Bab 1

Malam sebelum aku seharusnya menikah dengan pewaris Keluarga Moro, aku mendapati rentetan 99 pesan teks mesum di ponsel Leo, tunanganku.

Seorang wanita bernama Via Cokro, memberi tahu Leo bahwa dia mencintai Leo. Sangat mencintainya. Tanpa tahu malu sama sekali.

Dia memohon pada Leo supaya membatalkan pernikahan kami, mengancam akan bunuh diri jika Leo tetap melanjutkan pernikahan ini.

Aku langsung bereaksi.

Aku menyodorkan ponsel itu ke wajah Leo untuk menuntut penjelasan.

Keheningan terasa abadi sebelum Leo akhirnya angkat bicara.

"Kakaknya itu Alan, wakilku. Dia kena tembak demi aku. Aku sudah janji padanya akan menjaga adiknya."

"Jeny, kita tumbuh bersama. Kamu tahu cuma kamu satu-satunya di hatiku. Aku janji bakal urus ini, aku akan memutus hubungan dengannya."

Aku mencari kebohongan di mata Leo.

Akhirnya aku menelan rasa getir dalam tenggorokanku dan memilih untuk memercayai Leo. Pernikahan pun tetap dilanjutkan.

Pernikahan ini bukan sekadar tentang kami berdua.

Ini adalah perjanjian yang ditandatangani dengan darah antara dua keluarga.

Dan, Tuhan tolong aku, aku masih mencintainya.

Namun, di hari pernikahan kami, saat kami berdiri di altar dengan janji yang hampir diucapkan, Leo menerima telepon.

Itu dari dia, Via.

Dia sedang berada di jembatan dan mengancam akan melompat. Menuntut supaya Leo segera datang sekarang juga.

Cincin berlian yang hanya sejengkal dari jariku, jatuh berdenting ke lantai batu gereja.

Tidak ada sepatah kata pun.

Tidak ada satu pun penjelasan.

Leo pergi begitu saja. Meninggalkanku, keluarga kami, masa depan kami... Meninggalkanku berdiri sendirian di altar.

Dalam kabut air mata, aku berteriak padanya, "Leo, kalau kamu keluar dari pintu itu, kita putus!"

Jawaban satu-satunya dari mulut Leo, diucapkannya sambil berjalan menjauh, "Dia butuh aku."

Leo tidak pernah menoleh ke belakang.

Aku pun menghilang dari dunia Leo dan tidak pernah menoleh ke belakang sambil mengandung anaknya.

"Apakah kamu menerima cincin ini sebagai simbol janjimu pada Keluarga Moro?"

Suara pendeta menggema di seluruh gereja yang suci ini.

Leo menggenggam cincin lambang keluarga itu, emas berat yang telah diwariskan selama lima generasi.

Dia mencondongkan tubuh, napasnya yang hangat menerpa telingaku sembari berbisik, "Aku sudah menunggu seumur hidupku untuk ini, Jeny."

Deretan bangku dipenuhi oleh keluarga-keluarga paling berkuasa di Casida, mata mereka tertuju pada kami bak belati.

Aku menatap mata cokelat gelap Leo. "Aku bersedia."

Cincin itu menyentuh ujung jariku.

Leo hendak mengucapkan, "aku bersedia" bagiannya.

Tapi ponsel pribadi Leo bergetar, hanya tiga orang yang mengetahui nomor pribadinya ini.

Ayahnya, wakilnya Mark, dan aku.

Namun, Ayah Leo berada di luar negeri.

Dan Mark serta aku berdiri tepat di sini.

Jadi, siapa gerangan yang menelepon?

Leo mengerutkan kening sembari melirik layar.

Wajahnya pucat pasi.

Tangan yang menggenggam tanganku itu bergetar, dan dia hampir menjatuhkan ponselnya.

"Leo?" tanyaku lembut.

Leo tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badan untuk menjawab telepon itu.

"Apa? Kamu di mana?!" Suara Leo tercekat karena panik. "Jangan lakukan hal bodoh! Aku lagi di jalan."

Cincin itu terlepas dari tangan Leo hingga jatuh ke karpet merah tua.

Keheningan melanda seluruh gereja.

Dua ratus pasang mata tertuju pada kami.

Leo menutup telepon dan menatapku, matanya penuh permintaan maaf. "Jeny, aku harus pergi."

Sekarang? Aku tidak percaya. "Leo, kita bahkan belum menyelesaikan janji pernikahan."

"Dia mau lompat," bisik Leo, lebih kepada dirinya sendiri daripada padaku. "Aku nggak bisa biarin dia mati."

Rasa ngeri dingin menjalar ke tulang punggungku. "Telepon dari Via, 'kan?"

Leo sudah berbalik hendak pergi. Dia berhenti sebentar tanpa menoleh. "Dia... dia butuh aku."

Dan kemudian Leo lari.

Di pernikahan kami, di depan semua keluarga penting, Leo Moro meninggalkan pengantinnya.

Kerumunan pun langsung banyak yang berbisik.

Aku mendengar gerutuan marah dari para tetua Moro, juga mendengar suara pukulan tangan ayahku ke sandaran kursi.

Mark bergegas ke altar. "Semuanya, tolong tetap tenang. Ini… keadaan darurat."

Ayahku berdiri. "Keadaan darurat macam apa yang pantas melanggar janji di hadapan Tuhan?"

"Via Cokro ada di Jembatan Jalan Jaksa, dia mengancam mau lompat," kata Mark dengan suara tegang. "Dia nggak stabil. Kalau polisi ikut campur, dua keluarga bakal kena imbasnya."

Aku teringat pesan-pesan semalam, tentang Leo yang bersumpah bahwa gadis itu tidak berarti apa-apa baginya.

Rasanya bak serpihan es telah menusuk jantungku.

Aku berdiri membeku di altar dengan gaun seharga belasan miliar, cincin lambang Keluarga Moro membakar lingkaran dingin di kulitku, setengah jalan menuju buku jariku.

Dua ratus pasang mata, semuanya tertuju padaku sembari menunggu.

Aku mengeluarkan ponsel cadanganku sendiri.

Aku menelepon Leo.

Nada sibuk terdengar.

Lagi-lagi...

Nada sibuk.

Tiga belas kali.

Tiga belas kali tidak bisa dihubungi, hanya kotak suara yang menjawab.

"Jeny, mungkin kita sebaiknya... " Mark mencoba menenangkanku.

"Diam kamu." Setiap kata keluar seperti pecahan es. Mark tersentak, lalu mundur selangkah.

Lima jam penuh.

Aku menunggu di altar itu selama lima jam.

Di jam pertama, aku berbohong pada diriku sendiri. Dia akan kembali. Ini cuma keadaan darurat.

Di jam kedua, tatapan para tamu terasa seperti menguliti kulitku.

Menjelang jam ketiga, bisikan-bisikan berubah menjadi keheningan mencekik ketika bangku-bangku mulai kosong.

Hatiku bukan hanya hancur, tetapi sudah berubah menjadi bongkahan es di dalam dadaku.

Aku terus meraba cincin di jariku.

Pertama, untuk merasakan janji Leo. Kemudian, melepaskannya dengan paksa.

Akhirnya, tidak ada apa-apa. Aku tidak merasakan apa pun.

Bahkan anggota inti keluarga kami tidak tahan lagi.

Ibuku datang ke sisiku. "Jeny, Sayang, mari kita pulang."

"Nggak." Aku menggeleng. "Janji pernikahan belum selesai."

"Janji itu sudah hancur." Suara ayahku terdengar seperti racun murni. "Ini penghinaan terhadap Keluarga Arosa."

Aku merasa pusing.

Mungkin karena tidak makan, atau... mungkin karena hatiku hancur berkeping-keping.

"Aku perlu menyendiri."

Aku berjalan ke bilik pengakuan dosa di belakang gereja.

Kotak kayu kecil itu memberiku secercah rasa aman.

Aku berlutut di bangku sembari menyatukan tanganku. "Ampuni aku, Bapa, atas dosa yang akan kulakukan."

Hanya keheningan yang menjawab.

Hanya kegelapan yang menindas di bilik pengakuan dosa.

Pandanganku menyempit.

Udara terasa berat yang membuatku sulit bernapas.

Lalu segalanya berubah gelap.

Begitu aku bangun, aku berada di tempat tidur di klinik pribadi Keluarga Arosa.

Langit-langit berwarna putih, lampu-lampunya menyilaukan.

Aku mencoba untuk duduk, tetapi gelombang mual menerpaku.

"Jangan bergerak, Jeny," kata Dokter Romeo, dokter keluarga kami, sambil mendekat. "Kamu dehidrasi dan gula darahmu rendah."

"Di mana Leo?" tanyaku.

"Dia belum balik," jawab Dokter Romeo sembari menghindari tatapanku. "Tapi… ada sesuatu yang harus aku kasih tahu padamu."

Jantungku mulai berdebar kencang. "Apa itu?"

"Kamu hamil, sekitar enam minggu."

Dunia menjadi sunyi seketika.

Hamil...

Aku mengandung pewaris Keluarga Moro.

Tawa pahit dan histeris mencoba merayap naik di tenggorokanku.

Sungguh kejam, lelucon yang kejam!

Pintu terbuka.

Ayahku dan beberapa tetua keluarga masuk.

Tatapan mereka menyimpan berbagai emosi.

Kemarahan, perhitungan... tetapi di balik semuanya, ada secercah harapan.

Mata mereka tidak tertuju padaku.

Mereka tertuju pada perutku.

Seolah rahimku adalah taruhan terakhir di meja, satu-satunya yang bisa menyelamatkan harga diri mereka.

"Jeny," panggil ayahku yang duduk di tepi ranjang. "Ini kabar baik. Keluarga Moro akan kembali merendah pada kita, aliansi nggak bakal putus… "

Aku tidak bisa mendengar sepatah kata pun yang Ayah ucapkan. Yang bisa kulihat hanyalah wajah Leo.

Aku teringat tumbuh besar bersamanya.

Aku selalu tahu aku akan menikah dengannya.

Dari anak-anak yang bermain... hingga ciuman nyata pertama kami, aku tidak pernah meragukan cintanya padaku.

Kami berlatih bersama, mempelajari bisnis keluarga bersama.

Dia mengajariku menembak, aku membantunya dengan pembukuan.

Kami mengikat sumpah darah.

Namun hari ini, di hadapan Tuhan, dia justru memilih wanita lain.

Dia menginjak-injak cinta kami, menginjak-injak kehormatan keluarga kami.

Dokter Romeo memeriksa tekanan darahku. "Selamat, Jeny. Anak ini... anak ini jadi masa depan kedua keluarga kita."

Aku menutup mata, air mata membakar di baliknya.

Aku tidak bisa bicara.

Pewaris yang mereka tunggu-tunggu?

Aku akan mempertahankannya.

Namun, anak ini tidak akan pernah menjadi bagian Keluarga Moro, dia akan menjadi Keluarga Arosa.

Sedangkan untukku dan Leo... Hubungan kami sudah berakhir.

Bab 2

Leo akhirnya muncul enam jam kemudian.

Pintu terbuka dengan kasar.

Dia berdiri di sana dengan keadaan basah kuyup.

Dia tampak seperti baru saja diseret dari neraka.

Jasnya berantakan, rambutnya menempel di kulit kepala.

Matanya dipenuhi kelelahan dan keputusasaan.

"Jeny." Suaranya terdengar serak. "Maaf."

Ayahku dan para tetua langsung berdiri. Tangan mereka semua bergerak ke senjata di pinggang.

"Keluar," ucapku dengan suara sangat rendah dan berbahaya. "Tinggalkan kami."

"Jeny… " Ayahku ragu-ragu.

"Keluar!"

Ruangan itu kosong kecuali aku dan Leo.

Leo hanya berdiri di sana, tampak seperti baru saja ditarik keluar dari sungai.

"Dia masih hidup?" tanyaku.

Leo mengangguk. "Aku bawa dia ke rumah sakit swasta, dia bakal baik-baik saja."

"Jadi, kamu selamatkan dia..." Suaraku terdengar tenang yang menakutkan. "Sesuai janjimu."

"Jeny, kumohon, biarin aku jelasin… "

"Jelasin apa?" potongku. "Jelasin kenapa kamu kabur dari pernikahan kita demi menyelamatkan wanita lain? Jelasin kenapa kamu biarin tiap keluarga di Casida melihatku dipermalukan?"

"Alan tertembak demi aku, Jeny!" Suara Leo pecah. "Dia mati dalam pelukanku! Kata-kata terakhirnya bukan ‘balaskan dendamku.’ Tapi ‘jaga adikku.’ Itu utang darah. Gimana aku bisa biarkan dia mati?"

Suaraku bergetar saat aku membalas, "Jadi, utang darah pada orang mati lebih penting dari janji sucimu padaku? Pada Tuhan? Kamu punya pasukan, Leo. Kamu bisa mengirim siapa pun. Kenapa harus kamu? Kenapa harus dirimu?"

Leo tidak punya jawaban.

"Dan kenapa hari ini? Dari semua hari, kenapa hari ini? Kamu pikir itu kebetulan, Leo? Yakin?"

"Dia hancur, Jeny. Dia ketakutan, dia… "

"Dia pintar," kataku, suaraku mengeras. "Dia tahu persis kapan harus menarik pelatuk supaya ada dampak maksimal."

Alis Leo berkerut. "Apa maksudmu?"

"Kamu benaran pikir dia mau mati?" Aku menatap pria yang seharusnya kunikahi, pria yang masih mencari-cari alasan untuk Via.

"Nggak, dia maunya penonton. Dia ingin memaksamu. Dan selamat, Leo. Dia menang."

Sama seperti pesan-pesan yang kubaca semalam.

Upaya bunuh diri Via hanyalah cara untuk menarik perhatian Leo, cara untuk menghentikan pernikahan kami.

Wajah Leo memucat. "Dia bukan orang kayak gitu."

"Itu yang selalu dikatakan setiap pria." Aku pun menggeleng. "Leo, aku ingin kamu jujur. Kamu cinta dia?"

Wajah Leo dipenuhi kepanikan.

Dia menggeleng sembari menyangkalnya.

"Bukan cinta. Ini… rumit, Jeny." Akhirnya Leo berkata. "Aku punya tanggung jawab padanya."

"Tanggung jawab?" Aku hampir tertawa. "Kamu punya tanggung jawab padaku, pada keluarga kita. Tapi kamu malah pilih dia."

Leo berjalan ke jendela sembari membelakangiku. "Jeny, kumohon, jangan kasih tahu ayahku alasan aku tinggalin pernikahan."

Aku terpaku. "Apa?"

"Kalau ayahku tahu keberadaannya jadi beban… kamu tahu apa yang bakal Ayah lakukan, beliau bakal lenyapkan Via."

Rasa dingin merayap di tulang punggungku. "Kamu khawatir tentang keselamatannya?"

"Dia nggak bersalah."

"Terus aku bersalah, gitu?" Suaraku bergetar karena marah. "Terus gimana dengan penghinaan yang kuterima hari ini? Gimana dengan kehormatan keluarga kita? Apa itu nggak berarti apa-apa?"

Leo mendekat ke arahku, berusaha menyentuh wajahku.

Aku menepisnya.

"Jeny, tolong kasih aku waktu," pintanya. "Aku harus bantu dia stabil dulu. Setelah pikirannya jernih, kita bisa melangsungkan pernikahan lagi."

Jantungku serasa berhenti.

Menikah lagi…

Setelah Via stabil.

Leo bukannya meminta maaf, malah menyuruhku menunggu.

Dia ingin aku, Jeny Arosa, menundanya.

Menunggu sementara Leo jadi pahlawan untuk wanita lain.

Dalam dunia Leo, aku cuma urusan sisa urusan yang bisa dia bereskan nanti.

"Tunda?" Kata itu terasa seperti racun di lidahku.

"Cuma sebentar. Sampai dia pulih."

"Beberapa bulan?" Aku berdiri. "Leo, kamu paham apa yang kamu bilang? Kamu mau aku menunggu beberapa bulan selagi kamu mengurus... tanggung jawabmu?"

"Dia sedang rapuh sekarang, dia butuh aku."

Aku teringat saat berusia 12 tahun.

Musuh ayahku menculikku, dan Leo mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku.

Kami mengiris telapak tangan dan mencampur darah kami.

Apa pun yang terjadi, kami selalu setia satu sama lain, itulah sumpah kami.

Aku teringat saat kami berusia 18 tahun, pekerjaan pertama kami bersama.

Muncul seorang pengkhianat yang telah mengkhianati keluarga.

Leo menjadi pengalih perhatian, sedangkan aku menjadi eksekutor. Kerja sama kami sempurna dan penuh kepercayaan mutlak.

Aku teringat saat berusia 20 tahun, malam ketika dia melamarku.

Dia berlutut di taman mawar kediaman Arosa sembari berkata aku adalah wanita terkuat dan tercantik yang pernah dia kenal.

Dan sekarang dia berdiri di sini, memohon agar aku mengerti kekhawatirannya akan wanita lain.

Air mata mulai mengalir.

Aku tidak bisa menghentikannya.

"Leo." Suaraku pecah di tengah isak. "Lihat aku."

Dia menatapku.

Air mata juga ada di matanya.

"Aku melihatmu, tapi aku nggak bisa lihat pria yang membuat sumpah itu lagi."

Bibir Leo bergetar. "Jeny… "

"Kamu ingat sumpah darah kita?" Aku mengulurkan tangan, menunjukkan bekas luka pudar di telapak tanganku. "Kamu ingat apa yang kamu katakan?"

"Aku ingat," bisiknya.

"Kalau begitu katakan padaku, gimana kamu menyebut pengkhianatan sumpah itu hari ini?"

Leo memejamkan mata, bulu matanya bergetar.

Aku pikir Leo akan melepaskan wanita itu. Dia akan memohon padaku untuk memaafkan dirinya.

Sebuah rahasia membara di lidahku, bayi kami.

Namun, ketika dia membuka matanya lagi, pertentangan itu telah hilang, digantikan oleh tekad yang dingin dan keras.

"Maaf, Jeny," katanya berat. "Saat ini… akulah satu-satunya yang dia punya."

Duniaku bukan sekadar hancur, dunia itu lenyap.

Bukan karena Leo memilih Via.

Melainkan ekspresi wajah saat Leo melakukannya.

Terlihat beban pelindung yang penuh kebenaran, kebanggaan mulia seorang penyelamat.

"Kalau begitu, penuhilah janjimu," kataku sambil menyeka air mata. Suaraku kembali tenang.

Leo menatapku.

Sepertinya dia mengira aku akan berteriak, memohon, atau mengancamnya.

Namun, aku tidak melakukannya.

Aku hanya menatap sambil menunggu keputusan Leo.

Dan dengan satu tatapan terakhir yang penuh rasa sakit, Leo berbalik pergi dari hidupku.

Bab 3

Aku melihat sekeliling rumah yang kutinggali bersama Leo, hatiku terasa perih.

Aku tidak bisa tinggal di sini.

Besok, aku harus pergi.

Namun pertama-tama, aku pergi ke klinik pribadi Dokter Romeo.

Dia memberiku beberapa pil, katanya itu akan membantu pada awal kehamilan.

Aku menatap pil-pil itu lama sebelum membuangnya ke toilet.

Area parkir klinik itu sunyi.

Casida adalah kota berbahaya setelah gelap. Namun malam ini, akulah monster yang lebih berbahaya.

Lalu aku melihat mereka.

Leo dengan lembut menyampirkan jaket jasnya di bahu seorang gadis.

Dia kurus, kecil, seperti rusa ketakutan.

Tangannya gemetar, dan Leo menghiburnya dengan suara pelan.

Via Cokro.

Cara Via memandang Leo dipenuhi ketergantungan dan kekaguman.

Cinta yang murni dan polos.

Perutku mual. Bukan karena kehamilan, tetapi karena jijik.

Leo menyadari keberadaanku. Dia berbalik dan melihatku berdiri di pintu klinik.

Alisnya langsung mengernyit.

"Jeny, ngapain kamu di sini?" Suaranya rendah, mengandung peringatan dan ketidakpercayaan. "Aku sudah bilang akan mengurus ini. Jangan bikin ribut."

Buat keributan?

Dia khawatir aku akan membuat keributan?

Via bersembunyi di balik Leo, tapi matanya mengintip ke arahku dari balik bahunya.

Dan di sana, aku melihatnya. Bukan ketakutan, bukan rasa ingin tahu. Namun, itu adalah kepuasan angkuh dari seorang pemenang yang mengamati orang yang dikalahkan.

Aku berjalan perlahan ke arah mereka.

"Kamu terlihat luar biasa sehat untuk seseorang yang baru saja mencoba bunuh diri," kataku pada Via, suaraku dipenuhi kemanisan yang berlebihan. "Selamat ya."

Via langsung mundur, berpura-pura takut. "Maaf… aku nggak bermaksud… aku cuma… "

"Cukup," kata Leo yang melangkah ke depan gadis itu. "Jeny, kamu tahu kondisinya. Jangan lakukan ini padanya."

Aku berhenti hanya tiga langkah dari mereka.

"Kondisinya?" Rasa mual menghantamku, air mata mengalir dari mataku. "Leo, yang ingin kutahu, saat kamu bersamaku tadi malam, kamu lagi mikirin dia?"

Wajah Leo memerah. "Jeny!"

"Aku ingin tahu, saat bibirmu menempel pada bibirku tadi malam, itu cuma latihan untuknya?"

"Diam!" Leo melangkah maju. "Kamu sudah gila?!"

Aku menatap Via.

Sekilas kilatan kemenangan melintas di matanya sebelum dia menutupinya dengan ketakutan.

Sungguh aktris ulung.

Jariku bergerak ke bagian dada gaun pengantin rusakku. Dengan gerakan pelan yang disengaja, aku membuka kancing depannya, memperlihatkan kulit di atas jantungku.

Ada tato di sana…

Yaitu sebuah mawar hitam.

Tanda Keluarga Moro.

"Jeny, mau ngapain kamu?" Leo memperhatikanku dengan waspada.

Dari sarung tersembunyi yang terikat di pahaku, di balik lapisan sutra dan renda, aku mengeluarkan pisau kecil yang tampak menyeramkan.

Itu hadiah ulang tahunku yang ke-16 tahun dari ayahku, namaku terukir di gagang peraknya.

"Tanda ini..." kataku sambil menekan ujung pisau tajam itu ke kulitku, tepat di atas mawar. "Artinya aku milik Keluarga Moro, aku milikmu." Bisikanku beracun. "Dan aku nggak bisa menoleransi pengkhianat."

"Jeny, jangan!" Leo menerjang ke arahku.

Terlambat.

Aku menekan pisau itu ke bawah dengan kuat.

Sebuah garis api dan darah membelah tinta, menghancurkan mawar itu.

Dagingku robek, tapi aku tidak merasakan sakit.

Via menjerit sembari menutup matanya.

Leo terpaku, menatap darah yang mengalir di dadaku. "Jeny… kamu… "

"Tanda ini bukan milik Keluarga Moro lagi," kataku sambil mengusap darah dengan sapu tangan. "Sama sepertiku."

Aku berbalik dan berjalan ke mobilku.

Sopirku, Toni sudah menunggu.

"Nona, kamu berdarah," kata Toni dengan suara menegang.

"Telepon Ayah," perintahku sambil duduk di kursi belakang. "Bilang padanya aku sudah selesai. Aku mau semua barangku keluar dari apartemen itu malam ini."

Mobil mulai melaju.

Dari kaca spion, kulihat Leo masih berdiri di sana sembari menatap kepergianku.

Satu jam kemudian, aku berdiri di apartemen mewah yang kutinggali bersama Leo.

Tiga tahun kenangan ada di tempat ini.

Sejak pertunangan kami hingga sekarang, kami menghabiskan banyak malam di sini.

Anak buahku sudah mengemasi barang.

Pakaian, perhiasan, dokumen, dan foto-foto.

Pintu lift terbuka.

Leo keluar.

Via berada tepat di belakangnya, matanya merah bengkak karena menangis.

"Jeny, kamu nggak bisa melakukan ini," kata Leo, melihat kotak-kotak di mana-mana. "Ini rumah kita."

"Bukan," kataku membelakanginya. "Dulu ini rumah kita, sekarang rumahmu. Aku cuma menjaganya tetap hangat buat dia."

"Aku nggak akan biarkanmu pergi." Leo meraih lenganku.

Aku menghempaskan tangannya. "Kamu nggak punya pilihan."

Via memilih saat itu untuk bicara, suaranya lemah menyedihkan. "Mungkin… mungkin aku sebaiknya pergi… "

"Nggak," kata Leo, langsung menoleh padanya, suaranya melunak. "Kamu bakal tinggal di sini di kamar tamu. Kamu bakal aman, aku akan melindungimu."

Aku membeku.

Leo akan membawa Via tinggal di rumah kami?

"Leo." Suaraku tenang, seperti badai sunyi yang membuat udara di ruangan bergetar. "Bilang apa kamu barusan?"

"Dia butuh tempat aman," jawab Leo sembari menatapku. "Tempat ini punya keamanan terbaik."

Via berjalan ke sofa, lalu duduk dengan hati-hati.

Dia tampak seperti sedang merebut takhtanya.

Pintu didorong terbuka.

Ayahku, Steve, masuk diiringi tiga orang kami.

"Sudah selesai berkemas?" tanyanya padaku.

"Hampir selesai," jawabku.

Steve menatap Leo, matanya menyala. "Leo, yang kamu lakukan hari ini termasuk penghinaan bagi putriku dan seluruh keluargaku."

"Pak Steve Arosa, aku bisa jelaskan… "

"Jelaskan apa?" kata ayahku sambil mendekat. "Jelaskan kenapa kamu meninggalkan putriku di pernikahan suci demi selamatkan orang asing?"

"Dia bukan orang asing. Dia… "

"Siapa dia?" suara Steve makin dingin. "Selingkuhanmu?"

"Bukan!" Leo membantah dengan keras. "Dia cuma… aku punya kewajiban melindunginya."

Tiba-tiba, Steve menarik pistolnya. Laras hitamnya diarahkan tepat ke kening Via.

"Ayah, jangan!" teriakku.

Via menjerit dan jatuh ke lantai.

Leo mencoba melindunginya, tapi dua orang ayahku menangkap Leo.

Sedangkan Leo, tanpa ragu sedikit pun bergerak untuk melindungi Via dengan tubuhnya sendiri.

"Di dunia kita, penghinaan itu harus dibalas." Suara Steve sedingin es. "Dan keberadaan gadis ini termasuk penghinaan pada garis keturunanku."

"Tolong… jangan… " Via terisak histeris.

"Lepaskan dia!" Leo berjuang. "Kalau kamu mau bunuh orang, bunuh saja aku!"

Aku menyaksikan semuanya, menyaksikan Leo siap mati demi Via.

Hanya satu pikiran tersisa di kepalaku.

Leo akan mati demi Via, tetapi tidak akan hidup demi aku.

Aku merebut pistol dari tangan ayahku.

"Jeny!" Semua orang berteriak.

Aku berbalik dan mengarahkan bidikan ke dinding di belakang bahu kiri Leo.

Dor!

Peluru itu menghancurkan vas porselen di meja belakangnya.

Pecahannya melesat seperti rudal, lalu menancap dalam di bahu Leo.

Dia menjerit sambil terhuyung ke belakang, darah mekar di atas putih kemejanya.

"Jeny!" Ibu Leo, Leah berteriak, menerobos masuk ke ruangan.

Leo tergeletak di lantai, menekan lukanya sambil menatapku.

Matanya penuh keterkejutan dan kebingungan.

Aku berjalan ke arahnya selangkah demi selangkah, dan mengeluarkan foto USG yang masih hangat dari tas.

Aku berlutut, menatap mata Leo saat Leo berdarah di lantai.

Lalu kuselipkan lembar kertas rapuh itu ke tangan Leo yang berlumur darah.

Leo berusaha duduk dan menatap gambar itu.

Cahaya menyala di matanya.

"Jeny… ini… "

"Jangan berpikir macam-macam," bisikku, bibirku menyentuh telinga Leo, napasku seperti bayangan di kulitnya.

"Bayi ini nggak akan pernah jadi bagian Keluarga Moro, nggak akan ada pernikahan, bukan untuk kita."

"Aku akan menghapusmu dari hidupku, aku bersumpah atas namaku."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B51088" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B51088
Salin

Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya