Bab 3
Aku segera berdiri seperti anak kecil yang berbuat jahat, "Kak ... Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?"
Lina pun merasa bersalah dan segera duduk di sofa.
Wajah cantiknya semerah apel.
"Nia, jangan terlalu banyak berpikir. Nggak terjadi apa-apa antara aku dan Edo. Aku hanya merasa dada dan napas sesak, jadi ingin dia pijat." Lina menjelaskan dengan rasa bersalah.
Kak Nia tersenyum dan berkata, "Aku nggak bilang apa-apa tentang kalian. Kenapa kamu gugup sekali?"
"Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang buruk di belakangku?"
Lina dan aku menggelengkan kepala pada saat bersamaan.
Di saat yang sama, kami merasa panik.
Aku ternyata menyentuh sahabat Kak Nia. Kalau Kak Nia mengetahui hal ini, dia pasti akan mengusirku.
Tapi, Lina gelisah, dia berbohong bahwa ada urusan dan pergi dengan tergesa-gesa.
Kulihat Kak Nia memandangi punggung Lina yang pergi dengan tertegun.
Beberapa saat kemudian, Kak Nia menatapku dan berkata, "Edo, apa pendapatmu tentang sahabatku?"
"Hah?" tanya Kak Nia tiba-tiba yang membuatku semakin panik.
Aku tergagap, "Kak Lina lumayan bagus. Dia cantik, bodinya bagus dan sifatnya baik."
"Kalau begitu, kalau aku memintamu untuk mengejarnya, apa kamu mau?"
Perkataan Kak Nia sungguh mengagetkanku.
Aku sangat panik sehingga aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku takut Kak Nia melihatku menyentuh sahabatnya barusan dan dengan sengaja mengujiku.
Saat aku sedang gugup, Kak Nia tiba-tiba meraih tanganku dan menepuk punggung tanganku sebanyak dua kali, "Jangan gugup, katakan saja sejujurnya."
"Kak Nia, tolong jangan mempersulitku. Kak Lina itu sahabatmu, beraninya aku?"
"Kalau nggak berani, lalu kenapa bagian bawah tubuhmu keras sekali?" kata Kak Nia sambil menatap area itu.
Aku segera membungkuk karena malu.
"Hei, ukuran ini sangat besar."
Entah itu hanya khayalanku saja, tapi kuperhatikan cara Kak Nia memandangku sepertinya sudah berubah.
Kak Nia lalu berkata, "Aku serius, pergilah tidur dengan sahabatku, anggap saja itu membantu kakakmu."
Aku jadi bingung. Apa hubungannya tidur dengan Lina dengan membantu kakakku?
Kak Nia mengajakku duduk di sofa, lalu menjelaskan kepadaku, "Perusahaan kakakmu ada urusan bisnis dengan suami Lina. Suami Lina punya simpanan di luar. Dia meminta kakakmu membantu mencari seseorang untuk merayu istrinya. Dengan begitu, mereka bisa bercerai secepatnya."
"Sekarang, apakah kamu mengerti?"
Aku mengangguk berulang kali.
Paham sih paham, tapi aku juga tidak mengerti, kenapa Lina begitu cantik, tapi suaminya masih berselingkuh di luar?
Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia mencubit pahaku dan berkata, "Apa yang kamu pikirkan?"
Aku mengerang kesakitan dan segera menggelengkan kepalaku, "Nggak ada apa-apa."
"Ingat apa yang kubilang tadi pagi, barang milik pria itu harus digunakan pada tempat yang tepat."
"Suami Lina sudah lebih dari setengah tahun nggak menyentuhnya. Kamu hanya perlu menggunakan sedikit trik untuk mendapatkannya."
"Kamu belum pernah melakukannya dengan seorang wanita 'kan? Kali ini, ini adalah kesempatan."
Aku tersipu dan merasa lebih tidak nyaman di area sana.
Terutama karena kata-kata itu diucapkan Kak Nia kepadaku, yang membuatku malu dan canggung.
Kalau itu orang lain, mungkin akan mendingan.
Kak Nia melihatku duduk diam dan tiba-tiba duduk di sebelahku.
Tiba-tiba, sebuah aroma menusuk hidungku.
Apalagi aku dan Kak Nia belum pernah duduk sedekat ini, aku bisa merasakan suhu tubuhnya.
Hal ini membuat jantungku berdetak lebih cepat dan aku merasa semakin panik.
"Apakah kamu sedikit takut? Apa kamu nggak yakin?" tanya Kak Nia hati-hati.
Aku mengangguk dengan kencang.
Bukan takut, tapi sangat takut.
Aku bahkan belum pernah punya pacar, sekarang aku diminta merayu seorang nyonya muda.
Kak Nia meraih tanganku lagi dan nadanya menjadi lebih lembut dari sebelumnya, "Jangan takut, dia hanya seorang nyonya muda yang kesepian, pergi kejar dia dengan percaya diri."
"Biar kuberi tahu, cara paling efektif untuk menghadapi nyonya muda yang kesepian adalah dengan membangkitkan hasrat mereka."
"Ketika hasrat mereka terangsang, mereka akan lepas kendali."
"Ketika saatnya tiba, kamu nggak perlu melakukan apa pun, semuanya akan beres."
"Apakah kamu sudah mengerti?"
Aku mengangguk tanpa sadar, tapi pikiranku sudah melayang jauh.
Adegan yang aku dengar di pagi hari terus terlintas di benakku.
Saat melihat Kak Nia pun, aku juga membayangkan betapa menawannya dadanya.
Yang tak kusangka ternyata Kak Nia benar-benar memperhatikan mataku.
"Apa milikku besar?"
Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku.
Jantungku tiba-tiba hampir copot, mulutku kering dan tiba-tiba aku berkata, "Besar."
"Mau sentuh?"
Darahku semakin melonjak dan kepalaku berdengung.
Tapi, aku tidak berani mengucapkan kata itu sama sekali.
Kak Nia tiba-tiba mendekat dan menempelkan seluruh dadanya ke tubuhku.
Aku merasa seperti menjadi orang bodoh dan pikiran aku menjadi kosong sama sekali.
"Katakan saja kalau mau. Kenapa malu-malu? Ini adalah keinginan manusia yang paling primitif. Terkadang kamu harus melampiaskannya saat perlu melampiaskannya."
Aku tidak bisa mengendalikannya lagi, jadi aku menggertakkan gigi dan langsung berkata, "Mau! Mau sekali!"
"Hahaha, ini baru benar. Lakukan saja apa pun yang kamu pikirkan di dalam hati, jadi kamu nggak akan takut pada apa pun."
"Tapi, kamu hanya bisa melakukannya pada Lina, bukan pada Kak Nia, paham?"
Tiba-tiba aku merasakan frustrasi.
Kupikir Kak Nia bersiap menyerahkan dirinya padaku.
Ternyata dia hanya ingin mengajari aku cara melepaskan hasrat.
Tapi, tak masalah. Kalau terjadi sesuatu antara aku dan Kak Nia, bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada kakakku?
Aku benar-benar tidak berani tinggal lebih lama lagi, jadi aku berbohong kalau aku sakit perut dan lari ke kamar mandi.
Saat aku memijat Lina barusan, aku merasa sangat tidak nyaman, lalu Kak Nia menggodaku, sekarang selangkanganku hampir robek.
Biarpun Kak Nia baru saja mengajariku di pagi hari bahwa masturbasi kecil itu menyenangkan, tapi masturbasi besar-besaran berbahaya bagi tubuh, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya saat ini.
Yang tidak aku duga adalah aku menemukan sebuah celana dalam wanita di rak handuk.
Tak perlu diragukan lagi, celana dalam wanita ini pasti milik Kak Nia.
Aku sangat dilema dan ragu-ragu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengambil celana dalam itu?
Saat aku memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri, pemandangan pagi itu kembali muncul tak terkendali di benakku.
Ada suara di hatiku yang terus berteriak, "Ini hanya membayangkan sedang melakukan hubungan seksual, bukan benar-benar dilakukan, jadi nggak masalah. Selain itu, kalau kamu melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini, akan sulit untuk menemukannya lagi di masa depan."
Di bawah godaan suara setan, aku akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan mengambil celana dalam itu.
Bab 4
Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya.
Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari.
Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat.
Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan?
Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya.
Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu.
Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat.
Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku.
Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk.
Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?"
"Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia.
"Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah.
"Lalu kenapa suaramu bergetar?"
Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kalimat.
Aku merasa berkeringat dingin.
Biarpun Kak Nia berpikiran terbuka, dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh mengincar dia.
Kalau dia mengetahui apa yang aku lakukan dengan celana dalamnya tadi, dia pasti akan beranggapan aku tidak patuh dan akan mengusir aku.
Tapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi aku hanya bisa berkata tanpa daya, "Benaran nggak, aku hanya sakit perut dan berkeringat ...."
"Kenapa berkeringat? Apa kamu sakit?" Suara Kak Nia menjadi khawatir.
Aku berkata, "Aku nggak tahu, aku hanya merasa nggak nyaman."
"Buka pintunya, biar kulihat."
"Ini, ini nggak pantas."
"Apa yang nggak pantas? Kamu hanya anak kecil bagiku. Cepat buka pintunya."
Aku merasa kecewa. Ternyata aku hanya anak kecil di mata Kak Nia. Pantas saja Kak Nia berpikiran terbuka di hadapanku.
Mungkin dia tidak pernah berpikir untuk memintaku melakukan hal semacam itu.
Aku membungkuk dan membuka pintu kamar mandi. Saat Kak Nia masuk, dia tidak langsung menatapku, melainkan melihat ke rak handuk.
Aku panik, apakah Kak Nia menemukan sesuatu?
Aku merasa sangat bersalah hingga tidak berani menatap mata Kak Nia.
Sedangkan Kak Nia berjalan menuju rak handuk dan bertanya padaku sambil tersenyum, "Apakah kamu menyentuh celana dalamku?"
"Nggak, nggak ada." Aku terus menggelengkan kepalaku.
"Benaran nggak? Lalu kenapa wajahmu memerah? Katakan sejujurnya, apakah kamu tadi berencana melakukan sesuatu yang buruk dengan celana dalamku? Tapi, aku menyela kamu, kamu merasa bersalah dan takut, jadi nggak berani membiarkan aku masuk?"
Aku sangat meragukan kalau Kak Nia itu waskita. Kenapa dia tahu semua yang aku lakukan dan pikirkan?
Kak Nia menatapku dari atas ke bawah, saat melihat aku membungkuk dan tak berani berdiri tegak, kecurigaan di matanya semakin kentara.
"Berdiri tegak." Kak Nia menatapku dan berkata.
Aku tidak berani membangkang Kak Nia.
Ketika aku berdiri tegak, bagian di bawah tubuhku yang memalukan langsung terlihat.
Aku tahu, aku ketahuan oleh Kak Nia.
Aku memejamkan mata, tidak berani menghadapi Kak Nia.
Lalu, aku merasakan Kak Nia perlahan berjongkok di depanku.
Jantungku hampir copot.
Terutama karena aku tidak tahu apa yang ingin Kak Nia lakukan?
Apalagi posisi Kak Nia yang berjongkok saat ini terlalu ambigu sehingga membuatku berpikir lebih jauh.
Aku diam-diam membuka mataku.
Aku melihat Kak Nia memandangi tempatku dengan tergila-gila dan dengan tulus menghela napas, "Alangkah baiknya kalau kakakmu bisa sekuat kamu!"
Saat dia berbicara, ada hasrat tiada tara di matanya.
Pikiranku kosong saat ini dan hatiku merasa tidak tenang. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Kak Nia memandanginya sebentar, lalu bangkit kembali.
Aku pun menutupinya dengan tanganku.
"Simpan keinginanmu, agar kamu punya motivasi untuk menghadapi Lina."
Ucap Kak Nia tiba-tiba menghampiriku, "Sebenarnya aku sengaja merangsangmu. Kak Nia tahu itu salah, tapi demi kakakmu, Kak Nia terpaksa melakukan ini."
"Kamu terlalu pemalu, Kak Nia terpaksa mencari cara untuk membuka pikiranmu dulu."
"Singkirkan tanganmu, Kak Nia adalah orang yang berpengalaman. Apa yang belum pernah Kak Nia lihat?"
Aku berpikir dalam hati bahwa cara kamu membuka pikiranku begitu istimewa, rasanya bisa membunuhku seketika itu juga.
"Keluarlah, aku akan menelepon Lina, kita pergi jalan-jalan, aku akan membantu mendekatkan kalian."
"Mari kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya pada siang hari ini, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Perusahaan kakakmu juga bisa pulih secepatnya."
Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia memutar pinggangnya dan pergi.
Aku mengikutinya dengan patuh keluar dari kamar mandi, telapak tanganku sudah berkeringat.
Kutahan.
Digoda Kak Nia berulang kali, tapi belum bisa melampiaskannya, hasratku hampir meledak.
Tapi, demi kakakku, aku hanya bisa menahannya untuk saat ini.
Kak Nia duduk di sofa dan menghubungi nomor telepon Lina, ".... Nggak mau keluar? Kenapa? Nggak bisa, aku mau kamu menemaniku. Kalau kamu nggak pergi, aku akan meminta adikku untuk menggendongmu turun."
"Hah? Apa aku keterlaluan? Aku memang keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"
"Kalau begitu beres, kutunggu di pintu lima menit lagi."
Kak Nia menutup panggilan teleponnya, lalu tersenyum dan berkata padaku, "Beres. Kamu ganti baju, nanti kamu bawa mobil."
"Ingat, lihatlah lebih jauh, akan ada kejutan menunggumu."
Aku berkata "Oh" dan pergi berganti pakaian.
Aku sangat menantikannya dan penasaran dengan kejutan yang Kak Nia bicarakan?
Segera, aku mengganti pakaianku.
Aku dan Kak Nia menunggu di depan pintu sebentar, lalu Lina pun datang.
Lina berganti gaun merah, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah.
Apalagi gaun ini memiliki leher V yang memperlihatkan bagian dada Lina.
Aku langsung tercengang.
Di luar dugaan, bodi Lina ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan.
Mata Lina sepertinya sengaja menghindariku, dia tidak mau menatap langsung ke arahku.
Dia merangkul lengan Kak Nia dan berjalan lewat di depanku.
Aku sangat bingung dan agak sedih.
Saat aku memijatnya tadi, dia jelas-jelas berkesan baik terhadapku. Kenapa dia begitu dingin sekarang? Bahkan tidak menatapku.
Apa aku bertindak keterlaluan? Membuatnya tidak senang?
Kami turun dari lantai atas.
Sepanjang proses, Lina berbincang dan tertawa dengan Kak Nia, tapi aku seperti udara.
Awalnya aku sangat tertekan, tapi setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku teringat perkataan Kak Nia yang memintaku untuk memperhatikan bagian belakang setelah masuk ke dalam mobil, ada kejutan yang menungguku.
Aku penasaran apa kejutannya?
Jadi aku terus melihat ke kaca spion.
Kak Nia dan Lina sedang mengobrol dan tertawa, aku tidak melihat ada kejutan apa pun.
"Kak Nia, kita mau ke mana?" Aku menanyakan arah dan sengaja menoleh ke belakang, tapi tetap tidak menemukan kejutan apa pun.
Tapi, mataku dan mata Lina secara tidak sengaja bertatapan. Wajah Lina tiba-tiba memerah, lalu dia membuang muka dengan salah tingkah.
Aku menangkap tatapan bingung, gelisah dan canggungnya.
Jantungku pun "berdebar" satu kali.
Aku curiga Lina tidak marah, tapi ragu-ragu dan bingung apakah dia harus bersikap ambigu padaku, jadi dia terus mengabaikanku.
Aku sangat senang.
Karena ini menunjukkan bahwa dia tertarik padaku.
"Ke Wanda Plaza," ujar Kak Nia.
Aku mengiyakan, lalu menggunakan ponsel untuk mencari rute, menyalakan mobil dan menuju ke Wanda Plaza.
Sepanjang perjalanan aku masih sesekali melihat ke kaca spion.
Aku hanya ingin tahu kejutan apa yang Kak Nia bicarakan.
Saat mobil sampai di jalan yang padat, mobil melaju sangat lambat. Aku melihat ke kaca spion lagi.
Ini pemandangan yang luar biasa, kebetulan aku melihat Lina melepas celana dalamnya.
Bab 5
Setelah Lina melepas celana dalamnya, dia memasukkannya ke dalam tas dan melihat ke luar jendela seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi, wajahnya yang cantik memerah dan kakinya dijepit erat.
Aku kebetulan bisa melihat penampilannya secara keseluruhan di kaca spion.
Penampilannya yang pemalu dan gelisah itu terlalu menawan.
Terutama di antara kedua kakinya, itu membuatku berfantasi.
Kak Nia luar biasa, entah apa yang dia katakan dengan Lina hingga membuat Lina melakukan hal seperti itu.
"Drrt drrt." Ponsel tiba-tiba bergetar.
Aku membuka WhatsApp dan menemukan bahwa itu adalah pesan dari Kak Nia.
Kak Nia, "Sudah lihat?"
Aku malu dan bersemangat, juga tidak tahu harus berkata apa, jadi aku mengirim ekspresi tersenyum pada Kak Nia.
Pesan Kak Nia segera terkirim, "Lina sedikit pemalu sepertimu, tapi aku akan membiarkan pikiran dia terbuka perlahan, kamu harus memanfaatkan kesempatan."
Aku menjawab, "Oke."
Aku sangat bersemangat, Kak Nia sangat mahir dalam membantu.
Sesampainya di mal, Kak Nia selalu membantuku menciptakan kesempatan untuk dekat dengan Lina, tapi Lina selalu sengaja menghindariku sehingga membuatku sangat tidak berdaya.
Saat istirahat, Lina pergi ke kamar mandi, Kak Nia memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya padaku, "Ada apa denganmu? Aku sudah menciptakan kesempatan untukmu, apa kamu nggak bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk dekat dengannya?"
"Kak Nia, bukannya aku nggak mau mendekatinya, tapi Kak Lina memang sengaja menghindariku. Aku jadi penasaran, apa dia tahu kalau aku punya berniat seperti itu padanya?"
"Apa tindakanmu itu disebut mendekat? Sepertinya sia-sia aku mengajarimu pagi ini =. Ingat, kamu nggak boleh terlalu polos saat berhadapan dengan wanita."
"Dia nggak membiarkanmu mendekat, jadi kamu nggak akan mendekat? Dia nggak membiarkanmu membantu membawa barang, apa kamu nggak bisa memaksa untuk membawa barang?"
"Kamu laki-laki, kamu harus lebih proaktif, biarkan dia melihat sisi maskulinmu, lalu secara nggak sengaja menggodanya, maka hasratnya perlahan akan terkobar."
"Kalau nggak, dengan temperamenmu yang lamban, butuh waktu bertahun-tahun dan berbulan-bulan untuk mendapatkannya."
Aku memang agak kaku untuk soal ini. Ketika aku masih sekolah, aku hanya belajar dan tidak pernah mengejar seorang gadis.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi nyonya muda yang dewasa.
Aku mengangguk dengan setengah paham, "Aku mengerti, Kak Nia."
Kak Nia tiba-tiba menghampiriku dan membantuku merapikan kerah bajuku. Aku mencium bau harum Kak Nia dan menatap wajahnya dari dekat, lalu detak jantungku semakin cepat.
Kulit Kak Nia sangat bagus. Biarpun usianya sudah di atas 30 tahun, kulitnya sama bagusnya dengan gadis berusia delapan belas atau sembilan belas tahun.
Apalagi dada Kak Nia sangat besar dan montok. Saat dia mendekat ke arahku, aku melihat dari sudut mataku bahwa dadanya hampir menyentuhku.
Hal ini membuat aku semakin gelisah dan pemandangan yang aku intip di pagi hari mau tidak mau muncul di benakku.
"Edo, apa kamu melihat sesuatu pagi ini?"
Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku.
Aku sangat ketakutan hingga jantung aku berdetak kencang dan jantungku terasa seperti tercekat.
"Nggak ada, Kak Nia, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"
"Benaran nggak? Lalu kapan kamu meletakkan celana dalam yang kamu pakai di kamar mandi pagi ini?"
Kak Nia tidak tinggi, hanya mencapai daguku. Dia menatapku, bibir merahnya yang indah sangat dekat denganku.
Aku bisa merasakan napas Kak Nia yang menerpa leherku, terasa gatal dan mati rasa.
Saking paniknya aku sampai tergagap, "Iya, aku letakkan tadi malam. Kak Nia, aku tahu apa yang kulakukan itu salah, aku nggak akan pernah melakukannya lagi."
Kak Nia tertawa dan melepaskan kerah bajuku, "Aku nggak menyalahkanmu, aku hanya merasa reaksimu aneh hari ini. Kupikir kamu melihat sesuatu pagi ini."
"Aku tidur sangat nyenyak di pagi hari dan baru bangun setelah jam sembilan. Kak Nia tahu itu 'kan?" Aku berbohong
Kak Nia mengangguk, "Aku terlalu memikirkannya. Sebenarnya aku bisa memahaminya. Kamu adalah seorang mahasiswa yang baru lulus dan bahkan belum pernah punya pacar. Agak memalukan bagimu kalau aku tiba-tiba membicarakan hal seperti itu."
"Apalagi apa yang kuucapkan padamu di pagi hari pasti akan membuatmu berpikiran liar. Jadi aku mengingatkanmu lagi bahwa aku adalah kakak iparmu dan aku saat ini adalah gurumu. Kamu nggak boleh mempunyai pemikiran lain tentang aku."
"Paham?"
Biarpun aku tahu bahwa tidak mungkin terjadi apa-apa antara aku dan Kak Nia, aku tetap merasa kecewa saat Kak Nia memberitahuku hal ini.
Kak Nia melihat ke arah kamar mandi, lalu berkata kepadaku, "Kita akan pergi makan siang nanti, kamu manfaatkan waktu untuk membangkitkan hasrat Lina dan cobalah bantu dia antar barang ketika pulang nanti, biar kamu bisa pergi ke rumahnya."
Aku tidak berbicara.
Kak Nia memiringkan kepalanya dan menatapku lalu berkata, "Oh, apa kamu nggak bisa? Kalau memang nggak tahu caranya, cari film dan tonton."
"Aku nggak begitu," kataku dengan suara yang sangat kecil sambil menundukkan kepala.
Kak Nia jadi geli dengan kata-kataku, "Yang benar saja, bukankah semua pria suka menonton film seperti itu?"
"Kak Nia, aku memang nggak pernah, aku nggak tahu harus cari di mana."
"Oh, kalau begitu kamu memang anak baik." Kak Nia tersenyum lebar, di saat yang sama, dia menatapku dengan aneh.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari-cari sesuatu. Saat itu, Lina keluar dari kamar mandi.
Kak Nia segera menyimpan ponselnya dan mengedipkan mata ke arahku.
"Kak Lina, biar kubantu bawa barang-barangmu." Aku melihat ekspresi Kak Nia dan segera berjalan mendekat sambil berkata pada Lina.
"Nggak usah, aku bawa saja sendiri."
"Aku seorang pria dewasa, mana bisa membiarkan seorang wanita membawa barang? Berikan saja padaku."
Dengan pengalaman yang Kak Nia ajarkan kepadaku, kali ini aku tidak peduli bagaimana sikap Lina dan langsung mengambil benda itu dari tangannya.
Lina tersenyum dan mengangguk ke arahku, "Terima kasih."
Aku merasa sangat bahagia.
Kak Nia memang guruku. Pengalaman yang dia sampaikan kepadaku sungguh efektif.
Aku membawa sendirian semua tas besar dan kecil lalu memasukkannya ke dalam mobil, sedangkan Kak Nia dan Lina pergi mencari tempat makan.
Setelah menyimpan barang-barang, ponselku tiba-tiba bergetar dua kali.
Aku mengeluarkannya, ternyata Kak Nia mengirimiku video seperti itu.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dan melihat sekeliling.
Untungnya, tidak ada seorang pun di garasi saat ini.
Kak Nia kemudian mengirimiku pesan lagi, "Tonton videonya dan pelajari. Nanti aku kasih tahu kalau makanannya sudah disajikan."
Aku sangat gembira karena aku belum pernah melihat video seperti ini.
Aku membuka pintu mobil dan masuk. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku membuka video tersebut dengan tangan gemetar dan penuh semangat.
Adegan dalam video tersebut begitu seru hingga aku merasa sangat tidak nyaman setelah menontonnya beberapa saat.
Apalagi api yang dikobarkan Kak Nia pada pagi hari kini kembali berkobar.
Mau tak mau aku melepaskan ikat pinggangku, bersiap untuk melampiaskannya sebelum naik ke atas.
Tepat ketika aku sedang melampiaskan hasrat hingga lupa diri, aku secara tidak sengaja menemukan sesosok tubuh di luar jendela mobil.
Saat aku melihat sosok itu dengan jelas, seluruh tubuhku mati rasa.
Pasalnya sosok itu tak lain adalah sahabat Kak Nia, Lina.
Saat aku menemukan Lina, Lina menatap lurus ke arahku dengan mata indahnya.
Tapi, saat mata kami bertemu, Lina berbalik dan lari seperti kelinci yang ketakutan.