Bab 1

Kakakku membenciku. Dia ingin aku mati.

Aku menangis sambil bertanya, "Apa aku bukan adik kandungmu?"

Dia tersenyum dingin. "Aku nggak punya adik."

Malam itu, aku tewas ditabrak mobil. Dia malah jadi gila.

Kakak laki-lakiku membenciku, bahkan berharap aku mati. Sambil menangis, aku bertanya padanya, "Apa aku bukan adik kandungmu?"

Dia menjawab sambil tertawa sinis, "Aku nggak punya adik."

Malam itu, aku tiba-tiba ditabrak mobil dan meninggal. Namun, dia malah jadi gila.

Aku sudah mati. Yovita meninggal di usia 18 tahun, saat kehidupannya tampak paling cemerlang. Rasa sakit yang hebat menyerangku dalam sekejap, aku bersyukur karena kematianku cepat. Namun, tubuhku terlihat sangat buruk.

Aku melayang di udara, melihat orang-orang yang lewat satu per satu menggelengkan kepala mereka sambil menghela napas. Aku mengikuti jasadku ke rumah sakit.

Setelah menjalani beberapa prosedur, tubuhku didorong ke kamar mayat. Dokter memeriksa pakaianku yang compang-camping. Mereka mencari dengan cermat, tapi tidak menemukan benda apa pun yang bisa membuktikan identitasku.

"Kasihan sekali. Anak gadis yang cantik ini sepertinya belum dewasa. Entah betapa sedih keluarganya nanti."

Benar juga. Dompet, kartu identitas, dan ponselku semuanya dirampas oleh seorang pria setelah aku bertengkar dengan kakakku dan lari dari rumah. Dia juga mengambil sesuatu dariku, tapi aku lupa apa itu.

Seorang perawat membersihkan noda darah di tubuhku dengan hati-hati sambil menitikkan beberapa tetes air mata.

Aku berpikir, entah seberapa senangnya kakakku jika mengetahui kematianku? Aku menatap jasadku sambil merenung. Kapan Kakak baru akan datang untuk membawa jasadku?

Bab 2

Aku melayang kembali ke rumah.

Sebuah vila mewah berdiri tegak di pinggiran kota. Dalam kegelapan, vila itu tampak bagaikan binatang buas yang bersembunyi dan tidak pernah memberikan kehangatan sama sekali. Seperti itulah rumahku.

Cahaya lampu meja menerangi wajah kakakku yang tegas. Dia sedang menangani urusan perusahaan dan alisnya berkerut tajam. Dia melihat jam di ponselnya, wajahnya menunjukkan sedikit ketidaksabaran. Sepertinya dia sedang marah lagi.

Tak lama kemudian, dia membuka ponselnya dan mencoba menelepon seseorang. Tampaknya, panggilan itu tidak terhubung.

Dia mengumpat lalu menutup teleponnya dengan kasar. Dengan emosi, dia menyingkirkan semua barang di atas meja. Aku tahu, temperamen kakakku memang selalu buruk.

"Yovita, besar sekali nyalimu sekarang. Kamu bahkan memblokir nomor dan WhatsApp-ku!"

Kakakku melempar barang-barang dengan marah.

"Kalau berani, jangan pernah kembali lagi seumur hidup. Mati saja di luar sana!"

Hidungku terasa perih. Meski aku sudah mati, mendengar kata-kata seperti itu tetap saja membuatku ingin menangis.

"Kakak, keinginanmu sudah tercapai. Adikmu benar-benar mati di luar sana."

Aku menatap sisa-sisa cahaya matahari terbenam di kejauhan yang menghilang sedikit demi sedikit. Seolah-olah membawa pergi sisa kehangatan terakhir dari tubuhku.

Bab 3

Bukan tidak ada alasannya Kakak bisa begitu membenciku. Sesuai dengan apa yang dikatakannya, akulah orang yang menyebabkan kematian ayah dan ibuku.

Beberapa hari sebelum Ibu melahirkan, tiba-tiba dia ingin pergi ke mal untuk membelikanku pakaian. Di sana, dia tertabrak mobil. Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat kritis. Mereka melakukan operasi caesar untuk menyelamatkanku, tapi tidak bisa menyelamatkan Ibu.

Ibu meninggal di hari kelahiranku.

Meskipun demikian, kata-kata terakhir Ibu kepada Ayah sebelum meninggal adalah, "Jaga baik-baik Yovita, katakan padanya bahwa Ibu mencintainya."

Ayah menyampaikan kata-kata itu padaku saat dia mabuk. Namun setelah itu, Ayah tetap tidak memedulikanku. Kecuali saat mabuk, kadang-kadang Ayah berbicara beberapa patah kata di telingaku.

Di waktu lainnya, dia selalu memasang wajah ketus, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini. Belum lama ini, Ayah yang selama ini tidak acuh padaku juga meninggal karena bunuh diri.

Ayah meninggalkan sepucuk surat. Kakak tidak mengizinkanku membacanya. Dia juga melarangku menghadiri pemakaman Ayah.

Tidak menghadiri pemakaman itu pun tidak masalah bagiku. Lagi pula, mungkin Ayah juga tidak ingin melihatku untuk terakhir kalinya.

Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya