Bab 2
Setelah mendengar ucapan adiknya, pria di ujung telepon yang sedang merasa gundah di dalam bar pun duduk dengan bersemangat.
“Serius? Calista, pikiranmu benar-benar sudah terbuka? Sudah kubilang Kayden itu bukan orang baik! Selain kasar, dia juga sangat keras kepala! Dengan tinggal di sisinya, kamu pasti akan menderita! Baguslah kalau pikiranmu sudah terbuka. Kamu sudah kemas barang-barangmu? Aku akan pergi menjemputmu sekarang juga!”
Saat mendengar suara Vincent yang begitu gembira hingga agak gemetar, hati Calista terasa getir. Dia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman tubuhnya dan menjawab, “Kak, kamu bantu aku urus semua prosedurnya dulu. Sebulan lagi, aku akan ke sana. Aku mau tangani semua yang ada di sini sampai tuntas biar nggak usah kembali lagi.”
Saat ini, Vincent baru teringat bahwa berimigrasi ke luar negeri harus melalui prosedur. Dia buru-buru mengangguk, lalu langsung mengurus prosedurnya begitu memutuskan sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus, tatapan Calista menjadi gelap. Dia hanya memiliki waktu satu bulan. Sebelum Kayden memalsukan kematiannya, dia harus memutuskan semua hubungan Grup Lisano dengan Grup Farista. Dia ingin terlebih dahulu melepaskan diri dari Grup Farista dan Kayden.
Selama tiga tahun ini, Calista sama sekali tidak berutang pada Kayden. Dia tidak seharusnya lanjut tinggal di tempat ini dan menangani kekacauan yang akan ditinggalkan Kayden setelah Kayden memalsukan kematiannya.
Calista dirawat di rumah sakit seorang diri selama lima hari dan Kayden tidak pernah muncul sekali pun.
Setelah mengambil darah dan kulit Calista, Kayden langsung menelantarkan Calista di rumah sakit. Dia bahkan malas untuk mengirim sebuah pesan berisi penjelasan singkat. Kayden sepertinya sama sekali tidak peduli pada reaksi Calista setelah sadar.
Calista pun tersenyum mengejek. Dia menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi pipinya, lalu menghubungi orang untuk membuatkan surat perceraian.
Di hari Calista keluar dari rumah sakit, dia membawa surat perceraian itu kembali ke Kediaman Keluarga Farista. Ketika mendekati pintu kamar, dia mendengar suara percakapan orang dari dalam.
“Kayden, demi aku, kamu sudah telantarkan Calista di rumah sakit. Selama seminggu ini, kamu juga cuma temani aku, gimana kalau dia marah dan nggak pulang? Kamu jangan mengantre beli bubur buatku lagi, juga jangan selalu berjaga di sisiku. Sebaiknya kamu pergi jenguk dia ....”
Kayden memijat pergelangan kaki Nadia dengan lembut sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang. Begitu mengungkit tentang Calista, ada sedikit kejengkelan yang melintasi matanya.
“Nggak usah. Dia nggak akan tega meninggalkanku. Meski sudah pergi, dia juga akan kembali lagi dengan tampang menyedihkan setelah tiga hari.”
Tubuh Calista pun menegang. Ada rasa sakit yang melintasi matanya.
Ternyata, di mata Kayden, Calista begitu mencintainya sampai tidak mungkin meninggalkannya. Oleh karena itu, dia baru berani berbuat hal-hal yang begitu keterlaluan.
Calista pun tersenyum pahit dan menahan rasa getir sambil mendorong buka pintu kamar. Dalam sekejap, keadaan di dalam ruangan menjadi hening.
Seluruh kasih sayang di mata Kayden seketika menghilang. Dia menepuk-nepuk Nadia untuk menghiburnya, lalu menoleh ke arah Calista dengan penuh waspada.
Awalnya, Kayden mengira Calista akan merengek dan menangis untuk beberapa saat. Tak disangka, Calista hanya dengan tenang menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.
“Tandatanganilah ini.”
Berhubung Calista tidak membuat keributan seperti dugaannya, Kayden pun tertegun. Dulu, Calista juga menyerahkan kontrak kerja kepadanya seperti ini. Jadi, dia tidak merasa ada yang tidak beres. Dia pun menerima dokumen itu, lalu menandatanganinya.
Baru saja Kayden hendak mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Berhubung itu adalah telepon tentang kerjaan, dia pun berpamitan pada Nadia, lalu pergi ke ruang baca.
Setelah mengantarkan surat perceraian, Calista juga berbalik dan hendak kembali ke kamarnya. Namun, Nadia malah menghentikannya.
“Kamu Calista, ‘kan? Aku pernah dengar Kayden ngomong soal kamu. Kamu itu pemujanya yang menghalalkan segala cara untuk menikahinya,” ujar Nadia sambil tersenyum sinis.
“Dengar-dengar, kamu sangat pandai melayani orang. Begini saja, buatkanlah secangkir kopi untukku. Aku mau yang panas.”
Ketika berbicara, Nadia tidak sengaja menyingkap rambutnya dan menunjukkan kalung permata yang bertengger di lehernya. Itu adalah kalung juara yang dimenangkan Kayden setelah bertanding tinju 12 ronde berturut-turut. Kalung itu melambangkan cinta abadi yang penuh gairah.
Calista tahu Nadia sedang pamer sekaligus memperingatinya. Dia pun mengernyit. Berhubung tidak ingin ribut dengan Nadia, dia pun secara refleks hendak menolak.
Namun, Nadia dapat menebak pemikirannya. Dia berkata lagi dengan santai, “Kalau kamu nggak menurut, aku akan beri tahu Kayden kamu menindasku. Aku rasa Kayden seharusnya akan sangat marah, sedangkan kamu juga nggak akan berakhir baik, lho.”
Calista mengepalkan tangannya dan tatapannya juga meredup. Yang dikatakan Nadia benar. Apa pun yang dikatakan Nadia, Kayden akan percaya padanya tanpa ragu.
Calista masih harus menunggu beberapa saat sebelum bisa meninggalkan tempat ini. Selama masa ini, dia ingin mengurangi masalah sebisa mungkin untuk menjamin dirinya dapat pergi dengan selamat.
“Oke. Aku akan membuatkannya.”
Sepuluh menit kemudian, Calista membawa datang secangkir kopi. Nadia menyesapnya dengan alis terangkat dan ekspresinya langsung menjadi masam. Pada detik berikutnya, dia pun menyiramkan kopi itu ke wajah Calista.
“Kopi macam apa yang kamu buat ini! Jijik banget!”
Seusai menyiram, Nadia masih belum puas dan melemparkan lagi cangkirnya ke kepala Calista.
“Duk!”
“Ugh!”
Cangkir kopi itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Sementara itu, dahi Calista juga berdarah akibat hantaman itu. Setetes demi setetes darah menetes ke lantai. Noda merah tersebut terlihat sangat menusuk mata.
Sakit. Ini adalah perasaan paling nyata yang dirasakan Calista.
Sebelum Calista sempat bereaksi, Nadia yang sepertinya melihat sesuatu tiba-tiba mengambil air dingin dari meja dan menyiram dirinya sendiri. Kemudian, dia menjerit kesakitan dan berpura-pura jatuh ke lantai.
Kayden kembali tepat pada saat ini. Begitu mendengar keributan, dia segera menerjang masuk. Ketika melihat Nadia yang memeluk kepalanya sambil meringis, amarahnya langsung memuncak. Dia mendorong Calista dan segera menggendong Nadia.
Berhubung Kayden tidak mengendalikan kekuatannya, Calista pun kehilangan keseimbangan. Demi menopang tubuhnya, kedua tangannya menekan serpihan kaca di lantai. Kulitnya langsung robek dan berdarah.
“Nadia, kamu nggak terluka, ‘kan? Apa kakimu terkilir? Tubuhmu terbakar?”
Nadia bersandar dalam pelukan Kayden dengan tampang kasihan dan juga meringkuk ketakutan.
“Kayden, aku nggak apa-apa. Dia seharusnya marah karena kamu selalu temani aku. Aku nggak sengaja tumpahkan kopi ke tubuhnya, tapi dia langsung siram aku pakai air panas dan mendorongku. Tapi, nggak apa-apa. Wajar saja Calista marah. Aku nggak menyalahkannya.”
Kayden menatap Calista dengan kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan.
“Calista, kamu benar-benar nggak bisa berubah! Trikmu selalu begitu kotor, hatimu juga sama.”
Tatapan Kayden langsung menjadi kelam. Dia yang menggendong Nadia pun berjalan ke meja kopi, lalu mengambil secangkir air panas yang tersisa.
“Calista, aku sudah pernah bilang. Jangan sentuh Nadia! Kamu harus rasakan sendiri akibat perbuatanmu.”
Begitu selesai berbicara, Kayden langsung menyiramkan air panas itu ke arah Calista tanpa memberikan waktu baginya untuk menjelaskan.
Calista secara refleks mengadangnya. Lengannya langsung terbakar dan berasap. Rasa sakit yang membara itu membuatnya menjerit kesakitan. Dahinya sudah dibasahi keringat dingin. Meskipun sekujur tubuhnya gemetar kesakitan, Kayden masih tidak berniat untuk mengampuninya.
Melihat Kayden yang masih melangkah mendekat, Calista menahan rasa sakit dan menjelaskan sambil menggertakkan gigi, “Kayden, aku nggak menyentuhnya!”
Calista memanggil kepala pelayan yang sudah disuruhnya pergi mengambil rekaman CCTV untuk keluar dan berujar, “Lihat saja sendiri! Nadia yang memfitnahku!”
Kepala pelayan yang menggenggam laptop berjalan ke hadapan Kayden. Dari Nadia mulai memfitnahnya, Calista sudah mencari cara untuk menghadapinya. Tak disangka ....
Setelah menonton rekaman ulang sampai akhir, ekspresi Kayden pun berubah. Namun, Nadia masih bersandar dalam pelukannya sambil menangis. Jadi, dia pun menekan rasa aneh itu.
Kayden mengelus rambut Nadia dan menghibur dengan suara kecil, “Jangan takut. Aku tahu kamu bukan sengaja.”
Setelah wanita dalam pelukannya berhenti menangis, Kayden baru menatap Calista dan berujar dengan nada seolah sedang memberi sedekah, “Akhiri saja masalah ini sampai di sini. Kemas barangmu dan pindah ke kamar tamu.”
Seusai berbicara, Kayden melirik luka Calista, lalu berbalik dan kembali ke kamar.
Calista tidak menyangka bahwa meskipun ada bukti kuat yang terpampang di hadapannya, Kayden masih tetap membela Nadia dengan tenang.
Calista berusaha mengangkat tangannya yang berdarah. Ada rasa ironis dan putus asa yang terkandung dalam matanya. “Oke, aku pindah.”
Bab 3
Calista pindah keluar dari kamar utama dalam satu malam. Selain dokumen-dokumen penting, dia tidak mengambil apa pun, bahkan sepotong pakaian juga tidak. Dia langsung menyuruh pembantu untuk membuang semua barangnya supaya bisa mengosongkan tempat untuk Nadia.
Setelah kembali ke kamar, Calista merasa sangat lelah. Dia bahkan tidak bertenaga untuk pergi ke rumah sakit dan langsung beristirahat.
Sampai tengah malam, kepala Calista terasa berat dan pusing. Seluruh tubuhnya sangat panas bagaikan sedang berada di dalam oven. Ini jelas-jelas bukanlah hal yang normal setelah memasuki awal musim gugur.
Calista merasa tidak beres dan membuka matanya dengan kesulitan. Tak disangka, dia malah melihat Kayden duduk di sisi tempat tidur. Kayden sedang mengolesi obat ke luka bakar lengannya dengan serius.
Melihat Calista sudah bangun, Kayden meliriknya, lalu mengambil sebutir obat dari meja samping tempat tidur. Dia menyodorkan obat beserta air ke sudut mulutnya.
“Lukamu infeksi, makanya kamu demam. Minum dulu obat penurun panasnya sebelum tidur,” ujar Kayden dengan nada rendah yang bercampur dengan sedikit rasa khawatir.
Setelah Calista menelan obat yang disodorkannya, Kayden berkata, “Ini obat yang sengaja dibeli Nadia untukmu. Habis minum, istirahatlah. Kelak, jangan bermusuhan dengannya lagi.”
Selama tiga tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya Kayden merawatnya ketika sakit. Namun, Kayden malah menyuruhnya untuk tidak bermusuhan dengan Nadia, padahal ini semua jelas-jelas bukanlah salahnya.
Hanya saja, memangnya kenapa meskipun begitu? Kayden hanya peduli pada Nadia.
Calista merasa sangat ironis. Kesadarannya mulai kabur dan dia ingin tidur untuk menghilangkan pusingnya. Akan tetapi, tubuhnya terasa seperti terbakar dan makin panas. Kelopak matanya juga sangat berat hingga dia tidak bisa membukanya.
Entah sudah berapa lama Calista berjuang, dia akhirnya dapat membuka matanya dengan susah payah. Dia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, lalu menyentuh lehernya yang terasa sangat panas. Dia juga menyeret tubuhnya yang berat ke depan cermin. Matanya terlihat sangat merah.
Demam Calista tidak turun. Sebaliknya, malah makin parah.
Mengetahui bahwa dirinya tidak bisa menunda lebih lama lagi, Calista berjalan keluar dengan terhuyung-huyung. Tepat ketika mencapai pintu, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik untuk mengambil obat penurun panas di meja samping tempat tidur.
Ketika tiba di rumah sakit, demam Calista telah mencapai 40 derajat. Pada satu titik, dia bahkan merasa kesulitan bernapas dan segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter mengatur agar dia dirawat di rumah sakit, melakukan tes darah, mengobati luka bakar di lengannya, dan memberinya infus sepanjang malam sebelum suhu tubuhnya perlahan turun.
“Apa yang terjadi? Lenganmu sudah infeksi sampai begini, tapi kamu nggak oles obat. Sudah demam, masih asal minum obat lagi. Kamu mau mati?”
Calista mengerutkan kening, jantungnya berdebar kencang.
“Dokter bilang aku nggak oles obat ke lenganku? Aku jelas sudah obati lukanya. Aku juga minum obat penurun demam yang dikasih keluargaku. Kenapa bisa begini?”
Saat bertanya, sebuah pemikiran perlahan muncul di benak Calista.
Mata Calista menjadi kelam dan dia mengerutkan bibirnya. Dia berbalik dan mengambil pil dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada dokter. “Ini obat yang diberikan kepadaku. Coba Dokter bantu aku periksa apa ini obat penurun demam atau bukan?”
Dokter mengambil pil itu dan melihat tanda di atasnya dengan hati-hati. Ekspresinya tiba-tiba menjadi serius.
“Sembarangan! Ini obat yang sudah dilarang di negeri ini! Selain nggak bisa turunkan demam, efek sampingnya bisa sebabkan keracunan ginjal dan pendarahan lambung. Siapa yang kasih ke kamu? Orangnya sengaja mau celakai kamu!”
Calista menatap pil itu. Panasnya yang baru reda itu pun menyerang lagi hingga membuat ujung jarinya mati rasa.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Itu adalah pesan dari Kayden. Saat mengklik pesan masuk itu, Calista melihat video Nadia yang tersenyum cerah.
“Calista, habis minum obat yang kukasih, apa kamu merasa nyaman di rumah sakit? Itu obat yang kubeli untukmu. Aku jamin jantungmu akan berdebar kencang sepanjang malam. Oh iya, aku juga aku salah ambil obat untuk lenganmu. Aku baru sadar yang kuberikan itu air. Kamu harus segera mengatasi lukanya. Kalau nggak, lukanya akan tinggalkan bekas.”
Sebelum Calista sempat mengambil tangkapan layar pesan, orang di ujung telepon telah menarik kembali pesan itu. Calista tahu bahwa Kayden-lah yang melakukannya. Dia takut Calista akan membaca pesan tersebut, lalu meminta pertanggungjawaban dan menimbulkan masalah bagi Nadia.
Nadia tersenyum mengejek, menunduk, dan menarik napas dalam-dalam sebelum menelepon polisi.
“Halo? Aku mau buat laporan, Ada orang yang mencoba membunuhku.”
Setelah menelepon polisi, Calista kembali tertidur lelap. Saat terbangun lagi, dia dibangunkan oleh dering telepon yang tidak berhenti. Itu adalah panggilan dari Kayden. Berhubung tahu kenapa Kayden menelepon, dia tidak punya energi untuk berdebat dengannya.
Tepat saat Calista hendak memblokir nomor Kayden, teleponnya berdering lagi. Kali ini, kakaknya yang menelepon. Jadi, dia menjawab panggilan itu.
“Calista, prosedur imigrasi sudah lagi dalam proses dan akan makan waktu sekitar setengah bulan. Aku sudah pesan tiket pesawat untuk pulang dan menjemputmu. Apa urusanmu sudah bisa diselesaikan?”
Mungkin karena takut Calista menyesal, suara Vincent yang biasanya terdengar malas menjadi tegang. Mendengar kehati-hatian Vincent, Calista tersenyum lembut.
“Bisa. Kak, jangan khawatir. Aku nggak akan menyesal. Aku pasti akan pergi seusai mengurus semuanya.”
Baru saja Calista selesai berbicara, pintu kamar rawat inapnya didorong buka dari luar. Kayden berdiri di depan pintu dengan ekspresi masam.
“Pergi? Kamu mau pergi ke mana? Sampai masalah Nadia terselesaikan, kamu nggak boleh pergi ke mana pun!”
Bab 4
Suara Kayden terdengar sangat rendah.
Senyuman di wajah Calista pun segera sirna. Dia tidak ingin kakaknya mendengar percakapan mereka dan merasa khawatir. Jadi, dia pun mencari alasan dan buru-buru memutuskan sambungan telepon.
Begitu sambungan telepon terputus, Kayden langsung bertanya dengan nada menyalahkan, “Calista, kenapa kamu lapor polisi? Nadia cuma salah kasih obat. Kamu nggak perlu lanjut permasalahkan masalah ini, ‘kan? Bisa-bisanya kamu langsung lapor polisi! Kamu tahu nggak? Dia sudah nangis saking takutnya!”
Ekspresi Kayden menegang, tatapannya yang biasanya dingin kini dipenuhi amarah. Dia bersikap seolah-olah Calista sudah melakukan kesalahan besar.
Setelah mendengar pertanyaan itu, Calista pun tersenyum sinis. “Nggak perlu? Kemarin, aku dilarikan ke UGD. Kapan baru perlu? Habis aku mati?”
Calista mengalami syok hingga nyaris meninggal. Meskipun dia telah diopname satu malam di rumah sakit, Kayden sama sekali tidak perhatian padanya. Begitu tahu dia melapor polisi, reaksi pertama Kayden adalah menyalahkannya. Setelah tahu Nadia menukar obat, reaksi pertama Kayden adalah membelanya.
Kayden benar-benar pilih kasih.
Begitu mendengar jawaban itu, Kayden terlebih dahulu tertegun. Setelah tersadar kembali, ada kilatan jengkel yang melintasi matanya. Dia mengernyit dengan tidak sabar.
“Dalam urusan tukar obat, memang dia yang terlalu gegabah. Tapi, aku sudah nasihati dia. Kamu jangan lanjutkan lagi masalah ini. Lagian, bukannya sekarang kamu baik-baik saja? Kalau kamu masih marah, aku akan tinggal di sini untuk jagain kamu. Sudah puas, ‘kan?”
Kayden masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat yang menelepon adalah Nadia, keningnya yang berkerut pun kembali santai.
“Nggak apa-apa, nggak usah khawatir. Mereka nggak akan bisa bawa kamu pergi. Jangan nangis lagi. Luka gores di tanganmu sakit nggak?”
Sambil menjawab telepon, Kayden melangkah keluar secara perlahan.
Calista menatap punggung Kayden dan merasa semua ini sangat absurd. Dia sudah tidak lagi menaruh harapan pada Kayden, tetapi masih merasa semua ini sangat ironis.
Calista sudah nyaris kehilangan nyawanya, tetapi akhirnya hanya diberi sedikit pesan. Sementara itu, tangan Nadia hanya tergores ringan, tetapi Kayden malah begitu khawatir.
Hati Calista terasa sakit. Dia tiba-tiba tidak memiliki tenaga untuk bertengkar lagi. Kayden mengatakan ingin menemaninya, tetapi Nadia tidak mengizinkannya. Setiap baru masuk ke kamar rawat inap, Kayden akan menerima berita mendesak dari Nadia.
“Kayden, aku takut sendirian di rumah. Kamu pulang temani aku, ya?”
“Waktu tidur, aku sering tidur berjalan. Aku nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak ada kamu. Pulanglah.”
“Aku bosan banget hari ini! Kalau kamu masih nggak pulang temani aku, aku bakal pergi ke luar negeri bareng temanku dan main di sana selama setengah atau satu tahun, lho.”
Setiap pesan dan telepon itu akan langsung menarik semua perhatian Kayden. Kemudian, Kayden hanya akan melontarkan kata “istirahat yang baik” sebelum pergi.
Melihat Kayden yang datang dan pergi, Calista terlihat tenang. Mungkin karena sudah tidak menaruh harapan padanya, ketika menyaksikan kasih sayangnya terhadap Nadia, Calista pun berangsur-angsur mati rasa.
Calista hanya berharap dirinya bisa cepat sembuh, lalu meninggalkan tempat ini selamanya. Dia tidak ingin bertemu dengan Kayden lagi.
Di hari Calista keluar dari rumah sakit, dia hanya sendiri. Pada minggu terakhir, dia menerima undangan untuk menonton pertandingan tinju yang diselenggarakan mitra perusahaan. Dia diundang untuk hadir bersama Kayden dan bersiap untuk hadir sesuai undangan.
Kayden berdiri di samping mobil. Dia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang rapi dan membuatnya terlihat mengesankan. Pada saat ini, dia sedang melindungi kepala Nadia dan mempersilakannya naik ke kursi penumpang depan.
Nadia mengenakan gaun merah muda tanpa lengan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, riasannya terlihat simpel, tetapi cantik. Ketika menatap Kayden, matanya terlihat bagaikan bintang yang berkelap-kelip.
Calista menyaksikan kemesraan dua insan tersebut dan langkahnya pun terhenti. Namun, dia segera menekan perasaan aneh tersebut. Dia berjalan ke kursi belakang dengan ekspresi datar.
Sepanjang perjalanan, Calista hanya duduk diam sambil memandang pemandangan di luar jendela. Tidak peduli seberapa seru pun percakapan Kayden dan Nadia, dia tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun. Seiring berjalannya waktu, mereka malah tidak mengobrol lagi.
Di bawah suasana yang hening, Calista merasa ada tatapan tajam seseorang yang sesekali tertuju padanya. Dia menoleh dan kebetulan bertemu pandang dengan tatapan aneh Kayden. Namun, Kayden segera memalingkan wajahnya.
Di lokasi acara, tamu yang hadir sangat banyak.
Kayden dan Nadia berjalan memasuki aula dengan bergandengan tangan. Kayden sengaja meninggalkan Calista di belakang dan melindungi Nadia dengan hati-hati. Dia memperkenalkan Nadia kepada temannya, menarik kursi untuk Nadia dan duduk di sebelahnya sambil menjelaskan jalannya pertandingan.
“Sepertinya, rumor di internet itu benar. Pak Kayden nggak suka banget sama istrinya. Sejak tiba di sini, dia sama sekali nggak melirik istrinya.”
“Siapa pun yang punya mata bisa menilai bahwa sikap Pak Kayden terhadap Nadia nggak biasa. Meski Nadia ada di sampingnya, dia tetap mengawasi Nadia dengan baik. Sepertinya, dia akan segera bercerai dengan Calista.”
Calista yang mendengar gosip-gosip ini merasa agak sakit hati. Dia mengepalkan tangannya dan tetap mempertahankan ekspresi tenang.
Saat ini, pertarungan di dalam ring sedang sengit-sengitnya. Calista tidak mampu menyaksikan pemandangan berdarah seperti ini. Dia pun diam-diam pergi dari belakang.
Tepat pada saat ini, Nadia tiba-tiba bangkit dan mencari barang dengan panik. “Kalungku hilang! Kalungku hilang!”