Bab 1

Pertama kali ke toko buah, aku langsung tertarik pada pemilik toko buah itu. Tubuhnya tinggi, tegap, terlihat sangat maskulin.

Aku menjilat bibirku, membayangkan bagaimana rasanya dipeluk oleh lengan kekar itu.

Setiap hari, aku pergi ke toko buah. Suatu hari, dia tiba-tiba memanggilku.

"Aku tahu cara yang bisa membuat rasa anggur semakin enak. Kamu mau coba?"

Setelah aku mencobanya, ternyata dia tidak membohongiku.

"Bos, ada rekomendasi apa hari ini?" Begitu memasuki toko buah, tatapanku langsung tertuju pada pria yang sedang merapikan rak.

Pria itu menyapaku, "Eh, sudah datang? Hari ini baru masuk shine muscat. Segar sekali. Kamu coba saja."

Usai berbicara, pria itu mengambil anggur berwarna hijau yang mengilap dari kotak tester, lalu menyodorkannya ke mulutku.

Tatapanku menyapu wajahnya yang cerah dan tubuhnya yang kekar. Kemudian, aku membuka mulut untuk memakan anggur itu. Aku sengaja menjilat ujung jarinya, meninggalkan bekas basah. Jelas sekali, aku menggodanya.

Sebulan lalu, aku pindah ke kompleks sekitar sini. Suatu hari saat jalan-jalan, aku melewati toko buah ini dan langsung terpesona dengan pemiliknya.

Ini adalah pria berkualitas tinggi. Kulitnya kecokelatan, tubuhnya seksi, otot-otot kekarnya membuat jantungku terus berdebar-debar.

Aku suka pria bertubuh tinggi dan tegap seperti ini. Dia jauh lebih memikat daripada mantan-mantan pacarku. Aku yang sudah tidak berhubungan badan selama setengah tahun sampai terangsang melihatnya.

Aku terus membayangkan seperti apa rasanya dipeluk oleh pria tampan dan kekar seperti ini. Aku ingin dia bersikap agak kasar padaku saat memberiku cinta.

Makanya, setiap hari aku akan membeli buah di tokonya. Bahkan, aku sengaja berpakaian seksi, seperti tank top berpotongan rendah dan rok pendek, dipadukan dengan stoking hitam dan sepatu hak tinggi.

Aku bisa merasakan tatapannya yang berhasrat saat menatapku. Dia sepertinya menginginkanku. Hal ini membuatku tak kuasa tersenyum menggoda. Sepertinya, ada harapan di antara kami.

"Bos, aku beli buah di tokomu setiap hari. Nggak ada penawaran menarik untukku?" tanyaku dengan suara manja sambil mendekatinya.

Aku bisa mencium bau keringatnya yang samar. Namun, aku sama sekali tidak merasa jijik. Tubuhku malah terasa panas.

Pria itu menelan ludahnya, lalu menyahut dengan suara rendah, "Kamu pelanggan setiaku. Aku tentu punya penawaran menarik untukmu."

Dia tiba-tiba tersenyum, seperti sedang menatap binatang buruannya. "Aku tahu cara makan anggur yang lebih enak. Kamu mau coba nggak? Penawaran ini cuma untuk pelanggan setia lho!"

Aku tak kuasa menjilat bibirku. "Mau dong."

Pria itu berjalan ke dalam. "Ikut aku."

Jantungku berdetak kencang. Aku melihat dia mendorong pintu. Sepertinya, semua akan berubah setelah aku masuk.

Aku yakin dia akan menciumku dengan penuh hasrat, melepaskan pakaianku, menyodokku dengan keras, membuatku terbang ke awang-awang.

Begitu membayangkan adegan itu, hasratku sontak terbangkitkan. Aku adalah wanita yang dipenuhi gairah. Semua mantanku tidak bisa memuaskanku. Kami sering berhubungan intim, tetapi mereka yang mendapatkan kepuasan, sementara aku tidak. Karena tidak tahan lagi, aku akhirnya minta putus setelah beberapa bulan.

Saat ini, tubuhku yang kekeringan membutuhkan sentuhan pria sejati. Pria itu berdiri di depan pintu sambil tersenyum kepadaku. "Silakan masuk."

Bab 2

Aku berjalan masuk dengan menahan ketidaksabaran dalam hatiku.

Aku kira dia akan membawaku ke ruang istirahatnya, tetapi ternyata ke gudang. Apa mungkin dia suka melakukannya di tempat yang tidak biasa?

Aku menjilat bibirku sambil mendekat. Tanganku yang menyentuh dadanya pun perlahan-lahan bergerak, menikmati tekstur serta kehangatan yang ada. Seperti yang kubayangkan, dadanya memang kekar.

"Bos, kamu pasti tertarik padaku sejak awal, 'kan?" bisikku di samping telinganya. Bibir ranumku menyunggingkan senyuman.

Saat berikutnya, dia sontak merangkul pinggangku dan mendekapkanku ke pelukannya. "Kamu ini genit sekali. Setiap kali datang selalu pakai pakaian seksi. Kamu menginginkan pria ya?"

Suaranya terdengar rendah dan serak. Saking terangsangnya, tubuhku sampai bergetar. Bahkan, di bawah sana mulai basah.

"Sebenarnya aku nggak mau begitu, tapi kamu terlalu menggoda. Aku nggak tahan melihatmu," sahutku.

Dia terkekeh-kekeh, lalu mulai meraba bokongku. "Dasar genit, apa pacarmu bisa memuaskanmu yang segenit ini?"

Aku meliriknya sambil tersenyum. "Mereka semua lemah, makanya kucampakkan. Entah kamu bisa memuaskanku nggak."

Tatapan pria itu semakin bernafsu. "Hati-hati kalau bicara. Aku bisa membuat kakimu lemas sampai nggak bisa jalan."

Begitu mendengarnya, aku mengangkat kakiku untuk menggesekkannya ke badannya. "Masa? Kalau begitu, buktikan."

Suasana menjadi semakin panas. Tiba-tiba, dia mengangkatku. Aku pun berseru kaget.

Pemandangan di depanku berputar untuk sesaat. Aku diangkat ke atas rak. Rak yang dingin sontak menempel dengan kulitku, membuatku merinding.

Saat berikutnya, dia mencium wajahku, leherku. Napasnya sungguh berat. Tangannya yang besar dan panas menjamah tubuhku. Aku disentuh sampai tidak tahan lagi. Sekujur tubuhku melemas.

Karena tubuh kami menempel, aku bisa merasakan perubahan pada tubuhnya. Kemaluannya keras dan panas, membuatku merasa haus. Aku sudah lama tidak menikmati mainan besar seperti ini.

Aku menatapnya dengan tatapan menggoda. "Besar juga."

Dia tersenyum nakal. "Genit, kamu sudah makan terlalu banyak buah. Mau makan lolipop nggak?"

Saat berikutnya, dia menekanku di lantai. Tatapanku langsung tertuju pada kemaluannya. Jaraknya sangat dekat, membuat jantungku berdegup semakin kencang.

Air liur memenuhi mulutku. Aku sudah tidak sabar untuk mengemutnya. Saat aku hendak beraksi, tiba-tiba terdengar suara dari luar. "Bos? Bantu aku timbang buah dong!"

Pria itu terpaksa mengiakan, "Ya, sebentar!"

Usai mengatakan itu, dia melepaskanku dan menatapku lekat-lekat. Kemudian, dia meninggalkan ruangan itu.

Aku merasa agak kecewa karena belum sempat melampiaskan nafsuku. Aku terpaksa merapikan pakaianku dan ikut keluar.

Karena banyak pelanggan yang datang dan dia tidak punya waktu untuk meladeniku, aku hanya bisa pergi dengan kecewa.

Setelah pulang, aku mandi dan berbaring di ranjang, tak kuasa mengingat kembali interaksi intim tadi. Meskipun tidak melakukan apa-apa, sentuhan dan ciumannya membangkitkan hasrat dalam tubuhku. Kini, aku merasa sangat hampa karena tidak terpuaskan.

Aku lantas membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah mainan kecil. Biasanya mainan ini sudah cukup untuk memuaskanku, tetapi malam ini tidak bisa.

Aku terus teringat pada selangkangan yang menggembung itu. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, aku bisa menilai mainan itu sangat perkasa.

Tidak pernah ada pria yang bisa membuatku senafsu ini. Seandainya bisa bercinta dengannya, aku pasti akan sangat bahagia.

Bab 3

Pada akhirnya, aku ketiduran saat membayangkan tubuh pria itu.

Keesokan hari, aku datang ke toko buah lagi. Begitu melihatku, pria itu langsung mengamati kedua kakiku.

Hari ini aku memakai stoking yang sangat seksi dan dipadukan dengan garter. Selain itu, di atasnya adalah mini dress. Hanya dengan membungkuk, celana dalamku bisa kelihatan.

Aku tahu pria ini tidak akan tahan melihatnya. Sesuai dugaanku, dia langsung menarikku ke dalam.

Begitu masuk, tangannya mulai meraba pahaku. "Genit, kamu seksi sekali hari ini. Mau merayuku, 'kan?"

Aku tersenyum menyipitkan mata. "Ya, kenapa memangnya?"

Aku memang sengaja. Kemarin aku hampir tidak tidur semalaman karena kami gagal berhubungan intim. Pokoknya, hari ini harus berhasil.

Setelah berpikir demikian, aku langsung menjulurkan tanganku ke dalam pakaiannya untuk meraba dada kekarnya.

Terusan yang kupakai ditarik dengan kasar hingga ke pinggangku. Tangan besarnya meraba pahaku. Seketika, sekujur tubuhku terasa lemas dan mati rasa.

Tangannya sangat gesit dan kuat. Hanya dengan sentuhan seperti ini, aku sudah tidak tahan untuk mendesah. Rasanya nyaman sekali. Aku tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari para mantanku.

Napasku terengah-engah. Tubuhku yang meliuk seperti ular menempel erat dengan tubuhnya. "Bos, sentuhanmu nggak ada tandingannya. Aku nggak tahan lagi."

Pria itu terkekeh-kekeh, lalu mengambil anggur dari rak. Aku agak bingung melihatnya. Tiba-tiba, dia mengangkat satu kakiku dan meletakkannya di atas bahunya.

"Bukannya aku bilang ada cara supaya anggur terasa lebih enak?" Usai berbicara, pria itu mencubit anggur itu dan meluncurkannya di kulitku, lalu menempelkannya di selangkanganku.

Aku sontak terbelalak dan menjulurkan tangan untuk menghalangi. "Ja ... jangan ...."

Namun, tenagaku sangat kecil. Dia telah mendorong anggur itu masuk. Anggur yang bulat memasuki tubuhku, membuatku merasa tidak nyaman.

Aku berucap dengan manja, "Bos, jangan aneh-aneh. Itu makanan. Ngapain kamu masukkan ...."

Tatapannya yang bergairah terus tertuju padaku. "Coba tebak, berapa banyak anggur yang bisa kamu makan?"

Aku merasa agak panik. Apa mungkin dia ingin memasukkan semua anggur itu ke tubuhku? Tubuhku tak kuasa gemetaran. Namun, aku tidak bisa menghentikannya. Segera, aku merasa bagian bawahku menggembung.

Aku memohon, "Jangan ... aku nggak tahan lagi ...."

Pria itu malah tidak mau berhenti. "Nggak bisa, mulutmu yang di bawah belum kenyang."

Pada akhirnya, dia memasukkan hampir semua anggur sampai-sampai aku tidak bisa menutup kakiku dan terus terengah-engah.

Kemudian, pria itu membungkuk dan menggigit bibirku. Dia bertanya dengan tersenyum, "Kamu mau tahu seperti apa rasa tubuhmu sendiri?"

Aku menggeleng dengan takut. Aku tidak ingin mencicipinya. Namun, sepertinya dia merasa sangat senang dengan permainan ini. Dia mengeluarkan sebutir dari dalam kemaluanku, lalu meletakkannya di depan mulutku. "Ayo, buka mulutmu."

Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, tetapi dia menekan daguku hingga mulutku terbuka. Saat berikutnya, anggur yang basah masuk ke mulutku.

Seketika, tercium aroma yang sulit dideskripsikan. Aku ingin memuntahkannya, tetapi pria itu malah menciumku dan bermain dengan lidahku. Segera, aku memakan anggur itu.

Jelas-jelas ini sangat memalukan dan aku tidak suka, tetapi hasratku malah semakin terbangkitkan. Pria itu memahami tatapanku. Dia tersenyum sambil berucap, "Ayo, aku akan memuaskanmu."

Usai mengatakan itu, dia membuka kakiku lebar-lebar.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B26327" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B26327
Salin

Kesengajaan Berakhir Sengsara

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya