Bab 2
Kandidat Ibu Biologis
"Selamat Kanaya, kamu dinyatakan lolos seleksi Ibu pengganti."
Dokter Indra Wibisono, seorang Dokter endokrin dan fertilitas menjabat tangan Kanaya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Terima kasih Dokter!"
Sejak dua minggu yang lalu, Kanaya telah menjalani serangkaian tes untuk menjadi ibu pengganti. Dan mendengar hasil tes itu, Kanaya merasa sangat senang.
Berita itu bagaikan embun yang turun di padang pasir, memberinya semangat dan harapan baru untuk kesembuhan ibunya.
"Sama-sama, Kanaya. Kami senang kamu mendaftar ke klinik kami. Sudah lama kami mencari seseorang dengan kriteria sepertimu," balas Dokter Indra dengan menghembuskan nafas lega.
"Namun ada satu hal yang saya ingin sampaikan terkait program bayi tabung ini, dan saya mengharapkan persetujuan darimu, Kanaya." Dokter Indra berkata dengan nada serius.
Persetujuan? Kanaya merasa ada hal lain yang ingin disampaikan oleh dokter itu.
"Apa ada masalah? Apa ini ada kaitannya dengan uang kompensasi yang saya minta?" Kanaya merasa was-was.
Apakah orang itu keberatan dengan uang dua puluh miliar yang ia minta?
"Begini Kanaya. Ada sedikit perubahan dalam kesepakatan kita." Dokter Indra menatap Kanaya dengan perhatian penuh.
Perubahan dalam kesepakatan? Perubahan apa?
"Untuk proses bayi tabung ini, bayi yang akan kamu kandung nanti bukan berasal dari sel telur orang lain.”
“Maksud Dokter, dari sel telur saya sendiri?” Kanaya membelalakkan matanya dengan terkejut.
Dokter Indra mengangguk. “Benar, Kanaya.”
“Tapi, kenapa?” Kanaya merasa heran.
Jika menggunakan sel telur miliknya, bukankah secara biologis anak itu adalah anak kandungnya dan bukan anak biologis orang yang membayarnya?
"Memang biasanya sel telur yang digunakan adalah milik orang yang menitipkan. Tetapi kali ini, hal itu tidak dimungkinkan. Yah, katakanlah sel telur orang tersebut tidak cukup kuat untuk melalui serangkaian proses ini.”
“Itu sebabnya, saya meminta persetujuan kamu, Kanaya. Jika kamu setuju, kita akan langsung memproses segala sesuatunya," papar Dokter Indra dengan cara yang lugas.
Kanaya menggigit bibirnya memikirkan perubahan kesepakatan itu.
Anak yang harus ia berikan kepada orang lain adalah anak kandungnya sendiri?
Dokter itu menarik nafas panjang sebelum berkata, "Mengenai kompensasi yang kamu minta,” ia menjeda.
“Mereka tidak keberatan. Asalkan, kamu setuju dengan kesepakatan ini,” sambungnya dengan tatapan penuh arti.
Kanaya balas menatap Dokter itu dengan bimbang dan ragu.
Mengapa ia merasa sangat berat memutuskan hal itu? Bukankah seharusnya ia merasa senang tujuannya bisa tercapai?
“Saya tahu apa yang kamu pikirkan dan kenapa kamu merasa berat menyetujuinya,” Dokter itu berkata setelah memberi Kanaya waktu untuk berpikir.
“Menyetujui hal ini, bukan berarti kamu menukar anakmu dengan uang. Sama sekali bukan,” Dokter Indra memberi tatapan dalam, meminta Kanaya untuk mencerna ucapannya.
“Cobalah berpikir dengan cara ini. Bahwa dengan melakukan ini kamu tidak hanya menolong ibumu, namun kamu juga menolong orang lain yang sangat mendambakan keturunan.”
Kanaya masih menatap dokter itu, ia masih membutuhkan sesuatu untuk meyakinkannya. Bagaimana dengan anak itu?
Seakan mengerti keresahan Kanaya, Dokter itu menjelaskan.
“Saya bisa memastikan. Anak itu akan hidup serba berkecukupan. Dia tidak akan kekurangan apa pun bahkan kasih sayang dari orang tua.”
Tatapan Dokter itu begitu meyakinkan seakan dia tahu persis bagaimana kedua orang suami istri itu akan membesarkan anaknya nanti.
“Siapa mereka?”
“Saya tidak bisa memberitahukanmu mengenai identitas mereka. Tetapi percayalah, mereka berasal dari keluarga yang baik dan berkecukupan. Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan.”
Mengamati tatapan mata dokter itu, Kanaya merasa dia tidak berbohong dengan ucapannya.
“Tidak mengetahui hal ini adalah jalan terbaik, demi kebaikanmu sendiri,” tambah Dokter itu dengan tatapan penuh arti.
Kanaya mengerti apa yang dokter itu maksudkan. Dengan tidak mengetahui identitas mereka, akan lebih mudah bagi Kanaya untuk memutuskan ikatan batin dengan anak yang ia lahirkan nantinya.
Setelah berpikir selama beberapa hari, Kanaya akhirnya menyetujui kesepakatan itu.
Kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Dan mungkin inilah satu-satunya harapan untuk kesembuhan ibunya.
Kanaya mulai menjalani proses awal mempersiapkan indung telurnya hari ini.
Ia harus menjalani serangkaian induksi hormon untuk meningkatkan kualitas sel telur miliknya.
Dokter Indra sendiri yang menanganinya langsung.
"Setelah ini langsung pulang dan beristirahat. Makan makanan yang bergizi dan jangan tidur terlalu malam. Boleh melakukan olahraga yang ringan, tetapi hindari melakukan aktifitas yang melelahkan," pesan Dokter Indra setelah mereka selesai dengan proses induksi pertamanya hari itu.
Kanaya mengangguk, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh dokter itu. "Terima kasih, Dokter."
Kanaya berjalan keluar dari klinik menuju sebuah gedung apartemen yang terletak hanya beberapa ratus meter saja.
Apartemen itu adalah fasilitas yang disediakan oleh klinik untuknya agar memudahkan tim medis program bayi tabung untuk memonitor perkembangan kesehatannya setiap saat.
Sebelum pindah ke apartemen, Kanaya sudah menitipkan ibunya ke rumah Bude Laila, kakak kandung ibunya.
Kanaya tidak menceritakan kepada siapapun jika ia menjadi ibu pengganti. Selain harus menjaga kerahasiaan program itu, ia juga tidak ingin menjadi beban pikiran ibunya.
Ia beralasan mendapat pekerjaan baru di luar kota dan meminta tolong kepada Budenya untuk menjaga ibunya selama ia tidak ada.
Tidak sampai sepuluh menit berjalan, Kanaya sampai di apartemennya.
Ia ingin mandi dan segera beristirahat, menghilangkan rasa letih dan penatnya setelah berbagai proses yang dilaluinya hari ini.
Baru saja Kanaya masuk ke dalam apartemen, ia merasa gatal-gatal. Rasa gatal itu seakan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Semakin ia menggaruknya, semakin ia merasa gatal.
"Aduh, kenapa gatal sekali? Ada apa ini?” Kanaya terus menggaruk bagian tubuhnya. Rasa gatal itu tidak tertahankan.
Keheranan Kanaya semakin bertambah tatkala melihat bercak kemerahan di lengannya yang sebelumnya tidak ada.
Merasa ada sesuatu yang tidak wajar, ia pun berjalan ke arah cermin.
"Ya ampun, kenapa ini?" pekik Kanaya dengan mata membelalak ketika mendapati kulit wajahnya memerah dengan ruam, dan bibirnya tampak membengkak.
Kanaya meremas dadanya, mulai merasakan sesak nafas. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?
Ia berusaha fokus menganalisa apa yang ia rasakan. Semua gejala ini… apakah— alergi?
Obat itu! Mungkinlah ia alergi pada obat yang disuntikkan padanya?
Hanya ada satu cara mengetahuinya.
Dengan susah payah ia meraih telepon genggamnya dan menghubungi Dokter Indra.
"Halo Kanaya?"
"Dok-ter…"
"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" suara Dokter Indra yang berada di ujung sambungan telepon itu terdengar khawatir.
Di ruangan kantornya di klinik Life's Blessing, Dokter itu menghentikan apa yang sedang ia kerjakan.
"Dok-ter sepertinya… saya… alergi…" Dengan nafas tersenggal-senggak ia mencoba memberitahu dokter itu.
Pikirannya mulai tidak fokus, pandangan matanya pun mulai terasa kabur dan nafasnya semakin terasa berat.
"Apa? Kamu yakin?”
"Dok-ter to--long sa-ya"
Kanaya merasa sulit sekali bernafas. Apakah ini saat terakhirnya? Lalu bagaimana dengan ibunya?
“Bertahanlah Kanaya! Bertahanlah!” Terdengar derap langkah cepat dan nafas Dokter indra yang memburu, sebelum telepon genggam itu terlepas dari tangannya yang gemetar.
Berkelebat wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit
Tidak! Ibu…
Aku tidak boleh mati! Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu?
Bertahanlah Kanaya, bertahanlah!
Bruk! Samar Kanaya mendengar suara pintu didobtak dengan kencang, lalu derap suara langkah kaki-kaki yang berlari semakin jelas terdengar.
"Kanaya? Kanaya!!"
Dokter Indra? Pandangan mata Kanaya kabur, namun ia melihat dua titik bergerak cepat ke arahnya.
"Dokter, to--long saya..." ucap Kanaya dengan suara yang tak lagi terdengar jelas.
Ia menggapaikan tangannya. Namun saat ia merasa seseorang telah meraihnya, pandangan matanya menjadi gelap. Gulita.
Bab 3
Motivasi Dan Syarat
"Bisa Saya bicara denganmu? Berdua saja.”
Dokter Indra datang ke restoran saat Kanaya sedang bekerja.
Kanaya tidak menyangka jika dokter klinik kesuburan itu datang mencarinya.
Apa yang ia inginkan? Bukankah urusan mereka sudah selesai?
Beberapa hari yang lalu Kanaya diketahui mempunyai alergi pada salah satu zat yang ada di hormon kesuburan yang disuntikkan padanya.
Untung saja Dokter Indra datang tepat waktu untuk menyelamatkan Kanaya kala itu.
Namun yang membuat Kanaya heran, alergi itu tidak terdeteksi sebelumnya.
Menurut Dokter Indra, zat itu sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, kekebalan tubuh Kanaya mengidentifikasi zat itu sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuhnya. Itu sebabnya tidak ada yang menyangka jika Kanaya memiliki reaksi alergi pada obat itu.
Dan nahasnya lagi, zat itu terdapat pada semua jenis obat hormon kesuburan yang ada yang sangat penting dalam memastikan kualitas sel telur yang akan digunakan sebagai donor.
Jika dipaksakan, akan berefek pada kesuburan Kanaya dikemudian hari. Oleh sebab itu, kesepakatan mereka tidak bisa dilanjutkan.
Hati Kanaya begitu sedih saat mendengar kabar itu. Harapan untuk memperoleh uang untuk biaya transplantasi jantung ibunya pun pupus sudah.
Namun Kanaya tidak memaksakan diri. Ia menganggap jika semua itu belum menjadi rejekinya. Ia yakin akan ada pintu rejeki lain yang akan mengetuknya jika ia terus berdoa dan berusaha.
"Ada apa Dokter menemui saya?”
Mereka berbicara di dalam mobil Dokter Indra untuk menjaga kerahasiaan.
"Kamu masih ingin mendapatkan uang?" tanya Dokter Indra sambil menatap Kanaya.
Kanaya mengerutkan keningnya dengan curiga. "Maksud Dokter?"
Bukan sekali dua kali pria hidung belang mencoba merayunya dengan iming-iming uang, tetapi Kanaya selalu menolaknya. Meski ia butuh uang, Ia lebih memeilih bekerja di dua tempat sekaligus dari pada bekerja melayani para pria hidung belang.
"Kanaya, klien Saya masih menginginkan kamu menjadi donor dan ibu pengganti untuk anaknya." Penjelasan Dokter Indra menepis pikiran buruk yang sempat berseliweran di benak Kanaya.
"Bukankah dokter mengatakan kalau Saya tidak bisa lagi menjadi donor?" Kanaya bingung, kenapa tiba-tiba dokter itu menawarinya lagi?
"Begini," ucap Dokter Indra seakan tengah mencari kata-kata yang tepat. "Kamu bukan tidak bisa menjadi donor. Tetapi lebih tepatnya kamu tidak bisa menjadi donor bayi tabung."
Kanaya mencerna kalimat Dokter itu, tetapi ia masih tidak yakin dengan pemahamannya. Apakah yang ia pikirkan sama dengan yang dokter itu maksudkan?
"Kanaya, Saya menawarkan kamu untuk menjadi ibu pengganti sekaligus donor melalui pembuahan alami." Meski terlihat tenang, Kanaya bisa merasakan kecanggungan dari sikap Dokter di hadapannya.
Pembuahan alami, apa maksudnya...?
Kanaya menatap Dokter Indra dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Pembuahan alami yang Dokter maksud, maaf-- Saya harus berhubungan badan dengan-- klien dokter?"
Apa itu yang Dokter Indra maksudkan? Kanaya berharap ia salah.
"Ya. Itulah yang Saya coba katakan," Dokter Indra mengakui dengan canggung, ada sedikit rasa tidak enak hati dari tatapan matanya.
Ekspresi wajah Kanaya berubah. Meski Dokter tidak mengatakannya dengan seronok, namun tetap saja hal itu membuatnya merasa malu.
"Kanaya, ini bukan tentang berhubungan badan untuk memuaskan hawa nafsu. Tetapi ini murni untuk tujuan pembuahan sel telur se-alami mungkin agar kamu bisa hamil anak mereka tanpa resiko menjadi mandul ataupun sakit," Dokter Indra cepat-cepat menjelaskan bahwa apa yang ia tawarkan bukanlah sebuah transaksi jual diri untuk pemuasan nafsu belaka, namun sebuah proses pembuahan calon bayi di dalam rahimnya.
Kanaya masih termangu dengan kening berkerut. "Kenapa harus Saya? Kenapa mereka tidak tidak mencari ibu pengganti yang lain?”
Mereka bisa saja melakukan program bayi tabung dengan wanita lain bukan? Kenapa mereka bersikeras ingin dirinya yang menjadi ibu pengganti anak mereka bahkan melalui pembuahan alami?
"Klien saya sangat mencintai istrinya. Dan dia pun sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Akan tetapi karena kamu memiliki kriteria yang mereka inginkan secara genetik, mereka tetap memilih kamu, Kanaya.” Dokter Indra menekankan kata genetik.
Ucapan Dokter Indra jauh dari kata seronok. Ia tampak sangat profesional bahkan dalam menyampaikan sesuatu yang sangat sensitif.
“Kriteria genetik apa?” Kanaya ingin mengetahuinya.
“Ada banyak faktor. Salah satunya adalah kamu memiliki golongan darah yang paling tepat untuk menjadi ibu biologis anak itu.”
Kanaya mulai paham dengan alasan mereka memilihnya. Ia memiliki golongan darah AB- yang termasuk dalam golongan darah yang langka yang hanya dimiliki oleh kurang dari 1% penghuni dunia.
Ia mengerti mengapa mereka bersikukuh ingin menjadikan dirinya ibu biologis anak mereka. Namun begitu, Kanaya punya pertimbangan lain.
"Maaf Dokter, dengan menyesal, Saya tidak bisa," jawab Kanaya setelah berpikir selama beberapa saat.
Dokter Indra menghela nafas. "Kanaya, Saya tahu kamu membutuhkan uang untuk ibumu. Dan klien Saya ini rela mengeluarkan uang lebih."
"Tidak hanya dia akan memberimu uang kompensasi sejumlah ratusan juta, namun juga membiayai semua perawatan ibumu termasuk 20 miliar yang kamu minta untuk biaya transplantasi jantung."
Uang itu benar-benar sangat dibutuhkannya, tetapi…
"Kamu seorang yang baik Kanaya. Dengan melakukan ini kamu tidak hanya akan menolong ibumu, tetapi juga menolong orang lain yang sangat membutuhkan bantuanmu," tambah Indra lagi, kali ini mengedepankan alasan kebaikan, motif yang bisa mendorong seseorang untuk mau melakukan suatu hal yang bermanfaat.
Kanaya terdiam. Ia mengalami pertentangan batin.
Kanaya bukan tidak ingin membantu atau tidak membutuhkan uang itu, tetapi jika harus berhubungan badan dengan pria asing, ia tidak bisa melakukannya.
Kanaya tidak ingin berbuat dosa dengan berzina.
Ya, berzina. Bukankah pembuahan alami dengan pria yang bukan suaminya adalah berzina?
Almarhum Ayahnya selalu berpesan agar ia selalu menjaga kesuciannya karena dia seorang perempuan.
Seorang perempuan harus menjaga marwah dirinya, karena hanya dengan harga diri, seseorang bisa memiliki nilai tidak hanya di mata Tuhan-nya, namun juga orang lain.
Mematuhi ucapan ayahnya, Kanaya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, terkecuali...
"Saya punya satu syarat lagi dokter. Jika mereka tidak keberatan, maka akan saya lakukan," ucap Kanaya akhirnya memberanikan diri membuat persyaratan tambahan.
"Katakanlah, biar saya sampaikan kepada mereka. Apa yang kamu inginkan?"
Raut wajah Dokter itu berubah menjadi kurang enak dilihat. Namun dia masih tersenyum.
Kanaya menelan ludahnya sebelum berkata, "Saya ingin dinikahi." Lalu cepat-cepat mengoreksi, "Secara agama saja."
Dokter Indra menatap Kanaya dengan tertegun.
Kanaya tahu persisi apa yang ada dalam pikiran dokter itu. Ia pun menjelaskan.
"Dokter, Saya memang membutuhkan uang itu. Tetapi Saya takut berdosa jika berzina."
"Lagipula, Saya tidak ingin anak yang lahir nantinya menjadi anak haram dimata agama. Bagaimana Saya bisa mempertanggungjawabkannya kelak?"
Kanaya tidak ingin mereka salah paham dengan permintaannya.
Dokter Indra masih saja tertegun menatap Kanaya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kanaya.
"Klien Dokter bisa menalak Saya setelah anak itu lahir. Saya tidak keberatan. Niat Saya hanya ingin menyembuhkan ibu Saya, bukan untuk mengejar hal lain.” Kanaya meyakinkan dokter itu jika ia tidak punya motif terselubung dengan meminta dinikahi.
Untuk beberapa lama Dokter Indra terdiam sebelum merespon, "Baiklah, permintaanmu akan aku sampaikan. Ada hal lain?"
Kanaya menggeleng. Semua yang dijanjikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Ia hanya ingin ibunya sembuh.
Dokter Indra mengangguk mengerti dan berjanji akan memberitahu keputusannya nanti.
Bab 4
Bukan Pernikahan Impian
Kanaya duduk termangu di sebuah kamar dalam balutan kebaya putih sederhana.
Beberapa hari yang lalu, Dokter Indra memberitahukannya jika kliennya setuju menikahinya secara agama. Dan hari ini, pernikahan itu akan diselenggarakan di sebuah rumah di jalan Sunset Summit.
Rumah satu lantai itu terletak di sebuah kawasan elit. Di kawasan seperti ini, orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak saling berinteraksi. Mereka sangat individual dan tidak pernah bertegur sapa satu sama lainnya.
Tidak ada tetangga yang tahu apa yang sedang terjadi di rumah itu. Dan mereka tidak usil mencari tahu. Menjaga privasi adalah hal yang lumrah.
Dokter Indra baru saja datang mengatakan jika kliennya akan datang menemuinya. Dan jantung Kanaya berdebar kencang ingin tahu siapa orang yang 'menyewa' rahimnya dan 'membeli' sel telurnya. Orang yang akan menikahinya dan menjadi ayah biologis anaknya kelak.
Siapa mereka? Apa ia pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?
Kanaya berdiri saat pintu kamarnya terbuka dan masuklah sepasang suami istri. Namun, ia begitu terkejut tatkala melihat dua orang yang berjalan menghampirinya itu.
Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mengenal kedua orang itu? Mereka adalah Bastian Aryo Dwipangga dan istrinya Elsiana Zhiva.
Bastian adalah seorang pengusaha muda yang sukses, anak satu-satunya keluarga konglomerat Dwipangga, keluarga nomor satu yang ada di Eastasia.
Pantas saja mereka sangat merahasiakan kesepakatan ini dan mau mengeluarkan begitu banyak uang untuk mendapatkan seorang anak.
Kabar bahwa Bastian sangat loyal pada sang istri dan selalu menolak godaan begitu banyak wanita sudah bukan rahasia. Itu sebabnya, Bastian menjadi idola bagi banyak wanita.
Tidak hanya tampan, kaya dan sukses, namun ia juga setia. Wanita mana yang tidak mengaguminya?
Semakin dekat langkah mereka, semakin kencang jantung Kanaya berdebar.
Bastian dan Elsie berhenti satu meter dari tempat Kanaya berdiri.
"Saya Bastian, dan ini Istri Saya, Elsie. Seperti yang kamu tahu, Saya sudah memiliki seorang istri. Jadi, pernikahan ini hanya formalitas saja seperti permintaanmu."
Pertama kali Kanaya mendengar langsung suara pria yang hanya pernah dilihatnya melalui layar kaca. Suara maskulin itu nyaris tanpa emosi. Dingin dan datar. Sikapnya pun acuh tak acuh, seakan hanya menghadiri acara biasa saja dan bukan pernikahannya sendiri.
Kanaya mengangguk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Bastian.
Elsie yang berada di samping Bastian melangkah mendekati Kanaya.
"Kanaya, Saya berterima kasih padamu karena kamu mau menerima penawaran kami," ucap Elsie dengan lembut.
"Saya mengerti alasan kamu meminta pernikahan ini," tambah Elsie yang tiba-tiba mengangkat dagu Kanaya hingga kedua mata mereka bertemu.
"Tetapi kamu harus ingat, bahwa ini adalah bagian dari kesepakatan. Saya harap kamu bisa bersikap profesional, dan tidak menganggapnya sebagai hal yang bersifat pribadi."
Cara Elsie mengucapkannya penuh dengan kelembutan, namun dibalik tatapan mata dan kata-kata yang diucapkannya, ada makna yang sangat dalam yang mengingatkan Kanaya akan posisi dan status mereka yang berbeda.
Elsie adalah istri sah yang sangat dicintai Bastian. Sedangkan dirinya tidak lain hanyalah perempuan yang mereka sewa untuk mengandung dan melahirkan anak untuk mereka.
"Saya hanya melakukan apa yang ada dalam kesepakatan. Ibu tidak perlu kuatir, saya tahu tugas dan tanggung jawab Saya," ucap Kanaya sambil membalas tatapan Elsie sesaat sebelum ia kembali menunduk. Ia tahu diri untuk tidak berbuat lancang.
Kanaya pun tahu alasan Elsie mengatakan hal itu padanya.
Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Elsie dan Ia tidak ingin menabur garam pada luka.
Kanaya bertekad untuk melakukan tugasnya menjadi ibu pengganti anak mereka. Ia tidak berniat menjadi wanita penggoda atau orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Ia sudah mengatakan alasan dirinya meminta dinikahi dan itu bukan untuk menjadi perebut suami orang.
Kanaya ikhlas memberikan anak biologisnya untuk kebahagiaan kedua pasangan yang telah membantunya memberikan harapan hidup bagi ibunya.
Samar Kanaya mendengar hembusan nafas Elsie, sebelum ia kembali berdiri di samping Bastian.
Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka katakan dan acara berlanjut dengan akad nikah.
Akad nikah itu berlangsung singkat dan sederhana. Tidak ada dekorasi dan jamuan mewah di dalam rumah ataupun tamu undangan.
Hanya beberapa orang saja yang hadir, yang diperlukan untuk memenuhi syarat sahnya pernikahan itu. Selain Kanaya, Bastian dan Elsie, ada Dokter Indra dan serta beberapa orang lainnya yang Kanaya tidak kenal.
Sedangkan di sisi Kanaya, hanya ada Fadly, sepupu Kanaya, anak dari adik laki-laki almarhum ayah Kanaya. Dia yang menjadi wali nikah Kanaya.
Hal ini karena ayah dan kakek serta om Kanaya telah meninggal dunia. Dan Fadly adalah satu-satunya saudara laki-laki dari sisi ayahnya.
Dalam kesepakatan mereka tidak disebutkan mengenai mahar. Namun rupanya, Bastian menyiapkan untuk Kanaya sejumlah uang, dan satu set perhiasan berupa kalung, gelang dan anting sebagai mahar untuknya.
Tidak ada cincin di dalamnya.
Kanaya sendiri tidak mempermasalahkan ketiadaan cincin. Yang terpenting baginya adalah syarat pernikahan itu terpenuhi. Lagipula, cincin sebenarnya bukanlah sesuatu yang wajib diberikan dalam pernikahan.
Toh pernikahan itu bukan untuk jangka waktu yang lama. Setelah ia melahirkan anak mereka, hubungan mereka akan berakhir, dan pernikahan ini akan mengiap dengan sendirinya.
Setelah acara ijab qabul, dilanjut dengan foto singkat yang sama sekali tidak berkesan, sebelum akhirnya Bastian pergi bersama Elsie.
Itulah acara pernikahan yang dijalani oleh Kanaya. Tidak ada tangisan haru atau senyum kebahagiaan. Hanya sebuah formalitas karena ia memintanya sebagai bagian dari kesepakatan.
Bukanlah sebuah pernikahan impian yang ada dalam bayangan Kanaya selama ini, akan tetapi itu adalah pilihannya dikala ia harus memilih antara hidupnya dan kelanjutan hidup ibunya.