Bab 3

Nayla tertegun, jantungnya berdegup kencang.

Saat Simon menunduk hendak menciumnya lagi, tubuhnya tanpa sadar bergetar.

Menyadari reaksinya, gerakan Simon berhenti, mata dalamnya penuh dengan kendali diri.

"Kenapa, takut?"

Nayla masih belum sadar sepenuhnya.

Simon menggesek hidung Nayla dengan telunjuknya, lalu terkekeh, "Cuma bercanda, jangan dianggap serius."

Lalu, Nayla merasakan tubuhnya jadi ringan.

Simon sudah bangkit dari tubuhnya, berjalan ke kamar mandi untuk mandi.

Nayla akhirnya lega saat melihat punggung Simon. Dia menepuk dadanya pelan meski wajahnya masih panas.

Barusan dia kira akan terjadi "itu"...

Sebenarnya dia tidak terlalu konservatif, tapi bagaimanapun Simon adalah kakak kandung Hans.

Simon dulu selalu bersikap serius padanya, jelas cuma lebih tua beberapa tahun, tapi seperti kakek muda.

Perasaan ini sangat canggung.

Terutama tiga tahun lalu, dia dan Simon pernah mengalami hal yang memalukan itu...

Sudahlah.

Nayla menggeleng, tidak mau melanjutkan pikirannya.

Saat Simon selesai mandi, Nayla sudah menerima kenyataan tinggal bersamanya, lalu ikut mandi juga.

Mandi, perawatan kulit, dan losion tubuh menghabiskan satu setengah jam.

Dia kira Simon pasti sudah tidur.

Tidak disangka, saat pintu kamar mandi dibuka, suara menggoda Simon terdengar, "Kupikir kamu mau tinggal di dalam."

Mulutnya memang tetap setajam racun.

Nayla sudah terbiasa. Dia berdiri di ujung ranjang lalu bertanya dengan hati-hati, "Aku... tidur di mana?"

Simon mengangkat alis di wajah tampannya, "Nayla, bukankah buku nikah kita diurus secara sah?"

"Iya." Nayla sempat tidak paham.

"Jadi, kamu pernah lihat pasangan sah, pengantin baru tidur terpisah?"

Simon berhasil membuat Nayla terdiam.

Sudahlah.

Nayla menyerah untuk membantah.

"Sini."

Simon menepuk tempat di sampingnya.

Kali ini, Nayla menurut lalu berjalan mendekat.

Baru saja berbaring, telinganya mendengar suara menggoda Simon, "Istri Simon, ranjang sudah kusiapkan buat menghangatkanmu."

Nayla menoleh. Dia akhirnya tidak tahan saat melihat tatapan aneh Simon.

"Simon, kamu selalu membenciku, kali ini mendadak memaksaku menikah, lebih baik jujur, apa maumu?"

Simon tersenyum geli. "Kamu bilang aku benci kamu?"

"Memangnya nggak?" Nayla yakin dalam hati.

"Otakmu ini..."

Simon dengan nada magnetis yang panjang sambil tersenyum miring. "Memang nggak terlalu pintar."

Orang yang suka Hans bisa sepintar apa?

"Apa maksud..."

Belum sempat melanjutkan ucapannya, Nayla sudah dipeluk erat Simon, suara seraknya terdengar di atas kepalanya.

"Patuh saja, tidur dulu."

"Kamu dan aku sudah suami istri, nanti ada banyak waktu untuk saling mengenal."

Suaranya terdengar lelah dan napasnya makin dalam.

Nayla merasakan hangat tubuhnya saat dipeluk di dada pria itu. Nayla mendengar detak jantungnya dan mencium aromanya, membuat jantung Nayla berdetak makin cepat...

...

Pada saat yang sama.

Tengah malam, di ruang VIP karaoke.

Hans tampak gelisah dan semalaman terus melihat ponselnya.

Dulu kalau Nayla marah, paling lama setengah hari sudah akan mencari dia.

Hari ini soal gagal menikah, meski Nayla marah sampai bersumpah, biasanya dalam tiga jam, Nayla akan mencari Hans untuk minta maaf.

Namun, kini sudah larut, bahkan satu pesan pun tidak ada.

Sungguh makin berani dia.

"Kak, lagi nungguin telepon dari Kak Nayla?"

Karin duduk di sampingnya, wajah penuh rasa bersalah. "Gimana kalau kamu cari Kak Nayla saja? Dia pasti sangat marah sekarang."

"Semua ini salahku, aku nggak seharusnya kembali hari ini. Kalau nggak, pasti nggak akan ganggu kalian menikah, juga nggak buat Kak Nayla marah."

Karin sangat paham Hans yang selalu menjaga gengsi.

Makin dia bicara begitu, Hans akan makin marah.

Benar saja.

Hans menanggapi dengan santai, "Dia itu memang temperamennya macam putri, sebentar lagi pasti akan kembali sendiri, nggak usah dipedulikan."

"Selain itu, Karin, ini bukan salahmu. Menikah bisa kapan saja. Kamu sudah lama di luar negeri dan baru balik, tentu aku harus menyambutmu."

Setelah Hans bicara, teman-temannya ikut menyahut.

"Benar Karin, tiga tahun ini kamu nggak ada, Tuan Muda Hans sangat merindukanmu."

"Kalau bukan karena Nayla, tiga tahun lalu kamu juga nggak akan ke luar negeri."

"Nayla itu terlalu kekanak-kanakan, marahnya nggak pada tempatnya. Tuan Muda Hans, kali ini kamu harus benaran memberinya pelajaran."

Hans dengan wajah dingin mendengkus, "Kalau kali ini dia nggak minta maaf baik-baik pada Karin, aku nggak akan balikan dengannya."

Karin langsung tersenyum bahagia. Dia merangkul lengan Hans dengan manja dan bersandar padanya.

"Makasih Kak, kamu nggak tahu betapa aku takut kembali kali ini. Kalau Kak Nayla marah, mungkin aku harus pergi lagi."

"Nggak mungkin, kali ini aku nggak akan biarkan dia menang. Kamu tinggal saja di Hanka, aku akan melindungimu." Hans berjanji sambil membalikkan ponselnya.

Senyum di wajah Karin makin lebar, "Kak, kamu benaran baik, di keluarga ini cuma kamu yang paling sayang padaku."

Jauh lebih baik daripada kakak pertama.

Kakak pertama, Simon, selalu memasang wajah masam padanya, seolah dia adalah musuh Simon.

...

Nayla yang berada di vila sedang mendengarkan napas tenang Simon, kemudian akhirnya ikut tertidur.

Tidur kali ini lebih nyenyak dari sebelumnya.

Keesokan paginya.

Nayla membuka mata, langsung bertemu dengan sepasang mata yang dalam dan indah.

Pemilik mata itu, Simon, juga sedang menatapnya dengan lembut. "Istrinya Simon, tidurmu semalam nyenyak?"

Nayla mengangguk. "Cukup nyenyak."

Setelah tidur bersama semalaman, ternyata tidak terlalu canggung.

Simon tersenyum samar. "Kayaknya aku sebagai suami masih cukup membuatmu puas."

Nayla mengernyit.

Apa hubungannya dengan itu?

Saat itu Simon sudah turun dari ranjang, dia berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Ada rapat pagi, aku nggak bisa sarapan denganmu."

Nayla cuma menggumam setuju.

Sesuatu yang tidak didapatnya selama 7 tahun pacaran dengan Hans, dia juga tidak berharap dari Simon.

Apalagi, ini pernikahan kilat.

...

Saat Simon keluar dari ruang ganti, dia sudah mengenakan jas rapi.

Nayla yang sedang pakai perawatan kulit di meja rias, melihat bayangan Simon lewat cermin.

Jas gelap itu menonjolkan auranya yang elegan, alisnya tegas, dengan aura kuat yang menyelimuti, melangkah mendekatinya.

"Beli saja lebih banyak yang kamu suka, barang-barang di sana nggak perlu lagi." Simon berhenti di sampingnya, meletakkan kartu hitam di meja rias. "Nyonya Simon."

Nayla mendongak untuk menatap Simon.

Penampilan Simon yang murni dan terhormat membuat Nayla mengira sosoknya yang sinis dan penuh aura jahat semalam hanyalah ilusi.

"Siap." Nayla menerima kartu itu dengan tenang, berarti juga menerima identitas sebagai Nyonya Simon.

Bagaimanapun juga, menikah dengan salah satu dari dua bersaudara itu, tetap akan dipanggil Nyonya.

Bedanya, mantan pacar kini berubah menjadi adik ipar.

Hm, bisa berada satu tingkat lebih tinggi dari Hans, rasanya lumayan juga.

Simon yang melihat Nayla melamun pun tiba-tiba menunduk, bibir hangatnya mendekat di telinga Nayla. "Nyonya Simon, semoga kamu cepat terbiasa dengan identitas ini. Hubungan suami istri yang kuinginkan itu bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan."

Wajah Nayla langsung merona hingga ke telinganya…

Bab 4

Untungnya suara dering ponsel berbunyi, menyelamatkan Nayla dari situasi canggung.

"Halo?"

Jantung Nayla berdegup makin kencang, jadi dia buru-buru mengangkat panggilan.

Dari seberang terdengar suara menggoda sahabat sekaligus super model Amanda, "Gimana, Nona Nayla, kemarin sudah urus surat nikah, apa malamnya nggak sabar langsung malam pertama?

Suara dari gagang telepon cukup keras.

Nayla teringat Simon masih ada, jadi buru-buru menoleh. Untung Simon sudah berjalan ke pintu dan keluar.

"Surat nikah sudah diurus."

Nayla lega. "Belum ada malam pertama."

"Setelah pacaran selama 5 tahun, paling banter cuma kayak anak ayam ciuman, bahkan nggak pernah benaran menyentuh…"

Amanda menjerit, "Jangan-jangan malam setelah urus surat nikah baru ketahuan suamimu tidak bisa menghamili?"

Amanda terlalu bersemangat hingga suaranya makin keras.

Kebetulan Simon membuka pintu masuk, dan samar-samar mendengar kalimat terakhir, "Suamimu tidak bisa…"

Seketika ekor matanya terangkat untuk melirik Nayla.

Dia tidak bisa menghamili?

Nayla yang mendengar suara itu menoleh ke pintu. Saat melihat Simon, napasnya langsung terhenti.

Amanda tidak sadar suasana di sini, dia masih memberi saran, "Nggak bisa begitu, harus cepat ke rumah sakit periksa."

"Kalau nggak bisa sembuh, kamu harus pikir baik-baik, bisa terima cinta yang hanya bersifat emosional, nggak?"

Kepala Nayla panas, lalu buru-buru memutus telepon.

Ujung bibirnya kaku. "Kok kamu balik lagi?"

"Ambil jam."

Simon segera mengambil sebuah jam mekanik dari ruang pakaian, sambil memakainya, dia berjalan ke arah Nayla.

Setelah terpasang, lengannya terjulur melewati depan Nayla hingga hampir mengurungnya di dadanya.

Simon menunduk, wajahnya mendekat, napas hangat terembus. "Bisa atau nggak, nanti malam coba saja, kamu pasti tahu."

Tubuh Nayla menegang kaku, dia dengan tidak wajar berkedip dua kali. "Bukan aku yang bilang."

Sudut bibir Simon terangkat. "Nyonya Simon, tunggu aku pulang, kita coba bisa atau nggak?"

Tanpa memberi Nayla kesempatan menjelaskan, Simon melangkah keluar kamar dengan kaki panjangnya.

Nayla menghela napas, lalu menelepon Amanda, "Kamu salah paham."

"Salah paham apa?"

"Kamu barusan tutup teleponku, marah ya?"

"Cuma karena aku bilang Hans nggak bisa?"

Amanda seperti bendungan jebol, pertanyaan dan keluhan meluap keluar.

Nayla menarik napas dalam. "Bukan Hans, tapi Simon."

Takut disalahpahami lagi, dia pun menambahkan, "Kemarin, yang nikah denganku itu Simon…"

"Apa?" Amanda terkejut.

Sepuluh menit kemudian…

Setelah mendengar penuturan Nayla, Amanda memaki Hans dan Karin habis-habisan.

Makian itu kasar sekali.

Setelah melampiaskan amarah, Amanda merasa lega, lalu menghiburnya, "Memang harus gitu, biar dia menyesal, gagal jadi suami, jadikan saja adik ipar."

"Nayla, kali ini seleramu meningkat pesat, Simon itu CEO Grup Jatmiko, tampan, kaya tanpa skandal, jauh lebih baik dari Hans, cuma saja…"

"Dia menikahimu cuma supaya nggak dipaksa menikah dan merasa kamu cocok. Kalian tanpa dasar perasaan, dulu juga nggak akur, apa bakal..."

Meski kalimat itu tidak selesai, Nayla paham maksudnya.

"Nggak apa-apa, saling ambil untung saja." Nayla menunduk.

Kemarin surat nikah diurus karena emosi, hari ini dia sudah berpikir jernih.

Yang penting sudah memenuhi wasiat ayahnya, soal bercerai atau tidak sudah tidak penting.

"Oke, kalau begitu, aku kirim kamu hadiah pernikahan, tunggu saja."

"Hadiah apa?" tanya Nayla.

Amanda tidak menjawab karena didesak syuting iklan, lalu dengan tegas menutup telepon.

Nayla pun terdiam.

Amanda memang orang super sibuk.

...

Kantor pusat Grup Jatmiko.

Kantor CEO di lantai teratas.

Setelah rapat, Simon duduk di meja kerjanya. Duduknya tegak, setelan gelapnya menonjolkan wibawa anggun dan tekanan aura.

Tanpa mengangkat kepala, dia memerintahkan asistennya, Ben, "Pilihkan aku sepasang cincin kawin, juga siapkan kontrak pemberian saham."

Ben mengangguk hormat. "Baik, Pak."

Dia tidak segera pergi, membuat Simon menatap sekilas. "Ada apa lagi?"

Ben pun berucap, "Pak Markus tahu kamu sudah pulang, jadi meneleponku buat minta kamu malam ini pulang ke rumah lama untuk makan malam."

Tatapan Simon meredup. "Pergilah, aku yang urus."

Ben pun keluar kantor.

Simon menelepon balik. Belum sempat bicara, dari seberang terdengar bentakan, "Makin hebat kamu, pulang ke Hanka nggak bilang padaku, orangnya juga nggak ketemu! Sekarang aku mau ketemu pun harus buat janji dulu?"

"Kakek jangan marah, semalam jet lag, belum sempat kasih kabar." Jari panjang Simon dengan tulang sendi jelas mengetuk meja ringan.

Pak Markus mendengkus berat, "Jangan bantah, tiga tahun ini sudah sering kukatakan."

"Kalau kembali ke Hanka, harus segera menemukan pasangan, menikah, punya anak…"

"Jangan sampai lupa!"

Pengingat dari Kakek membuat Simon teringat sesuatu, seberkas cahaya lembut melintas di matanya.

"Kakek tenang saja, aku ingat jelas."

Bibir tipisnya terangkat setengah senyum. "Pasti kubuat Kakek puas."

...

Hans akhirnya terbangun dari mabuk.

Dengan mata setengah terbuka, tangannya meraba-raba kasur. Akhirnya dia menemukan ponsel di bawah bantal.

Waktu yang tampak di layar sudah sore, membuat kantuknya hilang hingga dia bangun terduduk.

Pagi ada rapat, Nayla ternyata tidak menelepon untuk mengingatkannya.

Saat ini asistennya buru-buru masuk, melihat dia sudah bangun duduk di tempat tidur, asisten itu menunduk. "Pak Hans…"

"Kenapa baru datang?" tegur Hans. Ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab yang semua dari asistennya.

"Aku kira Anda ada urusan penting, jadi nggak berani ganggu." Asisten menjelaskan, dia sebenarnya datang untuk memberi tahu kalau Simon sudah pulang.

Namun, sebelum sempat bicara, Hans dingin bertanya, "Nayla mana?"

Asisten tertegun, lalu menggeleng.

Bagaimana dia bisa tahu?

Lima tahun ini, urusan rapat penting selalu Nayla yang langsung mengingatkan CEO ini, tanpa perlu sang asisten khawatir.

Hal ini sudah jadi kebiasaan bagi Hans.

Tidak peduli kapan pun.

Bahkan saat Nayla sakit, Nayla selalu menelepon satu jam lebih awal untuk membangunkan Hans.

Dalam hal kecil ini, Nayla tidak pernah mengecewakan Hans.

Kali ini, cuma karena masalah mengurus surat nikah, Nayla malah sengaja bersikap dingin padanya.

Tampaknya selama ini Hans terlalu memanjakannya.

Dengan wajah muram, Hans menelepon Nayla.

Namun baru sekali berdering, panggilan otomatis terputus.

Dia coba lagi, hasilnya sama.

Itu artinya nomor dia sudah diblokir!

Wajah Hans makin gelap.

Dia kirim pesan WA, tapi tidak terkirim, hanya muncul centang satu...

Bagus!

Bagus sekali!

Mata Hans dipenuhi amarah dingin. Kali ini dia tidak akan memanjakan Nayla lagi. Kalau ingin balikan, harus hapus dulu sifat sok jadi putri itu.

...

Matahari mulai terbenam di barat.

Vila Casaya Bay.

Nayla yang berada di tempat tidur sedang duduk bersila di jendela menjorok, laptop di pangkuan, jari-jarinya mengetik cepat di keyboard.

Seharian dia tidak pergi ke mana pun, di rumah memikirkan naskah.

Sebagai penulis skenario, naskahnya pernah difilmkan jadi drama online dua kali dengan jumlah tayangan menengah.

Bukan drama hit, tetapi juga tidak gagal total.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia melirik nomor penelepon, lalu menjawab manis, "Kakek."

"Nak, sudah lama nggak jenguk Kakek. Kemarin sudah urus surat nikah, ya? Cari waktu buat jenguk Kakek, ajak Hans juga…"

Nayla terdiam beberapa detik, lalu berkata jujur, "Kakek, aku sudah putus sama Hans."

Dari seberang terdengar tawa, jelas Pak Dio sudah terbiasa. "Kenapa? Dia bikin ulah lagi, bikin kamu marah, ya?"

Sikap Kakek tiba-tiba membuat Nayla teringat masa lalu, hatinya terasa getir.

"Kakek, kali ini benaran," ucap Nayla dengan getir.

Setelah terdiam sejenak, Nayla melanjutkan, "Aku sudah putus dengan Hans, terus nikah sama Simon."

Simon yang ada di luar kamar mendengar kata-kata Nayla, tangannya terhenti di udara, sorot matanya dalam.

Bab 5

Ucapan Nayla membuat Pak Dio tidak percaya. Setelah memastikan lagi dan lagi, dia tertawa lebih lepas dari sebelumnya.

"Bagus, bagus sudah nikah. Kapan-kapan kamu bawa dia ke sini untuk makan malam bersama Kakek ya."

Nayla dengan patuh menjawab, "Baik, Kakek."

Setelah menutup telepon, pintu kamar tidur terbuka.

Simon memasuki kamar, melangkah lebar dengan kakinya yang panjang menghampirinya.

Sikapnya terhormat dan anggun, dengan alis yang tajam dan mata yang berkilau seperti bintang, dia terlihat sangat tampan.

Napas Nayla tercekat, dia mendongak menatap Simon. "Kamu sudah pulang?"

Simon berdeham, suaranya serak. "Sebagai pengantin baru, aku kembali untuk menemanimu makan."

Hati Nayla tiba-tiba merasa hangat. "Makasih."

Dulu saat pacaran dengan Hans, dia bisa membuat Nayla menunggu sia-sia selama berjam-jam di restoran.

Baru belakangan Nayla tahu kalau Hans dipanggil oleh Karin.

Karin bersin saja, Hans akan dengan cemas membawanya ke rumah sakit.

Nayla selalu menjadi orang yang ditinggalkannya.

Dia marah, tapi Hans malah menganggapnya berlebihan dan rewel.

Nayla menarik kembali pikirannya.

Dia menutup laptop, lalu meletakkannya di ambang jendela, dan berdiri sambil tersenyum tipis padanya. "Tapi kamu nggak perlu repot-repot pulang buat menemaniku, nggak apa-apa."

Pernikahan kilat ini memang berdasarkan kebutuhan masing-masing.

"Menemanimu sudah hal yang seharusnya."

Simon menatap Nayla, lalu berkata dengan lembut, "Aku sudah bilang, aku inginkan pernikahan di mana kita bisa hidup dan tidur bareng."

Hati Nayla dipenuhi kehangatan, tapi dia malah tidak terlalu memikirkannya.

Dia tahu bahwa Simon memang dewasa dan tenang, Simon tidak bersikap istimewa padanya. Jadi, dia mengangguk. "Oke, aku cuci tangan dulu, lalu menemanimu turun untuk makan."

Nayla berjalan menuju kamar mandi.

Simon mengawasinya, menatap punggungnya, tatapan matanya menjadi makin dalam.

...

Di ruang makan lantai satu, mereka duduk berhadapan di meja persegi, cahaya lembut menerangi mereka.

Pria tampan dan wanita cantik, itu adalah pemandangan yang sangat hangat.

Ada beberapa hidangan di meja makan, semuanya adalah makanan favorit Nayla.

Tidak disangka, selera mereka sama.

Nayla duduk tegak, makan dengan tenang.

Tiba-tiba...

Simon mengambil sepotong iga goreng dan meletakkannya di mangkuk Nayla. "Makanan favoritmu, makan yang banyak."

Nayla mengangkat kepala dengan bingung. "Gimana kamu tahu aku suka makan ini?"

"Kalau ingin tahu, bukan hal sulit."

Simon menatap Nayla dengan mata yang dalam, suaranya pelan dan seolah wajar. "Kita ini suami istri, aku akan berusaha untuk lebih mengenalmu."

Ucapan ini sukses membuat hidung Nayla terasa perih.

Jadi, kalau benaran ingin mengenal seseorang, ada banyak cara.

Hingga kini, Hans belum pernah mengingat apa yang Nayla suka makan dan minum.

Nayla alergi mangga.

Namun, Hans memesankan Nayla segelas manisan mangga.

Itu minuman favorit Karin.

"Simon..." Suara Nayla menjadi serak. Simon menjawab dengan lembut, "Aku di sini."

Nayla menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu memberanikan diri bertanya. "Kamu nggak benci aku? Kenapa tiba-tiba kamu begitu baik padaku?"

Membenci?

Ternyata Nayla berpikir begitu.

Intensitas di mata Simon perlahan menghilang, dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum misterius. "Suami bersikap baik pada istrinya, bukannya itu wajar?"

Nayla tidak mendapat jawaban, jadi dia memutuskan untuk berhenti bertanya. Namun, dia mendengar Simon berkata dengan tajam, "Lagian, kamu yang dulu terlalu bodoh, buat orang sebal."

Nayla hanya diam.

Seharusnya Nayla tidak bertanya.

Setelah itu, mereka menyelesaikan makan malam dengan tenang, tidak ada yang berbicara lagi.

Setelah selesai makan, Simon kembali ke ruang kerja.

Malam harinya, Nayla membawa cangkir termos berisi teh yang dibuat oleh Bibi Dila, lalu dia mengetuk pintu ruang kerja.

Mengenai urusan pulang menemui Kakek, dia ingin meminta pendapat Simon.

"Masuk." Suara Simon yang dalam terdengar dari dalam.

Nayla mendorong pintu, masuk, lalu meletakkan teh panas di sisi kanan meja kerjanya. "Minum tehnya."

"Baik."

Simon menyesapnya, lalu tiba-tiba mengangkat kelopak matanya. Sebuah senyuman menggoda muncul di matanya. "Teh murbei putih dan gugija. Apa Nyonya Simon kasih isyarat?"

Wajah Nayla merona, dia teringat masalah tidak bisa menghamili, dan buru-buru menjelaskan, "Bukan, ini dibuatkan Bibi Dila."

Begitu menjawab, dia menyesal lagi.

'Apa aku terlalu mengerti hal ini?'

Simon melihat rona merah di wajah Nayla, seperti kelinci kecil yang mudah terkejut, begitu menggemaskan sehingga Simon tidak tega untuk terus menggodanya.

Dia seolah berbelas kasih, tidak lagi melanjutkan topik itu.

Simon tiba-tiba berdiri. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Nayla, lalu dia memberi Nayla sebuah kotak beludru hitam.

"Untukmu."

"Ini?" Nayla bertanya dengan bingung, dia menerima kotak itu dan membukanya.

Nayla terkejut begitu melihat cincin pasangan di dalam kotak.

Suara Simon yang rendah dan magnetis terdengar, "Kemarin kita buru-buru daftarkan nikah, ini cincin lamaran pengganti."

"Kamu suka?"

Dia bertanya lagi dengan tatapan yang terlalu fokus.

Napas Nayla menjadi cepat. Meski ini pernikahan kilat, dia tidak bisa menahan perasaan diperhatikan seperti ini.

Dia mengangguk dengan kuat. "Suka."

Simon menarik tangan Nayla, mengeluarkan cincin berlian wanita dan memakainya di jari manis Nayla. Ucapannya sedikit dominan. "Pakai ini mulai sekarang."

Nayla menundukkan kepalanya. Dari dekat wajah Simon terlihat lebih tegas dan dalam. Nayla tanpa sadar menahan napas, jantungnya berdetak kencang.

Simon tidak mendengar jawaban Nayla untuk waktu yang lama, dia kira Nayla menolak, membuat matanya menjadi sedikit suram. "Nggak mau?"

Nayla dengan cepat menggelengkan kepala. "Bukan, aku mau."

Wajah Simon kembali rileks. Dia mengulurkan tangan kirinya, jari-jarinya panjang dan setiap buku jarinya terlihat jelas. "Kalau gitu, Nyonya Simon, tolong pakaikan cincinnya padaku."

Nayla merasa itu hal yang wajar. Dia dengan patuh mengambil cincin pria dan memasangkannya dengan lembut di tangannya.

Jari-jari Simon lembut dan halus. Sentuhan kulit jari Simon ke kulitnya membuat suasana menjadi intim.

Simon tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nayla, lalu menarik Nayla ke dalam pelukannya. Dia menundukkan kepalanya untuk menatap Nayla. "Sekarang, bukannya kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri?"

Ucapan Simon membuat jantung Nayla berdetak lebih cepat. Pikirannya kosong sesaat.

Setelah beberapa saat, dia baru bisa menemukan suaranya. "A-apa?"

Simon mengangkat tangan, ibu jarinya mengusap pipi Nayla yang lembut. Matanya bergelora panas. "Nyonya Simon, jangan-jangan kamu belum pernah coba hubungan intim?"

Dia menunduk untuk mencium Nayla. Namun, Nayla terlalu gugup hingga tubuhnya sedikit gemetar. Nayla secara naluriah mencondongkan wajah ke belakang.

Api di mata Simon perlahan mereda karena penolakan Nayla, kemudian melepaskan Nayla. "Nggak apa-apa, aku bakal kasih kamu waktu."

Nayla tertegun.

Apa maksudnya, Simon tidak akan menyentuh Nayla tanpa persetujuan Nayla?

Entah kenapa, Nayla merasa Simon yang dulu terlihat dingin dan tidak mudah didekati, sekarang malah memiliki kelembutan yang tidak bisa dijelaskan.

Nayla tidak bisa memahami kenapa. Dia merasa menyesal atas kejadian barusan, lalu menunduk. "Maaf, aku belum siap."

Sudut bibir Simon sedikit terangkat. Dia mengusap kepala Nayla dengan lembut. "Untuk hal sekecil ini juga minta maaf?"

"Aku sudah bilang akan kasih kamu waktu, tapi jangan biarkan aku menunggu terlalu lama."

Seketika, Nayla merasa dimanjakan. Ini adalah hal yang tidak pernah Nayla rasakan saat bersama Hans.

Setelah beberapa saat, Nayla mengangguk patuh dan berkata, "Baik". Tiba-tiba, Nayla teringat hal penting. "Oh ya, kakekku ingin bertemu denganmu, kamu bisa menemaniku pulang untuk bertemu dengannya?"

"Bisa, tapi..."

Mata Simon yang dalam, mencondongkan tubuh ke telinga Nayla, suaranya magnetis dan memesona. "Nyonya Simon, bisa cium dulu?"

Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya