Bab 2

Aku berjalan masuk dengan menahan ketidaksabaran dalam hatiku.

Aku kira dia akan membawaku ke ruang istirahatnya, tetapi ternyata ke gudang. Apa mungkin dia suka melakukannya di tempat yang tidak biasa?

Aku menjilat bibirku sambil mendekat. Tanganku yang menyentuh dadanya pun perlahan-lahan bergerak, menikmati tekstur serta kehangatan yang ada. Seperti yang kubayangkan, dadanya memang kekar.

"Bos, kamu pasti tertarik padaku sejak awal, 'kan?" bisikku di samping telinganya. Bibir ranumku menyunggingkan senyuman.

Saat berikutnya, dia sontak merangkul pinggangku dan mendekapkanku ke pelukannya. "Kamu ini genit sekali. Setiap kali datang selalu pakai pakaian seksi. Kamu menginginkan pria ya?"

Suaranya terdengar rendah dan serak. Saking terangsangnya, tubuhku sampai bergetar. Bahkan, di bawah sana mulai basah.

"Sebenarnya aku nggak mau begitu, tapi kamu terlalu menggoda. Aku nggak tahan melihatmu," sahutku.

Dia terkekeh-kekeh, lalu mulai meraba bokongku. "Dasar genit, apa pacarmu bisa memuaskanmu yang segenit ini?"

Aku meliriknya sambil tersenyum. "Mereka semua lemah, makanya kucampakkan. Entah kamu bisa memuaskanku nggak."

Tatapan pria itu semakin bernafsu. "Hati-hati kalau bicara. Aku bisa membuat kakimu lemas sampai nggak bisa jalan."

Begitu mendengarnya, aku mengangkat kakiku untuk menggesekkannya ke badannya. "Masa? Kalau begitu, buktikan."

Suasana menjadi semakin panas. Tiba-tiba, dia mengangkatku. Aku pun berseru kaget.

Pemandangan di depanku berputar untuk sesaat. Aku diangkat ke atas rak. Rak yang dingin sontak menempel dengan kulitku, membuatku merinding.

Saat berikutnya, dia mencium wajahku, leherku. Napasnya sungguh berat. Tangannya yang besar dan panas menjamah tubuhku. Aku disentuh sampai tidak tahan lagi. Sekujur tubuhku melemas.

Karena tubuh kami menempel, aku bisa merasakan perubahan pada tubuhnya. Kemaluannya keras dan panas, membuatku merasa haus. Aku sudah lama tidak menikmati mainan besar seperti ini.

Aku menatapnya dengan tatapan menggoda. "Besar juga."

Dia tersenyum nakal. "Genit, kamu sudah makan terlalu banyak buah. Mau makan lolipop nggak?"

Saat berikutnya, dia menekanku di lantai. Tatapanku langsung tertuju pada kemaluannya. Jaraknya sangat dekat, membuat jantungku berdegup semakin kencang.

Air liur memenuhi mulutku. Aku sudah tidak sabar untuk mengemutnya. Saat aku hendak beraksi, tiba-tiba terdengar suara dari luar. "Bos? Bantu aku timbang buah dong!"

Pria itu terpaksa mengiakan, "Ya, sebentar!"

Usai mengatakan itu, dia melepaskanku dan menatapku lekat-lekat. Kemudian, dia meninggalkan ruangan itu.

Aku merasa agak kecewa karena belum sempat melampiaskan nafsuku. Aku terpaksa merapikan pakaianku dan ikut keluar.

Karena banyak pelanggan yang datang dan dia tidak punya waktu untuk meladeniku, aku hanya bisa pergi dengan kecewa.

Setelah pulang, aku mandi dan berbaring di ranjang, tak kuasa mengingat kembali interaksi intim tadi. Meskipun tidak melakukan apa-apa, sentuhan dan ciumannya membangkitkan hasrat dalam tubuhku. Kini, aku merasa sangat hampa karena tidak terpuaskan.

Aku lantas membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah mainan kecil. Biasanya mainan ini sudah cukup untuk memuaskanku, tetapi malam ini tidak bisa.

Aku terus teringat pada selangkangan yang menggembung itu. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, aku bisa menilai mainan itu sangat perkasa.

Tidak pernah ada pria yang bisa membuatku senafsu ini. Seandainya bisa bercinta dengannya, aku pasti akan sangat bahagia.

