Bab 3

Motivasi Dan Syarat

"Bisa Saya bicara denganmu? Berdua saja.”

Dokter Indra datang ke restoran saat Kanaya sedang bekerja.

Kanaya tidak menyangka jika dokter klinik kesuburan itu datang mencarinya.

Apa yang ia inginkan? Bukankah urusan mereka sudah selesai?

Beberapa hari yang lalu Kanaya diketahui mempunyai alergi pada salah satu zat yang ada di hormon kesuburan yang disuntikkan padanya.

Untung saja Dokter Indra datang tepat waktu untuk menyelamatkan Kanaya kala itu.

Namun yang membuat Kanaya heran, alergi itu tidak terdeteksi sebelumnya.

Menurut Dokter Indra, zat itu sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, kekebalan tubuh Kanaya mengidentifikasi zat itu sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuhnya. Itu sebabnya tidak ada yang menyangka jika Kanaya memiliki reaksi alergi pada obat itu.

Dan nahasnya lagi, zat itu terdapat pada semua jenis obat hormon kesuburan yang ada yang sangat penting dalam memastikan kualitas sel telur yang akan digunakan sebagai donor.

Jika dipaksakan, akan berefek pada kesuburan Kanaya dikemudian hari. Oleh sebab itu, kesepakatan mereka tidak bisa dilanjutkan.

Hati Kanaya begitu sedih saat mendengar kabar itu. Harapan untuk memperoleh uang untuk biaya transplantasi jantung ibunya pun pupus sudah.

Namun Kanaya tidak memaksakan diri. Ia menganggap jika semua itu belum menjadi rejekinya. Ia yakin akan ada pintu rejeki lain yang akan mengetuknya jika ia terus berdoa dan berusaha.

"Ada apa Dokter menemui saya?”

Mereka berbicara di dalam mobil Dokter Indra untuk menjaga kerahasiaan.

"Kamu masih ingin mendapatkan uang?" tanya Dokter Indra sambil menatap Kanaya.

Kanaya mengerutkan keningnya dengan curiga. "Maksud Dokter?"

Bukan sekali dua kali pria hidung belang mencoba merayunya dengan iming-iming uang, tetapi Kanaya selalu menolaknya. Meski ia butuh uang, Ia lebih memeilih bekerja di dua tempat sekaligus dari pada bekerja melayani para pria hidung belang.

"Kanaya, klien Saya masih menginginkan kamu menjadi donor dan ibu pengganti untuk anaknya." Penjelasan Dokter Indra menepis pikiran buruk yang sempat berseliweran di benak Kanaya.

"Bukankah dokter mengatakan kalau Saya tidak bisa lagi menjadi donor?" Kanaya bingung, kenapa tiba-tiba dokter itu menawarinya lagi?

"Begini," ucap Dokter Indra seakan tengah mencari kata-kata yang tepat. "Kamu bukan tidak bisa menjadi donor. Tetapi lebih tepatnya kamu tidak bisa menjadi donor bayi tabung."

Kanaya mencerna kalimat Dokter itu, tetapi ia masih tidak yakin dengan pemahamannya. Apakah yang ia pikirkan sama dengan yang dokter itu maksudkan?

"Kanaya, Saya menawarkan kamu untuk menjadi ibu pengganti sekaligus donor melalui pembuahan alami." Meski terlihat tenang, Kanaya bisa merasakan kecanggungan dari sikap Dokter di hadapannya.

Pembuahan alami, apa maksudnya...?

Kanaya menatap Dokter Indra dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Pembuahan alami yang Dokter maksud, maaf-- Saya harus berhubungan badan dengan-- klien dokter?"

Apa itu yang Dokter Indra maksudkan? Kanaya berharap ia salah.

"Ya. Itulah yang Saya coba katakan," Dokter Indra mengakui dengan canggung, ada sedikit rasa tidak enak hati dari tatapan matanya.

Ekspresi wajah Kanaya berubah. Meski Dokter tidak mengatakannya dengan seronok, namun tetap saja hal itu membuatnya merasa malu.

"Kanaya, ini bukan tentang berhubungan badan untuk memuaskan hawa nafsu. Tetapi ini murni untuk tujuan pembuahan sel telur se-alami mungkin agar kamu bisa hamil anak mereka tanpa resiko menjadi mandul ataupun sakit," Dokter Indra cepat-cepat menjelaskan bahwa apa yang ia tawarkan bukanlah sebuah transaksi jual diri untuk pemuasan nafsu belaka, namun sebuah proses pembuahan calon bayi di dalam rahimnya.

Kanaya masih termangu dengan kening berkerut. "Kenapa harus Saya? Kenapa mereka tidak tidak mencari ibu pengganti yang lain?”

Mereka bisa saja melakukan program bayi tabung dengan wanita lain bukan? Kenapa mereka bersikeras ingin dirinya yang menjadi ibu pengganti anak mereka bahkan melalui pembuahan alami?

"Klien saya sangat mencintai istrinya. Dan dia pun sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Akan tetapi karena kamu memiliki kriteria yang mereka inginkan secara genetik, mereka tetap memilih kamu, Kanaya.” Dokter Indra menekankan kata genetik.

Ucapan Dokter Indra jauh dari kata seronok. Ia tampak sangat profesional bahkan dalam menyampaikan sesuatu yang sangat sensitif.

“Kriteria genetik apa?” Kanaya ingin mengetahuinya.

“Ada banyak faktor. Salah satunya adalah kamu memiliki golongan darah yang paling tepat untuk menjadi ibu biologis anak itu.”

Kanaya mulai paham dengan alasan mereka memilihnya. Ia memiliki golongan darah AB- yang termasuk dalam golongan darah yang langka yang hanya dimiliki oleh kurang dari 1% penghuni dunia.

Ia mengerti mengapa mereka bersikukuh ingin menjadikan dirinya ibu biologis anak mereka. Namun begitu, Kanaya punya pertimbangan lain.

"Maaf Dokter, dengan menyesal, Saya tidak bisa," jawab Kanaya setelah berpikir selama beberapa saat.

Dokter Indra menghela nafas. "Kanaya, Saya tahu kamu membutuhkan uang untuk ibumu. Dan klien Saya ini rela mengeluarkan uang lebih."

"Tidak hanya dia akan memberimu uang kompensasi sejumlah ratusan juta, namun juga membiayai semua perawatan ibumu termasuk 20 miliar yang kamu minta untuk biaya transplantasi jantung."

Uang itu benar-benar sangat dibutuhkannya, tetapi…

"Kamu seorang yang baik Kanaya. Dengan melakukan ini kamu tidak hanya akan menolong ibumu, tetapi juga menolong orang lain yang sangat membutuhkan bantuanmu," tambah Indra lagi, kali ini mengedepankan alasan kebaikan, motif yang bisa mendorong seseorang untuk mau melakukan suatu hal yang bermanfaat.

Kanaya terdiam. Ia mengalami pertentangan batin.

Kanaya bukan tidak ingin membantu atau tidak membutuhkan uang itu, tetapi jika harus berhubungan badan dengan pria asing, ia tidak bisa melakukannya.

Kanaya tidak ingin berbuat dosa dengan berzina.

Ya, berzina. Bukankah pembuahan alami dengan pria yang bukan suaminya adalah berzina?

Almarhum Ayahnya selalu berpesan agar ia selalu menjaga kesuciannya karena dia seorang perempuan.

Seorang perempuan harus menjaga marwah dirinya, karena hanya dengan harga diri, seseorang bisa memiliki nilai tidak hanya di mata Tuhan-nya, namun juga orang lain.

Mematuhi ucapan ayahnya, Kanaya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, terkecuali...

"Saya punya satu syarat lagi dokter. Jika mereka tidak keberatan, maka akan saya lakukan," ucap Kanaya akhirnya memberanikan diri membuat persyaratan tambahan.

"Katakanlah, biar saya sampaikan kepada mereka. Apa yang kamu inginkan?"

Raut wajah Dokter itu berubah menjadi kurang enak dilihat. Namun dia masih tersenyum.

Kanaya menelan ludahnya sebelum berkata, "Saya ingin dinikahi." Lalu cepat-cepat mengoreksi, "Secara agama saja."

Dokter Indra menatap Kanaya dengan tertegun.

Kanaya tahu persisi apa yang ada dalam pikiran dokter itu. Ia pun menjelaskan.

"Dokter, Saya memang membutuhkan uang itu. Tetapi Saya takut berdosa jika berzina."

"Lagipula, Saya tidak ingin anak yang lahir nantinya menjadi anak haram dimata agama. Bagaimana Saya bisa mempertanggungjawabkannya kelak?"

Kanaya tidak ingin mereka salah paham dengan permintaannya.

Dokter Indra masih saja tertegun menatap Kanaya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kanaya.

