Bab 2
Suara bercanda masuk ke telinga Nayla, baru setelah beberapa saat dia tersadar, "Kak Simon, adikmu baru saja mempermainkanku, sekarang giliranmu juga, begitu?"
Orang di ujung telepon adalah Simon Jatmiko, kakak kandung Hans.
Saat Nayla baru bersama Hans, Simon tidak pernah bersikap ramah padanya.
"Sudah sekali ditinggalkan, masih takut yang kedua?" Suara Simon penuh ejekan. "Ini nggak kayak sifatmu yang dulu selalu besar kepala."
Nayla punya temperamen keras, jadi tidak tahan dipancing.
Dia berkata dengan kesal, "Ayo pergi, siapa takut. Tapi meski aku ikut kamu, dukcapil sekarang juga sudah tutup."
Simon menjawab dengan nada datar, "Hal beginian nggak usah kamu khawatirkan."
Dua puluh menit kemudian.
Nayla kembali tiba di depan dukcapil. Sosok tinggi Simon pun muncul di hadapannya. Wajahnya luar biasa tampan, begitu memukau hingga sulit diungkapkan.
Terutama aura kuat dari tubuhnya, penuh tekanan.
Hans memang sudah termasuk tampan, tapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan Simon.
"Benaran berani datang?" Ujung bibir Simon terangkat, matanya penuh dengan sedikit aura jahat.
Saat berhadapan dengannya, Nayla tidak lagi seenaknya seperti saat menelepon, wajar jika terlihat sedikit lemah.
"Datang juga percuma, pintu dukcapil sudah hampir tutup."
Simon mengangkat alis, menatap pintu di belakangnya, suaranya dalam, "Benar mau nikah denganku? Sudah pikirkan baik-baik?"
Nayla tidak mau kalah. "Kalau kamu saja nggak takut, apa yang perlu aku takutkan?"
Menurutnya, kalaupun ada yang harus takut, seharusnya itu Simon.
Bagaimanapun, dia dan Hans adalah kakak-adik kandung.
"Berani juga kamu."
Di mata Simon terlihat sekilas rasa kagum yang sulit ditangkap, lalu dia menggenggam pergelangan tangan Nayla dan menariknya masuk.
Nayla terkejut, benaran ... benaran masuk?
Dia tiba-tiba berhenti yang membuat Simon menoleh sambil mengangkat alis. "Kenapa? Takut?"
Nayla ragu sejenak. "Kok kamu mau menikah denganku?"
Padahal jelas, Simon tidak menyukainya.
Simon terkekeh sinis. "Gimanapun juga harus menikah, 'kan? Daripada buang waktu cari orang lain, lebih baik pilih yang disukai keluarga."
Nayla pun tidak bertanya lagi.
Mungkin karena kedua keluarga memang sudah bersahabat lama.
Orang tua Keluarga Jatmiko, bahkan kakek Keluarga Jatmiko, sangat menyukai Nayla.
Jadi, tindakan Simon ini masih bisa dianggap wajar.
...
Tidak sampai sepuluh menit.
Keduanya keluar dari dukcapil dengan masing-masing memegang buku nikah.
Nayla tampak melamun menatap akta nikah, kemudian suara dingin Simon terdengar, "Menyesal pun percuma, meski sekarang masuk buat urus cerai, tetap harus menunggu beberapa waktu sampai proses selesai."
Sial!
Baru saja menikah sudah bicara cerai, siapa yang mau cerai!
Nayla memutar bola mata, tapi suaranya sopan, "Kak Simon jangan sampai menyesal saja sudah cukup."
Saat dia berjalan turun tangga, Simon tiba-tiba mengulurkan tangan dan menariknya ke dalam pelukan.
Nayla menempel erat di dadanya, meski tinggi badan Nayla 167 cm, tetap jauh lebih pendek dari Simon.
Aroma cedar yang harum dari tubuh Simon memenuhi hidung Nayla, membuat detak jantung Nayla tiba-tiba mengencang.
Wajahnya pun merona.
"Mau ke mana?" Suara magnetis Simon terdengar di atas kepalanya.
Nayla butuh waktu lama untuk menenangkan diri, lalu berkata, "Ya pulang."
"Baru menikah, sudah mau berpisah dengan suami?"
Simon menunduk menatap Nayla, melihat bulu mata hitam Nayla yang bergetar, wajah putihnya merona merah muda, penampilan polos namun menggoda, dipadu dengan aura dingin yang memikat.
"... Aku lupa."
Nayla mendongak, bertemu tatapan mata Simon tanpa menyadari kedalaman gelap di matanya.
Simon tanpa ekspresi mengalihkan pandangan, lalu melepaskannya. "Ikut aku."
Setelah berkata demikian, dia berjalan turun lebih dulu, Nayla tanpa banyak pikir pun mengikutinya.
Bagaimanapun, mereka sudah pasangan sah, masa pria itu bisa menjualnya begitu saja?
Lagi pula, membuat mantan pacar jadi adik ipar, dipikir saja sudah terasa lega.
...
Terletak di Casaya Bay, sebuah rumah mewah di setengah bukit yang setiap jengkal tanahnya mahal, desainnya tampak sederhana tapi penuh kemewahan.
Nayla berdiri di tengah ruang tamu, menatap Simon dengan bingung.
"Ini apa?"
Simon menjawab singkat, "Rumah pernikahan, mulai sekarang kamu tinggal di sini."
"Lalu kamu?" Nayla hampir spontan bertanya.
Simon mengangkat alis, tatapannya dingin. "Terlalu kaget sampai jadi bodoh? Arti rumah pernikahan saja nggak paham?"
Maksudnya jelas, tentu saja Simon juga tinggal di sini.
Nayla tersenyum canggung, dalam hati menggerutu bahwa Simon memang selalu berlidah tajam.
Sama seperti sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu, ucapan Simon selalu pedas dan tajam.
Sama sekali tidak menyenangkan!
...
Simon menyuruh pembantu, Bibi Dila untuk mengenalkannya pada rumah, sementara tubuh tingginya berjalan ke atas.
Nayla akhirnya bisa lega, wajah dinginnya seperti orang yang sedang tagih utang.
Setelah berkeliling dengan Bibi Dila, Nayla baru sadar rumah mewah ini sangat besar. Ada lima lantai, dilengkapi lift, dengan sepuluh pelayan yang baru ditempatkan.
Dari mulut Bibi Dila, dia tahu bahwa pagi ini Simon baru kembali dari luar negeri.
Nayla terkejut, baru pulang sudah tahu Nayla ditinggalkan Hans saat daftar nikah?
Mungkinkah Simon menikahinya cuma untuk membalas dendam atas kejadian tiga tahun lalu?
Nayla ingin bertanya langsung, tapi dia diberi tahu Simon sedang sibuk di ruang kerja.
Dia cuma bisa menunggu, lalu akhirnya tertidur di sofa kamar utama.
Hingga terasa ada gerakan di tubuhnya, Nayla terbangun setengah sadar, sontak wajah tampan Simon muncul tepat di depannya.
"Kamu ngapain?" Nayla tertegun sambil menutupi dadanya dengan waspada.
Simon menarik jarinya dari selimut, lalu bibir dinginnya bergerak, "Tenang saja, aku nggak segitu hausnya sampai tertarik pada tubuhmu yang belum berkembang."
Api kemarahan Nayla menyala. "Aku sudah bukan tiga tahun lalu, sudah berkembang, tahu!"
Dia menggenggam tangan besar Simon dan hendak menaruhnya ke dadanya...
Di detik terakhir, dia tersadar. Kemudian dia buru-buru menghentikan gerakan dan melepaskan tangan Simon.
Sungguh gila.
Pacaran dengan Hans lima tahun, mereka bahkan tidak pernah berciuman.
Barusan dia hampir saja...
Wajah Nayla yang tampak merona sampai telinga membuat Simon tersenyum tipis, lalu sengaja menggoda, "Kenapa berhenti, takut ketahuan nggak memuaskan?"
Wajah Nayla panas sekali, lalu dengan kesal mendorongnya. "Kalau pun belum berkembang juga nggak ada hubungannya denganmu."
Dia bangkit hendak pergi, tiba-tiba ditekan kembali hingga punggungnya menempel di sofa.
Dia berusaha bangkit lagi, tetapi tubuh tinggi Simon membungkuk menekannya, auranya yang kuat menyelimuti.
"Nayla..."
Suara magnetis Simon penuh godaan sensual. "Punya nyali nikah denganku, tapi nggak berani melakukannya?"
Wajahnya tampan, auranya elegan, menutupi sempurna sisi jahat di matanya. Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan jakun yang seksi.
Dalam benak Nayla sekilas melintas adegan tiga tahun lalu.
Meski tidak pernah merasakan tubuh pria, masa tidak pernah melihat tubuh pria?
Karena dorongan hati yang tiba-tiba, dia menarik kerah Simon, lalu mengecup bibir tipisnya.
Nayla membuka mulut langsung menggigit, pura-pura lihai, tapi gerakannya kaku, beberapa kali menabrak giginya.
Mata Simon gelap, wajahnya tampak menahan diri dengan suaranya menekan emosi, "Nayla, kamu tahu sedang ngapain?"
"Tentu saja tahu, aku lagi menggodamu." Nayla masih kesal, masih ingin menggigit. "Kenapa? Takut?"
Nayla menatap menantang, yakin bahwa Simon masih sama seperti tiga tahun lalu yang sengaja mempermainkannya.
"Jangan sampai menyesal."
Simon menunduk, berbalik mengambil alih. Dia memperdalam ciuman, merampas udara dari mulut Nayla, sampai tubuh panasnya membakar Nayla.
Suaranya serak, matanya yang hitam penuh hasrat. "Kenapa nggak kita selesaikan saja apa yang tiga tahun lalu belum selesai?"
Bab 3
Nayla tertegun, jantungnya berdegup kencang.
Saat Simon menunduk hendak menciumnya lagi, tubuhnya tanpa sadar bergetar.
Menyadari reaksinya, gerakan Simon berhenti, mata dalamnya penuh dengan kendali diri.
"Kenapa, takut?"
Nayla masih belum sadar sepenuhnya.
Simon menggesek hidung Nayla dengan telunjuknya, lalu terkekeh, "Cuma bercanda, jangan dianggap serius."
Lalu, Nayla merasakan tubuhnya jadi ringan.
Simon sudah bangkit dari tubuhnya, berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Nayla akhirnya lega saat melihat punggung Simon. Dia menepuk dadanya pelan meski wajahnya masih panas.
Barusan dia kira akan terjadi "itu"...
Sebenarnya dia tidak terlalu konservatif, tapi bagaimanapun Simon adalah kakak kandung Hans.
Simon dulu selalu bersikap serius padanya, jelas cuma lebih tua beberapa tahun, tapi seperti kakek muda.
Perasaan ini sangat canggung.
Terutama tiga tahun lalu, dia dan Simon pernah mengalami hal yang memalukan itu...
Sudahlah.
Nayla menggeleng, tidak mau melanjutkan pikirannya.
Saat Simon selesai mandi, Nayla sudah menerima kenyataan tinggal bersamanya, lalu ikut mandi juga.
Mandi, perawatan kulit, dan losion tubuh menghabiskan satu setengah jam.
Dia kira Simon pasti sudah tidur.
Tidak disangka, saat pintu kamar mandi dibuka, suara menggoda Simon terdengar, "Kupikir kamu mau tinggal di dalam."
Mulutnya memang tetap setajam racun.
Nayla sudah terbiasa. Dia berdiri di ujung ranjang lalu bertanya dengan hati-hati, "Aku... tidur di mana?"
Simon mengangkat alis di wajah tampannya, "Nayla, bukankah buku nikah kita diurus secara sah?"
"Iya." Nayla sempat tidak paham.
"Jadi, kamu pernah lihat pasangan sah, pengantin baru tidur terpisah?"
Simon berhasil membuat Nayla terdiam.
Sudahlah.
Nayla menyerah untuk membantah.
"Sini."
Simon menepuk tempat di sampingnya.
Kali ini, Nayla menurut lalu berjalan mendekat.
Baru saja berbaring, telinganya mendengar suara menggoda Simon, "Istri Simon, ranjang sudah kusiapkan buat menghangatkanmu."
Nayla menoleh. Dia akhirnya tidak tahan saat melihat tatapan aneh Simon.
"Simon, kamu selalu membenciku, kali ini mendadak memaksaku menikah, lebih baik jujur, apa maumu?"
Simon tersenyum geli. "Kamu bilang aku benci kamu?"
"Memangnya nggak?" Nayla yakin dalam hati.
"Otakmu ini..."
Simon dengan nada magnetis yang panjang sambil tersenyum miring. "Memang nggak terlalu pintar."
Orang yang suka Hans bisa sepintar apa?
"Apa maksud..."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Nayla sudah dipeluk erat Simon, suara seraknya terdengar di atas kepalanya.
"Patuh saja, tidur dulu."
"Kamu dan aku sudah suami istri, nanti ada banyak waktu untuk saling mengenal."
Suaranya terdengar lelah dan napasnya makin dalam.
Nayla merasakan hangat tubuhnya saat dipeluk di dada pria itu. Nayla mendengar detak jantungnya dan mencium aromanya, membuat jantung Nayla berdetak makin cepat...
...
Pada saat yang sama.
Tengah malam, di ruang VIP karaoke.
Hans tampak gelisah dan semalaman terus melihat ponselnya.
Dulu kalau Nayla marah, paling lama setengah hari sudah akan mencari dia.
Hari ini soal gagal menikah, meski Nayla marah sampai bersumpah, biasanya dalam tiga jam, Nayla akan mencari Hans untuk minta maaf.
Namun, kini sudah larut, bahkan satu pesan pun tidak ada.
Sungguh makin berani dia.
"Kak, lagi nungguin telepon dari Kak Nayla?"
Karin duduk di sampingnya, wajah penuh rasa bersalah. "Gimana kalau kamu cari Kak Nayla saja? Dia pasti sangat marah sekarang."
"Semua ini salahku, aku nggak seharusnya kembali hari ini. Kalau nggak, pasti nggak akan ganggu kalian menikah, juga nggak buat Kak Nayla marah."
Karin sangat paham Hans yang selalu menjaga gengsi.
Makin dia bicara begitu, Hans akan makin marah.
Benar saja.
Hans menanggapi dengan santai, "Dia itu memang temperamennya macam putri, sebentar lagi pasti akan kembali sendiri, nggak usah dipedulikan."
"Selain itu, Karin, ini bukan salahmu. Menikah bisa kapan saja. Kamu sudah lama di luar negeri dan baru balik, tentu aku harus menyambutmu."
Setelah Hans bicara, teman-temannya ikut menyahut.
"Benar Karin, tiga tahun ini kamu nggak ada, Tuan Muda Hans sangat merindukanmu."
"Kalau bukan karena Nayla, tiga tahun lalu kamu juga nggak akan ke luar negeri."
"Nayla itu terlalu kekanak-kanakan, marahnya nggak pada tempatnya. Tuan Muda Hans, kali ini kamu harus benaran memberinya pelajaran."
Hans dengan wajah dingin mendengkus, "Kalau kali ini dia nggak minta maaf baik-baik pada Karin, aku nggak akan balikan dengannya."
Karin langsung tersenyum bahagia. Dia merangkul lengan Hans dengan manja dan bersandar padanya.
"Makasih Kak, kamu nggak tahu betapa aku takut kembali kali ini. Kalau Kak Nayla marah, mungkin aku harus pergi lagi."
"Nggak mungkin, kali ini aku nggak akan biarkan dia menang. Kamu tinggal saja di Hanka, aku akan melindungimu." Hans berjanji sambil membalikkan ponselnya.
Senyum di wajah Karin makin lebar, "Kak, kamu benaran baik, di keluarga ini cuma kamu yang paling sayang padaku."
Jauh lebih baik daripada kakak pertama.
Kakak pertama, Simon, selalu memasang wajah masam padanya, seolah dia adalah musuh Simon.
...
Nayla yang berada di vila sedang mendengarkan napas tenang Simon, kemudian akhirnya ikut tertidur.
Tidur kali ini lebih nyenyak dari sebelumnya.
Keesokan paginya.
Nayla membuka mata, langsung bertemu dengan sepasang mata yang dalam dan indah.
Pemilik mata itu, Simon, juga sedang menatapnya dengan lembut. "Istrinya Simon, tidurmu semalam nyenyak?"
Nayla mengangguk. "Cukup nyenyak."
Setelah tidur bersama semalaman, ternyata tidak terlalu canggung.
Simon tersenyum samar. "Kayaknya aku sebagai suami masih cukup membuatmu puas."
Nayla mengernyit.
Apa hubungannya dengan itu?
Saat itu Simon sudah turun dari ranjang, dia berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Ada rapat pagi, aku nggak bisa sarapan denganmu."
Nayla cuma menggumam setuju.
Sesuatu yang tidak didapatnya selama 7 tahun pacaran dengan Hans, dia juga tidak berharap dari Simon.
Apalagi, ini pernikahan kilat.
...
Saat Simon keluar dari ruang ganti, dia sudah mengenakan jas rapi.
Nayla yang sedang pakai perawatan kulit di meja rias, melihat bayangan Simon lewat cermin.
Jas gelap itu menonjolkan auranya yang elegan, alisnya tegas, dengan aura kuat yang menyelimuti, melangkah mendekatinya.
"Beli saja lebih banyak yang kamu suka, barang-barang di sana nggak perlu lagi." Simon berhenti di sampingnya, meletakkan kartu hitam di meja rias. "Nyonya Simon."
Nayla mendongak untuk menatap Simon.
Penampilan Simon yang murni dan terhormat membuat Nayla mengira sosoknya yang sinis dan penuh aura jahat semalam hanyalah ilusi.
"Siap." Nayla menerima kartu itu dengan tenang, berarti juga menerima identitas sebagai Nyonya Simon.
Bagaimanapun juga, menikah dengan salah satu dari dua bersaudara itu, tetap akan dipanggil Nyonya.
Bedanya, mantan pacar kini berubah menjadi adik ipar.
Hm, bisa berada satu tingkat lebih tinggi dari Hans, rasanya lumayan juga.
Simon yang melihat Nayla melamun pun tiba-tiba menunduk, bibir hangatnya mendekat di telinga Nayla. "Nyonya Simon, semoga kamu cepat terbiasa dengan identitas ini. Hubungan suami istri yang kuinginkan itu bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan."
Wajah Nayla langsung merona hingga ke telinganya…
Bab 4
Untungnya suara dering ponsel berbunyi, menyelamatkan Nayla dari situasi canggung.
"Halo?"
Jantung Nayla berdegup makin kencang, jadi dia buru-buru mengangkat panggilan.
Dari seberang terdengar suara menggoda sahabat sekaligus super model Amanda, "Gimana, Nona Nayla, kemarin sudah urus surat nikah, apa malamnya nggak sabar langsung malam pertama?
Suara dari gagang telepon cukup keras.
Nayla teringat Simon masih ada, jadi buru-buru menoleh. Untung Simon sudah berjalan ke pintu dan keluar.
"Surat nikah sudah diurus."
Nayla lega. "Belum ada malam pertama."
"Setelah pacaran selama 5 tahun, paling banter cuma kayak anak ayam ciuman, bahkan nggak pernah benaran menyentuh…"
Amanda menjerit, "Jangan-jangan malam setelah urus surat nikah baru ketahuan suamimu tidak bisa menghamili?"
Amanda terlalu bersemangat hingga suaranya makin keras.
Kebetulan Simon membuka pintu masuk, dan samar-samar mendengar kalimat terakhir, "Suamimu tidak bisa…"
Seketika ekor matanya terangkat untuk melirik Nayla.
Dia tidak bisa menghamili?
Nayla yang mendengar suara itu menoleh ke pintu. Saat melihat Simon, napasnya langsung terhenti.
Amanda tidak sadar suasana di sini, dia masih memberi saran, "Nggak bisa begitu, harus cepat ke rumah sakit periksa."
"Kalau nggak bisa sembuh, kamu harus pikir baik-baik, bisa terima cinta yang hanya bersifat emosional, nggak?"
Kepala Nayla panas, lalu buru-buru memutus telepon.
Ujung bibirnya kaku. "Kok kamu balik lagi?"
"Ambil jam."
Simon segera mengambil sebuah jam mekanik dari ruang pakaian, sambil memakainya, dia berjalan ke arah Nayla.
Setelah terpasang, lengannya terjulur melewati depan Nayla hingga hampir mengurungnya di dadanya.
Simon menunduk, wajahnya mendekat, napas hangat terembus. "Bisa atau nggak, nanti malam coba saja, kamu pasti tahu."
Tubuh Nayla menegang kaku, dia dengan tidak wajar berkedip dua kali. "Bukan aku yang bilang."
Sudut bibir Simon terangkat. "Nyonya Simon, tunggu aku pulang, kita coba bisa atau nggak?"
Tanpa memberi Nayla kesempatan menjelaskan, Simon melangkah keluar kamar dengan kaki panjangnya.
Nayla menghela napas, lalu menelepon Amanda, "Kamu salah paham."
"Salah paham apa?"
"Kamu barusan tutup teleponku, marah ya?"
"Cuma karena aku bilang Hans nggak bisa?"
Amanda seperti bendungan jebol, pertanyaan dan keluhan meluap keluar.
Nayla menarik napas dalam. "Bukan Hans, tapi Simon."
Takut disalahpahami lagi, dia pun menambahkan, "Kemarin, yang nikah denganku itu Simon…"
"Apa?" Amanda terkejut.
Sepuluh menit kemudian…
Setelah mendengar penuturan Nayla, Amanda memaki Hans dan Karin habis-habisan.
Makian itu kasar sekali.
Setelah melampiaskan amarah, Amanda merasa lega, lalu menghiburnya, "Memang harus gitu, biar dia menyesal, gagal jadi suami, jadikan saja adik ipar."
"Nayla, kali ini seleramu meningkat pesat, Simon itu CEO Grup Jatmiko, tampan, kaya tanpa skandal, jauh lebih baik dari Hans, cuma saja…"
"Dia menikahimu cuma supaya nggak dipaksa menikah dan merasa kamu cocok. Kalian tanpa dasar perasaan, dulu juga nggak akur, apa bakal..."
Meski kalimat itu tidak selesai, Nayla paham maksudnya.
"Nggak apa-apa, saling ambil untung saja." Nayla menunduk.
Kemarin surat nikah diurus karena emosi, hari ini dia sudah berpikir jernih.
Yang penting sudah memenuhi wasiat ayahnya, soal bercerai atau tidak sudah tidak penting.
"Oke, kalau begitu, aku kirim kamu hadiah pernikahan, tunggu saja."
"Hadiah apa?" tanya Nayla.
Amanda tidak menjawab karena didesak syuting iklan, lalu dengan tegas menutup telepon.
Nayla pun terdiam.
Amanda memang orang super sibuk.
...
Kantor pusat Grup Jatmiko.
Kantor CEO di lantai teratas.
Setelah rapat, Simon duduk di meja kerjanya. Duduknya tegak, setelan gelapnya menonjolkan wibawa anggun dan tekanan aura.
Tanpa mengangkat kepala, dia memerintahkan asistennya, Ben, "Pilihkan aku sepasang cincin kawin, juga siapkan kontrak pemberian saham."
Ben mengangguk hormat. "Baik, Pak."
Dia tidak segera pergi, membuat Simon menatap sekilas. "Ada apa lagi?"
Ben pun berucap, "Pak Markus tahu kamu sudah pulang, jadi meneleponku buat minta kamu malam ini pulang ke rumah lama untuk makan malam."
Tatapan Simon meredup. "Pergilah, aku yang urus."
Ben pun keluar kantor.
Simon menelepon balik. Belum sempat bicara, dari seberang terdengar bentakan, "Makin hebat kamu, pulang ke Hanka nggak bilang padaku, orangnya juga nggak ketemu! Sekarang aku mau ketemu pun harus buat janji dulu?"
"Kakek jangan marah, semalam jet lag, belum sempat kasih kabar." Jari panjang Simon dengan tulang sendi jelas mengetuk meja ringan.
Pak Markus mendengkus berat, "Jangan bantah, tiga tahun ini sudah sering kukatakan."
"Kalau kembali ke Hanka, harus segera menemukan pasangan, menikah, punya anak…"
"Jangan sampai lupa!"
Pengingat dari Kakek membuat Simon teringat sesuatu, seberkas cahaya lembut melintas di matanya.
"Kakek tenang saja, aku ingat jelas."
Bibir tipisnya terangkat setengah senyum. "Pasti kubuat Kakek puas."
...
Hans akhirnya terbangun dari mabuk.
Dengan mata setengah terbuka, tangannya meraba-raba kasur. Akhirnya dia menemukan ponsel di bawah bantal.
Waktu yang tampak di layar sudah sore, membuat kantuknya hilang hingga dia bangun terduduk.
Pagi ada rapat, Nayla ternyata tidak menelepon untuk mengingatkannya.
Saat ini asistennya buru-buru masuk, melihat dia sudah bangun duduk di tempat tidur, asisten itu menunduk. "Pak Hans…"
"Kenapa baru datang?" tegur Hans. Ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab yang semua dari asistennya.
"Aku kira Anda ada urusan penting, jadi nggak berani ganggu." Asisten menjelaskan, dia sebenarnya datang untuk memberi tahu kalau Simon sudah pulang.
Namun, sebelum sempat bicara, Hans dingin bertanya, "Nayla mana?"
Asisten tertegun, lalu menggeleng.
Bagaimana dia bisa tahu?
Lima tahun ini, urusan rapat penting selalu Nayla yang langsung mengingatkan CEO ini, tanpa perlu sang asisten khawatir.
Hal ini sudah jadi kebiasaan bagi Hans.
Tidak peduli kapan pun.
Bahkan saat Nayla sakit, Nayla selalu menelepon satu jam lebih awal untuk membangunkan Hans.
Dalam hal kecil ini, Nayla tidak pernah mengecewakan Hans.
Kali ini, cuma karena masalah mengurus surat nikah, Nayla malah sengaja bersikap dingin padanya.
Tampaknya selama ini Hans terlalu memanjakannya.
Dengan wajah muram, Hans menelepon Nayla.
Namun baru sekali berdering, panggilan otomatis terputus.
Dia coba lagi, hasilnya sama.
Itu artinya nomor dia sudah diblokir!
Wajah Hans makin gelap.
Dia kirim pesan WA, tapi tidak terkirim, hanya muncul centang satu...
Bagus!
Bagus sekali!
Mata Hans dipenuhi amarah dingin. Kali ini dia tidak akan memanjakan Nayla lagi. Kalau ingin balikan, harus hapus dulu sifat sok jadi putri itu.
...
Matahari mulai terbenam di barat.
Vila Casaya Bay.
Nayla yang berada di tempat tidur sedang duduk bersila di jendela menjorok, laptop di pangkuan, jari-jarinya mengetik cepat di keyboard.
Seharian dia tidak pergi ke mana pun, di rumah memikirkan naskah.
Sebagai penulis skenario, naskahnya pernah difilmkan jadi drama online dua kali dengan jumlah tayangan menengah.
Bukan drama hit, tetapi juga tidak gagal total.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia melirik nomor penelepon, lalu menjawab manis, "Kakek."
"Nak, sudah lama nggak jenguk Kakek. Kemarin sudah urus surat nikah, ya? Cari waktu buat jenguk Kakek, ajak Hans juga…"
Nayla terdiam beberapa detik, lalu berkata jujur, "Kakek, aku sudah putus sama Hans."
Dari seberang terdengar tawa, jelas Pak Dio sudah terbiasa. "Kenapa? Dia bikin ulah lagi, bikin kamu marah, ya?"
Sikap Kakek tiba-tiba membuat Nayla teringat masa lalu, hatinya terasa getir.
"Kakek, kali ini benaran," ucap Nayla dengan getir.
Setelah terdiam sejenak, Nayla melanjutkan, "Aku sudah putus dengan Hans, terus nikah sama Simon."
Simon yang ada di luar kamar mendengar kata-kata Nayla, tangannya terhenti di udara, sorot matanya dalam.