Bab 3

Pada akhirnya, aku ketiduran saat membayangkan tubuh pria itu.

Keesokan hari, aku datang ke toko buah lagi. Begitu melihatku, pria itu langsung mengamati kedua kakiku.

Hari ini aku memakai stoking yang sangat seksi dan dipadukan dengan garter. Selain itu, di atasnya adalah mini dress. Hanya dengan membungkuk, celana dalamku bisa kelihatan.

Aku tahu pria ini tidak akan tahan melihatnya. Sesuai dugaanku, dia langsung menarikku ke dalam.

Begitu masuk, tangannya mulai meraba pahaku. "Genit, kamu seksi sekali hari ini. Mau merayuku, 'kan?"

Aku tersenyum menyipitkan mata. "Ya, kenapa memangnya?"

Aku memang sengaja. Kemarin aku hampir tidak tidur semalaman karena kami gagal berhubungan intim. Pokoknya, hari ini harus berhasil.

Setelah berpikir demikian, aku langsung menjulurkan tanganku ke dalam pakaiannya untuk meraba dada kekarnya.

Terusan yang kupakai ditarik dengan kasar hingga ke pinggangku. Tangan besarnya meraba pahaku. Seketika, sekujur tubuhku terasa lemas dan mati rasa.

Tangannya sangat gesit dan kuat. Hanya dengan sentuhan seperti ini, aku sudah tidak tahan untuk mendesah. Rasanya nyaman sekali. Aku tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari para mantanku.

Napasku terengah-engah. Tubuhku yang meliuk seperti ular menempel erat dengan tubuhnya. "Bos, sentuhanmu nggak ada tandingannya. Aku nggak tahan lagi."

Pria itu terkekeh-kekeh, lalu mengambil anggur dari rak. Aku agak bingung melihatnya. Tiba-tiba, dia mengangkat satu kakiku dan meletakkannya di atas bahunya.

"Bukannya aku bilang ada cara supaya anggur terasa lebih enak?" Usai berbicara, pria itu mencubit anggur itu dan meluncurkannya di kulitku, lalu menempelkannya di selangkanganku.

Aku sontak terbelalak dan menjulurkan tangan untuk menghalangi. "Ja ... jangan ...."

Namun, tenagaku sangat kecil. Dia telah mendorong anggur itu masuk. Anggur yang bulat memasuki tubuhku, membuatku merasa tidak nyaman.

Aku berucap dengan manja, "Bos, jangan aneh-aneh. Itu makanan. Ngapain kamu masukkan ...."

Tatapannya yang bergairah terus tertuju padaku. "Coba tebak, berapa banyak anggur yang bisa kamu makan?"

Aku merasa agak panik. Apa mungkin dia ingin memasukkan semua anggur itu ke tubuhku? Tubuhku tak kuasa gemetaran. Namun, aku tidak bisa menghentikannya. Segera, aku merasa bagian bawahku menggembung.

Aku memohon, "Jangan ... aku nggak tahan lagi ...."

Pria itu malah tidak mau berhenti. "Nggak bisa, mulutmu yang di bawah belum kenyang."

Pada akhirnya, dia memasukkan hampir semua anggur sampai-sampai aku tidak bisa menutup kakiku dan terus terengah-engah.

Kemudian, pria itu membungkuk dan menggigit bibirku. Dia bertanya dengan tersenyum, "Kamu mau tahu seperti apa rasa tubuhmu sendiri?"

Aku menggeleng dengan takut. Aku tidak ingin mencicipinya. Namun, sepertinya dia merasa sangat senang dengan permainan ini. Dia mengeluarkan sebutir dari dalam kemaluanku, lalu meletakkannya di depan mulutku. "Ayo, buka mulutmu."

Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, tetapi dia menekan daguku hingga mulutku terbuka. Saat berikutnya, anggur yang basah masuk ke mulutku.

Seketika, tercium aroma yang sulit dideskripsikan. Aku ingin memuntahkannya, tetapi pria itu malah menciumku dan bermain dengan lidahku. Segera, aku memakan anggur itu.

Jelas-jelas ini sangat memalukan dan aku tidak suka, tetapi hasratku malah semakin terbangkitkan. Pria itu memahami tatapanku. Dia tersenyum sambil berucap, "Ayo, aku akan memuaskanmu."

Usai mengatakan itu, dia membuka kakiku lebar-lebar.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B26327" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B26327
Salin

Kesengajaan Berakhir Sengsara

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya