Bab 1
"Alat pacu jantung! Cepat! Tingkatkan tegangan listriknya!"
"Dokter! Pasien mengalami pendarahan hebat! Darah tipe A baru saja diambil dari bank darah!"
Seluruh tangan perawat magang itu berlumuran darah. Dia bahkan gemetaran saat berbicara.
Bau darah memenuhi ruang operasi.
Dia tidak pernah melihat darah sebanyak ini.
Pada saat ini, sebuah pikiran terlintas di benaknya.
Siapa yang mengambil darah tipe A dari bank darah?
Wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit ini memiliki wajah pucat dan bibir kering. Penglihatannya pun mulai kabur. "Romeo ...."
"Apa?"
"Romeo ...."
Kali ini perawat magang itu mendengarnya. Nama yang dipanggil oleh wanita lemah ini adalah Romeo Fernandez.
Romeo adalah presiden bisnis paling berkuasa di Kota Poseidon.
Dokter itu hampir pingsan. Dia salah menekan nomor tiga kali sebelum akhirnya dia menelepon nomor yang benar. Dia segera berkata kepada orang di ujung telepon, "Tuan Romeo, Nyonya mengalami pendarahan hebat. Tapi, darah di bank darah telah diambil pergi. Saya memohon pada Anda! Datang dan temuilah Nyonya untuk terakhir kalinya!"
Nada pria di ujung telepon terdengar sangat kejam dan cuek. "Dia belum mati? Telepon aku setelah dia benar-benar mati."
Tut .... Tut ....
Teleponnya pun dimatikan.
Tiba-tiba, mata wanita di ranjang rumah sakit ini kehilangan semua cahaya.
'Romeo, apa kamu begitu membenciku?'
'Bahkan saat ini, kamu nggak mau melihatku?'
Terdengar bunyi bip datar dan dingin dari mesin. Tanda-tanda vital pasien sudah sepenuhnya tiada.
Samar-samar, Violet merasa jiwanya meninggalkan tubuhnya.
Sebuah tubuh yang kurus kering, pucat dan lemah berbaring di ranjang rumah sakit. Violet merasa sangat lelah. Dia baru berumur 27 tahun, tapi dia meninggal di rumah sakit karena pendarahan hebat yang disebabkan oleh persalinan sulit.
Saat dia masih hidup, dia sangat mencintai Romeo. Sebagai satu-satunya anak perempuan di Keluarga Gloria, seharusnya Violet mempunyai kehidupan terbaik.
Namun, untuk menikah dengan Romeo, dia mengorbankan kedudukannya di Keluarga Gloria.
Pada akhirnya, dia berakhir dengan tragis.
Violet perlahan-lahan memejamkan matanya.
Kalau dia mempunyai kesempatan untuk mengulangi kehidupannya lagi, dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
"Nyonya, malam ini Tuan mau mengajak Anda pergi ke pelelangan bersama. Pakaian mana yang Anda ingin pakai?"
Dia mendengar suara Bu Martha.
Violet tersentak.
Pemandangan di depan matanya terlihat sangat familier. Ini adalah rumah pernikahannya dengan Romeo!
Sebulan setelah dia menikah dengan Romeo, dia bisa menghitung dengan jari seberapa banyak Romeo menemuinya.
Dia mengingat ini adalah pertama kalinya Romeo mau menghadiri lelang tanah. Makanya, dia mengajak istrinya.
Namun, ini terjadi lima tahun yang lalu. Kenapa ...?
Jangan-jangan ... dia terlahir kembali?
"Nyonya, Tuan nggak pernah pulang dan tidur di sini. Jadi, Nyonya harus memanfaatkan kesempatan kali ini."
Bu Martha memilih sebuah gaun putih, lalu dia berkata, "Bagaimana dengan gaun ini?"
Violet menundukkan kepalanya. Di dalam hati, dia tertawa.
Semua orang tahu wanita yang disukai Romeo adalah Evelyn Chika.
Dulu untuk menyenangkan Romeo, Violet sering belajar cara berpakaian Evelyn.
Evelyn suka mengenakan gaun putih, jadi dia ikut memakai gaun putih hanya agar bisa membuat Romeo menyukainya sedikit.
Namun, di pelelangan kali ini, Romeo tidak memberitahunya kalau dia mengganti pasangannya dan melainkan mengajak Evelyn. Romeo membuatnya terlihat bodoh karena dia mengenakan gaun putih yang sama dengan Evelyn.
Ketika Violet memikirkannya sekarang, itu benar-benar lucu.
"Nggak, aku pakai ini saja."
Violet memilih sebuah gaun yang berwarna merah cerah.
Dia memang tidak suka pakaian polos dan elegan. Lagi pula, Evelyn hanya seorang mahasiswi miskin. Dulu otaknya pasti rusak, makanya dia baru mengenakan pakaian murah demi seorang laki-laki.
Dia tidak hanya telah menurunkan derajatnya, tapi juga membiarkan orang memandang rendah dirinya.
Bu Martha berkata dengan dilema, "Tapi ... seharusnya Tuan lebih suka gaun putih ini ...."
Violet mengabaikan saran gila Bu Martha.
"Ini saja." Violet berkata dengan datar, "Buang semua gaun putihku. Aku nggak suka."
"Ini ...."
Perintah Violet membuat Bu Martha menghela napas. Pada akhirnya, dia melakukan seperti yang diperintahkan.
Violet melihat dirinya di kaca. Pada saat ini dia masih menawan, tapi beberapa tahun kemudian, dia disiksa Romeo sampai dia terlihat lesu.
Sebelum itu terjadi, dia ingin mengakhiri segalanya.
Pada malam hari, Violet mengenakan gaun potongan mermaid berwarna merah anggur yang menonjolkan bentuk tubuhnya dengan sempurna. Riasannya yang indah dipadukan dengan rambut ikal. Tahi lalat di bawah matanya membuatnya makin seksi. Dari jauh, dia terlihat seperti lukisan yang membuat orang tidak berani mendekatinya.
Tak jauh dari Violet, seorang pria yang mengenakan kemeja putih, sepatu kulit tinggi dan sedang memegang rokok melihatnya. Charles Griffin bertanya dengan lembut, "Siapa dia?"
"Kamu nggak tahu siapa dia? Itu Violet dari Keluarga Gloria, istri baru Romeo Fernandez." William Airlangga, si pria playboy, yang berdiri di sebelah Charles berkata dengan penuh semangat, "Tadi aku melihat Romeo si bangsat itu menggandeng wanita lain. Sepertinya nanti kita dapat melihat drama rumah tangga yang menarik! Aku bersemangat sekali!"
Namun, dia tidak mendengar sahabatnya menjawabnya.
William mendecakkan lidahnya sebelum berkata, "Tapi, aku nggak mengerti selera Romeo. Dia malah nggak mau wanita cantik seperti Violet dan bersikeras ingin bersama wanita yang kurus kering. Aneh, 'kan, Charles?"
Ketika William memalingkan wajahnya, ternyata dari tadi Charles sudah menghilang.
"Woi, Charles! Dasar anak sialan!"
William mengikuti Charles masuk ke pelelangan sambil menggerutu.
Di dalam, Evelyn yang memakai gaun putih memegang lengan Romeo dan berkata dengan takut-takut, "A ... aku nggak pernah menghadiri acara seperti ini. Bagaimana kalau aku pulang saja?"
Romeo berkata dengan datar, "Kamu harus pelan-pelan terbiasa. Di masa depan kamu akan sering menghadiri acara seperti ini."
Evelyn pun menganggukkan kepalanya.
Ketika Romeo hendak membawa Evelyn masuk ke pelelangan, Levi, asistennya, berkata, "Tuan Romeo, apa Anda nggak mau menunggu Nyonya?"
Romeo mengernyit dan berkata, "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memberitahunya kalau hari ini dia nggak usah datang?"
Levi melirik Evelyn, lalu Evelyn buru-buru berkata, "Jangan salahkan Kak Levi. Aku yang meminta Kak Levi nggak usah memberi tahu Kak Violet .... Aku takut identitasku akan membuat orang bergosip tentangmu, jadi ... Aku merasa lebih baik Kak Violet yang menemanimu ...."
Evelyn menundukkan kepalanya. Dia seperti kelinci yang ketakutan.
Romeo mengusap alisnya.
Saat ini dia benar-benar tidak mau Violet muncul.
"Tuan Romeo ...."
Evelyn menggigit bibirnya dan memanggil Romeo dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa. Ini bukan salahmu."
Romeo membelai kepala Evelyn, kemudian dia berkata kepada Levi, "Kamu berdiri di luar. Kalau kamu melihat Violet, segera bawa dia pulang."
Di dalam kerumunan, orang-orang tampak terkejut.
Levi menoleh dan dia juga ternganga. "Sepertinya sudah terlambat."
Bab 2
Romeo mengikuti arah pandangan Levi.
Di dalam kerumunan, gaun merah itu terlihat dengan sangat mencolok.
Violet mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur. Setiap gerak-gerik serta senyumannya seolah-olah mampu menyentuh hati orang-orang. Kamera media menyorot Violet dan untuk sesaat Violet seperti bintang populer yang sedang berjalan di karpet merah.
Violet?
Beberapa saat kemudian, Romeo baru sadar kalau itu Violet.
Dulu Violet selalu menyukai riasan tipis dan pakaian anggun. Ini pertama kalinya Romeo melihat Violet berdandan seperti ini.
Raut wajah Evelyn tampak masam. Ini pertama kalinya dia melihat Violet.
Dibandingkan dengan Violet yang menawan dan seksi, dia terlihat terlalu membosankan dan seperti siswa di bawah umur yang belum dewasa.
"Kak Violet ... sangat cantik."
Nada Evelyn terdengar agak iri.
Violet juga sudah melihat Romeo dan Evelyn. Dia pun langsung berjalan ke arah mereka.
Evelyn mengira Violet yang tidak tahu apa-apa akan merasa canggung ketika dia melihat Evelyn dan Romeo bergandengan tangan. Namun, Violet seakan-akan sudah tahu dan dia menyunggingkan seulas senyuman.
"Itu Nyonya Fernandez. Kalau begitu, siapa wanita yang digandeng Tuan Romeo?"
Seorang wartawan berbisik.
Violet melangkah maju dan meraih lengan Romeo, kemudian dia mengulurkan satu tangan ke arah Evelyn. Dia tersenyum sambil berkata, "Kamu Evelyn Chika yang dibilang Romeo, 'kan? Salam kenal, aku Violet Gloria. Kamu boleh memanggilku Nyonya Fernandez."
Evelyn melepaskan lengan Romeo dengan canggung sebelum menjabat tangan Violet.
"Salam kenal, Nyonya Fernandez."
Dia merasa tenggorokannya sakit ketika dia memanggil Nyonya Fernandez.
Violet berkata, "Aku mendengar dari Romeo kalau kamu adalah murid kurang mampu yang disponsorinya. Apa kamu ada rencana untuk belajar di luar negeri?"
Evelyn melirik Romeo.
Romeo berkata, "Evelyn sangat pintar dan tahun ini dia berencana untuk pergi ke luar negeri. Tapi, dia pemalu, makanya hari ini aku mengajaknya untuk melihat dunia."
Ya, kali ini dia hanya ingin membawa Evelyn untuk melihat dunia.
Romeo yang sekarang belum sepenuhnya menyukai Evelyn. Setelah Evelyn pulang dari luar negeri, Romeo baru benar-benar jatuh cinta padanya.
Meskipun begitu, sekarang, Romeo akan menghadiri semua acara besar dan kecil bersama Evelyn sampai semua orang Kota Poseidon tahu kalau Romeo menyukai seorang mahasiswi.
Akan tetapi, Violet yang sekarang sudah tidak peduli dengan semua itu.
Dia datang ke pelelangan ini bukan untuk berebutan Romeo dengan Evelyn. Dia memiliki tujuan yang lebih penting.
"Kalau begitu, Romeo, kamu jaga Nona Evelyn dengan baik. Aku masuk dulu."
Setelah itu, Violet melepaskan lengan Romeo.
Romeo tercengang.
Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Violet.
Ketika dia sadar, Violet sudah masuk ke tempat lelang.
Alis Romeo pun berkerut.
Sejak kapan Violet yang selalu bertingkah menjadi begini tenang?
Violet duduk di pojok yang tidak mencolok. Seluruh tempat lelang dipenuhi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Kota Poseidon.
Kalau dia tidak salah ingat, pada pelelangan ini ada sebidang tanah terbengkalai yang tidak diinginkan oleh siapa pun dan dibeli oleh seorang pengusaha kecil. Kemudian, sebidang tanah itu menjadi berharga karena disekitarnya terdapat real estat kelas atas. Dapat dikatakan bahwa setiap inci tanah bernilai banyak uang.
Itu juga membuat pengusaha kecil yang tidak dikenal itu menjelma menjadi pengusaha sukses.
Karena dia sudah berencana untuk meninggalkan Romeo, dia harus mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.
Setelah Romeo dan Evelyn duduk, Romeo melihat sekeliling untuk mencari Violet. Lalu, Evelyn yang berada di sebelahnya bertanya, "Tuan Romeo, apa nanti kamu sungguh ingin aku yang mengangkat papan?"
Suara Evelyn membuat Romeo kembali fokus padanya. Romeo berkata, "Ya. Aku percaya pada pandanganmu."
Pipi Evelyn merona merah.
Dia sudah lama belajar keuangan di universitas hanya untuk hari ini.
Violet yang berada di lantai dua melihat Romeo dan Evelyn berbicara dengan senang, kemudian dia mengalihkan pandangannya.
Evelyn memang punya kemampuan. Ini juga salah satu alasan kenapa nanti Romeo terpikat dengan Evelyn.
Di kehidupan sebelumnya, Evelyn telah membeli sebidang tanah berkualitas tinggi untuk Romeo. Semenjak itu, pandangan Romeo terhadap Evelyn berubah.
Namun, sebenarnya, dari awal tanah itu memang tidak buruk, ada properti Grup Fernandez juga di dekatnya. Jadi, Evelyn mengambil uang Romeo dan menaikkan harganya tanpa ragu. Karena itu, nilai properti Grup Fernandez di sekitar tanah itu juga meningkat. Apa pun yang terjadi, Romeo tidak akan rugi.
Dan kalaupun tidak ada Evelyn, Grup Fernandez tetap akan membeli tanah itu.
Benar saja, pelelangan baru dimulai dan Evelyn sudah mulai mengangkat papannya.
Tiga bidang tanah berkualitas tinggi pertama dimenangkan oleh Evelyn.
Romeo duduk di samping Evelyn seperti seorang pelindung.
"New Moon Poseidon, harga awalnya 2 triliun!"
"4 triliun."
Selama pelelangan, ini pertama kalinya Violet bersuara dan semua orang terkejut.
Romeo mengerutkan alisnya.
Kenapa wanita ini menggila?
Evelyn berbisik, "Tanah itu nggak begitu berharga. Kak Violet akan membayar 4 triliun dengan sia-sia."
Romeo mengeluarkan ponselnya, kemudian dia mengirim pesan teks kepada Violet. "Violet, sebenarnya ngapain kamu?"
Violet menundukkan kepalanya untuk melirik pesan teks di ponselnya sekilas. Kemudian, dia mengabaikannya.
"4 triliun, sekali ...."
"4 triliun, dua kali ...."
...
"Astaga. Violet gila, ya? Dia membeli tanah itu seharga 4 triliun?"
William yang berada di lantai dua terkejut.
"6 triliun."
Di sampingnya, Charles perlahan-lahan mengangkat papannya.
William hampir terjatuh dari kursinya.
William menggertakkan giginya dan berkata, "Charles, apa kamu juga sudah gila?"
Di seberang mereka, Violet mengerutkan alisnya. Dia ingin tahu orang gila mana yang ingin merebut tanah terlantar darinya. Begitu dia mengangkat kepalanya, matanya tertuju pada Charles Griffin yang ada di seberang.
Violet samar-samar mengingat kalau Charles berkecimpung dalam bisnis gelap. Kapan dia juga terlibat dalam pengembangan real estat?
"8 triliun!"
Violet meningkatkan harganya dengan tenang.
Alis Romeo makin berkerut. Dia mengetik, "Violet, diam!"
Kali ini Violet langsung mematikan ponselnya.
"10 triliun."
Provokasi Charles yang disengaja membuat Violet menggertakkan giginya dengan kuat.
Baiklah. Dia ingin bermain, 'kan?
Violet langsung berseru, "20 triliun!"
"Gila! Wanita ini benar-benar sudah gila!"
William tidak bisa berkata-kata.
Romeo yang berada di lantai satu berdiri. Dia yang selama ini diam saja juga tidak bisa memahami isi pikiran Violet.
Menurutnya, tanah ini bahkan tidak bernilai 2 triliun.
Namun, Violet ingin membelinya dengan harga 20 triliun?
Charles menatap tatapan Violet yang acuh tak acuh. Dia tersenyum, lalu mengangkat papannya.
"20 triliun, sekali ...."
"20 triliun, dua kali ...."
"20 triliun, tiga kali! Terjual!"
Seiring dengan suara palu, jantung Violet mencelus ke bawah.
Meskipun dia berhasil membeli tanah itu, dia harus membayar tambahan 16 triliun tanpa alasan.
Ini gara-gara Charles!
Violet memelototi Charles dari kejauhan.
William melihat Charles dan berkata, "Woi, woi. Violet sedang memelototimu. Kalau aku jadi dia, aku pasti ingin membunuhmu!"
Charles mengangkat alisnya. Dia seakan-akan tidak peduli.
Di lantai satu, Evelyn menarik-narik lengan jas Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, Kak Violet akan membuatmu rugi."
Romeo berkata dengan sinis, "Dia sendiri yang menawarkan harga itu, aku nggak akan membayarnya."
Bab 3
Karena drama kecil itu, Romeo hanya fokus pada Violet dan dia sama sekali tidak menghiraukan Evelyn.
Setelah pelelangan berakhir, Violet bersiap-siap untuk pergi. Namun, dia bertemu dengan Romeo dan Evelyn.
"Violet, kalau kamu nggak mengerti tentang properti, jangan membuat masalah."
Romeo sama sekali tidak segan-segan menegur Violet.
Evelyn juga berkata, "Ya, Kak Violet. Perbuatanmu sudah merugikan Grup Fernandez sebanyak 20 triliun."
Violet tertawa sebelum dia membalas, "Nona Evelyn sudah salah paham. Aku yang mau membeli tanah itu. Apa hubungannya dengan Grup Fernandez?"
Evelyn berkata, "Tapi, itu 20 triliun ...."
"Hanya 20 triliun. Itu angka kecil bagi kami, apalagi bagi Nona Violet."
Muncul suara William dari kejauhan. "Benar 'kan, Nona Violet?"
Violet melihat Charles yang berdiri di sebelah William, kemudian dia juga berkata dengan tenang, "Hanya 20 triliun. Itu cuman untuk bermain-main."
Dalam sekejap, ekspresi Evelyn menjadi masam.
Bagi Romeo, 20 triliun bukanlah apa-apa dan angkanya lebih kecil bagi Violet.
Wajah Evelyn memerah. Di hadapan orang-orang ini, dia hanya anak kecil.
Charles berkata dengan cuek, "Dengar-dengar Tuan Romeo sudah menikah. Kalau begitu, gadis ini adalah Nyonya Fernandez?"
Evelyn langsung tersipu. Dia buru-buru berkata, "Bukan, bukan ...."
"Ini istriku, Violet Gloria."
Romeo menarik Violet ke sisinya.
Violet ingin menepis tangan Romeo, tapi Romeo menggenggamnya dengan erat.
Dari tadi, dia merasa Charles terus menatap Violet.
Pria paling memahami pria. Dia langsung tahu apa isi pikiran Charles.
"Ternyata Nona Violet barulah Nyonya Fernandez. Astaga, dasar aku ini. Tadi di tempat lelang aku melihat Tuan Romeo dan gadis ini berbicara dengan senang, jadi aku mengira dia Nyonya Fernandez," ujar William sambil mengetuk kepalanya sendiri. "Kalau begitu, gadis ini pasti sekretarisnya Tuan Romeo. Pantas saja dari tadi dia mengangkat papan untuk Tuan Romeo."
Violet hampir tidak bisa menahan tawanya.
Meskipun dia sudah tidak peduli kepada Evelyn dan Romeo, dia masih diam-diam senang saat mendengar ucapan William.
Sedangkan wajah Evelyn yang berdiri di samping Romeo sudah memucat.
Melihat itu, Romeo pun memerintah, "Levi, antar Evelyn pulang."
"Baik, Tuan Romeo."
William tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, kami juga nggak akan mengganggu kalian lagi. Sampai jumpa."
Setelah William dan Charles pergi, Violet baru menepis tangan Romeo. "Cukup."
Romeo tidak menyangka Violet akan menepis tangannya.
Dulu Violet ingin sekali menyentuhnya dan bahkan pernah mengikutinya untuk beberapa waktu.
Malam ini Violet sangat berbeda.
Pada akhirnya, Romeo berkata dengan sinis, "Kalau ini hanya untuk menarik perhatianku, kamu nggak perlu seperti ini."
Violet tidak bisa berkata-kata.
Dia ingin melawan, tapi dia tidak bisa membuka mulutnya.
Bagaimanapun juga, berdasarkan dulu ketika dia masih peduli pada Romeo, dia benar-benar mungkin akan melakukan ini untuk menarik perhatian Romeo.
Namun, masalahnya adalah sekarang dia sudah tidak peduli!
Violet yang merasa jengkel hanya berkata, "Terserahmu."
"Tunggu."
"Apa?"
"Apa hubunganmu dengan Charles Griffin?"
"Nggak ada apa-apa. Aku bahkan nggak mengenalnya."
Lalu, Romeo berkata dengan sinis, "Violet, kamu harus ingat ini. Aku nggak peduli apa hubunganmu dengannya. Tapi, di luar kamu adalah Nyonya Fernandez. Sebaiknya kamu menjaga identitasmu dan menjaga jarak dengan pria lain."
Violet tertawa ketika dia mendengar kata-kata Romeo. "Romeo, sebelum kamu meminta pada orang lain, bisakah kamu sendiri melakukannya dulu? Hari ini kamu mengajak Evelyn kemari, adakah kamu peduli pada identitasmu dan harga diriku?"
"Hari ini aku ada meminta Levi untuk mengabarimu."
"Apa ada? Kamu memintanya untuk memberitahuku kalau aku nggak usah datang, 'kan?
Romeo terdiam.
Ini memang salahnya.
Violet berkata, "Bahkan orang luar seperti Charles salah mengenali Nyonya Fernandez, apalagi orang lain. Kalau kamu sangat menyukai Evelyn, kita bercerai saja."
"Violet, apa kamu sudah gila?"
Romeo mengerutkan alisnya.
Meskipun dia tidak menyukai Violet, itu bukan berarti dia mau bercerai dengan Violet.
Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan bisnis. Mereka tidak bisa bercerai sesuka hati mereka.
Violet memperhatikan ekspresi tegas Romeo. Dia tahu sekarang Romeo tidak punya niat untuk bercerai, tapi itu karena dia dari Keluarga Gloria.
Beberapa tahun kemudian, setelah dia tidak berharga, dia akan dibuang oleh Romeo seperti sampah.
Violet mengingat akhir tragis di kehidupan sebelumnya. Dari pada menunggu sampai waktu itu, lebih baik dia mengakhirinya sekarang juga.
"Aku bilang aku mau bercerai."
Keesokan harinya, berita tentang Violet menghabiskan 20 triliun untuk membeli tanah terlantar memenuhi semua platform besar.
Sebagai anak yatim piatu dari Keluarga Gloria, Violet memang memiliki semua aset Keluarga Gloria. Dua puluh triliun hanyalah jumlah kecil bagi kekayaan Keluarga Gloria.
Namun, masalahnya adalah bisnis Keluarga Gloria juga sedang beroperasi sehingga likuiditas yang tersedia tidak banyak.
Sebenarnya 20 triliun bukanlah nominal yang kecil.
Violet berbaring di tempat tidurnya dan mengusap alisnya.
Haruskah dia mencari Romeo?
Tidak boleh.
Setelah dia mengungkit tentang bercerai semalam, Romeo pergi tanpa menoleh.
Dia tidak mengerti. Dia sudah bersedia menyerahkan aset Keluarga Gloria kepada Romeo, tapi pria itu malah tidak mau bercerai dengannya.
Namun, selain Romeo, siapa lagi yang bisa dicari Violet?
Violet tiba-tiba bangkit dari tempat tidur.
Ada!
"Charles!"
Orang-orang kelas atas adalah sebuah kalangan. Setelah menggunakan sedikit koneksinya, Violet berhasil menemukan Charles.
Violet mengingat kekuatan Charles ada di luar negeri, tapi selama dua tahun ini entah kenapa Charles menetap di Kota Poseidon. Namun, Violet tahu kenapa. Dalam beberapa tahun ke depan, Charles akan menguasai bisnis Kota Poseidon dengan cepat dan bersaing dengan Romeo.
Di ruang rapat Grup Airlangga, Charles sedang memainkan korek api tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Violet langsung berkata, "Aku mau meminjam 16 triliun darimu."
"Pffttt!"
William menyemburkan teh yang di dalam mulutnya.
Dia pernah bertemu dengan orang yang terus terang, tapi tidak pernah bertemu dengan orang seterus terang ini!
"Nona Violet, kamu berbicara enteng sekali."
Violet mengedipkan matanya sebelum dia berkata, "Kemarin kamu bilang 20 triliun cuman angka kecil."
"Apa kamu nggak mengerti kalau aku hanya mau membantumu? Aku sudah mengerti apa artinya dikasih hati minta jantung!"
William menggeleng-geleng kepalanya.
Semua wanita cantik memang agak sinting.
Charles menyalakan korek apinya sembari berkata, "Katakan dulu kenapa aku harus meminjamkanmu 16 triliun."
"Awalnya aku bisa membeli tanah New Moon dengan harga 4 triliun. Gara-gara Tuan Charles ikut campur, aku terpaksa menghabiskan 16 triliun lagi dengan sia-sia."
"Alasanmu nggak cukup bagus."
Violet diam untuk beberapa detik, lalu dia berkata, "Semua bisnis Tuan Charles ada di luar negeri. Tapi, dalam dua tahun terakhir ini, kamu sering muncul di Kota Poseidon. Aku menebak kamu ingin memindahkan bisnis gelapmu di luar negeri ke Kota Poseidon. Aku benar, 'kan?"
William yang hendak meminum tehnya berhenti bergerak, lalu dia tanpa sadar melihat Charles.
Nona Muda Keluarga Gloria paham tentang hal ini? Dia tidak pernah mendengarnya.