Bab 2
"Lina, kamu sudah sampai, ayo masuk, duduk dulu." Selagi aku bertanya-tanya, Kak Nia menghampiri dan berkata kepada wanita itu dengan sangat antusias.
Wanita itu masuk ke dalam rumah atas ajakan Kak Nia.
Kak Nia memperkenalkan kami satu sama lain.
Ternyata wanita itu adalah sahabatnya yang bernama Lina Lasma yang tinggal di sebelah.
"Lina, ini adik Wiki dari desa yang sama. Namanya Edo Didi. Dia baru tiba kemarin."
Lina menatapku dengan heran, lalu berkata sambil tersenyum, "Aku nggak menyangka adiknya Wiki begitu muda dan tampan!"
"Edo baru saja lulus kuliah, bagaimana mungkin nggak muda? Selain itu, dia bukan hanya muda, dia juga sangat kuat."
Entah apakah itu hanya imajinasiku, aku merasa perkataan Kak Nia ada maksud lain dan matanya menatap bagian tertentu di tubuhku.
Itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Lina menatapku dari atas ke bawah dan bertanya, "Nia, kalau begitu tukang pijat yang kamu bicarakan itu adikmu ini 'kan?"
"Benar, itu Edo. Dia belajar ilmu pijat dari kakeknya selama beberapa tahun ketika kecil, tekniknya sangat bagus."
Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia menatapku lagi, "Tadi aku nggak sempat memberitahumu, jadi aku akan menjelaskannya padamu sekarang. Sahabatku menderita sakit punggung dan leher sepanjang tahun, kadang-kadang dada dan napas sesak. Dia ingin mencari dokter TCM untuk pemijatan."
"Aku pikir kamu bisa pijat, jadi aku memintanya datang untuk coba."
Ternyata begitu.
Aku langsung setuju.
Kak Wiki dan Kak Nia mengizinkanku tinggal di rumah mereka dan mengatakan mereka akan membantuku mengatur pekerjaan. Bukankah pantas kalau aku memberikan sedikit bantuan untuk mereka?
Lina agak malu dan menarik Kak Nia ke samping, "Ini nggak pantas, adikmu masih sangat muda."
"Apa salahnya dia muda? Bukankah muda itu bagus? Justru karena dia masih muda dan kuat maka dia bisa melayani wanita muda sepertimu dengan nyaman."
"Apa yang kamu bicarakan? Aku bukan orang seperti itu." Lina tersipu.
Kak Nia berkata sambil tersenyum, "Aku hanya bercanda, kamu sendiri yang berpikir aneh-aneh, apa kamu berpikir yang porno? Jujur saja, Johan belum kembali dalam setengah tahun, apa kamu sama sekali nggak mendambakannya?"
"Kalau kamu bicara seperti ini lagi, aku akan pergi." Telinga Lina memerah.
Kak Nia segera menggandeng lengan Lina dan berkata, "Baiklah baiklah, aku nggak akan tanya lagi, aku tahu kamu adalah wanita yang disiplin dan anggun. Tapi, biar kuberi tahu, teknik adikku sangat bagus, kamu coba saja dulu "
"Lebih baik dipijat pria muda dan tampan daripada dipijat pria tua di luar."
Lina merasa perkataan Kak Nia masuk akal, maka dia pun mengangguk.
"Kalau begitu kamu temani aku, kalau nggak, aku akan merasa canggung."
"Baiklah, kutemani."
Mereka berdua "berbisik" sebentar, lalu mendatangiku.
Lina meminta Kak Nia dipijat terlebih dahulu, dia ingin melihat hasilnya terlebih dahulu.
Kak Nia tidak berkata apa-apa dan hanya berbaring di sofa.
"Edo, ayo mulai."
Aku mengambil bangku dan duduk di samping Kak Nia dan mulai memijat bahunya.
Sosok Kak Nia sangat seksi dan montok, bokongnya yang bulat juga menungging.
Itu membuatku ingin menepuknya.
"Nia, bagaimana? Nyaman nggak?" tanya Lina penuh perhatian.
"Tentu saja nyaman. Sudah lama aku nggak merasa senyaman ini," gumam Kak Nia membuat aku dan Lina tersipu malu.
Aku pun merasa sedikit tidak nyaman di bagian bawah perutku.
Lina juga sedikit canggung dan kakinya dijepit erat.
"Oke, Lina, giliranmu."
Kak Nia bangkit dari sofa dan menuangkan air untuk kami.
Lina sedikit pemalu, jadi setelah berbaring, dia menutupi kakinya dengan selimut.
Sangat disayangkan bahwa kaki indah seperti itu tertutupi.
Tapi, betapa pun Lina menutupinya, itu tidak bisa menutupi bodi seksinya.
Dia memiliki sosok yang ramping, tapi montok dan berisi, besar di bagian yang seharusnya dan ramping di bagian yang seharusnya, dengan wajah kekanak-kanakan dan berpayudara besar.
Saat tanganku menyentuh bahunya, seluruh tubuhku menegang.
Aku tidak berani memimpikan terjadi sesuatu dengan Kak Nia. Apakah aku tidak boleh memimpikan terjadi sesuatu dengan sahabatnya?
Selain itu, kudengar dari Kak Nia, wanita ini pasti sangat kesepian karena suaminya lama tidak berada di rumah.
"Kak Lina, nyaman nggak?" tanyaku ragu-ragu.
Lina tidak menjawab, tapi berkata "hmm" dengan malu-malu.
Aku melihatnya merespons dan menjadi lebih berani.
"Ada satu teknik lagi yang bisa membuatmu lebih nyaman."
Tanganku meluncur ke punggungnya perlahan.
Tubuh Lina bergetar, "Apa yang kamu lakukan?"
"Bukankah pinggangmu sakit? Biar kupijat pinggangmu."
Lina tidak mengatakan apa-apa, itu berarti dia menyetujuinya.
Setelah tanganku meluncur ke pinggangnya, aku mulai memijat pinggangnya.
Pinggang Lina kecil sekali!
Sungguh ramping.
Tapi, pantatnya cukup besar, bulat dan montok, itu adalah pinggul yang bagus.
Aku berkata pada Lina, "Kak Lina, sebenarnya nggak ada masalah besar dengan bahumu, tapi cukup banyak masalah dengan pinggangmu."
"Ah, ada apa dengan pinggangku?" Lina bertanya dengan gelisah.
Aku memijat pinggangnya dan berkata, "Kamu mengalami lemah ginjal. Kalau lemah ginjalnya serius, kamu akan mengalami sakit punggung."
"Benarkah hanya laki-laki yang menderita lemah ginjal? Aku perempuan, apa aku juga menderita lemah ginjal"
"Itu sebenarnya salah paham. Bukankah laki-laki dan perempuan punya dua ginjal?"
"Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa pria akan menderita defisiensi ginjal kalau melakukan terlalu banyak hal seperti itu, tapi hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa kekurangan energi dan darah pada wanita juga bisa menyebabkan defisiensi ginjal."
"Lihat dirimu, wajahmu sedikit pucat. Ini tandanya energi dan darah nggak mencukupi. Kalau diabaikan dalam waktu lama, itu akan menimbulkan masalah lain."
"Apa yang harus dilakukan?" Lina bertanya tanpa sadar.
Aku tersenyum dan berkata, "Sebenarnya masalah kamu belum serius. Kalau aku memijatmu untuk kurun waktu tertentu, kondisi kamu akan membaik."
"Oke, kalau begitu cepat pijat aku."
"Oke, kalau begitu aku mulai."
Aku menelusuri pinggang bawah Lina.
Aku merasakan tubuh Lina menegang, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Hal ini membuatku semakin berani.
Aku menyentuh pinggul Lina dan perlahan mengangkat selimut yang menutupi kakinya.
Kaki mulus dan ramping itu, seperti batu putih, sungguh indah.
Akhirnya aku memegang kaki Lina dan menekan titik akupunktur di telapak kakinya.
Lina mau tidak mau mengerang.
Wajahnya memerah.
"Kak Lina, apa kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
Napas Lina menjadi cepat, "Nggak apa-apa, Edo, lanjutkan saja."
Aku terus menekan telapak kakinya.
Di saat yang sama, mau tak mau aku mengintip ke balik roknya.
Sayangnya, Lina selalu menyilangkan kaki sehingga aku tidak bisa melihat apa pun.
Setelah ditekan sebentar, aku merasa ini kurang memuaskan, maka aku dengan berani berkata, "Kak Lina, bukankah dadamu dan napasmu sesak? Bagaimana kalau aku pijat juga."
Saat aku mengatakan itu, tanpa sadar aku melihat ke arah dada Lina. Alangkah baiknya kalau aku bisa memijatnya nanti.
Tadinya aku khawatir Lina akan menolak, tapi tak disangka Lina berkata, "Oke, oke."
Tiba-tiba aku bersemangat dan menarik bangku ke depan, "Kak Lina, kamu berbaring terlentang saja, biar gampang pijatnya."
Lina sangat patuh, dia berbalik dan berbaring di sofa.
Biarpun payudaranya tidak sebesar milik Kak Nia, tapi payudaranya sangat montok.
Aku belum pernah menyentuh seorang wanita sebelumnya, aku merasa sangat gugup saat ini.
Aku hendak memulai ketika suara Kak Nia tiba-tiba terdengar, "Loh, perkembangan kalian sangat pesat."
Bab 3
Aku segera berdiri seperti anak kecil yang berbuat jahat, "Kak ... Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?"
Lina pun merasa bersalah dan segera duduk di sofa.
Wajah cantiknya semerah apel.
"Nia, jangan terlalu banyak berpikir. Nggak terjadi apa-apa antara aku dan Edo. Aku hanya merasa dada dan napas sesak, jadi ingin dia pijat." Lina menjelaskan dengan rasa bersalah.
Kak Nia tersenyum dan berkata, "Aku nggak bilang apa-apa tentang kalian. Kenapa kamu gugup sekali?"
"Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang buruk di belakangku?"
Lina dan aku menggelengkan kepala pada saat bersamaan.
Di saat yang sama, kami merasa panik.
Aku ternyata menyentuh sahabat Kak Nia. Kalau Kak Nia mengetahui hal ini, dia pasti akan mengusirku.
Tapi, Lina gelisah, dia berbohong bahwa ada urusan dan pergi dengan tergesa-gesa.
Kulihat Kak Nia memandangi punggung Lina yang pergi dengan tertegun.
Beberapa saat kemudian, Kak Nia menatapku dan berkata, "Edo, apa pendapatmu tentang sahabatku?"
"Hah?" tanya Kak Nia tiba-tiba yang membuatku semakin panik.
Aku tergagap, "Kak Lina lumayan bagus. Dia cantik, bodinya bagus dan sifatnya baik."
"Kalau begitu, kalau aku memintamu untuk mengejarnya, apa kamu mau?"
Perkataan Kak Nia sungguh mengagetkanku.
Aku sangat panik sehingga aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku takut Kak Nia melihatku menyentuh sahabatnya barusan dan dengan sengaja mengujiku.
Saat aku sedang gugup, Kak Nia tiba-tiba meraih tanganku dan menepuk punggung tanganku sebanyak dua kali, "Jangan gugup, katakan saja sejujurnya."
"Kak Nia, tolong jangan mempersulitku. Kak Lina itu sahabatmu, beraninya aku?"
"Kalau nggak berani, lalu kenapa bagian bawah tubuhmu keras sekali?" kata Kak Nia sambil menatap area itu.
Aku segera membungkuk karena malu.
"Hei, ukuran ini sangat besar."
Entah itu hanya khayalanku saja, tapi kuperhatikan cara Kak Nia memandangku sepertinya sudah berubah.
Kak Nia lalu berkata, "Aku serius, pergilah tidur dengan sahabatku, anggap saja itu membantu kakakmu."
Aku jadi bingung. Apa hubungannya tidur dengan Lina dengan membantu kakakku?
Kak Nia mengajakku duduk di sofa, lalu menjelaskan kepadaku, "Perusahaan kakakmu ada urusan bisnis dengan suami Lina. Suami Lina punya simpanan di luar. Dia meminta kakakmu membantu mencari seseorang untuk merayu istrinya. Dengan begitu, mereka bisa bercerai secepatnya."
"Sekarang, apakah kamu mengerti?"
Aku mengangguk berulang kali.
Paham sih paham, tapi aku juga tidak mengerti, kenapa Lina begitu cantik, tapi suaminya masih berselingkuh di luar?
Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia mencubit pahaku dan berkata, "Apa yang kamu pikirkan?"
Aku mengerang kesakitan dan segera menggelengkan kepalaku, "Nggak ada apa-apa."
"Ingat apa yang kubilang tadi pagi, barang milik pria itu harus digunakan pada tempat yang tepat."
"Suami Lina sudah lebih dari setengah tahun nggak menyentuhnya. Kamu hanya perlu menggunakan sedikit trik untuk mendapatkannya."
"Kamu belum pernah melakukannya dengan seorang wanita 'kan? Kali ini, ini adalah kesempatan."
Aku tersipu dan merasa lebih tidak nyaman di area sana.
Terutama karena kata-kata itu diucapkan Kak Nia kepadaku, yang membuatku malu dan canggung.
Kalau itu orang lain, mungkin akan mendingan.
Kak Nia melihatku duduk diam dan tiba-tiba duduk di sebelahku.
Tiba-tiba, sebuah aroma menusuk hidungku.
Apalagi aku dan Kak Nia belum pernah duduk sedekat ini, aku bisa merasakan suhu tubuhnya.
Hal ini membuat jantungku berdetak lebih cepat dan aku merasa semakin panik.
"Apakah kamu sedikit takut? Apa kamu nggak yakin?" tanya Kak Nia hati-hati.
Aku mengangguk dengan kencang.
Bukan takut, tapi sangat takut.
Aku bahkan belum pernah punya pacar, sekarang aku diminta merayu seorang nyonya muda.
Kak Nia meraih tanganku lagi dan nadanya menjadi lebih lembut dari sebelumnya, "Jangan takut, dia hanya seorang nyonya muda yang kesepian, pergi kejar dia dengan percaya diri."
"Biar kuberi tahu, cara paling efektif untuk menghadapi nyonya muda yang kesepian adalah dengan membangkitkan hasrat mereka."
"Ketika hasrat mereka terangsang, mereka akan lepas kendali."
"Ketika saatnya tiba, kamu nggak perlu melakukan apa pun, semuanya akan beres."
"Apakah kamu sudah mengerti?"
Aku mengangguk tanpa sadar, tapi pikiranku sudah melayang jauh.
Adegan yang aku dengar di pagi hari terus terlintas di benakku.
Saat melihat Kak Nia pun, aku juga membayangkan betapa menawannya dadanya.
Yang tak kusangka ternyata Kak Nia benar-benar memperhatikan mataku.
"Apa milikku besar?"
Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku.
Jantungku tiba-tiba hampir copot, mulutku kering dan tiba-tiba aku berkata, "Besar."
"Mau sentuh?"
Darahku semakin melonjak dan kepalaku berdengung.
Tapi, aku tidak berani mengucapkan kata itu sama sekali.
Kak Nia tiba-tiba mendekat dan menempelkan seluruh dadanya ke tubuhku.
Aku merasa seperti menjadi orang bodoh dan pikiran aku menjadi kosong sama sekali.
"Katakan saja kalau mau. Kenapa malu-malu? Ini adalah keinginan manusia yang paling primitif. Terkadang kamu harus melampiaskannya saat perlu melampiaskannya."
Aku tidak bisa mengendalikannya lagi, jadi aku menggertakkan gigi dan langsung berkata, "Mau! Mau sekali!"
"Hahaha, ini baru benar. Lakukan saja apa pun yang kamu pikirkan di dalam hati, jadi kamu nggak akan takut pada apa pun."
"Tapi, kamu hanya bisa melakukannya pada Lina, bukan pada Kak Nia, paham?"
Tiba-tiba aku merasakan frustrasi.
Kupikir Kak Nia bersiap menyerahkan dirinya padaku.
Ternyata dia hanya ingin mengajari aku cara melepaskan hasrat.
Tapi, tak masalah. Kalau terjadi sesuatu antara aku dan Kak Nia, bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada kakakku?
Aku benar-benar tidak berani tinggal lebih lama lagi, jadi aku berbohong kalau aku sakit perut dan lari ke kamar mandi.
Saat aku memijat Lina barusan, aku merasa sangat tidak nyaman, lalu Kak Nia menggodaku, sekarang selangkanganku hampir robek.
Biarpun Kak Nia baru saja mengajariku di pagi hari bahwa masturbasi kecil itu menyenangkan, tapi masturbasi besar-besaran berbahaya bagi tubuh, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya saat ini.
Yang tidak aku duga adalah aku menemukan sebuah celana dalam wanita di rak handuk.
Tak perlu diragukan lagi, celana dalam wanita ini pasti milik Kak Nia.
Aku sangat dilema dan ragu-ragu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengambil celana dalam itu?
Saat aku memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri, pemandangan pagi itu kembali muncul tak terkendali di benakku.
Ada suara di hatiku yang terus berteriak, "Ini hanya membayangkan sedang melakukan hubungan seksual, bukan benar-benar dilakukan, jadi nggak masalah. Selain itu, kalau kamu melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini, akan sulit untuk menemukannya lagi di masa depan."
Di bawah godaan suara setan, aku akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan mengambil celana dalam itu.
Bab 4
Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya.
Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari.
Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat.
Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan?
Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya.
Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu.
Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat.
Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku.
Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk.
Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?"
"Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia.
"Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah.
"Lalu kenapa suaramu bergetar?"
Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kalimat.
Aku merasa berkeringat dingin.
Biarpun Kak Nia berpikiran terbuka, dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh mengincar dia.
Kalau dia mengetahui apa yang aku lakukan dengan celana dalamnya tadi, dia pasti akan beranggapan aku tidak patuh dan akan mengusir aku.
Tapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi aku hanya bisa berkata tanpa daya, "Benaran nggak, aku hanya sakit perut dan berkeringat ...."
"Kenapa berkeringat? Apa kamu sakit?" Suara Kak Nia menjadi khawatir.
Aku berkata, "Aku nggak tahu, aku hanya merasa nggak nyaman."
"Buka pintunya, biar kulihat."
"Ini, ini nggak pantas."
"Apa yang nggak pantas? Kamu hanya anak kecil bagiku. Cepat buka pintunya."
Aku merasa kecewa. Ternyata aku hanya anak kecil di mata Kak Nia. Pantas saja Kak Nia berpikiran terbuka di hadapanku.
Mungkin dia tidak pernah berpikir untuk memintaku melakukan hal semacam itu.
Aku membungkuk dan membuka pintu kamar mandi. Saat Kak Nia masuk, dia tidak langsung menatapku, melainkan melihat ke rak handuk.
Aku panik, apakah Kak Nia menemukan sesuatu?
Aku merasa sangat bersalah hingga tidak berani menatap mata Kak Nia.
Sedangkan Kak Nia berjalan menuju rak handuk dan bertanya padaku sambil tersenyum, "Apakah kamu menyentuh celana dalamku?"
"Nggak, nggak ada." Aku terus menggelengkan kepalaku.
"Benaran nggak? Lalu kenapa wajahmu memerah? Katakan sejujurnya, apakah kamu tadi berencana melakukan sesuatu yang buruk dengan celana dalamku? Tapi, aku menyela kamu, kamu merasa bersalah dan takut, jadi nggak berani membiarkan aku masuk?"
Aku sangat meragukan kalau Kak Nia itu waskita. Kenapa dia tahu semua yang aku lakukan dan pikirkan?
Kak Nia menatapku dari atas ke bawah, saat melihat aku membungkuk dan tak berani berdiri tegak, kecurigaan di matanya semakin kentara.
"Berdiri tegak." Kak Nia menatapku dan berkata.
Aku tidak berani membangkang Kak Nia.
Ketika aku berdiri tegak, bagian di bawah tubuhku yang memalukan langsung terlihat.
Aku tahu, aku ketahuan oleh Kak Nia.
Aku memejamkan mata, tidak berani menghadapi Kak Nia.
Lalu, aku merasakan Kak Nia perlahan berjongkok di depanku.
Jantungku hampir copot.
Terutama karena aku tidak tahu apa yang ingin Kak Nia lakukan?
Apalagi posisi Kak Nia yang berjongkok saat ini terlalu ambigu sehingga membuatku berpikir lebih jauh.
Aku diam-diam membuka mataku.
Aku melihat Kak Nia memandangi tempatku dengan tergila-gila dan dengan tulus menghela napas, "Alangkah baiknya kalau kakakmu bisa sekuat kamu!"
Saat dia berbicara, ada hasrat tiada tara di matanya.
Pikiranku kosong saat ini dan hatiku merasa tidak tenang. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Kak Nia memandanginya sebentar, lalu bangkit kembali.
Aku pun menutupinya dengan tanganku.
"Simpan keinginanmu, agar kamu punya motivasi untuk menghadapi Lina."
Ucap Kak Nia tiba-tiba menghampiriku, "Sebenarnya aku sengaja merangsangmu. Kak Nia tahu itu salah, tapi demi kakakmu, Kak Nia terpaksa melakukan ini."
"Kamu terlalu pemalu, Kak Nia terpaksa mencari cara untuk membuka pikiranmu dulu."
"Singkirkan tanganmu, Kak Nia adalah orang yang berpengalaman. Apa yang belum pernah Kak Nia lihat?"
Aku berpikir dalam hati bahwa cara kamu membuka pikiranku begitu istimewa, rasanya bisa membunuhku seketika itu juga.
"Keluarlah, aku akan menelepon Lina, kita pergi jalan-jalan, aku akan membantu mendekatkan kalian."
"Mari kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya pada siang hari ini, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Perusahaan kakakmu juga bisa pulih secepatnya."
Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia memutar pinggangnya dan pergi.
Aku mengikutinya dengan patuh keluar dari kamar mandi, telapak tanganku sudah berkeringat.
Kutahan.
Digoda Kak Nia berulang kali, tapi belum bisa melampiaskannya, hasratku hampir meledak.
Tapi, demi kakakku, aku hanya bisa menahannya untuk saat ini.
Kak Nia duduk di sofa dan menghubungi nomor telepon Lina, ".... Nggak mau keluar? Kenapa? Nggak bisa, aku mau kamu menemaniku. Kalau kamu nggak pergi, aku akan meminta adikku untuk menggendongmu turun."
"Hah? Apa aku keterlaluan? Aku memang keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"
"Kalau begitu beres, kutunggu di pintu lima menit lagi."
Kak Nia menutup panggilan teleponnya, lalu tersenyum dan berkata padaku, "Beres. Kamu ganti baju, nanti kamu bawa mobil."
"Ingat, lihatlah lebih jauh, akan ada kejutan menunggumu."
Aku berkata "Oh" dan pergi berganti pakaian.
Aku sangat menantikannya dan penasaran dengan kejutan yang Kak Nia bicarakan?
Segera, aku mengganti pakaianku.
Aku dan Kak Nia menunggu di depan pintu sebentar, lalu Lina pun datang.
Lina berganti gaun merah, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah.
Apalagi gaun ini memiliki leher V yang memperlihatkan bagian dada Lina.
Aku langsung tercengang.
Di luar dugaan, bodi Lina ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan.
Mata Lina sepertinya sengaja menghindariku, dia tidak mau menatap langsung ke arahku.
Dia merangkul lengan Kak Nia dan berjalan lewat di depanku.
Aku sangat bingung dan agak sedih.
Saat aku memijatnya tadi, dia jelas-jelas berkesan baik terhadapku. Kenapa dia begitu dingin sekarang? Bahkan tidak menatapku.
Apa aku bertindak keterlaluan? Membuatnya tidak senang?
Kami turun dari lantai atas.
Sepanjang proses, Lina berbincang dan tertawa dengan Kak Nia, tapi aku seperti udara.
Awalnya aku sangat tertekan, tapi setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku teringat perkataan Kak Nia yang memintaku untuk memperhatikan bagian belakang setelah masuk ke dalam mobil, ada kejutan yang menungguku.
Aku penasaran apa kejutannya?
Jadi aku terus melihat ke kaca spion.
Kak Nia dan Lina sedang mengobrol dan tertawa, aku tidak melihat ada kejutan apa pun.
"Kak Nia, kita mau ke mana?" Aku menanyakan arah dan sengaja menoleh ke belakang, tapi tetap tidak menemukan kejutan apa pun.
Tapi, mataku dan mata Lina secara tidak sengaja bertatapan. Wajah Lina tiba-tiba memerah, lalu dia membuang muka dengan salah tingkah.
Aku menangkap tatapan bingung, gelisah dan canggungnya.
Jantungku pun "berdebar" satu kali.
Aku curiga Lina tidak marah, tapi ragu-ragu dan bingung apakah dia harus bersikap ambigu padaku, jadi dia terus mengabaikanku.
Aku sangat senang.
Karena ini menunjukkan bahwa dia tertarik padaku.
"Ke Wanda Plaza," ujar Kak Nia.
Aku mengiyakan, lalu menggunakan ponsel untuk mencari rute, menyalakan mobil dan menuju ke Wanda Plaza.
Sepanjang perjalanan aku masih sesekali melihat ke kaca spion.
Aku hanya ingin tahu kejutan apa yang Kak Nia bicarakan.
Saat mobil sampai di jalan yang padat, mobil melaju sangat lambat. Aku melihat ke kaca spion lagi.
Ini pemandangan yang luar biasa, kebetulan aku melihat Lina melepas celana dalamnya.