Logo
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri

Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri

65 Bab
Tamat
Dalam Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri, Aluna sang pewaris takhta bisnis bertekad menaklukkan hati Reyhan yang dingin. Billionaire romance novel ini mengisahkan ambisi dan konflik kekuasaan saat kebebasan Aluna berbenturan dengan disiplin ketat Reyhan. Baca kisah selengkapnya di webnovel ini.
Bab 1 dari Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri

Pagi itu, udara Jakarta terasa berbeda. Mentari memantul di gedung-gedung kaca, memercikkan cahaya ke trotoar yang mulai dipenuhi langkah-langkah sibuk para pejalan kaki. Namun, di salah satu sudut eksklusif kota, ada sosok yang mampu membuat pagi itu terasa lebih hangat, meskipun ia sendiri tidak menyadarinya.

Aluna melangkah keluar dari mobil mewah yang terparkir rapi di depan gedung Hartawan Corp. Rambutnya yang hitam mengilap tertiup angin lembut, senyumnya yang manis seolah mampu mencairkan ketegangan siapa pun yang menatapnya. Ia menatap jam tangan dengan santai, seperti seseorang yang selalu memiliki seluruh waktu dunia di tangannya.

"Seperti biasa, aku datang tepat waktu," gumamnya, setengah tersenyum. Suara itu lembut tapi penuh keyakinan. Ia membuka pintu gedung dan melangkah masuk, menyapa resepsionis dengan senyum hangat yang membuat si perempuan muda itu tersipu.

Aluna memang bukan orang biasa. Ia cucu kesayangan Hartawan, taipan yang menguasai berbagai lini bisnis di Indonesia. Tumbuh dalam kemewahan, dimanja sejak kecil, dan selalu dikelilingi orang-orang yang bersedia memenuhi keinginannya. Tapi Aluna tidak pernah sombong. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman, meski ia membawa aura yang kuat.

Hari itu, tujuan Aluna jelas: ia ingin bertemu dengan Reyhan, seorang pria yang dikenal kaku, disiplin, dan sulit dijangkau. Ia sudah mendengar banyak cerita tentang Reyhan-bagaimana ia menjaga jarak dari semua godaan, bagaimana ia menekuni pekerjaannya tanpa terlalu memperhatikan hal-hal lain. Dan tentu saja, hal itu justru membuat Aluna semakin tertarik.

Sementara itu, Reyhan duduk di kantornya, dikelilingi tumpukan berkas yang tersusun rapi. Pagi itu, rutinitasnya berjalan seperti biasa: memeriksa laporan keuangan, menandatangani dokumen, dan memastikan setiap departemen bekerja sesuai prosedur. Ia menghiraukan keramaian di luar jendela, menegaskan jarak yang selalu ia pertahankan dari hiruk-pikuk dunia luar.

"Reyhan," panggil asistennya, seorang perempuan muda dengan wajah serius, "ada tamu dari keluarga Hartawan menunggu di lobi. Katanya sangat ingin bertemu dengan Anda."

Reyhan menatap asistennya sebentar, menandai setiap kata dengan kesabaran yang hampir terasa dingin. "Aluna?" tanyanya. Sekilas namanya membuat hatinya, atau setidaknya pikirannya, sedikit tergelincir dari keseimbangan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

"Ya, Tuan. Dia tampak... ceria seperti biasanya," jawab asistennya, ragu menambahkan komentar lebih jauh.

Reyhan menundukkan kepala sebentar, menyesuaikan jasnya, dan berdiri. Ia tahu, pertemuan ini akan berbeda dari biasanya. Tidak ada ruang untuk spontanitas dalam hidupnya, tapi entah bagaimana, nama Aluna selalu berhasil menimbulkan rasa ingin tahu yang tidak biasa.

Di lobi, Aluna berdiri sambil memainkan ponselnya, matanya menatap layar seolah ada hal penting yang sedang ia tunggu. Tapi ketika Reyhan muncul dari lift, waktu seakan berhenti sebentar. Aluna menatapnya dengan mata berbinar, senyumnya merekah alami, sedangkan Reyhan menatap balik dengan pandangan dingin namun penuh pengendalian.

"Selamat pagi, Tuan Reyhan," sapa Aluna dengan nada riang. Suaranya menembus udara dingin lobi, membuat beberapa orang yang lewat menoleh sejenak.

Reyhan membalas dengan anggukan singkat, menatap matanya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke depan. "Selamat pagi, Nona Aluna," jawabnya, suara rendah dan terkontrol, khas pria yang terbiasa menahan segala ekspresi.

Aluna melangkah mendekat, matanya masih menatapnya, seolah membaca setiap detail dalam diri Reyhan. "Aku dengar kau sangat disiplin," ujarnya sambil tersenyum, "menarik. Orang-orang bilang, sulit bagi siapa pun untuk masuk ke duniamu."

Reyhan tetap diam sejenak, menimbang apakah ia harus menjawab. "Itu benar," katanya akhirnya. "Aku tidak suka gangguan."

"Tapi kau di sini sekarang, kan?" Aluna mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Apakah aku termasuk gangguan?" tanyanya sambil menahan tawa kecil.

Reyhan menghela napas. Ia tahu wanita di depannya ini berbeda dari kebanyakan orang yang ia temui. Ada sesuatu yang ringan tapi menantang, membuatnya ingin menjaga jarak tapi juga membuatnya penasaran. "Mungkin," jawabnya, suara tetap tenang tapi ada sedikit nada penasaran yang sulit ia sembunyikan.

Mereka berjalan bersama menuju ruang konferensi. Aluna berbicara ringan tentang hal-hal sepele: cuaca, perkembangan terbaru perusahaan, bahkan cerita lucu yang ia dengar dari stafnya. Reyhan hanya mendengarkan, kadang mengangguk, kadang menatap dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.

"Tapi kau selalu terlihat sangat serius," komentar Aluna setelah beberapa menit berjalan. "Apakah tidak ada yang bisa membuatmu tersenyum, Reyhan?"

Reyhan berhenti sejenak, menatapnya lurus di mata. "Tersenyum tanpa alasan adalah pemborosan waktu," katanya.

Aluna tertawa kecil, hampir terdengar seperti lonceng yang memecah ketegangan. "Hmm... jadi aku harus punya alasan yang sangat bagus, ya?" tanyanya, menatapnya penuh tantangan.

Reyhan menatapnya sebentar, mencoba menilai maksud di balik senyum itu. "Mungkin," katanya singkat.

Di ruang konferensi, suasana berubah. Aluna duduk dengan tenang, meletakkan tasnya di kursi samping, dan menatap Reyhan. Ia mulai membicarakan hal-hal penting terkait proyek yang ingin ia jalankan, tapi dengan caranya sendiri-ringan, percaya diri, dan penuh semangat.

Reyhan mendengarkan, membuat catatan sesekali, tapi tetap menjaga jarak emosionalnya. Ia terbiasa dengan rapat formal, tapi energi Aluna membuat segalanya terasa berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya ingin membuka diri, tapi ia menolak menyerah terlalu cepat.

"Proyek ini penting," kata Aluna akhirnya, menatapnya penuh keyakinan. "Dan aku percaya kau bisa membantuku mewujudkannya."

Reyhan menghela napas, menimbang kata-katanya. Ia jarang memberi pujian atau mengakui keunggulan orang lain. Tapi kali ini, ada rasa hormat yang muncul, meskipun ia tidak mengatakannya. "Aku akan mempertimbangkan," jawabnya. Nada suaranya tetap datar, tapi ada sedikit nada hangat yang tidak sengaja muncul.

Pertemuan itu berlangsung lebih lama dari yang Aluna perkirakan. Mereka membahas strategi, tantangan, hingga rencana jangka panjang, tapi selalu dengan cara yang berbeda: Aluna menekankan kreativitas dan semangat, Reyhan menekankan ketelitian dan disiplin. Perbedaan itu justru membuat mereka saling melengkapi, meski belum sepenuhnya mereka sadari.

Ketika pertemuan selesai, Aluna berdiri, senyumnya masih sama cerianya. "Terima kasih, Reyhan. Aku tunggu keputusanmu," katanya sambil melangkah ke pintu.

Reyhan menatapnya pergi, merasa ada sesuatu yang aneh-sebuah rasa yang tidak biasa menghampiri hatinya. Ia tahu, wanita ini akan sulit dilupakan. Cara ia berbicara, tertawa, bahkan cara ia menatapnya... semuanya terasa berbeda.

Di luar gedung, Aluna menarik napas panjang, tersenyum pada dirinya sendiri. Pertemuan pertama itu berjalan sesuai rencana-atau mungkin lebih dari yang ia harapkan. Ia tahu satu hal: Reyhan bukan tipe pria yang mudah ditaklukkan, dan itu justru membuatnya semakin tertantang.

Sementara Reyhan duduk kembali di kantornya, ia menatap tumpukan dokumen dengan pandangan kosong. Namun pikirannya jauh dari laporan keuangan, strategi perusahaan, atau target bulanan. Ia terus memikirkan Aluna-senyum, tawa, bahkan rasa percaya diri yang membuatnya sedikit terguncang. Ia tidak suka perasaan ini, tapi ia tidak bisa mengabaikannya.

Hari itu, Jakarta sibuk seperti biasa. Tapi di satu sudut gedung Hartawan Corp, ada dua orang yang baru saja bertemu, dan dunia mereka tidak akan pernah sama lagi. Badai kecil telah datang-tanpa amarah, tanpa suara petir-hanya senyum, tawa, dan pandangan yang mengguncang ketenangan yang selama ini dijaga.

Aluna melangkah keluar gedung, menatap langit biru yang cerah. "Ini baru permulaan," gumamnya. Senyumnya merekah, penuh rencana dan semangat.

Reyhan menatap layar komputernya, menulis laporan dengan tangan yang bergetar sedikit-sebuah tanda kecil yang ia sendiri enggan akui. Ia tahu satu hal: wanita itu tidak akan mudah hilang dari pikirannya. Dan itu membuatnya... penasaran.

Pagi itu, langit Jakarta tampak berat, meskipun matahari berusaha menembus awan tipis. Di sebuah kafe di kawasan bisnis, Aluna duduk di pojok dengan secangkir cappuccino panas di tangan. Rambutnya diikat longgar, menampilkan wajah cerahnya yang sulit untuk diabaikan. Ia membuka laptop, menelusuri laporan proyek baru yang akan ia jalankan—proyek yang melibatkan Reyhan lebih jauh daripada sekadar pertemuan kemarin.

Di sudut lain kafe, Reyhan memasuki tempat itu dengan langkah mantap. Pagi ini, ia tidak mengenakan jas formal seperti biasanya, melainkan kemeja putih dan celana abu-abu yang sederhana. Meski tampak lebih santai, aura disiplin dan tegasnya tetap terpancar. Ia memindai ruangan sebentar, matanya tertuju pada sosok yang sudah dikenalnya: Aluna, dengan senyumnya yang ceria, seolah dunia di sekitarnya berhenti sebentar.

Aluna menoleh dan menyadari kehadirannya. Senyumannya melebar, tidak ada tanda bahwa ia akan mundur. “Reyhan,” sapanya sambil melambai, suaranya ringan dan hangat.

Reyhan mengangguk singkat. Ia berjalan ke meja Aluna, menatapnya tanpa kata, lalu duduk di seberang dengan gerakan yang rapi dan terkontrol. Sekilas, ia memperhatikan bagaimana Aluna tampak nyaman, bahkan di tempat umum, seolah ia lah yang menguasai ruangan.

“Kau datang lebih cepat dari yang kuharapkan,” kata Aluna sambil menutup laptopnya. “Apakah kau sudah sarapan?”

Reyhan menggeleng. “Tidak. Aku tidak terbiasa sarapan di luar,” jawabnya singkat, nada suaranya tetap tenang namun ada ketertarikan samar yang ia sembunyikan.

Aluna mencondongkan tubuh, matanya bersinar. “Kalau begitu, aku pesan sesuatu untukmu. Jangan pikir aku memaksa, tapi ini bagian dari perjanjian ‘membuatmu nyaman’.”

Reyhan menatapnya sekilas, lalu menoleh ke menu. Ia jarang membiarkan orang lain menebak preferensinya. Tapi ada sesuatu pada Aluna yang membuatnya sedikit longgar. “Baiklah. Apa yang kau rekomendasikan?”

Senyum Aluna melebar. “Kue cokelat ini enak, dan kopi cappuccino panas—itu favoritku, dan aku yakin kau akan menyukainya.”

Mereka duduk dalam diam sesaat. Suasana kafe yang ramai seperti menghilang di sekitar mereka. Aluna menatap Reyhan, mencoba membaca ekspresi di wajahnya yang biasanya sulit ditebak. Reyhan, di sisi lain, menahan diri untuk tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik Aluna, tapi matanya terus kembali padanya secara refleks.

“Aku penasaran,” kata Aluna akhirnya, menyalakan percakapan ringan, “apakah semua orang di kantormu selalu sekuat itu, disiplin tanpa celah?”

Reyhan menatapnya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat jarang ia berikan. “Kebanyakan ya. Tapi disiplin bukan berarti keras. Ini tentang menjaga keseimbangan.”

Aluna mencondongkan kepala. “Menarik. Kalau begitu, kau pasti tidak mudah terkejut, kan?”

“Kurasa tidak,” jawab Reyhan singkat. Tapi ada nada penasaran di balik kata-katanya, seolah ingin menantang dirinya sendiri.

Aluna menahan tawa kecil. Ia tahu, pria di depannya bukan tipe yang mudah terkecoh, dan itu membuatnya semakin tertantang. “Aku suka orang yang tidak mudah terkecoh,” katanya. “Tapi aku juga percaya, semua orang punya titik lemah. Kau pasti punya, kan?”

Reyhan menghela napas pelan, mencoba mengontrol diri. “Semua orang punya kelemahan. Tapi kelemahanku… bukan untuk dibicarakan sembarangan.”

Aluna mengangguk, menyeringai sedikit nakal. “Aku suka tantangan.”

Mereka berbicara selama hampir satu jam, membahas proyek, strategi, dan beberapa hal pribadi—tentu dengan cara yang berbeda dari pertemuan formal kemarin. Aluna tetap ringan dan percaya diri, sedangkan Reyhan tetap fokus namun tidak sepenuhnya menutup diri. Ada sesuatu yang aneh dan baru dalam interaksi mereka, sesuatu yang membuat Reyhan sadar bahwa ia mulai menunggu percakapan ini lebih dari yang seharusnya.

Ketika kue cokelat dan kopi mereka tiba, Aluna mengambil sepotong kue dan menyuapkan sedikit ke Reyhan. “Coba ini,” katanya sambil tersenyum, matanya berbinar penuh tantangan.

Reyhan menatapnya sekilas, sedikit kaku, tapi menerima potongan kue itu. Rasanya manis dan hangat, tapi lebih dari itu, ada kehangatan yang tidak biasa dirasakannya. Ia menelan pelan, menatap Aluna tanpa berkata apa pun, merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.

“Aku senang kau mencoba,” kata Aluna. “Aku ingin kita bekerja sama lebih dekat. Tapi jangan salah paham—ini bukan tentang pekerjaan semata. Aku ingin kau merasa nyaman bersamaku.”

Reyhan menundukkan kepala sebentar, menenangkan diri. Ia jarang membuka diri, apalagi membiarkan perasaan campur aduk mengganggu logikanya. “Aku mengerti,” katanya. Nada suaranya tetap stabil, tapi ada ketegangan yang samar di suaranya.

Percakapan mereka kemudian bergeser ke hal-hal lebih personal. Aluna mulai berbicara tentang perjalanan terakhirnya ke luar negeri, buku yang sedang ia baca, dan beberapa pengalaman lucu di keluarga Hartawan. Reyhan mendengarkan, sesekali tersenyum tipis, merasa ada kenyamanan yang tidak ia sadari sebelumnya. Ia jarang merasa begitu, terutama dengan seseorang yang begitu percaya diri dan bebas seperti Aluna.

Namun tidak semua berjalan mulus. Ketika topik beralih ke proyek besar yang melibatkan klien penting, Reyhan menunjukkan sisi tegasnya. “Ini bukan sekadar ide kreatif, Aluna. Ada banyak risiko yang harus dipertimbangkan,” katanya dengan nada serius, menegaskan batasannya.

Aluna menatapnya dengan tatapan menantang. “Aku tahu, Reyhan. Tapi aku percaya kreativitas dan strategi bisa berjalan beriringan. Kalau kita terlalu takut, kita tidak akan maju.”

Reyhan meneguk kopinya, menahan napas sebentar. Ia menyadari bahwa wanita ini bukan tipe yang mudah dikalahkan, dan itu membuatnya harus berpikir lebih keras. Ada ketertarikan dan rasa penasaran yang tumbuh, tapi juga frustrasi karena ia tidak bisa begitu saja menyerah pada perasaan itu.

Setelah hampir dua jam, mereka akhirnya meninggalkan kafe. Jakarta siang itu mulai terasa panas, tapi Aluna tampak segar, penuh semangat. Reyhan menutup pintu mobilnya dan menatapnya sebentar sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ada ketegangan yang samar di antara mereka—sebuah janji tak terucap bahwa pertemuan berikutnya akan membawa lebih banyak hal yang tidak terduga.

Di kantor Reyhan, ia duduk kembali di mejanya, menatap dokumen dengan pandangan kosong. Pikiran tentang Aluna terus muncul, senyum dan tawa yang tidak bisa ia hilangkan. Ia sadar satu hal: wanita itu telah menembus tembok yang selama ini ia bangun, tembok disiplin dan jarak yang ia pertahankan.

Sementara itu, Aluna berjalan menyusuri jalanan Jakarta, menikmati aroma kopi yang masih menempel di udara dan hiruk-pikuk kota. Ia tersenyum sendiri, tahu bahwa pertemuan hari ini bukan sekadar formalitas. Reyhan bukan tipe pria yang mudah didekati, dan itu justru membuat permainan ini semakin menarik. Ia tahu ia harus hati-hati, tapi juga tahu ia tidak bisa berhenti.

Hari itu berakhir dengan dua orang yang berpikir tentang satu sama lain—satu dengan ketertarikan dan sedikit frustrasi, satu lagi dengan rasa penasaran dan semangat tantangan. Mereka baru saja memulai sesuatu, sesuatu yang tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana akhirnya.

Badai kecil telah datang lagi, tanpa amarah, tanpa gemuruh petir. Hanya senyum, tawa, dan pandangan yang saling menantang, mengguncang ketenangan yang selama ini dijaga. Dan mereka berdua, entah sadar atau tidak, sudah mulai terjebak di dalamnya.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta di Jalur Cepat
Cinta di Jalur Cepat
Dalam novel Cinta di Jalur Cepat, Nayla membalas budi dengan menikahi Deddy yang koma. Namun, pengkhianatan sang billionaire memaksanya pergi. Sebagai dokter ahli dan peretas, ia bangkit di romance novel ini hingga seorang CEO mengklaimnya. Baca kisah seru ini di platform web novel kami.
ISTRI KONTRAK SANG CEO
ISTRI KONTRAK SANG CEO
Dalam ISTRI KONTRAK SANG CEO, Merry berjuang mengakhiri pernikahan kontrak akibat perjodohan, namun Rehan justru enggan melepasnya. Di tengah kemunculan model saingan, kisah romance novel ini menguji kesetiaan sang billionaire dalam mempertahankan cinta sebelum semuanya terlambat.
Menikah, Bercerai, Diinginkan Lagi
Menikah, Bercerai, Diinginkan Lagi
Dalam Menikah, Bercerai, Diinginkan Lagi, Lena meninggalkan billionaire dingin demi karier desain. Namun, saat ia sukses, sang mantan suami kembali menuntut pembuktian. Baca romance novel ini untuk melihat konsekuensi pengkhianatan dalam web novel modern yang penuh intrik.
Menikahi Taipan Misterius
Menikahi Taipan Misterius
Dalam Menikahi Taipan Misterius, Amelia mengakhiri pengabdian sia-sianya pada Jako demi harga diri. Melalui billionaire romance novels ini, ia memilih bersatu dengan miliarder kuat untuk memulai hidup baru. Sebuah romance novel modern tentang ambisi, kehormatan, dan pembalasan yang elegan.
Ngaku-ngaku Jadi Istri Konglomerat
Ngaku-ngaku Jadi Istri Konglomerat
Terjepit tuntutan sosial, Kejora Salsabila nekat mengaku sebagai istri konglomerat demi lari dari masalah hidup. Ikuti perjuangannya dalam Ngaku-ngaku Jadi Istri Konglomerat, sebuah billionaire romance novel seru bagi pembaca yang ingin read novels online secara gratis.
OPEN BO
OPEN BO
Dalam novel romance OPEN BO, Laras terjebak menjadi wanita panggilan demi menutupi rahasia dari Bagas. Meski Bagas hidup sederhana sebagai kuli, sebuah mobil mewah mengungkap pengkhianatan ini. Ikuti kisah billionaire romance books ini tentang pilihan sulit dan konsekuensi besar.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Silangkan Hatiku dan Harapan untuk Mati
Silangkan Hatiku dan Harapan untuk Mati
Dalam mencari kebenaran di balik kematian saudara perempuannya, Zoe Hale menikahi miliarder Ashton Cross, yang dia duga sebagai pembunuh. Namun, ketika dia mengenalnya lebih baik, dia menemukan kebenaran lebih bengkok, dan mencintai lebih kuat daripada yang bisa dia bayangkan.
Dalam Panasnya Pengkhianatan
Dalam Panasnya Pengkhianatan
Alexandra dan Jerald sering mengabaikan putri mereka, Bella, karena jadwal kerja mereka yang sibuk. Dalam pertemuan suatu hari, Alexandra tiba-tiba menerima panggilan darurat dari Bella. Saat itulah dia menemukan suaminya telah membawa cinta pertamanya, Dayna, dan putranya, keluar untuk bersenang-senang, meninggalkan putri mereka terkunci di dalam mobil. Mesin mati, udara stagnan, dan panas terik membuat situasinya mengerikan. Dalam kepanikan, Alexandra mencoba menghubungi Jerald melalui telepon untuk mencari tahu di mana dia berada, tetapi dia menuduhnya cemburu dan berbohong, menolak untuk mengungkapkan lokasinya dan akhirnya berhenti menjawab panggilannya. Putus asa, dia kembali ke rumah untuk mencari bantuan dari ibu Jerald, hanya untuk membuatnya mengungkapkan sifatnya yang sebenarnya dan tidak peduli. Ibu Jerald telah lama cuek terhadap cucunya, diam-diam berharap kecelakaan sehingga Alexandra bisa memiliki anak lagi—seorang cucu laki-laki untuk melanjutkan warisan keluarga.
Luka di Musim Dingin
Luka di Musim Dingin
Putus asa melihat cinta sepuluh tahunnya dikhianati oleh Putra Mahkota Hutama yang lebih memilih menikahi Kinaya Lindra, Yunis Kencana nekat mengajukan diri sebagai mempelai dalam pernikahan politik demi meredakan krisis di perbatasan Balangga. Meski Kaisar sempat ragu, tekad baja Yunis yang sudah mati rasa akhirnya berbuah titah resmi sebagai Putri Pelindung Negara yang akan diberangkatkan tujuh hari lagi, sementara Hutama yang terlalu percaya diri masih hidup dalam ilusi bahwa kekasih masa kecilnya itu takkan pernah sanggup meninggalkannya.
Mata Surgawi Terbuka! Tak Ada Lawan
Mata Surgawi Terbuka! Tak Ada Lawan
Louis Wandi, murid Sekte Kekacauan bertubuh Suci, memperoleh Mata Surgawi saat membaca teks klasik, menjadikannya orang ketiga yang memilikinya. Ia diberi setengah giok ilahi dan petunjuk tentang tunangan masa kecilnya yang memegang giok iblis. Demi bebas dari belenggu, mereka harus berkultivasi bersama. Turun gunung, Louis bertemu tunangan di hotel dan insiden pot bunga berujung ciuman tak sengaja. Disalahpahami, ia bertekad bangkit, berkuasa, dan hidup bebas.
Astaga! Aku Sudah Menikah di Vegas!
Astaga! Aku Sudah Menikah di Vegas!
Ema dan William kabur dari perjodohan tunangan keluarganya. Mereka bertemu di bar dan nggak tahu bahwa telah dijodohkan satu sama lain, karena mereka mereka mirip, mereka akhirnya menikah saat terlarut dalam mabuknya alkohol. Mereka berpura-pura jadi orang yang miskin. Ema yang akhirnya diterima kerja, nggak tahu kalau CEOnya adalah suaminya. Ema yang ingin jadi karyawan pada umumnya menyembunyikan identitasnya dan nggak beri tahu pada teman kerjanya. Namun, tak disangka ada orang yang berpura-pura jadi dirinya. Ema pun ditindas dan setiap saat suaminya datang membelanya di saat yang tepat. Ema pun mulai curiga akan identitas William.
Terlahir Jadi Gadis Gemuk
Terlahir Jadi Gadis Gemuk
Hari itu aku mengetahui pasanganku berselingkuh di laboratorium, pasanganku pun mendorongku hingga menyebabkan bahan kimia jatuh dan meledak. Setelah aku bangun, aku malah terlahir di dunia lain dan menjadi wanita gemuk yang tidak disukai orang. Aku pun memutuskan untuk mencari uang dan menghidupi keluargaku, hanya saja mana ada hidup mulus, pasti ada saja masalah.