Bab 4
Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya.
Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari.
Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat.
Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan?
Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya.
Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu.
Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat.
Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku.
Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk.
Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?"
"Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia.
"Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah.
"Lalu kenapa suaramu bergetar?"
Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kalimat.
Aku merasa berkeringat dingin.
Biarpun Kak Nia berpikiran terbuka, dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh mengincar dia.
Kalau dia mengetahui apa yang aku lakukan dengan celana dalamnya tadi, dia pasti akan beranggapan aku tidak patuh dan akan mengusir aku.
Tapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi aku hanya bisa berkata tanpa daya, "Benaran nggak, aku hanya sakit perut dan berkeringat ...."
"Kenapa berkeringat? Apa kamu sakit?" Suara Kak Nia menjadi khawatir.
Aku berkata, "Aku nggak tahu, aku hanya merasa nggak nyaman."
"Buka pintunya, biar kulihat."
"Ini, ini nggak pantas."
"Apa yang nggak pantas? Kamu hanya anak kecil bagiku. Cepat buka pintunya."
Aku merasa kecewa. Ternyata aku hanya anak kecil di mata Kak Nia. Pantas saja Kak Nia berpikiran terbuka di hadapanku.
Mungkin dia tidak pernah berpikir untuk memintaku melakukan hal semacam itu.
Aku membungkuk dan membuka pintu kamar mandi. Saat Kak Nia masuk, dia tidak langsung menatapku, melainkan melihat ke rak handuk.
Aku panik, apakah Kak Nia menemukan sesuatu?
Aku merasa sangat bersalah hingga tidak berani menatap mata Kak Nia.
Sedangkan Kak Nia berjalan menuju rak handuk dan bertanya padaku sambil tersenyum, "Apakah kamu menyentuh celana dalamku?"
"Nggak, nggak ada." Aku terus menggelengkan kepalaku.
"Benaran nggak? Lalu kenapa wajahmu memerah? Katakan sejujurnya, apakah kamu tadi berencana melakukan sesuatu yang buruk dengan celana dalamku? Tapi, aku menyela kamu, kamu merasa bersalah dan takut, jadi nggak berani membiarkan aku masuk?"
Aku sangat meragukan kalau Kak Nia itu waskita. Kenapa dia tahu semua yang aku lakukan dan pikirkan?
Kak Nia menatapku dari atas ke bawah, saat melihat aku membungkuk dan tak berani berdiri tegak, kecurigaan di matanya semakin kentara.
"Berdiri tegak." Kak Nia menatapku dan berkata.
Aku tidak berani membangkang Kak Nia.
Ketika aku berdiri tegak, bagian di bawah tubuhku yang memalukan langsung terlihat.
Aku tahu, aku ketahuan oleh Kak Nia.
Aku memejamkan mata, tidak berani menghadapi Kak Nia.
Lalu, aku merasakan Kak Nia perlahan berjongkok di depanku.
Jantungku hampir copot.
Terutama karena aku tidak tahu apa yang ingin Kak Nia lakukan?
Apalagi posisi Kak Nia yang berjongkok saat ini terlalu ambigu sehingga membuatku berpikir lebih jauh.
Aku diam-diam membuka mataku.
Aku melihat Kak Nia memandangi tempatku dengan tergila-gila dan dengan tulus menghela napas, "Alangkah baiknya kalau kakakmu bisa sekuat kamu!"
Saat dia berbicara, ada hasrat tiada tara di matanya.
Pikiranku kosong saat ini dan hatiku merasa tidak tenang. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Kak Nia memandanginya sebentar, lalu bangkit kembali.
Aku pun menutupinya dengan tanganku.
"Simpan keinginanmu, agar kamu punya motivasi untuk menghadapi Lina."
Ucap Kak Nia tiba-tiba menghampiriku, "Sebenarnya aku sengaja merangsangmu. Kak Nia tahu itu salah, tapi demi kakakmu, Kak Nia terpaksa melakukan ini."
"Kamu terlalu pemalu, Kak Nia terpaksa mencari cara untuk membuka pikiranmu dulu."
"Singkirkan tanganmu, Kak Nia adalah orang yang berpengalaman. Apa yang belum pernah Kak Nia lihat?"
Aku berpikir dalam hati bahwa cara kamu membuka pikiranku begitu istimewa, rasanya bisa membunuhku seketika itu juga.
"Keluarlah, aku akan menelepon Lina, kita pergi jalan-jalan, aku akan membantu mendekatkan kalian."
"Mari kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya pada siang hari ini, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Perusahaan kakakmu juga bisa pulih secepatnya."
Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia memutar pinggangnya dan pergi.
Aku mengikutinya dengan patuh keluar dari kamar mandi, telapak tanganku sudah berkeringat.
Kutahan.
Digoda Kak Nia berulang kali, tapi belum bisa melampiaskannya, hasratku hampir meledak.
Tapi, demi kakakku, aku hanya bisa menahannya untuk saat ini.
Kak Nia duduk di sofa dan menghubungi nomor telepon Lina, ".... Nggak mau keluar? Kenapa? Nggak bisa, aku mau kamu menemaniku. Kalau kamu nggak pergi, aku akan meminta adikku untuk menggendongmu turun."
"Hah? Apa aku keterlaluan? Aku memang keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"
"Kalau begitu beres, kutunggu di pintu lima menit lagi."
Kak Nia menutup panggilan teleponnya, lalu tersenyum dan berkata padaku, "Beres. Kamu ganti baju, nanti kamu bawa mobil."
"Ingat, lihatlah lebih jauh, akan ada kejutan menunggumu."
Aku berkata "Oh" dan pergi berganti pakaian.
Aku sangat menantikannya dan penasaran dengan kejutan yang Kak Nia bicarakan?
Segera, aku mengganti pakaianku.
Aku dan Kak Nia menunggu di depan pintu sebentar, lalu Lina pun datang.
Lina berganti gaun merah, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah.
Apalagi gaun ini memiliki leher V yang memperlihatkan bagian dada Lina.
Aku langsung tercengang.
Di luar dugaan, bodi Lina ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan.
Mata Lina sepertinya sengaja menghindariku, dia tidak mau menatap langsung ke arahku.
Dia merangkul lengan Kak Nia dan berjalan lewat di depanku.
Aku sangat bingung dan agak sedih.
Saat aku memijatnya tadi, dia jelas-jelas berkesan baik terhadapku. Kenapa dia begitu dingin sekarang? Bahkan tidak menatapku.
Apa aku bertindak keterlaluan? Membuatnya tidak senang?
Kami turun dari lantai atas.
Sepanjang proses, Lina berbincang dan tertawa dengan Kak Nia, tapi aku seperti udara.
Awalnya aku sangat tertekan, tapi setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku teringat perkataan Kak Nia yang memintaku untuk memperhatikan bagian belakang setelah masuk ke dalam mobil, ada kejutan yang menungguku.
Aku penasaran apa kejutannya?
Jadi aku terus melihat ke kaca spion.
Kak Nia dan Lina sedang mengobrol dan tertawa, aku tidak melihat ada kejutan apa pun.
"Kak Nia, kita mau ke mana?" Aku menanyakan arah dan sengaja menoleh ke belakang, tapi tetap tidak menemukan kejutan apa pun.
Tapi, mataku dan mata Lina secara tidak sengaja bertatapan. Wajah Lina tiba-tiba memerah, lalu dia membuang muka dengan salah tingkah.
Aku menangkap tatapan bingung, gelisah dan canggungnya.
Jantungku pun "berdebar" satu kali.
Aku curiga Lina tidak marah, tapi ragu-ragu dan bingung apakah dia harus bersikap ambigu padaku, jadi dia terus mengabaikanku.
Aku sangat senang.
Karena ini menunjukkan bahwa dia tertarik padaku.
"Ke Wanda Plaza," ujar Kak Nia.
Aku mengiyakan, lalu menggunakan ponsel untuk mencari rute, menyalakan mobil dan menuju ke Wanda Plaza.
Sepanjang perjalanan aku masih sesekali melihat ke kaca spion.
Aku hanya ingin tahu kejutan apa yang Kak Nia bicarakan.
Saat mobil sampai di jalan yang padat, mobil melaju sangat lambat. Aku melihat ke kaca spion lagi.
Ini pemandangan yang luar biasa, kebetulan aku melihat Lina melepas celana dalamnya.
Bab 5
Setelah Lina melepas celana dalamnya, dia memasukkannya ke dalam tas dan melihat ke luar jendela seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi, wajahnya yang cantik memerah dan kakinya dijepit erat.
Aku kebetulan bisa melihat penampilannya secara keseluruhan di kaca spion.
Penampilannya yang pemalu dan gelisah itu terlalu menawan.
Terutama di antara kedua kakinya, itu membuatku berfantasi.
Kak Nia luar biasa, entah apa yang dia katakan dengan Lina hingga membuat Lina melakukan hal seperti itu.
"Drrt drrt." Ponsel tiba-tiba bergetar.
Aku membuka WhatsApp dan menemukan bahwa itu adalah pesan dari Kak Nia.
Kak Nia, "Sudah lihat?"
Aku malu dan bersemangat, juga tidak tahu harus berkata apa, jadi aku mengirim ekspresi tersenyum pada Kak Nia.
Pesan Kak Nia segera terkirim, "Lina sedikit pemalu sepertimu, tapi aku akan membiarkan pikiran dia terbuka perlahan, kamu harus memanfaatkan kesempatan."
Aku menjawab, "Oke."
Aku sangat bersemangat, Kak Nia sangat mahir dalam membantu.
Sesampainya di mal, Kak Nia selalu membantuku menciptakan kesempatan untuk dekat dengan Lina, tapi Lina selalu sengaja menghindariku sehingga membuatku sangat tidak berdaya.
Saat istirahat, Lina pergi ke kamar mandi, Kak Nia memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya padaku, "Ada apa denganmu? Aku sudah menciptakan kesempatan untukmu, apa kamu nggak bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk dekat dengannya?"
"Kak Nia, bukannya aku nggak mau mendekatinya, tapi Kak Lina memang sengaja menghindariku. Aku jadi penasaran, apa dia tahu kalau aku punya berniat seperti itu padanya?"
"Apa tindakanmu itu disebut mendekat? Sepertinya sia-sia aku mengajarimu pagi ini =. Ingat, kamu nggak boleh terlalu polos saat berhadapan dengan wanita."
"Dia nggak membiarkanmu mendekat, jadi kamu nggak akan mendekat? Dia nggak membiarkanmu membantu membawa barang, apa kamu nggak bisa memaksa untuk membawa barang?"
"Kamu laki-laki, kamu harus lebih proaktif, biarkan dia melihat sisi maskulinmu, lalu secara nggak sengaja menggodanya, maka hasratnya perlahan akan terkobar."
"Kalau nggak, dengan temperamenmu yang lamban, butuh waktu bertahun-tahun dan berbulan-bulan untuk mendapatkannya."
Aku memang agak kaku untuk soal ini. Ketika aku masih sekolah, aku hanya belajar dan tidak pernah mengejar seorang gadis.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi nyonya muda yang dewasa.
Aku mengangguk dengan setengah paham, "Aku mengerti, Kak Nia."
Kak Nia tiba-tiba menghampiriku dan membantuku merapikan kerah bajuku. Aku mencium bau harum Kak Nia dan menatap wajahnya dari dekat, lalu detak jantungku semakin cepat.
Kulit Kak Nia sangat bagus. Biarpun usianya sudah di atas 30 tahun, kulitnya sama bagusnya dengan gadis berusia delapan belas atau sembilan belas tahun.
Apalagi dada Kak Nia sangat besar dan montok. Saat dia mendekat ke arahku, aku melihat dari sudut mataku bahwa dadanya hampir menyentuhku.
Hal ini membuat aku semakin gelisah dan pemandangan yang aku intip di pagi hari mau tidak mau muncul di benakku.
"Edo, apa kamu melihat sesuatu pagi ini?"
Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku.
Aku sangat ketakutan hingga jantung aku berdetak kencang dan jantungku terasa seperti tercekat.
"Nggak ada, Kak Nia, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"
"Benaran nggak? Lalu kapan kamu meletakkan celana dalam yang kamu pakai di kamar mandi pagi ini?"
Kak Nia tidak tinggi, hanya mencapai daguku. Dia menatapku, bibir merahnya yang indah sangat dekat denganku.
Aku bisa merasakan napas Kak Nia yang menerpa leherku, terasa gatal dan mati rasa.
Saking paniknya aku sampai tergagap, "Iya, aku letakkan tadi malam. Kak Nia, aku tahu apa yang kulakukan itu salah, aku nggak akan pernah melakukannya lagi."
Kak Nia tertawa dan melepaskan kerah bajuku, "Aku nggak menyalahkanmu, aku hanya merasa reaksimu aneh hari ini. Kupikir kamu melihat sesuatu pagi ini."
"Aku tidur sangat nyenyak di pagi hari dan baru bangun setelah jam sembilan. Kak Nia tahu itu 'kan?" Aku berbohong
Kak Nia mengangguk, "Aku terlalu memikirkannya. Sebenarnya aku bisa memahaminya. Kamu adalah seorang mahasiswa yang baru lulus dan bahkan belum pernah punya pacar. Agak memalukan bagimu kalau aku tiba-tiba membicarakan hal seperti itu."
"Apalagi apa yang kuucapkan padamu di pagi hari pasti akan membuatmu berpikiran liar. Jadi aku mengingatkanmu lagi bahwa aku adalah kakak iparmu dan aku saat ini adalah gurumu. Kamu nggak boleh mempunyai pemikiran lain tentang aku."
"Paham?"
Biarpun aku tahu bahwa tidak mungkin terjadi apa-apa antara aku dan Kak Nia, aku tetap merasa kecewa saat Kak Nia memberitahuku hal ini.
Kak Nia melihat ke arah kamar mandi, lalu berkata kepadaku, "Kita akan pergi makan siang nanti, kamu manfaatkan waktu untuk membangkitkan hasrat Lina dan cobalah bantu dia antar barang ketika pulang nanti, biar kamu bisa pergi ke rumahnya."
Aku tidak berbicara.
Kak Nia memiringkan kepalanya dan menatapku lalu berkata, "Oh, apa kamu nggak bisa? Kalau memang nggak tahu caranya, cari film dan tonton."
"Aku nggak begitu," kataku dengan suara yang sangat kecil sambil menundukkan kepala.
Kak Nia jadi geli dengan kata-kataku, "Yang benar saja, bukankah semua pria suka menonton film seperti itu?"
"Kak Nia, aku memang nggak pernah, aku nggak tahu harus cari di mana."
"Oh, kalau begitu kamu memang anak baik." Kak Nia tersenyum lebar, di saat yang sama, dia menatapku dengan aneh.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari-cari sesuatu. Saat itu, Lina keluar dari kamar mandi.
Kak Nia segera menyimpan ponselnya dan mengedipkan mata ke arahku.
"Kak Lina, biar kubantu bawa barang-barangmu." Aku melihat ekspresi Kak Nia dan segera berjalan mendekat sambil berkata pada Lina.
"Nggak usah, aku bawa saja sendiri."
"Aku seorang pria dewasa, mana bisa membiarkan seorang wanita membawa barang? Berikan saja padaku."
Dengan pengalaman yang Kak Nia ajarkan kepadaku, kali ini aku tidak peduli bagaimana sikap Lina dan langsung mengambil benda itu dari tangannya.
Lina tersenyum dan mengangguk ke arahku, "Terima kasih."
Aku merasa sangat bahagia.
Kak Nia memang guruku. Pengalaman yang dia sampaikan kepadaku sungguh efektif.
Aku membawa sendirian semua tas besar dan kecil lalu memasukkannya ke dalam mobil, sedangkan Kak Nia dan Lina pergi mencari tempat makan.
Setelah menyimpan barang-barang, ponselku tiba-tiba bergetar dua kali.
Aku mengeluarkannya, ternyata Kak Nia mengirimiku video seperti itu.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dan melihat sekeliling.
Untungnya, tidak ada seorang pun di garasi saat ini.
Kak Nia kemudian mengirimiku pesan lagi, "Tonton videonya dan pelajari. Nanti aku kasih tahu kalau makanannya sudah disajikan."
Aku sangat gembira karena aku belum pernah melihat video seperti ini.
Aku membuka pintu mobil dan masuk. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku membuka video tersebut dengan tangan gemetar dan penuh semangat.
Adegan dalam video tersebut begitu seru hingga aku merasa sangat tidak nyaman setelah menontonnya beberapa saat.
Apalagi api yang dikobarkan Kak Nia pada pagi hari kini kembali berkobar.
Mau tak mau aku melepaskan ikat pinggangku, bersiap untuk melampiaskannya sebelum naik ke atas.
Tepat ketika aku sedang melampiaskan hasrat hingga lupa diri, aku secara tidak sengaja menemukan sesosok tubuh di luar jendela mobil.
Saat aku melihat sosok itu dengan jelas, seluruh tubuhku mati rasa.
Pasalnya sosok itu tak lain adalah sahabat Kak Nia, Lina.
Saat aku menemukan Lina, Lina menatap lurus ke arahku dengan mata indahnya.
Tapi, saat mata kami bertemu, Lina berbalik dan lari seperti kelinci yang ketakutan.
Bab 6
"Ahhh ...."
Awalnya, saat aku melampiaskannya sendiri, perasaannya tidak begitu kuat, mungkin perlu beberapa saat sebelum aku bisa melampiaskannya.
Tapi, setelah melihat Lina memata-mataiku melakukan itu, entah kenapa aku menjadi terangsang, antusias dan bersemangat.
Cairan pun segera disemprotkan.
Karena aku melakukan hal semacam itu tanpa menutup-nutupi, pada dasarnya tidak mengotori celana, tapi membuat kursi pengemudi kotor.
Di mana pun.
Aku panik.
Alangkah memalukannya kalau Kak Nia mengetahui hal tersebut.
Ini adalah mobil favoritnya.
Saat dia dan Kak Wiki mengantarku kemarin, dia tidak memperbolehkan Kak Wiki mengemudikan mobilnya. Kak Wiki mengatakan bahwa Kak Nia membeli mobil itu sendiri. Kak Nia sudah lama mengincarnya dan sangat menyayanginya.
Aku segera mengambil tisu dari sisi penumpang dan membersihkannya.
Tapi, masih ada bekasnya, aku tidak tahu apakah bisa kering setelah makan?
Akan memalukan kalau meninggalkan jejak.
Kak Nia menyuruhku belajar, tapi aku malah melakukan hal semacam ini di mobilnya.
Kak Nia pasti akan marah.
Setelah membersihkan mobil, aku membersihkan diriku juga.
Tapi, aku duduk di dalam mobil dan tidak keluar dari mobil.
Aku merasa nyaman, tapi bagaimana aku bisa tiba di sana?
Apalagi bagaimana caranya menghadapi Lina?
Memikirkan adegan di mana kami berdua saling memandang barusan, aku merasa sangat malu.
Aku ternyata ketahuan melakukan hal semacam itu oleh Lina.
Kurasa Lina pasti akan menganggap aku mesum.
Dia sudah sengaja menjauhiku, setelah kejadian tadi, dia pasti akan mengadu pada Kak Nia.
Kak Nia sudah membantuku tapi aku membuat kesalahan.
Aku merasa sangat bersalah.
Itu juga sangat memalukan.
Aku sama sekali tidak berani naik sekarang.
Setelah ragu-ragu beberapa saat, aku memutuskan untuk mengirim pesan WhatsApp kepada Kak Nia untuk menanyakannya.
Aku ingin tahu kondisi Lina sekarang.
Kak Nia segera membalasku, "Kak Lina bilang dia turun untuk mengambil sesuatu, tapi masih belum kembali. Aku malah ingin tanya kamu, apakah kamu melihatnya?"
Saat melihat pesan dari Kak Nia, aku bingung dan penasaran.
Lebih dari sepuluh menit sudah berlalu sejak itu. Secara logika, Lina seharusnya sudah kembali.
Kalau dia tidak kembali mencari Kak Nia, ke mana dia pergi?
Biarpun penasaran, aku tidak terlalu memikirkannya dan aku merasa sedikit beruntung.
Lina belum kembali, jadi dia belum sempat menceritakan apa yang terjadi barusan pada Kak Nia.
Kalau aku kembali dan mengaku pada Kak Nia sekarang, mungkin akan lebih baik.
Jadi, setelah aku menanyakan alamat pada Kak Nia, aku pun bergegas ke sana.
Kak Nia sedang duduk sendirian sambil bermain ponsel. Saat dia melihatku datang, dia tersenyum dan melambai padaku, "Edo, di sini."
Aku menatap Kak Nia dan merasa tidak tenang.
Biarpun aku datang ke sini untuk mengaku dan mendapat pengertian, aku merasa sangat tidak nyaman ketika memikirkan kemungkinan akan mengacaukan masalah ini.
Aku duduk di hadapan Kak Nia, tapi aku tidak tahu harus berkata apa.
"Ada apa? Kenapa wajahmu merah sekali? Ini pertama kalinya kamu menonton video seperti itu, apa kamu malu?"
Kak Nia bertanya padaku sambil menatapku dengan sepasang matanya yang besar.
Aku bisa merasakan wajahku sangat merah dan panas, bahkan telingaku terasa panas.
Lagipula, aku malu membicarakan hal semacam ini dengan Kak Nia.
Aku bahkan merasa semua orang di sekitarku memperhatikanku.
Tapi, sebenarnya aku sudah mengintip dan tidak ada yang memperhatikan kami sama sekali.
Aku hanya merasa bersalah karena menjadi pencuri.
"Kak Nia, ada yang ingin kukatakan padamu." Aku ragu-ragu sejenak, tapi memutuskan untuk memberitahu Kak Nia apa yang baru saja terjadi.
"Ada apa? Katakan saja. Kenapa kamu begitu sungkan pada Kak Nia?" ucap Kak Nia sambil menyesap tehnya.
Aku melambaikan tanganku pada Kak Nia, menyuruhnya mendekat ke tengah meja.
Kak Nia langsung menempelkan seluruh tubuh bagian atasnya ke atas meja.
Gunung salju di bawah kerahnya tergencet di dekat meja, seolah-olah akan melompat kapan saja.
Biarpun baru saja melampiaskan hasrat, jantungku masih berdebar kencang saat melihat pemandangan ini.
Adegan yang kudengar di pagi hari muncul di benakku tanpa disadari.
Mataku terpaku pada kerah baju Kak Nia.
Aku tak berani menatap Kak Nia lagi. Aku berbaring di samping telinga Kak Nia dan memandang ke kejauhan.
Dengan begini aku bisa merasa lebih tenang.
"Kak Nia, aku baru saja menonton video yang kamu kirimkan padaku di dalam mobil. Aku nggak bisa menahannya, jadi aku melampiaskannya dengan tanganku."
"Saat aku melakukannya, aku melihat Kak Lina berdiri di luar mobil."
Aku tersipu dan menceritakan pada Kak Nia apa yang terjadi barusan.
Setelah selesai berbicara, aku merasa sangat malu.
Aku merasa malu pada Kak Nia.
Tapi, Kak Nia bertanya dengan penuh semangat, "Lalu bagaimana? Bagaimana reaksi Lina?"
Melihat Kak Nia tidak menyalahkanku, kegelisahanku berkurang.
Aku berkata, "Saat aku melihat Kak Lina, dia menatap lurus ke arahku, tapi ketika dia menyadari bahwa aku melihatnya, dia segera berbalik dan lari."
Kak Nia kembali bertanya, "Lalu?"
"Itu saja. Setelah Kak Lina pergi, aku membersihkan diriku."
"Kupikir dia akan datang untuk mengadu padamu, tapi dia belum muncul."
"Kak Nia, katakan padaku, apakah Kak Lina menganggapku mesum?"
Kak Nia mengerutkan kening dan berkata, "Sulit untuk mengatakan, Lina adalah wanita yang konservatif. Kalau dia melihatmu melakukan hal seperti itu sendirian di dalam mobil, kemungkinan besar dia nggak akan bisa menerimanya."
"Tapi, Johan sudah meninggalkannya selama lebih dari setengah tahun. Aku nggak percaya dia nggak mendambakan sentuhan sama sekali."
"Terlebih lagi, punyamu sangat besar, nggak ada wanita yang nggak akan terangsang saat melihatnya."
Ucap Kak Nia sambil menjulurkan lehernya dan melihat ke bawah tubuhku.
Tatapan agak aneh.
Aku sungguh gatal dengan tindakan Kak Nia.
Sekarang kami sedang membicarakan masalah serius, bukan sedang melatihku. Mata Kak Nia masih membara sekali sehingga mau tidak mau pikiranku melayang.
Apalagi dia baru saja mengatakan adalah tidak ada wanita yang tidak terangsang saat melihatnya.
Biarpun aku tak berani mengincar Kak Nia, aku tak ingin Kak Nia selalu memperlakukanku seperti anak kecil.
Aku ingin membuktikan pada Kak Nia kalau aku sudah dewasa!
Aku menatap tangan mulus Kak Nia dan ingin menyentuhnya.
Setiap kali dia menggodaku, aku juga akan menggodanya.
Tapi, bagaimanapun juga, aku tidak punya nyali.
Saat itu ponsel Kak Nia berbunyi dan bergetar, "Lina, kamu dari mana saja?"
"Sudah pulang? Kenapa kamu pulang sendirian?"
Kak Nia melihatku, lalu dengan sengaja bertanya melalui telepon, "Apakah Edo mengganggumu? Kalau ada, katakan saja padaku, aku akan membantumu memberi dia pelajaran."
Kak Nia memancing Lina untuk menceritakan kejadian barusan.
Lina sangat konservatif dan tertutup. Sebenarnya sulit baginya untuk membuka mulut dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Jadi Kak Nia akan membimbingnya untuk membuka hatinya.
Kak Nia sudah bilang, hanya kalau Lina menghadapi hal seperti ini dengan sangat tenang, peluangku akan lebih besar.