereka adalah Bastian Aryo Dwipangga dan istrinya Elsiana Zhiva.

Bastian adalah seorang pengusaha muda yang sukses, anak satu-satunya keluarga konglomerat Dwipangga, keluarga nomor satu yang ada di Eastasia.

Pantas saja mereka sangat merahasiakan kesepakatan ini dan mau mengeluarkan begitu banyak uang untuk mendapatkan seorang anak.

Kabar bahwa Bastian sangat loyal pada sang istri dan selalu menolak godaan begitu banyak wanita sudah bukan rahasia. Itu sebabnya, Bastian menjadi idola bagi banyak wanita.

Tidak hanya tampan, kaya dan sukses, namun ia juga setia. Wanita mana yang tidak mengaguminya?

Semakin dekat langkah mereka, semakin kencang jantung Kanaya berdebar.

Bastian dan Elsie berhenti satu meter dari tempat Kanaya berdiri.

"Saya Bastian, dan ini Istri Saya, Elsie. Seperti yang kamu tahu, Saya sudah memiliki seorang istri. Jadi, pernikahan ini hanya formalitas saja seperti permintaanmu."

Pertama kali Kanaya mendengar langsung suara pria yang hanya pernah dilihatnya melalui layar kaca. Suara maskulin itu nyaris tanpa emosi. Dingin dan datar. Sikapnya pun acuh tak acuh, seakan hanya menghadiri acara biasa saja dan bukan pernikahannya sendiri.

Kanaya mengangguk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Bastian.

Elsie yang berada di samping Bastian melangkah mendekati Kanaya.

"Kanaya, Saya berterima kasih padamu karena kamu mau menerima penawaran kami," ucap Elsie dengan lembut.

"Saya mengerti alasan kamu meminta pernikahan ini," tambah Elsie yang tiba-tiba mengangkat dagu Kanaya hingga kedua mata mereka bertemu.

"Tetapi kamu harus ingat, bahwa ini adalah bagian dari kesepakatan. Saya harap kamu bisa bersikap profesional, dan tidak menganggapnya sebagai hal yang bersifat pribadi."

Cara Elsie mengucapkannya penuh dengan kelembutan, namun dibalik tatapan mata dan kata-kata yang diucapkannya, ada makna yang sangat dalam yang mengingatkan Kanaya akan posisi dan status mereka yang berbeda.

Elsie adalah istri sah yang sangat dicintai Bastian. Sedangkan dirinya tidak lain hanyalah perempuan yang mereka sewa untuk mengandung dan melahirkan anak untuk mereka.

"Saya hanya melakukan apa yang ada dalam kesepakatan. Ibu tidak perlu kuatir, saya tahu tugas dan tanggung jawab Saya," ucap Kanaya sambil membalas tatapan Elsie sesaat sebelum ia kembali menunduk. Ia tahu diri untuk tidak berbuat lancang.

Kanaya pun tahu alasan Elsie mengatakan hal itu padanya.

Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Elsie dan Ia tidak ingin menabur garam pada luka.

Kanaya bertekad untuk melakukan tugasnya menjadi ibu pengganti anak mereka. Ia tidak berniat menjadi wanita penggoda atau orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Ia sudah mengatakan alasan dirinya meminta dinikahi dan itu bukan untuk menjadi perebut suami orang.

Kanaya ikhlas memberikan anak biologisnya untuk kebahagiaan kedua pasangan yang telah membantunya memberikan harapan hidup bagi ibunya.

Samar Kanaya mendengar hembusan nafas Elsie, sebelum ia kembali berdiri di samping Bastian.

Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka katakan dan acara berlanjut dengan akad nikah.

Akad nikah itu berlangsung singkat dan sederhana. Tidak ada dekorasi dan jamuan mewah di dalam rumah ataupun tamu undangan.

Hanya beberapa orang saja yang hadir, yang diperlukan untuk memenuhi syarat sahnya pernikahan itu. Selain Kanaya, Bastian dan Elsie, ada Dokter Indra dan serta beberapa orang lainnya yang Kanaya tidak kenal.

Sedangkan di sisi Kanaya, hanya ada Fadly, sepupu Kanaya, anak dari adik laki-laki almarhum ayah Kanaya. Dia yang menjadi wali nikah Kanaya.

Hal ini karena ayah dan kakek serta om Kanaya telah meninggal dunia. Dan Fadly adalah satu-satunya saudara laki-laki dari sisi ayahnya.

Dalam kesepakatan mereka tidak disebutkan mengenai mahar. Namun rupanya, Bastian menyiapkan untuk Kanaya sejumlah uang, dan satu set perhiasan berupa kalung, gelang dan anting sebagai mahar untuknya.

Tidak ada cincin di dalamnya.

Kanaya sendiri tidak mempermasalahkan ketiadaan cincin. Yang terpenting baginya adalah syarat pernikahan itu terpenuhi. Lagipula, cincin sebenarnya bukanlah sesuatu yang wajib diberikan dalam pernikahan.

Toh pernikahan itu bukan untuk jangka waktu yang lama. Setelah ia melahirkan anak mereka, hubungan mereka akan berakhir, dan pernikahan ini akan mengiap dengan sendirinya.

Setelah acara ijab qabul, dilanjut dengan foto singkat yang sama sekali tidak berkesan, sebelum akhirnya Bastian pergi bersama Elsie.

Itulah acara pernikahan yang dijalani oleh Kanaya. Tidak ada tangisan haru atau senyum kebahagiaan. Hanya sebuah formalitas karena ia memintanya sebagai bagian dari kesepakatan.

Bukanlah sebuah pernikahan impian yang ada dalam bayangan Kanaya selama ini, akan tetapi itu adalah pilihannya dikala ia harus memilih antara hidupnya dan kelanjutan hidup ibunya.

Bab 5

Sugesti Kesetiaan

Setelah menikah, Kanaya tinggal di rumah di jalan Sunset Summit bersama seorang perempuan paruh baya bernama Sifa. Sifa bertugas sebagai pengasuh yang menemani dan mengatur segala keperluannya.

Beberapa hari sudah Kanaya tinggal di rumah itu, namun Bastian belum pernah datang menemuinya. Hanya Dokter Indra dan timnya yang datang mengecek keadaan Kanaya.

Akan tetapi, hari ini berbeda.

Tadi pagi Dokter Indra mengabarkan jika Bastian akan datang mengunjunginya malam ini.

Ia mengatakan jika sel telurnya berada dalam masa ovulasi. Yaitu waktu di mana sel telur siap untuk dibuahi. Di saat itulah, pembuahan memiliki peluang terbesar untuk berhasil.

Itu sebabnya Kanaya duduk dengan gelisah di dalam kamar karena malam ini adalah pertama kali dalam hidupnya seorang pria akan menyentuhnya.

Kanaya belum pernah berpacaran, apalagi disentuh oleh laki-laki.

Ia tidak punya waktu untuk hal seperti itu karena sisa waktu di luar jam kuliah dipergunakannya untuk bekerja.

Kanaya bukan berasal dari keluarga mampu. Sejak ayahnya meninggal dunia, kehidupan Kanaya dan ibunya hanya pas-pasan saja. Ia yang membantu ibunya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari.

Apalagi setelah ibunya divonis mengidap gagal jantung, ia harus bekerja di dua tempat sekaligus agar bisa mendapatkan uang lebih untuk pengobatan ibunya.

Belajar di bangku kuliah pun ia dapatkan melalui beasiswa penuh dari Wisdom Foundation, sebuah lembaga swadaya yang bergerak di bidang pendidikan. Lembaga itu menyediakan beasiswa bagi pelajar berprestasi dari keluarga tidak mampu.

Namun sejak beberapa bulan yang lalu, ia mengajukan cuti kuliah agar bisa fokus merawat ibunya.

Suara mesin mobil yang berhenti di halaman depan membuyarkan lamunannya.

Meski sudah menduga siapa yang datang, rasa penasaran membuat langkah kakinya berjalan mendekati jendela setinggi lantai sampai langit-langit yang ada di kamarnya.

Melalui kain korden tipis berwarna putih, Kanaya bisa melihat mobil sport berwarna hitam terparkir di halaman depan.

Jantung Kanaya berdetak kencang saat kedua matanya menangkap sosok Bastian yang turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.

Kanaya menunggu dengan gugup. Ia duduk lalu berdiri. Duduk, lalu berdiri, dan duduk lagi.

Derap langkah kaki Bastian terdengar dari luar kamarnya. Semakin lama semakin terdengar mendekat, hingga akhirnya langkah itu berhenti di balik pintu.

Kanaya menatap daun pintu kamarnya tanpa berkedip. Ia tahu Bastian berdiri di balik pintu itu.

Tidak lama pintu terbuka, dan masuklah Bastian.

"Pak Bas-tian, se-selamat malam Pak.” Kanaya langsung berdiri dengan gugup. Tangannya meremas-remas gaun tidur berwarna putih yang ia kenakan.

Gaun tidur dari bahan satin itu tidak tembus pandang, dan modelnya pun sederhana. Bagian dadanya tidak berpotongan terlalu rendah, jauh dari kesan menggoda dan pas dikenakan oleh Kanaya dengan pembawaannya yang polos.

"Hm," balas Bastian tanpa menoleh. Ia menaruh tas kerjanya di salah satu bangku yang ada di dekat jendela, kemudian melepaskan jas yang ia kenakan.

Kanaya begitu gugup, tidak tahu harus melakukan apa. Ia berdiri diam dengan gelisah. Ujung telapak kakinya tanpa sadar ditekan ke lantai bergantian.

Bastian melirik Kanaya sambil ia melepas kancing lengan kemeja yang ia kenakan.

"Kamu belum pernah melakukan ini?"

Kanaya mengangguk, ia melirik sekilas sebelum kembali menunduk.

"Kamu tahu kan kalau ini salah satu kewajibanmu?" Bastian bertanya lagi, kali ini ia menatap dengan penuh selidik seakan memastikan jawaban Kanaya.

"I-Iya Pak," jawab Kanaya pelan. Sadar akan kewajibaanya tanpa ada paksaan.

Sudah keputusannya untuk menyerahkan dirinya kepada Bastian, karena inilah satu-satunya cara ia bisa mengandung anak pria itu.

Bastian tersenyum, seakan ia puas dengan jawaban Kanaya.

"Aku mandi dulu,” ujarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Menunggu adalah bagian paling menyiksa bagi Kanaya. Semakin lama ia menunggu pria itu, semakin gugup pula dia.

Kanaya mengambil segelas air untuk meredakan kegugupannya dan ia langsung meneguknya.

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka dan Bastian keluar hanya dengan mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya.

Uhuk uhuk! Kanaya terbatuk-batuk karena terkejut melihat Bastian. Baru kali ini Kanaya melihat tubuh six pack pria tersebut.

Saat pertama bertemu, ia tidak terlalu memperhatikannya. Apalagi dengan pakaian yang menutupi tubuhnya, Kanaya tidak bisa membayangkan bentuk asli tubuh pria itu.

Tidak disangka, Bastian memiliki bentuk tubuh yang sangat menarik di matanya sehingga membuatnya kehilangan fokus.

"Ma-maaf," ucapnya, cepat-cepat meredakan keterkejutannya.

Bastian terlihat sangat maskulin dan jantan dengan bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya jatuh ke dada bidang dan keras pria itu.

Di usia dua puluh delapan tahun, Bastian sangat matang sebagai seorang laki-laki.

Postur tubuhnya tinggi dan tegak dengan otot yang kering namun berisi. Dia adalah tipe laki-laki dengan tubuh ideal. Sangat, sangat ideal.

Bastian berhenti di samping Kanaya, meraih gelas air dan meminumnya.

Kanaya menjadi semakin gugup dengan kedekatan fisik mereka, sehingga ia memilih kembali ke tempatnya berdiri tadi.

Bastian menghabiskan gelas airnya, kemudian ia duduk di tepi ranjang. Sambil menatap Kanaya, ia menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.

Kanaya berjalan mendekati Bastian dan duduk dengan ragu di tempat yang ditunjuk.

Ia duduk menghadap ke lain arah sehingga punggungnya membelakangi Bastian. Kedua tangannya masih saja meremas ujung gaun tidurnya.

Bastian bergeser mendekat. Sekelebat, ia mencium aroma lembut dan segar yang datang dari tubuh Kanaya.

Aroma itu tidak tajam dan justru sangat samar. Namun, aroma itu ada, menggelitik indra penciuman Bastian. Dan syaraf-syaraf ditubuh Bastian merespon setiap kali ia menghirupnya. Bahkan nafas Bastian menderu lebih berat karenanya.

Perlahan Bastian merebahkan Kanaya di atas ranjang. Ia memposisikan dirinya setengah melayang di atas tubuh gadis itu.

Ketika Bastian mulai menurunkan wajah dan menghirup kulit leher Kanaya, nafas Kanaya tertahan.

Gesekan hidung Bastian dan hembusan nafas hangat yang menyentuh kulitnya memberikan sensasi menggelitik yang berbeda.

Tubuh Kanaya menegang. Antara takut, was-was, namun juga menikmatinya.

Belum pernah Kanaya merasakan sensasi sentuhan seintim itu.

Ia menggigit bibir dan memejamkan matanya, tidak berani membayangkan wajah Bastian.

Kanaya tidak ingin meninggalkan rasa dalam proses 'pembuahan' itu. Tidak ingin menikmatinya. Biarlah perbuatan mereka malam itu sekedar menjadi pertemuan dua buah benih genetik yang dilakukan di dalam tubuhnya.

Kanaya tidak berani menarik nafas dalam, bahkan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun saat indera perasanya tersentuh.

Dikala Kanaya tengah berjuang untuk tidak menikmati, tiba-tiba saja Bastian berhenti mencumbunya. Pria itu dengan cepat bergerak menjauh.

Kanaya terkejut dengan perubahan sikap Bastian dan ia membuka matanya.

"Aku tidak bisa," gumam Bastian sambil menggelengkan kepalanya, duduk di tepi ranjang membelakangi Kanaya.

Kanaya ikut beranjak dan duduk di samping Bastian. Ia bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Apa dia punya masalah dengan kegagahannya? Tetapi setahu Kanaya, permasalahan mereka terletak pada sel telur istrinya, bukan pada kemampuan pria itu.

Atau… mungkin dia tidak bisa melakukannya karena memikirkan istrinya? Batin Kanaya teringat pada rumor kesetiaan Bastian pada sang Istri yang beredar luas.

"Pak Bas--" panggilnya pelan. Kanaya ingin mengatakan atau melakukan sesuatu, namun ia bingung dan tidak yakin.

Kanaya belum pernah melakukan keintiman lawan jenis dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Tetapi, ia tidak boleh membuang kesempatan itu dengan percuma. Ia harus memberi Bastian keturunan.

Jantung ibunya tidak bisa menunggu lebih lama. Dokter jantung mengatakan ibunya hanya punya waktu beberapa bulan, paling lama satu tahun.

Ingatan akan raut wajah ibunya membulatkan tekad Kanaya.

"Bapak harus, Pak!" Tanpa sadar terlontar dari bibirnya.

Bastian tertegun menatap Kanaya. Sepintas berkelebat sesuatu pancaran di mata pria itu.

Kanaya menunggu dengan harap-harap cemas. Berharap Bastian akan tetap melakukannya.

Kedua mata pria itu semakin intens menatapnya, namun disaat Kanaya kembali berhatap, tiba-tiba pria tersebut bangkit dari duduknya.

"Pak-Pak Bastian! Jangan Pak! Jangan pergi!" Kanaya menahan tangan Bastian, mencegah pria itu untuk pergi.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92025" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92025
Salin

Kesepakatan Hati: Ibu Pengganti Untuk Anak CEO

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya