Bab 5
“Kayden, kalung yang kamu berikan padaku hilang. Itu kalung yang kamu dapatkan dari bertanding tinju 12 ronde dan cuma ada satu di dunia! Cepat bantu aku cari! Kalung itu sangat berarti buatku!”
Situasinya pun menjadi kacau.
Seluruh lampu dalam aula dinyalakan. Baru saja Calista mendengar jelas apa yang terjadi, lengannya dicengkeram dengan kuat dan dia ditarik kembali dari pintu.
“Pak Kayden, orang ini mau pergi diam-diam. Apa mungkin barang yang kalian cari ada padanya?”
Baru saja orang itu selesai berbicara, sebuah kalung tiba-tiba terjatuh dari tubuhnya. Orang di samping buru-buru memungut dan mengangkat barang itu.
“Lihat! Ternyata ada di sini! Pantas saja dia mau diam-diam kabur! Ternyata dia itu seorang pencuri!”
Begitu mendengar ucapan itu, perhatian semua orang langsung tertuju pada Calista. Ada yang menuduhnya, ada yang mengejeknya, ada yang merasa jijik padanya, ada juga orang yang bersemangat untuk menyaksikan pertunjukan.
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan jatuhnya kalung itu, Nadia sudah tiba di depan Calista.
“Calista, aku tahu orang tuamu meninggal muda. Sejak kecil, kamu tumbuh besar bersama kakakmu yang playboy, makanya kamu begitu nggak berpendidikan. Aku bisa ngalah soal yang lain, tapi kalung ini benar-benar sangat berarti bagiku.”
“Selain kalung ini, gelang dan cincinku juga sudah hilang. Itu semua pemberian Kayden untukku. Tolong biarkan aku menggeledahmu,” ujar Nadia sambil melambaikan tangannya.
Dua orang pengawal bergegas datang, lalu menahan Calista dari kanan dan kiri sambil mulai menarik pakaiannya. Ekspresi Calista langsung menjadi suram.
“Lepaskan aku! Aku nggak curi barangmu! Ada CCTV di setiap sudut tempat ini. Kalau ada barangmu yang hilang, kamu boleh pergi periksa rekaman CCTV. Jangan asal menuduh dan menggeledahku! Kamu kira ini di luar negeri!”
Calista berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, perbedaan kekuatan pria dan wanita benar-benar terlalu jauh, apalagi yang harus dilawannya adalah dua orang pengawal.
Berhubung tidak dapat melepaskan diri dan pakaiannya akan segera ditanggalkan di bawah tatapan dingin sekelompok orang, ada kilatan kejam yang melintasi mata Calista. Tanpa peduli pada akibatnya, dia segera menendang perut Nadia.
“Ah!”
Nadia pun terjatuh ke lantai dan menjerit kesakitan. Gerakan semua orang di lokasi langsung terhenti.
“Gimanapun, dia juga adalah putri Grup Lisano. Mana mungkin dia mencuri sebuah kalung. Ini seharusnya cuma salah paham.”
“Apanya yang nggak mungkin? Kalung itu dimenangkan Pak Kayden dari pertandingan tinju. Pak Kayden pasti nggak akan mengampuninya!”
Di tengah diskusi orang-orang, sesuai dugaan, Kayden segera berlari mendekat. Setelah memeriksa luka Nadia dengan sakit hati, dia menatap Calista dengan tatapan yang sangat mengerikan.
“Calista! Beraninya kamu menyentuh Nadia! Kamu mau mati? Cepat minta maaf!”
Calista berdiri di tempat sambil merapikan pakaiannya dengan jari gemetar. Dia menjawab dengan nada mengejek, “Waktu dia suruh pengawal untuk tanggalkan bajuku, kamu diam saja. Waktu aku melawan, kamu malah suruh aku minta maaf. Kayden, apa kamu punya hati? Semua yang terjadi hari ini adalah sandiwaranya sendiri. Aku nggak akan minta maaf.”
Seusai berbicara, Calista pun berbalik dan hendak pergi. Namun, ekspresi Kayden malah bertambah jelek. Dia berjalan ke depan Calista dengan tampang muram, lalu menghalangi jalannya dan memberi perintah dengan nada tak terbantahkan, “Aku suruh kamu minta maaf! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa pergi hari ini!”
Calista menggenggam ujung pakaiannya dengan erat. Kuku-kukunya nyaris menancap ke telapak tangannya. Hatinya sangat bergejolak dan dia akhirnya hanya memaksakan diri untuk bertanya, “Kayden, gimana kalau aku bersikeras menolak untuk minta maaf?”
Apa yang ingin dilakukan Kayden apabila dia tidak minta maaf?
Kayden tersenyum sinis, lalu mengangkat tangannya. Dua pengawal segera berjalan mendekat dan menahan Calista.
“Hari ini, ada kurang seorang petinju. Aku akan angkut kamu naik ke ring.”
Bab 6
Hanya sepatah kata itu saja langsung membuat darah di sekujur tubuh Calista terasa seperti sudah membeku.
Hari ini, yang bertanding adalah petinju profesional. Demi menghibur orang, para petinju pun melayangkan serangan mematikan. Makin banyak darah, makin bersemangat pula mereka.
Jika Calista dinaikkan ke ring, kesampingkan dulu dirinya akan berakhir menjadi lelucon, bahkan bertahan hidup saja juga merupakan masalah. Namun, demi membantu Nadia balas dendam, Kayden malah tega berbuat sekejam ini. Dia pun tertawa hingga berlinang air mata.
“Calista, kamu sudah mencuri, juga memukul orang. Bukannya kamu seharusnya minta maaf? Apa hakmu untuk nangis?”
Ada sedikit kejengkelan yang terpancar dari mata Kayden.
Melihat pengawal yang hendak menahannya, hati Calista pun dipenuhi dengan keputusasaan. Dia mengatupkan bibirnya erat-erat, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong pengawal yang mendekatinya. Kemudian, dia menerjang ke hadapan Kayden dan menamparnya dengan kuat.
Calista mengerahkan seluruh tenaganya dalam tamparan ini. Suara tamparan yang nyaring pun bergema di ruangan yang hening.
“Aku nggak mencuri! Jadi, aku nggak akan minta maaf!” Air mata Calista mengalir dengan tak terkendalikan. Dia berusaha menahan isakannya dan berseru, “Kenapa aku menendangnya? Karena dia memfitnahku, lalu mau tanggalkan pakaianku tanpa bukti! Kalau aku nggak mendorongnya, masa aku harus biarkan dia menelanjangiku di depan umum?”
“Apa pun yang dikatakan Nadia, kamu akan selalu percaya. Kayden, siapa sebenarnya aku di matamu? Kamu anggap aku ini apa!”
Mata Calista berkaca-kaca, sedangkan suaranya yang tercekat penuh dengan rasa putus asa. Selama ini, dia adalah orang yang tenang. Ini adalah pertama kalinya dia kehilangan kendali.
Melihat wajah Calista yang dibasahi air mata, Kayden tertegun sejenak. Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Pada saat ini, Nadia berjalan mendekat.
“Sudahlah. Calista juga pasti bukan sengaja. Para pengawal yang salah paham sama maksudku. Kalungnya sudah ketemu, aku juga nggak akan perpanjang masalah ini lagi.”
Ekspresi Nadia tiba-tiba berubah. Dia menyunggingkan seulas senyum palsu dan membawa datang segelas anggur. Selanjutnya, dia membuka mulut dan berkata tanpa suara, “Tamatlah riwayatmu.”
Pada detik selanjutnya, ketika berjalan mendekat, Nadia tiba-tiba menumpahkan anggur merah itu pada dirinya.
“Prang!” Gelas kaca itu pun jatuh ke lantai.
Pada detik berikutnya, Nadia melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan mata memerah. Kebetulan, dia tersandung gelas itu dan kehilangan keseimbangan. Setelah terdesak mundur beberapa langkah, dia pun jatuh ke pelukan Kayden.
“Calista, aku tulus mau berteman denganmu. Kenapa kamu ....” Nadia meringis kesakitan, lalu menyingkap gaunnya untuk memperlihatkan sebuah goresan halus.
“Duh, sakit banget ....”
Suara kecaman terus berlanjut.
“Dia itu memang anak yatim yang nggak punya didikan orang tua. Sudah mencuri, dia juga berani main tangan, padahal Bu Nadia sudah kasih dia jalan keluar. Apa namanya ini kalau bukan merasa gelisah karena berbuat salah?”
“Leluhur Keluarga Lisano yang ada di alam baka mungkin nggak akan bisa tenang karena punya keturunan seperti ini!”
Setelah mendengar ucapan orang di sekeliling, Kayden berseru dengan kesal, “Calista!”
Begitu melihat keangkuhan di mata Nadia, Calista tahu bahwa ini adalah salah satu tipu muslihatnya. Dia pun mencibir dalam hati. Setelah menyeka air mata, dia melangkah maju, mengambil gelas kaca itu, lalu membantingnya ke samping kaki Nadia.
Di bawah tatapan ngeri Nadia, Calista mendorongnya dengan kuat. Nadia pun membelalak kaget, lalu jatuh ke atas serpihan kaca itu.
“Ah! Kayden!” Kali ini, dia benar-benar menangis karena sakit.
“Nadia, sebaiknya jangan gunakan trik-trik itu terhadapku. Kalau nggak, aku akan membalasnya setiap kali kamu melakukannya.”
Calista menyeka bekas anggur merah di jarinya, lalu mendongak dan melihat Kayden yang menggendong Nadia dengan sakit hati. Ketika pandangan mereka bertemu, tatapan Kayden terlihat sangat mengerikan.
Calista percaya bahwa apabila Nadia terluka, Kayden pasti akan menghabisinya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menahan rasa malu dan berbalik untuk pergi. Baru saja dia meninggalkan aula, Kayden sudah mengejarnya.
“Berhenti! Segera minta maaf sama Nadia!”
Jari-jari Kayden yang ramping menahan pegangan pintu mobil supaya bisa menghentikan Calista untuk pergi. Calista meliriknya, lalu mendorongnya dan naik ke mobil.
Tepat ketika Calista menutup pintu, dia mendengar Kayden berujar dengan suara mengerikan, “Calista, jangan nyesal kamu!”
Bab 7
Mobil pun melaju.
Calista merasa benaknya sangat kacau dan kelelahan yang berlebihan membuatnya tidak dapat membuka mata. Setelah menemukan lingkungan yang tenang dengan susah payah dan hendak menenangkan diri, dia malah tiba-tiba mendengar suara mobil berdecit yang memekakkan telinga.
Saat Calista merasakan ada yang aneh dan membuka mata, segalanya sudah terlambat. Pada detik berikutnya, sopir menginjak pedal gas sampai kandas, lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
Ketika bertemu pandang dengan tatapan suram sopir, Calista pun merasa terkejut dan bergumam dengan suara serak, “Kamu bukan sopirku. Siapa kamu sebenarnya!”
Sopir itu tersenyum bengis dan menjawab, “Aku ini iblis yang akan memberimu pelajaran.”
Mobil melaju sampai keluar dari jangkauan CCTV dan masuk ke sebuah pegunungan yang dalam. Setelah mobil berhenti, Calista membuka pintu mobil dan hendak melarikan diri. Namun, sopir malah menjambak rambutnya dan menyeretnya kembali, lalu menyumpal mulutnya dengan kain.
“Srek!”
Beling kaca menyayat kulitnya dan rasa sakit itu membuat kepalanya serasa mau pecah. Namun, semuanya masih belum berakhir. Selanjutnya, masih ada sayatan kedua, ketiga, dan seterusnya ....
Calista meronta sekuat tenaga, tetapi sopir itu menekannya ke lantai dengan kuat. Dia sama sekali tidak dapat melepaskan diri atau bahkan melontarkan pertanyaan. Dia hanya bisa menerima dirinya disayat sekali demi sekali.
Di hutan yang luas ini, yang tersisa hanyalah tangisan menyedihkan Calista. Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan kesadarannya mulai kabur. Tepat ketika dia merasa dirinya akan segera mati, sopir itu akhirnya menghentikan aksinya dan melemparnya ke lantai.
Tiba-tiba, lampu depan mobil menyala, lalu mobil melaju secara perlahan.
Suara yang terdengar Calista hanya tinggal napasnya yang lemah. Ketika melihat mobil itu hendak menabraknya, pandangannya yang kabur tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang berlari mendekat. Sebelum melihat jelas siapa orang itu, dia sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran.
...
Ketika tersadar lagi, Calista menemukan dirinya tengah berbaring di rumah sakit. Sekujur tubuhnya dibungkus perban tebal dan terasa seperti bukan miliknya lagi. Hanya bergerak sedikit saja, dia langsung merasa kesakitan hingga kesulitan bernapas.
“Jangan bergerak. Lukamu terlalu parah. Kalau asal bergerak, lukamu akan terbuka. Aku pergi panggil dokter dulu. Kamu istirahat yang baik.”
Tidak lama setelah Kayden pergi, ponsel Calista yang ditaruh di meja samping tempat tidur pun bergetar pelan. Berhubung tidak dapat bergerak, dia hendak menunggu hingga Kayden kembali, lalu baru meminta Kayden menunjukkan ponsel itu kepadanya.
Tak disangka, orang yang menelepon begitu tidak sabar. Berhubung Calista tidak mengangkat, dia pun tidak berhenti menelepon. Calista yang terganggu hingga kepalanya sakit pun akhirnya mencari perawat.
Setelah mengangkat ponsel dan menyadari bahwa itu adalah telepon dari nomor tak dikenal, Calista pun mengernyit. Tiba-tiba, ada sebuah video yang ditampilkan di layar. Itu adalah rekaman ulang di lokasi pesta.
“Kak Nadia, jangan nangis. Kak Kayden pasti akan membalaskan dendammu! Kalau dia balik dan melihatmu menangis, dia pasti akan habisi aku!”
Nadia yang matanya merah menjawab dengan suara gemetar, “Aku sudah baik hati mau berdamai dengannya, tapi kenapa Calista malah bersikap begini terhadapku? Dia keterlaluan banget!”
Nadia menunduk dan lanjut menangis. Dia menutupi wajahnya dan memasang tampang yang sangat kasihan. Tidak ada seorang pun yang tahu harus bagaimana menghiburnya. Mereka juga tidak berani menyentuh Nadia karena khawatir Kayden akan memotong tangan mereka.
Tepat ketika semua orang sedang kewalahan, Kayden akhirnya kembali. Begitu dia kembali, Nadia langsung melemparkan diri ke pelukannya.
“Kayden, kamu harus balaskan dendamku! Lihat saja apa yang diperbuatnya! Tubuhku sudah dibasahi anggur merah, kakiku juga berdarah. Sakit banget! Sejak kecil, kamu selalu memanjakanku. Aku nggak tahan diperlakukan secara nggak adil seperti ini. Kamu harus balaskan dendamku. Kalau nggak, aku akan pergi ke luar negeri sekarang juga dan nggak kembali lagi!”
Kayden buru-buru menghibur, “Kamu mau gimana?”
Nadia pun terlihat bersemangat. Dia berjinjit dan berbisik di telinga Kayden, “Dia sudah membuatku tergores sekali. Aku ini bukan tipe orang yang terima dirugikan. Aku mau kamu menyayatnya 99 kali.”
Kayden terlihat serbasalah dan matanya dipenuhi dengan emosi campur aduk. Sebelum dia sempat menjawab, Nadia menunjukkan luka tipis di kakinya dan bermanja-manja lagi dengan tampang memelas.
Kayden pun menyetujuinya hampir secara refleks. “Oke. Aku akan balaskan dendammu.”
Di akhir video, Nadia meringkuk dalam pelukan Kayden. “Sakit banget.”
Kayden terlihat sangat sakit hati. Dia menangani luka Nadia dengan hati-hati, lalu mengelus kepalanya dengan emosi yang tertahan dan penuh kendali. Dia berkata dengan suara rendah dan serak, “Aku yang nggak melindungimu dengan baik. Ini salahku.”
Begitu melihat tampang mereka yang mesra, orang-orang di sekitar yang peka buru-buru menyanjung.
“Ckckck, mereka memang sekeluarga. Kejamnya sama! Ini salah Calista juga, siapa suruh dia begitu sial.”