Bab 3
Bukan tidak ada alasannya Kakak bisa begitu membenciku. Sesuai dengan apa yang dikatakannya, akulah orang yang menyebabkan kematian ayah dan ibuku.
Beberapa hari sebelum Ibu melahirkan, tiba-tiba dia ingin pergi ke mal untuk membelikanku pakaian. Di sana, dia tertabrak mobil. Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat kritis. Mereka melakukan operasi caesar untuk menyelamatkanku, tapi tidak bisa menyelamatkan Ibu.
Ibu meninggal di hari kelahiranku.
Meskipun demikian, kata-kata terakhir Ibu kepada Ayah sebelum meninggal adalah, "Jaga baik-baik Yovita, katakan padanya bahwa Ibu mencintainya."
Ayah menyampaikan kata-kata itu padaku saat dia mabuk. Namun setelah itu, Ayah tetap tidak memedulikanku. Kecuali saat mabuk, kadang-kadang Ayah berbicara beberapa patah kata di telingaku.
Di waktu lainnya, dia selalu memasang wajah ketus, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini. Belum lama ini, Ayah yang selama ini tidak acuh padaku juga meninggal karena bunuh diri.
Ayah meninggalkan sepucuk surat. Kakak tidak mengizinkanku membacanya. Dia juga melarangku menghadiri pemakaman Ayah.
Tidak menghadiri pemakaman itu pun tidak masalah bagiku. Lagi pula, mungkin Ayah juga tidak ingin melihatku untuk terakhir kalinya.
Bab 4
Kehidupan kakakku cukup berat, dia 10 tahun lebih tua dariku.
Setelah ayah mengalami depresi, perusahaan keluarga kami mulai mengalami kemunduran. Kakakku memang pandai dalam hal akademis dan sering akselerasi ke kelas yang lebih tinggi. Pada usia 20 tahun, dia sudah lulus dari universitas dan langsung masuk ke perusahaan untuk mengambil alih tanggung jawab.
Dari seorang pemuda yang baru mengenal dunia kerja, dia perlahan berubah menjadi CEO Grup Salim. Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Itulah sebabnya aku sangat peduli padanya.
Saat dia terpaksa minum alkohol hingga larut malam demi urusan bisnis, aku akan diam-diam membuatkan sup penawar alkohol untuknya, lalu meletakkannya di atas meja.
Di pagi hari, aku akan bangun lebih awal untuk membuatkan bubur yang baik untuk kesehatan lambungnya.
Ketika kakakku yang kelelahan menggosok-gosok matanya, aku segera menggunakan uang sakuku yang sudah kutabung selama sebulan untuk mengganti lampu mejanya yang menyilaukan. Aku juga meletakkan obat tetes mata dan vitamin di mejanya.
Aku selalu menyetrika kemeja kakakku dengan rapi, seperti yang dilakukan Ibu dulu. Aku ingin diam-diam berbuat baik padanya, meskipun caranya sederhana. Setidaknya aku bisa sedikit meringankan bebannya.
Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan bisa tinggal di rumah sebesar ini. Namun sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan ukuran rumah ini. Yang kupedulikan adalah keluarga.
Yang aku pedulikan adalah kakakku.
Bab 5
Kakakku tidak pernah meneleponku lagi. Ya, wajar saja. Bagi kakakku, satu panggilan telepon sudah merupakan batas terakhir dari kesabarannya untukku.
Aku ingat pertama kali kami bertengkar hebat. Urat-urat di tangannya menonjol saat dia menunjuk ke luar pintu, dalam kegelapan yang pekat. Di luar tampak begitu gelap hingga tidak terlihat apa pun.
"Yovita, pergi dari rumah ini. Aku nggak punya adik sepertimu."
Aku mengusap air mataku dan berteriak padanya, "Kamu pikir aku ingin punya kakak seperti kamu? Maxim, aku benci kamu!"
Dia menamparku. Pipiku yang merah dan perih langsung membengkak. Aku berlari keluar rumah dan meringkuk di pinggir jalan, berharap dia akan keluar mencariku. Angin malam sangat dingin dan aku hanya mengenakan baju tidur dari sutra.
Dalam waktu singkat, bibirku mulai membiru dan tubuhku menggigil tak terkendali. Dengan penuh kekecewaan, akhirnya aku menyadari bahwa kakakku tidak akan mencariku. Dia tidak keluar dari rumah sama sekali.
Karena kedinginan dan tidak punya uang, aku terpaksa pergi ke rumah seorang teman yang masih agak dekat denganku dan tinggal beberapa malam di sana.
Akhirnya, dia meneleponku. Aku pikir dia akhirnya peduli padaku. Hatiku menunggu dengan penuh harapan kakakku akan datang menjemputku. Aku berpikir, dia akan memelukku saat melihatku.
Namun nyatanya, dia justru menamparku lebih keras dari sebelumnya. Aku terjatuh, tidak bisa berdiri dengan tegak. Sambil memegangi wajahku yang perih, aku menatapnya dengan air mata yang menggenang.
Dia berdiri di tempat dengan angkuh dan sorot matanya dipenuhi kebencian.
"Yovita, kalau kamu hilang seperti ini lagi, jangan pernah kembali lagi. Kamu pikir, kalau bukan karena Ayah, aku mau merawatmu?"