Bab 7
Dilihat dari ekspresi Romeo, sepertinya dia sudah tahu kalau tanah itu akan laris manis.
Hanya saja, Romeo menyerah untuk membeli tanah tersebut dan memilih untuk menyerahkannya kepada Stephen agar hubungan mereka makin erat.
Ini lebih mirip dengan gaya Romeo.
Violet berkata dengan serius, "Aku hanya mau memujinya. Kamu berpikir terlalu banyak."
Romeo mengerutkan alisnya. Dia seakan-akan sedang berpikir apakah Violet mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Namun, dengan kecerdasan Violet, bagaimana mungkin dia bisa tahu berapa nilai tanah itu dalam beberapa tahun ke depan.
Romeo merasa dirinya sudah berpikir terlalu banyak.
"Lebih baik memang seperti itu."
Romeo pun tidak menghiraukan Violet lagi. Dia menuntun Evelyn untuk mengenal orang lain.
Sebelum Evelyn pergi, dia tersenyum kepada Violet dan terlihat merasa bersalah.
Meskipun Evelyn sudah berusaha menyembunyikan tatapan matanya, Violet tetap bisa melihat kesombongan di dalam senyuman Evelyn.
Violet meminum habis sampanyenya.
Di mata orang lain, sekarang dia adalah wanita yang gagal menjaga suaminya.
Suaminya tidak hanya meninggalkan istri barunya untuk menemani wanita lain, tapi dia juga memperkenalkan wanita itu kepada pengusaha-pengusaha lain. Apa ada yang lebih memalukan daripada Violet?
Violet merasa sedih. Awalnya dia ingin mengambil kesempatan ini untuk berkenalan dengan beberapa bos besar. Namun, begitu Romeo pergi, dia kesulitan untuk mendekati orang-orang.
Bagaimana dia bisa mendekat pengusaha-pengusaha lain tanpa terlihat disengaja?
Violet menyapu pandangannya, lalu matanya tertuju pada sebuah piano yang terletak tak jauh darinya.
Violet perlahan-lahan tersenyum.
Dia ada ide!
Violet berjalan mendekati piano itu dengan langkah anggun. Dia menyapa pianis yang sedang bermain sebelum dia duduk.
Sebagai nona muda Keluarga Gloria, dia harus belajar banyak hal sejak kecil. Di kehidupan lampaunya, dia tidak pernah menggunakan kemampuannya. Dia tidak menyangka ini menjadi berguna sekarang.
Violet sudah lama tidak bermain piano, jadi tangannya agak kaku. Akan tetap, kebiasaan sulit diubah.
Beberapa saat kemudian, tuts piano mulai naik dan turun sesuai dengan mainan Violet. Musik piano yang merdu langsung mengisi seluruh ruangan pesta dan ia sangat cocok dengan suasana sekarang. Semua orang terdiam karena musik piano yang tiba-tiba ini.
Banyak orang yang menoleh ke arah piano. Setelah satu lagu selesai, semua orang bertepuk tangan.
Evelyn melihat Romeo dan seorang pengusaha berhenti berbicara. Pandangan Romeo tidak pernah berpaling dari Violet. Evelyn sengaja berkata, "Kak Violet sangat hebat. Dia juga bisa bermain piano."
"Bagaimanapun juga, dia telah belajar piano sampai level 10," ucap Romeo dengan datar.
Banyak orang kalangan kelas atas seperti mereka bisa bermain piano. Bisa belajar sampai level 10 juga merupakan hal yang biasa. Jadi, bisa dibilang orang-orang yang hadir malam ini memahami musik. Mampu mendapat tepukan tangan sebanyak ini berarti Violet memiliki banyak pencapaian dalam musik.
Piano level 10 diucapkan oleh Romeo dengan enteng.
Evelyn baru menyadari kesenjangannya dengan Violet.
Awalnya dia mengira Violet hanya beruntung dan cantik, tapi dia tidak punya kelebihan yang lain.
Namun, sepertinya Evelyn salah.
Dia sangat salah.
Selesai bermain piano, banyak istri orang kaya yang mencari Violet untuk mengobrol dengannya.
Meskipun dia tidak bisa langsung berhubungan dengan pengusaha-pengusaha besar, setelah dia berteman dengan istri-istri mereka, dia bisa mengenal para pengusaha dengan lebih mudah.
"Ternyata Nona Violet memiliki keterampilan. Dia bermain dengan bagus."
William sedang menopang dirinya di atas pagar koridor pojok.
"Memang indah."
Charles setuju.
"Apa seorang tuli nada sepertimu memahami musik?"
"Nggak, tapi aku suka."
Dia tidak paham musik, tapi karena piano itu dimainkan oleh Violet, dia baru bersikap berbeda.
Violet sedang berjalan ke toilet. Ketika dia mencapai sebuah belokan, sebuah tangan menariknya ke pojok yang gelap. Violet ingin langsung berteriak dan meminta tolong, tapi mulutnya ditutup oleh pria di belakangnya.
"Jangan bergerak," bisik pria itu.
Violet merasakan dada bidang yang hangat di punggungnya, lalu dia mengontrol napasnya sebelum dia menggigit tangan pria itu.
"Aduh!"
Pria itu kesakitan.
"Kamu benar-benar menggigitku?"
Pria itu pun melepaskan Violet.
Violet segera menjauhkan dirinya dari pria itu. Setelah dia melihat orang di hadapannya dengan saksama, dia tercengang. "Charles?"
"Kamu kira siapa?"
"Kenapa kamu bersikap mencurigakan?"
"Aku diam-diam masuk dan takut tertangkap."
"Yang benar saja? Pak Thomas adalah ...."
Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya, tapi Violet bergegas menutup mulutnya.
Charles mengangkat alisnya. "Apa?"
Violet menatap Charles untuk sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangannya dengan segan.
Di kehidupan sebelumnya, setelah Pak Thomas meninggal, dia menyerahkan semua hartanya kepada Charles. Setelah itu, Violet juga baru mengetahuinya.
Sekarang, belum ada yang tahu kalau Charles adalah cucunya Pak Thomas.
"Aku bilang Pak Thomas baik. Lagi pula, kamu adalah pengusaha sukses dari luar negeri. Meskipun kamu diam-diam masuk, nggak ada yang berani berkata apa-apa."
"Mungkin. Tapi, aku suka berhati-hati."
Violet berkata, "Kamu diam-diam masuk bukan untuk memberitahuku ini, 'kan?"
Dia tidak merasa Charles adalah orang yang begitu kurang kerjaan.
"Untukmu."
Charles menyerahkan kontrak yang sedang dia pegang kepada Violet.
Violet menundukkan kepalanya. Itu adalah kontrak mengenai pinjaman 16 triliunnya.
"Hanya untuk ini?"
Charles menganggukkan kepalanya.
"Kurang kerjaan."
Violet langsung menandatangani kontrak tersebut, kemudian melempar kontrak itu ke arah Charles.
Bisa-bisanya Charles sengaja menyelinap masuk hanya untuk memberikannya kontrak. Mereka bahkan berada di depan toilet wanita!
"Sebagai krediturmu, aku boleh bertanya, 'kan?"
"Apa?"
"Kenapa kamu mau menghabiskan 20 triliun untuk membeli tanah itu?"
Suara Charles rendah dan ketika dia berbicara, dia selalu seperti sedang menyihir orang. Jadi, itu membuat orang ingin menjawab pertanyaannya.
Violet pun memanyunkan bibirnya.
"Aku nggak bisa memberitahumu sekarang."
"Kalau aku memaksa?"
Dia bisa melihat kalau Violet punya rencana lain dengan membeli tanah itu.
Akan tetapi, dia tidak bisa melihat bagian mana dari tanah itu yang bernilai 20 triliun.
Ini jelas-jelas merupakan kesepakatan yang merugikan, tapi di mata Violet, Charles merasa tanah itu akan bernilai lebih dari 20 triliun di masa depan.
"Kalau aku bilang harga tanah itu akan menjadi tinggi dalam setengah tahun, apa kamu percaya?"
"Nggak."
Setidaknya sekarang Charles belum bisa melihatnya.
"Bagaimana kalau aku bilang properti kelas atas di sekitar area itu akan mulai dijual?"
"Properti kelas atas apanya?"
Charles mengernyit.
Kenapa dia tidak pernah mendengarnya?
"Sebentar lagi kamu akan tahu."
Violet tersenyum, lalu dia melewati Charles untuk masuk ke toilet.
Charles berjalan ke aula dengan kening berkerut. William bertanya, "Dia sudah menandatanganinya?"
"Sudah."
"Kenapa alismu berkerut sekali?"
"Apa ada properti kelas atas di sekitar tanah yang dibeli Violet?"
"Nggak."
"Pergi cari tahu tanah di sekitar tanah terlantar itu milik siapa. Lebih cepat, lebih bagus."
"Tanah terlantar itu dikelilingi oleh area pembuangan limbah. Nggak ada yang perlu diselidiki. Jangankan properti kelas atas, bahkan nggak ada yang mau membangun lapangan basket."
Charles tercengang. "Area pembuangan limbah?"
Bab 8
Beberapa menit kemudian, Evelyn keluar dari toilet dengan ekspresi masam. Saat ini dia sudah mengganti pakaiannya menjadi gaun putih.
Romeo bertanya, "Ada apa?"
"Tadi aku mengganti pakaianku di toilet. Ketika aku keluar, aku melihat Kak Violet."
"Violet?"
Evelyn menganggukkan kepalanya.
Lalu, Evelyn berkata, "Aku melihat Kak Violet bersama pria yang waktu itu. Mereka terlihat dekat ...."
Setelah mengatakan itu, Evelyn memperhatikan raut wajah Romeo. Kemudian, dia buru-buru berkata, "Tapi, aku mungkin salah melihat. Bagaimana mungkin Kak Violet mengenal orang seperti Charles Griffin .... Dengar-dengar, Charles bukan orang baik."
"Violet ...."
Nada Romeo menjadi sinis.
Kemarin dia sudah bisa melihat kalau Charles tertarik pada Violet.
Apa wanita itu tidak bisa menjauh dari bahaya? Kenapa dia mau mendekati orang jahat seperti Charles?
Entah kenapa Romeo merasa panik.
Violet barusan keluar dari toilet dan dia mendapati Romeo sedang menatapnya dengan ekspresi kesal dan tatapan yang mencurigakan.
"Ngapain kamu tadi?" tanya Romeo.
"Aku? Tadi aku masuk toilet."
Violet kebingungan.
Evelyn maju, kemudian dia menarik tangan Violet dan berkata, "Kak Violet, tadi aku melihatmu. Charles Griffin bukan orang baik. Kak Violet jangan sampai tertipu olehnya."
Violet tanpa sadar menarik kembali tangannya.
Tangan Evelyn pun membeku di udara. Lalu, dia berkata dengan sedih, "Kak Violet, aku bukan sengaja mau mengadu kepada Tuan Romeo. Tapi, Charles benar-benar bukan orang baik."
"Aku tahu orang macam apa Charles. Orang lain nggak usah membantuku menilainya."
Sikap Violet sangat dingin.
"Aku ...."
Evelyn menggigit bibirnya dan dia terlihat sakit hati.
Romeo pun berkata dengan sinis, "Evelyn hanya memikirkanmu. Kamu nggak tahu apa-apa, tapi kamu malah pergi menyinggung orang yang nggak patut kamu singgung."
Evelyn menarik-narik lengan baju Romeo. Dia seolah-olah menyalahkan Romeo menegur Violet terlalu keras.
Violet melihat semua itu. Orang yang tidak tahu mungkin bisa mengira kalau Evelyn barulah istrinya Romeo.
"Pokoknya, lebih baik Kak Violet jangan mendekati Charles. Kak Violet adalah putri yang terhormat, sedangkan pria itu adalah orang biadab yang nggak berpendidikan. Kak Violet nggak boleh terlibat dengannya."
Tuk!
Tiba-tiba, terdengar suara tongkat menghantam tanah di kejauhan.
Semua orang menoleh ke arah suara itu. Mereka langsung melihat ada seorang lelaki tua berambut putih sedang berdiri di tengah-tengah aula.
Violet menoleh dan dia merasa lelaki tua itu terlihat familier. Dalam sekejap, dia mengenali kalau lelaki tua itu adalah tukang kebun yang tadi menjatuhkan vas bunga di aula.
Saat ini lelaki tua itu mengenakan jas dan sepatu kulit. Ada dua pengawal berdiri di belakangnya. Lelaki tua itu tampak sangat berwibawa. Dia mempunyai sepasang mata yang tegas dan tajam sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya.
"Para tamu sekalian, ini Pak Thomas Griffin."
Pengawal yang berdiri di sebelah memperkenalkan lelaki tua itu.
Orang-orang di sekitar pun mengangkat gelas mereka untuk menunjukkan hormat.
Saat ini, hanya wajah Evelyn seorang yang tampak pucat.
Lelaki tua yang tadi dia bentak ternyata adalah Pak Thomas!
Tak lama kemudian, Charles muncul dari belakang Pak Thomas. Dia berdiri di sebelah Pak Thomas dan memegang lengannya.
Violet mendadak mempunyai firasat buruk.
Charles menatap Violet dan tersenyum ke arahnya.
"Hari ini aku mengundang kalian semua untuk memberi tahu kalau Charles adalah cucu Thomas Griffin. Dia adalah satu-satunya pewaris Keluarga Griffin."
Pak Thomas mengarahkan matanya yang sinis ke Evelyn.
Tatapan itu pun membuat Evelyn merinding.
Pak Thomas berkata dengan sinis, "Dia bukan orang biadab yang nggak berpendidikan."
Semua orang kaget dan hanya jantung Violet yang berdebar.
Tidak! Waktunya salah! Kenapa bisa menjadi seperti ini?
Bab 9
Menurut garis waktu, identitas Charles tidak akan diumumkan sampai kematian Pak Thomas tiga tahun kemudian.
Jangan-jangan kelahiran kembali Violet tanpa sengaja mengubah segalanya?
Saat ini, wajah Evelyn menjadi pucat pasti karena ucapan Pak Thomas.
Bukankah Charles adalah anak yatim piatu? Bagaimana mungkin dia adalah cucunya Pak Thomas?
Kalau begitu, apakah Pak Thomas mendengar apa yang barusan dikatakan Evelyn?
Kalau Evelyn menyinggung Pak Thomas, untuk seumur hidupnya dia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi di dunia keuangan.
Setelah memikirkan itu, Evelyn melihat Romeo dan meminta bantuan.
"Pak Thomas, Evelyn hanya salah bicara. Karena dia masih muda, semoga Pak Thomas bisa memaafkannya."
Pak Thomas mendengus sebelum dia berkata, "Dengar-dengar ada seorang genius di sisi Tuan Romeo. Sekarang setelah aku melihatnya, sepertinya dia biasa saja."
Wajah Evelyn memucat.
Jelas sekali kalau Evelyn telah kehilangan dukungan Pak Thomas
Violet melihat semua itu.
Kali ini meskipun Romeo mengatakan sesuatu, itu tidak berguna. Evelyn sudah mengatai cucu orang. Dia tidak langsung diusir keluar sudah termasuk baik.
Romeo pun memanyunkan bibirnya dan diam.
Ketika Pak Thomas melihat Violet, tatapan matanya menjadi lembut. "Kamu dari Keluarga Gloria?"
Violet tersentak. Ketika dia melihat Pak Thomas berinisiatif berbicara dengannya, dia menganggukkan kepalanya. "Namaku Violet Gloria."
"Dulu tampang kakekmu biasa-biasa saja, tapi cucunya sangat cantik. Empat puluh tahun yang lalu, aku dan kakekmu pernah bersumpah menjadi saudara. Dalam sekejap mata, kamu sudah dewasa."
Bersumpah menjadi saudara?
Di dalam ingatan Violet, kakeknya adalah orang yang riang dan tidak pernah bertanya tentang masalah keluarga. Kakeknya juga sudah lama meninggal. Jadi, dia tidak pernah mendengar kakeknya mengenal Pak Thomas.
Saat Violet tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, Pak Thomas bertanya lagi, "Apa kamu sudah menikah?"
Violet menganggukkan kepalanya. "Sudah."
"Dengan siapa kamu menikah?"
Violet melirik Romeo.
Ketika Pak Thomas melihat Romeo, ekspresinya langsung menjadi masam.
"Apa yang bagus dari cucu Edgar Fernandez?!"
Ketika mendengar kata-kata Pak Thomas, Romeo juga hanya tersenyum. "Saat Kakek masih hidup, dia sering mengungkit Pak Thomas. Sepertinya dulu hubungan kalian dekat."
"Siapa yang dekat dengannya?!"
Mereka saling mengobrol dengan lancar dan hanya Evelyn yang berdiri di samping dengan canggung. Dia seolah-olah menjadi angin yang tidak dianggap.
Setelah Pak Thomas pergi, Evelyn menarik lengan baju Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, aku mau pergi."
Romeo melihat langit gelap di luar, lalu berkata, "Aku akan mengantarmu."
Evelyn bertanya, "Bagaimana dengan Kak Violet?"
Romeo menoleh ke Violet yang sedang berbicara dengan ceria bersama Pak Thomas tak jauh darinya, lalu berkata dengan sinis, "Dia bisa pulang sendiri."
Evelyn melihat Violet dengan iri.
Kenapa Violet bisa memenangkan hati orang tua itu? Ini sama sekali tidak adil.
Violet melihat Romeo meninggalkan klub bersama Evelyn.
Levi menghampirinya, kemudian berbisik, "Tuan Romeo mengantar Nona Evelyn pulang ke asrama."
"Aku tahu."
Levi mengira Violet akan menangis ketika mendengar kabar ini, tapi ternyata reaksi Violet sangat tenang.
Charles yang berdiri di sebelah berkata, "Romeo pergi mengantar pulang gadis itu, ya?"
Violet juga tidak merasa malu. "Bukankah itu sudah jelas sekali?"
Bukan hanya dia yang melihatnya, tapi semua orang.
Romeo sudah berulang kali tidak menghiraukan Violet yang merupakan istrinya. Dia bahkan pergi mengantar pulang wanita lain secara terang-terangan dan malah meninggalkan istrinya di pesta sendirian.
Entah rumor seperti apa yang akan beredar di kalangan istri orang kaya besok.
"Kamu nggak marah?"
"Nggak."
Di kehidupan lampaunya, dia sudah cukup peduli pada Romeo. Sekarang dia tidak akan membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang sama.
Charles menatap sisi wajah Violet. Meskipun Violet terlihat tidak peduli, Charles masih bisa melihat tatapan Violet tampak sedikit kesepian.
"Nona Violet, apa aku boleh mengantarmu pulang?"
Langit sudah gelap dan Violet sudah menetap cukup lama di tempat ini.
Levi yang berdiri di samping berkata, "Tuan Charles, lebih baik saya yang mengantar Nyonya pulang."
Charles tidak menghiraukan Levi, tapi menunggu jawaban Violet.
Violet berdiri. "Terima kasih, Tuan Charles."
Charles seperti seorang gentleman dan berdiri di sebelah Violet. Mereka meninggalkan Levi berdiri sendirian di kerumunan.
Bagaimana Levi menjelaskan ini kepada Romeo?
Violet masuk ke dalam mobil bersama Charles. Yang menyetir mobil adalah William.
Hanya Charles seorang yang bisa membuat Tuan Muda Keluarga Airlangga menjadi sopir.
"Kak, aku sudah menunggumu di luar berjam-jam. Ternyata, kamu merayu wanita di dalam?"
Violet bisa melihat William benar-benar tercengang dari cerminan kaca jendela.
Charles berkata dengan tenang, "Antar Nona Violet pulang ke rumahnya."
"Woi, nanti kita mau pergi ke ...."
Sebelum William sempat menyelesaikan kalimatnya, Charles menendang bagian belakang kursi pengemudi.
William menangkap tatapan peringatan Charles dari cerminan kaca, jadi dia langsung membungkam mulutnya.
"Apa nanti kalian punya urusan yang perlu ditangani?"
"Itu nggak begitu penting."
"Sebenarnya kamu nggak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri."
"Kota Poseidon kelihatan tenang, tapi sangat berbahaya. Terutama kamu adalah istrinya Romeo."
Violet mengangkat alisnya sambil berkata, "Tuan Charles, kamu dan Romeo berbeda. Dia adalah pengusaha yang jujur."
Charles membalas dengan datar, "Kota ini ada bermacam-macam orang. Romeo mungkin nggak sebersih yang kamu kira."
Violet tidak bisa membalas ucapan Charles.
Di kehidupan sebelumnya, dia telah menikah dengan Romeo selama bertahun-tahun. Namun, Romeo tidak pernah mengizinkannya bertanya tentang urusan Keluarga Fernandez.
Meskipun di permukaan Romeo terlihat seperti pengusaha yang jujur, bagaimana mungkin seorang pria yang sangat berkuasa di Kota Poseidon itu bersih?
Romeo hanya menyembunyikannya lebih dalam.
Sebaliknya, Charles tidak repot-repot menyembunyikannya. Lagi pula, dengar-dengar Charles tidak punya kelemahan.
"Nona Violet, kita sudah sampai."
William menghentikan mobil di depan gerbang Kediaman Fernandez.
Lampu-lampu di Kediaman Fernandez masih padam. Itu berarti pada saat ini Romeo belum pulang.
"Terima kasih Tuan Charles. Terima kasih Tuan William."
Lalu, Violet turun dari mobil.
Setelah Charles melihat Violet masuk ke dalam Kediaman Fernandez, dia baru menurunkan kaca jendela dan berkata kepada William, "Ayo pergi."
"Kamu masih tahu kita harus pergi, ya. Apa kamu lupa kita ada janji dengan Jeffry pada jam 12?"
William melihat waktu, kemudian berkata, "Kita sudah terlambat!"
"Biarkan dia menunggu." Charles berkata dengan sinis, "Kalau anak berengsek itu gagal mengeluarkan barang, aku akan memotong tangannya."
Violet baru membuka pintu dan dia sudah merasakan ada yang tidak beres.
Bu Martha tahu kalau Violet takut gelap, jadi Bu Martha akan menyalakan lampu ruang tamu untuk Violet. Namun, pada saat ini, ruang tamu malah gelap gulita.
"Romeo? Apa kamu sudah pulang?"
Violet menunggu, tapi tidak ada yang menyahutnya.
Violet menyadari ada yang aneh, jadi dia bersiap-siap untuk pergi. Tiba-tiba, sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang.
"Dasar wanita jalang! Ini gara-gara kamu! Aku jadi nggak punya uang!"
Violet ingin meronta, tapi lawannya terlalu kuat.
Violet meronta sambil mengeluarkan korek api dari tasnya, kemudian dia membakar pergelangan tangan pria itu.
Pria itu menjerit kesakitan, setelah itu dia mundur beberapa langkah. Violet pun bergegas berlari ke luar.
Romeo! Romeo!
Di dalam hati, Violet terus-menerus memanggil nama itu.
Dia berlari sambil mengambil ponselnya, kemudian dia menelepon Romeo.
"Halo?"
"Romeo! Di mana kamu? Cepat pulang! Di rumah ada ...."
Sebelum Violet sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya jatuh.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan Violet. Lampu mobil menyilaukan mata Violet sehingga dia tidak bisa membuka mata.
Romeo yang berada di ujung telepon mengernyit. "Violet?"
"Kalau kamu ingin menyelamatkan istrimu, serahkan 20 triliun sebagai imbalan!"
Mata Romeo langsung menjadi menyeramkan dan teleponnya sudah dimatikan.
"Tuan Romeo, apa yang terjadi?"
Evelyn yang berada di sebelah menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata Romeo.
Romeo menggertakkan giginya dan berkata, "Pulang ke rumah."
Sopir tercengang. "Tapi, Tuan Romeo, kita hampir sampai di gedung asrama."
"Aku menyuruhmu pulang!"
"Baik, Tuan Romeo!"
Evelyn tidak pernah melihat Romeo sepanik ini.
"Sesuatu telah terjadi pada Violet."
"Kak Violet? Apa yang terjadi dengan Kak Violet?"
Romeo tidak punya waktu untuk menghiraukan Evelyn. Tadi dia merasa suara itu terdengar familier, tapi dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah mendengar suara itu.
Di tengah malam yang gelap, William sudah memarkir mobilnya di luar pabrik mobil yang terlantar.
Charles turun dari mobil, tapi dia melihat Jeffry Julius dan yang lainnya belum sampai.
William menggerutu, "Sialan. Berani-beraninya Jeffry datang lebih telat daripada kita. Sepertinya dia sudah bosan hidup."
Charles menyalakan sebatang rokok. Kemudian, sebuah mobil van muncul dari kejauhan.
Jeffry bahkan merangkak keluar dari mobil.
"Tuan Charles! Tuan William! Ta ... Tadi saya ada urusan, jadi saya terlambat."
Senyuman Jeffry bergetar.
"Di mana uangku?" tanya William.
"Tuan William, Tuan Charles, biarkan saya menjelaskan. Ini semua gara-gara seorang wanita jalang! Tadi saya sudah mengutus orang untuk pergi menculiknya, makanya aku telat. Tuan Charles ...."
William berkata dengan kesal, "Tunggu, tunggu. Siapa yang bertanya? Aku hanya ingin barang kami."
"Ba ... barang itu telah dibeli seorang wanita jalang! Tapi, nggak apa-apa. Suaminya kaya. Saya sudah menyuruh orang menelepon suaminya dan meminta 20 triliun kalau dia mau menyelamatkan istrinya. Uang itu jauh lebih berharga daripada tanah itu!"
Charles berkata dengan sinis, "Kalau begitu, cepat. Waktuku berharga."
"Anda tenang saja! Saya sudah bilang kepada Romeo Fernandez kalau dalam satu jam dia nggak memberikan saya 20 triliun, saya akan membunuh istrinya!"
Charles langsung membelalakkan matanya. Dia melangkah maju, kemudian menarik kerah baju Jeffry. Suaranya sangat mengerikan ketika dia berkata, "Siapa katamu?"
"Ro ... Romeo Fernandez ...."
Jeffry gemetar ketakutan karena Charles.
Suara Charles menjadi makin sinis. "Siapa yang telah kamu culik?"
"Nona Muda Keluarga Gloria, Violet Gloria! Dia adalah istrinya Romeo Fernandez! Ini gara-gara dia merampas tanah yang harga awalnya baru beberapa triliun, makanya aku ...."
Tanpa menunggu Jeffry selesai bicara, Charles menendang dada Jeffry sehingga Jeffry terhempas ke belakang.
Nada Charles terdengar sangat berbahaya saat dia bertanya, "Di mana dia?"