Bab 1
Nayla menjalin cinta selama lima tahun dan penuh gairah. Seluruh lingkaran elit Kota Hanka mengetahuinya, tetapi pada hari pengurusan surat nikah, dia malah dicampakkan.
Dia langsung bersumpah untuk putus dan menjadikan tunangannya sebagai mantan pacar.
Namun, karena sebuah telepon dari seseorang, Nayla yang diliputi amarah malah mengurus surat nikah dengan Simon, kakak kandung dari mantan pacarnya yang selalu memiliki hubungan dingin dengannya.
...
Simon terkenal sebagai pewaris keluarga terkaya di Kota Hanka, juga mendirikan kerajaan finansial di luar negeri, seorang raksasa keuangan yang ditakuti banyak orang.
Setelah menikah, dia sangat memanjakan Nayla dengan selalu menuruti segalanya.
Nayla dihina oleh mantan pacarnya dengan mengatainya tidak berguna sama sekali.
Simon langsung melayangkan pukulan hingga lawan jatuh, lalu berkata, "Istriku ini mutiara di telapak tanganku, harta di hatiku. Bagaimanapun dia, aku tetap akan memanjakannya. Kalau berani menghinanya lagi, enyah kamu dari silsilah Keluarga Jatmiko!"
Bertahun-tahun kemudian, Nayla baru tahu bahwa pria yang dulu dia takuti ini sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun, sebuah rencana cinta yang sudah lama dipendam...
"Kamu ini, Tuan Muda Hans, hari ini 'kan hari kamu dan Nayla daftarkan pernikahan. Kamu nggak ke sana, nggak takut dia marah?"
"Siapa sih yang nggak tahu Nayla itu lengket kayak plester? Meski tahu kamu nggak pergi demi Karin, dia juga nggak bakal berani marah."
"Benar, mana mungkin Nayla lebih penting dari Karin, Tuan Muda Hans dari kecil sayang sama Karin…"
...
Karin yang mereka bicarakan bernama Karin Jatmiko, "adik angkat" Hans Jatmiko.
Nayla Tanu sedang berdiri di pintu ruang VIP hotel, darahnya terasa membeku.
Inilah pria yang dia cintai bertahun-tahun, sehebat ini kebejatannya.
Dia mengepalkan tangan hingga ujung jarinya menekan dalam ke telapak tangannya.
Namun, rasa sakit fisik tidak sebanding dengan luka batin.
Dia menarik napas panjang, lalu mendorong pintu.
Duk!
Ruang yang riuh seketika sunyi.
"Nayla…" Semua orang terkejut.
Di pintu berdiri wanita berkulit putih, cantik, berkaki jenjang. Gaun merah mudanya membentuk lekuk pinggang sempurna, dengan rambut setengah diikat gaya Korea yang menonjolkan cantik memukau.
Namun, tatapannya dingin saat menatap Hans dan Karin, lalu mengejek, "Hans, jadi ini alasanmu nggak datang ke dukcapil?"
Wajah tampan Hans sempat berkedip gugup, lalu dia mendekat. "Kapan pun kita bisa daftar. Jarang-jarang Karin pulang, sebagai kakak keduanya, wajar aku menyambutnya."
Nayla menyindir, "Setahun cuma ada satu hari jadi, itu juga nggak penting?"
"Apa kamu nggak tahu, kalau nggak daftar sekarang harus tunggu tahun depan?"
Ini adalah kesepakatan mereka berdua.
Dari hari jadi pacaran diganti jadi hari jadi pernikahan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Namun, jelas Hans tidak mau menikah dengannya.
Yang benaran ingin Hans nikahi adalah Karin.
Kekasih masa kecilnya!
Mungkin merasa situasi gawat, Hans pun hendak menariknya. "Jangan ribut, nanti kujelaskan."
Nayla menepis Hans.
Pada saat ini...
Karin bicara, "Nayla, maaf, ini salahku, aku nggak tahu kalian bakal daftarkan pernikahan hari ini."
Dia menunduk minta maaf, tampak tersudut seolah-olah dirinya adalah korban.
Nayla tidak menanggapi karena memang selalu muak padanya.
Karin mengangkat kepala dengan mata berkaca-kaca. "Nayla, maafkan aku, aku tulus merestui kamu dan Kak Hans."
