Logo
Kemarau Kapan Berlalu?
Kemarau Kapan Berlalu?

Kemarau Kapan Berlalu?

80 Bab
Tamat
Dalam novel modern Kemarau Kapan Berlalu?, Sam terdesak biaya sekolah keponakannya hingga terjebak ancaman Sena. Dari kurir narkoba ke pekerjaan kelam yang tak terduga, Sam harus menghadapi mystery masa lalu keluarganya. Simak adventure story penuh pilihan sulit ini di web novel kami.
Bab 1 dari Kemarau Kapan Berlalu?

Seorang lelaki masih enggan beranjak dari tempatnya berbaring. Tangannya terulur memeluk gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rumput liar. Mata bengkaknya terdapat lingkar hitam efek tidur beberapa jam dalam sehari selama dua minggu. Bahkan ada hari di mana ia tidak terlelap barang sedetik pun. Tubuhnya terlihat kurus dengan kaos oblong pendek dan celana kolor.

"Mas, udah mau malem. Nanti dicariin." Sudah sekian kali lelaki tua penjaga makam menyuruhnya pulang. Namun, si lelaki kurus tetap bergeming.

Penjaga makam menatapnya iba. Dua minggu lalu, ia melihat jelas bagaimana si kurus berteriak memanggil nama yang ada di batu nisan. Memeluk tanah basah dengan bibir terus bergumam, kemudian menangis tanpa suara.

"Enggak ada yang bakal nyari saya, Pak. Yang suka nyariin saya aja di sini, kok," sahut si lelaki kurus.

Tahu rasanya ditinggalkan, penjaga makam duduk di dekat kepala si kurus. "Sayangnya, dia sudah tidak bisa memarahi kamu lagi. Iya, 'kan?"

Si kurus menghentikan tangannya mengelus tanah. Ditatapnya batu nisan seolah ia tengah menyampaikan perasaan sesal yang mendalam. Air matanya jatuh lagi. "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Lelaki tua di sampingnya ikut menitikkan air mata, kemudian jemari keriputnya menggenggam lembut tangan si kurus. "Melihat rasa sayang kamu yang sebesar ini, saya yakin dia sudah memaafkan kamu."

Si kurus pun bangkit, duduk menyila dengan bahu bergetar. "Apa kesalahan saya masih bisa dimaafkan, Pak? Dia yang menyelamatkan saya, dia yang membuat hidup saya berwarna, tapi yang saya lakukan ... saya membunuhnya, Pak."

Lelaki berwajah keriput menyibak rambut kumal si kurus. Tiupan angin menguarkan bau tidak sedap dari sana. Bibir hitamnya tersenyum pilu. Sudah berapa hari laki-laki ini tidak keramas?

"Sudah aku bilang, bukan kamu yang membunuhnya!"

Dari belakang, seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam menyentak dua lelaki itu. Penjaga makam langsung menoleh, tetapi tidak dengan si kurus berkaos oblong. Sepertinya, tanpa menoleh dia sudah mengenali pemilik suara tadi.

"Kamu harus pulang!" ucap wanita tersebut setelah berada di sebelah si kurus. Namun, si kurus tak bergerak. Menoleh pun tidak. Matanya hanya menatap batu nisan kosong.

"Iya, Mas. Pulang. Meski enggak ada yang nyari, seenggaknya Mas kasihan sama tubuh sendiri." Penjaga makam ikut membujuk.

"Yang pantas disalahkan atas kematian dia itu aku. Jadi, tolong berhenti siksa diri kamu sendiri," ujar si wanita lagi.

Tanpa disangka, lelaki kurus itu berdiri, menatap mata si wanita. "Iya. Semuanya memang salah lo," ucapnya. "Kalau aja lo enggak egois, sekarang dia masih ada sama gue."

Pak tua penjaga makam ingin melerai karena langit mulai gelap dan burung hantu mulai bernyanyi di naungan pohon kantil. Namun, si wanita sudah lebih dulu bersimpuh di hadapan si kurus, bersimbah air mata.

"Iya. Salahkan semuanya ke aku. Sekarang, silakan kamu pulang." Sang wanita menyeka butiran bening di wajahnya sebentar. "Karena aku yakin, dia enggak mau orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dia banggakan sakit. Jadi, tolong, pulang. Biarin dia tenang."

Si kurus menekuk lutut, mengusap ukiran nama di batu nisan. Lirih, ia berkata, "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Terik Satu

Di tengah kebisingan ibu kota, Sam berlari mengendap-endap dari gang sempit satu ke gang sempit lainnya. Tidak jauh di belakangnya, tiga orang polisi terus mengejarnya. Napas lelaki itu mulai tersengal, keringat membanjiri kaos hitam polosnya. Mata gelapnya memindai setiap tempat yang ia lalui, mulai dari tong sampah, sela-sela rumah, selokan tidak ada satu pun tempat yang bisa ia jadikan persembunyian. Sungguh, ia tidak kuat berlari lebih jauh lagi.

Lelaki kurus itu berhenti sejenak, memegang lutut sembari mengatur napas dan debar jantungnya yang jelas terdengar. Rasa ingin menyerahkan diri tiba-tiba terbersit di otaknya. Namun, sisi otaknya yang lain menampilkan wajah seorang pemuda mengangkat piala dan menyentaknya dari keputusasaan.

Bunyi sepatu dan teriakan di belakang memacu semangat Sam untuk berlari lagi menuju belokan gang yang lebih sempit dan gelap. Siapa sangka, gang gelap itu membawanya pada rumah kecil yang sekitarnya ditumbuhi rumput liar. Pintu rumah itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan tanpa pendar cahaya.

Sam menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan polisi-polisi tadi belum melihatnya. Segera, ia memasuki rumah itu, lalu menutup pintu dan menyandarkan diri di sana.

Menunggu situasi aman, Sam menyalakan ponsel. Ada dua pesan masuk. Satu dari keponakannya dan yang satu dari Galih, rekan sekaligus atasannya. Belum sempat membaca isi pesan tersebut, derap langkah kaki di luar membuatnya menempelkan layar ponsel ke perutnya, jaga-jaga kalau cahaya ponselnya bisa terlihat dari luar.

"Perasaan tadi nggak dikunci, deh."

Sam meneguk ludah, antara lega dan takut. Bukan suara maskulin lelaki, tetapi suara perempuan dan ia cukup yakin kalau perempuan itulah si pemilik rumah tidak terawat ini. Bisa jadi ketika ia keluar nanti, si perempuan mengiranya maling lalu melaporkannya ke polisi, tetapi, menunggu pintu didobrok bukan pilihan tepat.

Sam menggigit bibir bimbang. "Polisinya masih ada, Mbak?"

Pintu langsung didorong kuat hingga Sam nyaris terjengkang ke lantai. Setelahnya si perempuan meraih sakelar di dinding, menyalakan lampu.

Lidah Sam mendadak kelu, tidak menyangka rumah kecil, tersembunyi, dan tidak terawat ini dihuni seorang bidadari bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelombang. Mata bulatnya melotot marah, tapi menggemaskan. Hidung mancungnya kembang kempis, tapi tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya. Lalu bibir merah muda—

"Siapa kamu?!" gertak sang gadis mengalihkan fokus Sam.

"Maaf, Mbak. Saya cuma numpang sembunyi—"

"Polis—"

Sam membekap mulut gadis mungil tersebut sebelum benar-benar berteriak. "Gue enggak ambil apa pun di rumah lo. Kalau sampai lo panggil polisi, nyawa lo yang bakal melayang sebelum mereka datang," ancamnya.

Sedikit ketakutan, gadis itu mengangguk, dan Sam melepaskannya. "Saya cuma takut kamu penjahat," cicitnya.

"Gue bisa jadi penjahat beneran kalau lo teriak tadi." Sam kembali menilik ponselnya, membaca pesan yang sudah bertambah meski dari pengirim yang sama. "Lo ada minum nggak? Gue haus."

"Enggak. Rumah ini enggak ada apa-apanya."

Sam menghela napas seraya mengetik balasan untuk dua orang yang mengirimnya pesan. Pandangannya tertuju pada kantong plastik hitam di tangan sang bidadari.

"Terus itu apa?"

Seperti barang berharga, gadis itu langsung menyembunyikan plastik tersebut di balik punggungnya.

Sam mencebik, tidak lagi peduli pada rasa hausnya. Ia memilih duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatnya berdiri, fokus pada ponselnya. Sementara itu, si pemilik rumah menatapnya heran.

"Ngapain masih di situ!"

"Capek, abis lari-lari," jawab Sam santai tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel.

Gadis itu berdecak, sedangkan Sam berdeham, membiarkan si tubuh ramping berlalu masuk ke salah satu ruangan di sana. Ia melongok ke luar, sepertinya polisi tadi tidak mampu mengetahui keberadaanya.

Satu panggilan masuk dari keponakannya. "Halo, Di?"

"Lo di mana? Kok, belum pulang?"

Sam mengingat sebentar tempatnya bertransaksi tadi. "Kebon Melati," jawabnya. "Mau pesen apa?"

"Milkita aja, deh."

"Buku gambar? Pensil? Alat tulis lain?"

Sudah hampir sebulan Renaldi tidak pernah meminta alat-alat menggambar lagi. Walau usianya sudah remaja, keponakannya itu suka menggambar sketsa dan gambar-gambar unik lainnya. Sam tidak melarangnya. Lagi pula, kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang Renaldi selama setahun ini lantaran berhenti sekolah.

"Um ... boleh, deh."

Senyum Sam mengembang teringat sesuatu. "Gue tadi digaji banyak. Besok lo bisa sekolah lagi."

Tidak ada sahutan dari seberang.

"Di?"

"Gue mau boker. Jangan lupa Milkitanya."

Usai pangggilan ditutup, Sam meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengecek tas selempangnya. Melihat amplop tebal di sana, bayangan hal-hal apa yang ingin ia lakukan menari-nari di benaknya. Mendaftarkan sekolah Renaldi, membelikan seragam baru, tas, dan ponsel yang lebih memadai untuk menunjang belajar Renaldi di sekolah barunya nanti.

Sam menyandarkan punggung, menikmati euforia yang melambung. Tabungannya sudah cukup untuk membeli motor juga, tapi ia harus tetap berhemat karena tidak selalu mendapat panggilan untuk mengantar barang. Sekolah tempat Renaldi mendaftar besok, bukan sekolah yang sebulan cukup dengan uang satu jutaan. Jadi, Sam harus tetap menghemat.

Malam kian dingin. Sam merapatkan jaket hitamnya siap keluar dari rumah kecil penuh debu ini. Bangkit dari kursi, lelaki itu menuju ruangan yang tadi dimasuki sang pemilik rumah. Baru hendak mengetuk pintu ruangan di depannya, ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan dari Renaldi, melainkan Galih, atasannya.

"Sam, lo aman, 'kan?"

"Aman. Kenapa?"

"Udah dibayar sama si crazy rich?"

"Udah. Kenapa, sih?"

Galih terdengar mengembuskan napas. "Itu gaji terakhir lo."

Sam mengerjap. "Hah? Gimana?"

"Gue mau berhenti jadi bandar, Sam. Dan lo enggak perlu jadi kurir lagi."

"Jangan ngada-ngada, Lih. Kalau enggak jadi kurir gue kerja apa?"

"Gue mau pulkam. Jadi, gue serius, Sam," sahut Galih dengan suara beratnya. "Lo bisa cari kerjaan lain."

Sam meremas rambut ikalnya. "Terus gue biayain Renaldi pake apa? Tabungan gue belum tentu cukup sampai dia lulus."

"Lo bisa cari kerjaan lain, Sam."

Panggilan ditutup. Sam meninju pintu hingga pintu tersebut terbuka dan si pemilik rumah tahu-tahu mengulurkan sebotol air mineral padanya.

"Capek, 'kan, abis lari-lari?"

Sam terpaku. Sang gadis berkata lagi, "Kalau capek lari, berhenti, istirahat."

***

Kebumen, 30 Agustus 2021

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

CODE: FAUST
CODE: FAUST
Dalam CODE: FAUST, Dr. Plague berjuang memulihkan dunia yang hancur akibat virus mutan di tahun 2036. Di tengah dominasi faksi militer dan monster, ia harus bertahan hidup dalam sci fi novels ini. Ungkap misteri wabah dan selesaikan misi penuh aksi dalam adventure story yang mencekam.
Harga Diri Seorang Suami
Harga Diri Seorang Suami
Dalam novel modern Harga Diri Seorang Suami, Gunawan kehilangan pekerjaan dan diusir paksa oleh istrinya. Kini ia bertekad bangkit demi membalas penghinaan tersebut. Ikuti perjuangan penuh action dalam romance novel ini dan baca kisah lengkapnya di webnovel sekarang.
Hasrat Luar Nona Muda
Hasrat Luar Nona Muda
Dalam novel modern Hasrat Luar Nona Muda, Floretta Shopia menyerahkan kehormatannya kepada Jeff, sang bodyguard, demi pelampiasan dendam. Namun, aksi berisiko ini membawa konsekuensi besar saat niat tersembunyi Jeff terungkap. Baca romance novel ini untuk mengungkap rahasia mereka.
Love and Virus
Love and Virus
Dalam Love and Virus, Wizard, Alvaro, dan Emma berpacu dengan waktu menuntaskan wabah SES. Di tengah misi sci-fi penuh risiko ini, mereka menghadapi konflik cinta segitiga. Temukan petualangan medis mendebarkan dalam sci fi novels ini dan baca kelanjutan misinya di platform webnovel.
Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka
Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka
Baca novel romantis Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka di platform Novel Web. Di usia 10 tahun, Ryder menyelamatkanku. Di usia 15 tahun, Wayne berjanji menjagaku. Namun di usia 23 tahun, kedua pria yang bersumpah melindungiku justru membuangku ke laut demi cinta pertama mereka.
Pedang Naga Siluman
Pedang Naga Siluman
Dalam fantasy novel Pedang Naga Siluman, Satya Wiguna menjelajah masa lalu untuk menumpas kejahatan. Sebagai Senopati dunia Sukma, ia harus menggunakan kekuatannya demi mengalahkan Raja Iblis. Simak adventure story seru ini saat ia menjaga alam moksa dalam balutan fiction fantasy novels.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Setelah Bercerai, Dia tak Menyesal
Setelah Bercerai, Dia tak Menyesal
Dia adalah diva pop legendaris yang menghilang selama tujuh tahun setelah mengumumkan pengunduran dirinya secara tiba-tiba. Selama waktu itu, dia menemukan kekasih masa kecilnya yang telah lama hilang, yang kini buta setelah kecelakaan mobil. Dia merawatnya, tetapi begitu dia pulih, dia kembali pada cinta pertamanya. Menyadari bahwa sudah waktunya untuk melupakan masa lalu, dia meninggalkannya dan kembali ke panggung. Di konsernya, sebuah video saat dia bernyanyi membuatnya menyadari istrinya adalah gadis yang selama ini dia cari.
Balas Dendam di Balik Diagnosa Keliru
Balas Dendam di Balik Diagnosa Keliru
"Sweet Revenge for the Wrong Diagnosis Mason menceraikan dan mengusir Lily, lalu berselingkuh dengan sahabatnya, setelah tak sengaja menguping dan salah mengira Lily menderita kanker. Tanpa daya, Lily bertemu presdir miliarder Adam yang membutuhkan hubungan palsu untuk kakeknya, dan mereka pun tinggal bersama. Mason terus mengejek Lily yang dianggap sekarat, namun ia tak tahu bahwa yang sebenarnya menderita kanker stadium akhir adalah dirinya sendiri, bukan Lily."
Cinta di Waktu yang Tepat
Cinta di Waktu yang Tepat
Demi mencari ibunya, Lisa dijebak oleh adik tirinya, Linda. Dia tidak sengaja tidur dengan Hendy dan melahirkan sepasang anak kembar. Enam tahun kemudian, Lisa kembali bersama anak-anaknya untuk membalas dendam. Dia pun kembali bertemu dengan Hendy tetapi saling tidak mengenal. Setelah pertemuan kedua, akankah mereka kembali bersama? Apakah dia akan berhasil balaskan dendamnya?
Sahabat Ayah Menjadikanku Istri Miliaran Dolarnya
Sahabat Ayah Menjadikanku Istri Miliaran Dolarnya
Pacar Madalyn berselingkuh. Dia mabuk dan akhirnya tidur dengan Nicolas, yang tiga belas tahun lebih tua darinya. Akibatnya, mereka menikah. Madalyn percaya bahwa itu adalah pernikahan tanpa cinta, namun, tanpa sadar ia telah jatuh ke dalam perangkap cinta Nicolas. Dia menunggunya untuk mencintainya kembali.
Dari Bidak ke Predator
Dari Bidak ke Predator
Kbar Suryono adalah anak haram Richard Yudhistira yang tidak diakui. Untuk mendapatkan biaya operasi bagi ibunya yang menderita penyakit kritis, Akbar menerima tugas yang diajukan Richard dan nekat menembus sarang bahaya. Tanpa dia ketahui, semua ini hanyalah bagian dari rencana Richard. Akbar hanyalah bidak yang bisa dibuang.
Dilindungi Oleh Cinta
Dilindungi Oleh Cinta
Elissa, putri angkat dari Keluarga Smith, pernah menghadapi pengkhianatan oleh seorang pria brengsek, menjungkirbalikkan dunianya. Rylan, pelindungnya, membantunya menyadari esensi cinta sejati di tengah api yang menghancurkan. Setelah diberi kesempatan kedua untuk hidup, Elissa dengan cerdik mengakali pria brengsek itu. Pada saat yang sama, dia dengan sepenuh hati memeluk Rylan, berterima kasih atas perlindungannya yang tak tergoyahkan di kehidupan masa lalunya. Dengan Rylan di sisinya, Elissa berhasil membalas dendam, membawa pria brengsek itu untuk diadili. Kisah cinta mereka menginspirasi banyak orang, mengajarkan pentingnya menghargai cinta sejati dan mengejar kebahagiaan bahkan dalam menghadapi kesulitan. Bersama-sama, Elissa dan Rylan memulai perjalanan seumur hidup, menciptakan kisah cinta tak terlupakan yang penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan.