Bab 3
Karena drama kecil itu, Romeo hanya fokus pada Violet dan dia sama sekali tidak menghiraukan Evelyn.
Setelah pelelangan berakhir, Violet bersiap-siap untuk pergi. Namun, dia bertemu dengan Romeo dan Evelyn.
"Violet, kalau kamu nggak mengerti tentang properti, jangan membuat masalah."
Romeo sama sekali tidak segan-segan menegur Violet.
Evelyn juga berkata, "Ya, Kak Violet. Perbuatanmu sudah merugikan Grup Fernandez sebanyak 20 triliun."
Violet tertawa sebelum dia membalas, "Nona Evelyn sudah salah paham. Aku yang mau membeli tanah itu. Apa hubungannya dengan Grup Fernandez?"
Evelyn berkata, "Tapi, itu 20 triliun ...."
"Hanya 20 triliun. Itu angka kecil bagi kami, apalagi bagi Nona Violet."
Muncul suara William dari kejauhan. "Benar 'kan, Nona Violet?"
Violet melihat Charles yang berdiri di sebelah William, kemudian dia juga berkata dengan tenang, "Hanya 20 triliun. Itu cuman untuk bermain-main."
Dalam sekejap, ekspresi Evelyn menjadi masam.
Bagi Romeo, 20 triliun bukanlah apa-apa dan angkanya lebih kecil bagi Violet.
Wajah Evelyn memerah. Di hadapan orang-orang ini, dia hanya anak kecil.
Charles berkata dengan cuek, "Dengar-dengar Tuan Romeo sudah menikah. Kalau begitu, gadis ini adalah Nyonya Fernandez?"
Evelyn langsung tersipu. Dia buru-buru berkata, "Bukan, bukan ...."
"Ini istriku, Violet Gloria."
Romeo menarik Violet ke sisinya.
Violet ingin menepis tangan Romeo, tapi Romeo menggenggamnya dengan erat.
Dari tadi, dia merasa Charles terus menatap Violet.
Pria paling memahami pria. Dia langsung tahu apa isi pikiran Charles.
"Ternyata Nona Violet barulah Nyonya Fernandez. Astaga, dasar aku ini. Tadi di tempat lelang aku melihat Tuan Romeo dan gadis ini berbicara dengan senang, jadi aku mengira dia Nyonya Fernandez," ujar William sambil mengetuk kepalanya sendiri. "Kalau begitu, gadis ini pasti sekretarisnya Tuan Romeo. Pantas saja dari tadi dia mengangkat papan untuk Tuan Romeo."
Violet hampir tidak bisa menahan tawanya.
Meskipun dia sudah tidak peduli kepada Evelyn dan Romeo, dia masih diam-diam senang saat mendengar ucapan William.
Sedangkan wajah Evelyn yang berdiri di samping Romeo sudah memucat.
Melihat itu, Romeo pun memerintah, "Levi, antar Evelyn pulang."
"Baik, Tuan Romeo."
William tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, kami juga nggak akan mengganggu kalian lagi. Sampai jumpa."
Setelah William dan Charles pergi, Violet baru menepis tangan Romeo. "Cukup."
Romeo tidak menyangka Violet akan menepis tangannya.
Dulu Violet ingin sekali menyentuhnya dan bahkan pernah mengikutinya untuk beberapa waktu.
Malam ini Violet sangat berbeda.
Pada akhirnya, Romeo berkata dengan sinis, "Kalau ini hanya untuk menarik perhatianku, kamu nggak perlu seperti ini."
Violet tidak bisa berkata-kata.
Dia ingin melawan, tapi dia tidak bisa membuka mulutnya.
Bagaimanapun juga, berdasarkan dulu ketika dia masih peduli pada Romeo, dia benar-benar mungkin akan melakukan ini untuk menarik perhatian Romeo.
Namun, masalahnya adalah sekarang dia sudah tidak peduli!
Violet yang merasa jengkel hanya berkata, "Terserahmu."
"Tunggu."
"Apa?"
"Apa hubunganmu dengan Charles Griffin?"
"Nggak ada apa-apa. Aku bahkan nggak mengenalnya."
Lalu, Romeo berkata dengan sinis, "Violet, kamu harus ingat ini. Aku nggak peduli apa hubunganmu dengannya. Tapi, di luar kamu adalah Nyonya Fernandez. Sebaiknya kamu menjaga identitasmu dan menjaga jarak dengan pria lain."
Violet tertawa ketika dia mendengar kata-kata Romeo. "Romeo, sebelum kamu meminta pada orang lain, bisakah kamu sendiri melakukannya dulu? Hari ini kamu mengajak Evelyn kemari, adakah kamu peduli pada identitasmu dan harga diriku?"
"Hari ini aku ada meminta Levi untuk mengabarimu."
"Apa ada? Kamu memintanya untuk memberitahuku kalau aku nggak usah datang, 'kan?
Romeo terdiam.
Ini memang salahnya.
Violet berkata, "Bahkan orang luar seperti Charles salah mengenali Nyonya Fernandez, apalagi orang lain. Kalau kamu sangat menyukai Evelyn, kita bercerai saja."
"Violet, apa kamu sudah gila?"
Romeo mengerutkan alisnya.
Meskipun dia tidak menyukai Violet, itu bukan berarti dia mau bercerai dengan Violet.
Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan bisnis. Mereka tidak bisa bercerai sesuka hati mereka.
Violet memperhatikan ekspresi tegas Romeo. Dia tahu sekarang Romeo tidak punya niat untuk bercerai, tapi itu karena dia dari Keluarga Gloria.
Beberapa tahun kemudian, setelah dia tidak berharga, dia akan dibuang oleh Romeo seperti sampah.
Violet mengingat akhir tragis di kehidupan sebelumnya. Dari pada menunggu sampai waktu itu, lebih baik dia mengakhirinya sekarang juga.
"Aku bilang aku mau bercerai."
Keesokan harinya, berita tentang Violet menghabiskan 20 triliun untuk membeli tanah terlantar memenuhi semua platform besar.
Sebagai anak yatim piatu dari Keluarga Gloria, Violet memang memiliki semua aset Keluarga Gloria. Dua puluh triliun hanyalah jumlah kecil bagi kekayaan Keluarga Gloria.
Namun, masalahnya adalah bisnis Keluarga Gloria juga sedang beroperasi sehingga likuiditas yang tersedia tidak banyak.
Sebenarnya 20 triliun bukanlah nominal yang kecil.
Violet berbaring di tempat tidurnya dan mengusap alisnya.
Haruskah dia mencari Romeo?
Tidak boleh.
Setelah dia mengungkit tentang bercerai semalam, Romeo pergi tanpa menoleh.
Dia tidak mengerti. Dia sudah bersedia menyerahkan aset Keluarga Gloria kepada Romeo, tapi pria itu malah tidak mau bercerai dengannya.
Namun, selain Romeo, siapa lagi yang bisa dicari Violet?
Violet tiba-tiba bangkit dari tempat tidur.
Ada!
"Charles!"
Orang-orang kelas atas adalah sebuah kalangan. Setelah menggunakan sedikit koneksinya, Violet berhasil menemukan Charles.
Violet mengingat kekuatan Charles ada di luar negeri, tapi selama dua tahun ini entah kenapa Charles menetap di Kota Poseidon. Namun, Violet tahu kenapa. Dalam beberapa tahun ke depan, Charles akan menguasai bisnis Kota Poseidon dengan cepat dan bersaing dengan Romeo.
Di ruang rapat Grup Airlangga, Charles sedang memainkan korek api tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Violet langsung berkata, "Aku mau meminjam 16 triliun darimu."
"Pffttt!"
William menyemburkan teh yang di dalam mulutnya.
Dia pernah bertemu dengan orang yang terus terang, tapi tidak pernah bertemu dengan orang seterus terang ini!
"Nona Violet, kamu berbicara enteng sekali."
Violet mengedipkan matanya sebelum dia berkata, "Kemarin kamu bilang 20 triliun cuman angka kecil."
"Apa kamu nggak mengerti kalau aku hanya mau membantumu? Aku sudah mengerti apa artinya dikasih hati minta jantung!"
William menggeleng-geleng kepalanya.
Semua wanita cantik memang agak sinting.
Charles menyalakan korek apinya sembari berkata, "Katakan dulu kenapa aku harus meminjamkanmu 16 triliun."
"Awalnya aku bisa membeli tanah New Moon dengan harga 4 triliun. Gara-gara Tuan Charles ikut campur, aku terpaksa menghabiskan 16 triliun lagi dengan sia-sia."
"Alasanmu nggak cukup bagus."
Violet diam untuk beberapa detik, lalu dia berkata, "Semua bisnis Tuan Charles ada di luar negeri. Tapi, dalam dua tahun terakhir ini, kamu sering muncul di Kota Poseidon. Aku menebak kamu ingin memindahkan bisnis gelapmu di luar negeri ke Kota Poseidon. Aku benar, 'kan?"
William yang hendak meminum tehnya berhenti bergerak, lalu dia tanpa sadar melihat Charles.
Nona Muda Keluarga Gloria paham tentang hal ini? Dia tidak pernah mendengarnya.
Bab 4
Dalam sekejap, ruangan menjadi hening. Beberapa detik kemudian, Charles tersenyum dan berkata, "Nyonya Fernandez, nggak boleh memfitnah orang baik, loh."
"Benar. Kita semua adalah pengusaha yang bersih," ucap William dengan serius kepada Violet.
"Apa kalian adalah pengusaha yang bers atau bukan, itu bukan tergantungku. Tapi, aku merasa seharusnya Romeo tertarik."
Violet berkata dengan tenang, "Aku hanyalah nona muda yang nggak tahu apa-apa, tapi Romeo berbeda. Kalau aku memberi tahu apa yang barusan kukatakan kepada Romeo, apa itu akan menarik perhatiannya?"
"Kamu terlalu licik!"
William tidak bisa menahan amarahnya.
Violet menatap Charles dengan serius dan berkata, "Aku nggak akan bertele-tele. Pinjamkan aku 16 triliun dan aku akan mengembalikan uangmu serta bunganya dalam tiga tahun."
William membelalakkan matanya. "Yang benar saja? Apa kamu tahu berapa bunga 16 triliun tiga tahun kemudian? Kalau kamu nggak bisa mengembalikannya, kami rugi 16 triliun. Kamu adalah istrinya Romeo, nanti apa kami bisa melakukan apa-apa padamu?"
"Aku tahu berapa bunganya. Aku bisa menandatangani kontrak dengan kalian. Kalau aku nggak bisa mengembalikannya, aku akan memberikan kalian rumah dan saham yang atas namaku. Aku juga akan bekerja untuk kalian dan melakukan apa pun yang kalian mau selamanya."
Violet bimbang sejenak sebelum dia berkata, "Dan seharusnya pernikahanku dengan Romeo nggak akan bertahan sampai tiga tahun. Meskipun tiga tahun kemudian aku masih istrinya, dia juga nggak akan melindungiku."
Saat mendengar itu, Charles mengangkat kepalanya dan menatap Violet selama beberapa detik.
Telinga William juga menjadi tegak.
Sepertinya tadi dia baru mendengar bahan gosip.
Namun, William segera memfokuskan pikirannya. "Begitu juga nggak bisa! Aku nggak setuju!"
Setelah itu, dia mendengar suara tenang dari sebelahnya yang berkata, "Baik, aku akan meminjamkan uang padamu."
"Apa?!" William langsung berdiri dari kursinya. "Kenapa kamu juga menggila?!"
"Aku akan meminta departemen keuangan mengirim uang padamu. Setelah itu, kita akan membahas kontrak."
"Charles, kamu gila!"
William melompat-lompat.
"Terima kasih, Tuan Charles."
Violet berdiri, kemudian berkata, "Kalau begitu, aku akan menunggu kabarmu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
Violet tersenyum, kemudian dia pergi.
Setelah Violet pergi, William baru menggertakkan giginya sambil berkata, "Dia terlihat senang sekali. 16 triliun! Apa kamu baru membentur kepalamu ke dinding? Dia adalah istrinya Romeo. Ngapain kamu meminjamkannya uang?"
Charles tersenyum dan berkata, "Dia cantik."
"Sialan! Kenapa kamu malah mau merayu wanita! Aku yang meminjamkannya uang?"
Charles berdiri, kemudian dia menempelkan sebuah kartu bank di dada William. "Tentu saja aku yang mengeluarkan mahar kepada wanita yang kusuka."
"Apa? Mahar? Dia istrinya Romeo. Kamu mau memberikan mahar kepada siapa?"
Charles mengabaikan William dan keluar dari kantor.
"Orang gila! Kalian semua gila!"
Violet baru saja melewati pintu besar Kediaman Fernandez, kemudian dia melihat Romeo sedang duduk di ruang tamu.
Violet mengerutkan alisnya.
Dulu, dia bisa menghitung dengan jari berapa kali Romeo berada di rumah.
Sejak kapan pria itu menjadi orang yang bisa pulang ke rumah?
Violet menganggap Romeo pulang hanya untuk duduk-duduk, jadi dia menuju ke tangga.
Tiba-tiba, Romeo memanggil, "Violet."
Violet pun berhenti berjalan.
"Apa?"
Romeo tidak terbiasa menghadapi Violet yang cuek. Dia berkata dengan kesal, "Orang dari pelelangan datang untuk meminta uang."
"Aku tahu."
Romeo menghela napas sebelum berkata, "Kalau kamu nggak punya uang sebanyak itu, kamu bisa memberitahuku."
Violet berkata dengan sinis, "Nggak usah. Aku sudah menanganinya."
"Dari mana kamu mendapatkan uangnya?"
Dua puluh triliun bukanlah nominal kecil. Dia memahami harta Keluarga Gloria yang dimiliki Violet.
Violet tidak mungkin bisa langsung mengambil uang sebanyak itu.
"Itu urusanku sendiri. Kamu nggak usah banyak bertanya."
"Violet, jangan lupa kalau aku adalah suamimu."
Violet tertawa.
Suami?
Romeo memang tidak tahu malu. Pada saat ini, Romeo masih mengingat kalau dia adalah suaminya?
"Kamu gelisah cuman karena kamu takut aku rugi 20 triliun dan merepotkan Keluarga Fernandez."
Romeo terdiam.
Reaksi Romeo membuat Violet tahu kalau tebakannya benar.
Violet berkata dengan datar, "Tenang saja, aku nggak akan merepotkan Keluarga Fernandez. Aku tahu pernikahan kita sebatas pernikahan bisnis. Kita ini senasib. Sekarang kamu juga nggak perlu pulang ke rumah tiga kali sehari."
Romeo tidak bisa berkata-kata.
Dulu dia memang berpikir seperti itu. Jadi, setelah mereka menikah, dia sangat cuek terhadap Violet. Dia bahkan tidak pernah menyentuh Violet sekalipun.
Namun, ketika dia mendengar kata-kata Violet, dia tiba-tiba merasa dirinya memang sudah keterlaluan.
Romeo baru hendak mengatakan sesuatu, tapi ponsel Violet tiba-tiba menerima sebuah pesan teks.
Dia tidak menyangka Charles akan bertindak begini cepat.
Dalam satu jam, 16 triliun sudah masuk ke dalam rekeningnya.
Karena masalahnya sudah selesai, Violet pun tersenyum.
Romeo memanyunkan bibirnya. Dia mendadak mengingat dulu Violet selalu mengikutinya dan tersenyum seperti itu, tapi dia selalu mengabaikan Violet.
"Malam ini ada pesta. Kamu ikut aku pergi menghadirinya."
"Aku?"
Violet yang hendak naik ke atas mengerutkan keningnya.
Romeo balik bertanya, "Kamu nggak mau?"
"Kenapa kamu nggak mengajak Evelyn?"
Violet merasa curiga.
Dia mengingat dulu Romeo selalu mengajak Evelyn ke pesta malam.
Kalau dia tidak salah ingat, acara malam ini adalah pesta internasional. Dulu, dia mengotot ingin pergi, tapi Romeo tetap membawa Evelyn. Acara ini juga yang secara tidak langsung membuka jalan bagi Evelyn untuk kembali dari luar negeri di masa depan.
Kenapa Romeo tiba-tiba mau mengajaknya ke acara sepenting ini?
"Kamu barulah Nyonya Fernandez. Tentu saja aku harus mengajakmu ke acara seperti ini."
Violet tidak memercayainya. Dia menganggap Evelyn tiba-tiba ada urusan, makanya Romeo baru mengingatnya.
Violet juga harus sering pergi ke acara seperti ini. Karena dia ingin memulai bisnisnya sendiri, dia perlu membuat lebih banyak koneksi.
"Baiklah. Aku pergi bersiap-siap dulu."
Melihat Violet menyetujuinya, Romeo pun menghela napas lega.
Setidaknya Violet masih bersedia untuk menjadi Nyonya Fernandez.
Mungkin Violet belum sepenuhnya kecewa padanya.
Pada saat yang sama di asrama, Evelyn sedang menggantung gaun yang diantar sekretarisnya Romeo.
Teman-teman sekamarnya pun memandang Evelyn dengan iri.
"Evelyn, pacarmu baik sekali padamu. Dia memberikanmu gaun yang begitu cantik."
Pipi Evelyn merona merah.
"Evelyn, kapan kamu bisa memperkenalkan pacarmu kepada kami?"
"Ya, ya. Pacarmu kaya sekali. Dia juga selalu mengajakmu ke berbagai acara malam. Kami sangat penasaran!"
Evelyn menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Perusahaannya sangat sibuk dan dia nggak bisa meninggalkannya. Nanti kalau ada kesempatan, aku baru akan memperkenalkannya kepada kalian."
Pada saat ini, ponsel Evelyn berdering.
Evelyn melihat penelepon adalah sekretarisnya Romeo, kemudian dia mengangkat telepon dengan senang.
"Kak Levi, Tuan Romeo memintamu datang untuk menjemputku, ya? Aku akan turun sekarang juga."
"Nona Evelyn, Tuan Romeo bilang kamu nggak usah pergi hari ini."
Bab 5
Senyuman di wajah Evelyn langsung menjadi tegang.
"Kenapa?"
"Malam ini Tuan Romeo mau membawa Nyonya Fernandez, jadi Nona Evelyn nggak usah ikut."
Evelyn memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Ternyata dia membawa Nyonya Fernandez, ya .... Syukurlah. Aku memang nggak mau pergi ...."
"Itu bagus."
Evelyn mencengkeram ponselnya yang sudah mati dan menggigit bibirnya.
Teman-teman sekamarnya yang di belakang saling bertatapan.
"Evelyn, pacarmu nggak membatalkan janjinya denganmu, 'kan?"
"Dengar-dengar acara malam ini adalah pesta internasional. Bukankah kamu bilang pacarmu mengadakan pesta ini khusus untuk mengajakmu bertemu dengan beberapa pengusaha asing?"
Evelyn memaksakan seulas senyuman ketika dia melihat beberapa tatapan curiga itu. "Dia punya satu tamu penting yang harus diajaknya. Aku nggak mau merepotkannya."
Evelyn menundukkan kepalanya untuk melihat gaun yang sedang dia pegang dan ekspresinya terlihat sedikit masam.
Selama ini Romeo tidak menyukai Violet, kenapa dia tiba-tiba ....
Evelyn meremas gaunnya.
Dia sudah lama menantikan acara malam ini, jadi dia tidak akan menyerah dengan mudah.
...
Saat langit mulai menggelap, Romeo meminta sekretarisnya mengantarkan gaun hitam yang cantik dan mewah kepada Violet.
Romeo sudah menunggu cukup lama di bawah, lalu dia melihat Violet perlahan-lahan turun dari lantai dua.
Walaupun dia sudah melihat penampilan Violet ketika dia memakai gaun berwarna anggur merah kemarin, dia masih terpesona ketika dia melihat Violet memakai gaun hitam ini.
Dulu dia tidak pernah menyadari kalau Violet sangat cantik.
"Aku sudah selesai."
Violet mendongak. Romeo memanyunkan bibirnya sebelum berkata, "Aku akan meminta Levi memajukan mobil."
Violet tidak peduli. Saat dia membuka pintu, dia melihat Levi yang sedang menunggu di depan pintu.
Levi juga terkejut melihat Violet.
"Nyonya terlihat sangat cantik memakai gaun ini dan lebih cocok daripada Nona Evelyn."
Romeo melirik Levi sekilas ketika dia mengungkit nama Evelyn.
Levi menyadari kalau dia sudah salah bicara, jadi dia segera membungkam mulutnya.
"Nggak apa-apa."
Violet sama sekali tidak peduli, kemudian dia masuk ke dalam mobil.
Romeo baru melototi Levi dan berkata, "Kamu nggak dapat bonus bulan ini!"
Levi merasa sedih, tapi dia juga tidak berani berkata apa-apa.
Ini salah mulutnya.
Setelah mereka tiba di luar klub, Romeo membantu Violet turun dari mobil.
Semua orang melihat dengan kaget dan iri pada kedua orang itu.
"Siapa pasangan Tuan Romeo itu?"
"Sepertinya itu istrinya."
"Sepertinya dulu aku nggak pernah melihat Tuan Romeo dan istrinya datang ke acara bersama. Mereka berdua terlihat sangat serasi."
...
Romeo meraih tangan Violet.
Awalnya Violet ingin menarik kembali tangannya, tapi di sekitar ada banyak orang yang menatap. Jadi, dia terpaksa membiarkan Romeo.
Violet melihat sekeliling dan menangkap banyak sekali wajah yang pernah dia bertemu di kehidupan sebelumnya.
Romeo memang memiliki gengsi tertentu di dunia bisnis. Dia bahkan bisa menghadiri pesta internasional setingkat ini. Semua orang di sini adalah pengusaha papan atas, dermawan atau pengusaha sukses real estate di industri.
Dulu untuk menyenangkan Romeo, Violet sengaja banyak belajar tentang keuangan. Namun, pada akhirnya itu sia-sia.
Saat ini, suara kaca pecah menarik perhatian semua orang.
Seorang lelaki tua yang berpakaian seperti tukang kebun tidak sengaja memecahkan vas bunga mawar, jadi manajer klub memarahi lelaki tua itu.
Manajer itu berkata dengan arogan, "Dari mana orang tua ini muncul? Cepat seret dia keluar!"
"Tunggu."
Violet melangkah maju, kemudian mengambil bunga mawar di lantai. Duri pada mawar ini sudah tidak ada karena ia telah dipangkas orang dengan hati-hati. Tipe mawar ini juga sangat langka.
"Nyonya Fernandez, orang tua ini sudah merusak bunga yang disiapkan Pak Thomas untuk semua orang dan mengejutkan para tamu. Aku akan meminta orang untuk mengusirnya."
"Karena kakek ini sudah nggak sengaja memecahkannya, tolong siapkan yang baru."
Violet berkata, "Karena Pak Thomas sudah secara khusus menyiapkan mawar ini, sayang sekali kalau hanya dilihat. Bagaimana kalau membiarkan setiap tamu perempuan mengambil satu tangkai? Dengan begitu, kita bisa lebih merasakan niat baik Pak Thomas."
Semua orang mengangguk, kemudian manajer itu melambaikan tangannya kepada lelaki tua itu.
Romeo mendekat, lalu berbisik, "Ternyata kamu pandai mengontrol suasana."
Violet tidak merasa seperti itu. "Ini untuk membuat Pak Thomas senang."
Di luar klub, Evelyn yang mengenakan gaun hitam turun dari taksi.
Dia baru saja turun dari taksi, tapi dia sudah merasakan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
Evelyn tidak begitu memikirkannya dan ingin langsung masuk ke dalam klub.
Satpam yang berdiri di depan pintu melihat Evelyn dan taksi yang tadi dinaikinya, kemudian dia berkata, "Nona, apa Anda memiliki undangan?"
Evelyn yang hendak masuk tercengang.
Dia tidak tahu kalau acara seperti ini memerlukan undangan.
Dulu ketika dia bersama Romeo, dia boleh keluar masuk sesuka hatinya. Ini pertama kalinya dia ditahan oleh satpam di luar.
"Maaf, Nona. Anda nggak boleh masuk kalau Anda nggak punya undangan."
"Aku mencari Tuan Romeo. Aku adalah pasangannya."
Evelyn tampak panik dan satpam itu memperhatikan Evelyn dari atas ke bawah. Dia berkata, "Tuan dan Nyonya Fernandez sudah masuk. Anda ...."
Wajah Evelyn yang menyadari tatapan orang lain pun memerah.
Levi yang dari tadi berdiri di luar klub telah melihat Evelyn. Dia segera menghampiri mereka, lalu berkata, "Maaf, ini adalah karyawan perusahaan kami."
Satpam itu menganggukan kepalanya, kemudian dia baru melepaskan Evelyn.
Evelyn menghela napas lega, tapi Levi berkata dengan tegas, "Nona Evelyn, kenapa kamu berada di sini?"
"A ... aku datang untuk mencoba. Dulu Tuan Romeo selalu bilang aku terlalu pemalu. Beberapa bulan lagi, aku sudah mau pergi ke luar negeri. Jadi, aku ingin mencoba datang ke acara seperti ini. Kak Levi, apa kamu bisa membawaku masuk?"
Levi bimbang sejenak.
"Aku juga ingin pulang secepatnya agar aku bisa membantu Tuan Romeo. Kemarin Nyonya Fernandez pasti rugi besar setelah menghabiskan 20 triliun untuk tanah terlantar. Aku merasa Nyonya Fernandez nggak mengerti tentang keuangan, tapi di pesta ini ada banyak tokoh penting keuangan. Aku khawatir Nyonya Fernandez kewalahan saat dia menemani Tuan Romeo."
Evelyn terdengar sangat pengertian.
Pada akhirnya, Levi setuju.
Violet tidak mengerti keuangan, jadi dulu Evelyn yang selalu menemani Romeo. Levi juga sangat menghormati Evelyn karena Evelyn memang cerdas.
Evelyn masuk ke dalam klub dengan wajah berseri-seri. Kemudian, dia langsung melihat Romeo yang sedang berbicara dengan orang asing.
Evelyn mengangkat gaunnya sedikit dan ingin berlari ke arah Romeo. Namun, dia malah menabrak seorang lelaki tua.
Vas di tangan tukang kebun itu pun terjatuh dan semua air di dalam vas tumpah mengenai ujung gaun Evelyn.
Evelyn tanpa sadar berteriak. Dia menundukkan kepalanya dan melihat gaunnya yang jorok. Lalu, raut wajah Evelyn berubah drastis. "Apa-apaan kamu? Apa kamu nggak punya mata?!"