Restu?
"Bisa berhenti pura-pura? Kalau sungguh merestui, kamu nggak akan balik," sindir Nayla.
Wajah Hans menggelap. "Nayla, jangan sekasar itu."
"Kenapa? Tersinggung begitu aku mengatai si kesayanganmu?" Tatapan Nayla sedingin menatap orang asing.
Ekspresi Hans makin buruk, "Nayla, kalau ngomong itu kan harus tahu situasi, jangan asal ngomong!"
Tuh, 'kan?
Begitu membela adik kesayangannya.
Karena Hans sebegitu membelanya, maka Nayla akan merestui mereka, "Sudah terlanjur dilakukan, kenapa takut digosipi orang?"
Karin pun berkaca-kaca. "Nayla, aku dan Kak Hans nggak kayak yang kamu pikir. Bisa nggak kamu jangan salah paham kayak dulu?"
"Kalau tahu kepulanganku kali ini bakal bikin kalian bertengkar, aku nggak bakal pulang."
Suaranya bergetar hendak menangis, penampilannya juga tampak menyayat hati.
Orang-orang tidak tahan melihat Karin "terluka", lalu menyerang Nayla.
"Nayla, tindakanmu ini salah. Tuan Muda Hans dan Karin itu kakak-adik, masa kamu juga cemburu?"
"Benar. Tiga tahun ini karena kamu nggak terima Karin, dia sampai ke luar negeri demi kalian. Mau pakai trik lama lagi?"
"Awas mainnya kebablasan, nanti Tuan Muda Hans buang kamu!"
...
Nayla menatap dingin pada mereka yang tampak marah, dengan sikap tetap sangat tenang.
Dulu karena Hans, dia sangat menahan diri pada "teman-teman" ini.
Dia pura-pura tidak dengar saat mereka membicarakannya di belakang dengan Hans.
Namun kali ini, jangan harap.
Tatapan Nayla setajam pisau. "Seorang adik tiap hari menempel pada kakaknya, itu masih bisa dibenarkan?"
"Otak kalian rusak atau memang suka lihat cinta terlarang? Aku nggak keberatan mundur, biar mereka 'main’ di depan kalian."
Semua terperangah.
Mereka tidak menyangka Nayla yang biasanya penurut bisa setajam ini.
Ucapannya terlalu pedas.
"Nayla, kenapa kamu menghinaku?"
Karin hampir menangis dengan mata memerah. "Kamu nggak suka aku ya sudah, tapi Kak Hans sangat sayang sama kamu, sudah banyak berkorban, kenapa kamu masih nggak puas?"
Nayla mengernyit kuat.
Orang lain mungkin tidak tahu, tapi dia paham betapa lihainya Karin berpura-pura.
Hans dan Nayla saling kenal selama 10 tahun, lalu pacaran selama 5 tahun.
Tahun pertama, di ulang tahun Nayla, cuma karena telepon Karin, Hans langsung pergi, katanya kecelakaan.
Valentine kedua, Karin putus cinta, menelepon sambil menangis katanya mau bunuh diri.
Ketiga kali, keempat kali…
Karin selalu punya seribu alasan memanggil Hans. Setiap kali, Hans memilih meninggalkan Nayla.
Hingga tiga tahun lalu, Karin tiba-tiba mengajukan diri pergi ke luar negeri.
Hans dan teman-temannya beranggapan bahwa Nayla yang memaksanya.
Dengan tatapan dingin dan sinis, Nayla menatap Karin. "Hubungan kakak-adik yang normal bakal mengorbankan urusan daftar nikah sepenting ini?"
"Jelas-jelas yang satu murahan, satu genit, sekarang malah balik menyalahkanku dan menyuruhku berbesar hati? Atas dasar apa?"
"Atas dasar nggak tahu malu kalian?"
Wajah Karin memerah menahan malu. Dia tidak bisa membalas, cuma menangis dengan tetesan air mata bak untaian mutiara putus.
Hans yang tidak tahan pun membentak Nayla dengan wajah marah, "Nayla, cukup! Kamu nggak merasa konyol?"
"Cuma daftar nikah. Kalau nggak bisa di hari jadi, ganti ke ulang tahunmu. Apa susahnya, sih? Kenapa nggak bisa lebih bermurah hati?"
Murah hati?
Bisa, tentu dia bisa.
Hati Nayla sedingin air mati. "Hans, kita putus."
Semua terkejut.
Hans terpaku beberapa detik, lalu dengan raut suram berucap, "Putus lagi? Tiga tahun lalu juga karena kamu bilang putus, Karin takut kita pisah makanya ke luar negeri. Kamu belum puas, mau usir dia lagi?"
"Nayla, licik banget kamu. Aku sudah setuju daftar nikah, kamu masih juga nggak bisa terima Karin? Kamu mau memaksanya sampai mati? Kalau kamu tetap sejahat ini, aku nggak akan mau daftar nikah!"
Karin menikmati rasanya dibela. Dia menunduk sambil menyembunyikan kilat puas.
Nayla yang mendengar ucapan Hans pun tersenyum bak mawar mekar. "Oke, nggak usah daftarkan nikah. Pernikahan ini batal."
Usai bicara demikian, Nayla pun berbalik pergi.
Hans menatap punggung Nayla sambil mengancam, "Nayla! Kalau hari ini kamu berani keluar tanpa minta maaf ke Karin, aku nggak akan memaafkanmu!"
Semua bertaruh Nayla pasti melunak, lalu minta maaf.
Toh dia sangat mencintai Hans.
Benaran sesuai dugaan.
Nayla berhenti, menoleh untuk menatap mereka, lalu bersumpah, "Kebetulan kalian semua ada. Dengar baik-baik, aku, Nayla Tanu bersumpah. Mulai hari ini aku putus dengan Hans, nggak mungkin nikah sama dia. Kalau kulanggar, biar dia seumur hidup nggak berketurunan dan mati mengenaskan!"
Setelah melempar sumpah pedas, Nayla mengabaikan semua yang ternganga dan pergi dengan tegas.
Entah bagaimana Nayla naik taksi online, lalu memblokir semua kontak terkait Hans.
Sampai dering ponsel menariknya kembali dari lamunan.
Dia melirik nomor yang asing namun familier, yang membuat detak jantungnya seolah berhenti sejenak.
Panggilan tersambung, suara pria yang berat dan merdu terdengar, "Mau nikah? Kenapa nggak pertimbangkan aku saja?"
Bab 2
Suara bercanda masuk ke telinga Nayla, baru setelah beberapa saat dia tersadar, "Kak Simon, adikmu baru saja mempermainkanku, sekarang giliranmu juga, begitu?"
Orang di ujung telepon adalah Simon Jatmiko, kakak kandung Hans.
Saat Nayla baru bersama Hans, Simon tidak pernah bersikap ramah padanya.
"Sudah sekali ditinggalkan, masih takut yang kedua?" Suara Simon penuh ejekan. "Ini nggak kayak sifatmu yang dulu selalu besar kepala."
Nayla punya temperamen keras, jadi tidak tahan dipancing.
Dia berkata dengan kesal, "Ayo pergi, siapa takut. Tapi meski aku ikut kamu, dukcapil sekarang juga sudah tutup."
Simon menjawab dengan nada datar, "Hal beginian nggak usah kamu khawatirkan."
Dua puluh menit kemudian.
Nayla kembali tiba di depan dukcapil. Sosok tinggi Simon pun muncul di hadapannya. Wajahnya luar biasa tampan, begitu memukau hingga sulit diungkapkan.
Terutama aura kuat dari tubuhnya, penuh tekanan.
Hans memang sudah termasuk tampan, tapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan Simon.
"Benaran berani datang?" Ujung bibir Simon terangkat, matanya penuh dengan sedikit aura jahat.
Saat berhadapan dengannya, Nayla tidak lagi seenaknya seperti saat menelepon, wajar jika terlihat sedikit lemah.
"Datang juga percuma, pintu dukcapil sudah hampir tutup."
Simon mengangkat alis, menatap pintu di belakangnya, suaranya dalam, "Benar mau nikah denganku? Sudah pikirkan baik-baik?"
Nayla tidak mau kalah. "Kalau kamu saja nggak takut, apa yang perlu aku takutkan?"
Menurutnya, kalaupun ada yang harus takut, seharusnya itu Simon.
Bagaimanapun, dia dan Hans adalah kakak-adik kandung.
"Berani juga kamu."
Di mata Simon terlihat sekilas rasa kagum yang sulit ditangkap, lalu dia menggenggam pergelangan tangan Nayla dan menariknya masuk.
Nayla terkejut, benaran ... benaran masuk?
Dia tiba-tiba berhenti yang membuat Simon menoleh sambil mengangkat alis. "Kenapa? Takut?"
Nayla ragu sejenak. "Kok kamu mau menikah denganku?"
Padahal jelas, Simon tidak menyukainya.
Simon terkekeh sinis. "Gimanapun juga harus menikah, 'kan? Daripada buang waktu cari orang lain, lebih baik pilih yang disukai keluarga."
Nayla pun tidak bertanya lagi.
Mungkin karena kedua keluarga memang sudah bersahabat lama.
Orang tua Keluarga Jatmiko, bahkan kakek Keluarga Jatmiko, sangat menyukai Nayla.
Jadi, tindakan Simon ini masih bisa dianggap wajar.
...
Tidak sampai sepuluh menit.
Keduanya keluar dari dukcapil dengan masing-masing memegang buku nikah.
Nayla tampak melamun menatap akta nikah, kemudian suara dingin Simon terdengar, "Menyesal pun percuma, meski sekarang masuk buat urus cerai, tetap harus menunggu beberapa waktu sampai proses selesai."
Sial!
Baru saja menikah sudah bicara cerai, siapa yang mau cerai!
Nayla memutar bola mata, tapi suaranya sopan, "Kak Simon jangan sampai menyesal saja sudah cukup."
Saat dia berjalan turun tangga, Simon tiba-tiba mengulurkan tangan dan menariknya ke dalam pelukan.
Nayla menempel erat di dadanya, meski tinggi badan Nayla 167 cm, tetap jauh lebih pendek dari Simon.
Aroma cedar yang harum dari tubuh Simon memenuhi hidung Nayla, membuat detak jantung Nayla tiba-tiba mengencang.
Wajahnya pun merona.
"Mau ke mana?" Suara magnetis Simon terdengar di atas kepalanya.
Nayla butuh waktu lama untuk menenangkan diri, lalu berkata, "Ya pulang."
"Baru menikah, sudah mau berpisah dengan suami?"
Simon menunduk menatap Nayla, melihat bulu mata hitam Nayla yang bergetar, wajah putihnya merona merah muda, penampilan polos namun menggoda, dipadu dengan aura dingin yang memikat.
"... Aku lupa."
Nayla mendongak, bertemu tatapan mata Simon tanpa menyadari kedalaman gelap di matanya.
Simon tanpa ekspresi mengalihkan pandangan, lalu melepaskannya. "Ikut aku."
Setelah berkata demikian, dia berjalan turun lebih dulu, Nayla tanpa banyak pikir pun mengikutinya.
Bagaimanapun, mereka sudah pasangan sah, masa pria itu bisa menjualnya begitu saja?
Lagi pula, membuat mantan pacar jadi adik ipar, dipikir saja sudah terasa lega.
...
Terletak di Casaya Bay, sebuah rumah mewah di setengah bukit yang setiap jengkal tanahnya mahal, desainnya tampak sederhana tapi penuh kemewahan.
Nayla berdiri di tengah ruang tamu, menatap Simon dengan bingung.
"Ini apa?"
Simon menjawab singkat, "Rumah pernikahan, mulai sekarang kamu tinggal di sini."
"Lalu kamu?" Nayla hampir spontan bertanya.
Simon mengangkat alis, tatapannya dingin. "Terlalu kaget sampai jadi bodoh? Arti rumah pernikahan saja nggak paham?"
Maksudnya jelas, tentu saja Simon juga tinggal di sini.
Nayla tersenyum canggung, dalam hati menggerutu bahwa Simon memang selalu berlidah tajam.
Sama seperti sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu, ucapan Simon selalu pedas dan tajam.
Sama sekali tidak menyenangkan!
...
Simon menyuruh pembantu, Bibi Dila untuk mengenalkannya pada rumah, sementara tubuh tingginya berjalan ke atas.
Nayla akhirnya bisa lega, wajah dinginnya seperti orang yang sedang tagih utang.
Setelah berkeliling dengan Bibi Dila, Nayla baru sadar rumah mewah ini sangat besar. Ada lima lantai, dilengkapi lift, dengan sepuluh pelayan yang baru ditempatkan.
Dari mulut Bibi Dila, dia tahu bahwa pagi ini Simon baru kembali dari luar negeri.
Nayla terkejut, baru pulang sudah tahu Nayla ditinggalkan Hans saat daftar nikah?
Mungkinkah Simon menikahinya cuma untuk membalas dendam atas kejadian tiga tahun lalu?
Nayla ingin bertanya langsung, tapi dia diberi tahu Simon sedang sibuk di ruang kerja.
Dia cuma bisa menunggu, lalu akhirnya tertidur di sofa kamar utama.
Hingga terasa ada gerakan di tubuhnya, Nayla terbangun setengah sadar, sontak wajah tampan Simon muncul tepat di depannya.
"Kamu ngapain?" Nayla tertegun sambil menutupi dadanya dengan waspada.
Simon menarik jarinya dari selimut, lalu bibir dinginnya bergerak, "Tenang saja, aku nggak segitu hausnya sampai tertarik pada tubuhmu yang belum berkembang."
Api kemarahan Nayla menyala. "Aku sudah bukan tiga tahun lalu, sudah berkembang, tahu!"
Dia menggenggam tangan besar Simon dan hendak menaruhnya ke dadanya...
Di detik terakhir, dia tersadar. Kemudian dia buru-buru menghentikan gerakan dan melepaskan tangan Simon.
Sungguh gila.
Pacaran dengan Hans lima tahun, mereka bahkan tidak pernah berciuman.
Barusan dia hampir saja...
Wajah Nayla yang tampak merona sampai telinga membuat Simon tersenyum tipis, lalu sengaja menggoda, "Kenapa berhenti, takut ketahuan nggak memuaskan?"
Wajah Nayla panas sekali, lalu dengan kesal mendorongnya. "Kalau pun belum berkembang juga nggak ada hubungannya denganmu."
Dia bangkit hendak pergi, tiba-tiba ditekan kembali hingga punggungnya menempel di sofa.
Dia berusaha bangkit lagi, tetapi tubuh tinggi Simon membungkuk menekannya, auranya yang kuat menyelimuti.
"Nayla..."
Suara magnetis Simon penuh godaan sensual. "Punya nyali nikah denganku, tapi nggak berani melakukannya?"
Wajahnya tampan, auranya elegan, menutupi sempurna sisi jahat di matanya. Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan jakun yang seksi.
Dalam benak Nayla sekilas melintas adegan tiga tahun lalu.
Meski tidak pernah merasakan tubuh pria, masa tidak pernah melihat tubuh pria?
Karena dorongan hati yang tiba-tiba, dia menarik kerah Simon, lalu mengecup bibir tipisnya.
Nayla membuka mulut langsung menggigit, pura-pura lihai, tapi gerakannya kaku, beberapa kali menabrak giginya.
Mata Simon gelap, wajahnya tampak menahan diri dengan suaranya menekan emosi, "Nayla, kamu tahu sedang ngapain?"
"Tentu saja tahu, aku lagi menggodamu." Nayla masih kesal, masih ingin menggigit. "Kenapa? Takut?"
Nayla menatap menantang, yakin bahwa Simon masih sama seperti tiga tahun lalu yang sengaja mempermainkannya.
"Jangan sampai menyesal."
Simon menunduk, berbalik mengambil alih. Dia memperdalam ciuman, merampas udara dari mulut Nayla, sampai tubuh panasnya membakar Nayla.
Suaranya serak, matanya yang hitam penuh hasrat. "Kenapa nggak kita selesaikan saja apa yang tiga tahun lalu belum selesai?"
Bab 3
Nayla tertegun, jantungnya berdegup kencang.
Saat Simon menunduk hendak menciumnya lagi, tubuhnya tanpa sadar bergetar.
Menyadari reaksinya, gerakan Simon berhenti, mata dalamnya penuh dengan kendali diri.
"Kenapa, takut?"
Nayla masih belum sadar sepenuhnya.
Simon menggesek hidung Nayla dengan telunjuknya, lalu terkekeh, "Cuma bercanda, jangan dianggap serius."
Lalu, Nayla merasakan tubuhnya jadi ringan.
Simon sudah bangkit dari tubuhnya, berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Nayla akhirnya lega saat melihat punggung Simon. Dia menepuk dadanya pelan meski wajahnya masih panas.
Barusan dia kira akan terjadi "itu"...
Sebenarnya dia tidak terlalu konservatif, tapi bagaimanapun Simon adalah kakak kandung Hans.
Simon dulu selalu bersikap serius padanya, jelas cuma lebih tua beberapa tahun, tapi seperti kakek muda.
Perasaan ini sangat canggung.
Terutama tiga tahun lalu, dia dan Simon pernah mengalami hal yang memalukan itu...
Sudahlah.
Nayla menggeleng, tidak mau melanjutkan pikirannya.
Saat Simon selesai mandi, Nayla sudah menerima kenyataan tinggal bersamanya, lalu ikut mandi juga.
Mandi, perawatan kulit, dan losion tubuh menghabiskan satu setengah jam.
Dia kira Simon pasti sudah tidur.
Tidak disangka, saat pintu kamar mandi dibuka, suara menggoda Simon terdengar, "Kupikir kamu mau tinggal di dalam."
Mulutnya memang tetap setajam racun.
Nayla sudah terbiasa. Dia berdiri di ujung ranjang lalu bertanya dengan hati-hati, "Aku... tidur di mana?"
Simon mengangkat alis di wajah tampannya, "Nayla, bukankah buku nikah kita diurus secara sah?"
"Iya." Nayla sempat tidak paham.
"Jadi, kamu pernah lihat pasangan sah, pengantin baru tidur terpisah?"
Simon berhasil membuat Nayla terdiam.
Sudahlah.
Nayla menyerah untuk membantah.
"Sini."
Simon menepuk tempat di sampingnya.
Kali ini, Nayla menurut lalu berjalan mendekat.
Baru saja berbaring, telinganya mendengar suara menggoda Simon, "Istri Simon, ranjang sudah kusiapkan buat menghangatkanmu."
Nayla menoleh. Dia akhirnya tidak tahan saat melihat tatapan aneh Simon.
"Simon, kamu selalu membenciku, kali ini mendadak memaksaku menikah, lebih baik jujur, apa maumu?"
Simon tersenyum geli. "Kamu bilang aku benci kamu?"
"Memangnya nggak?" Nayla yakin dalam hati.
"Otakmu ini..."
Simon dengan nada magnetis yang panjang sambil tersenyum miring. "Memang nggak terlalu pintar."
Orang yang suka Hans bisa sepintar apa?
"Apa maksud..."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Nayla sudah dipeluk erat Simon, suara seraknya terdengar di atas kepalanya.
"Patuh saja, tidur dulu."
"Kamu dan aku sudah suami istri, nanti ada banyak waktu untuk saling mengenal."
Suaranya terdengar lelah dan napasnya makin dalam.
Nayla merasakan hangat tubuhnya saat dipeluk di dada pria itu. Nayla mendengar detak jantungnya dan mencium aromanya, membuat jantung Nayla berdetak makin cepat...
...
Pada saat yang sama.
Tengah malam, di ruang VIP karaoke.
Hans tampak gelisah dan semalaman terus melihat ponselnya.
Dulu kalau Nayla marah, paling lama setengah hari sudah akan mencari dia.
Hari ini soal gagal menikah, meski Nayla marah sampai bersumpah, biasanya dalam tiga jam, Nayla akan mencari Hans untuk minta maaf.
Namun, kini sudah larut, bahkan satu pesan pun tidak ada.
Sungguh makin berani dia.
"Kak, lagi nungguin telepon dari Kak Nayla?"
Karin duduk di sampingnya, wajah penuh rasa bersalah. "Gimana kalau kamu cari Kak Nayla saja? Dia pasti sangat marah sekarang."
"Semua ini salahku, aku nggak seharusnya kembali hari ini. Kalau nggak, pasti nggak akan ganggu kalian menikah, juga nggak buat Kak Nayla marah."
Karin sangat paham Hans yang selalu menjaga gengsi.
Makin dia bicara begitu, Hans akan makin marah.
Benar saja.
Hans menanggapi dengan santai, "Dia itu memang temperamennya macam putri, sebentar lagi pasti akan kembali sendiri, nggak usah dipedulikan."
"Selain itu, Karin, ini bukan salahmu. Menikah bisa kapan saja. Kamu sudah lama di luar negeri dan baru balik, tentu aku harus menyambutmu."
Setelah Hans bicara, teman-temannya ikut menyahut.
"Benar Karin, tiga tahun ini kamu nggak ada, Tuan Muda Hans sangat merindukanmu."
"Kalau bukan karena Nayla, tiga tahun lalu kamu juga nggak akan ke luar negeri."
"Nayla itu terlalu kekanak-kanakan, marahnya nggak pada tempatnya. Tuan Muda Hans, kali ini kamu harus benaran memberinya pelajaran."
Hans dengan wajah dingin mendengkus, "Kalau kali ini dia nggak minta maaf baik-baik pada Karin, aku nggak akan balikan dengannya."
Karin langsung tersenyum bahagia. Dia merangkul lengan Hans dengan manja dan bersandar padanya.
"Makasih Kak, kamu nggak tahu betapa aku takut kembali kali ini. Kalau Kak Nayla marah, mungkin aku harus pergi lagi."
"Nggak mungkin, kali ini aku nggak akan biarkan dia menang. Kamu tinggal saja di Hanka, aku akan melindungimu." Hans berjanji sambil membalikkan ponselnya.
Senyum di wajah Karin makin lebar, "Kak, kamu benaran baik, di keluarga ini cuma kamu yang paling sayang padaku."
Jauh lebih baik daripada kakak pertama.
Kakak pertama, Simon, selalu memasang wajah masam padanya, seolah dia adalah musuh Simon.
...
Nayla yang berada di vila sedang mendengarkan napas tenang Simon, kemudian akhirnya ikut tertidur.
Tidur kali ini lebih nyenyak dari sebelumnya.
Keesokan paginya.
Nayla membuka mata, langsung bertemu dengan sepasang mata yang dalam dan indah.
Pemilik mata itu, Simon, juga sedang menatapnya dengan lembut. "Istrinya Simon, tidurmu semalam nyenyak?"
Nayla mengangguk. "Cukup nyenyak."
Setelah tidur bersama semalaman, ternyata tidak terlalu canggung.
Simon tersenyum samar. "Kayaknya aku sebagai suami masih cukup membuatmu puas."
Nayla mengernyit.
Apa hubungannya dengan itu?
Saat itu Simon sudah turun dari ranjang, dia berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Ada rapat pagi, aku nggak bisa sarapan denganmu."
Nayla cuma menggumam setuju.
Sesuatu yang tidak didapatnya selama 7 tahun pacaran dengan Hans, dia juga tidak berharap dari Simon.
Apalagi, ini pernikahan kilat.
...
Saat Simon keluar dari ruang ganti, dia sudah mengenakan jas rapi.
Nayla yang sedang pakai perawatan kulit di meja rias, melihat bayangan Simon lewat cermin.
Jas gelap itu menonjolkan auranya yang elegan, alisnya tegas, dengan aura kuat yang menyelimuti, melangkah mendekatinya.
"Beli saja lebih banyak yang kamu suka, barang-barang di sana nggak perlu lagi." Simon berhenti di sampingnya, meletakkan kartu hitam di meja rias. "Nyonya Simon."
Nayla mendongak untuk menatap Simon.
Penampilan Simon yang murni dan terhormat membuat Nayla mengira sosoknya yang sinis dan penuh aura jahat semalam hanyalah ilusi.
"Siap." Nayla menerima kartu itu dengan tenang, berarti juga menerima identitas sebagai Nyonya Simon.
Bagaimanapun juga, menikah dengan salah satu dari dua bersaudara itu, tetap akan dipanggil Nyonya.
Bedanya, mantan pacar kini berubah menjadi adik ipar.
Hm, bisa berada satu tingkat lebih tinggi dari Hans, rasanya lumayan juga.
Simon yang melihat Nayla melamun pun tiba-tiba menunduk, bibir hangatnya mendekat di telinga Nayla. "Nyonya Simon, semoga kamu cepat terbiasa dengan identitas ini. Hubungan suami istri yang kuinginkan itu bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan."
Wajah Nayla langsung merona hingga ke telinganya…