Bab 1
Harga Yang Harus Dibayar
“Jika tidak dioperasi, ibu nona tidak akan bisa bertahan lebih lama...”
Tiba-tiba ruangan itu sunyi, hanya terisi oleh suara mesin-mesin rumah sakit yang berdenting begitu lambat.
Kanaya menahan napas, dadanya sesak hampir meledak. Di hadapannya, ibunya terbaring koma dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan operasi transplantasi jantung.
“Apa tidak ada cara lain, Dok?”
Suara Kanaya bergetar. Sebelumnya Dokter itu juga berkata jika biayanya bisa mencapai 20an miliar. Apa yang harus ia lakukan?
Dokter yang menangani Ayunda, ibu Kanaya, menggeleng seraya mengalungkan stetoskop.
“Itu... satu-satunya cara...”
Kanaya menggenggam tangan ibunya lebih keras, ia terisak. Teringat ibunya yang menolak dibawa ke rumah sakit karena tak mau merepotkannya.
“Nona bisa pikirkan terlebih dahulu. Saya pamit,” ucap sang dokter yang mengangguk ke arah Kanaya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Kanaya tak bergerak, ia membeku.
Sejak ayahnya meninggal, satu-satunya orang yang bisa diharapkan ibunya adalah dirinya.
Dan kali ini, setelah bertahun-tahun merawat ibunya di Emerald City, ia dihadapkan pada sebuah dinding penghalang yang besar, dinding keputusasaan.
Akankah ini menjadi masa terakhir dengan ibunya?
Kanaya menggeleng. Demi menjernihkan pikirannya yang kalut, ia melangkah keluar kamar perawatan ibunya untuk menghirup udara segar.
Langkah kedua kakinya menuntun Kanaya pada sebuah bangku taman. Dan ia duduk di bangku itu.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyapa dedaunan, dan menyentuh kulit wajahnya. Kedua mata Kanaya menyapu tak tentu arah pada semua yang ada di sekitarnya.
Suster, dokter, dan pengunjung rumah sakit yang berlalulalang di dekatnya hadir di benaknya bagaikan sebuah delusi. Mereka semua nyata, senyata dirinya yang duduk di bangku taman itu, namun tak bisa memberikan jawaban dari permasalahannya.
Kanaya memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
Dalam keputusasaan, hatinya berdoa. Tuhan, berilah petunjuk, jalan keluar. Apa pun.
"Lihat, iklan ini muncul lagi."
Kanaya membuka matanya. Ia menoleh mengikuti asal suara itu. Tidak jauh darinya dua orang perawat sedang mengobrol.
Salah satu perawat memperlihatkan temannya apa yang ada di layar telepon genggam yang ia pegang.
Teman perawat itu melirik gawai yang dipegang rekannya dan berkomentar. "Sudah berapa kali dia mencari ibu pengganti? Apa masih belum dapat juga?"
"Yang aku dengar, sudah beberapa kali mereka gagal implan. Mungkin belum rejeki," jawab perawat pertama. "Padahal kalau sampai berhasil, aku dengar uang yang ditawarkan sangat besar, lho!"
Mendengar ucapan perawat itu, Kanaya mempertajam indera pendengarannya.
"Benar. Yang aku dengar, kalau berhasil, si ibu pengganti bisa dapat milyaran! Kalau aku masih gadis, boleh juga tuh, lumayan buat beli hp ipon dan jalan-jalan ke luar negeri. Dan yang pasti, tidak perlu kerja seumur hidup!" celetuk perawat yang satu lagi dengan canda sambil mereka berjalan melewati Kanaya.
Mata Kanaya membulat. Milyaran? Ibu pengganti? Tiba-tiba percakapan kedua suster itu bagai sebuah petunjuk untuknya. Apakah ini jalan keluar yang ia cari?
Istilah ibu pengganti pernah Kanaya dengar sebelumnya. Namun, bagaimana prosesnya tidak banyak ia ketahui.
“Maaf, suster. Boleh saya bertanya?”
Tiba-tiba dua suster yang dari tadi cekikikan berhenti dan menatap Kanaya dengan canggung.
Merasa mendapatkan atensi, Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Boleh tahu iklan apa yang suster bicarakan?”
Mereka berdua saling menatap. Lalu setelah saling menyikut, seorang suster berambut cepol berkata pelan-pelan.
“Seseorang dari keluarga kaya sedang mencari seorang ibu pengganti dengan imbalan yang fantastis.”
“Apa saya bisa mendapatkan info iklan tersebut?” pinta Kanaya dengan mata berbinar.
Permintaan Kanaya kembali membuat kedua suster saling pandang.
“Urungkan saja niatmu itu, Nona. Walaupun bayarannya besar, tetapi presentase keberhasilannya sangat kecil. Jangan buang-buang waktumu.”
Kanaya tak peduli. Ia tetap tersenyum sambil menatap suster tersebut dengan penuh harap.
Setelah menghela nafas panjang, salah seorang suster memberikan Kanaya link iklan tersebut.
“Terima kasih, Suster!”
Dada Kanaya membuncah dengan secercah harapan. Ia segera kembali ke ruangan ibunya.
Optimisme yang pada awalnya begitu gelap, kali ini memunculkan asa baru!
Sekembalinya ke kamar perawatan ibunya, Kanaya masih fokus membaca iklan yang sebelumnya ia dapatkan.
Dikatakan dalam iklan tersebut imbalan yang begitu besar akan diberikan jika program itu berhasil ditunaikan.
Terbersit keraguan di dada Kanaya. Ia dituntut untuk mengandung seorang anak selama sembilan bulan, untuk kemudian memberikan anak itu kepada orang lain? Kanaya seketika menahan nafas.
Meskipun anak yang dikandungnya nanti bukan darah dagingnya, bisakah ia menyerahkannya begitu saja?
Di tengah kontradiksi pikirannya, tiba-tiba tangan yang sedari tadi ia genggam bergerak.
“Ibu, ibu sudah sadar?”
Ayunda berusaha menggerakkan tubuhnya, namun seketika ditahan oleh anak sematawayangnya itu.
“Ibu jangan bergerak dulu, kata dokter ibu harus istirahat yang cukup.”
Ayunda mengelus pipi kiri anaknya itu seraya menatapnya dengan sayu. "Naya, Ibu mau pulang. Ibu merasa sudah lebih baik."
"Nanti Bu, kalau Dokter sudah mengizinkan." Kanaya memaksakan sebuah senyuman. Ia tidak ingin ibunya tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Ibu sudah tidak apa-apa, kemarin ibu hanya kecapean saja. Sekarang sudah sehat! Lihat?!" Ayunda juga bersikukuh menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Kedua mata Kanaya menggenang dan hatinya pilu memperhatikan ibunya yang berpura-pura tidak menahan sakit di depan matanya. Padahal Kanaya mengetahui kondisi ibunya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu, maafin Naya ya Bu." Kanaya memeluk ibunya dengan hati yang sedih. Ia merasa tidak berguna.
Ayunda melepas pelukannya dan menghapus airmata di pipi Kanaya. Ia menggeleng tidak ingin putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Ibu sangat bangga padamu, Naya. Selama ini kamu sudah menjaga dan merawat ibu dengan sangat baik. Dan sekarang sudah waktunya kamu memikirkan masa depanmu. Jangan khawatirkan ibu, ya?"
Kanaya tidak ada jalan lain selain tersenyum, meski hatinya begitu sedih.
Biaya yang dibutuhkan untuk menyembuhkan ibunya begitu besar. Ia tak akan mendapatkannya bahkan dengan bekerja puluhan tahun.
Ia pandangi lagi nomor yang tertera pada iklan tersebut. Dadanya bergemuruh.
“Ibu, percaya sama Naya, ibu akan sembuh! Naya janji!”
Bab 2
Kandidat Ibu Biologis
"Selamat Kanaya, kamu dinyatakan lolos seleksi Ibu pengganti."
Dokter Indra Wibisono, seorang Dokter endokrin dan fertilitas menjabat tangan Kanaya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Terima kasih Dokter!"
Sejak dua minggu yang lalu, Kanaya telah menjalani serangkaian tes untuk menjadi ibu pengganti. Dan mendengar hasil tes itu, Kanaya merasa sangat senang.
Berita itu bagaikan embun yang turun di padang pasir, memberinya semangat dan harapan baru untuk kesembuhan ibunya.
"Sama-sama, Kanaya. Kami senang kamu mendaftar ke klinik kami. Sudah lama kami mencari seseorang dengan kriteria sepertimu," balas Dokter Indra dengan menghembuskan nafas lega.
"Namun ada satu hal yang saya ingin sampaikan terkait program bayi tabung ini, dan saya mengharapkan persetujuan darimu, Kanaya." Dokter Indra berkata dengan nada serius.
Persetujuan? Kanaya merasa ada hal lain yang ingin disampaikan oleh dokter itu.
"Apa ada masalah? Apa ini ada kaitannya dengan uang kompensasi yang saya minta?" Kanaya merasa was-was.
Apakah orang itu keberatan dengan uang dua puluh miliar yang ia minta?
"Begini Kanaya. Ada sedikit perubahan dalam kesepakatan kita." Dokter Indra menatap Kanaya dengan perhatian penuh.
Perubahan dalam kesepakatan? Perubahan apa?
"Untuk proses bayi tabung ini, bayi yang akan kamu kandung nanti bukan berasal dari sel telur orang lain.”
“Maksud Dokter, dari sel telur saya sendiri?” Kanaya membelalakkan matanya dengan terkejut.
Dokter Indra mengangguk. “Benar, Kanaya.”
“Tapi, kenapa?” Kanaya merasa heran.
Jika menggunakan sel telur miliknya, bukankah secara biologis anak itu adalah anak kandungnya dan bukan anak biologis orang yang membayarnya?
"Memang biasanya sel telur yang digunakan adalah milik orang yang menitipkan. Tetapi kali ini, hal itu tidak dimungkinkan. Yah, katakanlah sel telur orang tersebut tidak cukup kuat untuk melalui serangkaian proses ini.”
“Itu sebabnya, saya meminta persetujuan kamu, Kanaya. Jika kamu setuju, kita akan langsung memproses segala sesuatunya," papar Dokter Indra dengan cara yang lugas.
Kanaya menggigit bibirnya memikirkan perubahan kesepakatan itu.
Anak yang harus ia berikan kepada orang lain adalah anak kandungnya sendiri?
Dokter itu menarik nafas panjang sebelum berkata, "Mengenai kompensasi yang kamu minta,” ia menjeda.
“Mereka tidak keberatan. Asalkan, kamu setuju dengan kesepakatan ini,” sambungnya dengan tatapan penuh arti.
Kanaya balas menatap Dokter itu dengan bimbang dan ragu.
Mengapa ia merasa sangat berat memutuskan hal itu? Bukankah seharusnya ia merasa senang tujuannya bisa tercapai?
“Saya tahu apa yang kamu pikirkan dan kenapa kamu merasa berat menyetujuinya,” Dokter itu berkata setelah memberi Kanaya waktu untuk berpikir.
“Menyetujui hal ini, bukan berarti kamu menukar anakmu dengan uang. Sama sekali bukan,” Dokter Indra memberi tatapan dalam, meminta Kanaya untuk mencerna ucapannya.
“Cobalah berpikir dengan cara ini. Bahwa dengan melakukan ini kamu tidak hanya menolong ibumu, namun kamu juga menolong orang lain yang sangat mendambakan keturunan.”
Kanaya masih menatap dokter itu, ia masih membutuhkan sesuatu untuk meyakinkannya. Bagaimana dengan anak itu?
Seakan mengerti keresahan Kanaya, Dokter itu menjelaskan.
“Saya bisa memastikan. Anak itu akan hidup serba berkecukupan. Dia tidak akan kekurangan apa pun bahkan kasih sayang dari orang tua.”
Tatapan Dokter itu begitu meyakinkan seakan dia tahu persis bagaimana kedua orang suami istri itu akan membesarkan anaknya nanti.
“Siapa mereka?”
“Saya tidak bisa memberitahukanmu mengenai identitas mereka. Tetapi percayalah, mereka berasal dari keluarga yang baik dan berkecukupan. Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan.”
Mengamati tatapan mata dokter itu, Kanaya merasa dia tidak berbohong dengan ucapannya.
“Tidak mengetahui hal ini adalah jalan terbaik, demi kebaikanmu sendiri,” tambah Dokter itu dengan tatapan penuh arti.
Kanaya mengerti apa yang dokter itu maksudkan. Dengan tidak mengetahui identitas mereka, akan lebih mudah bagi Kanaya untuk memutuskan ikatan batin dengan anak yang ia lahirkan nantinya.
Setelah berpikir selama beberapa hari, Kanaya akhirnya menyetujui kesepakatan itu.
Kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Dan mungkin inilah satu-satunya harapan untuk kesembuhan ibunya.
Kanaya mulai menjalani proses awal mempersiapkan indung telurnya hari ini.
Ia harus menjalani serangkaian induksi hormon untuk meningkatkan kualitas sel telur miliknya.
Dokter Indra sendiri yang menanganinya langsung.
"Setelah ini langsung pulang dan beristirahat. Makan makanan yang bergizi dan jangan tidur terlalu malam. Boleh melakukan olahraga yang ringan, tetapi hindari melakukan aktifitas yang melelahkan," pesan Dokter Indra setelah mereka selesai dengan proses induksi pertamanya hari itu.
Kanaya mengangguk, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh dokter itu. "Terima kasih, Dokter."
Kanaya berjalan keluar dari klinik menuju sebuah gedung apartemen yang terletak hanya beberapa ratus meter saja.
Apartemen itu adalah fasilitas yang disediakan oleh klinik untuknya agar memudahkan tim medis program bayi tabung untuk memonitor perkembangan kesehatannya setiap saat.
Sebelum pindah ke apartemen, Kanaya sudah menitipkan ibunya ke rumah Bude Laila, kakak kandung ibunya.
Kanaya tidak menceritakan kepada siapapun jika ia menjadi ibu pengganti. Selain harus menjaga kerahasiaan program itu, ia juga tidak ingin menjadi beban pikiran ibunya.
Ia beralasan mendapat pekerjaan baru di luar kota dan meminta tolong kepada Budenya untuk menjaga ibunya selama ia tidak ada.
Tidak sampai sepuluh menit berjalan, Kanaya sampai di apartemennya.
Ia ingin mandi dan segera beristirahat, menghilangkan rasa letih dan penatnya setelah berbagai proses yang dilaluinya hari ini.
Baru saja Kanaya masuk ke dalam apartemen, ia merasa gatal-gatal. Rasa gatal itu seakan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Semakin ia menggaruknya, semakin ia merasa gatal.
"Aduh, kenapa gatal sekali? Ada apa ini?” Kanaya terus menggaruk bagian tubuhnya. Rasa gatal itu tidak tertahankan.
Keheranan Kanaya semakin bertambah tatkala melihat bercak kemerahan di lengannya yang sebelumnya tidak ada.
Merasa ada sesuatu yang tidak wajar, ia pun berjalan ke arah cermin.
"Ya ampun, kenapa ini?" pekik Kanaya dengan mata membelalak ketika mendapati kulit wajahnya memerah dengan ruam, dan bibirnya tampak membengkak.
Kanaya meremas dadanya, mulai merasakan sesak nafas. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?
Ia berusaha fokus menganalisa apa yang ia rasakan. Semua gejala ini… apakah— alergi?
Obat itu! Mungkinlah ia alergi pada obat yang disuntikkan padanya?
Hanya ada satu cara mengetahuinya.
Dengan susah payah ia meraih telepon genggamnya dan menghubungi Dokter Indra.
"Halo Kanaya?"
"Dok-ter…"
"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" suara Dokter Indra yang berada di ujung sambungan telepon itu terdengar khawatir.
Di ruangan kantornya di klinik Life's Blessing, Dokter itu menghentikan apa yang sedang ia kerjakan.
"Dok-ter sepertinya… saya… alergi…" Dengan nafas tersenggal-senggak ia mencoba memberitahu dokter itu.
Pikirannya mulai tidak fokus, pandangan matanya pun mulai terasa kabur dan nafasnya semakin terasa berat.
"Apa? Kamu yakin?”
"Dok-ter to--long sa-ya"
Kanaya merasa sulit sekali bernafas. Apakah ini saat terakhirnya? Lalu bagaimana dengan ibunya?
“Bertahanlah Kanaya! Bertahanlah!” Terdengar derap langkah cepat dan nafas Dokter indra yang memburu, sebelum telepon genggam itu terlepas dari tangannya yang gemetar.
Berkelebat wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit
Tidak! Ibu…
Aku tidak boleh mati! Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu?
Bertahanlah Kanaya, bertahanlah!
Bruk! Samar Kanaya mendengar suara pintu didobtak dengan kencang, lalu derap suara langkah kaki-kaki yang berlari semakin jelas terdengar.
"Kanaya? Kanaya!!"
Dokter Indra? Pandangan mata Kanaya kabur, namun ia melihat dua titik bergerak cepat ke arahnya.
"Dokter, to--long saya..." ucap Kanaya dengan suara yang tak lagi terdengar jelas.
Ia menggapaikan tangannya. Namun saat ia merasa seseorang telah meraihnya, pandangan matanya menjadi gelap. Gulita.
Bab 3
Motivasi Dan Syarat
"Bisa Saya bicara denganmu? Berdua saja.”
Dokter Indra datang ke restoran saat Kanaya sedang bekerja.
Kanaya tidak menyangka jika dokter klinik kesuburan itu datang mencarinya.
Apa yang ia inginkan? Bukankah urusan mereka sudah selesai?
Beberapa hari yang lalu Kanaya diketahui mempunyai alergi pada salah satu zat yang ada di hormon kesuburan yang disuntikkan padanya.
Untung saja Dokter Indra datang tepat waktu untuk menyelamatkan Kanaya kala itu.
Namun yang membuat Kanaya heran, alergi itu tidak terdeteksi sebelumnya.
Menurut Dokter Indra, zat itu sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, kekebalan tubuh Kanaya mengidentifikasi zat itu sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuhnya. Itu sebabnya tidak ada yang menyangka jika Kanaya memiliki reaksi alergi pada obat itu.
Dan nahasnya lagi, zat itu terdapat pada semua jenis obat hormon kesuburan yang ada yang sangat penting dalam memastikan kualitas sel telur yang akan digunakan sebagai donor.
Jika dipaksakan, akan berefek pada kesuburan Kanaya dikemudian hari. Oleh sebab itu, kesepakatan mereka tidak bisa dilanjutkan.
Hati Kanaya begitu sedih saat mendengar kabar itu. Harapan untuk memperoleh uang untuk biaya transplantasi jantung ibunya pun pupus sudah.
Namun Kanaya tidak memaksakan diri. Ia menganggap jika semua itu belum menjadi rejekinya. Ia yakin akan ada pintu rejeki lain yang akan mengetuknya jika ia terus berdoa dan berusaha.
"Ada apa Dokter menemui saya?”
Mereka berbicara di dalam mobil Dokter Indra untuk menjaga kerahasiaan.
"Kamu masih ingin mendapatkan uang?" tanya Dokter Indra sambil menatap Kanaya.
Kanaya mengerutkan keningnya dengan curiga. "Maksud Dokter?"
Bukan sekali dua kali pria hidung belang mencoba merayunya dengan iming-iming uang, tetapi Kanaya selalu menolaknya. Meski ia butuh uang, Ia lebih memeilih bekerja di dua tempat sekaligus dari pada bekerja melayani para pria hidung belang.
"Kanaya, klien Saya masih menginginkan kamu menjadi donor dan ibu pengganti untuk anaknya." Penjelasan Dokter Indra menepis pikiran buruk yang sempat berseliweran di benak Kanaya.
"Bukankah dokter mengatakan kalau Saya tidak bisa lagi menjadi donor?" Kanaya bingung, kenapa tiba-tiba dokter itu menawarinya lagi?
"Begini," ucap Dokter Indra seakan tengah mencari kata-kata yang tepat. "Kamu bukan tidak bisa menjadi donor. Tetapi lebih tepatnya kamu tidak bisa menjadi donor bayi tabung."
Kanaya mencerna kalimat Dokter itu, tetapi ia masih tidak yakin dengan pemahamannya. Apakah yang ia pikirkan sama dengan yang dokter itu maksudkan?
"Kanaya, Saya menawarkan kamu untuk menjadi ibu pengganti sekaligus donor melalui pembuahan alami." Meski terlihat tenang, Kanaya bisa merasakan kecanggungan dari sikap Dokter di hadapannya.
Pembuahan alami, apa maksudnya...?
Kanaya menatap Dokter Indra dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Pembuahan alami yang Dokter maksud, maaf-- Saya harus berhubungan badan dengan-- klien dokter?"
Apa itu yang Dokter Indra maksudkan? Kanaya berharap ia salah.
"Ya. Itulah yang Saya coba katakan," Dokter Indra mengakui dengan canggung, ada sedikit rasa tidak enak hati dari tatapan matanya.
Ekspresi wajah Kanaya berubah. Meski Dokter tidak mengatakannya dengan seronok, namun tetap saja hal itu membuatnya merasa malu.
"Kanaya, ini bukan tentang berhubungan badan untuk memuaskan hawa nafsu. Tetapi ini murni untuk tujuan pembuahan sel telur se-alami mungkin agar kamu bisa hamil anak mereka tanpa resiko menjadi mandul ataupun sakit," Dokter Indra cepat-cepat menjelaskan bahwa apa yang ia tawarkan bukanlah sebuah transaksi jual diri untuk pemuasan nafsu belaka, namun sebuah proses pembuahan calon bayi di dalam rahimnya.
Kanaya masih termangu dengan kening berkerut. "Kenapa harus Saya? Kenapa mereka tidak tidak mencari ibu pengganti yang lain?”
Mereka bisa saja melakukan program bayi tabung dengan wanita lain bukan? Kenapa mereka bersikeras ingin dirinya yang menjadi ibu pengganti anak mereka bahkan melalui pembuahan alami?
"Klien saya sangat mencintai istrinya. Dan dia pun sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Akan tetapi karena kamu memiliki kriteria yang mereka inginkan secara genetik, mereka tetap memilih kamu, Kanaya.” Dokter Indra menekankan kata genetik.
Ucapan Dokter Indra jauh dari kata seronok. Ia tampak sangat profesional bahkan dalam menyampaikan sesuatu yang sangat sensitif.
“Kriteria genetik apa?” Kanaya ingin mengetahuinya.
“Ada banyak faktor. Salah satunya adalah kamu memiliki golongan darah yang paling tepat untuk menjadi ibu biologis anak itu.”
Kanaya mulai paham dengan alasan mereka memilihnya. Ia memiliki golongan darah AB- yang termasuk dalam golongan darah yang langka yang hanya dimiliki oleh kurang dari 1% penghuni dunia.
Ia mengerti mengapa mereka bersikukuh ingin menjadikan dirinya ibu biologis anak mereka. Namun begitu, Kanaya punya pertimbangan lain.
"Maaf Dokter, dengan menyesal, Saya tidak bisa," jawab Kanaya setelah berpikir selama beberapa saat.
Dokter Indra menghela nafas. "Kanaya, Saya tahu kamu membutuhkan uang untuk ibumu. Dan klien Saya ini rela mengeluarkan uang lebih."
"Tidak hanya dia akan memberimu uang kompensasi sejumlah ratusan juta, namun juga membiayai semua perawatan ibumu termasuk 20 miliar yang kamu minta untuk biaya transplantasi jantung."
Uang itu benar-benar sangat dibutuhkannya, tetapi…
"Kamu seorang yang baik Kanaya. Dengan melakukan ini kamu tidak hanya akan menolong ibumu, tetapi juga menolong orang lain yang sangat membutuhkan bantuanmu," tambah Indra lagi, kali ini mengedepankan alasan kebaikan, motif yang bisa mendorong seseorang untuk mau melakukan suatu hal yang bermanfaat.
Kanaya terdiam. Ia mengalami pertentangan batin.
Kanaya bukan tidak ingin membantu atau tidak membutuhkan uang itu, tetapi jika harus berhubungan badan dengan pria asing, ia tidak bisa melakukannya.
Kanaya tidak ingin berbuat dosa dengan berzina.
Ya, berzina. Bukankah pembuahan alami dengan pria yang bukan suaminya adalah berzina?
Almarhum Ayahnya selalu berpesan agar ia selalu menjaga kesuciannya karena dia seorang perempuan.
Seorang perempuan harus menjaga marwah dirinya, karena hanya dengan harga diri, seseorang bisa memiliki nilai tidak hanya di mata Tuhan-nya, namun juga orang lain.
Mematuhi ucapan ayahnya, Kanaya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, terkecuali...
"Saya punya satu syarat lagi dokter. Jika mereka tidak keberatan, maka akan saya lakukan," ucap Kanaya akhirnya memberanikan diri membuat persyaratan tambahan.
"Katakanlah, biar saya sampaikan kepada mereka. Apa yang kamu inginkan?"
Raut wajah Dokter itu berubah menjadi kurang enak dilihat. Namun dia masih tersenyum.
Kanaya menelan ludahnya sebelum berkata, "Saya ingin dinikahi." Lalu cepat-cepat mengoreksi, "Secara agama saja."
Dokter Indra menatap Kanaya dengan tertegun.
Kanaya tahu persisi apa yang ada dalam pikiran dokter itu. Ia pun menjelaskan.
"Dokter, Saya memang membutuhkan uang itu. Tetapi Saya takut berdosa jika berzina."
"Lagipula, Saya tidak ingin anak yang lahir nantinya menjadi anak haram dimata agama. Bagaimana Saya bisa mempertanggungjawabkannya kelak?"
Kanaya tidak ingin mereka salah paham dengan permintaannya.
Dokter Indra masih saja tertegun menatap Kanaya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kanaya.
"Klien Dokter bisa menalak Saya setelah anak itu lahir. Saya tidak keberatan. Niat Saya hanya ingin menyembuhkan ibu Saya, bukan untuk mengejar hal lain.” Kanaya meyakinkan dokter itu jika ia tidak punya motif terselubung dengan meminta dinikahi.
Untuk beberapa lama Dokter Indra terdiam sebelum merespon, "Baiklah, permintaanmu akan aku sampaikan. Ada hal lain?"
Kanaya menggeleng. Semua yang dijanjikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Ia hanya ingin ibunya sembuh.
Dokter Indra mengangguk mengerti dan berjanji akan memberitahu keputusannya nanti.