"Klien Dokter bisa menalak Saya setelah anak itu lahir. Saya tidak keberatan. Niat Saya hanya ingin menyembuhkan ibu Saya, bukan untuk mengejar hal lain.” Kanaya meyakinkan dokter itu jika ia tidak punya motif terselubung dengan meminta dinikahi.

Untuk beberapa lama Dokter Indra terdiam sebelum merespon, "Baiklah, permintaanmu akan aku sampaikan. Ada hal lain?"

Kanaya menggeleng. Semua yang dijanjikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Ia hanya ingin ibunya sembuh.

Dokter Indra mengangguk mengerti dan berjanji akan memberitahu keputusannya nanti.

Bab 4

Bukan Pernikahan Impian

Kanaya duduk termangu di sebuah kamar dalam balutan kebaya putih sederhana.

Beberapa hari yang lalu, Dokter Indra memberitahukannya jika kliennya setuju menikahinya secara agama. Dan hari ini, pernikahan itu akan diselenggarakan di sebuah rumah di jalan Sunset Summit.

Rumah satu lantai itu terletak di sebuah kawasan elit. Di kawasan seperti ini, orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak saling berinteraksi. Mereka sangat individual dan tidak pernah bertegur sapa satu sama lainnya.

Tidak ada tetangga yang tahu apa yang sedang terjadi di rumah itu. Dan mereka tidak usil mencari tahu. Menjaga privasi adalah hal yang lumrah.

Dokter Indra baru saja datang mengatakan jika kliennya akan datang menemuinya. Dan jantung Kanaya berdebar kencang ingin tahu siapa orang yang 'menyewa' rahimnya dan 'membeli' sel telurnya. Orang yang akan menikahinya dan menjadi ayah biologis anaknya kelak.

Siapa mereka? Apa ia pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?

Kanaya berdiri saat pintu kamarnya terbuka dan masuklah sepasang suami istri. Namun, ia begitu terkejut tatkala melihat dua orang yang berjalan menghampirinya itu.

Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mengenal kedua orang itu? Mereka adalah Bastian Aryo Dwipangga dan istrinya Elsiana Zhiva.

Bastian adalah seorang pengusaha muda yang sukses, anak satu-satunya keluarga konglomerat Dwipangga, keluarga nomor satu yang ada di Eastasia.

Pantas saja mereka sangat merahasiakan kesepakatan ini dan mau mengeluarkan begitu banyak uang untuk mendapatkan seorang anak.

Kabar bahwa Bastian sangat loyal pada sang istri dan selalu menolak godaan begitu banyak wanita sudah bukan rahasia. Itu sebabnya, Bastian menjadi idola bagi banyak wanita.

Tidak hanya tampan, kaya dan sukses, namun ia juga setia. Wanita mana yang tidak mengaguminya?

Semakin dekat langkah mereka, semakin kencang jantung Kanaya berdebar.

Bastian dan Elsie berhenti satu meter dari tempat Kanaya berdiri.

"Saya Bastian, dan ini Istri Saya, Elsie. Seperti yang kamu tahu, Saya sudah memiliki seorang istri. Jadi, pernikahan ini hanya formalitas saja seperti permintaanmu."

Pertama kali Kanaya mendengar langsung suara pria yang hanya pernah dilihatnya melalui layar kaca. Suara maskulin itu nyaris tanpa emosi. Dingin dan datar. Sikapnya pun acuh tak acuh, seakan hanya menghadiri acara biasa saja dan bukan pernikahannya sendiri.

Kanaya mengangguk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Bastian.

Elsie yang berada di samping Bastian melangkah mendekati Kanaya.

"Kanaya, Saya berterima kasih padamu karena kamu mau menerima penawaran kami," ucap Elsie dengan lembut.

"Saya mengerti alasan kamu meminta pernikahan ini," tambah Elsie yang tiba-tiba mengangkat dagu Kanaya hingga kedua mata mereka bertemu.

"Tetapi kamu harus ingat, bahwa ini adalah bagian dari kesepakatan. Saya harap kamu bisa bersikap profesional, dan tidak menganggapnya sebagai hal yang bersifat pribadi."

Cara Elsie mengucapkannya penuh dengan kelembutan, namun dibalik tatapan mata dan kata-kata yang diucapkannya, ada makna yang sangat dalam yang mengingatkan Kanaya akan posisi dan status mereka yang berbeda.

Elsie adalah istri sah yang sangat dicintai Bastian. Sedangkan dirinya tidak lain hanyalah perempuan yang mereka sewa untuk mengandung dan melahirkan anak untuk mereka.

"Saya hanya melakukan apa yang ada dalam kesepakatan. Ibu tidak perlu kuatir, saya tahu tugas dan tanggung jawab Saya," ucap Kanaya sambil membalas tatapan Elsie sesaat sebelum ia kembali menunduk. Ia tahu diri untuk tidak berbuat lancang.

Kanaya pun tahu alasan Elsie mengatakan hal itu padanya.

Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Elsie dan Ia tidak ingin menabur garam pada luka.

Kanaya bertekad untuk melakukan tugasnya menjadi ibu pengganti anak mereka. Ia tidak berniat menjadi wanita penggoda atau orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Ia sudah mengatakan alasan dirinya meminta dinikahi dan itu bukan untuk menjadi perebut suami orang.

Kanaya ikhlas memberikan anak biologisnya untuk kebahagiaan kedua pasangan yang telah membantunya memberikan harapan hidup bagi ibunya.

Samar Kanaya mendengar hembusan nafas Elsie, sebelum ia kembali berdiri di samping Bastian.

Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka katakan dan acara berlanjut dengan akad nikah.

Akad nikah itu berlangsung singkat dan sederhana. Tidak ada dekorasi dan jamuan mewah di dalam rumah ataupun tamu undangan.

Hanya beberapa orang saja yang hadir, yang diperlukan untuk memenuhi syarat sahnya pernikahan itu. Selain Kanaya, Bastian dan Elsie, ada Dokter Indra dan serta beberapa orang lainnya yang Kanaya tidak kenal.

Sedangkan di sisi Kanaya, hanya ada Fadly, sepupu Kanaya, anak dari adik laki-laki almarhum ayah Kanaya. Dia yang menjadi wali nikah Kanaya.

Hal ini karena ayah dan kakek serta om Kanaya telah meninggal dunia. Dan Fadly adalah satu-satunya saudara laki-laki dari sisi ayahnya.

Dalam kesepakatan mereka tidak disebutkan mengenai mahar. Namun rupanya, Bastian menyiapkan untuk Kanaya sejumlah uang, dan satu set perhiasan berupa kalung, gelang dan anting sebagai mahar untuknya.

Tidak ada cincin di dalamnya.

Kanaya sendiri tidak mempermasalahkan ketiadaan cincin. Yang terpenting baginya adalah syarat pernikahan itu terpenuhi. Lagipula, cincin sebenarnya bukanlah sesuatu yang wajib diberikan dalam pernikahan.

Toh pernikahan itu bukan untuk jangka waktu yang lama. Setelah ia melahirkan anak mereka, hubungan mereka akan berakhir, dan pernikahan ini akan mengiap dengan sendirinya.

Setelah acara ijab qabul, dilanjut dengan foto singkat yang sama sekali tidak berkesan, sebelum akhirnya Bastian pergi bersama Elsie.

Itulah acara pernikahan yang dijalani oleh Kanaya. Tidak ada tangisan haru atau senyum kebahagiaan. Hanya sebuah formalitas karena ia memintanya sebagai bagian dari kesepakatan.

Bukanlah sebuah pernikahan impian yang ada dalam bayangan Kanaya selama ini, akan tetapi itu adalah pilihannya dikala ia harus memilih antara hidupnya dan kelanjutan hidup ibunya.

Bab 5

Sugesti Kesetiaan

Setelah menikah, Kanaya tinggal di rumah di jalan Sunset Summit bersama seorang perempuan paruh baya bernama Sifa. Sifa bertugas sebagai pengasuh yang menemani dan mengatur segala keperluannya.

Beberapa hari sudah Kanaya tinggal di rumah itu, namun Bastian belum pernah datang menemuinya. Hanya Dokter Indra dan timnya yang datang mengecek keadaan Kanaya.

Akan tetapi, hari ini berbeda.

Tadi pagi Dokter Indra mengabarkan jika Bastian akan datang mengunjunginya malam ini.

Ia mengatakan jika sel telurnya berada dalam masa ovulasi. Yaitu waktu di mana sel telur siap untuk dibuahi. Di saat itulah, pembuahan memiliki peluang terbesar untuk berhasil.

Itu sebabnya Kanaya duduk dengan gelisah di dalam kamar karena malam ini adalah pertama kali dalam hidupnya seorang pria akan menyentuhnya.

Kanaya belum pernah berpacaran, apalagi disentuh oleh laki-laki.

Ia tidak punya waktu untuk hal seperti itu karena sisa waktu di luar jam kuliah dipergunakannya untuk bekerja.

Kanaya bukan berasal dari keluarga mampu. Sejak ayahnya meninggal dunia, kehidupan Kanaya dan ibunya hanya pas-pasan saja. Ia yang membantu ibunya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari.

Apalagi setelah ibunya divonis mengidap gagal jantung, ia harus bekerja di dua tempat sekaligus agar bisa mendapatkan uang lebih untuk pengobatan ibunya.

Belajar di bangku kuliah pun ia dapatkan melalui beasiswa penuh dari Wisdom Foundation, sebuah lembaga swadaya yang bergerak di bidang pendidikan. Lembaga itu menyediakan beasiswa bagi pelajar berprestasi dari keluarga tidak mampu.

Namun sejak beberapa bulan yang lalu, ia mengajukan cuti kuliah agar bisa fokus merawat ibunya.

Suara mesin mobil yang berhenti di halaman depan membuyarkan lamunannya.

Meski sudah menduga siapa yang datang, rasa penasaran membuat langkah kakinya berjalan mendekati jendela setinggi lantai sampai langit-langit yang ada di kamarnya.

Melalui kain korden tipis berwarna putih, Kanaya bisa melihat mobil sport berwarna hitam terparkir di halaman depan.

Jantung Kanaya berdetak kencang saat kedua matanya menangkap sosok Bastian yang turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.

Kanaya menunggu dengan gugup. Ia duduk lalu berdiri. Duduk, lalu berdiri, dan duduk lagi.

Derap langkah kaki Bastian terdengar dari luar kamarnya. Semakin lama semakin terdengar mendekat, hingga akhirnya langkah itu berhenti di balik pintu.

Kanaya menatap daun pintu kamarnya tanpa berkedip. Ia tahu Bastian berdiri di balik pintu itu.

Tidak lama pintu terbuka, dan masuklah Bastian.

"Pak Bas-tian, se-selamat malam Pak.” Kanaya langsung berdiri dengan gugup. Tangannya meremas-remas gaun tidur berwarna putih yang ia kenakan.

Gaun tidur dari bahan satin itu tidak tembus pandang, dan modelnya pun sederhana. Bagian dadanya tidak berpotongan terlalu rendah, jauh dari kesan menggoda dan pas dikenakan oleh Kanaya dengan pembawaannya yang polos.

"Hm," balas Bastian tanpa menoleh. Ia menaruh tas kerjanya di salah satu bangku yang ada di dekat jendela, kemudian melepaskan jas yang ia kenakan.

Kanaya begitu gugup, tidak tahu harus melakukan apa. Ia berdiri diam dengan gelisah. Ujung telapak kakinya tanpa sadar ditekan ke lantai bergantian.

Bastian melirik Kanaya sambil ia melepas kancing lengan kemeja yang ia kenakan.

"Kamu belum pernah melakukan ini?"

Kanaya mengangguk, ia melirik sekilas sebelum kembali menunduk.

"Kamu tahu kan kalau ini salah satu kewajibanmu?" Bastian bertanya lagi, kali ini ia menatap dengan penuh selidik seakan memastikan jawaban Kanaya.

"I-Iya Pak," jawab Kanaya pelan. Sadar akan kewajibaanya tanpa ada paksaan.

Sudah keputusannya untuk menyerahkan dirinya kepada Bastian, karena inilah satu-satunya cara ia bisa mengandung anak pria itu.

Bastian tersenyum, seakan ia puas dengan jawaban Kanaya.

"Aku mandi dulu,” ujarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Menunggu adalah bagian paling menyiksa bagi Kanaya. Semakin lama ia menunggu pria itu, semakin gugup pula dia.

Kanaya mengambil segelas air untuk meredakan kegugupannya dan ia langsung meneguknya.

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka dan Bastian keluar hanya dengan mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya.

Uhuk uhuk! Kanaya terbatuk-batuk karena terkejut melihat Bastian. Baru kali ini Kanaya melihat tubuh six pack pria tersebut.

Saat pertama bertemu, ia tidak terlalu memperhatikannya. Apalagi dengan pakaian yang menutupi tubuhnya, Kanaya tidak bisa membayangkan bentuk asli tubuh pria itu.

Tidak disangka, Bastian memiliki bentuk tubuh yang sangat menarik di matanya sehingga membuatnya kehilangan fokus.

"Ma-maaf," ucapnya, cepat-cepat meredakan keterkejutannya.

Bastian terlihat sangat maskulin dan jantan dengan bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya jatuh ke dada bidang dan keras pria itu.

Di usia dua puluh delapan tahun, Bastian sangat matang sebagai seorang laki-laki.

Postur tubuhnya tinggi dan tegak dengan otot yang kering namun berisi. Dia adalah tipe laki-laki dengan tubuh ideal. Sangat, sangat ideal.

Bastian berhenti di samping Kanaya, meraih gelas air dan meminumnya.

Kanaya menjadi semakin gugup dengan kedekatan fisik mereka, sehingga ia memilih kembali ke tempatnya berdiri tadi.

Bastian menghabiskan gelas airnya, kemudian ia duduk di tepi ranjang. Sambil menatap Kanaya, ia menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.

Kanaya berjalan mendekati Bastian dan duduk dengan ragu di tempat yang ditunjuk.

Ia duduk menghadap ke lain arah sehingga punggungnya membelakangi Bastian. Kedua tangannya masih saja meremas ujung gaun tidurnya.

Bastian bergeser mendekat. Sekelebat, ia mencium aroma lembut dan segar yang datang dari tubuh Kanaya.

Aroma itu tidak tajam dan justru sangat samar. Namun, aroma itu ada, menggelitik indra penciuman Bastian. Dan syaraf-syaraf ditubuh Bastian merespon setiap kali ia menghirupnya. Bahkan nafas Bastian menderu lebih berat karenanya.

Perlahan Bastian merebahkan Kanaya di atas ranjang. Ia memposisikan dirinya setengah melayang di atas tubuh gadis itu.

Ketika Bastian mulai menurunkan wajah dan menghirup kulit leher Kanaya, nafas Kanaya tertahan.

Gesekan hidung Bastian dan hembusan nafas hangat yang menyentuh kulitnya memberikan sensasi menggelitik yang berbeda.

Tubuh Kanaya menegang. Antara takut, was-was, namun juga menikmatinya.

Belum pernah Kanaya merasakan sensasi sentuhan seintim itu.

Ia menggigit bibir dan memejamkan matanya, tidak berani membayangkan wajah Bastian.

Kanaya tidak ingin meninggalkan rasa dalam proses 'pembuahan' itu. Tidak ingin menikmatinya. Biarlah perbuatan mereka malam itu sekedar menjadi pertemuan dua buah benih genetik yang dilakukan di dalam tubuhnya.

Kanaya tidak berani menarik nafas dalam, bahkan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun saat indera perasanya tersentuh.

Dikala Kanaya tengah berjuang untuk tidak menikmati, tiba-tiba saja Bastian berhenti mencumbunya. Pria itu dengan cepat bergerak menjauh.

Kanaya terkejut dengan perubahan sikap Bastian dan ia membuka matanya.

"Aku tidak bisa," gumam Bastian sambil menggelengkan kepalanya, duduk di tepi ranjang membelakangi Kanaya.

Kanaya ikut beranjak dan duduk di samping Bastian. Ia bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Apa dia punya masalah dengan kegagahannya? Tetapi setahu Kanaya, permasalahan mereka terletak pada sel telur istrinya, bukan pada kemampuan pria itu.

Atau… mungkin dia tidak bisa melakukannya karena memikirkan istrinya? Batin Kanaya teringat pada rumor kesetiaan Bastian pada sang Istri yang beredar luas.

"Pak Bas--" panggilnya pelan. Kanaya ingin mengatakan atau melakukan sesuatu, namun ia bingung dan tidak yakin.

Kanaya belum pernah melakukan keintiman lawan jenis dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Tetapi, ia tidak boleh membuang kesempatan itu dengan percuma. Ia harus memberi Bastian keturunan.

Jantung ibunya tidak bisa menunggu lebih lama. Dokter jantung mengatakan ibunya hanya punya waktu beberapa bulan, paling lama satu tahun.

Ingatan akan raut wajah ibunya membulatkan tekad Kanaya.

"Bapak harus, Pak!" Tanpa sadar terlontar dari bibirnya.

Bastian tertegun menatap Kanaya. Sepintas berkelebat sesuatu pancaran di mata pria itu.

Kanaya menunggu dengan harap-harap cemas. Berharap Bastian akan tetap melakukannya.

Kedua mata pria itu semakin intens menatapnya, namun disaat Kanaya kembali berhatap, tiba-tiba pria tersebut bangkit dari duduknya.

"Pak-Pak Bastian! Jangan Pak! Jangan pergi!" Kanaya menahan tangan Bastian, mencegah pria itu untuk pergi.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92025" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92025
Salin

Kesepakatan Hati: Ibu Pengganti Untuk Anak CEO

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya