Bab 2
Aku melayang kembali ke rumah.
Sebuah vila mewah berdiri tegak di pinggiran kota. Dalam kegelapan, vila itu tampak bagaikan binatang buas yang bersembunyi dan tidak pernah memberikan kehangatan sama sekali. Seperti itulah rumahku.
Cahaya lampu meja menerangi wajah kakakku yang tegas. Dia sedang menangani urusan perusahaan dan alisnya berkerut tajam. Dia melihat jam di ponselnya, wajahnya menunjukkan sedikit ketidaksabaran. Sepertinya dia sedang marah lagi.
Tak lama kemudian, dia membuka ponselnya dan mencoba menelepon seseorang. Tampaknya, panggilan itu tidak terhubung.
Dia mengumpat lalu menutup teleponnya dengan kasar. Dengan emosi, dia menyingkirkan semua barang di atas meja. Aku tahu, temperamen kakakku memang selalu buruk.
"Yovita, besar sekali nyalimu sekarang. Kamu bahkan memblokir nomor dan WhatsApp-ku!"
Kakakku melempar barang-barang dengan marah.
"Kalau berani, jangan pernah kembali lagi seumur hidup. Mati saja di luar sana!"
Hidungku terasa perih. Meski aku sudah mati, mendengar kata-kata seperti itu tetap saja membuatku ingin menangis.
"Kakak, keinginanmu sudah tercapai. Adikmu benar-benar mati di luar sana."
Aku menatap sisa-sisa cahaya matahari terbenam di kejauhan yang menghilang sedikit demi sedikit. Seolah-olah membawa pergi sisa kehangatan terakhir dari tubuhku.
Bab 3
Bukan tidak ada alasannya Kakak bisa begitu membenciku. Sesuai dengan apa yang dikatakannya, akulah orang yang menyebabkan kematian ayah dan ibuku.
Beberapa hari sebelum Ibu melahirkan, tiba-tiba dia ingin pergi ke mal untuk membelikanku pakaian. Di sana, dia tertabrak mobil. Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat kritis. Mereka melakukan operasi caesar untuk menyelamatkanku, tapi tidak bisa menyelamatkan Ibu.
Ibu meninggal di hari kelahiranku.
Meskipun demikian, kata-kata terakhir Ibu kepada Ayah sebelum meninggal adalah, "Jaga baik-baik Yovita, katakan padanya bahwa Ibu mencintainya."
Ayah menyampaikan kata-kata itu padaku saat dia mabuk. Namun setelah itu, Ayah tetap tidak memedulikanku. Kecuali saat mabuk, kadang-kadang Ayah berbicara beberapa patah kata di telingaku.
Di waktu lainnya, dia selalu memasang wajah ketus, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini. Belum lama ini, Ayah yang selama ini tidak acuh padaku juga meninggal karena bunuh diri.
Ayah meninggalkan sepucuk surat. Kakak tidak mengizinkanku membacanya. Dia juga melarangku menghadiri pemakaman Ayah.
Tidak menghadiri pemakaman itu pun tidak masalah bagiku. Lagi pula, mungkin Ayah juga tidak ingin melihatku untuk terakhir kalinya.
Bab 4
Kehidupan kakakku cukup berat, dia 10 tahun lebih tua dariku.
Setelah ayah mengalami depresi, perusahaan keluarga kami mulai mengalami kemunduran. Kakakku memang pandai dalam hal akademis dan sering akselerasi ke kelas yang lebih tinggi. Pada usia 20 tahun, dia sudah lulus dari universitas dan langsung masuk ke perusahaan untuk mengambil alih tanggung jawab.
Dari seorang pemuda yang baru mengenal dunia kerja, dia perlahan berubah menjadi CEO Grup Salim. Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Itulah sebabnya aku sangat peduli padanya.
Saat dia terpaksa minum alkohol hingga larut malam demi urusan bisnis, aku akan diam-diam membuatkan sup penawar alkohol untuknya, lalu meletakkannya di atas meja.
Di pagi hari, aku akan bangun lebih awal untuk membuatkan bubur yang baik untuk kesehatan lambungnya.
Ketika kakakku yang kelelahan menggosok-gosok matanya, aku segera menggunakan uang sakuku yang sudah kutabung selama sebulan untuk mengganti lampu mejanya yang menyilaukan. Aku juga meletakkan obat tetes mata dan vitamin di mejanya.
Aku selalu menyetrika kemeja kakakku dengan rapi, seperti yang dilakukan Ibu dulu. Aku ingin diam-diam berbuat baik padanya, meskipun caranya sederhana. Setidaknya aku bisa sedikit meringankan bebannya.
Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan bisa tinggal di rumah sebesar ini. Namun sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan ukuran rumah ini. Yang kupedulikan adalah keluarga.
Yang aku pedulikan adalah kakakku.