Bab 1
Pada pukul sebelas malam.
Aku pergi lari malam di taman di bawah rumah kakakku.
Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik seorang pria dan seorang wanita yang datang dari rerumputan.
"Wiki, kamu sebenarnya mampu nggak? Kamu bilang kamu nggak terangsang kalau di rumah. Aku ikut ke sini bersamamu, kenapa kamu masih seperti ini?"
Saat aku mendengarnya, bukankah ini suara anggun Kak Nia?
Bukankah kakakku dan Kak Nia pergi makan malam? Kenapa muncul di taman, bahkan di rerumputan?
Biarpun belum pernah punya pacar, aku sudah menonton banyak video instruksional, jadi aku langsung mengerti bahwa mereka sedang mencari sensasi.
Nggak kuduga kakakku dan Kak Nia jago mainnya! Mereka ternyata melakukannya di taman ... ini seru sekali.
Mau tak mau aku pun mendekat dan menguping.
Kak Nia sangat cantik dan memiliki bodi yang super seksi. Mendengar rintihan Kak Nia adalah impianku.
Aku berjingkat ke rumput dan diam-diam menjulurkan kepalaku.
Kulihat Kak Nia duduk di atas kakakku. Walaupun punggungnya menghadap ke arahku, tapi lekuk punggungnya yang anggun terlihat begitu indah.
Mulutku tiba-tiba terasa kering dan perutku di bagian bawah terasa panas.
Menghadapi Kak Nia yang begitu memikat, kakakku sedikit kewalahan, "Nia, aku ... sepertinya masih belum bisa."
Kak Nia dengan marah membentak kakakku, "Kamu payah. Umurmu baru tiga puluh lima tahun. Apa gunanya kamu?"
"Biarpun nggak bisa mengeras, setidaknya kamu berikan aku sesuatu yang berguna, tapi itu pun kamu nggak bisa. Bagaimana aku bisa hamil kalau seperti ini?"
"Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan cari orang lain!"
"Kamu mungkin nggak ingin menjadi seorang ayah, tapi aku ingin menjadi seorang ibu."
Kak Nia dengan marah menarik celananya dan berjalan keluar.
Aku sangat ketakutan sehingga aku berbalik dan lari.
Tak lama setelah kembali ke kamar, kudengar Kak Nia kembali.
Kak Nia membanting pintu hingga tertutup, itu membuatku takut.
Aku diam-diam menepuk dadaku, aku sangat ketakutan. Aku tidak menyangka kalau kehidupan pernikahan kakakku dan Kak Nia begitu tidak harmonis.
Konon wanita yang berusia tiga puluhan itu ibarat serigala dan harimau. Kak Nia terlihat seperti tipe wanita yang bergairah tinggi. Bagaimana kakakku bisa memuaskannya dengan tubuh kecilnya itu?
Kalau itu aku, masih lumayan.
Bah bah bah!
Apa yang kupikirkan, Nia Gaori adalah kakak iparku, bagaimana aku bisa mengincarnya?
Biarpun Wiki Cahyadi dan aku bukan saudara kandung, hubungan kami lebih dekat dibandingkan saudara kandung.
Kalau bukan karena Wiki, aku tidak akan menjadi mahasiswa.
Oleh karena itu, aku sama sekali tidak boleh mengincar Kak Nia.
Saat aku sedang berpikir liar, samar-samar aku mendengar suara terengah-engah dari sebelah.
Aku segera menempelkan telingaku ke dinding dan mendengarkan.
Itu memang suara terengah-engah!
Kak Nia ternyata ....
Aku merasa panas dan tak tertahankan.
Aku melakukan hal buruk secara diam-diam.
Pada akhirnya, suara-suara di kedua sisi tembok saling tumpang tindih.
Kecocokan spiritual seperti ini membuat aku sedikit berkhayal.
Menurutku kalau aku berhubungan intim dengan Kak Nia maka pasti akan sangat harmonis.
Tapi, hal ini tidak mungkin dilakukan.
Ada kakakku yang menjadi penghalang antara aku dan Kak Nia.
Tidak mungkin aku berbuat sesuatu yang bersalah pada kakakku.
Aku melepas celana dalam yang kotor dan menaruhnya di kamar mandi di luar, aku akan mencucinya ketika bangun di pagi hari.
Lalu aku tertidur.
Aku tidur sampai sekitar jam sembilan keesokan harinya. Saat aku bangun, kakakku sudah berangkat kerja, hanya aku dan Kak Nia yang berada di rumah.
Kak Nia sedang membuat sarapan.
Kak Nia mengenakan piama tali ikat sutra, jadi sosok montoknya terlihat jelas di hadapanku.
Apalagi kemontokan di bagian dada dia, itu membuatku merasa haus lagi.
"Edo sudah bangun? Ayo mandi dan sarapan." Kak Nia melihatku dan berinisiatif menyambutku.
Aku baru beberapa hari tinggal di sini, aku belum terlalu mengenal Kak Nia, jadi aku merasa agak canggung.
Aku hanya berkata "oh" dengan ringan dan pergi ke kamar mandi.
Saat mandi, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Celana dalam yang aku ganti tadi malam ada di sini.
Kak Nia bangun lebih awal dariku, jadi dia pasti sudah melihat celana itu 'kan?
Aku segera melihat ke rak, tapi aku tercengang saat melihat celana dalamku hilang!
Saat aku sedang melihat sekeliling, tiba-tiba terdengar suara Kak Nia dari belakangku, "Nggak usah cari, sudah kucuci."
Aku langsung merasa malu.
Celana dalam itu penuh dengan kotoran. Apa Kak Nia tidak melihatnya saat mencuci?
Ini terlalu memalukan!
Kak Nia malah menyilangkan tangan di dada dan menatapku sambil tersenyum, seolah tidak ada yang salah, "Edo, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan panik, sampai mati pun aku tidak bisa mengakui kalau aku mendengar Kak Nia melakukan hal seperti itu sendirian.
"Nggak, nggak ada, aku nggak mendengar apa pun."
"Benarkah? Apakah kamu nggak mendengar suara-suara aneh datang dari kamarku?"
Kak Nia sedang mengujiku.
"Aku tidur sekitar jam sepuluh tadi malam, aku benar-benar nggak mendengar apa pun."
Setelah mengatakan itu, aku lari.
Entah apa yang terjadi, tapi saat diinterogasi Kak Nia, aku merasa sangat bersalah dan mataku tak bisa menahan diri untuk tidak tertuju pada dada Kak Nia.
Ini seperti sihir.
Aku sedang duduk di meja makan sambil makan. Sebenarnya aku tidak fokus, karena Kak Nia segera menghampiriku lagi dan duduk di sebelahku.
Aku mempertanyakan apa yang ingin Kak Nia lakukan? Kami biasa duduk berhadapan saat makan, kenapa dia tiba-tiba duduk di sebelahku?
Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia tiba-tiba menyentuh lembut lenganku dengan jarinya.
Tiba-tiba aku merasa mati rasa di sekujur tubuh, seolah-olah aku tersengat listrik.
Aku juga mendesah dalam hati, ternyata begini rasanya disentuh oleh seorang wanita.
Sentuhan ini sangat luar biasa.
"Edo, sepertinya kamu takut padaku, ya?"
"Nggak, aku hanya kurang begitu mengenal Kak Nia, jadi aku sedikit berhati-hati."
"Bukankah semua orang berubah dari nggak akrab satu sama lain menjadi akrab? Justru karena kita nggak akrab maka kita perlu lebih banyak berkomunikasi, agar kita bisa lebih cepat dan lebih dekat satu sama lain secara efektif."
"Edo, tahukah kamu cara apa yang paling cepat dan efektif agar pria dan wanita bisa akrab satu sama lain?"
Entah itu hanya imajinasiku, aku hanya merasa Kak Nia sedang memberi isyarat padaku?
Aku sangat bingung sehingga aku bahkan tidak repot-repot makan.
Aku merasa antusias sekaligus gugup. Apalagi aku ingin tahu apa yang dimaksud Kak Nia?
Jadi aku memberanikan diri bertanya, "Kak Nia, apa itu?"
"Menciptakan manusia!" Kak Nia menatapku dengan mata besarnya yang cerah dan berkata langsung.
Aku langsung tersedak.
Aku berpikir dalam hati, kenapa Kak Nia berkata seperti itu padaku? Dia adalah kakak iparku, aku tidak bisa melakukan ini padanya.
Mungkinkah Kak Nia sedang mengincarku?
Kakakku tidak mampu, jadi dia menaruh harapannya padaku?
Tidak, tidak, aku tidak boleh bersalah pada kakakku.
Aku segera menarik bangku ke samping dan berkata, "Kak Nia, jangan bercanda. Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan salah paham."
"Pfft." Kak Nia langsung tertawa saat melihat tatapanku, lalu berkata, "Kalau begitu katakan sejujurnya, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam? Kalau kamu masih nggak mau mengatakan yang sebenarnya, aku akan berdiskusi mendalam denganmu."
Aku ketakutan hingga hampir buang air kecil, aku berpikir ini tidak mungkin terjadi, jadi aku panik dan berkata, "Kak Nia, aku memang mendengar suara-suara tadi malam, tapi itu secara nggak sengaja."
"Apakah itu eranganku, merdu nggak?" Aku tidak menyangka Kak Nia akan menanyakan hal ini.
Aku tersipu malu hingga jantungku hampir copot. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Saat ini, ada ketukan di pintu di luar. Seolah-olah aku sudah menemukan penyelamat, aku segera berlari dan membuka pintu.
Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang wanita jangkung dan ramping berdiri di depan pintu.
Dia sangat cantik dan memiliki sosok yang berlekuk, seperti bintang wanita.
Wanita itu menatapku, mengedipkan mata hitam besarnya dan bertanya, "Siapa kamu?"
Aku juga bertanya-tanya, "Siapa kamu?"
Bab 2
"Lina, kamu sudah sampai, ayo masuk, duduk dulu." Selagi aku bertanya-tanya, Kak Nia menghampiri dan berkata kepada wanita itu dengan sangat antusias.
Wanita itu masuk ke dalam rumah atas ajakan Kak Nia.
Kak Nia memperkenalkan kami satu sama lain.
Ternyata wanita itu adalah sahabatnya yang bernama Lina Lasma yang tinggal di sebelah.
"Lina, ini adik Wiki dari desa yang sama. Namanya Edo Didi. Dia baru tiba kemarin."
Lina menatapku dengan heran, lalu berkata sambil tersenyum, "Aku nggak menyangka adiknya Wiki begitu muda dan tampan!"
"Edo baru saja lulus kuliah, bagaimana mungkin nggak muda? Selain itu, dia bukan hanya muda, dia juga sangat kuat."
Entah apakah itu hanya imajinasiku, aku merasa perkataan Kak Nia ada maksud lain dan matanya menatap bagian tertentu di tubuhku.
Itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Lina menatapku dari atas ke bawah dan bertanya, "Nia, kalau begitu tukang pijat yang kamu bicarakan itu adikmu ini 'kan?"
"Benar, itu Edo. Dia belajar ilmu pijat dari kakeknya selama beberapa tahun ketika kecil, tekniknya sangat bagus."
Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia menatapku lagi, "Tadi aku nggak sempat memberitahumu, jadi aku akan menjelaskannya padamu sekarang. Sahabatku menderita sakit punggung dan leher sepanjang tahun, kadang-kadang dada dan napas sesak. Dia ingin mencari dokter TCM untuk pemijatan."
"Aku pikir kamu bisa pijat, jadi aku memintanya datang untuk coba."
Ternyata begitu.
Aku langsung setuju.
Kak Wiki dan Kak Nia mengizinkanku tinggal di rumah mereka dan mengatakan mereka akan membantuku mengatur pekerjaan. Bukankah pantas kalau aku memberikan sedikit bantuan untuk mereka?
Lina agak malu dan menarik Kak Nia ke samping, "Ini nggak pantas, adikmu masih sangat muda."
"Apa salahnya dia muda? Bukankah muda itu bagus? Justru karena dia masih muda dan kuat maka dia bisa melayani wanita muda sepertimu dengan nyaman."
"Apa yang kamu bicarakan? Aku bukan orang seperti itu." Lina tersipu.
Kak Nia berkata sambil tersenyum, "Aku hanya bercanda, kamu sendiri yang berpikir aneh-aneh, apa kamu berpikir yang porno? Jujur saja, Johan belum kembali dalam setengah tahun, apa kamu sama sekali nggak mendambakannya?"
"Kalau kamu bicara seperti ini lagi, aku akan pergi." Telinga Lina memerah.
Kak Nia segera menggandeng lengan Lina dan berkata, "Baiklah baiklah, aku nggak akan tanya lagi, aku tahu kamu adalah wanita yang disiplin dan anggun. Tapi, biar kuberi tahu, teknik adikku sangat bagus, kamu coba saja dulu "
"Lebih baik dipijat pria muda dan tampan daripada dipijat pria tua di luar."
Lina merasa perkataan Kak Nia masuk akal, maka dia pun mengangguk.
"Kalau begitu kamu temani aku, kalau nggak, aku akan merasa canggung."
"Baiklah, kutemani."
Mereka berdua "berbisik" sebentar, lalu mendatangiku.
Lina meminta Kak Nia dipijat terlebih dahulu, dia ingin melihat hasilnya terlebih dahulu.
Kak Nia tidak berkata apa-apa dan hanya berbaring di sofa.
"Edo, ayo mulai."
Aku mengambil bangku dan duduk di samping Kak Nia dan mulai memijat bahunya.
Sosok Kak Nia sangat seksi dan montok, bokongnya yang bulat juga menungging.
Itu membuatku ingin menepuknya.
"Nia, bagaimana? Nyaman nggak?" tanya Lina penuh perhatian.
"Tentu saja nyaman. Sudah lama aku nggak merasa senyaman ini," gumam Kak Nia membuat aku dan Lina tersipu malu.
Aku pun merasa sedikit tidak nyaman di bagian bawah perutku.
Lina juga sedikit canggung dan kakinya dijepit erat.
"Oke, Lina, giliranmu."
Kak Nia bangkit dari sofa dan menuangkan air untuk kami.
Lina sedikit pemalu, jadi setelah berbaring, dia menutupi kakinya dengan selimut.
Sangat disayangkan bahwa kaki indah seperti itu tertutupi.
Tapi, betapa pun Lina menutupinya, itu tidak bisa menutupi bodi seksinya.
Dia memiliki sosok yang ramping, tapi montok dan berisi, besar di bagian yang seharusnya dan ramping di bagian yang seharusnya, dengan wajah kekanak-kanakan dan berpayudara besar.
Saat tanganku menyentuh bahunya, seluruh tubuhku menegang.
Aku tidak berani memimpikan terjadi sesuatu dengan Kak Nia. Apakah aku tidak boleh memimpikan terjadi sesuatu dengan sahabatnya?
Selain itu, kudengar dari Kak Nia, wanita ini pasti sangat kesepian karena suaminya lama tidak berada di rumah.
"Kak Lina, nyaman nggak?" tanyaku ragu-ragu.
Lina tidak menjawab, tapi berkata "hmm" dengan malu-malu.
Aku melihatnya merespons dan menjadi lebih berani.
"Ada satu teknik lagi yang bisa membuatmu lebih nyaman."
Tanganku meluncur ke punggungnya perlahan.
Tubuh Lina bergetar, "Apa yang kamu lakukan?"
"Bukankah pinggangmu sakit? Biar kupijat pinggangmu."
Lina tidak mengatakan apa-apa, itu berarti dia menyetujuinya.
Setelah tanganku meluncur ke pinggangnya, aku mulai memijat pinggangnya.
Pinggang Lina kecil sekali!
Sungguh ramping.
Tapi, pantatnya cukup besar, bulat dan montok, itu adalah pinggul yang bagus.
Aku berkata pada Lina, "Kak Lina, sebenarnya nggak ada masalah besar dengan bahumu, tapi cukup banyak masalah dengan pinggangmu."
"Ah, ada apa dengan pinggangku?" Lina bertanya dengan gelisah.
Aku memijat pinggangnya dan berkata, "Kamu mengalami lemah ginjal. Kalau lemah ginjalnya serius, kamu akan mengalami sakit punggung."
"Benarkah hanya laki-laki yang menderita lemah ginjal? Aku perempuan, apa aku juga menderita lemah ginjal"
"Itu sebenarnya salah paham. Bukankah laki-laki dan perempuan punya dua ginjal?"
"Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa pria akan menderita defisiensi ginjal kalau melakukan terlalu banyak hal seperti itu, tapi hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa kekurangan energi dan darah pada wanita juga bisa menyebabkan defisiensi ginjal."
"Lihat dirimu, wajahmu sedikit pucat. Ini tandanya energi dan darah nggak mencukupi. Kalau diabaikan dalam waktu lama, itu akan menimbulkan masalah lain."
"Apa yang harus dilakukan?" Lina bertanya tanpa sadar.
Aku tersenyum dan berkata, "Sebenarnya masalah kamu belum serius. Kalau aku memijatmu untuk kurun waktu tertentu, kondisi kamu akan membaik."
"Oke, kalau begitu cepat pijat aku."
"Oke, kalau begitu aku mulai."
Aku menelusuri pinggang bawah Lina.
Aku merasakan tubuh Lina menegang, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Hal ini membuatku semakin berani.
Aku menyentuh pinggul Lina dan perlahan mengangkat selimut yang menutupi kakinya.
Kaki mulus dan ramping itu, seperti batu putih, sungguh indah.
Akhirnya aku memegang kaki Lina dan menekan titik akupunktur di telapak kakinya.
Lina mau tidak mau mengerang.
Wajahnya memerah.
"Kak Lina, apa kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
Napas Lina menjadi cepat, "Nggak apa-apa, Edo, lanjutkan saja."
Aku terus menekan telapak kakinya.
Di saat yang sama, mau tak mau aku mengintip ke balik roknya.
Sayangnya, Lina selalu menyilangkan kaki sehingga aku tidak bisa melihat apa pun.
Setelah ditekan sebentar, aku merasa ini kurang memuaskan, maka aku dengan berani berkata, "Kak Lina, bukankah dadamu dan napasmu sesak? Bagaimana kalau aku pijat juga."
Saat aku mengatakan itu, tanpa sadar aku melihat ke arah dada Lina. Alangkah baiknya kalau aku bisa memijatnya nanti.
Tadinya aku khawatir Lina akan menolak, tapi tak disangka Lina berkata, "Oke, oke."
Tiba-tiba aku bersemangat dan menarik bangku ke depan, "Kak Lina, kamu berbaring terlentang saja, biar gampang pijatnya."
Lina sangat patuh, dia berbalik dan berbaring di sofa.
Biarpun payudaranya tidak sebesar milik Kak Nia, tapi payudaranya sangat montok.
Aku belum pernah menyentuh seorang wanita sebelumnya, aku merasa sangat gugup saat ini.
Aku hendak memulai ketika suara Kak Nia tiba-tiba terdengar, "Loh, perkembangan kalian sangat pesat."
Bab 3
Aku segera berdiri seperti anak kecil yang berbuat jahat, "Kak ... Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?"
Lina pun merasa bersalah dan segera duduk di sofa.
Wajah cantiknya semerah apel.
"Nia, jangan terlalu banyak berpikir. Nggak terjadi apa-apa antara aku dan Edo. Aku hanya merasa dada dan napas sesak, jadi ingin dia pijat." Lina menjelaskan dengan rasa bersalah.
Kak Nia tersenyum dan berkata, "Aku nggak bilang apa-apa tentang kalian. Kenapa kamu gugup sekali?"
"Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang buruk di belakangku?"
Lina dan aku menggelengkan kepala pada saat bersamaan.
Di saat yang sama, kami merasa panik.
Aku ternyata menyentuh sahabat Kak Nia. Kalau Kak Nia mengetahui hal ini, dia pasti akan mengusirku.
Tapi, Lina gelisah, dia berbohong bahwa ada urusan dan pergi dengan tergesa-gesa.
Kulihat Kak Nia memandangi punggung Lina yang pergi dengan tertegun.
Beberapa saat kemudian, Kak Nia menatapku dan berkata, "Edo, apa pendapatmu tentang sahabatku?"
"Hah?" tanya Kak Nia tiba-tiba yang membuatku semakin panik.
Aku tergagap, "Kak Lina lumayan bagus. Dia cantik, bodinya bagus dan sifatnya baik."
"Kalau begitu, kalau aku memintamu untuk mengejarnya, apa kamu mau?"
Perkataan Kak Nia sungguh mengagetkanku.
Aku sangat panik sehingga aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku takut Kak Nia melihatku menyentuh sahabatnya barusan dan dengan sengaja mengujiku.
Saat aku sedang gugup, Kak Nia tiba-tiba meraih tanganku dan menepuk punggung tanganku sebanyak dua kali, "Jangan gugup, katakan saja sejujurnya."
"Kak Nia, tolong jangan mempersulitku. Kak Lina itu sahabatmu, beraninya aku?"
"Kalau nggak berani, lalu kenapa bagian bawah tubuhmu keras sekali?" kata Kak Nia sambil menatap area itu.
Aku segera membungkuk karena malu.
"Hei, ukuran ini sangat besar."
Entah itu hanya khayalanku saja, tapi kuperhatikan cara Kak Nia memandangku sepertinya sudah berubah.
Kak Nia lalu berkata, "Aku serius, pergilah tidur dengan sahabatku, anggap saja itu membantu kakakmu."
Aku jadi bingung. Apa hubungannya tidur dengan Lina dengan membantu kakakku?
Kak Nia mengajakku duduk di sofa, lalu menjelaskan kepadaku, "Perusahaan kakakmu ada urusan bisnis dengan suami Lina. Suami Lina punya simpanan di luar. Dia meminta kakakmu membantu mencari seseorang untuk merayu istrinya. Dengan begitu, mereka bisa bercerai secepatnya."
"Sekarang, apakah kamu mengerti?"
Aku mengangguk berulang kali.
Paham sih paham, tapi aku juga tidak mengerti, kenapa Lina begitu cantik, tapi suaminya masih berselingkuh di luar?
Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia mencubit pahaku dan berkata, "Apa yang kamu pikirkan?"
Aku mengerang kesakitan dan segera menggelengkan kepalaku, "Nggak ada apa-apa."
"Ingat apa yang kubilang tadi pagi, barang milik pria itu harus digunakan pada tempat yang tepat."
"Suami Lina sudah lebih dari setengah tahun nggak menyentuhnya. Kamu hanya perlu menggunakan sedikit trik untuk mendapatkannya."
"Kamu belum pernah melakukannya dengan seorang wanita 'kan? Kali ini, ini adalah kesempatan."
Aku tersipu dan merasa lebih tidak nyaman di area sana.
Terutama karena kata-kata itu diucapkan Kak Nia kepadaku, yang membuatku malu dan canggung.
Kalau itu orang lain, mungkin akan mendingan.
Kak Nia melihatku duduk diam dan tiba-tiba duduk di sebelahku.
Tiba-tiba, sebuah aroma menusuk hidungku.
Apalagi aku dan Kak Nia belum pernah duduk sedekat ini, aku bisa merasakan suhu tubuhnya.
Hal ini membuat jantungku berdetak lebih cepat dan aku merasa semakin panik.
"Apakah kamu sedikit takut? Apa kamu nggak yakin?" tanya Kak Nia hati-hati.
Aku mengangguk dengan kencang.
Bukan takut, tapi sangat takut.
Aku bahkan belum pernah punya pacar, sekarang aku diminta merayu seorang nyonya muda.
Kak Nia meraih tanganku lagi dan nadanya menjadi lebih lembut dari sebelumnya, "Jangan takut, dia hanya seorang nyonya muda yang kesepian, pergi kejar dia dengan percaya diri."
"Biar kuberi tahu, cara paling efektif untuk menghadapi nyonya muda yang kesepian adalah dengan membangkitkan hasrat mereka."
"Ketika hasrat mereka terangsang, mereka akan lepas kendali."
"Ketika saatnya tiba, kamu nggak perlu melakukan apa pun, semuanya akan beres."
"Apakah kamu sudah mengerti?"
Aku mengangguk tanpa sadar, tapi pikiranku sudah melayang jauh.
Adegan yang aku dengar di pagi hari terus terlintas di benakku.
Saat melihat Kak Nia pun, aku juga membayangkan betapa menawannya dadanya.
Yang tak kusangka ternyata Kak Nia benar-benar memperhatikan mataku.
"Apa milikku besar?"
Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku.
Jantungku tiba-tiba hampir copot, mulutku kering dan tiba-tiba aku berkata, "Besar."
"Mau sentuh?"
Darahku semakin melonjak dan kepalaku berdengung.
Tapi, aku tidak berani mengucapkan kata itu sama sekali.
Kak Nia tiba-tiba mendekat dan menempelkan seluruh dadanya ke tubuhku.
Aku merasa seperti menjadi orang bodoh dan pikiran aku menjadi kosong sama sekali.
"Katakan saja kalau mau. Kenapa malu-malu? Ini adalah keinginan manusia yang paling primitif. Terkadang kamu harus melampiaskannya saat perlu melampiaskannya."
Aku tidak bisa mengendalikannya lagi, jadi aku menggertakkan gigi dan langsung berkata, "Mau! Mau sekali!"
"Hahaha, ini baru benar. Lakukan saja apa pun yang kamu pikirkan di dalam hati, jadi kamu nggak akan takut pada apa pun."
"Tapi, kamu hanya bisa melakukannya pada Lina, bukan pada Kak Nia, paham?"
Tiba-tiba aku merasakan frustrasi.
Kupikir Kak Nia bersiap menyerahkan dirinya padaku.
Ternyata dia hanya ingin mengajari aku cara melepaskan hasrat.
Tapi, tak masalah. Kalau terjadi sesuatu antara aku dan Kak Nia, bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada kakakku?
Aku benar-benar tidak berani tinggal lebih lama lagi, jadi aku berbohong kalau aku sakit perut dan lari ke kamar mandi.
Saat aku memijat Lina barusan, aku merasa sangat tidak nyaman, lalu Kak Nia menggodaku, sekarang selangkanganku hampir robek.
Biarpun Kak Nia baru saja mengajariku di pagi hari bahwa masturbasi kecil itu menyenangkan, tapi masturbasi besar-besaran berbahaya bagi tubuh, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya saat ini.
Yang tidak aku duga adalah aku menemukan sebuah celana dalam wanita di rak handuk.
Tak perlu diragukan lagi, celana dalam wanita ini pasti milik Kak Nia.
Aku sangat dilema dan ragu-ragu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengambil celana dalam itu?
Saat aku memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri, pemandangan pagi itu kembali muncul tak terkendali di benakku.
Ada suara di hatiku yang terus berteriak, "Ini hanya membayangkan sedang melakukan hubungan seksual, bukan benar-benar dilakukan, jadi nggak masalah. Selain itu, kalau kamu melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini, akan sulit untuk menemukannya lagi di masa depan."
Di bawah godaan suara setan, aku akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan mengambil celana dalam itu.