Bab 1

Bos besar dunia bisnis bercerai dan membesarkan anak sendiri. Aku pun buru-buru menikah lagi dengannya.

Selama lima tahun menikah, aku berhenti dari pekerjaanku dan sepenuhnya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang baik sekaligus istri yang setia.

Sampai mantan istri Neil tiba-tiba bersiap untuk kembali ke negara ini.

Malam itu juga, putra Neil yang berusia lima tahun, melempar semua barang-barangku dari kamar utama ke kamar tamu.

"Kamu cuma ibu tiri! Kamu nggak boleh tidur sama ayahku! Aku nggak mau ibuku sedih! Kamu harus keluar dari rumah kami!"

Para pembantu tertawa mengejek, sementara Neil hanya mengangkat alis dan menasihatiku dengan enteng.

"Anak berpihak ke ibu kandungnya itu wajar. Jangan terlalu dipikirin. Sekarang yang jadi istriku 'kan kamu."

Aku hanya mengangguk patuh dan mulai membereskan koperku yang berantakan dengan tenang.

Tengah malam, Neil mencoba naik ke tempat tidurku. Aku menolaknya.

"Perjanjian pernikahan kita tinggal dua hari lagi. Dua hari lagi, kita cerai."

Neil sama sekali tidak peduli, hanya mengusap kepalaku dengan lembut.

"Marah sama Wayne? Atau karena Quela? Dia cuma datang sebentar untuk lihat anaknya, nggak bakal mengancam posisimu. Lagi pula, sekarang aku cukup puas sama kamu, kenapa harus cerai?"

Aku menunduk dan menatap ke bawah. "Karena aku sudah capek."

Neil sedikit terkejut, lalu terkekeh-kekeh. Jemarinya yang panjang mengangkat daguku. "Capek? Bukankah dulu kamu menikah denganku demi uang? Kamu mau pergi seperti Quela, supaya aku lebih memperhatikanmu?"

Quela adalah mantan istri Neil yang masih belum Neil lupakan sampai detik ini. Aku pun menepis tangannya. "Aku nggak bakal begitu."

Neil tertawa sinis. "Memang lebih baik jangan. Quela memang sombong sejak lahir. Dulu aku nggak bisa kasih dia kehidupan yang layak, jadi dia pergi. Aku bisa paham. Tapi, kamu bukan dia. Kalau kamu pergi, aku nggak akan menahan."

"Lagi pula, selama ini uang yang kukasih juga nggak sedikit, 'kan? Ke depannya juga akan tetap sama. Jadi, kamu masih mau ribut soal cerai?" Suaranya penuh dengan ejekan, langsung menusuk hatiku.

Aku tersenyum pahit, mataku suram. Selama lima tahun menikah dengan Neil, pria ini sering kali membandingkanku dengan Quela. Di mata Neil dan anaknya, sekeras apa pun aku berusaha, aku tetap kalah dari Quela.

Aku tidak secantik Quela, tidak secemerlang Quela. Mungkin karena cara kami bertemu yang salah, aku merasa dia tidak pernah benar-benar menghargaiku.

Lima tahun lalu, Neil nyaris bangkrut. Di masa paling terpuruknya, Quela meninggalkan mereka. Saat itu, Neil datang padaku dengan uang di tangan, memintaku menikah kontrak dengannya sekaligus mengurus anaknya.

Aku setuju. Selama lima tahun ini, aku memberikan seluruh hatiku. Namun, ternyata aku terlalu serakah karena berharap bisa benar-benar punya keluarga. Sekarang bahkan saat membahas soal cerai, aku dianggap sedang bercanda.

Neil mulai kesal melihatku diam saja. Dia mengeluarkan setumpuk uang dari lemari, meletakkannya di atas nakas. "Wayne juga nggak mempermalukanmu di depan banyak orang. Kamu memang bukan ibu kandungnya, jadi apa harus sakit hati dan ribut tengah malam begini? Uang ini sudah cukup buat memulihkan harga dirimu, 'kan?"

Jumlahnya setidaknya 200 juta. Aku memang suka uang. Orang yang sudah terbiasa miskin tidak bisa hidup tanpa uang. Dulu setiap kali aku sakit hati, Neil memberiku uang dan aku langsung senang lagi. Namun, sekarang aku hanya ingin pergi.

Aku menatap Neil. "Dua hari lagi kita cerai. Mulai malam ini, kita tidur di kamar terpisah."

Neil tertawa saking marahnya. Kemudian, dia tiba-tiba melempar lampu di nakas, menatapku dengan dingin.

"Yuko, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu baik sama kamu, sampai kamu jadi kurang ajar begini. Keluar! Berdiri di halaman, biar pikiranmu lebih jernih setelah kena angin malam. Pikirkan baik-baik, apa kamu benaran sudah bosan hidup enak. Setelah itu, baru kita bahas soal cerai!"

Bab 2

Aku tidak ragu, langsung berbalik dan keluar dari kamar dengan masih mengenakan piama. Selama lima tahun pernikahan, aku sudah sangat mengenal sifat Neil. Dia terlihat lembut, tetapi sebenarnya sangat dominan.

Aku harus selalu bersikap penurut seperti hewan peliharaan, barulah dia akan memperlakukanku dengan ramah. Hari ini aku terus-menerus menentangnya, tentu saja dia marah.

Namun, koper yang dibuang oleh anaknya malam ini sudah cukup menyadarkanku. Sekeras apa pun ibu tiri berusaha, tetap saja dianggap orang luar. Aku memang sudah seharusnya pergi.

Setelah memesan penerbangan ke Palis untuk besok, aku mencari kamar tamu dan tidur di sana. Pukul 6 pagi, aku terbangun seperti biasa.

Karena Neil tidak suka sarapan buatan pembantu dan hanya mau makan masakanku, selama lima tahun ini aku selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi dia dan Wayne. Jam biologisku pun sudah terbentuk. Namun, hari ini aku mengabaikannya, memaksakan diri memejamkan mata lagi dan kembali tidur.

Entah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba terdengar suara keras. Neil membuka pintu kamar tamu, menegur dengan kesal, "Yuko, kenapa hari ini kamu nggak bangunin aku dan Wayne? Baju, dasi, semuanya nggak disiapkan, bahkan sarapan pun nggak ada."

Aku tetap berbaring dengan mata tertutup. "Pak Neil, kalau aku nggak bangunin kamu, kamu nggak bisa pasang alarm sendiri ya?"

Neil termangu. Selama lima tahun ini, aku selalu mengatur semuanya di pagi hari. Begitu disuruh mengandalkan diri sendiri, dia pun kesal.

"Bukannya ini kewajibanmu sebagai istri? Hal yang bahkan Quela bisa lakukan, kenapa kamu nggak bisa?"

Oh, mantan istrinya itu memang rajin. Meskipun aku tidak pernah bertemu langsung dengannya, dia sering mengirimiku pesan, mengatakan dia akan segera kembali ke negara ini dan menyuruhku cepat-cepat berkemas sekaligus angkat kaki.

Aku menggeliat di atas ranjang. "Kamu bisa balikan lagi sama mantan istrimu. Aku nggak keberatan."

Dahi Neil berkerut. "Kamu merenung semalaman cuma buat ambil keputusan itu? Yuko, realistis sedikit. Kamu nggak punya gelar, nggak punya pengalaman, sudah jadi ibu rumah tangga bertahun-tahun, sudah sepenuhnya terputus dari dunia luar. Kalau pisah dariku, kamu bisa bertahan hidup?"

"Aku tahu kenapa kamu bersikap begini. Karena Wayne buang barangmu dan bilang dia lebih suka Quela. Kamu bukan sedih, tapi cuma mau manfaatin momen ini buat minta tambahan uang. Oke, nggak masalah, aku tambahkan. Aku bisa tambah 200 juta lagi setiap bulan, jadi berhenti ngambek."

Neil memberiku ultimatum. "Aku ada rapat pagi ini. Bangun dan antar Wayne ke sekolah." Setelah itu, dia langsung pergi.

Aku perlahan membuka mata. Mataku merah, tetapi akhirnya aku tak mengatakan apa-apa. Aku menekan semua rasa perih dan sakit sekuat mungkin.

Di mata Neil, aku adalah wanita yang bisa dibeli dengan uang. Dia mencoba mempertahankanku dengan uang, niatnya cukup tulus. Namun, dia tak tahu bahwa aku sudah bulat ingin bercerai. Aku tak ingin lagi menunggu persetujuannya untuk pergi.

Aku bangkit, menyikat gigi. Saat keluar kamar, aku melihat Wayne sudah berdiri di depan pintu dengan ransel di punggung. Begitu melihatku, dia mendengus kesal.

Aku tidak menggubrisnya, hanya mengambil sepotong roti untuk diri sendiri.

Wayne langsung memekik, "Aku nggak mau roti! Aku mau bubur jamur!"

Namun, saat dia melihatku memasukkan roti itu ke mulut, dia tiba-tiba terdiam. Dia baru sadar, roti itu bukan untuknya. Saat itu juga, perutnya berbunyi. Wajahnya pun memerah saat memprotes, "Hei! Jangan makan lagi! Cepat antar aku ke sekolah!"

Aku duduk dan lanjut makan. "Kamu pergi saja sendiri."

Wayne menatapku tak percaya. "Kamu ... kamu suruh aku pergi sendiri?"

Aku melirik ke arahnya. "Kamu sudah tujuh tahun, sudah bisa pergi ke sekolah sendiri."

Dia mengentakkan kaki dengan marah. Wajah kecilnya penuh rasa tidak puas kepadaku.

Bab 3

"Kamu memang ibu tiri jahat! Pantas saja teman-temanku bilang kamu cepat atau lambat bakal menunjukkan sifat aslimu. Hmph! Aku juga nggak butuh diantar sama kamu! Nanti kalau ibuku balik, dia pasti antar aku sekolah setiap hari!"

Saat menyebut tentang ibunya, matanya langsung berbinar. "Ibuku adalah yang terbaik di dunia! Masakan dia pasti seribu kali lipat lebih enak dari masakanmu! Bahkan sejuta kali! Kalau ibuku sudah pulang, aku bakal suruh ayahku usir kamu. Dasar wanita jahat!"

Selama lima tahun, aku yang mengurus semua keperluan hidupnya, dari makan, pakaian, tempat tinggal. Bahkan saat dia sakit dan dirawat di rumah sakit, aku yang menjaganya seorang diri. Namun, tak sekali pun dia pernah memujiku.

Padahal dia bahkan belum pernah bertemu dengan Quela. Mereka hanya berbicara lewat beberapa panggilan telepon. Hanya dengan sedikit kata-kata manis dari Quela, dia sudah bisa membayangkan seribu satu kebaikannya.

Namun, melihat wajah Wayne yang penuh harapan, aku hanya terdiam. Anak ini mungkin akan kecewa.

Dulu Quela meninggalkan mereka karena takut hidup susah, lebih memilih cerai daripada menjalani masa sulit. Sekarang dia kembali dengan tujuan tertentu, mana mungkin benar-benar peduli pada anaknya?

Namun, itu semua bukan urusanku lagi. Wayne membuka pintu besar dan memanggil sopir untuk mengantar ke sekolah.

Selesai makan, aku mulai membereskan semuanya, menghapus setiap jejak kehidupan selama lima tahun di rumah ini. Setelah semua bersih, perutku tiba-tiba terasa tak nyaman.

Dengan menahan rasa sakit, aku menarik koperku dan berjalan ke luar. Namun, saat itu juga, Neil masuk bersama Wayne. Keduanya langsung mengadang di hadapanku.

Dia menunduk, melihat koper yang kubawa, lalu bertanya dengan suara dingin, "Mau ke mana?"

Aku tanpa sadar mundur dua langkah, menjawab dengan suara dingin, "Kamu sendiri sudah lihat, aku mau pergi."

Tatapan Neil tertuju ke ruang tamu yang kini kosong. Semua vas bunga dan bingkai foto yang dulu kubeli sudah kubuang.

Wajahnya langsung berubah suram. "Bukankah aku sudah bilang pagi tadi? Quela nggak akan mengganggu posisimu sebagai istriku. Dia bahkan masih di bandara. Apa hari ini aku bilang akan menceraikanmu?"

"Aku juga sudah bilang, kamu nggak perlu cari perhatian. Setelah perjanjian kita berakhir, kita bisa perpanjang dengan bayaran lebih. Ngapain harus ribut begini?"

"Beli kembali semua barang yang kamu buang hari ini. Aku ingin rumahku tetap sama seperti lima tahun terakhir."

Aku menatapnya. "Neil, bukankah kamu masih mencintai mantan istrimu? Kalau cerai denganku, kamu bisa punya masa depan dengan dia."

Neil tidak bisa melepaskan masa lalunya. Aku sudah memberinya jalan, lantas kenapa dia tak mau menerimanya?

Detik berikutnya, koper yang kugenggam erat langsung direbut paksa oleh Neil. "Kalau aku memang ingin masa depan dengan dia, aku nggak butuh kamu yang mengalah."

Wayne yang berdiri di samping bergumam dengan bibir bengkak, "Hari ini aku bakal ketemu ibuku! Aku nggak perlu bareng wanita jahat ini lagi!"

Neil menarik Wayne ke depanku, nadanya mengandung teguran. "Lihat, Wayne bilang kamu nggak kasih dia sarapan tadi pagi. Karena terlalu lapar, dia makan sandwich milik teman sebangkunya. Karena pedas, bibirnya jadi bengkak seperti ini!"

"Yuko, meskipun Wayne bukan anak kandungmu, kamu seharusnya tetap kasih perhatian! Dengan keadaan dia sekarang, apa yang harus kujelaskan ke Quela nanti?"

Pantas saja Neil buru-buru pulang bersama Wayne, rupanya hanya untuk menyalahkanku. Aku pun menunduk, melihat bibir Wayne yang bengkak.

"Dia ini alergi," ujarku.

Neil tampak terkejut. "Alergi? Dia alergi apa?"

Sampai sekarang, dia bahkan tidak tahu bahwa anaknya punya sistem pencernaan yang lemah dan banyak alergi makanan. Sedikit salah makan saja bisa membuat bibir bengkak atau timbul ruam merah.

Aku masih ingat, saat baru menikah, keluarga Neil sedang jatuh miskin. Wayne sering mengalami diare dan alergi setiap kali makan masakanku.

Kembalinya Mantan Istri Suamiku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya