Bab 4

Arlena bertanya, "Kenapa?"

"Kenapa? Tentu saja karena kamu tidak tahu diri! Ibumu sudah meninggal bertahun-tahun, tapi kamu masih saja menguasai semua harta Keluarga Montel."

"Semua itu seharusnya milikku! Kamu, anak dari seorang perebut suami orang, tak pantas menikmati kemewahan milik Keluarga Montel!"

Arlena bisa menahan apa pun, kecuali ibunya dihina.

Dia tiba-tiba menyerbu ke arah Callista, suaranya terdengar dari sela-sela giginya.

"Ibuku bukan pelakor, dia menikah dengan Ayah saat sama sekali tidak tahu keberadaanmu dan ibumu."

"Kalianlah yang sedikit demi sedikit membunuh dia!"

Callista tidak menyangka Arlena akan membantah dia. Dia mengangkat tangan untuk menampar.

Tepat pada saat itu, pintu ruang tunggu tiba-tiba terbuka.

Melihat sekilas sosok Declan, Callista dengan cepat mengambil inisiatif. Dia meraih camilan kacang di atas meja dan memasukkannya ke dalam mulut.

Detik berikutnya, tubuhnya lemas dan jatuh, mulutnya bergumam tidak jelas, "Arlena, kenapa kamu memaksaku makan ini? Aku alergi kacang..."

Declan bergegas menghampiri Callista, mendorong Arlena menjauh.

Arlena terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak meja kopi di samping dengan keras.

"Prang!" Gelas di atas meja kopi pecah, dan tangan Arlena berdarah karena serpihan kaca.

Declan bahkan tidak melihatnya. Dia segera berjongkok, memeluk Callista.

"Callista, kamu kenapa?"

Mata Callista berkaca-kaca, dia menggenggam lengan Declan tanpa daya. "Aku hanya ingin bernostalgia dengan Arlena, dan aku tidak tahu di mana aku menyinggung dia. Dia tiba-tiba memaksaku makan camilan itu..."

"Lihat aku, apa badanku sudah mulai ruam?"

Declan menunduk, dan benar saja, dia melihat ruam merah besar muncul di tubuh Callista dengan kecepatan yang terlihat jelas.

"Bagaimana ini? Pesta belum selesai, aku tidak boleh membuatmu malu. Kosmetik... ya, harus ditutupi dengan kosmetik!"

Declan mencengkeram pergelangan tangan Callista dengan kuat. "Sudah segini masih memikirkan hal-hal yang tidak penting ini? Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

Declan menggendong Callista. Sebelum pergi, dia melirik tajam Arlena.

Arlena menahan rasa sakit yang hebat dan bangkit. Darah dari tangannya terus mengalir keluar, dalam sekejap membasahi roknya.

Tapi dia tidak merasakan sakit, seolah-olah setelah jatuh ke jurang yang dalam, semua indranya telah diambil.

Dengan suara pelan, dia meminta pelayan mengambil kotak P3K. Tangannya gemetar saat membalut luka itu, mencoba menahan rasa sakit seorang diri.

Setelah semua kekacauan itu, Arlena kelelahan. Dia menyeret langkah berat dan bersiap untuk pergi.

Begitu memasuki koridor, beberapa sosok tiba-tiba muncul dan tanpa berkata apa pun, mereka langsung menyeretnya ke ruang penyimpanan di samping.

Sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan kuat, memaksa dia mendongak. Tanpa peringatan, cairan cabai berkonsentrasi tinggi langsung disemprotkan ke dalam mulutnya.

Mata Arlena terbuka lebar karena ketakutan.

Dia, seperti Callista, memiliki alergi, alergi terhadap cabai sejak lahir.

Air cabai sebanyak ini sudah cukup untuk mengakhiri hidupnya!

"Uh... lepaskan..."

Arlena berjuang mati-matian.

Akan tetapi, orang-orang itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk melawan. Segelas demi segelas air cabai terus dituangkan.

Dia tersedak hebat hingga wajahnya memerah, tubuhnya berkedut hebat tanpa kendali. Tangan yang terluka mencakar tanah dengan lemah, disertai suara parau yang mengguncang hati.

Melihat dia dalam keadaan menyedihkan, orang-orang itu bukannya berhenti, justru semakin parah menghina.

"Callista adalah wanita yang sangat disayangi Declan. Kamu bahkan berani menyentuhnya? Benar-benar tidak tahu diri."

"Kudengar kamu sering jadi korban perundungan di sekolah. Mungkin sudah diobok-obok oleh banyak pria. Perempuan sepertimu, yang sudah dipakai berkali-kali, mana mungkin diinginkan oleh pria sekelas Declan?"

"Minumlah semua air cabai ini dengan baik. Anggap saja sebagai bentuk permintaan maaf untuk Callista. Kalau kamu menolak, bersiaplah menerima akibatnya!"

Penglihatan Arlena makin kabur, kesadarannya juga perlahan mulai buyar.

Dia menggunakan sisa tenaga terakhirnya, hampir tanpa sadar menyebut nama orang itu. "De..."

Begitu kata-kata itu keluar, terdengar tawa sinis dari atas kepalanya.

"Hahaha! Kamu tidak berharap Declan akan menyelamatkanmu, 'kan?"

"Justru dia sendiri yang menyuruh kami menuangkan air cabai itu! Kamu melukai Callista, dia malah senang kalau kamu mati!"

"Ayo, ayo! Kita robek bajunya, foto, lalu kirim ke Declan. Biar Declan juga bisa melampiaskan amarahnya!"

Beberapa pria mengerumuni, dalam sekejap rok Arlena sudah robek berantakan.

Mereka terus-menerus mengambil foto Arlena yang sekarat dan berantakan, hingga akhirnya dia tak sanggup bertahan dan benar-benar pingsan.

Bab 5

Saat Arlena terbangun lagi, dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

Declan duduk di samping ranjang, sibuk bekerja dengan laptopnya. Seolah merasakan sesuatu, dia mengangkat pandangannya ke arah Arlena.

Mata mereka bertemu. Declan menghela napas lega yang nyaris tak terlihat, tetapi nadanya tetap dingin seperti biasa, "Bagaimana rasanya diintimidasi?"

"Ingat pelajaran ini, lain kali jangan cari masalah lagi dengan Callista."

Arlena terdiam dan membuang muka, setetes air mata diam-diam mengalir dari sudut matanya.

Dulu, dia menganggap Declan sebagai penyelamat.

Akan tetapi, sekarang, apa bedanya perbuatan pria itu dengan orang-orang yang merundung dia?

Declan menatap gadis yang terdiam di ranjang rumah sakit, entah kenapa, hatinya terasa sedikit tidak nyaman.

Dia cemburu dan menyakiti Callista, jadi wajar jika dia jadi seperti ini.

Namun, kenapa saat melihatnya menangis, dia masih merasa tidak tega?

Saat itu, perawat kecil mendorong pintu kamar. "Tuan Declan, AC di kamar Nona Callista rusak..."

Declan mengernyit. "Kalau rusak, ya diperbaiki. Hal sekecil ini perlu lapor padaku?"

"Sudah dilaporkan, tapi petugas perbaikan baru akan tiba satu jam lagi. Nona Callista terus mengeluh kedinginan, dan rumah sakit tidak punya kamar kosong lagi untuk dia..."

Mendengar itu, Declan segera bangkit.

"Bagaimana cara rumah sakitmu bekerja? AC saja lama sekali diperbaikinya." Alisnya berkerut. "Kesehatan Callista memang lemah, dia tidak tahan udara dingin. Suruh Arlena pindah dulu, dan pindahkan Callista ke ruangan ini."

"Ini..." Perawat kecil itu memandang Arlena di ranjang rumah sakit, sedikit ragu.

Arlena alergi cabai, dan dia telah diberi begitu banyak air cabai.

Nyawanya memang berhasil diselamatkan, tetapi kerongkongan dan lapisan lendir di lambungnya mengalami luka bakar serius. Sedikit saja kesalahan bisa membuat kondisinya kembali kritis.

Callista hanya makan sepotong kue kacang, lalu kondisinya membaik setelah disuntik obat antialergi beberapa kali.

Akan tetapi, di mata Declan, semua penderitaan Arlena seolah tidak berarti apa-apa...

"Masih melamun? Kalau Callista sampai kedinginan, rumah sakitmu tidak akan bisa beroperasi lagi!"

Declan sudah bicara sejauh itu, perawat itu terpaksa menuruti.

Tak lama kemudian, Arlena dipindahkan ke kamar Callista.

Declan pergi menemani Callista, meninggalkan Arlena seorang diri di kamar besar itu. Dia hanya bisa berbaring dan melamun.

Mengingat semua yang terjadi belakangan ini, dia tidak bisa lagi menahan emosinya, air mata mengalir deras.

Sambil menangis, rasa dingin menyeruak.

Mengikuti rasa dingin itu, Arlena terkejut menemukan AC menyala, terus-menerus mengeluarkan udara dingin!

Seketika, dia mengerti segalanya.

Callista sengaja mengatakan bahwa AC rusak, hanya agar dia dipindahkan ke sana dan merasakan dinginnya ruangan itu sebagai pelampiasan dendam yang selama ini dipendamnya.

Seiring suhu kamar yang terus menurun, Arlena merasakan dingin meresap perlahan ke dalam tulangnya, inci demi inci, hingga giginya ikut bergemeletuk.

Dia mencoba berteriak minta tolong, tetapi tenggorokannya bengkak sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.

Dia mencoba meraih bel panggil, tetapi lengannya lemas dan tidak bertenaga, hanya bertahan beberapa detik sebelum jatuh kembali ke tempatnya.

Arlena benar-benar putus asa. Dia hanya bisa meringkuk lebih erat, mencoba mempertahankan kehangatan terakhir.

Entah berapa lama berlalu, akhirnya ada seseorang yang menemukan dia yang terlupakan dalam keputusasaan.

Namun, ketika Arlena berusaha membuka matanya, yang dia lihat adalah wajah puas Callista.

"Arlena, lihat dirimu sekarang, apa bedanya dengan anjing kehilangan rumah?"

"Declan rela membunuhmu untuk membalaskan dendamku. Sekarang foto-foto pelecehanmu ada di tangan semua orang. Mereka semua mengolok-olokmu."

"Oh, ya, tadi ada perusahaan film dewasa yang menghubungiku. Mereka menanyakan apakah kamu tertarik jadi pemeran utama wanita di film mereka yang berikutnya, hahaha..."

Callista tertawa sambil bicara.

Setelah dia puas tertawa, dia tiba-tiba mencengkeram bagian lengan Arlena yang paling parah lukanya dan meremasnya dengan keras!

Darah muncrat, dan pandangan Arlena perlahan menggelap.

"Jadi, sekarang kamu pasti mengerti siapa yang sebenarnya dia cintai, 'kan?"

"Kalau kamu memang pintar, akui saja bahwa ibumu adalah perebut suami orang, lalu pergi dari hadapanku. Aku muak melihat wajahmu!"

Sorot mata Arlena meredup, tergantikan oleh kehampaan yang dalam dan tak berujung.

Menghilang?

Dia akan melakukannya.

Dia akan segera pergi ke negeri asing, dan tidak akan pernah menoleh lagi.

Bab 6

Sehari sebelum ke luar negeri, Rizkan menyuruh seseorang menjemput kedua putrinya dari rumah sakit.

Arlena dan Callista naik mobil yang sama.

Tak disangka, di tengah jalan, sopir tiba-tiba berbalik arah dan masuk ke jalan kecil.

Saat Arlena menyadari ada yang tidak beres, mobil sudah berhenti di depan sebuah pabrik kosong.

Sopir membuka pintu mobil, dan dua penculik berwajah garang menyerbu masuk dan menarik dia serta Callista keluar.

Callista ketakutan, dia berteriak sekuat tenaga, "Tolong! Lepaskan aku!"

Arlena juga tercengang.

Sopir itu jelas diatur oleh ayahnya, bagaimana dia bisa disuap oleh penculik?

Saat dia berpikir, keduanya dilempar ke sebuah ruangan yang bobrok.

Penculik berkata dengan dingin, "Kalian berdua, yang satu tunangan Declan, yang satu lagi calon adik ipar Declan. Aku meminta tebusan 200 miliar kepadanya, tidak berlebihan, 'kan?"

Mata Callista terbelalak. Dia belum sempat bicara, penculik sudah menelepon Declan dan menyalakan speaker.

"Halo?" Suara berat pria itu terdengar dari telepon.

Penculik memberi isyarat kepada Callista, Callista segera terisak. "Declan, ini aku. Aku Callista!"

"A… aku diculik, mereka meminta tebusan 200 miliar…"

Nada bicara Declan langsung menjadi dingin. "Jangan sentuh Callista! Kirimkan nomor rekeningnya, uangnya akan segera ditransfer."

Mendengar itu, penculik menyerahkan telepon ke mulut Arlena. "Kamu juga bicara beberapa kata. Kalau Declan menambahkan satu miliar lagi, kamu juga bisa dibebaskan."

Arlena mengepalkan tangannya.

Declan sangat membencinya. Bagaimana mungkin dia bersedia mengeluarkan uang untuk menyelamatkannya?

Tepat ketika dia memikirkan bagaimana cara bicara, penculik lain mendekat ke temannya dan berbisik, "Kak, Nona Arlena bilang 200 miliar, kenapa…"

Meskipun suara penculik tidak keras, Declan yang berada di ujung telepon mendengarnya dengan jelas.

Jari-jari Declan mencengkeram ponselnya erat, wajahnya muram, seolah menahan air mata yang nyaris tumpah.

Ternyata Arlena dan penculik itu satu komplotan!

Tidak heran sopir itu disuap, dan penculik itu berani meminta 200 miliar darinya.

Berpikir demikian, Declan berkata dengan dingin, "Hidup atau matinya Arlena tidak ada hubungannya denganku, kalian urus saja sendiri!"

Karena Arlena sangat menginginkan uang, dia akan memberikannya, anggap saja sebagai akhir dari hubungan buruk di antara mereka.

Ucapan itu membuat hati Arlena terjun bebas ke dalam jurang yang gelap dan sunyi.

Ternyata Declan benar-benar ingin dia mati…

Dia tidak pernah mencintainya.

Hanya kebencian yang tak ada habisnya, menusuk sampai ke tulang.

Tidak lama kemudian, terdengar suara rem mendadak di luar gudang.

Declan bergegas masuk ke dalam gudang dan langsung memeluk Callista erat.

Setelah itu, dia melirik Arlena yang duduk terpojok di sudut ruangan, seolah sedang menatap sesuatu yang tidak berharga. Kepada para penculik, dia berkata dingin, "Uangnya sudah aku transfer. Untuk Arlena, lakukan sesuka kalian. Mau dijual ke pelosok atau dihabisi di tempat, aku tidak peduli."

Arlena melihat Declan menggendong Callista dan pergi begitu saja.

Setelah keduanya pergi, penculik tidak berpura-pura lagi. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi mengejek.

"Sebelumnya aku sempat dengar kalau kamu dan Declan pernah tidur bersama. Awalnya kupikir dia paling tidak punya sedikit perasaan padamu. Tapi ternyata, bahkan untuk mengeluarkan satu miliar pun dia tidak mau. Di matanya, kamu bahkan tidak lebih berharga dari seekor anjing.”

Arlena menatap penculik dengan dingin. "Uangnya sudah kalian dapatkan, aku boleh pergi sekarang?"

"Pergi?" Penculik itu seperti mendengar lelucon terbesar di dunia. "Uangnya sudah di tangan, tapi pekerjaannya belum selesai. Kamu tunggu menikmati saja!"

Keduanya menyeringai dan menerkam Arlena, mengulurkan tangan untuk merobek pakaiannya.

Detik berikutnya, puntung rokok yang panas membara dicap di kulitnya!

Arlena menjerit pilu, keringat bercampur air mata membasahi wajahnya.

Melihat penampilannya yang kacau balau, penculik makin bersemangat.

"Dengar-dengar di sekolah kamu juga diganggu seperti ini. Hari ini kami akan membantumu mengulanginya lagi."

"Kak, bagaimana kalau kita cap dia dengan tulisan?"

"Oke, cap tulisan apa?"

"Cap jalang saja, cocok untuknya! Hahaha…"

Puntung rokok ditekan inci demi inci ke paha, pinggang, punggungnya. Arlena kesakitan hingga berkeringat deras, hampir kehilangan kesadaran.

Entah berapa lama berlalu, keduanya akhirnya berhenti, dan dengan tawa terbahak-bahak mereka pergi dengan angkuh.

Arlena meringkuk di reruntuhan, tubuhnya sesekali berkedut.

Hingga hari mulai gelap, rasa sakit yang menusuk itu perlahan mereda. Barulah dia, dengan susah payah, merangkak bangkit, berpegangan pada dinding, lalu melangkah dengan langkah yang goyah.

Kebahagiaan yang Pernah Kusimpan

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya