Bab 3

"Kamu memang ibu tiri jahat! Pantas saja teman-temanku bilang kamu cepat atau lambat bakal menunjukkan sifat aslimu. Hmph! Aku juga nggak butuh diantar sama kamu! Nanti kalau ibuku balik, dia pasti antar aku sekolah setiap hari!"

Saat menyebut tentang ibunya, matanya langsung berbinar. "Ibuku adalah yang terbaik di dunia! Masakan dia pasti seribu kali lipat lebih enak dari masakanmu! Bahkan sejuta kali! Kalau ibuku sudah pulang, aku bakal suruh ayahku usir kamu. Dasar wanita jahat!"

Selama lima tahun, aku yang mengurus semua keperluan hidupnya, dari makan, pakaian, tempat tinggal. Bahkan saat dia sakit dan dirawat di rumah sakit, aku yang menjaganya seorang diri. Namun, tak sekali pun dia pernah memujiku.

Padahal dia bahkan belum pernah bertemu dengan Quela. Mereka hanya berbicara lewat beberapa panggilan telepon. Hanya dengan sedikit kata-kata manis dari Quela, dia sudah bisa membayangkan seribu satu kebaikannya.

Namun, melihat wajah Wayne yang penuh harapan, aku hanya terdiam. Anak ini mungkin akan kecewa.

Dulu Quela meninggalkan mereka karena takut hidup susah, lebih memilih cerai daripada menjalani masa sulit. Sekarang dia kembali dengan tujuan tertentu, mana mungkin benar-benar peduli pada anaknya?

Namun, itu semua bukan urusanku lagi. Wayne membuka pintu besar dan memanggil sopir untuk mengantar ke sekolah.

Selesai makan, aku mulai membereskan semuanya, menghapus setiap jejak kehidupan selama lima tahun di rumah ini. Setelah semua bersih, perutku tiba-tiba terasa tak nyaman.

Dengan menahan rasa sakit, aku menarik koperku dan berjalan ke luar. Namun, saat itu juga, Neil masuk bersama Wayne. Keduanya langsung mengadang di hadapanku.

Dia menunduk, melihat koper yang kubawa, lalu bertanya dengan suara dingin, "Mau ke mana?"

Aku tanpa sadar mundur dua langkah, menjawab dengan suara dingin, "Kamu sendiri sudah lihat, aku mau pergi."

Tatapan Neil tertuju ke ruang tamu yang kini kosong. Semua vas bunga dan bingkai foto yang dulu kubeli sudah kubuang.

Wajahnya langsung berubah suram. "Bukankah aku sudah bilang pagi tadi? Quela nggak akan mengganggu posisimu sebagai istriku. Dia bahkan masih di bandara. Apa hari ini aku bilang akan menceraikanmu?"

"Aku juga sudah bilang, kamu nggak perlu cari perhatian. Setelah perjanjian kita berakhir, kita bisa perpanjang dengan bayaran lebih. Ngapain harus ribut begini?"

"Beli kembali semua barang yang kamu buang hari ini. Aku ingin rumahku tetap sama seperti lima tahun terakhir."

Aku menatapnya. "Neil, bukankah kamu masih mencintai mantan istrimu? Kalau cerai denganku, kamu bisa punya masa depan dengan dia."

Neil tidak bisa melepaskan masa lalunya. Aku sudah memberinya jalan, lantas kenapa dia tak mau menerimanya?

Detik berikutnya, koper yang kugenggam erat langsung direbut paksa oleh Neil. "Kalau aku memang ingin masa depan dengan dia, aku nggak butuh kamu yang mengalah."

Wayne yang berdiri di samping bergumam dengan bibir bengkak, "Hari ini aku bakal ketemu ibuku! Aku nggak perlu bareng wanita jahat ini lagi!"

Neil menarik Wayne ke depanku, nadanya mengandung teguran. "Lihat, Wayne bilang kamu nggak kasih dia sarapan tadi pagi. Karena terlalu lapar, dia makan sandwich milik teman sebangkunya. Karena pedas, bibirnya jadi bengkak seperti ini!"

"Yuko, meskipun Wayne bukan anak kandungmu, kamu seharusnya tetap kasih perhatian! Dengan keadaan dia sekarang, apa yang harus kujelaskan ke Quela nanti?"

Pantas saja Neil buru-buru pulang bersama Wayne, rupanya hanya untuk menyalahkanku. Aku pun menunduk, melihat bibir Wayne yang bengkak.

"Dia ini alergi," ujarku.

Neil tampak terkejut. "Alergi? Dia alergi apa?"

Sampai sekarang, dia bahkan tidak tahu bahwa anaknya punya sistem pencernaan yang lemah dan banyak alergi makanan. Sedikit salah makan saja bisa membuat bibir bengkak atau timbul ruam merah.

Aku masih ingat, saat baru menikah, keluarga Neil sedang jatuh miskin. Wayne sering mengalami diare dan alergi setiap kali makan masakanku.

Bab 4

Neil sibuk dengan pekerjaannya, jadi hampir tidak pernah punya waktu untuk mengurus anak sekecil itu. Yang dia tahu hanya memarahiku dengan wajah dingin karena dianggap tak becus.

Aku yang membawa Wayne ke rumah sakit untuk tes alergi. Aku membawanya ke satu per satu rumah sakit sampai akhirnya terdeteksi. Setelah bolak-balik selama sebulan penuh, aku akhirnya benar-benar memahami kondisi tubuh anak itu.

Saat itu juga, aku tanpa sengaja mengetahui sebuah kebenaran, kebenaran yang cukup untuk membuat Neil menggila kalau mengetahuinya.

Sejak saat itu, aku semakin hati-hati dalam merawat Wayne. Alerginya hampir tak pernah kambuh lagi. Neil pun mengambil peran sebagai ayah yang lepas tangan.

Wayne menarik-narik rokku dengan kesal. "Aku mau makan malam bareng ibuku, ambilin obat alergiku sekarang juga!"

Aku menolak dengan dingin, "Kamu nggak punya tangan? Ambil sendiri, obat alergi ada di kotak obat."

Selama ini, aku selalu menuruti semua keinginan Neil dan Wayne. Namun, hari ini aku sudah melawan dua kali. Sikapku ini langsung menghabiskan sisa kesabaran Wayne.

Dengan marah, Wayne mengangkat tinjunya dan memukul keras ke perut bagian bawahku. "Dasar wanita jahat! Kamu nggak pantas tinggal di rumah! Aku akan suruh Ayah usir kamu!"

Kebetulan aku sedang datang bulan. Badanku lemah dan perutku sudah tak nyaman sejak pagi. Pukulannya memang kecil, tetapi tetap membuat perutku nyeri. Wajahku langsung memucat.

Neil langsung menangkap tangan Wayne dan membentak, "Wayne! Siapa yang ajarin kamu main tangan begini? Cepat ke sini, Ayah ambilkan obatnya."

Aku menahan sakit, keringat dingin mengucur di dahi. Namun, Neil tak menyadari itu. Dia mungkin tidak akan percaya kalau pukulan anaknya membuatku kesakitan.

Dia menuangkan segelas air dingin untuk Wayne, lalu mengambilkan dua butir obat dan menyerahkannya.

Setelah menelan obat, Wayne mengerutkan alis. "Kenapa airnya dingin? Minum obat nggak boleh pakai air dingin!"

Setelah itu, dia menyodorkan gelas berisi sisa air ke arahku. "Ambilkan aku air hangat."

Aku memegangi perutku, sama sekali tidak meliriknya.

Wayne menatapku dengan tak percaya. "Kamu! Kenapa kamu jahat banget hari ini? Nggak kasih aku makan, nggak antar aku ke sekolah. Padahal kamu dulu nggak begini! Aku makin benci kamu!"

Melihatku tetap diam, dia menatapku dengan galak. "Kalau kamu nggak ambilin air, aku siram kamu pakai ini!"

Sebelum aku sempat membalas, wajah Neil sudah lebih dulu berubah suram. Dia langsung merebut gelas dari tangan Wayne. "Wayne, cukup! Siapa yang ajarin kamu nggak hormat sama ibumu?"

Wayne berteriak dengan mata memerah, "Dia bukan ibuku! Aku cuma punya satu ibu! Dia itu cuma pembantu mata duitan! Kalau Ayah nggak kasih dia uang, dia pasti bakal jahat sama aku!"

Suara polos itu menampar hatiku, seperti membuka pintu bagi semua rasa sakit dan kesedihan yang sudah lama kupendam. Rasanya sesak.

Neil langsung menjewer telinga anak itu dan membentak, "Jangan dengarkan omong kosong anak kecil. Kamu itu ibunya, bukan pembantu."

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Neil menunduk, melihat layarnya, dan ekspresinya menjadi lebih baik.

"Aku bawa anak ini keluar sebentar. Malam ini kami makan malam dengan ibunya. Kami harus pergi sekarang, nggak enak kalau Quela menunggu terlalu lama. Kamu makan sendiri saja ya."

Wayne langsung terlihat bahagia dan menarik tangan Neil dengan penuh semangat. "Ayah, jangan pedulikan wanita jahat ini. Asal kasih dia uang, dia pasti tetap mau tinggal di sini sekalipun dipukul."

Neil tampaknya masih belum sepenuhnya tenang. Sebelum keluar, dia sempat menoleh ke arahku dan berpesan, "Wajahmu pucat sekali. Kamu istirahat di rumah saja. Kami nggak akan lama."

Bab 5

Tak lama kemudian, pintu depan tertutup dengan bunyi yang keras. Aku duduk di sofa, menarik sudut bibirku tanpa bersuara sedikit pun.

Aku sudah berkali-kali membahas soal perceraian, tetapi Neil sama sekali tak menganggap serius. Mungkin karena dulu aku terlalu mencintainya.

Semua cinta dan perhatian kuberikan tanpa sisa untuk Neil dan Wayne, hingga mereka merasa tak akan pernah kehilangan diriku. Mereka berpikir aku tidak akan benar-benar pergi.

Namun, kali ini mereka salah besar. Aku sudah tak sanggup lagi tinggal di sini. Entah Neil mau tanda tangan atau tidak, hari ini aku tetap akan pergi.

Aku duduk lama, hingga rasa sakit di perut perlahan menghilang. Tiba-tiba, layar ponselku menyala. Muncul sebuah pesan. Aku membukanya, ternyata dari Quela.

[ Kamu sudah menikmati hidup sebagai istri Neil selama lima tahun. Sekarang aku kembali, saatnya kamu enyah dari sini. ]

Segera setelah itu, masuk sebuah video. Dalam video itu, Wayne berlari masuk ke mobil, duduk manis di pangkuan Quela sambil memanggilnya ibu dengan manja. Neil duduk di samping mereka sambil tersenyum. Senyuman penuh kelembutan yang belum pernah kulihat darinya selama ini.

Beberapa detik sebelum video berakhir, Quela memiringkan wajah dan mencium pipi Neil dengan lembut.

Layar terhenti di momen itu. Jemariku bergetar sedikit. Aku memejamkan mata perlahan. Dulu aku menikahi Neil karena wajah dan matanya mengingatkanku pada cinta pertamaku. Dia butuh seseorang untuk mengurus anaknya. Aku butuh tempat untuk menambatkan hati yang kosong.

Selama bertahun-tahun bersama, aku tidak pernah menyamakan Neil dengan cinta pertamaku. Mereka sama-sama baik, tetapi berbeda. Mencampuradukkan keduanya adalah bentuk ketidaksopanan.

Selain itu, dulu aku bisa merasakan ketulusan Neil. Selama dua tahun pertama yang paling berat, kami saling menopang, kecuali soal anak.

Dia pun memperlakukanku dengan baik. Setiap hari spesial selalu ada hadiah, semuanya sesuai dengan apa yang kusukai. Kadang hanya melihatku melirik sesuatu di mal, dia langsung membelikannya untukku.

Tidak peduli mahal atau murah, asal aku suka, dia akan membelikannya. Dewasa, tampan, dan memesona, aku pun perlahan jatuh. Entah sejak kapan, aku benar-benar menyerahkan hatiku.

Namun, mencintai seseorang yang belum sepenuhnya melupakan masa lalunya adalah sesuatu yang sangat pahit.

Sementara itu, pesan-pesan dari Quela terus berdatangan. Isinya hanya satu hal, tentang betapa besar cinta Neil padanya.

Aku sudah tak tahan. Akhirnya, aku membalas.

[ Kalau Neil yang begitu mencintaimu tahu anak yang dia besarkan selama tujuh tahun ternyata bukan darah dagingnya, menurutmu dia akan bagaimana? ]

Setelah itu, tanpa memberi Quela kesempatan membalas, aku langsung memblokirnya. Aku sudah menyiapkan hadiah balasan untuk semua penderitaan yang Quela beri kepadaku. Begitu aku pergi, seseorang akan menyerahkannya ke tangan Neil.

Kebetulan saat itu juga, notifikasi dari maskapai masuk. Tiga jam lagi penerbangan akan berangkat.

Aku mematikan layar ponsel, menarik koper, dan berjalan ke luar rumah. Sesaat sebelum membuka pintu, aku menoleh sekali lagi.

Lima tahun menjadi pembantu bagi ayah dan anak itu, mungkin adalah hukuman atas niatku yang tidak tulus saat pertama kali masuk ke keluarga ini.

Namun, mulai sekarang tidak lagi. Aku tidak akan pernah lagi mencari sandaran emosional dari seorang pria. Neil dan Wayne akan terhapus satu per satu dari hidupku.

Di dalam pesawat, aku mengirimkan pesan terakhir kepada Neil.

[ Setelah kontrak ini habis, aku nggak akan memperpanjangnya. Jangan lupa tanda tangan. Hubungan kita sudah berakhir! ]

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B70229" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B70229
Salin

Kembalinya Mantan Istri Suamiku

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya