Bab 1
Dalam tiga tahun pernikahan, Kayden Farista membenci Calista Lisano selama tiga tahun penuh.
Pada hari Nadia Farista pulang, Kayden akhirnya tidak tahan lagi. Dia pun berniat untuk memalsukan kematiannya, lalu kawin lari dengan Nadia.
“Sebulan lagi, palsukan kematianku. Aku akan lepaskan statusku sebagai pewaris Keluarga Farista dan bersama Nadia selamanya.”
Setelah mendengar percakapan Kayden di ruang operasi, Calista langsung menghubungi pengacara untuk membuatkan surat perceraian, lalu menghubungi kakaknya yang ada di luar negeri.
“Kak, aku sudah nyerah soal Kayden. Aku bersedia tinggal di luar negeri bersamamu.”
Setelah mengetahui lever Kayden Farista terluka setelah bertanding tinju 12 ronde berturut-turut, Calista buru-buru pergi ke rumah sakit dan menawarkan diri untuk mendonorkan darah.
Setelah melakukan segelintir pemeriksaan, Calista dibawa ke kamar rawat inap dan darahnya langsung diambil sebanyak 1.000 cc. Berhubung kehilangan banyak darah, kesadarannya mulai kabur. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ketika dia merasa pusing, dia samar-samar mendengar suara yang familier.
“Kayden, kamu begitu suka sama kakak yang nggak punya hubungan darah denganmu itu? Karena satu postingannya yang bilang dia menyukai kalung itu, kamu pun pertaruhkan nyawamu untuk bertanding tinju demi membelinya? Bisa-bisanya kamu bertanding 12 ronde berturut-turut! Kamu sudah bosan hidup?”
“Sekarang, gara-gara Nadia kecelakaan dan bagian kakinya terbakar, kamu ambil darah Calista sebanyak 1.000 cc, juga mau ambil begitu banyak kulitnya. Semua orang bisa lihat dengan jelas pengorbanan Calista untuk Keluarga Farista dan kamu selama ini! Bukannya tindakanmu ini sangat keterlaluan?”
Kuku-kuku Calista menancap pada dagingnya.
Kayden bertanding tinju 12 ronde demi memberikan sebuah kalung yang disukai Nadia? Kayden berbohong tentang luka levernya demi mengambil darahnya untuk menolong Nadia? Setelah dia pingsan, Kayden akan menyeretnya ke ruang operasi untuk mengambil kulitnya demi mengobati Nadia?
Suasananya hening untuk beberapa saat.
“Apa pun yang kulakukan pada orang seperti Calista nggak akan dianggap keterlaluan.” Suara Kayden yang rendah dan serak perlahan-lahan terdengar.
“Tiga tahun lalu, Calista paksa aku menikahinya. Nadia pergi ke luar negeri, dan aku sama sekali nggak bisa menemukannya. Dalam tiga tahun ini, aku hidup bagaikan mayat hidup. Kemarin, dia baru pulang. Hari ini, dia malah kecelakaan. Calista sendiri begitu jahat, memangnya salah aku ambil sedikit darah dan kulitnya?”
“Jangankan darah, meski aku mau renggut nyawanya, dia juga harus terima. Siapa suruh dia paksa Nadia pergi. Ini utangnya padaku. Tapi, aku nggak tertarik pada nyawanya. Aku punya masalah yang lebih penting.”
Darah Calista serasa sudah membeku. Sekujur tubuhnya gemetar tak terkendali.
“Sekarang, kamu sudah nikah. Apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanya Alvin Tondi dengan nada agak ragu dan penuh waspada.
“Sebulan lagi, palsukan kematianku. Aku akan lepaskan statusku sebagai pewaris Keluarga Farista dan bersama Nadia selamanya.”
Calista berusaha membuka matanya yang setengah terpejam, lalu memiringkan kepala untuk menatap orang yang berbicara itu.
Sekujur tubuh Kayden dipenuhi luka. Dia bahkan kesulitan berbicara, tetapi masih memaksakan diri untuk menyeka darah di jarinya dan menggenggam kalung itu erat-erat. Matanya yang memar dan bengkak juga tidak mampu menyembunyikan perasaannya yang mendalam dan obsesinya.
Calista sudah tidak melihat tatapan Kayden yang seperti ini selama tiga tahun. Di hadapannya, Kayden tidak pernah menunjukkan emosinya. Hanya dalam menghadapi hal yang berhubungan dengan Nadia, Kayden baru terasa seperti orang yang berbeda.
Ketika pisau bedah membelah kulit Calista, rasa sakit itu nyaris membuat napasnya terhenti. Namun, dibandingkan dengan rasa sakit di tubuh, kenyerian bagaikan ditusuk jarum di hatinya itu yang terasa paling menyesakkan.
Sejak kecil, Kayden adalah putra keluarga terkemuka yang populer di ibu kota, juga unggul dalam berbagai aspek. Tidak ada seorang pun gadis seumurannya yang tidak menyukai. Calista merupakan salah satu gadis yang menyukainya.
Namun, Calista tahu bahwa Kayden tidak menyukainya. Kayden menyukai kakaknya yang tidak berhubungan darah dengannya, Nadia Farista.
Sepulang sekolah, Kayden akan langsung pulang ke rumah demi membawakan es krim kesukaan Nadia. Ketika mengetahui Nadia demam tinggi, Kayden akan bolos sekolah demi menjaganya. Hanya karena Nadia mengatakan bahwa dirinya paling tertarik pada pria yang menguasai taekwondo, Kayden pun mempelajari taekwondo selama belasan tahun.
Demi Nadia, Kayden menolak semua orang. Awalnya, Calista juga merasa dirinya tidak mungkin memiliki kesempatan.
Tak disangka, setelah mengetahui perasaan Kayden terhadap Nadia, kakeknya Kayden yang bernama Rehan pun mengancam untuk bunuh diri. Dia mengirim Nadia pergi, lalu memaksa Kayden untuk menikah dengan Calista.
Setelah Rehan berulang kali dilarikan ke rumah sakit, Kayden yang perlawanannya tidak membuahkan hasil akhirnya hanya bisa setuju.
Setelahnya, Kayden mendengar Rehan mendoakan supaya keinginan Calista terkabul. Kayden pun merasa yakin bahwa demi keinginannya sendiri, Calista yang mengadukan hal ini pada Rehan, lalu memaksa untuk menikahinya dan mengirim Nadia pergi.
Sejak saat itu, Kayden sangat membenci Calista. Namun, Kayden tidak tahu bahwa Nadia sendiri yang berinisiatif mencari Rehan, lalu mengungkapkan rahasia Kayden ini padanya.
Pada saat Kayden diculik oleh musuh keluarga mereka dan nasibnya tidak diketahui, Nadia yang mengetahui hal ini langsung mencari Rehan untuk bernegosiasi. Dia meminta 200 miliar, lalu berjanji akan pergi ke luar negeri dan meninggalkan Kayden selamanya.
Begitu tersebar kabar mengenai pewaris Grup Farista yang dibunuh penculik, saham Grup Farista pun anjlok. Calista yang keluar untuk memberi jaminan tanpa peduli pada konsekuensi apa pun. Oleh karena itu, Grup Farista baru terselamatkan dan Kayden juga ditemukan.
Demi mengendalikan opini publik, kedua keluarga memutuskan untuk membiarkan Calista dan Kayden menikah selama tiga tahun.
Calista bukannya tidak pernah menjelaskan. Namun, dalam tiga tahun pernikahan ini, Kayden selalu memperlakukannya layaknya seorang musuh. Bahkan tinggal serumah saja sudah terasa mustahil, apalagi berharap Kayden mendengar penjelasannya. Meskipun dia sudah mengeluarkan buktinya di hadapan Kayden, Kayden bahkan tak sudi meliriknya.
Dua hari yang lalu, Nadia sudah kembali dan mengalami kecelakaan mobil. Namun, Kayden malah yakin bahwa Calista yang menyuruh orang melakukannya.
Air mata Calista pun menetes tak terkendali. Tenggorokannya terasa tercekat hingga bernapas juga menjadi sulit.
Seiring dengan Kayden yang pergi bersama perawat, Calista didorong ke kamar rawat inap. Setelah efek obat biusnya hilang, dia menelepon Vincent.
“Kak, aku sudah nyerah soal Kayden. Aku bersedia tinggal di luar negeri bersamamu.”
Bab 2
Setelah mendengar ucapan adiknya, pria di ujung telepon yang sedang merasa gundah di dalam bar pun duduk dengan bersemangat.
“Serius? Calista, pikiranmu benar-benar sudah terbuka? Sudah kubilang Kayden itu bukan orang baik! Selain kasar, dia juga sangat keras kepala! Dengan tinggal di sisinya, kamu pasti akan menderita! Baguslah kalau pikiranmu sudah terbuka. Kamu sudah kemas barang-barangmu? Aku akan pergi menjemputmu sekarang juga!”
Saat mendengar suara Vincent yang begitu gembira hingga agak gemetar, hati Calista terasa getir. Dia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman tubuhnya dan menjawab, “Kak, kamu bantu aku urus semua prosedurnya dulu. Sebulan lagi, aku akan ke sana. Aku mau tangani semua yang ada di sini sampai tuntas biar nggak usah kembali lagi.”
Saat ini, Vincent baru teringat bahwa berimigrasi ke luar negeri harus melalui prosedur. Dia buru-buru mengangguk, lalu langsung mengurus prosedurnya begitu memutuskan sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus, tatapan Calista menjadi gelap. Dia hanya memiliki waktu satu bulan. Sebelum Kayden memalsukan kematiannya, dia harus memutuskan semua hubungan Grup Lisano dengan Grup Farista. Dia ingin terlebih dahulu melepaskan diri dari Grup Farista dan Kayden.
Selama tiga tahun ini, Calista sama sekali tidak berutang pada Kayden. Dia tidak seharusnya lanjut tinggal di tempat ini dan menangani kekacauan yang akan ditinggalkan Kayden setelah Kayden memalsukan kematiannya.
Calista dirawat di rumah sakit seorang diri selama lima hari dan Kayden tidak pernah muncul sekali pun.
Setelah mengambil darah dan kulit Calista, Kayden langsung menelantarkan Calista di rumah sakit. Dia bahkan malas untuk mengirim sebuah pesan berisi penjelasan singkat. Kayden sepertinya sama sekali tidak peduli pada reaksi Calista setelah sadar.
Calista pun tersenyum mengejek. Dia menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi pipinya, lalu menghubungi orang untuk membuatkan surat perceraian.
Di hari Calista keluar dari rumah sakit, dia membawa surat perceraian itu kembali ke Kediaman Keluarga Farista. Ketika mendekati pintu kamar, dia mendengar suara percakapan orang dari dalam.
“Kayden, demi aku, kamu sudah telantarkan Calista di rumah sakit. Selama seminggu ini, kamu juga cuma temani aku, gimana kalau dia marah dan nggak pulang? Kamu jangan mengantre beli bubur buatku lagi, juga jangan selalu berjaga di sisiku. Sebaiknya kamu pergi jenguk dia ....”
Kayden memijat pergelangan kaki Nadia dengan lembut sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang. Begitu mengungkit tentang Calista, ada sedikit kejengkelan yang melintasi matanya.
“Nggak usah. Dia nggak akan tega meninggalkanku. Meski sudah pergi, dia juga akan kembali lagi dengan tampang menyedihkan setelah tiga hari.”
Tubuh Calista pun menegang. Ada rasa sakit yang melintasi matanya.
Ternyata, di mata Kayden, Calista begitu mencintainya sampai tidak mungkin meninggalkannya. Oleh karena itu, dia baru berani berbuat hal-hal yang begitu keterlaluan.
Calista pun tersenyum pahit dan menahan rasa getir sambil mendorong buka pintu kamar. Dalam sekejap, keadaan di dalam ruangan menjadi hening.
Seluruh kasih sayang di mata Kayden seketika menghilang. Dia menepuk-nepuk Nadia untuk menghiburnya, lalu menoleh ke arah Calista dengan penuh waspada.
Awalnya, Kayden mengira Calista akan merengek dan menangis untuk beberapa saat. Tak disangka, Calista hanya dengan tenang menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.
“Tandatanganilah ini.”
Berhubung Calista tidak membuat keributan seperti dugaannya, Kayden pun tertegun. Dulu, Calista juga menyerahkan kontrak kerja kepadanya seperti ini. Jadi, dia tidak merasa ada yang tidak beres. Dia pun menerima dokumen itu, lalu menandatanganinya.
Baru saja Kayden hendak mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Berhubung itu adalah telepon tentang kerjaan, dia pun berpamitan pada Nadia, lalu pergi ke ruang baca.
Setelah mengantarkan surat perceraian, Calista juga berbalik dan hendak kembali ke kamarnya. Namun, Nadia malah menghentikannya.
“Kamu Calista, ‘kan? Aku pernah dengar Kayden ngomong soal kamu. Kamu itu pemujanya yang menghalalkan segala cara untuk menikahinya,” ujar Nadia sambil tersenyum sinis.
“Dengar-dengar, kamu sangat pandai melayani orang. Begini saja, buatkanlah secangkir kopi untukku. Aku mau yang panas.”
Ketika berbicara, Nadia tidak sengaja menyingkap rambutnya dan menunjukkan kalung permata yang bertengger di lehernya. Itu adalah kalung juara yang dimenangkan Kayden setelah bertanding tinju 12 ronde berturut-turut. Kalung itu melambangkan cinta abadi yang penuh gairah.
Calista tahu Nadia sedang pamer sekaligus memperingatinya. Dia pun mengernyit. Berhubung tidak ingin ribut dengan Nadia, dia pun secara refleks hendak menolak.
Namun, Nadia dapat menebak pemikirannya. Dia berkata lagi dengan santai, “Kalau kamu nggak menurut, aku akan beri tahu Kayden kamu menindasku. Aku rasa Kayden seharusnya akan sangat marah, sedangkan kamu juga nggak akan berakhir baik, lho.”
Calista mengepalkan tangannya dan tatapannya juga meredup. Yang dikatakan Nadia benar. Apa pun yang dikatakan Nadia, Kayden akan percaya padanya tanpa ragu.
Calista masih harus menunggu beberapa saat sebelum bisa meninggalkan tempat ini. Selama masa ini, dia ingin mengurangi masalah sebisa mungkin untuk menjamin dirinya dapat pergi dengan selamat.
“Oke. Aku akan membuatkannya.”
Sepuluh menit kemudian, Calista membawa datang secangkir kopi. Nadia menyesapnya dengan alis terangkat dan ekspresinya langsung menjadi masam. Pada detik berikutnya, dia pun menyiramkan kopi itu ke wajah Calista.
“Kopi macam apa yang kamu buat ini! Jijik banget!”
Seusai menyiram, Nadia masih belum puas dan melemparkan lagi cangkirnya ke kepala Calista.
“Duk!”
“Ugh!”
Cangkir kopi itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Sementara itu, dahi Calista juga berdarah akibat hantaman itu. Setetes demi setetes darah menetes ke lantai. Noda merah tersebut terlihat sangat menusuk mata.
Sakit. Ini adalah perasaan paling nyata yang dirasakan Calista.
Sebelum Calista sempat bereaksi, Nadia yang sepertinya melihat sesuatu tiba-tiba mengambil air dingin dari meja dan menyiram dirinya sendiri. Kemudian, dia menjerit kesakitan dan berpura-pura jatuh ke lantai.
Kayden kembali tepat pada saat ini. Begitu mendengar keributan, dia segera menerjang masuk. Ketika melihat Nadia yang memeluk kepalanya sambil meringis, amarahnya langsung memuncak. Dia mendorong Calista dan segera menggendong Nadia.
Berhubung Kayden tidak mengendalikan kekuatannya, Calista pun kehilangan keseimbangan. Demi menopang tubuhnya, kedua tangannya menekan serpihan kaca di lantai. Kulitnya langsung robek dan berdarah.
“Nadia, kamu nggak terluka, ‘kan? Apa kakimu terkilir? Tubuhmu terbakar?”
Nadia bersandar dalam pelukan Kayden dengan tampang kasihan dan juga meringkuk ketakutan.
“Kayden, aku nggak apa-apa. Dia seharusnya marah karena kamu selalu temani aku. Aku nggak sengaja tumpahkan kopi ke tubuhnya, tapi dia langsung siram aku pakai air panas dan mendorongku. Tapi, nggak apa-apa. Wajar saja Calista marah. Aku nggak menyalahkannya.”
Kayden menatap Calista dengan kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan.
“Calista, kamu benar-benar nggak bisa berubah! Trikmu selalu begitu kotor, hatimu juga sama.”
Tatapan Kayden langsung menjadi kelam. Dia yang menggendong Nadia pun berjalan ke meja kopi, lalu mengambil secangkir air panas yang tersisa.
“Calista, aku sudah pernah bilang. Jangan sentuh Nadia! Kamu harus rasakan sendiri akibat perbuatanmu.”
Begitu selesai berbicara, Kayden langsung menyiramkan air panas itu ke arah Calista tanpa memberikan waktu baginya untuk menjelaskan.
Calista secara refleks mengadangnya. Lengannya langsung terbakar dan berasap. Rasa sakit yang membara itu membuatnya menjerit kesakitan. Dahinya sudah dibasahi keringat dingin. Meskipun sekujur tubuhnya gemetar kesakitan, Kayden masih tidak berniat untuk mengampuninya.
Melihat Kayden yang masih melangkah mendekat, Calista menahan rasa sakit dan menjelaskan sambil menggertakkan gigi, “Kayden, aku nggak menyentuhnya!”
Calista memanggil kepala pelayan yang sudah disuruhnya pergi mengambil rekaman CCTV untuk keluar dan berujar, “Lihat saja sendiri! Nadia yang memfitnahku!”
Kepala pelayan yang menggenggam laptop berjalan ke hadapan Kayden. Dari Nadia mulai memfitnahnya, Calista sudah mencari cara untuk menghadapinya. Tak disangka ....
Setelah menonton rekaman ulang sampai akhir, ekspresi Kayden pun berubah. Namun, Nadia masih bersandar dalam pelukannya sambil menangis. Jadi, dia pun menekan rasa aneh itu.
Kayden mengelus rambut Nadia dan menghibur dengan suara kecil, “Jangan takut. Aku tahu kamu bukan sengaja.”
Setelah wanita dalam pelukannya berhenti menangis, Kayden baru menatap Calista dan berujar dengan nada seolah sedang memberi sedekah, “Akhiri saja masalah ini sampai di sini. Kemas barangmu dan pindah ke kamar tamu.”
Seusai berbicara, Kayden melirik luka Calista, lalu berbalik dan kembali ke kamar.
Calista tidak menyangka bahwa meskipun ada bukti kuat yang terpampang di hadapannya, Kayden masih tetap membela Nadia dengan tenang.
Calista berusaha mengangkat tangannya yang berdarah. Ada rasa ironis dan putus asa yang terkandung dalam matanya. “Oke, aku pindah.”
Bab 3
Calista pindah keluar dari kamar utama dalam satu malam. Selain dokumen-dokumen penting, dia tidak mengambil apa pun, bahkan sepotong pakaian juga tidak. Dia langsung menyuruh pembantu untuk membuang semua barangnya supaya bisa mengosongkan tempat untuk Nadia.
Setelah kembali ke kamar, Calista merasa sangat lelah. Dia bahkan tidak bertenaga untuk pergi ke rumah sakit dan langsung beristirahat.
Sampai tengah malam, kepala Calista terasa berat dan pusing. Seluruh tubuhnya sangat panas bagaikan sedang berada di dalam oven. Ini jelas-jelas bukanlah hal yang normal setelah memasuki awal musim gugur.
Calista merasa tidak beres dan membuka matanya dengan kesulitan. Tak disangka, dia malah melihat Kayden duduk di sisi tempat tidur. Kayden sedang mengolesi obat ke luka bakar lengannya dengan serius.
Melihat Calista sudah bangun, Kayden meliriknya, lalu mengambil sebutir obat dari meja samping tempat tidur. Dia menyodorkan obat beserta air ke sudut mulutnya.
“Lukamu infeksi, makanya kamu demam. Minum dulu obat penurun panasnya sebelum tidur,” ujar Kayden dengan nada rendah yang bercampur dengan sedikit rasa khawatir.
Setelah Calista menelan obat yang disodorkannya, Kayden berkata, “Ini obat yang sengaja dibeli Nadia untukmu. Habis minum, istirahatlah. Kelak, jangan bermusuhan dengannya lagi.”
Selama tiga tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya Kayden merawatnya ketika sakit. Namun, Kayden malah menyuruhnya untuk tidak bermusuhan dengan Nadia, padahal ini semua jelas-jelas bukanlah salahnya.
Hanya saja, memangnya kenapa meskipun begitu? Kayden hanya peduli pada Nadia.
Calista merasa sangat ironis. Kesadarannya mulai kabur dan dia ingin tidur untuk menghilangkan pusingnya. Akan tetapi, tubuhnya terasa seperti terbakar dan makin panas. Kelopak matanya juga sangat berat hingga dia tidak bisa membukanya.
Entah sudah berapa lama Calista berjuang, dia akhirnya dapat membuka matanya dengan susah payah. Dia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, lalu menyentuh lehernya yang terasa sangat panas. Dia juga menyeret tubuhnya yang berat ke depan cermin. Matanya terlihat sangat merah.
Demam Calista tidak turun. Sebaliknya, malah makin parah.
Mengetahui bahwa dirinya tidak bisa menunda lebih lama lagi, Calista berjalan keluar dengan terhuyung-huyung. Tepat ketika mencapai pintu, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik untuk mengambil obat penurun panas di meja samping tempat tidur.
Ketika tiba di rumah sakit, demam Calista telah mencapai 40 derajat. Pada satu titik, dia bahkan merasa kesulitan bernapas dan segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter mengatur agar dia dirawat di rumah sakit, melakukan tes darah, mengobati luka bakar di lengannya, dan memberinya infus sepanjang malam sebelum suhu tubuhnya perlahan turun.
“Apa yang terjadi? Lenganmu sudah infeksi sampai begini, tapi kamu nggak oles obat. Sudah demam, masih asal minum obat lagi. Kamu mau mati?”
Calista mengerutkan kening, jantungnya berdebar kencang.
“Dokter bilang aku nggak oles obat ke lenganku? Aku jelas sudah obati lukanya. Aku juga minum obat penurun demam yang dikasih keluargaku. Kenapa bisa begini?”
Saat bertanya, sebuah pemikiran perlahan muncul di benak Calista.
Mata Calista menjadi kelam dan dia mengerutkan bibirnya. Dia berbalik dan mengambil pil dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada dokter. “Ini obat yang diberikan kepadaku. Coba Dokter bantu aku periksa apa ini obat penurun demam atau bukan?”
Dokter mengambil pil itu dan melihat tanda di atasnya dengan hati-hati. Ekspresinya tiba-tiba menjadi serius.
“Sembarangan! Ini obat yang sudah dilarang di negeri ini! Selain nggak bisa turunkan demam, efek sampingnya bisa sebabkan keracunan ginjal dan pendarahan lambung. Siapa yang kasih ke kamu? Orangnya sengaja mau celakai kamu!”
Calista menatap pil itu. Panasnya yang baru reda itu pun menyerang lagi hingga membuat ujung jarinya mati rasa.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Itu adalah pesan dari Kayden. Saat mengklik pesan masuk itu, Calista melihat video Nadia yang tersenyum cerah.
“Calista, habis minum obat yang kukasih, apa kamu merasa nyaman di rumah sakit? Itu obat yang kubeli untukmu. Aku jamin jantungmu akan berdebar kencang sepanjang malam. Oh iya, aku juga aku salah ambil obat untuk lenganmu. Aku baru sadar yang kuberikan itu air. Kamu harus segera mengatasi lukanya. Kalau nggak, lukanya akan tinggalkan bekas.”
Sebelum Calista sempat mengambil tangkapan layar pesan, orang di ujung telepon telah menarik kembali pesan itu. Calista tahu bahwa Kayden-lah yang melakukannya. Dia takut Calista akan membaca pesan tersebut, lalu meminta pertanggungjawaban dan menimbulkan masalah bagi Nadia.
Nadia tersenyum mengejek, menunduk, dan menarik napas dalam-dalam sebelum menelepon polisi.
“Halo? Aku mau buat laporan, Ada orang yang mencoba membunuhku.”
Setelah menelepon polisi, Calista kembali tertidur lelap. Saat terbangun lagi, dia dibangunkan oleh dering telepon yang tidak berhenti. Itu adalah panggilan dari Kayden. Berhubung tahu kenapa Kayden menelepon, dia tidak punya energi untuk berdebat dengannya.
Tepat saat Calista hendak memblokir nomor Kayden, teleponnya berdering lagi. Kali ini, kakaknya yang menelepon. Jadi, dia menjawab panggilan itu.
“Calista, prosedur imigrasi sudah lagi dalam proses dan akan makan waktu sekitar setengah bulan. Aku sudah pesan tiket pesawat untuk pulang dan menjemputmu. Apa urusanmu sudah bisa diselesaikan?”
Mungkin karena takut Calista menyesal, suara Vincent yang biasanya terdengar malas menjadi tegang. Mendengar kehati-hatian Vincent, Calista tersenyum lembut.
“Bisa. Kak, jangan khawatir. Aku nggak akan menyesal. Aku pasti akan pergi seusai mengurus semuanya.”
Baru saja Calista selesai berbicara, pintu kamar rawat inapnya didorong buka dari luar. Kayden berdiri di depan pintu dengan ekspresi masam.
“Pergi? Kamu mau pergi ke mana? Sampai masalah Nadia terselesaikan, kamu nggak boleh pergi ke mana pun!”